Monday, November 24, 2014

Sinopsis Reset Episode 7 Part 1

Episode 7

= Petak Umpet =
Note : Pic menyusul besok.


Sipir penjara mengabsen satu persatu narapidana yang baru saja di pindahkan ke Rutan Seobu. Salah satu dari tahanan itu ada yang bernama Joeng Sang yang tak lain adalah Woo Jin. Setelah itu Woo Jin di giring masuk ke dalam sel. Ia teringat dengan ucapan Young Jae saat menyekap dirinya, "Pergilah ke Rutan Seobu, disanalah dia berada".

Woo Jin ingat pada pesan yang ia tinggalkan untuk penyidik Go agar tidak mencari dirinya. Ia juga ingat pada direktur Choi yang telah mempersiapan segalanya agar ia dapat menyamar dengan baik.

Woo Jin berjalan sembari mengingat informasi yang di berikan direktur Choi sebelumnya. Informasi tentang narapidana yang nantinya akan satu sel dengannya.

Kim Chang Gyu, 45 tahun. 
Kasus kekerasan 15 tahun penjara. Wakil Bos Mafia

Lee Bong Gyu, 35 tahun
Specialis Rampok. 5 tahun penjara. Wakil ketua

Jang Myeong Soo, 32 tahun
Melanggar hukum medis

Jo Jae Yeong, 28 tahun
Pidana khusus (kabur dan melarikan diri). 2 tahun penjara.
(Teman satu sel Yoo Chang Seon. Target utama untuk di dekati). 

Saat masuk ke dalam sel Woo Jin melihat Kim Chang Gyu yang tengkurap dan Jang Myeong Soo yang sedang memasang jarum akupuntur di punggun Chang Gyu. Disana juga ada jo Jae Yeong yang memegangi baju tahanann Chang Gyu. Kurang satu orang, tidak ada Lee Bong Gyu di dalam sel itu.

Ketiga penghuni lama itu akhirnya menyadari kehadiran Woo Jin. Jae Yeong mengatakan tahanan baru yang ada di depan mereka bernama Jeong Sang. Dihukum 2,5 tahun penjara karena kasus kekerasan. Mendapat predikat narapidana bintang 3. Chang Gyu bertanya dari rutan mana Woo Jin berasal sebelum di pindahkan kesini.

Rutan CheongJu, jawab Woo Jin. Wajah Chang Gyu langsung mengeras dan bertanya bagaimana kabar orang-orang di sana?. Apa mereka baik-baik saja?. Woo Jin tak menjawab. Ghang Gyu heran jika memang Woo Jin berasal dari rutan Cheongju pasti bisa menjawab pertanyaanya.

Karena Woo Jin tidak bisa menjawab Myeong Soo mulai menyudutkannya ke dinding. Woo Jin mencoba mengingat data-data napi rutan Cheongju yang di berikan direktur Choi dan berkata kabar Woo Hyun Hyungmin baik-baik saja.

Chang Gyu lalu bertanya bagaimana dengan kabar Pa Ro, apa dia juga sehat? Woo Jin kembali mengingat data yang di berikan direktur Choi dan menjawab kesehatan Pa Ro tidak baik. 2 jawaban itu cukup membuat Chang Gyu puas dan akhirnya menerima kedatangan Woo Jin.

Sipir penjara membawa seorang narapidana menuju sel. Napi ini keberatan satu sel dengan Chang Gyu karena mereka saling bermushan. Sipir berkata Chang Gyu akan di pindahkan ke Rutan Seoul. 

Di dalam sel Woo Jin bermain kartu dengan napi lainnya dan selalu menang. Myeong yang kesal karena kalah memukul kepala Jae Yeong. Pintu terbuka dan masuklah napi bersama sipir, Woo Jin menunduk dan memalingkan wajahnya melihat wajah napi tersebut. 

Sedikit berbasa-basi napi baru ini memberi salam pada Chang Gyu karena Chang Gyu adalah ketua di sel. (Chang Gyu disegani karena ia merupakan wakil bos mafia). Chang Gyu menerima kedatangan napi baru tersebut dan menyuruh pada yang lainnya untuk memberi salam pada Bong Gyu. 

Myeong Soo dan Jae Yeong mengikuti perintah Chang Gyu dengan membungkukan badan memberi salam, tapi tidak dengan Woo Jin yang tetap menundukan wajah. Melihat hal itu napi yang merasa tersinggung langsung mendekati Woo Jin dan mengangkat kepala Woo Jin, "Hei..kau mengenalku kan?".

Woo Jin teringat pada pesan direktur Choi yang menyuruhnya untuk melupakan jati dirinya yang seorang jaksa, mengubah gaya bicara. Mengingat hal itu membuat Woo Jin bertingkah seperti preman. Woo Jin berdiri dan bertanya dengan gaya menantang, "Haruskah aku mengenal orang sepertimu?". 

Emosi napi tersebut tersulut, "Brengsek. Sebaiknya ku cekoki racun tikus. Sudah lama aku tidak menggunakan ototku". Bukannya takut Woo Jin malah meremehkan lawannya yang tidak mempunyai kemampuan tapi bertingkah. Hampir saja sebuah bogem mendarat di wajah Woo Jin jika saja Chang Gyu tidak menghentikan mereka. 

Napi tersebut marah karena Woo Jin bicara kasar. Ia ingin memberi Woo pelajaran agar tidak semakin sombong. Chang Gyu menilai napi tersebut lah yang lebih dulu bicara kasar. Ia juga menasehati Woo Jin untuk lebih hormat pada yang lebih tua tanpa memperdulikan umur dan pengalaman. 

Chang Gyu tidak suka melihat perkelahian di dalam satu sel menyuruh keduanya untuk memperkenalkan diri dan berjabat tangan. Napi tersebut mengulurkan tangannya dan memperkenal diri, "Aku Yang Dong Cheol". Woo Jin menyabut uluran tangan itu dan mengaku bernama Jeong Sang. 

