Pages - Menu

Friday, October 11, 2013

Sinopsis The Heirs Episode 1 Part 1


Title : The Heirs
Episode : 20 Episode

Broadcast network: SBS

Cast : 
Lee Min Ho as Kim Tan
Park Shin Hye as Cha Eun Sang
Kim Woo Bin as Choi Young Do
Kyrstal as Lee Bo Na
Kang Min Hyuk as Yoon Chan Young
Choi Jin Hyuk as Kim Won
Park Hyung Shik as Jo Myung Soo
Kang Ha Neul as Lee Hyo Shin


Episode 1 dibuka dengan pemandangan di California, Amerika serikat. Bukit Hollywood-nya yang terkenal. Jalanan Disney Land yang di penuhi para pelancong dan kerumunan orang-orang yang memenuhi Huntingtong Beach. Surga bagi para peselancar ataupun orang-orang yang hanya ingin berjemur di musim panas. 


Scene kemudian beralih ke laut biru, dimana Kim Tan sedang berselancar ria menaklukan ombak. Bersama ke-2 temannya, ia menunjukkan kemahirannya berdiri di atas papan surfing di tengah gempuran ombak yang terus mengejarnya. 

Puas berselencar, Kim Tan berkumpul bersama 4 teman "bule". 2 diantara mereka wanita dan memakai bikini seksi. (Ugh..jauh-jauh dari oppa-ku!). Pria bule berambut pirang gondorng baju orange, berjoget-joget. Melakukan gerakan tos dengan Kim Tan dan kedua teman nya yang juga baru selesai surfing. Pria bule ini bernama Jay, teman dekat Kim Tan di California. 

Kim Tan berkata pada Jay akan pergi mandi. "Oke", jawab Jay, lalu mencium wanita berbikini pink yang tak lain adalah pacar Jay. Dengan gaya gombalnya Jay berkata, "Sampai jumpa nanti! Aku akan merindukanmu. Aku tidak tahu bagaimana aku akan menghabiskan malam tanpamu".

"Jaga dirimu Tan, sampai jumpa besok", ucap wanita yang memakai bikini hijau, memberikan pelukan pada Kim Tan sebelum pergi (Khas ala barat mengucapkan salam perpisahan). 
"Bye", jawab Kim Tan tersenyum, lalu jalan menuju shower. 

Kim Tan membahasahi badannya dengan air yang keluar dari shower. Ketika bersama teman-teman-nya, ia terlihat menikmati kehidupannya yang menyenangkan. Tapi disaat sendiri, raut sedih memancar dari wajah gantengnya dan itu ditegaskan dengan suara yang berasal dari dalam hatinya, "Hari di mana aku pergi ke Amerika, ucapan perpisahan dari Hyung sangat sederhana, singkat, dan langsung ke intinya".

Kim Tan teringat hari itu, dimana ia mendapat "wejangan" dari kakak tirinya, Kim Won. Kim Tan muda hanya diam menunduk mendengarkan tanpa berani menegakkan kepala. 

Kim Won berkata, "Belajar? Kau tidak perlu memikirkannya. Bahasa Inggris? Jangan mempelajarinya jika kau tidak ingin. Bersenang-senanglah. Jangan khawatirkan apa pun. Itulah apa yang kau lakukan karena kau lahir sebagai keluarga kaya, daripada hanya terus berangan-angan. Dan jika kau bisa jangan pernah kembali".

"Saat itulah aku sadar. bahwa aku tidak dikirim ke Amerika untuk belajar. Aku diasingkan. Hyung sudah mengambil kembali apa yang akan aku ambil darinya". 

Seorang waitress cafe menawari kopi tambahan untuk Kim Tan dalam bahasa korea. Jay yang duduk bersama Kim Tan bertanya apa Kim Tan tidak menyalahkan mereka, "Saudara yang membencimu. Ibumu, yang melahirkanmu, atau Ayahmu, yang tidak pernah membelamu?". 


Kim Tan diam mengalihkan pandangannya ke pantai, yang diterangi cahaya matahari senja. Kim Tan menjawab dalam hati, "Aku terlalu malas untuk menyalahkan siapapun".


Beralih ke Korea. Dimana Choi Young Do sedang duduk santai, membully teman sekolahnya yang lemah. Young Do melempar bola baseball kearah tembok dekat "Sang target'". Ia sengaja melempar tanpa mengenai sasaran. Meski begitu tetap saja lemparan keras Young Do membuat sang target gemetar ketakutan. 2 teman Young Do yang menyaksikan "kenakalannya", hanya tertawa-tawa melihat wajah ketakutan sang target.


Sembari melempar, Young Do mengajukan pertanyaan, "Hey! Kau ingin melakukan apa di liburan musim panas ini?. Oh..Kupikir, aku akan merindukanmu, bukan?". Anak yang ditanya pun hanya diam, Young Do mengambil bola baseball yang ada dibawah kakinya, "Kenapa kau tidak merindukanku?. Kau terlalu berarti untukku", Young Do kembali melempar dan kali ini benar-benar mengenai lengan anak itu. 

Yang di lempar pun mengaduh kesakitan membuat Young Do dan kedua teman-nya tertawa senang. "Maafkan aku. Apakah kau terluka?", tanya Young Do dengan gaya mengejek. 

Teman Young Do (1), berkata, "Kau tidak tahu caranya melempar! Hati-hati!. Karena orang lain akan berpikir kita sedang mem-bully-nya".


"Benarkah?", tanya Young Do dengan wajah berbeda (Bad boy), "Jadi kau ingin berdiri di sana?". 
"Hah", teman Young Do kaget. 
"Berdiri di sana", ulang Young Do. 

"Hei ada apa?", tanya teman Young Do (2), yang berdiri disebelah kiri. Dan dijawab dengan tatapan tajam Young Do, "Kau ingin berdiri di sana untuk menggantikannya?". Teman Young Do itupun langsung bungkam, jelas banget mereka takut sama Young Do. 

