Tuesday, October 01, 2013

Sinopsis Incarnation Of Money Episode 24 Part 1

Para pendukung Se Kwang demo di depan kantor kejaksaan. Mereka mengecam penangkapan Se Kwang dan menuntut pembebasannya. Pengunjuk rasa menganggap ini sebagai penindasan politik. Tak hanya itu, mereka juga ingin jaksa Lee Cha Don di hukum. Anggota polisi berdiri siaga di pintu depan, berjaga jika kalau para pendemo itu nantinya akan membuat kekacauan yang lebih besar lagi. 
Jaksa Jo mendapat teguran. Ia pun balik menegur Cha Don, sudah ku bilang jangan menunda kasus ini terlalu lama. Segera tuntut Se Kwang dan mulai sidangnya. Cha Don mengatakan Yoo Jae Gook menolak bersaksi.
Kalau begitu jaksa Jo mendesak Cha Don untuk segera menemukan rekening rahasia Bank Swiss, "Kepekaan masyarakat adalah wewenang tertinggi dibandingkan Konstitusi, hari ini. Banyak orang berteriak agar Ji Se Kwang dibebaskan, jadi siapa pejabat tinggi yang menginginkan situasi seperti ini?".
Cha Don yakin kejaksaan bisa mendapatkan kembali kepercayaan masyarakat. Jaksa Jo tanya bagaimana caranya. Cha Don berkata malam ini ada acara di TV. Jaksa Jo bingung, "TV?". Cha Don membenarkan tanpa menjelaskan lebih detail.

Wartawan Go memanggil PD Kim yang keluar dari ruang meeting. Ia mendengar malam ini acara "Haus Akan Kebenaran", akan tayang special selama 80 menit. PD Kim tersenyum membenarkan dan mengatakan preview-nya baru ditayangkan tapi pendapat pemirsa di berbagai situs sudah mulai menggila. Wartawan Go merasa penasaran dan ingin tahu tayangan seperti itu. 

"Apa kau mungkin ingat?. Kasus pembunuhan Myung Dong Chaebol Lee Joong Man?", tanya PD Kim yang langsung membuat wajah wartawan Go pias dengan ekspresi terkejut. PD Kim melanjutkan, "Yang lebih mengejutkan pelakunya adalah Walikota Seoul terpilih, Ji Se Kwang.

"Prodeser Kim", panggil Jae In yang baru tiba bersama Pal Do.

PD Kim menyapat Jae In balik, ia mendengar dari penulis kalau Jae In akan muncul dalam acara Haus Akan kebenaran.

"Ya", jawab Jae In sambil melirik wartawan Go, "Aku sendiri yang akan mengungkapkan orang-orang yang terlibat dalam kasus ini sesuai dengan nama asli mereka". Wartawan Go tercengang. PD Kim merasa senang, tapi hal itu bisa membahayakan Jae In yang mungkin akan dituntut karena pencemaran nama baik.

"Kalau begitu, biarkan saja mereka menuntutku. Semakin mereka bereaksi seperti itu, semakin jelas kebenarannya.", jawab Jae In dengan pandangan lurus menatap wartawan Go.

PD Kim kemudian mengajak Jae In masuk ke studio untuk proses rekaman. Jae In jalan mengikuti PD Kim. Pal Do melemparkan senyum dingin pada wartawan Go, kemudian pergi menyusul Jae In. Wartawan Go sangat syok hingga menjatuhkan script yang ia pegang. Kakinya pun terasa lemas seakan tak mampu berdiri lagi. 

"Ap... Apa?. Akan ditayangkan malam ini?", tanya Se Kwang terkejut setengah mati mendengar cerita wartawan Go. "Benar", jawab wartawan Go. Se Kwang menyalahkan wartawan Go, "Hei. Apa saja yang kau lakukan selama ini. 

Wartawan Go membalik perkataan Se Kwang, tidak mau disalahkan. "Seharusnya, akulah yang pantas mengatakan itu, bukan kau!. Kau sudah hancur karena kau melakukan pembunuhan, tapi kenapa aku?. Semua status, keluarga, dan kehormatan, yang kubangun dengan keringat dan darah, semuanya hancur begitu saja sekarang!". 