Chang Gyu memanggil Jae Yeong dengan sebutan bungsu dan bertanya apa kau punya sesuatu. Chang Gyu menjawab punya roti. yogurt dan juga wine. Mereka akhirnya duduk bersama dan masing-masing mendapat satu bagian. Dong Cheol menatap Woo Jin dengan pandangan benci. 

Kita di bawa flashback satu tahun lalu dimana kebencian Dong Cheol berasal. Dong Cheol yang saat itu menjadi tersangka mengebrak meja dan marah pada Woo Jin yang menurutnya tidak punya bukti untuk menangkapnya. 

Woo Jin memang belum punya bukti dan seperti biasa ia menggunakan kemampuan hipnotisnya untuk membuat tersangka mengakui kejahatannya. Saat sadar Cong Cheol yang tak menyadari apa yang sebelumnya terjadi menjadi marah pada Woo Jin. Ia bersumpah akan membalas dan menghacurkan Woo Jin. Flashback end. 

Malam itu semua tahanan sudah terlelap dalam tidurnya masing-masing. Hanya Woo Jin seorang yang masih terjaga. Woo Jin menatap keluar jendela jeruji besi dan teringat kenangan manis yang ia lalui bersama penyidik Go, kabag Han dan juga Eun Bi. 

Di sel lain terlihat seorang napi yang sedang sibuk membuat bola kecil. Wajah napi itu tidak terlihat jelas. 

Keesokan harinya Woo Jin bersama napi lainnya duduk bersila menghadap pintu. Sudah menjadi kebiasaan sipir penjara memeriksa sel satu persatu di pagi hari. Myeong Soo menasehati Woo Jin, jika bukan karena Chang Gyu bisa dipastikan Woo Jin akan bernasib buruk di sini. Woo Jin bersikap acuh dan menyuruh Myeong Soo untuk mengurus dirinya sendiri. 

Semua napi yang satu sel dengan Woo Jin di bawa ke tempat pengolahan kayu. Saat melawati lapangan Woo Jin sempat berpapasan dengan Lee Tae Won (teman satu sel Yoo Chang Seon) yang berjalan berlawan arah dengannya. 

Segera saja Woo Jin memalingkan wajahnya agar tidak di kenali. Tapi Lee Tae Won sempat melihat sekilas wajah Woo Jin. Woo Jin yang takut ketahuan mempercepat langkahnya menjauhi Tae Won. 

Tae Won bertanya pada Jae Yeong siapa napi baru itu. Jae Yeong menjawab napi baru itu bernama Jeong Sang pindahan dari rutan Cheongju. Untungnya Tae Won percaya dengan jawaban Jae Yeong.

Di ruang kerja pengolah kayu Jae Yeong mendapat tugas mendampingi Woo Jin dan memberi contoh bagaimana cara memotong kayu menggunakan mesin. Chang Gyu tidak ikut bekerja dan hanya mengawasi dari jauh. 

Woo Jin mulai mencoba tapi sesaat perhatiannya teralih ke tempat lain. Woo Jin seperti melihat ada orang yang tengah mengawasinya di luar jendela. Karena tidak kosentrasi itulah hampir membuat salah satu jari Woo Jin terpotong oleh pisau mesin. Untung saja Jae Yeong segera mematikan mesin hingga jari Woo Jin selamat. Dong Cheol mendorong Woo Jin menjauh sekaligus memberikan tamparan di wajah Woo Jin. 

Dong Cheol yang kesal dan marah berkata tak masalah jika jari Woo Jin terpotong tapi jika sampai ada kecelakaan maka semua teman satu sel yang akan bertanggung jawab. Woo Jin meminta maaf. Dong Cheol juga marah pada Jae Yeong yang tidak bisa mengajari Woo Jin dengan benar. Ia memukul kepala Jae Yeong hingga menjatuhkan kacamata pria malang itu. 

Waktu istirahat Woo Jin duduk bersama Jae Yeong. Ia meminta maaf atas kejadian tadi dan bertanya apa kaca mata Jae Yeong tidak rusak. Jae Yeong berkata tidak apa-apa. Sebaliknya ia merasa senang karena sudah lama sekali tidak mendengar kata maaf. Karena itulah para napi di sini menjadi tebal muka.  

Woo Jin tetap merasa bersalah karena telah membuat Jae Yeong terluka. Sikap baik Woo Jin membuat Jae Yeong menilai kalau Woo Jin bukanlah narapidana bintang 3 seperti yang dia sandang. Woo Jin mengalihkan pembicaraan dengan bertanya sudah berapa lama Jae Yeong tinggal di rutan ini?.

Belum setahun Jae Yeong tinggal di rutan dan mengakui dirinya tipe orang yang suka berbincang dengan orang lain. Ia bertanya apa Woo Jin ingin mencari seseorang disini?. Woo Jin menjawab tidak ada karena orang yang ingin dia cari sudah meninggal. Orang itu adalah Yoo Chang Seon. Jae Yeong mengenal Chang Seon dan tak mengira kalau pria yang ia anggap sebagai kakak itu meninggal dengan cara seperti itu. 

Woo Jin ingin bertanya lebih banyak bertepatan dengan bel berbunyi menandakan waktu istirahat telah berakhir. 

Direktur Kim marah pada asisten yang melapor tentang Woo Jin yang tiba-tiba menghilang begitu saja. Ia menendang tulang kering asisten yang tentu saja membuat asisten kesakitan. Direktur Kim sangat marah karena buku rekening itu saja belum berhasil di temukan dan sekarang Woo Jin malah menghilang. Ia memarahi asisten yang tidak becus menangani Woo Jin. Asisten meminta maaf dan berjanji akan mencari Woo Jin hingga dapat. Direktur Kim yang tidak mau lagi melihat wajah asisten mengusirnya keluar. 