"Aku akan berdiri di sini. Aku akan berdiri di sini untukmu", ucap teman Hyo Dong 1. Berdiri menempel pada dinding, "Lempar". 

"Aku tidak pernah bilang bahwa aku akan melemparnya. Kita harus bermain adil", Young Do memanggil anak yang ia bully tadi, "Sekarang giliranmu, lempar". Young Do memberikan bola ke anak itu. 

"Young Do-ah!", panggil anak yang dibully tadi. Antara ragu dan takut.

"Ya. Apa!. Kau akan mendapat pukulan jika kau melemparnya. Dan jika kau tidak melemparnya kau akan mendapat pukulan. Ini soal siapa yang akan memukulmu. Tapi masalah yang lebih besar adalah bahwa hidupmu akan selalu seperti ini. Kenapa?. Karena kami akan menjadi majikanmu saat kita tumbuh dewasa. Jadi pilihlah cepat!".

2 teman Hyo Dong tertawa senang. Anak itu mencengkram bola kuat-kuat dengan emosi, "Ah..", teriaknya melemparkan bola yang ia pegang ke arah cermin. Nafasnya terengah-engah menahan marah.

"Ho ho ho", Young Do tertawa santai mendengar suara cermin yang pecah berantakan. 


2 teman Young Do mendorong anak itu ke tembok, "Hey. Apakah kau gila?". 
Young Do tertawa, "Kau mungkin miskin, tapi kau masih memiliki ego kan?. Urus urasanmu sendiri".
 

Young Do berdiri mengambil tasnya, "Kesehatan adalah hal yang paling penting!. Aku harus pergi karena aku takut. Aku akan menemuimu saat sekolah dimulai!. Nikmatilah musim panas ini. Oke, dah!", Young Do jalan pergi membiarkan ke-dua temannya memukuli anak lemah itu. Kasihan. 

Young Do pergi ke showroom motor. Mengamati setiap jengkel dari motor yang baru ia pesan. Pemilik showroom berkata ia telah mengganti knalpot, racing kit, kursi, pegangan, dan lampu depan sesuai dengan permintaan Young Do, "Semua bagian yang kau inginkan dari Pasifik karena bagian-bagian itu langka".

"Itu berarti potonganmu jauh lebih besar", sahut Young Do tanpa melihat orang yang ia ajak bicara. Pemilik showroom berkata itu karena Young Do salah satu langganan tetapnya, "Aku menggantikan tensioner rantai cam untukmu".

"Apakah kau sedang membual bagaimana kau menghabiskan uangku?", tanya Young Do. Pemilik showroom berkata bukan seperti itu. 
Cha Eun Sang masuk ke showroom mengantarkan pesanan ayam goreng. Pemilik showroom menyuruh Eun Sang untuk menaruhnya kedalam, ia teriak pada anak buahnya yang ada disana untuk membayar ayam goreng. 

Eun Sang meletakkan pesanan ayam goreng dimeja, "Harganya 16.100 Won". Teknisi yang Eun Sang ajak bicara tertawa, "Kenapa ada 100 Won-nya?. Kau ingin membeli kue?". Eun Sang memberikan kembalian 900 won dan minta mereka untuk cepat membayar, tanda terimanya ada di dalam kardus. 

Bukan-nya membayar teknisi itu malah menggoda Eun Sang, "Jam berapa kau selesai bekerja?. Kau ingin naik sepeda?". 

"Tidak. Berikan aku uangnya".

"Jangan malu, oppa akan menjemputmu". 

Eun Sang diam, mengeluarkan ponselnya dan menekan nomor tujuan. Setelah tersambung Eun Sang berkata, "Halo! Aku siswi kelas 2 SMA, dan aku sedang bekerja sekarang". Teknisi bertanya siapa yang Eun Sang telepon. Eun Sang menjauhkan ponsel dari telinga dan menjawab, "Polisi". Lalu kembali bicara di telepon, "Ada Ahjussi di sini yang...". 


Teknisi yang mengoda Eun Sang tadi panik dan buru-buru merebut ponsel, mematikan sambungan telepon, "Hey Nak! Aku hanya bercanda!". Lalu memberikan ponsel Eun Sang dan memberikan bayaran untuk ayam goreng, "Ini 17.000 won. Hitunglah".

Eun Sang lansung pergi setelah menerima bayaran. Setengah berlari, ia keluar dari showroom sambil melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Seperti dikejar waktu. 

Young Do yang semula asyik mengagumi motor barunya, memperhatikan Eun Sang hingga menghilang dari pandangannya. 

Eun Sang menjalani perkejaan paruh waktunya yang lain sebagai waitress dicafe. Dilihat dari seragam kerja-nya sepertinya ini cafe Manggo Sux. Eun Sang dengan menerima pesanan para pelanggan dan membuatkan minuman sekaligus. Sesekali ia menghela napas menyeka keringat yang menetes di dahinya. 


Usai membuatkan minuman, Eun Sang baru menyadari ada Yoon Chan Young duduk di salah satu meja dan sedang belajar. Eun Sang tanya kapan kau datang. Chan Young menjawab 30 menit yang lalu. Eun Sang kesal karena Chan Young tidak memesan apapun selama 30 menit duduk di cafe. Kau pikir ini adalah layanan publik. 

Chan Young tersenyum dan berkata akan memesan saat Bo Na sampai disini, dia hampir sampai. Eun Sang menghela napas, "Ya tuhan. Apakah ini satu-satunya cafe di Seoul?. Kenapa kau selalu...". 

Eun Sang berhenti ngomel saat Chan Young mengulurkan payung padanya. Chan Young berkata sebentar lagi akan hujan saat kau selesai bekerja. Eun Sang luluh, menerima payung dan duduk di hadapan Chan Young, "Lalu bagaimana dengan pacarmu?". 

Chan Young meraih jaketnya, meletakkan di atas kepala, "Bagiku, dia selalu menjadi seorang bintang film" (Jika hujan turun, Chan Young akan memayungi Bo Na dengan jaketnya, seperti adegan romantis dalam film). 