Se Kwang teriak dan menarik kemeja wartawan Go, dengan wajah bengisnya dia berkata, "Lakukan saja apa yang kukatakan!. Singkirkan kasetnya, bagaimana pun caranya!. Jangan biarkan mereka menayangkan acaranya!".

Apapun cara akan dilakukan wartawan Go untuk menutupi kebusukannya, termaksud mencuri kaset rekaman. Ia mengendap-endap masuk keruang editing. Dari celah kaca pintu wartawan Go melihat kaset rekaman yang baru selesai di edit. Para kru editing masih di dalam dan keluar setelah  setelah menyelesaikan pekerjaan mereka. 

Saat kru editing keluar, wartawan Go segera bersembunyi. Tak lama kemudian, kepalanya kembali muncul, tengok kanan kiri melihat sekitar. Merasa aman, wartawan Go masuk keruang editing. Membawa pergi kaset rekaman yang ia yakini berisi rekaman program Haus Akan Kebenaran, yang akan mengudara malam ini.

Wartawan Go terburu-buru menuruni tangga didarurat. Disana pula ia menarik pita rekaman keluar dari tempatnya. Pikirnya, inilah satu-satunya cara agar program Haus Akan Kebenaran tidak tayang malam ini.  

"Apa yang kau lakukan?" tegur seseorang tiba-tiba mengagetkan wartawan Go. Dia adalah presdir Hong. Tak sendiri, presdir Hong muncul bersama Jae In dan team produksi lainya.

"Pak... Presiden...", ucap wartawan Go terbata karena tertangkap basah. 

Jae In berkata benar seperti perkiraan kalau wartawan Go akan pasti akan mencoba untuk mencuri kasetnya. PD Kim berkata bagus sekali karena kita sudah mengganti kasetnya dengan yang palsu. Presdir Hong sempat tidak percaya ketika mengetahui bahwa wartawan brengsek yang terlibat itu ternyata adalah wartawan Go.

Pal Do menyambung semuanya sudah terungkap sekarang.  Jadi tak apa jika akan ditayangkan dengan menyebut nama asli mereka. Penulis merasa kecewa dengan wartawan Go. Presdir Hong minta wartawan Go datang keruangannya dengan membawa surat pengunduran diri. 

Semuanya pergi, kecuali Jae In dan Pal Do yang masih berdiri ditangga. Jae In paham wartawan Go mungkin tak bisa maju sebagai tukang gosip, tapi ia berharap wartawan Go meminta maaf pada Cha Don dengan tulus. "Kau mengerikan sekali". Jae In berbalik pergi, di ikuti Pal Do.

Wartawan Go mengambil ponsel menghubungi istrinya. Ia menyuruh istrinya membawa anak-anak mereka pergi ke pinggiran kota. Ia juga berpesan untuk tidak mengijinkan anak mereka menonton tivi hari ini. Usai menelpon, wartawan Go menangis, menyesali semua yang terjadi. Karir dan kemapanan yang ia bangun selama bertahun-tahun hancur dalam hitungan satu hari. Karir yang ia bangun diatas penderitaan dan tangisan orang lain.

Ruang interogasi. Cha Don duduk berhadapan dengan Se Kwang sebagai jaksa dan tersangka. Cha Don mengatakan saat acaranya malam ini disiarkan, semua pendukung Se Kwang akan berbalik menjauhinya. Se Kwang berkata dari awal ia tidak mempercayai mereka (para pendukungnya). Satu-satunya hal yang ia percayai adalah hukum. "Tim hukum terkuat Korea akan melindungiku dengan tembok hukum".

Cha Don yakin itu bukanlah hukum tapi uang. Karena uanglah yang bisa menggerakkan mereka. Tak penting bagi Se Kwang itu uang ataukah hukum, "Dengan bukti buruk yang kau miliki, kau tak akan mampu menjatuhkanku, Lee Cha Don".
Ji Hoo menangis membaca berita utama di surat kabar hari ini. Para masyarakat Seoul marah dan berunjuk rasa menuntut pembebasan Ji Se Kwang. Disaat pikiran yang kalut seperti ini, hanya alkohol yang menjadi temannya. 

Ji lalu memegang kwintasi bukti transfer Bank Swiss dan mengingat permintaan Cha Don di malam sebelumnya. 