Woo Jin berjalan di koridor dan teringat pesan Woo Jin yang memintanya untuk menyelidiki kembali kematian Jo Bong Hak. Semula Dong Soo tampak ragu dan hendak berbalik menuju ruang kerjanya. Dong Soo menarik napas panjang, membulatkan tekadnya dan menemui direktur Kim. 

Yang Dong Soo tanyakan adalah kasus GK 7 tahun lalu. GK adalah perusahaan yang di pimpin presdir Kim Hak Soo. Dong Soo tahu 7 tahun yang lalu mantan kepala departemen yang tak lain adalah pengacara Kim tidak melakukan investigasi kasus GK dengan benar. Terasa aneh karena tiba-tiba semua informasi yang di kumpulkan malah menghilang dan penyelidikan di hentikan. Setelah itu pengacara Kim mengajukan pengunduran diri sebagai kepala departement. 

"Lalu?", tanya direktur Kim terbata dengan wajah tegang. 

Dong Soo ingin menyelidiki ulang apa yang terjadi pada saat itu. Direktur Kim menganggap otak Dong Soo sudah kongslet dan tidak punya pekerjaan sampai ingin mengungkit kasus 7 tahun lalu. Dong Soo yakin pasti ada sesuatu yang di sembunyikan karena radarnya mengatakan begitu. 

Direktur Kim menyuruh Dong Soo menggunakan radanya untuk mencari Woo Jin. Dong Soo yang bingung malah balik tanya memangnya kemana Woo Jin?. Direkur Kim kesal, "Kenapa bertanya padaku?", bentaknya nyaring hingga membuat Dong Soo terkejur dan lari menyelamatkan diri.  

Saat di luar Dong Soo menerima telepon. Dong Soo menampakan wajah terkejut saat tahu siapa orang yang menelponnya.

Sekarang Dong Soo berada di sebuah restoran dan sedang menghapal kata-kata yang nanti akan di ucapkannya. Ternyata orang yang menemui Dong Soo adalah presdir Kim Hak Soo. Pantas saja Dong Soo tampak gugup. Dong Soo ingin tahu tujuan presdir Kim ingin bertemu dengan dirinya. 



Presdir Kim menunjukan foto Dong Soo bersama keluarganya yang ia letakan di mobil. Dong Soo jelas kaget bagaimana presdir Kim memiliki foto itu. Ia ingat saat bertukar mobil dengan Woo Jin tempo hari. Tangannya bergerak ingin mengambil foto tersebut tapi presdir Kim malah menarik foto itu menjauh. 


Dengan santainya tanpa melihat wajah tegang Dong Soo, presdir Kim berkata melihat foto ini saja sudah membuatnya iri. Putra semata wayangnya bahkan meninggal sebelum sempat menikah. Sungguh menyedihkan, "Jaksa Kim, tak peduli sesibuk apa, kau harus sering menemui anakmu. Seorang anak tak sepenuhnya mengerti ayahnya. Dan juga kau pasti tidak selalu ada di sampingnya. Bukankah begitu?".


Dong Soo tanya apa yang presdir Kim inginkan. Presdir Kim memberi nasehat yang bernada ancaman. Ia berkata kalau bukan karena Woo Jin, sudah pasti Dong Soo akan menjadi calon kepala departement selanjutnya, "Aku khawatir hal-hal kecil bisa menghambatmu dari hal-hal besar. Pepatah lama bilang, mendengar perkataan orang tua bagai menerima kue dari langit. Siapa yang tahu?. Mungkin ada yang lebih baik dari kue yang jatuh". 


Dong Soo menelan ludah. Presdir Kim melihat sekeliling dan mendengar kalau restoran ini memiliki sup yang lezat. Usai mengatakan itu ia tertawa lalu pergi meninggalkan Dong Soo yang tegang.

Begitu berada di luar restoran presdir Kim memerintahkan anak buahnya untuk terus mengawasi Dong Soo dengan baik. Tak hanya itu ia juga bertanya tentang Woo Jin. Anak buah presdir Kim minta maaf karena belum berhasil menemukan jaksa itu dan akan terus mencarinya sampai ketemu.

Disaat para napi lainnya memamfaatkan waktu istirahat dengan bermain voli, Woo Jin lebih memilih duduk menyendiri. Ada seorang napi yang ingin mendekati Woo Jin tapi tidak jadi begitu melihat Jae Yeong yang jalan menghampiri Woo Jin. 


Jae Yeong duduk di samping Woo Jin dan tanya apa yang Woo Jin pikirkan sendirian disini. Woo Jin menjawab sedang memikirkan alharhum Chang Seon. Kesempatan ini Woo Jin gunakan untuk menanyakan tato di tubuh Chang Seon yang dia dapatkan di dalam penjara. 

Jae Yeong ingat pernah melihat tato yang sama dengan tato yang di miliki Chang Seon tapi ia tidak ingat siapa orangnya. Jae Yeong menawarkan bantuan, ia bisa membantu mencari tahu tapi tidak gratis harus ada uang sebagai imbalannya. 

Selanjutnya Jae Yeong dan Woo Jin mengendap-endap masuk ke klinik tanpa mereka sadari ada Lee Tae Won mengikuti mereka. Bersamaan dengan itu terdengar suara penuturan Jae Yeong;


"Sama seperti sidik jari, semuanya pasti tercatat. Mereka pasti merincinnya di dokumen terpisah. Disini semuanya bisa di selesaikan dengan uang. Tapi semua terpecahkan selama ada boxer sutra".


Dan memang benar, seorang tahanan yang saat itu sedang membersihkan ruangan menerima "boxer sutra" yang disodorkan Jae Yeong sebagai uang jasa.