Eun Sang mendesah, "Ya tuhan". Chan Young menanggapinya dengan senyum, "Jadi kau harus mendapatkan pacar". Bagi Eun Sang mendapatkan pacar adalah hal yang mewah, "Setiap jam yang aku habiskan tanpa dibayar adalah sebuah kemewahan yang tidak kudapatkan".

Chan Young menghela napas prihatin dan tanya banyak perkejaan yang Eun Sang miliki. Eun Sang tidak punya pilihan lagi, satu-satunya surga yang ia dapatkan adalah Job Heaven (Situs pencari pekerjaan). Chan Young menatap Eun Sang simpati. 
Seorang gadis teriak cemburu, "Berhenti menatapnya, Yoon Chan Young". Eun Sang dan Chan Young menoleh ke sumber suara. Lee Bo Na berdiri di depan mereka dengan wajah cemberut. Menatap kesal pada Eun Sang. Eun Sang menghela napas, sepertinya ia sudah biasa dicemburui oleh Bo Na.

"Hei, kau sudah sampai", Chan Young tersenyum memberikan tempat duduk untuk Eun Sang. 

Bo Na ke Eun Sang : Aku menyuruhmu berhenti menggoda pacarku. 
Eun Sang  membalas, "Apakah aku terlihat begitu cantik untuk mu?". 

"Aku tidak bilang kau itu cantik!", ucap Bo Na. Yang langsung di jawab oleh Eun Sang, "Tidak, kau memang tidak mengatakannya. Tapi kau sangat cantik. Jadi berhenti membuang-buang waktuku". 

Eun Sang berdiri, "Apakah kau ingin memesan atau pergi?". 
Bo Na menyindir, "Wow!. Daebak. Apakah kau boleh bersikap seperti itu kepada pelanggan?".
"Oh. Tidak aku ketahuan", jawab Eun Sang membuat Bo Na semakin merengut. (Biar merengut tapi tetap cantik).

"Chan Yong, ayo pergi!", ajak Bo Na. "Kau akan berangkat besok. Aku tidak ingin menyia-nyiakan waktu lagi dengannya".

Eun Sang yang heran tanya Chan Young ingin pergi kemana. Buru-buru Bo Na menutup mulut Chan Young, "Tidak! Jangan katakan padanya!. Atau aku akan marah!", ancam Bo Na. "Ayo pergi!", Bo Na menarik Chan Young pergi. 

Lalu berhenti sejenak memperhatikan pakaian yang Chan Young kenakan, "Aku sudah menyuruhmu memakai warna merah yang menonjol saat kau memakai baju putih atau krem. Ini disebut konsep Summer Jingle Bell (trend saat ini)".

"Ini merah", Chan Young menunjukan sepatu yang ia kenakan. Bo Na ngomel, "Itu bukan merah. Itu merah gelap!. Astaga! Ayo pergi". Bo Na menggandengan lengan Chan Young pergi.

Chan Young ke Eun Sang : Aku minta maaf karena menyita waktumu. Aku akan kirim sms. 
Bo Na menyahut, "Jangan coba-coba!". 

Eun Sang berdiri menatap kepergian mereka dan berguman, "Mereka benar-benar penuh dengan kemewahan". Dan Eun Sang melihat sikap manis Chan Young pada kekasihnya, yang mengusap kepala Bo Na dengan sayang. 

Bo Na jalan sambil ngomel, "Aku tidak suka Cha Eun Sung. Aku membencinya. Aku sangat membencinya!". 
"Bisakah kau tidak membencinya", ucap Chan Young tenang. 

"Sekarang aku lebih membencinya karena kau memintaku untuk tidak membencinya!", bentak Bo Na. "Dia miskin dan dia merendahkanku. Dia tidak mengakuiku!. Dia tahu tentang masa kecilmu yang aku bahkan tidak tahu. Ini sangat menjengkelkan!". 

"Stres akan membuatmu tua".
Bo Na semakin merengut, "Aku tidak bisa menahannya hari ini".

Chan Young tersenyum, mengacak rambut Bo Na gemas. 

Bo Na berkata itu kecurangan. Chan Young menenangkan Bo Na dengan berkata, "Dia dan aku hanya teman. Kami telah berteman selama setengah dari hidupku. Tak bisakah kau percaya padaku?". 

Bo Na tak percaya, "Gila! Pria dan wanita tidak pernah bisa menjadi teman!", teriak Bo Na jalan meninggalkan Chan Young. 

Chan Young tertawa geli melihat tingkah pacar yang manja itu. Dan jalan menyusul Bo Na. 

Dalam perjalanan Eun Sang kerumah, ia menelpon kakaknya menceritakan kekesalannya pada Bo Na, "Dia benar-benar cewek drama. Dia memiliki masalah kepercayaan atau apa?. Aku membencinya karena dia memakai pakaian yang berbeda setiap harinya. Aku tidak menyukainya karena dia memiliki sopir. . Aku kesal karena wajahnya angat cerah tanpa keriput". 

Rupanya, Eun Sang tidak bicara dengan kakaknya, ia hanya bicara sendiri dan suaranya itu terekam di telepon, di sebuah rumah kecil yang berantakan. Di dalam rumah itu tengah terjadi pertengkaran antara gadis Korea dan pria bule. 

Gadis korea marah karena pacar bulenya itu membawa selingkuhan-nya kerumah, "Jika kau ingin menghabiskan waktu dengannya, lakukan di luar!". 
Pria bule teriak, "Ini rumahku! Apa pedulimu akan apa yang aku lakukan di sini?". 
"Bukankah aku sudah bilang?. Inilah sebabnya kenapa kau itu sampah", ucap gadis Korea itu yang tak lain adalah Cha Eun Suk kakak Eun Sang. 

Pria bule itu marah dan menampar Eun Suk sangat keras, hingga Eun Suk jatuh ke lantai. Setelah menampar pria bule itu pergi, sembari berucap, " Dasar jalang! Keluar dari rumahku!".