Flashback. Cha Don meminta Ji Hoo memberikan apa yang dia punya, yaitu nomor rekening rahasia Bank Swiss. Ji Hoo tak menjawab dan langsung beranjak dari tempat itu. Perkataan Cha Don menghentikan langkahnya, "Jika seorang jaksa berbuat kesalahan, itu membuat orang tak bersalah menjadi penjahat. Dan jika jaksa itu menyerah, itu membebaskan penjahat. Kau ingat aturan itu?. Aturan yang kau katakan padaku sebelumnya. Saat kau mengatakannya padaku, kupikir Jeon Ji Hoo sunbae itu tampak sangat keren". 

"Hentikan", jawab Ji Hoo berbalik memandang Cha Don marah. "Apapun yang kau katakan, Jaksa Lee, tak ada yang ingin kukatakan mengenai rekening itu".

Ji Hoo jalan pergi, Cha Don teriak, "Rasa keadilan dan kebanggaan yang kau miliki sebagai seorang ahli hukum, apa kau benar-benar akan menyingkirkannya begitu saja seperti ini?". Ji Hoo mempercepat jalannya mengabaikan teriakan Cha Don. Flashback end.

Hati Ji Hoo diliputi rasa bimbang. Haruskah ia melindungi Se Kwang dengan menyingkirkan rasa keadilan di dalam hatinya. Atau berkerjasama dengan Cha Don. Perlahan ia meraih ponselnya menghubungi nomor seseorang. 

Gu Shik dan Sek. Hong menatap heran pada Ji Hoo yang sedari tadi minum tanpa henti. Cha Don datang, Sek. Hong bertanya kenapa hakim Jeon Ji Hoo minum sebanyak itu. Gu Shik menyahut mungkin saja karena Ji Se Kwang, kabarnya mereka akan menikah. Cha Don diam memandang miris sunbae-nya itu. Lalu mendekatinya. 

"Jangan minum lagi", Cha Don menahan botol Soju yang Ji Hoo pegang. Ji Hoo marah, "Lepaskan brengsek". Cha Don tetap menarik botol, lalu duduk di depan Ji Hoo, "Jika kau terus minum, kita minum bersama saja. Aku akan menjadi teman minummu".

Ji Hoo : Lee Cha Don. Dengar baik-baik. Aku Hakim Republik Korea. Dan, aku seniormu. Jadi, jangan coba-coba mempermainkanku.

Setengah mengebrak meja Ji Hoo meletakkan secarik kertas di depan Cha Don, "Ini bukti pengiriman uang ke Bank Swiss. Pada bukti pengiriman itu, ada nomor rekening rahasianya juga. Pemiliknya Ji Se Kwang".

"Sunbae", ucap Cha Don terkejut setelah membaca kwintansi.

Ji Hoo : Jika kau mengajukan kerja sama untuk penyelidikan dana ilegal, Bank Swiss akan memastikan identitas pemiliknya. Jika orang-orang yang menegakkan keadilan melanggar hukum, tak seorang pun di Korea yang akan percaya dan patuh pada hukum. Lee Cha Don, dengan kehormatanmu sebagai jaksa, selidiki kasus ini menyeluruh dan terhormat. Bagiku, kehormatanku sebagai Hakim Republik Korea, lebih dari sebelumnya, aku akan menghukumnya dengan adil.

Ji Hoo berdiri sempoyongan. Cha Don reflek memegang Ji Hoo yang hampir jatuh. Ji Hoo menyingkirkan tangan Cha Don, "Jangan menyentuku. Biarkan aku pergi", ucapnya marah.  Di depan pintu, Ji Hoo kembali hampir terjatuh. Gu Shik dan Sek. Hong spontan ingin menolong. Tapi, Ji Hoo menggerakkan tangan menolak bantuan. Cha Don menatap sendu kepergian sunbae-nya itu.

Setelah Ji Hoo pergi, Sek. Hong dan Gu Shik mendekati Cha Don. Mereka ingin tahu apa itu yang ada di tangan Cha Don. "Bukti kwitansi pengiriman uang ke rekening Bank Swiss". jawab Cha Don.

Gu Shik semangat, "Kalau begitu, kita sudah menemukan rekening rahasianya!". 

"Ji Se Kwang akhirnya ini semua berakhir", sambung Cha Don. Sek. Hong dan Gu Shik bersorak girang. "Selesai! Sudah selesai!".