Woo Jin bergegas menuju meja komputer untuk mencari informasi sementara Jae Yeong berdiri di belakang pintu mengawasi kondisi di luar. Woo Jin berhasil menemukan gambar tato yang ia lihat di tubuh Chang Seon. Sedetik kemudian Jae Yeong berbisik memberitahu kalau ada orang yang datang. 

Jae Yeong yang takut ketahuan segera menarik Woo Jin pergi padahal saat itu Woo Jin sedang menunggu print out keluar dari printer. Mau tak mau Woo Jin harus pergi dengan membawa potongan kertas gambar dari wajah orang yang membuat tato tersebut. 

Tak lama Woo Jin dan Jae Yeong keluar masuklah petugas. Woo Jin baru ingat kalau komputernya belum di matikan. Ia hendak berbalik kembali ke ruangan itu tapi Jae Yeong mencegahnya dan menyeretnya pergi. 

Lee Tae Won keluar dari tempat persembunyiannya setelah melihat Woo Jin dan Jae Yeong pergi. Merasa penasaran, Tae Won masuk ke ruang klinik tadi dengan alasan memeriksakan perutnya yang sakit. Saat di periksa itu mata Tae Won berkeliling melihat komputer dan printer yang menyala, tapi tentu saja ia tidak bisa melakukan apa-apa.

Dokter yang memeriksa tidak menemukan penyakit yang Tae Won keluhkan. Ia memberi obat gangguan pencernaan dan meminta Tae Won datang kembali jika tidak ada perubahan setelah meminum obat. 

Woo Jin menunjukan potongan gambar yang berhasil ia dapat, "Orang ini, bisakah kau mencari di sel mana dia?". Semula Jae Yeong tampak keberatan tapi akhirnya ia bersedia membantu dengan imbalan 10 potong boxer sutra. 

Penyidik Go kerumah sakit dan bertemu dengan kabag Han di depan pintu. Ia menanyakan kondisi Eun Bi. Kabag Han menjawab tidak ada masalah pada kesehatan Eun Bi, gadis itu baru saja di suntik vitamin dan saat ini sedang tidur. Penyidik Go merasa aneh karena Eun Bi tidak ingat peristiwa penculikan itu. Kabag Han berpikir mungkin Eun Bi terlalu syok hingga tidak bisa mengingatnya. Syok yang bersifat sementara. 

Penyidik Go kemudian menanyakan luka di kepala kabag Han. Kabag Han menyentuh kepalanya dan berkata tidak menderita luka serius. Penyidik Go tetap khawatir karena kabag Han mendapat 10 jahitan karena luka itu. Ia meminta kabag Han untuk lebih menjaga diri. Kabag Han tersenyum luka seperti ini bukanlah masalah baginya.

Hari itu Eun Bi pulang bersama Penyidik Go dan juga Kabag Han. Eun Bi membuka tasnya dan memegang sebuah buku agenda. Kemudian tangannya bergerak-gerak seperti mencari sesuatu. Kabag Han yang melihatnya dari kaca spion bertanya apa ada yang hilang. Eun Bi menggeleng tidak. Penyidik Go yang tengah kosentrasi menyetir sempat melirik dari kaca, mungkin ia tahu apa yang sedang Eun Bi cara, yakni foto ayahnya yang ia ambil.

Tiba-tiba wajah Eun Bi berubah muram. Ia ingat saat dirinya di culik. Eun Bi yang baru sadar dari pengaruh obat tidur berjalan pelan seraya berpegang pada dinding mencari pintu keluar. 

Samar-samar Eun Bi mendengar suara orang di ruangan sebelah. Eun Bi menuju ke sana dan sedikit membuka pintunya. Ia melihat Woo Jin yang sedang di ikat. Ketika itu Woo Jin masih dalam pengaruh Yeong Jae dan mengira kalau orang yang ada di hadapannya adalah Eun Bi.

Dari pembicaraan mereka, Eun Bi akhirnya mengetahui kalau ayahnya telah meninggal dan berpikir Woo Jin lah yang membunuh ayahnya. Eun Bi seakan tidak percaya. Ia hendak melangkah pergi tapi tubuh lemasnya membuat ia kembali jatuh tidak sadarkan diri.  

Air mata Eun Bi mengalir mengingat kenyataan itu. Kenyataan pedih yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Berkali-kali ia menyeka air matanya, tapi air mata itu terus turun tanpa ia minta. 

Di dalam sel Woo Jin terlihat melamun. Tak jauh darinya ada Chang Gyu yang tidur bersandar di dinding sembar memegang pulpen. Lamunan Woo Jin buyar saat mendengar suara pulpen yang di jatuhkan Chang Gyu. Woo Jin mengambil pulpen itu dan melajutkan lamunannya. 

Sama seperti malam-malam sebelumnya, disaat para napi lain terlelap Woo Jin belum juga bisa memejamkan mata. Ia memainkan pulpen seakan ingin menghipnotis dirinya sendiri. Ia mencoba mengingat kejadian 7 tahun lalu di taman Mirae. Saat ia menembak ayah Eun Bi dengan penuh kemarahan. 

Terdengar 2 kali suara letusan dan ekspresi kaget Woo Jin yang menoleh ke belakang. Woo Jin mencoba mengingat apa yang terjadi selanjutnya tapi ingatan itu memudar dan hilang begitu saja. 

Woo Jin memejamkan mata sejenak dan saat membuka matanya ia melihat wajah Dong Cheon berada tepat di atasnya. Dong Cheon tersenyum menyeringai dan langsung membungkam mulut Woo Jin, "Benar suara pulpen itu. Sekarang aku ingat. Kau hidup dengan baik jaksa Cha Woo Jin!. Ingat jika bertemu lagi apa yang akan aku lakukan padamu?".

