Wednesday, October 22, 2014

Sinopsis Reset Episode 4 Part 1

Episode 4 

= Dituduh Membunuh =

Woo Jin berjalan keluar ruangan. Ia yang masih syok mencoba mengingat kembali sebelum Chang Seon bunuh diri. Sekilas Woo Jin melihat tato di punggung pria itu. Sembari berjalan, Woo Jin ingat perbincangannya dengan tim forensik. Tim forensik  mengatakan sampel DNA Chang Seon sudah di periksa dan mereka akan mengetahui hasilnya besok. Dengan itu mereka akan mengetahui siapa sebenarnya Yoo Chang Seon.

(Woo Jin belum tahu bahwa pria yang nekat terjun dari jembatan layang bernama Yoo Chang Seon).

Woo Jin ragu dengan hasil DNA itu mereka bisa mengetahui siapa sebenarnya Chang Seon dikarenakan tidak semua DNA di negeri ini tercatat. Tim forensik menunjuk foto tato di punggung Chang Seon. Ia menjelaskan tato itu bukan tato biasa. Warna dari tato itu terbuat dari gabungan dari darah ayam dan tinta khusus sebagai pewarnanya. Hanya rumah tahanan yang memakainya karena mereka tidak bisa menggunakan bahan pewarna.

Woo Jin kaget, "Rumah tahanan?". Tim forensik mengatakan setiap rumah tahanan memiliki catatan DNA dari para narapidana. Jadi ia semakin yakin akan mengatahui jati diri Chang Seon. 

Kabag Han dan Eun Bi menangisi penyidik Go yang belum sadarkan diri akibat di tusuk Chang Seon. Sampai Woo Jin datang, Kabag Han terus menangis. Kabag Han berkata dokter yang mengoperasi penyidik Go bilang kalau penyidik Go kehilangan banyak darah. Woo Jin ikut sedih. Kabag Han terus menangis sembari merintih, "Jangan mati, penyidik Go". 

Rintihan dan tangisan kabag Han itu di dengar penyidik Go, "Aku sudah mendapat transfusi darah. Jadi sekarang aku akan baik-baik saja. Aku tidak akan mati", jawabnya menenangkan sembari meringis kesakitan memegangi bagian perutnya yang kena tusuk. 

Kabag Han menarik napas lega. Penyidik Go berkata sebenarnya ia merasa sangat ngantuk tapi suara tangis kabag Han membuatnya tidak bisa tidur. Tak lama detektif Park datang dengan suara heboh menanyakan keadaan penyidik Go. Kabag Han mengatakan kalau penyidik Go baik-baik saja. Ia beralih memperhatikan keadaan Eun Bi. kabag Han sempat melihat Eun Bi  yang berjalan dengan kaki pincang. Ia bertanya di mana yang sakit, lalu melihat lutut Eun Bi yang terluka. Pasti rasanya sakit sekali.

Kabag Han berkata seharusnya yang berbaring di ranjang itu Eun Bi bukannya penyidik Go. Haha.. LOL. Eun Bi menggeleng, luka di lututnya tidak seberapa jika di bangingkan dengan luka tusuk penyidik Go. Merasa di bela penyidik Go minta pada Eun Bi untuk mengatakan pada semua orang kalau dirinya hampir saja mati. 

"Ya", jawab Eun Bi lalu menoleh pada semua orang, "Penyidik Go baik-baik saja", ujarnya mengundang tawa kabag Han dan detektif Park dan juga Woo Jin.

Penyidik Go jadi kesal, tapi hanya sebentar. Penyidik Go meminta pada detektif Park untuk menggantikan tugasnya membantu Woo Jin selama ia beristirahat di rumah sakit. Detektif Park menyanggupi permintaan penyidik Go. Kemudian Woo Jin mengajak semuanya untuk pergi agar penyidik Go bisa beristirahat dengan tenang.

Woo Jin hendak pergi, tapi penyidik Go sempat menahannya sebentar. Penyidik Go berusaha untuk duduk meski harus menahan sakit. Penyidik Go berkata penjahat itu (Chang Seon) tidak benar-benar ingin menusuknya hingga mati. Tapi dia menggunakan teknik yang tidak bisa saat membunuh dokter. Dari pada menyakiti Woo Jin, penjahat itu lebih memilih bunuh diri. 