On Air. Program Haus Akan Kebenaran mengudara. Diawali dengan narasi dari pembawa acara (Host), "Di tempat persemayaman di Propinsi Gyeong-gi, ada seorang wanita yang beristirahat dengan tenang. Namanya adalah Park Gi Soon. 15 tahun lalu, karena membunuh suaminya, dia dihukum 13 tahun penjara. Tapi, dia menghabiskan sebagian besar hidupnya. dalam rumah sakit jiwa, bukan di penjara.

Akhir Februari lalu, dia meninggal, dan ratusan milyar won kekayaan suaminya hilang tanpa jejak, di tangan beberapa orang. Orang-orang itulah, yang sangat mengejutkan, jaksa hebat, reporter, dan pebisnis. Semuanya sukses dengan karir mereka".

Hampir semua warga Korea menyaksikan tayangan acara ini, termaksud Cha Don dan Jae In. Mereka menonton di restoran milik Gu Shik. Mata Cha Don memancarkan kemarahan mengingat kembali semua penderitaan yang dialami ibunya. Tak mudah baginya menonton tayangan ini. Jae In yang mengetahui perasaan Cha Don, mengulurkan tangan menggengam tangan Cha Don yang mengepal menahan marah. Jae In tersenyum lembut memberikan Cha Don kekuatan.

Host : "Sekarang, tak ada yang tersisa. Baik pelaku maupun korban, maupun harta yang besar itu. Meskipun undang-undang pembatasan sudah berakhir. Tapi, kebenarannya masih ada". 

"Lalu, pengacara yang membunuh Presdir Lee Joong Man dan menjebak Park Gi Soon sebagai pembunuhnya, menjadi jaksa yang jujur yang memenangkan kepercayaan setiap orang".

(Scene melihatkan Se Kwang yang mendekam di dalam penjara, menatap seberkas sinar yang masuk ke dalam selnya)

"Jaksa yang bertanggung jawab terhadap kasus ini, membantu pengacara itu, meskipun dia tahu pelaku sesungguhnya, juga menerima uang dalam jumlah yang besar, dan punya jabatan tinggi di DPO. Sekarang dia Direktur kantor pengacara besar".

(Scene melihatkan Jae Kyu yang juga tengah menyaksikan acara ini. Duduk sendiri tanpa anak atau istri di sampingnya).

"Reporter yang memendam kebenaran demi uang yang bukan hak miliknya, sekarang hidup sebagai seorang pembaca berita yang terkenal. Ini adalah persekongkolan yang sempurna. Ini adalah kerja sama terjahat diciptakan oleh para ahli hukum yang tak adil dan reporter yang tak jujur". 

(Scene melihatkan wartawan Go yang tampak frustasi dan putus asa. Duduk di warung kecil. Menenggelamkan dirinya dengan alkohol).

Demi mengungkap kebenarannya, seseorang dalam kasus ini dengan berani akan mengungkapkan nama asli mereka. Setelah diskusi yang panjang, kami memutuskan untuk menghargai niatnya, dan mengungkap siapa saja mereka.

Tayangan beralih memperlihatkan Jae In yang menjadi nara sumber. Host bertanya pembunuh Presdir Lee Joong Man, siapa saja mereka. 

Jae In : Orang yang menjadi Jaksa Kepala dan baru saja terpilih menjadi Walikota Seoul. Ji Se Kwang, Kwon Jae Kyu yang dulunya merupakan Jaksa Agung, Go Ho dari acara "Go Ho goes", dan Eun Bi Ryung, Presdir Silver Rain. Sekarang dia dipenjara karena membunuh. Mereka semua adalah kaki tangan Ji Se Kwang". 

Warga Seoul yang berkumpul menonton tayangan ini memaki Se Kwang dan mengumpatnya. Ya..mereka merasa tertipu selama ini dengan topeng "Robin Hood Hukum" yang dipakai Ji Se Kwang. 

Bi Ryung tampak tenang mentonton acara ini meski namanya di sebut sebagai salah satu kaki tangan pembunuh. "Benar. Kurasa ini lebih baik. Dibandingkan aku, mereka mengalami kerugian besar".

Host mendengar putra Lee Joong Man masih hidup, ia menanyakan kebenaran berita ini pada Jae In. Jae In membenarkan. Host bertanya, "Apa anda bisa mengatakannya, di sini, siapa dia?". 