Woo Jin yang terkejut berusaha melepaskan diri. Dong Cheon tak memberi kesempatan dengan mencekik leher Woo Jin. Cekikan Dong Cheon sangat kuat, ia mengerahkan seluruh tenaga ingin menusuk Dong Cheon dengan pulpen, tapi sebelum ia melakukannya Dong Cheon roboh lebih dulu.

Di belakang Dong Cheon muncul wajah Myeong Soo yang menjadi penyelamat Woo Jin. Dengan keahlian akupuntur yang di milikinya, ia menusuk tengkuk Dong Cheon. Pasti mengenai tepat saraf hingga membuat Dong Cheon tak bergerak.

Dengan suara pelan Myeong Soo meminta Woo Jin jangan khawatir, Dong Cheon akan bangun beberapa hari lagi. Woo Jin bertanya kenapa Myeong Soo menyelamatkannya. Myeong Soo berkata ia akan di bebaskan dari tempat ini, mana bisa ia diam saja melihat Woo Jin dalam bahaya.

Woo Jin bisa menebak apakah direktur Choi yang membatunya. Myeong Soo minta Woo Jin jangan banyak bicara, lebih baik sekarang membantunya membuat kesan seakan Dong Cheon sedang tertidur pulas agar tidak ketahuan yang lain. Woo Jin menurut dan membenarkan letak selimut Dong Cheon. 

Rupanya Jae Yeong juga melihat kejadian itu, tapi ia pura-pura tidur dan menutupi wajahnya dengan selimut.


Lanjut ke Sinopsis Reset Episode 7 Part 2


 

Friday, November 14, 2014

Sinopsis Reset Episode 6 Part 2

Penyidik Go dalam perjalanan menuju ke suatu tempat. Beberapa menit kemudian ia telah sampai di sebuah rumah. Disana ia melihat mobil sedan putih dan mencocokkan plat mobilnya. Nomor plat yang sama dengan yang ia lihat kemarin malam.

Dengan penuh kewaspadaan, penyidik Go membuka pagar dan melangkah masuk ke halaman sembari menodongkan pistol yang ia bawa untuk berjaga-jaga. Ia terus melangkah hingga masuk ke dalam rumah.

Tanpa penyidik Go ketahui dari seberang jalan, psikiater yang menyembunyikan Eun Bi melihatnya masuk ke dalam rumah. Sepertinya psikiater sengaja memarkir mobilnya di depan rumah lain untuk mengecoh penyidik Go. 

Penyidik Go menelusuri setiap sudut rumah mencari Eun Bi. Sampai akhirnya ia menemukan Eun Bi di salah satu kamar terbaring di lantai tidak sadarkan diri. Penyidik Go segera menghampiri Eun Bi dan membawanya ke atas sofa.  

Eun Bi yang baru sadar langsung menangis begitu melihat wajah penyidik Go, "Kenapa baru datang sekarang?". Penyidik Go menenangkan Eun Bi yang menangis dan meminta maaf karena datang terlambat.

Sesaat kemudian wajah penyidik Go berubah menjadi wajah psikiater. Eun Bi masih terus menangis karena merasa sangat ketakutan. Psikiater bertanya apa Eun Bi melihat siapa yang membunuh detektif Park. Eun Bi tidak tahu, saat itu ia sangat ketakutan sehingga tidak sempat melihat wajah si pembunuh. 

Psikiater memeluk Eun Bi, "Sekarang tidak apa-apa, Eun Bi. Aku akan menjagamu selama kau tidur agar rasa takutmu menghilang". Setelah psikiater mengatakan itu, Eun Bi kembali tertidur di pelukan psikiater. 
Entah karena hipnotis atau halusinasi yang membuat Eun Bi melihat wajah psikiater seperti penyidik Go. Karena penyidik Go yang asli masih berada dirumah yang dia datangi tapi tidak berhasil menemukan Eun Bi. Saat akan pergi, penyidik Go melihat buku yang tergeletak di atas meja. Penyidik Go mengambilnya dan melihat brosur yang terselip diantara halaman buku, "Young Jae Mental Health Clinic". 

Penyidik Go teringat pada ucapan kabag Han yang bilang kalau Woo Jin sering pergi berkonsultasi dengan psikiater. Kemudian ia menghubungi seseorang dan bilang kalau ia sudah menemukan tersangka kasus pembunuhan detektif Park. Ia minta pada rekannya tersebut untuk segera mencari keberadaan pria yang ia curigai. 

Saat Woo Jin serius membaca artikel di depannya, saat itu juga ia menerima sebuah pesan. Ia begitu terkejut melihat foto Eun Bi yang tidak sadarkan diri di atas tempat tidur. Tak lama kemudian, ia menerima telpon dari seseorang yang suaranya di samarkan.
"Sekarang ingatanmu sudah pulih dan kau ingat kejahatanmu, jaksa Cha?". 

"Jika terjadi sesuatu pada Eun Bi, aku tidak akan memaafkanmu", jawab Woo Jin. 

"Itu tergantung pada kau dan Eun Bi". 

Woo Jin marah, "Apa yang sebenarnya kau inginkan?!". 

"Kau tebus kejahatanmu", tuntut pria itu.

Woo Jin mengakui telah membunuh seseorang dan bersedia menerima hukumannya, tapi jangan Eun Bi. Pria itu menyuruh Woo Jin untuk datang ke suatu tempat dalam waktu satu jam. Terlambat satu menit saja, keselamatan Eun Bi tidak akan terjamin. Pria itu juga menyuruh Woo Jin untuk menghilang dari orang yang selama ini terus mengikuti Woo Jin. Dengan begitu Woo Jin baru bisa bertemu dengan Eun Bi. 