Eun Suk hanya memandangi pria itu dan memegangi pipinya yang sakit. Baru itulah Eun Suk mendengar suara Eun Sang. Eun Suk menoleh sebentar. Disamping telepon terpajang foto Eun Sang bersama dirinya, "Apakah kau mendengarkan voice-mailku?. Telpon aku kembali bahkan jika kau sedang sibuk. Bagaimana dengan kuliahmu?. Aku sangat iri padamu. Kau akan kuliah di Amerika. Pokoknya telepon aku. Aku merindukanmu". 
Eun Sang menutup telepon dan kaget merasakan rintik hujan jatuh satu persatu membasahi badannya. Eun Sang mengambil payung yang diberikan Chan Young. Tapi payungnya macet tidak bisa terbuka. 

Eun Sang berlari dan berteduh disebuah toko kecil. Tangannya masih sibuk membuka payung. Ia menoleh kebelakang melihat dreamcatcher yang tergantung di elatase. Dreamcatcher ungu yang tampak berkilauan membuat Eun Sang terpesona. 

Tepat pada saat itu, payung Eun Sang terbuka. Eun Sang sedikit menarik senyum, memakai payung dan tetap berdiri disana mengagumi dreamcatcher yang menarik hatinya. 
Dirumahnya, Chan Young menyibak tirai, tersenyum menatap hujan yang turun. Payung yang ia berikan pada Eun Sang tidak sia-sia, pasti itu yang ada di benaknya. Yoon Jae Ho ayah Chan Young sibuk memotong wortel. Ia berpikir anaknya itu bersama dengan Bo Na hari ini, kenapa tidak makan dengannya. 

Chan Young menjawab, "Aku ingin makan dengan ayah. Aku tidak ingin ayah makan seperti halnya ayah tunggal. Apalagi sedang Hujan".
Jae Ho bertanya, "Apakah kau pernah berpikir bahwa kau merusak malam Jumatku?". 

(Kok malam jum'at bukannya malam minggu. Hei...lihat siapa yang jadi ayah Chan Young, itu Chul Goo (AHIY)..tua banget dia disini..). 

Chan Young curiga ayahnya mempunyai pacar. Jae Hoo berhenti memotong dan berkata, "Itulah yang kau hancurkan". Lalu kembali memotong wortel. Chan Young berkomentar seharusnya ayahnya itu memotong wortel dengan ukuran yang lebih kecil dibandingkan kentang.  "Karena?", tanya Jae Ho


Chan Young menjawab sambil menata meja makan, "Kentang memiliki kadar air yang lebih tinggi. Kentang masak lebih cepat daripada wortel. Jadi, saat ayah menggorengnya bersama-sama, wortelnya harus lebih kecil. Dengan begitu, keduanya akan masak dengan baik".

Kalau begitu Jae Ho akan memasaknya secara terpisah. Chan Young menyahut itu akan memakan waktu yang lebih lama, tapi rasa keduanya tidak jauh berbeda. Itu tidak efisien. Jae Ho menjentikan jari, "Sekarang katakan itu dalam bahasa Inggris?". 

Chan Young mencoba, tapi ada yang tidak bisa. Ia pun mengaku kalah dari ayahnya, "Bagaimana bisa aku mengalahkan ayah?. Apakah aku memcuci piring skearang? (sebagai hukuman). Jae Hoo menambahkan cuci pakaian juga, "Aku menghabiskan banyak uang untukmu hari ini".

Chan Young tersenyum dan menebak ayahnya sudah membeli tiket pesawat. Jae Ho mengiyakan, "Kau memberitahu Bo Na bahwa kau akan ke Amerika?". 
Chan Young membenarkan, dia ingin ikut. 

"Kau akan hidup bersamanya di Amerika?', tanya Jae Ho. Chan Young balik tanya apa ayahnya akan mendukungnya. Jae Ho menyahut itu akan menjadi investasi yang buruk. Jae Ho lalu bertanya apakah Chan Young belum memberitahu Eun Sang. Chan Young tidak mengatakannya pada Eun Sang karena dia sibuk bekerja. Chan Young enggan mengatakan rencana-nya yang aka pergi ke Amerika selama liburan musim panas. 

Chan Young ingin tahu apa yang dilakukan ibu Eun Sang, Jae Ho berkata ibu Eun Sang adalah inti dari Jeguk Grup, "Dia memiliki kontrol untuk Nyonya Han".
Chan Young terkejut, "Benarkah?". 

Rumah kediaman keluarga Kim. Dimana Ibu Eun Sang, Park Hee Nam bekerja sebagai salah satu pelayan di rumah besar itu. Park Hee Nam sedang membuat jus ketika pelayan lain menyentuh pundaknya. Pelayan itu berkata, "Nyonya Han ingin makan".

Hee Nam melangkah pergi, pelayan tadi menahan lengan Hee Nam memintanya untuk berhati-hati. "Nyonya sedang kesal. Anaknya yang di Amerika tidak menjawab teleponnya". Hee Nam menanggapinya dengan senyum tipis, keluar dari dapur menuju ruang makan. 
Ny. Han Ki Ae sedang kesal karena anaknya, Kim Tan yang berada di Amerika tidak menjawab teleponnya. "Come On!. Kenapa kau tidak mengangakatnya? Kenapa?".

Ny. Han meletakkan ponselnya lalu duduk dan mencicipi sup, "Apa yang salah dengan supnya? Kau tidak bisa berbicara atau mencicipi makanan?. Apa gunanya mulutmu itu?", Ny. Han menumpahkan kekesalannya pada Hee Nam. 

Hee Nam yang tidak bisa bicara, menulis jawaban-nya di notes yang selalu ia bawa, Lalu menunjukkan-nya ke Ny. Han, "Haruskah aku membuatnya lagi?". 

"Dan berapa lama lagi itu?. Bawa pergi ini", jawab Ny. Han. 

Pelayan tadi masuk keruang makan memberitahu kalau Tuan Kim Won sudah sampai, membuat Ny. Han yang sedang minum wine tersedak terkejut, "Benarkah?. Apa yang harus kulakukan dengan ini (wine yang sedang ia minum)", Ny. Han takut jika Kim Won melihat dia minum alkohol. 

