Saturday, April 12, 2014

Sinopsis A Hundred Years Inheritance Episode 45 Part 2

Setelah mengantar Choon Hee pulang, Se Yoon mampir ke pabrik melihat Chae Won bekerja. Tanpa saura Se Yoon berdiri di depan pintu, tersenyum pilu memandangi wajah kekasih yang ia cintai. Memandang wajah Chae Won yang sedang bekerja membuat hati Se Yoon bahagia. 

Chae Won baru menyadari kehadiran Se Yoon, ketika ia menyelesaikan pekerjaannya. Chae Won yang kaget bertanya kapan kau datang. Tak lama, ia sengaja tidak memberitahukan kedatangannya, karena takut Chae Won akan mengusirnya, "Hari ini, aku ingin berlama-lama memandangi wajahmu, Chae Won". 

Chae Won bertanya apa Se Yoon merasa baik-baik saja setelah berbicara dengan Choon Hee. Se Yoon mengatakan Choon Hee banyak menangis, "Tentu saja, jika seseorang ingin meluapkan penyesalan yang panjang selama 30 tahun. Kupikir dia akan menangis lebih lama lagi".

Kemudian, Se Yoon menunjukan undangan pernikahan yang telah dicetak. Ia mengamati wajah Chae Won yang berubah sedih ketika melihat undangan tersebut. Se Yoon menegaskan mereka akan menikah pada tanggal yang telah di tetapkan, tidak peduli apapun. 

"Kau tahu ini bukanlah masalah yang bisa diselesaikan dengan cara memaksa seperti itu. Hubunganmu dan ibu sudah banyak di ketahui orang. Bagaimana kita bisa menikah?"

Se Yoon bersikeras, "Tidak akan ada masalah. Pernikahan kita akan terjadi seperti yang direncanakan". 

Chae Won minta Se Yoon untuk tidak berpikir yang tidak masuk akal. Lalu Se Yoon bertanya haruskah mereka menganggap pernikahan itu tidak pernah ada. Chae Won tak mampu menjawab. Air mata yang mengenang di pelupuk matanya, cukup melukiskan perasaanya saat ini. Sekali lagi, Se Yoon menegaskan tidak akan pernah menyerah, dan menyakinkan pernikah akan tetap berjalan sebagaimana mestinya. 

Paman dan bibi Chae Won menonton berita di TV yang mengabarkan perkembangan terbaru dari kasus yang menimpa perusahaan Young Ja. Saat ini semua Mie Hijau hasil produksi Dragon Golden Foods telah ditarik dari pasaran karena mengandung logam berat dalam jumlah besar, berupa timah dan kadmium. Polisi menangkap Young Ja dan sedang melakukan investigasi. 

Dalam tayangan berita itu, diperlihatkan juga proses penangkapan Young Ja. Do Hee berseru spontan saat melihat wajah Chul Goo dilayar kaca. Ki Choon mendengar kabar tentang aktifis anti Dragon Golden Foods dan saham yang turun, jika masalah semakin besar bukankah perusahaan tersebut berada dalam kondisi kritis. 

Chae Won yang baru tiba di lantai 2, berniat ingin masuk kekamar. Do Hee memanggil Chae Won untuk melihat wajah Chul Goo yang panik saat ibunya di tangkap. Ki Choon berkata anak mama seperti Chul Goo pasti tidak bisa melakukan apa-apa tanpa ibunya. 

"Dia sepertinya kehilangan setengah dari kesadarannya", komentar Kang Sook. 

"Orang-orang yang bermain dengan produk makanan, harus mendapat hukumannya", tambah Ki Moon. 

Chae Won tidak berkomentar. Masalahnya sudah cukup berat untuk memikirkan masalah orang lain. 

Di dalam penjara, Young Ja terus-terus'an mengeluh. Ia tak bisa berdiam di sini disaat perusahaanya dalam masalah. Jika seperti ini terus, bisa-bisa ia menjadi gila.

Young Ja membuat suara berisik dengan berteriak nyaring apa yang sebenarnya yang dilakukan pengacara, Chul Goo dan Joo Ri sekarang. Kenapa ia tak juga di keluarkan. 

Suara berisik itu menganggu ahjuma penghuni berbaju merah (2 ahjuma lainya sudah tidur). Hari sudah malam, tapi ia tak bisa tidur karena Young Ja tidak bisa tenang seharian ini. 