Penyidik tak mengerti sebenarnya apa yang dilakukan mereka?. Woo Jin minta penyidik Go tak usah mengkhawatirkan masalah ini. Lebih baik penyidik Go fokus untuk memulihkan kondisinya.

Malamnya Woo Jin melihat Eun Bi di taman. Gadis itu asyik bermain ayunan sembari menikmati ice cream. Woo Jin menghampiri Eun Bi menyodorkan obat oles untuk luka di lutut Eun Bi. Ia menyuruh Eun Bi untuk mengoles obat itu dengan benar, akan menyusahkan kalau terinfeksi. Eun Bi tersenyum dan mengaku tersentuh akan perhatian Woo Jin. Sebagai balasannya, ia menawari Woo Jin ice cream, "Ahjushi mau?".

Woo Jin minta Eun Bi memberinya satu buah ice cream yang baru. Tapi Eun Bi malah memberi ice cream yang sudah ia gigit, "Ambillah". Woo Jin heran. Eun Bi minta Woo Jin jangan sungkan, "Kenapa?. Diantara kita saja". Woo Jin tanya hubungan seperti apa yang mereka miliki. 

Eun Bi menjawab hubungan yang saling menguntungkan. Ia kembali mendesak Woo Jin untuk memakan ice cream miliknya, toh ia juga tidak penyakitan. Eun Bi cemberut dan berkata semua pria memang picik. Woo Jin yang tidak merasa sebagai pria yang picik langsung melahap ice cream milik Eun Bi. 

Eun Bi tersenyum dan tanya bagaimana rasanya?. Enak kan?. Woo Jin mengiyakan. Eun Bi berkata menyukai rasa melon seperti ayahnya. Eun Bi cerita berpisah dengan ayahnya ketika memakan ice cream rasa melon. Woo Jin meminta maaf karena belum bisa membantu mencari keberadaan ayah Eun Bi. 

Eun Bi bisa mengerti jaksa seperti Woo Jin tidak bisa melakukan pekerjaan itu sendirian. Hal seperti itu adalah pekerjaan penyidik Go. Tapi saat ini penyidik Go sedang sakit. Woo Jin sendiri mengakui tidak bisa melakukan apa-apa tanpa penyidik Go. Woo Jin tanya bagaimana Eun Bi bisa tahu.

Bagi Eun Bi itu adalah masalah kecil. Hanya dengan melihat wajah Woo Jin saat ia bisa mengerti. Woo Jin kaget saat Eun Bi berkata pernah tinggal beberapa tahun di panti asuhan. Eun Bi tanya  kenapa Woo Jin selalu berbuat baik padanya. Membersihkan namanya dari tuduhan membunuh. Tidak membiarkan ia di bawa ke perlindungan saksi dan membuat Eun Bi tinggal dengan kabag Han. 

"Ahjushi, kau menyukaiku?", tebak Eun Bi pede..hahaha

Woo Jin tentu saja mengelak. Dengan serius Eun Bi meminta agar Woo Jin menunggunya 3 tahun lagi. Sekarang ini terlalu dini. Woo Jin berdesis pelan, "Anak ini, dasar!". Eun Bi tersenyum sembari berayun-ayun. Kemudian Woo JIn berdiri dan mengulurkan tangannya pada Eun Bi. Eun Bi mengira Woo Jin meminta ice cream yang ia pegang. Tapi bukan itu yang Woo Jin inginkan, ia minta agar Eun Bi menyerahkan pisau yang sering Eun Bi bawa kemana-mana.

Eun Bi tidak mau karena benda ia gunakan untuk melindungi dirinya. Woo Jin mengatai Eun Bi bodoh, "Kalau kau punya benda itu akan semakin berbahaya buatmu". Eun Bi tanya lalu siapa yang akan menjaganya. Apa Woo Jin akan selalu menjaganya?". Woo Jin tak langsung menjawab walau akhirnya ia berjanji akan melindungi Eun Bi. 

Eun Bi kaget. Woo Jin mengangguk meyakinkan Eun Bi. Janji Woo Jin membuat Eun Bi luluh dan menyerahkan pisau lipat yang selalu ia bawa kemanapun. Setelah menerima pisau lipat Woo Jin kembali mengulurkan tangan. Eun Bi berkata hanya pisau lipat itu saja yang ia punya, tidak ada yang lain.
 

