Friday, December 19, 2014

Sinopsis Reset Episode 8 Part 1

Note : Pic menyusul
Episode 8 

Pengadilan Untuk Iblis

= Dalam drama ini, situasi penjara yang sebenarnya dilebih-lebihkan untuk kepentingan drama =

Woo Jin mundur ketakutan saat melihat Jo Bong Hak berjalan mendekatinya. Ia benar-benar tak percaya bagaimana bisa orang yang ia pikir telah ia bunuh berada di depannya. Jelas-jelas ia telah menembak Bong Hak 7 tahun lalu. Jo Bong Hak yang maju perlahan mendekati Woo Jin dan menyebut Woo Jin sebagai pembunuh.

Dari arah belakang, dokter klinik menjerat leher Woo Jin dengan tali gantungan, tali yang biasa di gunakan untuk eksekusi pidana mati. Bong Hak menaikan tombol yang membuat papan tempat Woo Jin berpijak jatuh ke bawah. Woo Jin terjatuh kebawah dan dengan tali menjerat lehernya.

Bong Hak hanya menatap dingin melihat kaki Woo Jin yang berusaha mencari tempat pijakan. Sementara kedua tangannya memegangi tali itu agar tidak benar-benar mencekik lehernya. Woo Jin ingat kejadian 7 tahun lalu dan berkata kalau saat itu ia benar-benar melihat sendiri Bong Hak yang terjatuh di tanah setelah tertembak 2 kali.

"Salah", ujar Bong Hak yang membawa kita flashback ke 7 tahun lalu.

7 tahun lalu, Woo Jin memang menembak Bong Hak 2 kali. Alasan Woo Jin menembak Bong Hak karena ia mengira Bong Hak yang bertanggung jawab atas kematian Seung Hee. Woo Jin menjatuhkan pistolnya setelah menembak Bong Hak. Dan saat itu Bong Hak masih bisa bergerak seakan ingin mengatakan sesuatu pada Woo Jin.

Tiba-tiba kembali terdengar suara letusan pistol. Peluru kembali bersarang di tubuh Bong Hak untuk yang ke - 3 kalinya. Woo Jin terkejut dengan suara tembakan itu menoleh ke arah belakang. Orang yang terakhir kali menembak Bong Hak adalah anak buah presdir Kim. Flashback end. 

Woo Jin berkata bukan ia yang menembak Bong Hak untuk ke-3 kalinya. Bong Hak bertanya, "Kau ingat sekarang?. Siapa dia?. Orang yang mengambil kasetnya?". Woo Jin tak mengerti kaset apa. Bong Hak menoleh pada dokter yang kini berdiri di dekat tombol tali. Ia menekan tombol naik yang membuat Woo Jin semakin tercekik.

Ingatan Woo Jin kembali melayang ke peristiwa 7 tahun lalu. Di rimbunya semak-semak, anak buah presdir Kim memberikan amplop pada Woo Jin dan memberi kode pada Woo Jin untuk segera "menghabisi" Bong Hak. 

Dokter menekan tombol turun dan jeratan di leher Woo Jin sedikit longgar. Sebelum mengatakan apa yang ia ingat, Woo Jin bertanya pada Bong Hak, "Apa kau yang menyakiti Seung Hee?". 

"Orang itu bilang aku memperkosa Seung Hee, kan?. Kau begitu percaya padanya karena kau di butakan dendam. Tapi itu salah. Kau pembunuh. Siapa yang mengambil kaset itu?. Siapa?". 

Woo Jin menjawab tidak tahu, benar-benar tidak tahu. Bong Hak menatap dokter dan dokter langsung tanggap menekan tombol yang membuat tali kembali menjerat leher Woo Jin. Diantara rasa sakitnya, Woo Jin mencoba mengingat.

7 tahun lalu Woo Jin pernah menangani kasus presdir Kim. Posisi presdir Kim saat itu sebagai tersangka. Presdir Kim memberikan foto Bong Hak dan mengatakan kalau Bong Hak yang bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada Seung Hee. 

Presdir Kim berkata akan memberitahu dimana Bong Hak berada dengan imbalan Woo Jin harus membebaskan dirinya dari dakwaan. Woo Jin yang sudah di butakan dendam tak peduli lagi dengan syarat yang di ajukan dan bersedia membantu presdir Kim dengan melenyapkan bukti-bukti suap yang di lakukan presdir Kim. 

Bong Hak bertanya lagi siapa yang mengambil kaset itu. Woo Jin tetap menjawab tidak tahu. Bong Hak mendesak agar Woo Jin mengingatnya, "Banyak orang tak berdosa terbunuh karenamu!. Coba ingat-ingat. Siapa yang mengambil kasetnya!", ujar Bong Hak memukul wajah Woo Jin.

Dokter ikut kesal dan menekan tombol narik. Tali yang melingkar di leher Woo Jin kembali menjerat lehernya. Tali itu mengencang dan tiba-tiba putus. Tubuh Woo Jin jatuh terhempas kelantai. 
Satu persatu Woo Jin mengingat kejadian yang terjadi 7 tahun lalu. Ia juga ingat siapa yang mengambil kaset yang di tanyakan Bong Hak. Orang yang mengambil kaset itu tak lain ayah Seung Hee.  

Kilasan peristiwa 7 tahun berkelebat dalam kepala Woo Jin yang membuatnya ingat siapa yang mengambil kaset itu 7 tahun lalu. Orang yang menyimpan kaset itu tal lain adalah ayah Seung Hee sendiri. Woo Jin langsung pingsan usai mengatakan apa yang ia ingat. 

Sementara itu presdir Kim yang masih berada di luar penjara memahami satu hal. Ia merasa yakin yang telah merenggut nyawa purtanya adalah Jo Bong Hak. 