Ny. Han cepat-cepat meneguk wine yang tersisa. Pelayan tadi berkata, "Dia pergi ke lantai atas". Ny. Han memuntahkan kembali wine yang ia minum kedalam gelas. 

Ny. Han memarahi pelayan itu, "Kenapa kau selalu meninggalkan bagian penting?. Apakah kau melakukannya dengan sengaja sehingga aku tertangkap?. Apakah aku tidak diizinkan untuk mendapatkan Chateau Latour (merek wine) untuk makan malam?". 

Hee Nam yang mendengar langkah kaki dengan cepat merebut gelas dari tangan Ny. Han dan menumpahkan wine ke dalam mangkuk sup. Ny. Han tentu saja kaget, "Ahjuma. Apa kau gila?". Hee Nam tidak peduli, mengambil napkin untuk mengelap bibir Ny. Han dan menyembunyikan gelas wine dibalik celemeknya. 

Kim Won muncul dengan wajah dingin-nya. Ny. Han memasang senyum, "Apakah kau sudah makan?'. Kim Won berkata ia terlambat makan siang (jadi masih kenyang). Ny. Han berkata itu tidak bagus mulai sekarang...."

Kim Won tak menghiraukan ucapan Ny. Han, ia bertanya pada pelayan siapa yang membersihkan kamarnya hari ini. Kim Won minta kamarnya di bersihkan lagi dan bawakan air ke kamarnya. Kim Won pergi di ikuti pelayan. 
Ny. Han tampak terpukul dengan sikap dingin Kim Won. Ia minta pada Hee Nam untuk mengambil wine dari ruang penyimpan bawah tanah dan bawa ke kamarnya. Hee Nam menulis, "Anda harus menyelesaikan makanan anda". 

Ny. Han menegakkan kepalanya. Dengan tenang dia berkata, "Ahjuma. Jika aku masih bisa makan setelah penghinaan ini maka aku adalah seorang selir. Istri yang sah tidak bisa makan apa-apa setelah itu. Buang semuanya", Ny. Han bangkit dari duduknya, pergi ke kamar.

Hee Nam berkata dalam hati, "Apakah kau makan atau tidak, kau masih istri keduanya. Aku lebih suka menjadi selir, dan makan daripada hanya minum". 



Hee Nam membersihkan meja makan, dan makanan yang ada dirumah Ny. Han pindah ke meja makan di rumah Eun Sang. Karena sayang dibuang, Hee Nam membawa makanan itu, menjadikkanya sebagai lauk makan malam.

Eun Sang memandangi ibunya dengan tatapan marah. Di pandangi seperti itu Hee Nam berkomunikasi dengan putrinya menggunakan bahasa isyarat, "Apa? Apa yang salah? Nyonya Han memberikannya kepada kita. Berhenti merengek dan makan".

"Apakah aku harus memakannya jika Nyonya Han memberikannya kepada kita?. Aku ini apa? Sampah?", ucap Eun Sang. 

"Siapa yang peduli apa itu? Apa yang lebih penting daripada makan?. Kau pikir kita bisa membeli makanan seperti ini?". 


Eun Sang menahan tangis, "Apakah salahku kita tidak mampu membeli makanan seperti ini?. Ibu bisa memakan semua yang ibu suka", Eun Sang berdiri marah masuk ke kamar. Hee Nam diam mengetahui purtinya benar-benar marah. 

Di dalam kamar, Eun Sang membolak-balik lembaran buku, "Gadis jahat. Hanya kau yang
memiliki hidup yang baik", gerutu Eun Sang melihat foto kakaknya. Foto yang sama terpanjang di rumah Eun Suk. 


Hee Nam masuk, Eun Sang membalikkan badan, membelakangi ibunya, "Aku tidak mau makan". Hee Nam meletakkan buku tabungan ke meja Eun Sang. Melihat tidak ada reaksi dari putrinya, maka Hee Nam memukul punggung Eun Sang. Eun Sang teriak kaget dan kesakitan. 

Hee Nam : Baiklah! Ibu tidak akan membawa makanan itu lagi. Jam berapa kau pergi bekerja besok?. Aku ingin kau pergi ke bank

Eun Sang menjawab dengan kesal, "Tidak harus ke sana lagi. Ada internet banking!. Dimana dan berapa banyak?". 
Hee Nam : Kau hanya bisa memastikannya jika kau yang mengirimkannya sendiri. Bagaimana kau bisa mengirim uang ke Amerika dengan hanya mengklik komputer?. 

"Amerika? Apakah ibu ingin mengirim uang ke onnie?"

"Kirim semuanya", ucap Hee Nam menggunakan bahasa isyarat. 

Eun Sang membuka buku tabungan. Matanya melebar terkejut melihat nominal simpanan ibunya, tertera 8,3 juta won. "Semuanya ini?. Semuanya?. Kenapa?. Apa sesuatu terjadi padanya?". 

Dengan bahasa isyarat Hee Nam mengatakan, "Katakan padanya (Eun Suk) untuk membeli perabotan. Dia akan menikah"
Eun Sang lebih terkejut lagi, "Apa?. Dia akan apa?".
Rachel Yoo heran ketika ibunya, Esther Lee mengutarakan niatnya yang ingin menikah lagi. "Ibu baru saja bercerai dengan ayah, kenapa ibu ingin menikah lagi?". Esther berkata sudah tepat waktunya untuk menikah lagi. Rachel Yoo tanya apa ayahnya tahu tentang hal ini. Esther balik tanya, "Apakah aku harus memintanya untuk mengucapkan selamat kepadaku?. Hal ini akan muncul di koran. Dia akan tahu itu".

Esther menyuruh Rachel berganti pakaian, "Pakaian itu akan merusak kulitmu. Kita akan pergi makan siang". Rachel ingin tahu dengan siapa, "Dengan ayah?". 

"Dengan ayah tiri", jawab Esther sembari memandangi cincin yang melingkar di jari manisnya. 
"Ibu", panggil Rachel dengan suara meninggi. 