Kali ini Woo Jin minta Eun Bi mengembalikan benda yang dia ambil, buku rekening rahasia Taek bersaudara. Woo Jin ingin Eun Bi memberikan buku itu sekarang. Eun Bi tidak mau. Janji tetaplah janji. Ia akan tetap menahan buku itu sampai Woo Jin berhasil menemukan ayahnya. Woo Jin berkata akan menatapi janjinya. Hanya saja buku itu terlalu berbahaya jika Eun Bi terus menyimpannya.

Karena itu Eun Bi yakin buku itu tetap aman selama ia yang menyimpannya. Siapa yang mengira kalau buku sepenting itu ternyata di simpan oleh anak nakal seperti dirinya. 

"Kau tidak takut akan bahayanya?", tanya Woo Jin

"Tapi...kau akan selamat, Yeonggam", jawab Eun Bi seakan tak peduli pada keselamatannya sendiri.

Woo Jin menatap Eun Bi lembut. Meskipun Woo Jin menatapnya seperti itu, Eun Bi tidak mau memberikan bukunya lalu mengajak Woo Jin pulang. Saat berjalan Eun Bi memegangi lututnya yang terluka. Woo Jin tanya apa rasanya sakit sekali dan menyuruh Eun Bi untuk duduk. 

Dengan telaten Woo Jin mengoleskan obat dan menempel plester di lutut Eun Bi yang terluka. Eun Bi senyum-senyum menerima perlakuan istimewa dari Woo Jin. Setelah selesai Woo Jin mengajak Eun Bi pulang. Eun Bi merentangkan kedua tangan minta Woo Jin mengendongnya. 

Jadilah Woo Jin mengendong Eun Bi hingga pulang ke rumah. Eun Bi mengucapkan terima kasih dan memanggil Woo Jin "Yeonggam". Woo Jin tersenyum geli. Mereka terlihat bahagia malam itu. 

Dong Soo menjelaskan siapa Chang Seon pada direktur Kim dan Asisten. Nama lengkapnya adalah Yoo Chang Seon berusia 33 tahun. Mendekam di penjara selama 7 tahun karena kasus pembunuhan. Dia bebas dari penjara beberapa hari yang lalu. Yang menarik adalah jaksa yang menangkap Chang Seon 7 tahun yang lalu adalah jaksa Cha Woo Jin. 

Sementara itu Woo Jin juga menerima laporan dari detektif Park mengenai informasi Chang Seon. Pria yang nekat bunuh diri itu telah menyelesaikan masa tahanannya di Rutan Seobu. Kabag Han yang baru masuk keruangan Woo Jin kaget saat mendengar nama Yoo Chang Seon. Woo Jin tanya apa Kabag Han kenal dengan pria itu. 

Kabag Han tentu saja kenal karena 7 tahun yang lalu ia dan Woo Jin yang menuntut Chang Soen. Detektif Park menarik kesimpulan kalau begitu Kabag Han yang bertanggung jawab dalam kasusnya. Woo Jin yang tidak bisa mengingat apa-apa tanya pada kabag Han apa benar begitu?. Kabag Han membenarkan. Wajahnya terlihat tegang dan juga heran karena Woo Jin tidak bisa mengingat kejadian itu. 

Direktur Kim tidak langsung percaya begitu saja bahwa Woo Jin yang menjebolskan Chang Seon ke penjara 7 tahun lalu. Ia mengenal Woo Jin dan minta Dong Soo jangan berlebihan. Asisten meyakinkan kalau memang seperti itulah kenyatannya. Direktur Kim minta penjelasan. 

Asisten menjelaskan kasus Chang Seon 7 tahun yang lalu sangat benar-benar memperngaruhi karir Woo Jin sebagai jaksa. Satu-satunya kasus yang di jatuhi hukuman teringan oleh kejaksaan. Direktur Kim menyahut mungkin ada alasan di balik keputusan itu. Bukankah begitu?.

Asisten bercerita sembar membayangkan kejadian 7 tahun lalu. Saat itu Woo Jin bertindak sebagai jaksa penuntut dan ia sendiri yang menjadi jaksa pembimbing Woo Jin saat itu. Kasus bermula dari saat Chang Seon menemukan tersangka yang pembunuh dan pemerkosa pacarnya. Lalu membunuh tersangka secara brutal.

Chang Seon sendiri bahkan telah mengakui perbuatannya. Selain itu Chang Seon juga sudah mempunyai catatan kriminal sebelumnya. Ini jelas-jelas pembunuhan berencana, Chang Seon mencari korban dengan membawa senjata. Pembunuhan berencana seharusnya di hukum penjara seumur hidup atau hukuman mati.