Bong Hak dan dokter ternyata mengenal siapa ayah Seung Hee. Dulu ayah Seung Hee adalah ketua tim mereka. Ia yakin pasti ayah Seung Hee telah di hasut oleh presdir Kim. Bong Hak meminta bantuan dokter klinik untuk mencati kaset video itu. Dokter klinik mengiyakan. Bong Hak berterima kasih dan sadar selama ini telah banyak membebani dokter klinik.
Kilas balik 7 tahun lalu. Dokter klinik mememukan Bong Hak terbaring di tanah dengan luka tembak di dada. Setelah memastikan Bong Hak masih hidup, ia segera membawa Bong Hak pergi dari sana. Itulah kenapa Bong Hak yang di kira Woo Jin sudah mati ternyata masih hidup sampai detik ini. 

Presdir Kim yang kini berada di rumah menelpon seseorang. Ia meminta orang tersebut untuk segera datang ke Seoul besok pagi-pagi sekali dengan penerbangan pertama.

Eun Bi datang ke Cafe Pohon Almond, tempat kerja Yoon Hee dengan penampilan berbeda. Ia mengubah penampilannya dengan dandanan anak punk. Dari luar jendela, Eun Bi melihat Yoon Hee yang sedang tertawa riang dengan seorang pria. Eun Bi yang hanya melihat punggung pria itu mengiranya Woo Jin.

Bergegas Eun Bi masuk kedalam sembari mengacungkan pisau lipatnya, "Cha Woo Jin, Kau pembunuh!". Tapi Eun Bi salah orang karena pria yang ada di hadapannya bukan Woo Jin. Gertakan Eun Bi tentu saja membuat pria itu kaget. 

"Apa yang kau lakukan?", tanya Yoon Hee merasa terganggu. 
Kini Yoon Hee dan Eun Bi bicara berdua. Yoon Hee tak percaya dan menganggap Eun Bi gila saat Eun Bi mengatakan Woo Jin seorang pembunuh. Dengan jutek Eun Bi bertanya dimana Woo Jin, ia yakin pasti Yoon Hee tahu keberadaan Woo Jin saat ini. 
Yoon Hee kesal karena Eun Bi mengatainya sebagai pembohong dan bersekutu dengan Woo Jin. Dengan nada tidak suka Yoon Hee menegaskan kalau ia juga tidak tahu di mana Woo Jin berada saat ini. Woo Jin tidak pernah lagi datang kemari dan tidak pernah menghubunginya. 
Yoon Hee kemudian berdiri dan menyuruh Eun Bi pulang. Eun Bi tetap tidak percaya pada ucapan Yoon Hee, "Menyembunyikan pembunuh juga termaksud kejahatan, kau tahu?", ucapnya lalu pergi. 
Kata-kata itu cukup berpengaruh pada Yoon Hee. Ia ingat janji Woo Jin yang akan menangkap pelaku yang menyebabkan Seung Hee meninggal. Yoon Hee tampak cemas dan mencoba mengbhubungi Woo Jin tapi tidak aktif. 
Dokter klinik membawa Woo Jin yang pingsan kembali ke kilinik. Malam itu juga, ia berusaha untuk mencari tahu keberadaan video kaset yang di inginkan Bong Hak. 
Kabag Han memberitahu penyidik Go tentang Eun Bi yang menghilang dari rumah. Penyidik Go nyaris tak percaya saat kabag Han bilang Eun Bi kabur dari rumah dengan membawa sejumlah uang kabag Han dan juga kartu identitas miliknya. 
Buru-buru penyidik Go mengecek jas miliknya yang semalam di pinjam kabag Han. Penyidik Go lemas saat tahu surat informasi Jo Bong Hak yang semula terselip di saku jasnya menghilang. Kabag Han yang merasa heran bertanya apa ada yang hilang. Penyidik Go menjawab surat informasi tentang Jo Bong Hak mengilang dan yakin Eun Bi telah membaca surat tentang ayahnya itu. 
Eun Bi masuk ke dalam warnet dan mencari informasi mengenai ayahnya. Tiba-tiba Eun Bi di kejutkan dengan suara pemilik warnet yang menghalangi 2 orang petugas yang ingin masuk. Kedatangan petugas itu untuk mengecek apakah masih ada pelajar yang masih berada di warnet diatas jam 10 malam. 
Petugas itu tak mengindahkan kekesalan pemilik warnet, mereka tetap masuk dan memeriksa pengungjung warnet satu demi satu sembari meminta mereka untuk menunjukan tanda pengenal. 
Saat petugas mendekatinya, Eun Bi menunjukan tanda pengenal milik kabag Han sembari memalingkan wajahnya. 

Setelah petugas pergi, Eun Bi kembali berselancar di dunia maya. Mesin pencari menampilkan beberapa hasil penelusuran. Tampak salah satu diantara wajah ayah Eun Bi. Namun sayang artikel yang baca malah mengenai berita buruk. Tentang Jo Bong Hak pengikut aliran sesat yang telah melakukan pembunuhan masal. 