Jae In menjawab, "Dia adalah Jaksa Lee Cha Don dari Tim Penyelidikan Khusus DPO Seoul".

"Jaksa Lee Cha Don... yang saat ini menyelidiki kasus Ji Se Kwang?". tanya Host menyakinkan. Jae In mengiyakan, "Benar sekali".

Bi Ryung terhenyak terkejut mendengar pengakuan Jae In. Dadanya sesak dan mengingat perkataan Se Kwang yang mengatakan bahwa Lee Cha Don adalah Lee Kang Seok. Ternyata Se Kwang tidak berbohong, "Jadi itu benar?. Lee Cha Don adalah Lee Kang Seok?". Air mata Bi Ryung jatuh dengan sendirinya, seakan tidak percaya bahwa selama ini ia telah tertipu.

Cha Don kembali meng-interogasi manager Yoo. Sambil melihat dokumen, ia bertanya berapa banyak uang yang dijanjikan Se Kwang. 1 milyar won?. 5 milyar won?. Atau 10 milyar won?. Manager Yoo menjawab pertanyaan Cha Don itu tidak ada gunanya.

Cha Don menutup buku, "Aku mengerti bagaimana perasaanmu. Lagipula, karena kau sudah dipenjara, kau bisa mengambil uang itu saat kau bebas. Tapi, kau tak akan pernah mendapatkan uang itu, bahkan sepeser pun. 41,7 milyar won yang disimpan di rekening rahasia Bank Swiss, sudah kami sita semuanya".

Manager Yoo tersenyum kecil, "Kau pikir aku akan mempercayai ucapanmu?".

Cha Don menunjukkan pada manager Yoo kwitansi bukti transfer yang ia punya. Itu adalah bukti yang menunjukkan Ji Se Kwang mengirimkan uang ke Bank Swiss dengan nama palsu. Ada nomor rekening rahasianya dalam bukti pengiriman itu. Kemudian Cha Don meletakkan di meja, menyodorkannya ke manager Yoo.  

Cha Don memberi saran sebaiknya manager Yoo mengaku. Itu adalah kesempatan terakhir yang dia miliki, kecuali jika manager Yoo ingin disalahkan dalam sidang pembunuhan itu. Manager Yoo terpojok dan tidak bisa lagi bicara.

Interogasi terganggu karena suara dering ponsel Cha Don. Ia pun segera menjawabnya, dan terdengarlah suara Bi Ryung dari seberang. 

Cha Don buru-buru pergi ke restoran tempat ia janji bertemu dengan Bi Ryung. Cha Don duduk dekat jendela. Ponsel Cha Don berdering, ia menjawabnya,  "Kau dimana?". 

"Lee Kang Seok. Selama ini, kau sudah menipuku", jawab Bi Ryung marah. Dia menelpon dari telepon umun yang terletak di seberang restoran, Cha Don tidak menyadari hal ini.

Cha Don berkata hukuman Bi Ryung akan bertambah jika dia kabur seperti ini. Bi Ryung mengatakan tujuannya keluar dari rumah sakit jiwa tak lain untuk membunuh Ji Se Kwang. Racun-nya telah siap, tapi melihat situasi sekarang. Bi Ryung meraa Se Kwang juga orang yang menyedihkan. Karena apa yang dia peroleh, pada akhirnya hanyalah malapetaka.

Cha Don minta Bi Ryung kembali kerumah sakit jiwa sekarang juga. "Paling lama 3 tahun. Aku pasti akan meminta pembebasan bersyaratmu". Bi Ryung bertanya kenapa, "Orang tuamu mati karena aku. Dan itulah sebabnya kau balas dendam padaku. Tapi sekarang, kenapa kau berpura-pura membantuku?". 

"Karena putramu akan merindukan ibunya, sama seperti yang kurasakan saat aku masih kecil. Aku juga tahu betapa sakitnya itu. Jangan membuat anak yang tak bersalah. menderita merasakan sakit itu. Aku sudah tak membencimu lagi. Tidak,......aku akan memaafkanmu. Jadi, kau juga bisa melepaskan seluruh beban berat ini. Kau bisa memulai hidup yang baru juga".