Pengacara telah menyatakan pembelaan terakhir mereka dan hakim memberi kesempatan pada jaksa penuntut untuk memberikan sanggahan. Woo Jin tidak langsung memberikan tuntutan lama ia terdiam sampai hakim menegurnya. Akhirnya Woo Jin berdiri dan dengan wajah sedih Woo Jin memberikan tuntutan hukuman penjara selam 7 tahun.

Chang Seon sendiri bahkan terkejut mendengar tuntutan yang terdengar ringan itu. Hakim menegur Woo Jin dan minta agar Woo Jin mengulangi perkatannya sekali lagi. Tapi perkataan Woo Jin tidak berubah. Asisten yang saat itu menjadi jaksa pembimbing melotot tanda tidak setuju, tapi ia bisa apa?.

Jaksa yang bertanggung jawab telah memberikan keputusan dan hakim juga punya penilaian yang buruk. Akhirnya berkat bantuan Woo Jin, Chang Seon hanya di jatuhi hukuman penjara selama 7 tahun. Dan juga karena kasus ini Woo Jin mendapat sangsi internal.

Direktur Kim tak berkomentar mendengar penjelasan asisten. Dong Soo menambahkan petugas polisi yang berada di TKP mengatakan sebelum Chang Seon melepaskan tangan Woo Jin, Chang Seon sempat mengatakan sesuatu. Direktur Kim tanya apa itu?.

"Seperti "Hyeongmin, aku mencintaimu", jawab Dong Soo.

"Benarkah?. Polisi melaporkan begitu. Kau benar-benar yakin?", tanya direktur Kim tidak yakin. 

Dong Soo membenarkan bahkan ia merasa sangat yakin. Ia minta direktur Kim mempercayainya dan janji tidak akan mengecewakan direktur Kim. Percaya atau tidak bukanlah masalah yang penting. Ia hanya minta Dong Soo melakukannya dengan baik. Dong Soo menyanggupi dengan penuh keyakinan.

Direktur Kim tanya pasti Dong Soo tahu orang seperti apa Woo Jin itu?. Direktur Kim menyuruh Dong Soo untuk memberikan satu pukulan telak pada Woo Jin, agar dia mau memberikan buku rekening itu, "Kalau kau tidak bisa maka kau harus mati. Mengerti?", ancam direktur Kim menatap tajam. 

Dong Soo yang merasa sangat yakin bisa mengalahkan Woo Jin bergegas pergi melaksanakan tugasnya. 

Woo Jin minta kabag Han memberikan semua informasi mengenai Yoo Chang Seon. Woo Jin mengambil jas, kabag Han tanya, "Anda mau kemana?". Woo Jin hendak pergi ke Rutan Seobu untuk menemui teman satu sel Chang Seon selama di penjara.

Kabag Han keberatan, bagaimana seorang jaksa datang menyelidikinya sendiri. Suruh saja mereka datang kemari. Woo Jin ingin langsung pergi kesana supaya ia bisa langsung bertemu dengan orang itu. Kabag Han tetap saja khawatir. Untungnya detektif Park berinisiatif menemani Woo Jin. 

Woo Jin yang hendak keluar melihat Dong Soo berjalan di depannya sembari bersiul pelan, langsung saja ia menepuk pelan pundak pria itu. Tapi sentuhan pelan itu malah membuat Dong Soo terkejut dan sedikit takut saat melihat Woo Jin. Woo Jin yang heran tanya, "Kenapa kau ketakutan seperti itu?".

Dong Soo mengelak kapan aku takut. Woo Jin lalu tanya apa yang membuat Dong Soo terlihat senang. Ditanya seperti itu Dong Soo justru tersenyum simpul, "Ada sesuatu", jawabnya lalu pergi.

Woo Jin yang heran dengan sikap Dong Soo mempercepat langkahnya menyusul pria itu dan kembali menepuk pundaknya, "Aku memang tidak tahu hal apa yang membuatmu senang, tapi ayo bergembira bersama-sama". 

"Dasar. Kau akan segera tahu", jawabnya tersenyum penuh arti. Senyum yang berubah menjadi tatapan sinis saat Woo Jin berlalu dari hadapannya.

Pada detektif Park, Dong Soo bertanya kemana Woo Jin akan pergi. Detektif Park pun  mengatakan kemana tujuan Woo Jin. Rumah tahanan Seobu. 