Ketika keluar dari warnet Eun Bi seperti mendapatkan cibiran dari orang-orang yang di sekelilingnya. Orang-orang itu menudingnya dan mengatai ia sebagai anak pembunuh. Eun Bi yang tidak tahan dengan tudingan itu menutup telinga dan matanya. Dan saat ia membuka matanya, ternyata itu hanya halusinasinya saja. 
Yoon Hee duduk di depan foto ibu, ayah dan juga Seung Hee. Ia merasa khawatir pada Woo Jin. Mampukah Woo Jin membalaskan dendam pada orang yang telah mencelakai Seun Hee. Yoon Hee memandangi foto keluarganya satu persatu. Ia merasa sedih karena di tinggal sendiri di dunia ini tapi ada lagi keluarga di sisinya. 
Untuk mengobati rasa rindunya pada keluarganya, Yoon Hee memutar video ketika merayakan ulang tahunya dengan kedua orang tuanya. 
Eun Bi berjalan tanpa tujuan, ia berhenti di sebuah cafe dan melihat 4 gadis muda yang sedang merayakan ulang tahun teman mereka. Eun Bi menatap mereka dengan sedih dan kembali berjalan tanpa arah.
Pada akhirnya Eun Bi kembali ke warnet dan bermalam di sana. Tapi tentu saja tidur dalam keadaan duduk tidaklah senyaman tidur di atas ranjang. Malam itu kabag Han datang menjemputnya. Mereka berdua menikmati makan malam yang lezat bersama kabag Han dan melalukan perawatan wajah. Woo Jin dan penyidik Go juga ikut melakukan perawatan wajah bersama-sama.
Tapi itu hanya mimpi indah, karena saat ia terbangun Eun Bi mendapati dirinya masih berada di di warnet dengan keadaan perut lapar. Tanpa sadar Eun Bi menangis. Kemarahan hatinya membuat ia pergi dari rumah yang memberikan perlindungan dan kenyamanan padanya. 
Pagi hari. Sipir penjara Ho Dong Hong pergi ke klinik mengecek keadaan Woo Jin dan juga Dong Cheol yang masih tertidur. Ia takut akan terjadi masalah jika kedua napi itu di biarkan terus-terus'an tidur di ruangan ini.
Dokter menyakinkan tidak akan terjadi masalah, tangan mereka tidak bisa bergerak karena sudah di borgol. Dokter menyerahkan berkas yang telah ia tandatangani pada Dong Hoon. Saat itulah tanpa sengaja ia menjatuhkan klip kertas di dekat tangan Dong Cheol.
Ternyata Dong Cheol pura-pura tidur, ia langsung bangun ketika dokter dan Dong Hoon keluar ruangan. Dong Cheol mengambil klip kertas itu dan dengan menggunakan bantuan mulutnya, ia berusaha membuka borgol yang mengikat tangannya dengan besi ranjang. 

Dokter kilinik menemui Yoon Hee ketika Yoon Hee hendak berangkat kerja. Dokter mengenalkan diri sebagai orang suruhan Woo Jin. Ia menyinggung kaset video yang dulu di simpan ayah Yoon Hee dan mengaku Woo Jin yang menyuruhnya untuk mengambil kaset itu. Ia beralasan akan sangat berbahaya jika Yoon Hee terus menyimpan benda itu. 

Yoon Hee tampak ragu bertanya di mana Woo Jin sekarang ini. Dokter menjawab saat ini Woo Jin berada di persidangan sehingga tidak bisa datang langsung. Yoon Hee itdak mau percaya dan menitipkan pesan agar Woo Jin datang sendiri untuk mengambil barang itu. Lalu pergi meninggalkan dokter.

Dong Cheol yang berhasil melepas borgol di tangannya, mencari sesuatu yang akan ia gunakan untuk menyerang Woo Jin. Ia meraih sebuah botol lalu memecahkannya. Pecahan itulah yang ia gunakan untuk mencelakai Woo Jin. 

Kedatangan dokter membuat pikiran Yoon Hee tidak tenang. Ia kembali pulang kerumah tidak jadi berangkat kerja. Yoon Hee mengira dokter sudah pergi dan tanpa ragu masuk ke dalam rumah. Padahal dokter yang saat ini sedang bersembunyi sedang mengawasinya dari jauh. 
 
Yoon Hee membongkar kardus video kaset dan menemukan satu kaset video yang di beri judul "Kamera tersembunyi Yoon Hee". Di dalam video itu, Yoon Hee merekam ayahnya yang sedang menangis. Yoon Hee mempunyai hobi merekam aktifitas keluarganya. Dan di lain hari, Yoon Hee merekam ayahnya yang secara diam-diam menyimpan sesuatu di lemari jam antik. 
 
Setelah mendapatkan petunjuk, Yoon Hee bergegas membuka lemari antik dan menemukan sebuah kaset yang dulu di sembunyikan ayahnya. 
 
Woo Jin terbangun saat merasakan air yang menetes di matanya. Saat ia membuka mata, sudah ada Dong Cheol berdiri di atas tubuhnya dengan senyum menyeringai. Woo Jin mencoba untuk bangun, tapi borgor yang mengikat tangannya membuatnya tidak bisa bergerak.

"Waktunya pergi ke neraka jaksa Cha Woo Jin", ucap Dong Cheol 

"Kau mau membunuhku. Kau bisa di penjara seumur hidup", ujar Woo Jin takut.

Dong Cheol tak perduli lalu menghantamkan pecahan botol ke arah Woo Jin. Woo Jin berhasil menghindar sehingga benda tajam itu tidak berhasil melukai dirinya. Dong Cheol terus menyerang, Woo Jin menendang pria itu hingga jatuh terjengkang. 

Dong Cheol berdiri dan kembali ingin menyerang, Woo Jin menghantamkan kepalanya ke pria itu.  Saat Dong Cheol merasakan kesakitan dan terjatuh di dekatnya, kesempatan itu ia gunakan untuk menjepit kepala Dong Cheol dengan menggunakan kakinya. 

Dong Cheol membalasanya dengan menusuk kaki Woo Jin. Sangat dalam yang tentunya membuat Woo Jin kesakitan setengah mati. Woo Jin berteriak merasakan sakti di kakinya. Tak puas sampai di situ Dong Cheol berniat menusuk perut Woo Jin. Tepat pada saat itu sipir muda berwajah jutek yang mendengar teriakan Woo Jin masuk ke dalam dan memergoki Dong Cheol. Spontan ia memukul Dong Cheol, "Apa yang kau lakukan?", bentaknya galak. 
 