"Kol busuk ini, bagaimana kau bisa sepanjang hari mengeluh soal tidur?. Apa kau masuk penjara untuk tidur?. Apa ini hotel kamar?", maki Young Ja.

"Aku marah dan kau malah memulai perkelahian denganku, dasar kau wanita kasar", balas ahjuma berbaju merah. 

Young Ja tak mau kalah, suaranya lebih nyaring. Dengan gaya nyolot ia menantang wanita tersebut, "Memangnya kau sudah tahu siapa aku?". 

"Apa peduliku siapa kau???". 

Adu mulut terus berlanjut, Young Ja mengatai ahjuma itu hanya memakan makanan sampah hingga tidak bisa bicara baik dan menarus hormat padanya (Lah...dia sendiri, gimana????). 

Ahjuma lain berbaju abu-abu, yang semula tidur menjadi terbangung karena suara berisik Young Ja. Tampaknya ahjuma ini merupakan tahanan yang dituakan. Tatapan melotot marah yang terlihat menakutkan dari ahjuma ini, sudah cukup membuat Young Ja bergidik ngeri. Nyalinya langsung menciut saat itu juga. Hahaha...

Beruntung malam itu Young Ja tak perlu merasakan tidur di dalam sel, karena pengacara Hong datang memberikan jaminan agar Young Ja boleh pulang. Chul Goo dan Joo Ri menunggu di depan kantor polisi. Chul Goo mengkhawatirkan keadaan ibunya yang pasti menderita di dalam sel dan mengalami hari yang berat.

Sembari merenggangkan otot-otot badan, Young Ja berkata apa yang ia alami hari ini bukanlah apa-apa jika dibandingkan dengan kehidupan susah yang pernah ia lalui. Joo Ri meminta maaf, mengakui semua ini merupakan kecerobohan dan kesalahannya. 

"Saat ini, tidak ada gunanya menyalahkan seseorang", kata Young Ja bijak (tumben....). Ia lalu bertanya bagaimana dengan pasar saham. 


Asisten Kim : Hampir berada di posisi akhir. Bukan hanya produk mie hijau saja. Tapi, penjualan produk susu dan produk makanan olahan juga mengalami penurunan tajam. Dan juga...".

Young Ja : Dan juga?, apa lagi?


Young Ja menyuruh Joo Ri dan Chul Goo pulang, ada sesuatu yang harus ia diskusikan dengan pengacara Hong di kantor. Pengacara Hong, Young Ja dan sang asisten pergi lebih dulu. Chul Goo menatap curiga, "Apa ibu punya rahasia dengan pengacara Hong?". 
Joo Ri menghentakan kaki dengan wajah kecut, "Aku marah. Aku sangat marah hingga aku ingin mati". 

"Apa lagi sekarang?".

"Aku benar-benar ingin membalas dendam pada Se Yoon. Lihat bagaimana kita sekarang?!"

Chul Goo menjitak kepala Joo Ri yang lebih memikirkan pembalasan dendamnya yang tidak ada guna. Permasalahannya sekarang perusahaan mereka di ambang kebangkrutan, "Kapan kau akan sadar, hah?".

"Jangan mengangguku!!!!", bentak Joo Ri galak. 

*Tepok jidat punya saudara macam Joo Ri*, judesnya gak ketulungan... >,<

Se Yoon pulang dengan lesu. Sol Joo yang memang menunggu di ruang tengah, bertanya apakah Se Yoon bertemu dengan Choon Hee. Wajah Se Yoon berubah keruh. 

"Ibu membaca SMSmu. Ibu pikir kau akan pulang setelah makan malam dengan Ibunya Chae Won", jelas Sol Joo terbata.

Se Yoon membenarkan, "Ya. Tadi, aku dan Ibu bertemu. Kami makan malam dan bicara" (Se Yoon memanggil Choon Hee dengan panggilan "Eomma", panggilan untuk ibu kandung).

"Begitu....Sekarang...Dia bukan cuma Ibunya Chae Won. Tentu kau harus memanggilnya Eomma (Ibu). Maafkan Ibu. Ibu tidak berpikir", ucap Sol Joo berusaha tersenyum. 

"Selamat malam", pamit Se Yoon melangkah ke lantai atas. 