Woo Jin keluar dari ruangan dan masuk ke mobilnya seraya bicara di telepon. Ia melajukan mobilnya dan tentu saja anak buah presdir Kim mengikuti kemanapun dia pergi. Woo Jin masuk ke area parkir, dari kaca spion ia bisa melihat sebuah mobil yang terus mengikuti. 

Woo Jin keluar dari mobil dan bertemu nona Park yang memberinya laporan. Setelah menerima laporan, Woo Jin masuk ke dalam mobilnya. Anak buah presdir Kim yang mengintip dari balik tembok buru-buru masuk ke dalam mobilnya sendiri. Ia terus mengikuti mobil Woo Jin yang berjalan meninggalkan area parkir. 

Mobil Woo Jin melewati pos dan ternyata orang yang berada di dalamnya adalah Dong Soo. Bagaimana hal itu bisa terjadi?. Rupanya Woo Jin dan Dong Soo sengaja bertukar mobil untuk mengecoh anak buah presdir Kim. Dong Soo bersembunyi di balik tembok sehingga tidak terlihat oleh anak buah presdir Kim. Setelah Woo Jin menerima laporan dari nona park, saat itulah mereka saling bertukar mobil. 

Dong Soo yang kini mengendarai mobil Woo Jin, memberi isyarat pada nona Park yang bersembunyi di dalam pos. Dong Soo teringat pada permintaan Woo Jin yang memintanya untuk menyelidiki kematian Jo Bong Hak. Woo Jin juga memberitahu ada orang yang mengikutinya.

Anak buah presdir Kim sempat tertahan di pos dengan pemalang menghadang di depan mobilnya. Petugas parkir keluar dari pos dan berpura-pura membenarkan pemalang. Anak buah presdir Kim kesal karena ia kehilangan jejak Dong Soo yang ia kira Woo Jin. Kesempatan ini di gunakan nona Park untuk mencatat nomor plat mobilnya.

Woo Jin yang kini memakai mobil Dong Soo mulai meninggalkan area parkir. Di dalam mobil tersebut, terpajang foto Dong Soo bersama istri dan kedua anaknya yang masih kecil. Namun sepertinya Woo Jin tidak sempat melihat foto tersebut.  

Penyidik Go menjenguk kabag Han dengan membawa sebelah sepatu Eun Bi yang ia temukan. Kabag Han memegang sepatu itu dan menangis memikirkan nasib Eun Bi, "Mengapa kau tidak mengatakan apapun padaku". Tak ada yang bisa penyidik Go katakan selain meminta maaf. 

Kabag Han bertanya lalu dimana Woo Jin sekarang?. Penyidik Go juga tidak tahu keberadaan Woo Jin karena Woo Jin tidak bisa di hubungi. Kabag Han kembali menangis dan meminta penyidik Go untuk segera mengambilkan laptopnya. 

Malam itu juga Woo Jin datang ke taman Mirae dengan membawa senter kecil sebagai penerang jalan. Ponsel Woo Jin berdenting menerima sms,

"Kau bisa lihat cahaya di sebelah sana. Pergilah kesana, matikan sentermu". 

Sesuai perintah Woo Jin pergi ke tempat yang di maksud. Ia melihat lampu mobil yang mati dan menyala berulang kali. Sorot lampu itu membuat pandangannya kabur dan semakin kabur hingga akhirnya jatuh tidak sadarkan diri.


Saat terbangun, Woo Jin melihat Eun Bi berdiri membelakanginya. Woo Jin berdiri dan memanggil nama gadis itu. Eun Bi berbalik dengan wajah penuh air mata. Eun Bi yang marah minta penjelasan kenapa Woo Jin tega membunuh ayahnya.

"Kenapa?. Kenapa kau membunuhnya?. Kau merasa bersalah membunuh ayahku, karena itu kau baik padaku, kan?". 

Woo Jin terbata tidak bisa menjelaskan. Eun Bi menyebut Woo Jin sebagai pembunuh. Lalu mengeluarkan pisau lipatnya dan berkata, "Kau juga harus mati sama seperti ayahku". 

Eun Bi berlari ke arah Woo Jin dan dengan penuh kemarahan ia menusuk perut Woo Jin dengan pisau yang ada di tangannya, "Kau juga harus mati!. Pembunuh ayahku". 

Woo Jin mengerang kesakitan dan terjatuh, saat itulah samar-samar ia melihat wajah Eun Bi berubah menjadi wajah psikiater Young Jae, pria yang menyembunyikan Eun Bi. 

Kabag Han berusaha untuk menemukan Woo Jin dengan bantuan GPS, sayang upaya ini tidak membuahkan hasil karena gangguan sinyal dan pengaruh ponsel Woo Jin yang tidak aktif. 

Woo Jin yang tersadar dari pingsan terkejut mendapati tangan dan tubuhnya yang terikat di kursi. Psikiater Young Jae bisa menebak pasti Woo Jin merasa sangat terkejut saat ini. Woo Jin menyadari satu hal kalau Young Jae menggunakan sorot lampu mobil untuk menghipnotis dirinya. Woo Jin menyayangkan kenapa ia tak pernah merasa curiga pada Young Jae sebelumnya. 

Young Jae mencibir jika Woo Jin mempunyai kemampuan hipnotis pastilah mengetahui hipnotis semacam itu hanya dengan sekali lihat, "Ah... Kemampuan hipnotismu sudah hilang. Apa kau tidak tahu?. Kau mendapatkan kemampuan hipnotis setelah kau kehilangan ingatan. Jika ingatanmu kembali, maka kemampuan menghilang".

Young Jae tertawa dan bertanya bagaimana perasaan Woo Jin setelah di tusuk oleh Eun Bi. Woo Jin bertanya dimana Eun Bi. Young Jae menyuruh Woo Jin untuk tidak mengkhawatirkan Eun Bi. Gadis itu akan baik-baik saja asal Woo Jin bisa mengingat dengan biak ingatannya itu.  