Penyidik Go datang ke kantor dengan membawa kardus besar. Ia bertanya pada Kabag Han apa ada kabar dari Eun Bi. Kabag Han mengeleng, ponsel gadis itu tidak aktif sehingga ia tidak bisa melacak posisinya. Kabag Han lalu bertanya kardus apa yang dibawa penyidik Go. 
 
Penyidik Go menjawab kardus ini berisi informasi yang di kumpulkan Woo Jin. Mereka lalu membongkar bersama dan menempelkan foto berserta informasi itu di papan kaca. Dari informasi itu kabag Han menarik kesimpulan Kim Man Cheol, Han Mi Seon, Yoo Chang Seon, detektif Park, dan psikiater Young Jae semuanya adalah korban dari rumah kebahagian, "Kalau begitu X bukan hanya satu orang".
 
Penyidik Go tidak bisa memastikan tapi mereka bisa mengetahuinya dengan korban-korban lain yang dulunya juga berasal dari rumah kebahagiaan. Penyidik Go yakin pasti Woo Jin saat ini juga tengah mencari tahu siapa X sebenarnya. 
 
"Bagaimana dengan ayah Eun Bi?. Bagaimana kaitan ayah Eun Bi dengan semua kejadian ini?", tanya kabag Han bertepatan saat Eun Bi masuk keruangan mereka tanpa suara. 
 
"Ayah Eun Bi, Jo Bong Hak adalah direktur dari rumah kebahagian", jawab penyidik Go. 
 
"Jadi, dia membunuh ayahku, kan?", tanya Eun Bi membuat kabag Han dan penyidik Go kaget.
 
"Eun Bi-ah", seru kabag Han berjalan mendekat
 
"Jangan mendekat!!", larang Eun Bi, "Jadi karena ayahku X, atau apalah itu, Woo Jin membunuhnya?".
 
Penyidik Go berusaha menjelaskan, ia tidak tahu dari mana Eun Bi mendengar hal itu tapi yang pasti Woo Jin tidak membunuh ayah Eun Bi. Eun Bi menganggap mereka pembohong dengan menyembunyikan kenyataan kalau Woo Jin telah membunuh ayahnya dan bersikap baik padanya selama ini. 

Penyidik Go dan kabag Han minta pada Eun Bi untuk percaya pada mereka. Eun Bi malah menuntut penjelasan kenapa kabag Han dan penyidik Go malah menyembuyikan kematian ayahnya. Kabag Han takut Eun Bi terluka jika mengetahui kematian ayahnya, karena itu mereka merahasiakannya. Tapi Eun Bi tetap tidak percaya dan tidak bisa mempercayai siapapun saat ini.

"Terutama perkataan kalian berdua saat ini. Aku tidak percaya", ucap Eun Bi lalu pergi dengan penuh kemarahan. 

Kabag Han dan penyidik Go mengejar sembari memanggil nama Eun Bi. Eun Bi yang mendengar suara mereka bukannya berhenti malah berlari. Karena terburu-buru ia tersandung batu dan terjatuh sementara kedua orang itu semakin mendekat. Eun Bi memilih bersembunyi sambil menahan perih di lututnya. Ia bisa melihat kabag Han dan penyidik Go yang berada tak jauh darinya.
 
Kabag Han dan penyidik Go berhenti berlari karena mengira Eun Bi telah pergi jauh. Penyidik Go yakin Eun Bi tidak akan kembali ke rumah sebelum kesalahpahaman ini teratasi. Kabag Han bertanya bagaimana caranya. Penyidik Go berkata diantara orang-orang yang berasal dari rumah kebahagiaan, ada satu yang tersisa.
 
Orang itu saat ini sedang berada di rutan Seobu. Namanya Kang Yoon Seong, terpidana hukuman mati. Penyidik yakin jika mereka berhasil bertemu dengan Kang Yoon Seong. Maka masalah ini akan cepat teratasi. Tentu saja percakapan kabag Han dan penyidik Go ini bisa di dengar jelas oleh Eun Bi.
 
 
Sinopsis Reset Episode 8 Part2












Friday, December 05, 2014

Sinopsis Reset Episode 7 Part 2

Keesokan harinya Woo Jin dan Myeong Soo bertingkah seolah tidak terjadi apapun. Bahkan Myeong Soo berpura-pura membangunkan Dong Cheol  yang saat itu masih terbaring. Mata Dong Cheol bergerak-gerak ke kanan dan kekiri saat Myeong Soo membuka selimut yang menutupi wajah pria itu. Chang Gyu menyuruh Dong Cheol untuk bangun tapi tubuh Dong Cheol tidak bisa bergerak. Tubuhnya kaku seperti papan. 

Tak lama kemudian petugas penjara memindahkan Dong Cheol ke klinik. Chang Gyu yang paling heran dan tidak habis pikir, Dong Cheol masih muda tapi kenapa badannya tiba-tiba bisa kaku seperti itu. Hanya matanya yang berkedip-kedip. Myeong Soo berkata meskipun jarang terjadi, tapi hal itu bisa saja terjadi pada seseorang yang berusia 20-30 tahun. 

Chang Gyu percaya saja pada apa yang di jelaskan Myeong Soo. Setelah menjelaskan hal itu, Myeong Soo menoleh pada Woo Jin seraya mengedipkan mata. Jae Yeong yang mengetahui apa yang terjadi semalam menatap Woo Jin dengan penuh kebencian. 