Rutan Seobu. Polisi membawa pria yang menjadi teman satu sel Chang Seon ke hadapan Woo Jin. Sebelum di interogasi pria ini bertanya, "Bolehkan aku merokok dulu". Woo Jin bersikap biasa justru malah detektif Park yang marah atas sikap tidak sopan pria itu. Woo Jin memberikan rokok yang ia miliki tapi sebelum memberikan rokok itu. Woo Jin ingin agar pria itu menjawab terlebih dulu semua pertanyaanya mengenai Chang Seon. 

Ternyata bukan satu orang saja yang Woo Jin interogasi hari itu. Ada sekitar 3-4 pria yang ia tanyai mengenai Chang Seon. Tapi tidak ada satupun yang memberikan jawaban yang memuaskan. Sampai akhirnya polisi membawa pria dengan nomor tahanan "2811". Sebelum bertanya Woo Jin menawarkan rokok, tapi napi 2811 menolak karena ia tidak merokok. 

Narapidana 2811 menujukan sikap takut dengan terus menunduk dan tidak berani menatap wajah Woo Jin secara langsung. Apa lagi saat detektif Park mendelik padanya, napi 2811 semakin terlihat takut.

Woo Jin bertanya, "Kau tahu kalau Yoo Chang Seon meninggal dunia?. Kudengar kau berteman baik dengannya?".

"Lalu kenapa?", tanya napi 2811 

"Siapa yang menyuruh Yoo Chang Seon untuk membunuh seseorang?"

Napi 2811 berkata tidak mengetahui apapun. Detektif Park kesal, "Kau masih tidak mau jujur?". Woo Jin minta detektif Park keluar sebentar dan meyakinkan kalau ia akan baik-baik saja sendirian. 

Setelah detektif Park keluar Woo Jin berkata sewajarnya tidak ada yang bisa tahu tentang berita kematian Chang Seon, terlebih lagi bagi seseorang yang berada di dalam penjara. Napi 2811 terkejut. Woo Jin tanya apa napi 2811 sudah pernah bertemu dengan detektif Park sebelumnya?. 

Napi 2811 menjawab dengan terbata-bata, "Aku....tidak tahu". Napi 2811 mulai cegukan saat Woo Jin mengeluarkan penannya. Tiba-tiba pria itu mengalami kejang-kejang dan busa keluar dari mulutnya seperti orang yang mempunyai penyakit epilepsi. 

2 petugas polisi bergegas masuk. Sebelum napi 2811 dibawa keluar ruanganan, secara diam-diam dia menyelipkan kertas yang sedari dipegangnya ke tangan Woo Jin. Woo Jin yang menerimanya langsung memasukan kertas itu ke dalam saku celananya.

Dong Soo juga pergi ke Rutan Seobu di waktu yang berbeda. Ia melihat rekaman CCTV saat Woo Jin menginterogasi para tahanan yang dekat dengan Chang Seon. Tidak ada yang mencurigakan. Dong Soo menemui salah satu napi berjanji akan memberikan pembebasan bersyarat asalakan napi itu mau mengikuti apa yang ia perintahkan. Napi tersebut langsung menyanggupi permintaan Dong Soo dengan suka cita. 

Woo Jin kembali ke kantor dan melihat kertas yang diberi napi 2811. Di kertas itu tertulis kombinasi angka dan juga huruf. "EGAJ 405438-4". Woo Jin tentu saja tidak mengerti maksud dari pesan tersebut. 

Kabag Han menemui psikolog yang sering yang sering menjadi tempat konsultasi Woo Jin. Kabag Han tertegun melihat wajah psikolog. Si psikolog bertanya ada sesuatu di wajahnya?. Dan dengan pede-nya ia berkata, "Aku memang tumbuh dengan wajah tampan".. hahaha narsis...

"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?", tanya kabag Han merasa tidak asing dengan wajah psikolog. 

Sedetik kemudian kabag Han ingat. Sembari menunjuk wajah psikolog, kabag Han berseru, "Benar. Kau si skandal itu!". Psikolog yang semula geer jadi melongo mendegar suara kabag Han yang nyaring..wkwkw..

Dong Soo dengan penuh keyakinan menunju ruangan Woo Jin. Semula ia ingin mengetuk pintu tapi niat itu ia urungkan. Dengan sikap arogan, Dong Soo menendang pintu hingga rusak. (jaksa satu ini emang gak punya etika ><). 