Mata Sol Joo berkaca-kaca. Cukup syok, seakan tak rela mendengar Se Yoon memanggil wanita lain dengan panggilan "Eomma".

Di kamar, Se Yoon merengung menyesali perbuatannya. Entah kenapa ia bisa melontarkan kata-kata kejam pada Sol Joo. Dengan pasti ia mengetahui, saat ini Sol Joo juga mengalami masa-masa yang sulit.

Chae Won menyendiri, membayangkan perkataan Se Yoon yang akan tetap menggelar pernikahan sesuai dengan waktu yang direncanakan. Kakek yang ingin pergi ke kamar kecil, mengurungkan niatnya saat melihat Chae Won termanggu sedih menatap langit. Tanpa berniat mengganggu atau bertanya, kakek tahu apa yang sedang dirisaukan cucunya itu. 

Kakek kembali ke kamar dan bicara pada nenek. Kakek berkata orang bilang kehidupan adalah perjalanan ziarah dari lahir sampai mati. Nenek heran, kenapa kakek membicarakan filsafah Confucius dan Mencius di tengah malam. Kakek berkata tidak ada banyak yang tersisa dalam kehidupan, biarkan Chae Won dan Ki Ok melakukan apa yang mereka inginkan. 

"Kau tiba-tiba menjadi budha hidup yang baik hati", kata nenek. 

Nenek berkata tidak mungkin Chae Won dan Se Yoon bisa menikah. Meskipun mereka tidak sedarah, mereka tetap kakak adik.  Ibu kandung Se Yoon adalah ibu tiri Chae Won. Dengan kenyataan itu, apa kakek masih ingin melihat mereka menikah. 

"Tidak ada gunanya memperdulikan perkataan orang lain", komentar kakek. 

"Lalu, apa kau akan memuji orang tua yang berusia 60 tahun dan Ki Ok yang hidup dengannya?". 

Kakek menjawab tak ada yang bisa mereka lakukan, bahkan sekarang Ki Ok sedang mengandung. Seakan menyalahkan kakek, nenek berkata semua terlihat baik-baik saja karena kakek berbaik hati. Tapi tidak begitu dengan nenek, ia tak akan pernah memberikan restu dengan menerima Kang Jin sebagai menantunya. 

Pria-pria keluarga Uhm pergi ke pemandian umum bersama. Didepan pintu masuk mereka bertemu Kang Jin yang sudah menanit sejak tadi. Ki Choon geram melihat wajah Kang jIn beredar disekitar mereka, "Apa yang kau lakukan  disini, gigolo tua?. Apa yang ingin kau dapatkan?". 

"Ah...kenapa pagi-pagi kau marah-marah, kakak ipar. Ayah menelponku pagi-pagi sekali dan buru-buru kesini", sahut Kang Jin ramah

Ki Moon tanya pada kakek apakah itu benar. Kakek membenarkan, "Pagi ini, Pria-pria keluarga Uhm akan berkumpul untuk memperat tali silaturahmi. Ayo kita mandi dan makan sup pollack sesudahnya". 

Kang Jin menggandeng kakek, jalan lebih dulu masuk ke dalam bangunan sauna. Ki Choon kesal setengah mati berencan pulang kerumah. Ia tidak mau berendam di bak umum yang sama dengan Kang Jin. Ki Moon dan Hyo Dong menahan Ki Choon, minta padanya untuk ikut masuk dan jangan bertingkah kekanak-kanakan. 
7 Pria Uhm berendam dalam bak mandi yang sama. Kakek merasa senang, bisa berendam bersama anak, menantu dan juga ke dua cucunya. Sekaligus berterima kasih pada anak-anaknya yang bersedia kembali ke rumah dan meneruskan usaha keluarga, "Di terakhir kehidupanku. Aku bisa merasa lebih bahagia. Aku berhutang besar pada kalian". 

"Kenapa ayah bicara seperti itu", kata Hyo Dong

Ki Moon berkata pabrik berjalan lancar, mereka bahkan mendapatkan royalti dari perusahaan besar. Sekarang giliran kakek melakukan apa yang kakek inginkan. Sesuatu yang bisa membuat kakek merasa bahagia. Ki Choon memuji kakek yang terlihat lebih muda saat beredam di dalam bak. 