Esther menanggapinya dengan santai, "Kau harus mengganti sepatumu juga. Jangan memakai sepatu berhak tinggi. Pakai yang flat. Dia tidak terlalu tinggi". 
Bibir Rachel menarik senyum sinis, "Siapa pria yang tidak terlalu tinggi ini?", tanya Rachel setengah membentak. 


Eun Sang menjajari langkah ibunya, ia ingin tahu seperti apa pria yang akan menikah dengan kakaknya. Eun Sang memborondong banyak pertanyaan, "Apakah dia kaya? Berapa umurnya?. Apakah dia orang Korea atau Amerika?. Apakah ibu bertanya apa pekerjaannya?. Jawab aku, kapan pernikahannya. Apakah dia akan mengajak kita?. Apakah dia mengirimkan tiket?". 

Hee Nam menjawab dengan bahasa isyarat, "Kita tidak akan pergi ke sana!". Eun Sang melihat sekeliling, merasa malu. Setengah berbisik Eun Sang berkata, "Aku bilang untuk menulis SMS ketika kita di luar". 

Hee Nam mengambil ponselnya dari dalam tas, mengetik di ponselnya. "Kakakmu akan kuliah di Amerika. Tentu saja, dia memilih orang yang tepat. Kita hanya akan mempermalukannya jika kita pergi". 

Eun Sang marah, "Bagaimana bisa?. Apa yang salah dengan kita?"

Hee Nam dengan bahasa isyarat, "Dia bilang, pacarnya itu baik dan pekerja keras. Jadi dia tidak ingin kehilangan dia. Itu sudah cukup!. Apa lagi yang bisa kita minta?". 

"Kenapa tidak?. Setelah dia melarikan diri, aku sudah...", Eun Sang menahan diri menghentikan ucapan yang mungkin bisa menyakiti hati ibunya. Eun Sang berkata akan pergi ke Amerika dan memberikan uangnya langsung pada kakaknya. Aku sudah terlambat, aku pergi", Eun Sang lari mengabaikan ibunya. 

Hee Nam ingin memanggil, tapi apa daya hanya suara tidak jelas yang keluar dari mulutnya. Hee Nam menghela napas, merasakan sesak didadanya. 


Calon keluarga baru berkumpul satu di meja makan. Dengan gaya elegan Esther memuji hidangan yang tengah ia santap, "Hm...sempurna. Benar-benar bagus untuk membawa Master Chef itu".

Choi Dong Wook, ayah Choi Young Do setuju dengan pendapat Esther, "Penjualan menjadi naik, mantan Koki yang sebelumnya juga hebat. Tapi dia meninggalkan kami begitu dia mendapat tawaran yang lebih baik". Esther berkata pada akhirnya, ini merupakan kemenangan. Begitulah. Segala sesuatu terjadi untuk alasan yang terbaik.
Young Do dan Rachel terlihat bosan dengan percakapan orang tua mereka. Dong Wook menilai Esther bisa mengatakan itu karena dia sudah melihat hasilnya. Segala sesuatu yang lain hanyalah sebuah proses. Aku pikir keluarga kita berada dalam konteks yang sama. 

Young Do tertawa kecil (mengejek) mendengar ucapan ayahnnya. Wajah Dong Wook mendadak berubah mendengar suara tawa Young Do. 

Esther berkata kami juga memiliki bekas luka di masa lalu, "Tapi aku pikir mereka telah membuat kami kuat untuk hari ini". Kali ini giliran Rachel yang mengeluarkan suara tawa mengejek. Dong Wook berkata lagi ikatan antara saudara kandung sama pentingnya seperti ikatan antara suami dan istri. 

Esther merasa senang karena Rachel dan Young Do sudah saling mengenal sejak lama. Ulang tahun Young Do lebih dulu dari Rachel, itu berarti Young Do menjadi kakak. Dong Wook menyuruh Young Do memperkenalkan dirinya dengan benar pada Rachel, Dia adik tirimu. 

Young Do menghela napas. Jelas wajahnya terlihat kesal. Young Do memperkenalkan diri dengan berkata, "Anyoeng sister!". Yang dijawab dengan senyum terpaksa dari Rachel. 

"Jaga Rachel. Kau harus menjaganya dengan baik sebagai kakaknya", pinta Esther. 
"Tentu saja", jawab Hyo Dong. "Adikku adalah tipeku".

Jawaban se-enaknya Young Do itu membuat yang lainya terkejut. Hyo Dong berdiri merasa tidak perlu berada disini lagi. Dong Wook menyuruh Young Do duduk. Young Do bilang ada acara lain. Dong Wook yang merasa malu berdiri dan menampar Young Do keras. 


Rachel dan Esther terkejut dalam diam. Dong Wook memerintah Young Do untuk duduk. Young Do melotot marah, "Sekarang aku benar-benar tidak bisa duduk. Kau mempermalukakanku di depan adikku. Selamat makan. Dengan keluargamu". Young Do pergi. 

Dong Wook dengan wajah marahnya..dari wajahnya sudah kelihatan kalau orang ini "Kasar dan pemarah". (Ayah yang buruk).

Dong Wook bicara pada Rachel, "Maafkan aku karena perilaku buruknya. Aku akan meminta maaf untuk menggantikannya".
"Tidak", sahut Rachel "Aku ingin mendapat permintaan maaf langsung darinya", Rachel berdiri, keluar ruangan. 

Setelah Rachel pergi. Dong Wook melonggarkan dasinya dan berkomentar, Rachel mirip dengan Esther. Esther ikut berkomentar, Young Do juga mirip dengan mantan istri mu.
"Jangan pernah bicara tentang dia...", Dong Wook kesal karena Esther menyinggung mantan istrinya. 

"Apakah dia cantik?", tanya Esther tetap tenang sembari meminum wine. 
Dong Wook menarik senyum, "Ini adalah kenapa aku menyukaimu. Apakah kau tahu itu?". 
"Ya" jawab Esther. 