Hari ini para narapidana mendapatkan kesempatan menelpon anggota keluarga mereka. Seluruh tahanan di giring menuju ke tempat telepon umum berada.  Lee Tae Woon yang merasa penasaran pada Woo Jin berusaha mendekati dan dimarahi oleh sipir penjara karena Tae Woon menyerobot barisan.

Woo Jin tahu kalau Tae Woon berusaha mendekatinya, saat sipir sedang memerahi Tae Woon, kesempatan ini di gunakan Woo Jin untuk keluar dari barisan dan bersembunyi di balik tembok. Saat kumpulan napi jalan cukup jauh darinya barulah Woo Jin kembali ke barisan belakang. Sementara Tae Woon berada di barisan depan. 

Lee Tae Woon mendapat informasi dari sesama napi. Dari napi tersebut, Tae Woon mendapat informasi kalau di rutan CheongJu tidak ada yang bernama Jeong Sang. Setelah menerima informasi itu Tae Woon langsung menuju telepon umum.
Anak buah presdir Kim menerima telepon dari seseorang. Ia masuk ke dalam menemui presdir Kim yang saat itu sedang bercukur. Seruan pria itu yang memanggil nama presdir Kim, membuat si tukang cukur kaget hingga membuat dagu presdir Kim berdarah. Presdir Kim jelas kesal.

Anak buah presdir Kim memberitahu Lee Tae Woon dari rutan Seobu ingin bicara dengan presdir Kim. Presdir Kim semula tidak ingin bicara dengan Tae Woon tapi setelah mendengar nama Woo Jin, barulah ia mau menerima telpon tersebut. 

Akhirnya presdir Kim mengetahui Woo Jin yang ia cari berada di rutan rutan Seobu. Tapi ia tidak langsung percaya begitu saja. Sebelum bertindak ia menyuruh Tae Woon untuk terus mengawasi dan mengamati perkembangan disana. Sembari mengancam jika informasi yang Tae Woon katakan tidak benar, maka harus menanggung resikonya. 

Usai bicara di telepon presdir Kim menyuruh anak buahnya untuk menghubungi pengacara Kim agar pengacara Kim bisa segera memeriksa di kejaksaan. Ia yakin pasti Woo Jin di bantu seseorang hingga bisa masuk ke rutan itu. Ia juga menyuruh anak buahnya untuk menyelidiki dan mencari tahu tujuan Woo Jin sebenarnya masuk ke rutan itu. 

Sipir penjara memberi obat pada narapidana dengan nomor 264 (sipir biasa memanggil para narapidana dengan nomor di baju mereka). Itu adalah obat rutin yang harus di minum. Setelah meneguk air yang di berikan padanya, napi No. 264 menjulurkan lidahnya tanda ia telah menelan obat tersebut. Sipir pergi setelah memastikan napi No. 264 meminum obatnya. 

Tapi itu hanya trik yang di gunakan napi No. 264 untuk mengelabui sipir. Ia tidak benar-benar menelan obat itu. Karena begitu sipir pergi, ia mengeluarkan obat itu dari dalam mulutnya. Dan ternyata apa yang di mimunnya tadi bukanlah obat, melainkan sebuah pesan kecil yang di masukan ke dalam kapsul obat. 

Mata napi No. 264 melebar terkejut dan tubuhnya bergetar saat membaca pesan itu. Pesan yang menyampaikan kabar tentang dokter Young Jae yang lebih memilih bunuh diri dari pada tertangkap oleh anak buah presdir Kim. Usai membaca napi No. 264 langsung mengunyah pesan tersebut. Ia terlihat sangat marah karena Young Jae harus menjadi korban.

Woo Jin berjalan menuju tempat pemotongan kayu, di belakangnya ada napi No. 264 yang mengikuti. Napi tersebut langsung berbalik arah begitu melihat Chang Gyu menghampiri Woo Jin. Chang Gyu menepuk bahu Woo Jin dan menyuruhnya masuk ke ruang pemotongan kayu.

Begitu Woo Jin masuk keruangan itu, Jae Yeong langsung menutup pintunya rapat-rapat. Wajah Jae Yeong yang biasanya kalem terlihat garang saat melihat Woo Jin. Terlihat lebih menakutkan lagi karena terdapat percikan darah di wajahnya. Woo Jin yang takut berusaha untuk menghindar.

Namun, ia terjatuh karena kakinya menyandung sesuatu. Kaki Woo Jin menyandung tubuh  Myeong Soo yang tergeletak di lantai dengan wajah penuh darah. Tidak bergerak entah masih hidup atau sudah meninggal.  

Jae Yeong yang sudah kalap langsung memukul Woo Jin dengan balok kayu yang ia pegang. Lalu menyeret Woo Jin ke hadapan Chang Gyu. Dengan santainya Chang Gyu bertanya, "Kau mau kemana?. Kami juga tahanan penjara, jaksa Cha".

"Bungsu....kenapa kau membenci jaksa ini?", tanya Chang Gyu pada Jae Yeong. 

"Mereka sama seperti ular", jawab Jae Yeong penuh kebencian, "Mereka bilang mengerti dan mempercayaimu, tapi di saat kritis mereka membuangmu begitu saja. Jaksa ini juga sama, hanya memamfaatkan orang!. Apa kau sebegitu hebatnya, sebersih itu kah, kau!". 

Woo Jin berteriak kesakitan karena Jae Yeong kembali memukulinya berkali-kali. Diantara rasa sakitnya, Woo Jin berusaha meluluhkan hati Jae Yeong dan berkata kalau ini hanya salah paham. Ia menganggap Jae Yeong berbeda dengan penjahat lainnya yang melakukan pembunuhan, "Kau orang baik, kau masih punya kesempatan. Aku akan membuktikannya. Aku akan membuktikan kalau kau tidak bersalah". 