"Ada apa ini?", tanya Woo Jin.

Dong Soo datang untuk menangkap Woo Jin dengan tuduhan bersengkongkol mengenai bunuh diri dan penyuapan. Woo Jin diam saja saat tangannya di borgol anak buah Dong Soo. Bahkan ia sama sekali tidak panik saat 2 anak buah Dong Soo mengiringnya pergi. 

Woo Jin masih bisa bercanda dengan bilang biaya perbaikan pintu yang rusak ini di potong dari gaji Dong Soo. Tapi Dong Soo yang merasa di atas angin tidak peduli, ia tersenyum sinis penuh kemenangan.  

Dong Soo masuk keruangan interogasi dimana ada Woo Jin yang sudah menunggu selama 2 jam. Woo Jin menyebut dirinya adalah korban, ia tahu Dong Soo menggunakan metode psikologi. Karena itu Dong Soo sengaja membuatnya menunggu selama 2 jam.

Dong Soo beralasan ada kasus lain yang harus ia urus. Dong Soo membanting berkas dan menuntut penjelasan kenapa Woo Jin membuat Yoo Chang Seon. Woo Jin mengorek kupingnya yang gatal, "Sudah aku bilang kau tidak akan bisa. Kau pikir dengan membentak semuanya akan selesai?". 

Direktur Kim dan asisten melihat proses interogasi ini di ruangan sebelah. Direktur Kim kesal apa yang dilakukan si bodoh Dong Soo itu. 

Dong Soo memutar laptopnya ke hadapan Woo Jin dan menunjukan rekaman salah satu anak buah Park Gi Taek. Pria itu memberikan kesaksian kalau ia melihat Woo Jin mengancam Chang Seon dan melihat  Woo Jin mengambil buku rekening rahasia milik Park bersaudara.

Ada juga pernyataan polisi yang berada di TKP tempat Chang Seon bunuh diri. Polisi ini menduga pasti Woo Jin dan Chang Seon saling kenal. Sebelum terju, ia sempat mendengar Chang Seon memanggil Woo Jin dengan panggilan, "Hyeongmin (kakak)".  

Bukan hanya 2 orang itu saja yang memberikan pernyataan yang memberatkan Woo Jin. Ada saksi wanita yang bilang kalau Woo Jin telah membakar buku rekening itu agar orang lain tidak bisa melihatnya. Tak ketinggalan napi yang telah di suap oleh Dong Soo yang turut memberikan kesaksian.

Tapi kesaksian orang-orang itu sama sekali tidak membuat Woo Jin terpengaruh. Direktur Kim saja ampai heran melihat ekspresi Woo Jin tetap sama tidak berubah sedikit pun. 

Dong Soo memberikan kesempatan pada Woo Jin untuk mengatakan sesuatu. Woo Jin tak mengerti maksud Woo Jin. Sebelum menunjukan kesaksian itu, bukankah seharusnya Dong Soo mengatakan alasan kenapa dirinya di tetapkan menjadi tersangka?. 

"Kenapa?. Kau membutuhkan waktu untuk menggunakan otakmu?", tanya Dong Soo meremehkan, "Oke. Sesuai keinginanmu aku akan memberitahu". 

Dong Soo menyebutkan tuduhan yang terdengar tidak masuk akal. Pertama Dong Soo menuduh Woo Jin telah menyalahgunakan kekuasaan dan bekerja sama dengan presdir Kim dari Gk. Demi menemukan pembunuh anak Presdir Kim, Woo Jin telah mengoperasikan investasi ilegal. 

Kedua, Dong Soo menunduh Woo Jin memberikan pematik pada Kim Man Cheol dan memprovokasi pria itu untuk bunuh diri. Ketiga setelah Park Seong Taek terbunuh, Dong Soo menunduh Woo Jin mengancam kakak Seong Taek, yakni Park Gi Taek dan memaksa Gi Tak menuliskan kode rahasia untuk mendapatkan buku rekening itu. Takut rahasia terbongkar, Dong Soo berspekulasi kalau Woo Jin lah yang mendorong Han Mi Seon dari atap.    

Keempat, Dong Soo menuduh Woo Jin menyuruh Yoo Chang Seon yang baru keluar dari penjara untuk membunuh Han Mi Seon yang saat itu terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Lebih tidak masuk akal lagi ketika Dong Soo menunduh Woo Jin mencari dan membunuh dokter yang dibenci oleh Han Mi Seon. 