Air mata Bi Ryung mengalir deras mendengar perkataan tulus Cha Don. Ia bahkan belum sempat meminta maaf, tapi Cha Don telah memaafkanya lebih dulu. Bi Ryung tak kuasa lagi bicara. Menangis tersedu memandang Cha Don dari kejauhan.

Se Kwang terjaga sepanjang malam. Matahari pagi menerobos masuk di sela-sela jeruji sel. Hari ini sidang digelar, hari penentuan dimana kejahatan Se Kwang akan di perhitungkan. 

Kwon Jae Kyu memandang foto kelulusan Hyuk. Sek. Seo masuk dan mengatakan ini saatnya anda pergi. Jaksa Kwon berkata putranya Hyuk, pasti malu pada dirinya. Sek. Seo bilang, "Tidak. Pasti tidak".
Jaksa Kwon berkata, " Cha Don bilang kesarahanku yang membunuh anakku". 

Jae Kyu berdiri menghadap jendela, "Saat aku kecil, ayahku membenciku jika aku melakukan hal baik di sekolah. Karena dia tak punya uang untuk membiayaiku, dia pasti membenciku yang ingin sekolah sampai SMA hingga perguruan tinggi. Setiap kali aku mendapat penghargaan karena nilaiku bagus, dia merobeknya didepan mataku. Aku merasa sakit hati dan membenci dia.

"Tapi, suatu malam, aku melihat ayahku menangis sendirian, diam-diam. Setelah menangis agak lama, dia mengeluarkan sesuatu dari dompetnya. Itu penghargaanku. Penghargaanku yang sudah robek digabungkan menjadi satu dengan selotip. Ini pertama kalinya aku tahu kalau ayahku sangat mencintaimu. Tapi, pada Hyuk, aku hanya menunjukkan sikap ayahku yang merobek penghargaan itu. Anak itu, dia mati saat membenciku".

Sek. Seo menangis, "Direktur". 

"Yang kusuruh siapkan, apa sudah siap?", tanya Jae Kyu dan dijawab ya oleh Sek. Seo

Para hadirin sidang berdiri, ketika hakim memasuki ruang sidang. Ada Ji Hoo diantara para hakim. Sidang pun dimulai, Cha Don maju mengajukan pertanyaan pada manager Yoo yang duduk di kursi saksi, "Jadi, kau bilang Jaksa Kwon Hyuk memburu rekening rahasia bank di Swiss?". Manager Yoo menjawab ya. 

"Apa yang terjadi setelah itu", tanya Cha Don kemudian. 

"Ji Se Kwang, pria itu bilang agar aku pergi. Setelah itu, dia muncul dengan banyak darah ditangannya.".

Para hadirin berkasak-kusuk. Jae Kyu yang juga menyaksikan proses sidang, menahan marah melihat wajah pembunuh anaknya.

Cha Don menghadap hakim, "Yang Mulia, Terdakwa Ji Se Kwang menggelapkan 41,7 milyar won dari Hwanghae Bank. Membunuh jaksa juniornya yang dianggap sebagai panutan, dan bahkan berusaha menutupinya. Ini adalah tanda terima yang ada nomor rekening rahasia milik terdakwa dan dokumen verifikasi dari Bank Swiss. Aku menyerahkannya sebagai barang bukti.
 
Cha Don menatap dingin Se Kwang, lalu kembali ke tempatnya. Se Kwang menghela napas, ia yang merasa dikhianati menoleh ke Ji Hoo. Merasa berpandangan sesaat, Ji Hoo lalu mengalihkan pandangannya menatap lurus ke depan.

Seorang petugas keamanan menyerahkan bungkusan amplop coklat pada Sek. Seo. Petugas keamanan pergi setelah Sek. Seo memastikan isi di dalam sesuai dengan pesanannya. 

Sek. Seo pergi ke kamar kecil, melalui celah yang ada di bawah pintu, ia memberikan bungkusan itu pada Jae Kyu yang berada di dalam kabin toilet. Isi dalam amplop itu ternyata adalah pistol. 

 Sek. Seo yang khawatir bertanya apa Jae Kyu benar-benar akan melakukannya?. Hyuk mungkin juga tak ingin ayahnya melakukan hal ini. Tekad Jae Kyu sudah bulat, menurut pendapatnya hukum dibuat karena rasa takut jika orang saling bunuh. 