Tapi kata-kata itu tidak mampu meredam amarah Jae Yeong, ia terus memukul Woo Jin sembari menyuruh Woo Jin untuk berlutut dan memohon maaf padanya. Tapi Jae Yeong tahu seorang jaksa seperti Woo Jin tidak akan tahu bagaimana caranya berlutut dan memohon maaf. 

Chang Gyu hanya menyaksikan itu dengan senyum samar di wajahnya. Ia menyerahkan segalanya pada Jae Yeong dan akan mengikuti kemauan Jae Yeong. Sebelum itu ia menyuruh Woo Jin untuk menyampaikan pesan terakhirnya sebelum di adili.  

Jae Yeong yang sudah kesetanan menyambut itu dengan suka cita. Layaknya seorang hakim, ia menjatuhkan vonis, "Terdakwa.. Cha Woo Jin....Hukuman mati. Aku memvonis hukuman mati".

Woo Jin merangkak berpindah dari tempatnya, tapi langkahnya terhenti saat melihat palu besi berukuran besar di depan matanya. Chang Gyu mengetuk-ngetukan kan palu itu ke lantai beberapa, "Vonis hukuman mati". 

Sebelum benar-benar mengayunkan palunya, Chang Gyu bertanya sebenarnya apa alasan Woo Jin masuk kerutan ini. Seorang jaksa seperti Woo Jin pasti mempunyai alasan hingga nekat masuk ke rutan ini. Apa itu untuk penyeldiikan.

Di luar ada seseorang yang menyalakan breker alarms. Bunyi itu sedikit mengacaukan perhatian Chang Gyu yang ingin memukul Woo Jin. Chang Gyu tahu pasti Woo Jin berharap ada seseorang yang datang menyelamatkannya. Meski tak banyak waktu tapi ia punya cara lain untuk menghakimi Woo Jin. 

Chang Gyu dan Jae Yeong membawa Woo Jin ke mesin pemotong kayu. Pisau mesin telah di nyalakan dan mereka mendorong kepala Woo Jin mendekati benda tajam itu. Bayangkan apa yang terjadi jika pisau tajam itu benar-benar menyentuh leher Woo Jin. 

Posisi kepala Woo Jin dengan mesin pemotong hanya berjarak beberapa centi. Beruntung sipir muda masuk dan memergoki mereka yang ingin mencelakai Woo Jin, "Apa yang kalian lakukan?", bentaknya marah.

Yang terlihat kemudian, Chang Gyu dan Jae Yeong di giring keluar gudang dengan tangan terborgol. Sementara Myeong Soo yang ternyata masih hidup di papah menuju ruang perawatan mengikuti Woo Jin di belakang. 

Lalu siapa kira-kira yang menyalakan breker alarm tersebut?. Dia adalah napi No. 264 yang selama ini memang selalu mengawasi gerak-gerik Woo Jin semenjak Woo Jin masuk ke rutan ini. 

Sipir muda yang berwajah jutek itu menuntut penjelasan pada Woo Jin. Ia tak percaya saat Woo Jin berkata tidak ingat kejadian di gudang tadi. Ia menunjuk Myeong Soo yang tidur di ranjang.

"Yang satu di pukul sampai berdarah dan terbaring disana, dan mengaku tidak ingat apa-apa. Sementara yang satunya lagi baru saja lolos dari mesin pemotong, dan juga tidak ingat apa-apa. Kau pikir ini lucu. Kau pikir aku percaya, sialan!".

Sipir jutek mengayunkan pemukulnya seperti ingin memukul Woo Jin. Dokter yang memeriksa mengatakan hal itu bisa saja terjadi karena syok sehingga menganggu ingatan. Sipir tetap tidak percaya dan minta pada dokter untuk tidak membela Woo Jin. Baginya Woo Jin sudah terlihat aneh sejak pertama kali masuk. Sipir baru bisa diam saat dokter meminta untuk tenang, karena ia harus memeriksa Woo Jin. 

Usai di periksa, Woo Jin di bawa sipir ke suatu tempat. Setibanya di sana, Woo Jin bertemu dengan direktur Choi yang menemuinya secara diam-diam. Direktur Choi bertanya bagaimana rasanya berada di dalam penjara. 

Kedatangan direktur Choi tak lain ingin meminta Woo Jin untuk menghentikan penyamarannya. Ia telah menggunakan kartunya untuk bisa memasukan Woo Jin ke tempat ini. Karena kejadian di gudang tadi, kartu As yang di gunakan direktur Choi bisa terungkap hari ini.

Woo Jin meminta waktu. 2 hari lagi. Ia tidak bisa keluar dengan tangan kosong seperti ini. Direktur Choi tidak setuju, satu hari pun akan sangat berbahaya bagi Woo Jin. Ia tidak bisa menjamin keselamatan Woo Jin jika terus bersikeras seperti ini, "Jika sesuatu terjadi padamu, bagaimana dengan perjanjian kita?. Buku rekeningnya".

"Buku rekening itu akan lenyap bersama saya selamanya. Buku itu tidak boleh jatuh ke tangan orang jahat?", jawab Woo Jin. 

Direktur Choi bersedia memberi Woo Jin kesempatan terakhir. Gunakan kesempatan itu dengan sebaik mungkin, jika tidak ia tidak bisa lagi melundungi Woo Jin. 

Penyidik Go berada di kedai minum, menikmati soju seorang diri. ia terus terbayang wajah sedih Eun Bi saat perjalanan pulang dari rumah sakit. Penyidik Go menghela napas dalam, merasa bersalah karena telah mengambil foto ayah Eun Bi.  