"Ingatan apa yang sebenarnya ku simpan?. Kenapa kau memamfaatkan orang-orang di sekitarku?". 

Young Ja berdiri dan memukul wajah Woo Jin dengan keras, "Memamfaatkan?. Aku memamfaatkan mereka katamu?. Jangan asal bicara. Karenamulah orang-orang yang menyedihkan itu mati". 

Bagi Woo Jin orang- orang itu tidaklah menyedihkan, karena mereka adalah pembunuh, "Hanya demi keinginan mereka sendiri, mereka tidak takut akan konsekuensinya".

Young Jae yang tidak terima kembali memukul wajah Woo Jin, tidak hanya sekali tapi berulang kali. Setelah puas memukuli Woo Jin, Young Ja berkata setidaknya orang-orang itu tidak melakukan transaksi seperti yang Woo Jin lakukan. 

Woo Jin bingung, "Apa? Transaksi?". 

"Kim Man Cheol, Han Mi Seon, Yoo Chang Seon, dan juga detektif Park. Kau tahu kenapa mereka jadi pembunuh?. Kenapa mereka mati?. Jika 7 tahun lalu kau tidak hanya tertarik pada dirimu sendiri dan membuat kesepakatan kotor dengan mereka. Kau dan mereka akan punya kehidupan yang bahagia. Tapi karenamu, keluarga mereka, keluargaku, bahkan anakku yang berumur kurang dari 2 tahun. Orang-orang yang tidak berdosa telah terbunuh. Semuanya karenamu!!", teriak Young Jae murka. 

Woo Jin ingat artikel kebakaran yang ia baca tadi siang. Woo Jin seakan bisa mendengar teriakan minta tolong orang-orang yang terkurung di dalam api. Young Ja melanjutkan ucapannya yang sempat terhenti,

"Selama 7 tahun aku hidup sebagai pemerkosa. Kau tahu apa yang paling tidak bisa kutahan?. Kau memojokkan keluargaku ke lembah kematian. Aku tidak bisa membunuh orang sepertimu, yang tidak tahu diri dengan menyegel ingatanmu sendiri".  

Woo Jin tidak percaya dan mengganggap ucapan Young Jae hanyalah omong kosong. Young Jae tidak perduli, Woo Jin mau percaya atau tidak, "Kau hanya perlu melakukan hal terakhir, jika kau menolak Eun Bi akan jadi pembunuh". 

Woo Jin marah, "Akan ku bunuh kau!". 


Young Jae mendekatkan wajahnya ke Woo Jin dan berkata Eun Bi akan jadi pembunuh. Dia akan membunuh demi membalas dendam ayahnya. Dan akhirnya bunuh diri setelah membunuh". 

Woo Jin yang tangannya terikat tidak dapat melakukan apa-apa, tapi jika Young Jae berani macam-macam pada Eun Bi, Woo Jin memastikan akan membunuh Young Jae. Young Jae hendak melayangkan pukulannya lagi, tapi tidak jadi. Ia merogoh ponselnya dari dalam kantong.  


Young Jae mendapat sms dari seseorang yang mengatakan kalau lokasinya sudah di ketahui orang lain dan menyuruhnya untuk segera kabur. Buru-buru Young Jae menyuntik Woo Jin yang meronta minta di lepaskan. Dalam hitungan detik Woo Jin menjadi lemas. Young Jae membisikan sesuatu ke telinga Woo Jin dan melepas ikatan Woo Jin lalu pergi menyelamatkan diri.

Dengan sisa tenaganya Woo Jin berusaha untuk bangkit. Ia membuka pintu dan menemukan Eun Bi yang tidak sadarkan diri. Woo Jin berusaha membangunkan Eun Bi dan  menghidupkan ponselnya untuk meminta bantuan. Tapi badannya terlalu lemah dan mempunyai kekuatan. Woo Jin akhirnya pingsan di samping Eun Bi. 



Kabag Han dan penyidik Go berseru senang ketika berhasil mendapatkan sinyal tempat Woo Jin berada. Rasa senang mereka berubah terkejut saat mengetahui lokasinya. 



Bersama beberapa petugas, penyidik Go bergegas mendatangi lokasi. Penyidik Go menemukan Woo Jin dan Eun Bi yang terbaring tak sadarkan diri di atas tangga. Penyidik Go langsung membawa Eun Bi dan Woo Jin ke rumah sakit. 




Young Jae melewati gang yang sempit dan mendapat sms yang memberitahu bahwa pembunuh detektif Park ada di dekat sana. Baru saja ia selesai membaca sms, tiba-tiba pria yang di maksud sudah berdiri di depannya. Young Jae yang terkejut langsung lari dari kejaran pria berjuba hitam yang membunuh detektif Park itu.

Sampai akhirnya Young Jae mendapati jalan buntu yang membuat ia tidak bisa lari kemana-mana. Dengan cepat ia mengirim sms pada rekannya. Pembunuh detektif Park jalan perlahan hendak memukul. Tapi sebelum itu terjadi, Young Jae lebih memilih bunuh diri dengan menyuntikan cairan ke lehernya. 

Pembunuh detektif Park mendekati Young Jae yang kejang-kejang lalu meregang nyawa saat itu juga. Ia begitu kesal ketika mengetahui ponsel Young Jae sudah mati. 

Woo Jin datang ruang rawat kabag Han dan Eun Bi. Menatap kabag Han dan Eun Bi yang tidur sambil berangkulan di tempat tidur yang sama. 

Sementara itu penyidik Go yang seharusnya menjaga Woo Jin malah tertidur di samping tempat tidur pasien. Saat terbangun ia mendapati tempat tidur Woo Jin yang kosong dan menemukan pesan yang memang sengaja di tinggalkan Woo Jin,

"Untuk saat ini, jangan mencariku. Ini perintah".  