"Tapi, direktur", ucap Sek. Seo berusaha mencegah. Jae Kyu keluar dari toilet dan berkata, "Ketakutan itu hilang. Tak satupun dari kematianku, maupun kematian orang lain. Aku... tak akan menyesal".

Detektif Choi dan petugas membawa Se Kwang keluar dari ruang sidang (btw, hakim belum memutuskan vonis kepada Se Kwang). Cha Don juga keluar dari ruang sidang melihat Se Kwang yang dibawa pergi. 

Ji Hoo sengaja menunggu di lorong koridor untuk bisa bicara dengan Se Kwang. Ji Hoo mengaku tidak akan menyesal. Se Kwang bertanya, "Apa yang kau sesali?. Karena mencintaiku atau mengkhianatiku?". 

"Keduanya", jawab Ji Hoo yakin. Sorot matanya memancarkan kesedihan.

"Ji Se Kwang", teriak Jae Kyu murka, tiba-tiba muncul dengan menodongkan pistol ke arah Se Kwang. "Aku akan menghukummu, brengsek!", dan Doorr....peluru panas melesat keluar bersarang di bahu Se Kwang.

Se Kwang jatuh ke lantai. Ji Hoo teriak panik, mengkhawatirkan kondisi Se Kwang. Jae Kyu jalan mendekati Se Kwang, mengacungkan pistolnya dan berkata akan membunuh semua orang yang menghalanginya. Ji Hoo memeluk Se Kwang, melindungi dengan tubuhnya. 

Cha Don dan Gu Shik bergegas membengkuk Jae Kyu. Memepetkannya ke dinding, lalu berguling di lantai. Cha Don berusaha sekuat tenaga melepaskan pistol dari genggaman tangan Jae Kyu. Jae Kyu yang sudah kalap teriak murka, "Aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri. Mati kau!. Ji Se Kwang!". 

Ji Hoo semakin panik melihat Se Kwang mengalami banyak pendarahan. "Telepon 911! Sekarang!". Detektif Choi yang tak kalah panik menelpon ambulance, "Ada yang tertembak. Cepat datang! Kumohon cepatlah!". 

Ambulance datang, Se Kwang segera dikirim ke rumah sakit, tanpa pengawalan hanya detektif Choi yang mendampingi.  (Hebat nich Se Kwang, udah tertembak masih bisa jalan).

Bi Ryung yang baru tiba kaget melihat Se Kwang yang dibawa masuk ke dalam ambulance. Ia kembali ke mobilnya, mengikuti kemana ambulance pergi. 

Cha Don dan Gu Shik keluar ketika ambulance jalan menjauh. Gu Shik menganggap Jae Kyu benar-benar gila. Cha Don memberi perintah agar mengirimkan polisi ke rumah sakit, "Ji Se Kwang adalah orang yang tak akan pernah menyerah. Jangan lengah, kita harus selalu berhati-hati dengannya".

Petugas medis yang mendampingi Se Kwang di ambulance sibuk menelpon rumah sakit. Meminta untuk segera di sediakan ruang operasi. Se Kwang yang masih dalam keadaan sadar menggunakan kesempatan ini. Ia menyentuh lengan detektif Choi memintanya untuk mendekat dan mengatakan sesuatu.

Detektif Choi menurut dan membuka borgol Se Kwang. "Maafkan aku", ucap Se Kwang lalu mengambil pistol yang terselip di sisi pinggang detektif Choi. Kemudian memukul kepala detektif Choi dengan gagang pistol. Detektif Choi pasrah tanpa melawan.

Sontak petugas medis menoleh begitu mendengar suara gaduh. Se Kwang mengarahkan pistolnya, mengancam. "Hetikan mobilnya. Hentikan mobilnya!".

Ambulance menepi, Se Kwang terjatuh keluar. Bi Ryung yang memang mengikuti di belakang menghentikan mobilnya. Membunyikan klakson menyuruh Se Kwang masuk. Setelah Se Kwang masuk, mobil Bi Ryung melaju pergi.