Tak lama kabag Han datang menemani. Penyidik Go bertanya bagaimana dengan Eun Bi. Kabag Han berkata Eun Bi tertidur karena kelelahan. Keduanya lalu minum bersama. Beberapa saat kemudian, penyidik Go dan kabag Han sudah mulai mabuk. Berbotol-botol soju telah mereka habiskan. 

Kabag Han mengkhawatirkan Woo Jin yang tidak ada kabarnya. Ia juga bisa melihat Eun Bi yang merasa tertekan. Kabag Han mengajukan sebuah pertanyaan dan minta penyidik Go menjawab dengan jujur, "Penyidik Go, apa kau tertarik padaku?".

"Ya", jawab penyidik Go spontan. Sesaat ia tersadar dan terkejut sendiri. 

Penyidik Go jadi salah tingkah dan ingin pulang karena sudah mabuk. Kabag Han tertawa seraya menyuruh penyidik Go duduk kembali, "Aku hanya bercanda. Duduklah". 

Malam itu kabag Han benar-benar mabuk hingga harus di gendong penyidik Go untuk bisa pulang kerumah. Eun Bi heran mereka banyak botol yang mereka minum. Penyidik Go menyuruh Eun Bi untuk bertanya sendiri pada kabag Han, karena ia juga tidak tahu berapa banyak botol soju yang di minum kabag Hang. 

Penyidik Go yang ingin pulang berusaha mengambil jasnya yang saat itu di pakai kabag Han. Tapi kabag Han tidak mau memberikan jaket penyidik Go yang menghangatkan badannya, "Dingin", ucap kabag Han dalam tidurnya.
  
Penyidik Go melangkah pergi. Eun Bi bertanya bagaimana dengan pencarian ayahnya, apa masih belum di temukan?. 

Pertanyaan itu tentu saja mengejutkan penyidik Go, "Belum", jawabnya. Ia meminta maaf karena terlalu sibuk sehingga tidak bisa mencari keberdaan ayah Eun Bi. Penyidik Go buru-buru pergi sebelum Eun Bi bertanya lebih banyak.

Eun Bi menghampiri kabag Han yang sedang tertidur. Secara tak sengaja ia melihat surat yang terselip di saku jas penyidik Go. Sebelum mengambil surat itu, Eun Bi memastikan kalau kabag Han benar-benar tidur. 

Kertas yang dibaca saat ini adalah daftar riwayat mengenai ayahnya. Didalam kertas itu juga terdapat diterangkan bahwa ayah Eun Bi meninggal karena sesak nafas akibat asap. Eun Bi terduduk lemas dan menangis.

Woo Jin berjalan mondar mandir di dalam selnya sembari memegang print out gambar tato di badan Cheon Sang. Ia benar-benar ingin tahu siapa orang yang membuat tato tersebut. Kini Woo Jin di tempatkan di sel terpisah.

Sementara itu Dong Cheol yang telah sembuh dari penyakitnya dibawa kembali ke dalam sel. Apa yang akan Dong Cheol lakukan pada Woo Jin?. 

Penyidik Go dan kabag Han berada di kantor dan sedang serius menatap layar monitor. Kabag Han memberitahu mantannya mengirimkan informasi dari handphone Yoo Chang Seon yang di duplikat. Penyidik Go melihat itu seperti bentuk peta. Kabag Han berpikir begitu. 

Penyidik Go penasaran itu peta di lokasi mana. Kabag Han mengatakan jika mereka berhasil menemukan lokasi dari peta itu, pasti mereka bisa menyelidiki sesuatu. Kabag Han dan penyidik Go terkejut saat Dong Soo masuk keruangan mereka. Dong Soo mengajak penyidik itu untuk bicara berdua saja.

Dong Soo dan penyidik Go bicara empat mata. Dong Soo ingin tahu apa yang terjadi 7 tahun lalu, dan apakah penyidik Go tahu sesuatu tentang hal itu. Penyidik Go mengaku tidak mengetahui apapun.  

Penyidik Go pamit pergi karena ada janji lain. Dong Soo berkata jika kebetulan Penyidik Go bertemu dengan Woo Jin tolong sampaikan pesan ini.

"Jika Woo Jin punya kesepakatan dengan presdir Kim, suruh dia berhenti segera. Presdir Kim lebih mengerikan dari gosip yang beredar. Meskipun Woo Jin juga bukan orang biasa, tapi presdir Kim bukanlah seseorang yang bisa Woo  Jin kalahkan. Ini adalah pesan terakhirku sebagai rekan kerja". 

Saat kabag Han sedang bekerja, Eun Bi mengemasi barangnya seperti akan pergi. Eun Bi hendak memasukan baju tidur yang di berikan kabag Han lalu teringat semua yang pernah ia lalui dirumah ini. Eun Bi ingat semua kebaikan dan perhatian kabag Han dan penyidik Go padanya.

Tapi kemarahan dihati Eun Bi memudarkan semua kebaikan yang pernah ia dapatkan. Ia menganggap sebagai kebaikan itu hanyalah sebuah kebohongan dan kepalsuan. Eun Bi melemparkan baju tidur kabag Han lalu pergi.

Eun Bi pergi ke rumah Woo Jin untuk mengambil pematik dan pisau lipat miliknya. Diatas meja ia menemukan kartu nama Yoon Hee. 
Dari informasi napi bernomor 2010, akhirnya Woo Jin mengetahui orang yang membuat tato di badan Cheon Sang adalah narapidana yang di vonis hukuman mati. Saat sipir lewat napi bernomor 2010 itu langsung merebut kertas print out dari tangan Woo Jin. 

Di lain tempat, tanpa sepengetahuan Woo Jin. Napi No. 2010 secara diam-diam sembil berjalan memberikan print out yang dia pegang ke Tae Woon. Hal itu membuat Tae Woon tahu siapa orang yang Woo Jin cari di rutan ini.  