"Tidak bisa di percaya. Ayah terlihat muda 20 tahun. Tidak menua sedikit pun".

"Omong kosong", kata kakek. 

"Omong kosong?. Yang kukatakan ini benar!"

"Ya, benar", sahut yang lainya serempak. 

Kakek lalu membahas masalah Chae Won. Ia minta pada Hyo Dong jangan merasa kecewa atas masalah yang tengah di hadapi. Sebaliknya, Hyo Dong harus menyelesaikan masalah tersebut dengan sebagaimana mestinya. Hyo Dong mengerti, memang hal itulah yang harus ia lakukan. 

Kakek lalu memberi nasehat pada Ki Moon, "Jangan terlalu serakah pada uang. Sejak dahulu mie di ciptakan untuk memenuhi perut yang lapar. Ini adalah makanan yang patut di syukuri". Kau harus membuat mie dengan tangan dan hati yang hangat tanpa keserakahan. 

"Ya, aku akan terus mengingatnya, ayah". 

Selanjutnya Ki Choon, "Putraku Ki Choon. Jangan memperlakukan saudara iparmu dengan buruk. Habiskan waktu bersama-sama".

"Ayah!", protes Ki Choon

Kakek berkata jika ia sendiri bisa menerima Kang Jin, maka Ki Choon tidak boleh membantah kata-katanya. Ki Choon mendelik kesal pada Kang Jin yang tersenyum simpul. Pada Kang Jin, kakek minta menantunya itu untuk menepati janjinya hidup lebih lama 50 tahun lagi mendampingi Ki Ok. Dengan yakin, Kang Jin merasa akan mampu menepati janjinya. 

Kakek lalu bertanya pada kedua cucunya, "Siapa yang akan menggosok punggung kakek". 

"Aku", jawab Seul Hong dan Bo Reum bersamaan. 

Kakek tersenyum senang dan menghampiri ke dua cucunya. Hyo Dong berguman heran, "Hari ini, ada yang aneh dengan ayah". 

Choon Hee melihat kalender, tanggal 9 seharusnya menjadi hari bahagia bagi keluarga Lee dan juga keluarga Uhm. Karena pada tanggal itulah, Chae Won dan Se Yoon akan menikah. 

Choon Hee menangis menyalahkan diri sendiri, jika bukan karena dirinya. Pernikahan itu akan dilangsungkan besok seperti yang direncanakan. 

Nenek, Do Hee dan Kang Sook menyiapkan sarapan. Kang Sook berkata sepertinya Ki Ok mengalami mual-mual di usia kandungnya yang masih muda. Apa nenek tidak ingin mengunjungi Ki Ok. Nenek tidak mau, Ki Ok sendiri tidak peduli pada ayan dan ibunya sama sekali. Biarkan saja. 

Chae Won datang ke dapur, menyapa nenek dan kedua bibinya. Nenek bertanya apa semalam Chae Won tidak tidur semalam, "Wajahmu terlihat kuyu dari hari ke hari". Chae Won beralasan banyak pekerjaan yang harus ia urus di pabrik. Lalu bertanya di mana kakek. Nenek menjawab kakek bersama seluruh pria Uhm pergi ke pemandian umum, dan akan kembali setelah makan sup pollack. Pagi ini, hanya para wanita saja yang makan. 

"Aku tidak selera makan. Aku akan ke pabrik", pamit Chae Won pergi meninggalkan dapur. 

"Jika kau ingin makan sesuatu, katakan saja. Chae Won, sayang", panggil nenek mengkhawatirkan cucunya. 

"Biarkan saja dia, ibu", tahan Do Hee. "Jika kita tidak punya masalah, besok akan menjadi hari pernikahannya. Dia pasti kecewa. Bahkan jika dia makan, apa makanannya bisa diterima perutnya dengan baik?". 

Nenek sangat sedih melihat cucunya menderita. Do Hee berkata karena memiliki orang tua yang salah, anak-anak yang menjadi korban dan harus menderita selama sisa hidup mereka. Perkataan Do Hee barusan di dengar oleh Choon Hee yang hendak masuk dapur. 

Perasaan bersalah Choon Hee semakin besar telah menyebabkan anak-anaknya menderita. Walaupun, semua itu murni bukanlah kesalahan Choon Hee. 