Cha Don mengumpulkan semua detektif. Detektif Choi tampak diantara mereka (Kenapa masih di ikutsertakan sich ini orang, dia yang bertanggung jawab atas kaburnya Se Kwang). Cha Don memberi perintah untuk mencari keberadaan terdakwa Ji Se Kwang yang kabur. Karena dia terluka, cari di rumah sakit dulu. Bisa jadi dia memanfaatkan rumah sakit kecil di pedesaan, atau klinik yang tak berijin. Lakukan pengawasan khusus di seluruh bandara dan pelabuhan dan kerahkan semua kekuatan polisi untuk mencarinya.

Para detektif bergegas melaksanakan tugas. 

"Ji Se Kwang kabur dengan membawa senjata?, tanya Jae Kyu yang kini berada diruang interogasi duduk berhadapan dengan Cha Don, "Seharusnya kau tak menghentikanku. Seharusnya kau membiarkanku membunuhnya".

Cha Don : Aku berbeda denganmu. Bukan balas dendam, tapi aku ingin dia membayar semua kejahatan yang dia lakukan.
Jae Kyu : Menurutmu, pada siapa dia akan mengarahkan tembakannnya?. Padamu, Lee Cha Don. Dia mengejar nyawamu. Dan, kau masih bisa bicara seperti orang tak bersalah?. 

Cha Don berkata ada 2 jenis kejahatan, "Satu yang bertobat, dan yang satunya tak pernah bertobat. Sepertinya kau jenis orang yang terakhir".

Jae Kyu menanggapinya santai, "Moto hidupku adalah, "Hidup tanpa penyesalan." Jika aku bertobat, maka aku tak akan memulai seluruh kejahatan ini".

"Itulah sebabnya hukum dibutuhkan", Cha Don tersenyum. "Meskipun orang tak bisa bertobat, setidaknya kami bisa menghukumnya".

Gu Shik masuk membawa Sek. Seo dengan kondisi tangan terborgol. Jae Kyu sedikit terkejut. Sek. Seo menunduk pasrah.

Cha Don berkata sopir truk mengaku disuruh seseorang untuk membunuhnya. Sekarang giliran Sek. Seo untuk bicara, "Kau mungkin juga disuruh. Siapa yang menyuruhmu melakukannya?". 

Cha Don menatap tajam Jae Kyu, "Katakan. Siapa orang yang memerintahmu untuk membunuhku?". Jae Kyu memalingkan wajahnya, menghindari kontak mata dengan Cha Don.

Sek. Seo memang setia, dia mengaku tidak orang yang menyuruhnya. "Aku melakukannya atas kemauanku sendiri".
"Hei, Sekretaris Seo!", tegur Gu Shik. "Jika kau yang akan bertanggung jawab, apa kau tak tahu berapa lama masa hukumanmu?. Pikirkan istri dan anakmu".

Jae Kyu mengaku, "Aku yang menyuruhnya. Aku yang menyuruh dia untuk membunuhmu. Akulah dalang dari semua masalah ini, Lee Cha Don".

Cha Don berdiri, "Jadi ada dua percobaan pembunuhan. Ji Se Kwang dan aku. Minta surat perintah penangkapan atas kedua kasus itu". Cha Don keluar. 

"Baik", jawab Gu Shik, lalu menarik Sek. Seo keluar meninggalkan Jae Kyu sendirian diruang interogasi. 

Dalam kesendiriannya, Jae Kyu tak kuasa lagi menahan tangisnya. Air matanya jatuh membasahai pipi, "Hyuk-ah. Maafkan aku. Tolong maafkan ayahmu. Hyuk-ah".


Lanjut ke Sinopsis Incarnation Of Money Episode 24 Part 2


9 comments:

  1. smangat yah nuri... sedikit lagiiii

    ReplyDelete
  2. wah sinopsisnya detail nih mb nuri. aku suka.. aku suka.. semangat.. hani

    ReplyDelete
  3. mantappp sinopsisnya......tinggal satu lg fighting nuriii....

    ReplyDelete
  4. Wɑ̤̈̊h,,,,.penasaran habis...semangat mbak tinggal 1 part Ļǻƍȉ....

    ReplyDelete
  5. jangan lama" yh mb posting part 2'a byar nggk pda mti pnasaran :P

    ReplyDelete
  6. bentar lagi selesaii... Semangat ,mba nurii...

    ReplyDelete
  7. Siep, makin ramai menjelang akhir cerita, tq ya

    ReplyDelete

Thanks sudah mampir di blog saya, jangan lupa tinggalkan komentar ya...Trims....:)