Young Do menuju motornya. Sebuah sapaan menghentikan langkahnya, "Hei Brother", panggil Rachel yang berada di belakangnya. Young Do menoleh. Rachel menyindir Young Do terlihat seperti tipe yang layak mendapat pukulan. Young Do menyahut hanya memberi pesta yang menarik, "Kenapa kau tak makan saja disana?. Jika kau ke sini hanya untuk menyuruhku..".


"Aku ke sini untuk membiarkanmu pergi. Itulah satu-satunya cara bagiku untuk meninggalkan tempat itu", ucap Rachel.
"Jadi, bersenang-senanglah", Young Do duduk diatas motornya. 

"Kau tahu bahwa aku bertunangan dengan Kim Tan, kan?", Jika kita menjadi kakak dan adik, kau dan Tan akan....menjadi saudara ipar".

Wajah Young Do langsung berubah mendengar nama "Kim Tan". Rachel berkata, Young Do bukan satu-satunya yang membenci ini. "Tapi aku pikir kalian berdua akan membenci pernikahan ini lebih dari aku. Aku mengatakan ini hanya untuk berjaga-jaga. Sekarang kau boleh pergi".

Rachel berbalik pergi, langkahnya terhenti saat Young Do bilang, "Aku tidak pernah mengatakan bahwa aku menentang pernikahan ini". Rachel berbalik, "Apa maksudmu?". Young balik tanya apakah Rachel tidak tahu pernikahan apa ini, "Kau melakukannya sendiri". Rachel minta Young Do untuk mengatakan langsung apa maksud perkataannya barusan. 


Young Do berkata pernikahan berarti M&A, "Mergers and Acquisition" (Penggabungan dan Penerimaan). "Siapa yang akan memiliki saham Group Jeguk yang Ibumu miliki?. Jadi hentikan pernikahan ini jika kau bisa. Jangan menjadi Choi Rachel, Yoo Rachel".

Rachel baru menyadari apa arti pernikahan ibunya. Ia menahan marah, Young Do pergi dengan motor besarnya. Brum...brum..brum..



Di sebuah dapur yang super sibuk. Eun Sang menjalani pekerjaan paruh waktu lainya, sebagai pencuci piring. Bertumpuk-tumpuk peralatan makan Eun Sang cuci dengan cepat dan cekatan.

Tapi ia tak bisa lagi menahan kesalnya saat teman kerjanya meletakkan nampan penuh piring kotor dengan seenaknya, jika Eun Sang tidak segera menahan sudah pasti sisa makanan itu akan jatuh mengotori bak cucian piring. 


Eun Sang seperti akan menangis, kesal dan frustasi. Eun Sang menarik napas berusaha bersabar dan melajutkan kembali perkejaannya. 

Beberapa jam kemudian, Eun Sang menerima upah dari hasil kerja kerasnya. Bos Eun Sang tanya, "Apakah kau tidak pergi ke suatu tempat?'. Eun Sang menjawab akan pergi ke Amerika untuk menghadiri pernikahan kakaknya.

"Benarkah?. Itu bagus, kapan kau kembali?", tanya bos Eun Sang. 



Eun Sang berencana tidak akan kembali. "Kakaku menikah disana itu artinya bahwa dia tidak ingin kembali ke Korea. Jika dia tidak kembali, itu artinya aku harus mencuci piring selama sisa hidupku. Apakah aku ditakdirkan untuk memiliki kehidupan yang buruk?. Ini tidak adil".

Bos Eun Sang menyahut, "Kau baru 18 tahun sekarang!". Eun Sang berkata itulah sebabnya aku pergi ke Amerika. Itu yang aku rencanakan sejak aku berusia 8 tahun. 



Eun Sang pergi ke bank, memandangi buku rekening ibunya. Teller bertanya apakah Anda ingin menukar mata uang?
"Ya", jawab Eun Sang pendek. Teller minta Eun Sang menunjukkan buku rekening dan tanda pengenal. 

Eun Sang setengah melamun. Memegang buku tabungan dengan erat. Seolah ingin memantapkan hatinya dengan keputusan yang akan ia ambil. 

Malam hari. Eun Sang keluar kamar membawa KTP milik Hee Nam dan notes baru yang akan digunakan ibunya untuk berkomunikasi. Eun Sang berkata pada ibunya kalau hari ini ia pergi ke bank menukar uang. Hee Nam sedikit terkejut, menghentikan kegiatannya yang sedang mengisi lemari es. 

Eun Sang minta ibunya jangan khawatir, ia akan mengirimkan uangnya dengan aman. Eun Sang meletakkan KTP ibunya di meja, "Ini adalah pernikahannya. Akan lebih baik jika salah satu dari kita berada di sana. Aku telah membuat paspor. Ini akan memakan waktu tiga hari".

Hee Nam mengangguk pelan, dan kembali melanjutkan kegiatannya. Usai mengisi lemari es, Hee Nam mengeluarkan baki untuk kacang kedelai. 

Eun Sang memasukkan notes ke lemari kecil. Di sisi sebelah kiri ada notes yang sudah penuh dengan tulisan ibu. Eun Sang mengambil salah satunya dan membaca halaman satu persatu. 


Halaman ke-1, "Nyonya besar ada di sini pagi tadi".
Halaman ke-2, "Apa yang ingin Anda makan untuk makan malam, Nyonya?"
Mata Eun Sang mulai berkaca-kaca

Halaman ke-3 "Tenang Nyonya Han". 
Halaman ke- 4 "Aku tidak tahu bahasa Inggris. Aku akan mencoba untuk belajar, Nyonya Han".
Halaman ke- 5, "Dry Cleaning Only..Dry Cleaning Only...Dry Cleaning Only"



Eun Sang menghapus air matanya yang jatuh membasahi pipi. Halaman berikutnya di penuhi dengan tulisan Dry Cleaning Only. 