Penyidik Go yang terhenyak hanya bisa kembali ke tempat duduknya. Jika sudah begini maka ia tidak bisa berbuat banyak.



Kabag Han dan penyidik Go berpelukan haru begitu melihat Eun Bi yang sudah sadarkan diri dan bisa mengenali mereka. Eun Bi jadi heran dengan tingkah mereka lalu bertanya kenapa dirinya dirawat di rumah sakit. 

Dengan hati-hati penyidik Go bertanya apa Eun Bi ingat apa yang terjadi dengan detektif Park. Eun Bi menjawab memangnya apa yang terjadi dengan detektif Park, bukankah kemarin mereka sempat bertemu dengan detektif Park di tempat Woo Jin. 

Penyidik Go dan kabag Han saling berpandangan dengan raut wajah binggung karena Eun Bi tidak bisa mengingat peristiwa yang terjadi beberapa hari belakangan ini. Eun Bi yang tidak mengerti apa-apa hanya bisa memandangi mereka dengan wajah tak kalah binggung. 

Woo Jin berada satu mobil dengan direktur Choi. Direktur Choi memberi amlop berkas pada Woo Jin bertanya apa kau memang harus seperti ini?. Woo Jin merasa hanya ini satu-satunya cara. Direktur Choi memperingatkan kalau Woo Jin hanya mempunyai waktu 5 hari dan tidak bisa melindungi Woo Jin lebih dari itu. 

Woo Jin mengerti. Direktur Choi ingini tahu apa alasan yang membuat Woo Jin gigih seperti ini. Woo Jin tak menjawab dan mengalihkan pembicaraan kalau ia tahu dirketur Choi juga mengincar buku rekening rahasia Park bersaudara. 

Direktur Choi kaget dan bertanya apa Woo Jin tahu seberapa pentingnya buku rekening itu?. Direktur Kim dan asisten saja sampai terkecoh karena buku itu. Yang bahkan resikonya tidak bisa Woo Jin tanggung. 

Woo Jin bertekad untuk menemukan siapa pelaku sebenarnya dari rentetan peristiwa mengerikan ini. Sudah 8 orang yang mati. Woo Jin menganggap direktur Choi tidak mengerti karena dia itu bukanlah kasus pembunuhan yang bisa di pahami dengan mudah dan tidak tahu kapan terjadinya. 

Presdir Kim menyeret stick golfnya yang berlumur darah. Ia baru saja membunuh salah satu anak buahnya yang ia anggap gagal menjalankan tugas. Orang itu adalah pria jubah hitam yang tak lain pembunuh detektif Park. 

(Hidh... presdir Kim kejam banget. Suka main hakim sendiri dan membunuh seenaknya).

Pria yang selama ini mengikuti Woo Jin juga tengah di hukum karena gagal menjalakan tugas. Wajahnya sudah berdarah akibat pukulan yang ia terima. Ia gemetar ketakutan ketika presdir Kim meletakan sitck golf diatas kepalanya.

Presdir Kim menganggap pria itu tak ada bedanya dengan tikus. Datang dengan tangan kosong tanpa membawa hasil apa-apa bahkan kehilangan jejak Cha Woo Jin, "Bukankah aku menyuruhmu untuk mengawasinya!. Maka awasi baik-baik. Kenapa kau membiarkan baji**** pergi. Kenapa!!!", teriak presdir Kim marah. 

Presdir Kim hendak mengayunkan tongkatnya menghantam kepala pra itu. Tapi tidak jadi. Sembari mengancam presdir Kim memerintahkan anak buahnya untuk mencari Woo Jin. Cari dia sampai ke ujung dunia, "Jika tidak, kau akan ku kubur hidup-hidup di samping anakku. Menemaninya dalam kematian". 

Di beri kesempatan sekali lagi, pria itu buru-buru berdiri. Sebelum pria itu pergi, presdir Kim menyuruh anak buahnya untuk membiarkan Eun Bi, suatu saat gadis itu akan berguna untuknya. Ia juga memberi perintah untuk mencari tahu buku rekening rahasia itu. 

Setelah pria itu pergi, presdir Kim memandang foto Kim In Suk, putra semata wayangnya yang telah meninggal. 

Sebuah mobil yang membawa tahanan memasuki kawasan rutan. Setelah sampai para petugas menyuruh semua tahanan itu untuk turun. Ada 5 tahanan yang datang. Sipir penjara yang bertugas mengabsen satu persatu tahanan dan memberikan baju napi untuk mereka. Salah satu diantara mereka ada yang bernama Joeng Sang, yang tak lain adalah Woo Jin.

Sipir muda yang galak itu menatap tidak suka pada Woo Jin dan menyuruh Woo Jin yang saat itu menunduk untuk mengangkat kepalanya dengan benar. Setelah Woo Jin memperlihatkan wajahnya, barulah ia memberi baju napi untuk Woo Jin.


END

Komentar :
Apa rencana Woo Jin?. Kenapa dia menjebloskan dirinya sendiri ke dalam penjara. Mungkinkah di dalam sana Woo Jin bisa menemukan jejak X yang selama ini mengawasinya?. Presdir Kim dan X jelas bermusuhan. Lalu siapa dalang di balik semua pembunuhan ini, presdir Kim atau X?. 

Kemungkinan besar presdir Kim lah yang bertanggung jawab dan dalang di balik semua peristiwa ini. Karena di lihat dari sifatnya presdir Kim bukanlah orang yang mementingkan perasaan orang lain. Dia marah saat anaknya di bunuh orang, lalu kenapa dia bisa seenaknya menghilangkan nyawa orang lain. Benar-benar manusia super kejam.