Woo Jin masih berada di tempatnya dan sedang mengingat kembali apa yang tadi di katakan napi No. 2010. Napi itu mengatakan pria yang dicari Woo Jin bernama adalah pembunuh sadis yang di vonis hukuman mati dan telah mendekam 3 tahun di penjara. Sangat sulit untuk bisa mendekati terpidana mati, "Kau harus sabar menunggu. Butuh waktu yang lama untuk bisa mendekatinya". 

Woo Jin merasakan ada seseorang yang datang. Saat ia menoleh munculah Dong Cheol yang tanpa peringatan langsung menusuk perutnya dengan pisau. Woo Jin jelas kesakitan tapi ia masih bisa berlari menyelamatkan diri sebelum Dong Cheol benar-benar membunuhnya.  

Dong Cheol mengejar Woo Jin yang berlari tertatih memegangi perutnya yang sakit. Sungguh aneh tidak ada sipir yang berjaga di luar penjara. Saat Woo Jin sibuk mencari tempat bersembunyi, tiba-tiba muncul tangan seseorang yang membiusnya dan menyembunyikan Woo Jin.

Dong Cheol kebingungan karena tidak menemukan Woo Jin dimanapun. Orang yang tadi membius Woo Jin, muncul kembali dari belakang dan memelintir tulang leher Dong Cheol. Lalu menyeret Dong Cheol menjauh dari sana.

Keduanya di temukan di klinik penjara dalam keadaan tidak sadarkan diri. Dokter klinik berkata pada sipir yang bertugas kalau ia yang menemukan Woo Jin dan Dong Cheol tidak sadarkan diri di koridor penjara. 

"Aku ingin mengobservasi mereka semalaman. Kondisi mental mereka sedang tidak baik. Siapa yang tahu akan terjadi sesuatu malam ini". 

Sipir semula keberatan karena peraturannya kedua napi itu harus di kawal. Tapi akhirnya ia mengerti dan akan melaporkan pada atasan tentang kondisi mereka berdua. 

Setelah sipir pergi, dokter klinik menempelkan kapas beraroma ke hidung Woo Jin. Aroma itu berhasil membangunkan Woo Jin. Perlahan Woo Jin membuka matanya.

"Kau sudah bangun, Cha Woo Jin", ucap dokter mengetahui jati diri Woo Jin yang sebenarnya.

Dokter ini sebenarnya sudah tahu siapa yang Woo Jin cari dan sengaja membantu Woo Jin agar tidak terlibat masalah dengan sipir jutek tempo hari. 

"Kau orangnya?", tanya Woo Jin.

Dokter menggeleng dan berkata Woo Jin akan segera bertemu dengan orang itu.  

Malam harinya, dokter membawa Woo Jin menyelinap keluar dari penjara utama. Mereka berjalan sembari menghindari soratan lampu perjara yang memantau keadaan. 

Di luar dugaan, sipir penjara yang tadi siang bicara dengan dokter adalah orang bayaran presdir Kim. Malam itu juga, dia bertemu dengan anak buah presdir Kim dan memberikan amplop berisi informasi. Sebagai imbalannya, sipir bernama Ho Dong Hoon ini menerima amplop tebal berisi uang jasa. Dong Hoon langsung pergi setelah mendapatkan apa yang dia inginkan. 

Anak buah presdir Kim menyerahkan amplop itu pada presdir Kim yang duduk di kursi belakang. Presdir Kim membuka amplop itu yang berisi informasi tentang narapidana bernama Kang Yoon Seong. Terpidana hukuman mati. Presdir Kim terkejut ketika anak buahnya berkata kalau Woo Jin sedang mencari orang ini.

Setelah bermain kucing-kucingan dengan sipir yang sedang ronda, Woo Jin dan dokter akhirnya tiba di ruang penjara lain. Penjara itu sudah lama tidak di pakai terbukti dari sarang laba-laba yang menghiasi langit-langit dan dinding penjara. 

"Tempat apa ini?", tanya Woo Jin

"Tempat eskekusi bawah tanah", jawab dokter, "Di sinilah tempat sebenarnya eksekusi terpidana mati. Hampir 20 tahun tidak ada eksekusi disini.Semua orang pasti sudah lupa dengan tempat ini".

Woo Jin tampak terpengaruh. Terlebih lagi saat dokter bilang akan ada eksekusi hari ini. Woo Jin yang merasa ada sesuatu yang tidak beres menoleh ke samping. Wajahnya langsung menegang saat itu juga. 

Presdir Kim berada di luar rutan Seubo. Ia tak percaya bagaimana mungkin Kang Yeong Seong bisa berada di dalam sana. 

Seseorang berjalan dalam gelap mendekati Woo Jin. Wajah Woo Jin tampak terkejut sekaligus tegang ketika melihat wajah seseorang di depannya. Saking terkejutnya sampai termundur kebelakang. Orang yang Woo Jin lihat adalah Jo Bong Hak, ayah kandung Eun Bi yang ia sangka telah meninggal.

Woo Jin yang ketakutan berlari menghindar. Bong Hak menatap Woo Jin dengan tatapan dingin. Woo Jin terus berjalan mundur mendekati tiang gantungan.

Presdir Kim yang masih berada di luar penjara masih tidak percaya pada apa yang ia lihat di atas kertas. Tahanan bernama Kang Yoon Seong tak lain adalah Jo Bong Hak (napi No. 264). Jelas sudah, presdir Kim pasti mengenal Jo Bong Hak.

Sementara itu Eun Bi yang pergi dari rumah kabag Han, terus berjalan di tengah malam tanpa mempunyai arah tujuan. 



END