Eun Sang terisak tertahan. Lalu menghapus air matanya. Menoleh pada ibunya yang sedang memilih kedelai, "Apa yang ibu lakukan?. Apakah ibu mau membuat bubuk kacang?'. Hee Nam menganguk pelan. Eun Sang memandangi ibunya dengan sedih. Ia segera memalingkan wajah saat butiran bening kembali turun dari kedua matanya. 

Eun Sang mengambil satu notes yang masih baru. Menuliskan sesuatu di atas halaman, "Maafkan aku, ibu". 


Kemudian Eun Sang sudah berada di dalam kamar, memasukkan satu notes ke koper yang akan ia bawa ke Amerika. Di dalam koper itu ada dreamcatcher ungu yang Eun Sang lihat sebelumnya di toko tempo hari. 

Eun Sang menoleh sebentar ke arah ibunya, dan kembali menangis, "Aku akan sukses dan kembali. Tunggu aku". Badan Eun Sang berguncang hebat menahan isak tangis. 

Berbanding terbalik dengan apa yang dilakukan Rachel Yoo saat ini. Gadis itu tampak bingung memilih sepatu mana saja yang akan ia kenakan selama di Amerika. Esther yang berdiri disampinya tanya apa, "Apakah kau ingin beremigrasi?". 
(Buih...sepatu aja satu koper sendiri). 

Rachel memasukkan baju dan foto pertunangannya dengan Kim Tan ke dalam koper. Sembari berkata, "Aku berpikir tinggal di sana". Esther kurang suka mendengar jawaban putrinya, "Apakah kau harus pergi?. Tak bisakah membuatnya datang ke sini?". 

"Kenapa tidak? Kirimkan dia undangan pernikahan besok. Dia tidak akan melewatkan pernikahan calon Ibu mertua', sindir Rachel. 


"Ibu tahu bahwa kau menentang pernikahan kami. Tapi aku tidak akan membujukmu".

Rachel kembali menyindir, "Maksud ibu tidak akan bisa melakukannya (membujuk Rachel). Ibu perlu memiliki beberapa keterampilan untuk melakukan itu".

"Kau bisa menghapus dirimu sendiri dari kartu keluarga, jika kau ingin", kata Esther tetap tenang. 

"Apa ibu mengancamku dengan warisan?". 


Esther berkata itu adalah cara yang paling efektif dan akan berhasil. Rachel sinis, ia heran apa yang dilihat ibunya dari pria itu, "Ibu pernah mendengar desas-desus. Ibu melihatnya menggunakan fisik (kekerasan)!, Atau apakah ibu benar-benar jatuh cinta?"

"Rachel Yoo", Esther menilai ucapan Rachel sudah kelewatan. Rachel semakin sinis, "Tidakkah ibu merasa jahat pada Ayah, saat ibu memanggilkku dengan nama itu?. Ibu mencoba untuk mengubah namaku menjadi Choi Rachel.

"Kau memiliki tunangan sebagai pelarian. Hidupmu tidak terlalu buruk. Beri dia yang terbaik", ucap Esther keluar kamar, mengabaikan protes putrinya. 


Rachel mendengus kesal. "Benar-benar menjengkelkan!". Rachel mengambil ponselnya, menghubungi Kim Tan. 


Beralih ke rumah Kim Tan yang super besar, di California. 

Naik ke lantai 2 dimana kamar Kim Tan berada. Kim Tan duduk di ranjang menuliskan suara hatinya di atas kertas, "Hal pertama yang pikirkan ketika aku di asingkan ke California adalah. 'Setidaknya aku akan punya banyak almond'. Dan untuk sesaat, aku berpikir bahwa aku harus menjadi pemberontak sesuai yang mereka harapkan dari seorang anak haram".


"Tapi aku memutuskan untuk bersenang-senang seperti yang Hyung katakan. Akibatnya, ada polisi yang mengawasiku. Aku selalu menjadi pusat perhatian di sekolah. Aku juga membuat ibuku menangis di Seoul setiap hari".


Jay masuk ke kamar Kim Tan, "Seseorang menelpon!. Dari ruang tamu". jay melemparkan ponsel Kim Tan yang berdering sejak tadi. 

"Thanks", jawab Kim Tan menangkap ponselnya. Kim Tan enggan menjawab ketika melihat nama Rachel muncul di layar ponsel. Meletakan ponselnya di kasur.

"Kau tidak menjawabnya?. Telpon itu terus saja berdering", ucap Jay heran. 

Kim Tan berdiri, menyentuh papan selancarnya yang berderet rapi di pojok kamar, "Tidak. Aku sudah tahu siapa yang menelepon. Tunanganku. Dia akan naik pesawat. Atau bisa saja sudah di pesawat, atau sudah ada di sini. Ini adalah hari peringatan tunangan kami".

"Kau tidak terlihat senang!", gaya cara bicara Jay ini heboh banget, khas anak muda amerika.


Kim Tan memakai topinya, "Tidak, aku selalu menyukai ini. Apa yang kau lakukan? Kemasi barang-barangmu". (Cute...)
Jay : Kau bilang ini adalah hari peringatanmu!. 

Kim Tan diam sejenak, dan seolah mengetahui jawaban Kim Tan. Jay mengikuti ucapan Kim Tan, "Aku terlalu malas untuk merayakannya!", ucap Kim Tan dan Jay berbarengan sambil berangkulan..hehehe...suka liat adegan ini, sampe di ulang berkali-kali. 
(Suka sama senyum Kim Tan maksudnya).


Kemana 2 cowo itu pergi...ke pantai pastinya....It's time for surfing, guys.


Lanjut ke Sinopsis The Heirs Episode 1 Part 2


2 comments:

  1. Akhirnyaa muncul sudah oppa ganteng :)
    Si cul goo maen di heirs juga ya? Ckckckck beda bgt disini, keliatan rada tua, dan rambutnya itu loh gak nahan bgt :p
    Semangat nuri

    ReplyDelete
  2. Chul Goo dapet anak cowok yang cakep disini hahaha... rambutnya beda ya hampir ga ngenalin hihi...

    ReplyDelete

Thanks sudah mampir di blog saya, jangan lupa tinggalkan komentar ya...Trims....:)