Sol Joo masuk ke kamar Se Yoon dan mendapati kamarnya yang kosong. Ia berpikir mungking Se Yoon berangkat kerja. Kemudian pandangannya tertuju pada undangan pernikahan yang tergeletak di atas meja. Tubuh Sol Joo menegang ketika membaca undangan tersebut. Pernikahan yang mungkin tidak akan terwujud. 

Keadaan perusahaan Young Ja semakin genting. Hari ini merupakan jatuh tempo untuk membayar tagihan ke Bank sebesar 50 milyar Won. Asisten berkata kalau mereka tidak bisa membayar hutanga hari ini, maka ini adalah awal kebangkurtan. Chul Goo sudah berusaha bicara secara pribadi dengan Presdir Bank. Sebisa mungkin ia membujuk untuk menangguhkan pembayaran. Tapi usahanya sia-sia saja. 

Untuk mencegah kebangkrutan, Chul Goo menyarankan pada ibunya menjual saham dari sekarang. 

"Berhenti bicara omong kosong. Bagaimana bisa kita menjual saham dan menutupi hutang disaat saham kita cuma menjadi seharga tisu", semprot Young Ja.

"Bagaimana dengan uang tunai".

"Cukup!. Asisten Kim, kau pergilah", kata Young Ja meminta asisten-nya keluar ruangan. 

Young Ja mengambil tisu, menghapus air matanya yang mulai mengenang. Chul Goo ingat, bukankah kita punya banyak uang dan emas batangan di dalam brankas rumah. Kenapa tidak membawa itu saja dan..... 

Ucapan Chul Goo terhenti karena Young Ja menutup mulutnya dengan tisu. Hahaha...

"Tutup...tutup mulutmu. Meskipun kita berusaha untuk membayar hutang, tapi kita juga harus mencari jalan untuk bertahan hidup". 

Chul Goo menganggap cara mereka bertahan adalah dengan tidak membayar hutang. Young Ja mengomeli Chul Goo yang masih juga tak mengerti. Jika itu terjadi, maka ia dan Chul Goo yang pertama kali di tendang dari perusahaan. Chul Goo berkata dengan lantang tidak akan menyerah untuk mencari jalan keluar. Usai mengatakan itu, Chul Goo keluar dari ruangan Young Ja. 

Giliran Joo Ri yang masuk. Young Ja bertanya dimana pengacara Hong. Joo Ri menjawab ia baru saja bertemu dengan pengacara Hong, "Pertama-tama, Pengacara Hong akan menjual seluruh harta yang diatasnamakan kita dan mengubahnya menjadi uang tunai". 

"Bagus. Tabungan, kau menyuruhnya untuk menarik semuanya, iya kan?". 

"Tentu saja", jawab Joo Ri

Bong Soo datang ke rumah mie, berdiri celingukan di halaman mencari Kang Sook. Tapi bukan Kang Sook yang pertama kali melihatnya, melainkan Do Hee. Bong Soo memberi salam dan masih ingat dengan Do Hee yang merupakan kakak (onnie) Kang Sook. 

Do Hee pergi ke pabrik untuk memanggil Kang Sook. Betapa terkejutya Kang Sook saat Do Hee memberitahu Bong Soo datang. Ia minta pada Do Hee untuk tidak mengatakan apa-apa pada Ki Choon. Do Hee menatap curiga. Kang Sook menjelaskan, Bong Soo hanyalah seorang kakak yang ia kenal pada waktu sekolah.

"Itu saja?", tanya Do Hee tidak percaya. 

Kang Sook berkata tak ingin Ki Choon salah paham. Dengan mulut Do Hee, bisa saja menyebabkan masalah yang besar, seperti yang terjadi pada Chae Won. Kang Sook keluar menemui Bong Soo. 

Ki Choon yang melihat Kang Sook pergi, bertanya pada Do Hee mau kemana orang itu. Do Hee menjawab Kang Sook mempunyai seorang tamu. Ki Choon heran, "Tamu?. Siapa?". 

Kedatangan Bong Soo tak lain ingin mengajak Kang Sook makan siang, sekaligus ingin mengembalikan kotak bekal kimchi. Bong Soo memuji Kang Sook tak hanya cantik, tapi tangannya juga terampil. Buatan kimchi Kang Sook benar-benar enak hingga membuatnya tersentuh. 

Kang Sook tersipu malu, "Oppa, untuk sesuatu yang seperti ini bukanlah masalah". 

"Ibu Bo Reum... Kang Sook", tiba-tiba terdengar suara nyaring Ki Choon yang mencari Kang Sook. 

Kang Sook melotot panik, menarik Bong Soo bersembunyi di balik tanaman. Ki Choon terus berteriak memanggil Kang Sook dengan panggilan ibu Bo Reum. Rupanya, Bong Soo belum tahu kalau Kang Sook memiliki seorang anak. Bong Soo lalu menunjuk Ki Choon, "Lalu siapa pria itu?". 

"Dia kakakku", jawab Kang Sook berbohong.

"Lalu kenapa kau bersembunyi?", tanya Bong Soo

Kang Sook kembali berbohong dengan bilang keluarganya agak ketat jika mereka tahu seorang pria berkunjung. Masalahnya akan menjadi rumit. Bong Sook mengangguk-angguk, percaya dengan penjelasan Kang Sook. Tanpa tahu bahwa Kang Sook saat ini tinggal di rumah mertua meski telah berpisah dari suaminya. 

Kang Jin membeli strawberry agar Ki Ok memakannya. Tapi baru mencium baunya saja sudah membuat Ki Ok merasa mual. Ki Ok ingin makan sesuatu yang pedas, seperti Sup Soon Dae. 

Kang Sook dan Bong Soo makan siang di sebuah rumah makan dan menu mereka siang ini adalah Sup Soon Dae. Kang Sook mengagumi Bong Soo yang makan sup dengan lahap, lagi-lagi ia terpesona dengan selera Bong Soo yang tidak memilih-milih makanan.

"Dia seorang pria sejati", batin Kang Sook.

"Ibu Bo Reum", seru Kang Jin tiba-tiba membuat Kang Sook melonjak kaget.

Kang Sook menjadi salah tingkah, dengan terbata ia bertanya bagaimana Ki Ok dan Kang Jin kebetulan berada di sini?. Kang Jin berkata tiba-tiba Ki Ok ingin makan sup Soon Dae. Ia lalu bertanya apa yang dilakukan Bong Soo di sekitar lingkungan sini. Bong Soo bicara jujur dengan bilang mampir untuk mengajak Kang Sook makan siang. 

Ki Ok penasaran apa yang membuat Bong Soo belum menikah hingga sekarang. Bong Soo menjawab mulai memikirkan pernikahan setelah bertemu kembali dengan cinta pertamanya. Pandangannya tertuju pada Kang Sook. 

Young Ja menelpon pengacara Hong, saat ini hanya pengacara Hong seorang yang bisa ia percayai. Karena itu ia berharap pengacara Hong bisa segera menyelesaikan masalah dengan baik, "Kelangsungan hidup keluargaku, tergantung padamu pengacara Hong".

Usai menelpon, Young Ja menghela napas berat melihat jam di dinding. Chul Goo datang membawa berita baik. Berkat kerja kerasnya ia berhasil membujuk pihak bank untuk menangguhkan pembayaran. Tidak akan ada kebangkrutan awal sampai dengan pukul 10 esok pagi. 

Young Ja menghela napas lega. Chul Goo berkata kalau saja dirinya melibatkan dirinya dalam produksi mie, maka permasalah seperti ini tidak akan pernah terjadi. Young Ja tak berkomentar, karena perkataan Chul Goo memang ada benarnya. Perusahaan berjalan baik-baik saja, saat Chul Goo yang memimpin jalannya perusahaan. 

Se Yoon memandangi langit senja. Bebannya kini semakin berat karena presdir Lee menugaskan Se Yoon di kantor cabang Amerika. Dan percakapan tadi siang, kembali terbayang di benaknya. 

Flashback. Presdir Lee mendesak Se Yoon untuk mengabdikan dirinya pada perusahaan, "Jika kau ingin melupakanya (Chae Won) dengan cepat, kupikir kau harus pergi ke Amerika". 

"Aku tidak pernah mengatakan pada ayah, kalau aku akan melupakan Chae Won. Seperti yang direncanakan kami akan menikah besok". 

"Jika kau bersikeras melakukan itu, perusahaan ini...Ayah tidak bisa menyerahkannya di tanganmu"

Flashback end. 

Se Yoon meletakan surat pengunduran dirinya di atas meja. Keputusannya sudah bulat, hal yang terpenting menurutnya saat ini adalah bisa menikah dengan Chae Won. Bukan perusahaan ataupun yang lainya. 

Sesampainya di rumah, Se Yoon mengemasi pakaiannya. Sol Joo masuk membawa irisan buah dan terkejut melihat tas besar yang Se Yoon siapkan, "Kau....Apa yang kau lakukan sekarang?". 

"Aku mengajukan pengunduran diri.....dan aku...akan meninggalkan rumah"

"Se Yoon-ah"

"Seperti yang direncakana, aku akan menikahi Chae Won besok".  

"Apa kau...harus melakukan sejauh ini?". 

Se Yoon berkata tidak mempunyai pilihan lain dan tidak ada yang bisa mengubah keputusannya. Sol Joo tidak menghalangi, justru sebaliknya ia mempersilahkan Se Yoon pergi. Jika itu memang keputusan yang akan membuat Se Yoon bahagia, maka Sol Joo tidak akan menahan lagi, "Katakan pada Chae Won, kalau ibu memberi selamat atas pernikahan kalian". 

"Maafkan aku", ucap Se Yoon dengan mata berkaca-kaca. Lalu mengambil tasnya dan pergi meninggalkan Sol Joo yang terpaku syok melepas kepergian Se Yoon.

Se Yoon pergi ke rumah mie untuk menjemput Chae Won. Di halaman, Se Yoon bertemu dengan kakek yang sedang bekeliling memeriksa mie. Kakek kaget melihat Se Yoon, "Apa yang kau lakukan di tengah malam begini?". 

"Aku datang untuk menculik Chae Won sekarang. Kumohon ijinkan aku". 

"Kau akan menculiknya?". 

Bagaimanapun Se Yoon tak bisa melepaskan Chae Won karena masa lalu orang tua mereka, "Kami akan pergi ke pedesaan. Kami akan kembali setelah menikah. Hanya kami berdua, kumohon berikan kami ijin. Berikan kami ijin, kakek". 

Kakek terdiam sejenak lalu berkata, :Bawa dia. Aku memberikanmu ijin. Kau boleh menculik Chae Won". 

Se Yoon membungkuk dalam mengucapkan terima kasih yang dibalas dengan senyuman kakek. 

Se Yoon mendatangi Chae Won yang sibuk bekerja di pabrik. Chae Won heran melihat Se Yoon datang malam-malam, "Kenapa kau kemari?". 

"Aku datang untuk menculikmu. Dan juga, aku baru mendapat ijin dari kakek. Kau harus pergi ke suatu tempat denganku". 

"Apa yang kau bicarakan?. Kemana kita akan pergi?". 

"Apa kau pernah mendengar penculik mengatakan tujuannya?. Jangan bertanya apa-apa. Ikuti saja aku", Se Yoon menarik Chae Won keluar pabrik. 



Di sepanjang perjalanan, Chae Won terus bertanya kemana Se Yoon akan membawanya pergi. Kau akan mengetahuinya setelah sampai nanti, jawab Se Yoon.

"Apa kita akan berpergian jauh?".

"Ya. Kita akan berpergian sangat jauh".

Chae Won terus mendesak di mana tempatnya. Se Yoon mengatakan tempat dimana mereka akan bisa menjadi satu. Chae Won takut, "Apa yang sedang kau pikirkan saat ini?...Mungkinkah...."

Se Yoon membenarkan apa yang dipikirkan Chae Won. Chae Won tidak setuju, "Ini salah. Kau seharusnya tidak melakukan ini. Pikirkan soal anggota keluarga kita yang mungkin bisa terluka karena kita". Mulai sekarang Se Yoon tidak akan memikirkan yang lainnya, "Aku hanya akan memikirkan tentang kita berdua".

Setelah menempuh waktu yang cukup lama, akhirnya mereka tiba di tempat yang dimaksud. Se Yoon membuka pintu mobil untuk Chae Won. Seraya melihat sekeliling Chae Won bertanya tempat apa ini. 

"Ini adalah tempat dimana kita akan menikah", jawab Se Yoon wajah serius

Chae Won terkejut tak percaya, "Se Yoon-shi!!!



END