Dan yang kelima, Dong Soo berkata untuk menghilangkan semua bukti dan membingungkan penyelidikan, ia menuduh Woo Jin melacak keberadaan Chang Seon dan membunuh pria itu dengan cara kejam. 

Saat Dong Soo membacakan semua tuduhan itu, Woo Jin mengingat kembali semua yang telah terjadi. Setelah berbicara panjang lebar. Dong Soo kembali ke tempat duduknya. Woo Jin tersenyum datar mendengar semua tuduhan itu. Ia malah memuji Dong Soo benar-benar jaksa teratas di Korea Selatan.

Belum selesai sampai disitu, Dong Soo mengungkit kejadian 7 tahun lalu saat Woo Jin memberikan hukuman ringan pada Chang Seon. Tapi kenapa saat berpapasan dengan Chang Seon di lorong rumah sakit, Woo Jin bersikap seolah tidak mengenal Chang Seon, "Setelah kau keluar, Chang Seon bergegas masuk ke ruangan Han Mi Seon".

Sesaat Woo Jin menampakan ekspresi terkejut. Direktur Kim dan asisten berseru senang, kali ini Dong Soo benar-benar melakukanya dengan baik. 

Woo Jin menuntut hak miranda yang tidak Dong Soo ucapkan saat memborgol tangannya. Dong Soo mengalah, baiklah. Ia mencondongkan badannya ke arah Woo Jin dan mengucapkan hak miranda yang diminta Woo Jin.

"Kau berhak diam. Kau berhak untuk mendapatkan pengacara. Jika kau tidak menggunakan hak mu untuk diam setiap pernyataanmu akan menjadi bukti di pengadilan. Puas?".

Woo Jin berkat kalau begitu ia akan menggunakan jasa pengacara untuk membelanya. Direktur Kim dan asisten terkejut. Lebih terkejut lagi saat pengacara Kim Myung Seok datang ke kantor mereka. Sedikit berbasas-basi, direktur Kim tanya apa yang di lakukan pengacara Kim disini. Pengacara Kim menyahut memangnya apa lagi yang ia lakukan di sini selain membela kliennya yang dirugikan, "Jaksa Cha Woo Jin". 

Direktur Kim tak mengerti apa maksudnya ini?. Pengacara Kim berkata seorang jaksa bisa juga menjadi tersangka dan juga harus menerima bantuan dari pengacara, "Aku pengacara Cha Woo Jin".

Direktur Kim tertawa penuh kekesalan, "Anak itu...Sekarang dia menunjukan siapa dia sebenarnya. Dia bahkan tidak punya rasa bersalah sedikitpun. Oke, Seonbaenim bela saja dia sesukamu". 

Pengacara Kim tanya apa pihak kejaksaaan tidak akan mengeluarkan surat penangkapan. Ia juga berkata akan menggunakan hak untuk tetap diam, "Jangan buang-buang waktu. Cepat keluarkan surat penangkapan. Agar aku bisa meminta surat pemeriksaan subtantif". Direktur Kim yang makin kesal menilai pengacara Kim terlalu percaya diri. Kasus kali ini tidak akan mudah. 

Hari itu juga pengacara Kim berhasil membawa Woo Jin keluar. Para reporter langsung mengerubungi mereka. Mereka tanya pendapat pengacara Kim tentang kasus yang menimpa Woo Jin. Pengacara Kim memberikan pernytaan sementara Woo Jin menggunakan haknya untuk diam. 

Pengacara Kim menilai kantor kejaksaan melakukan penangkapan yang tidak masuk akal dan memaksa untuk investigasi. Terkait dengan ini akan di lakukan pemeriksaan secara subtantif dan akan membuktikan kliennya tidak bersalah. 

Setelah masuk mobil, pengacara Kim ingin tahu kenapa hal ini bisa sampai menimpa Woo Jin. Woo Jin diam. Pengacara Kim tertawa, "Dasar. Kau juga memakai hakmu untuk diam padaku?". 

Woo Jin mengucapkan terima kasih atas bantuan pengacara Kim. Dan peran pengacara Kim sebagai pengacaranya berakhir sampai di sini. Selanjutnya ia yang akan mencari tahu sendiri. 

Pengacara Kim menyampaikan pesan presdir Kim yang ingin bertemu dengan Woo Jin. Tapi Woo Jin tidak mau dan tidak mempercayai presdir Kim sebagai pembelanya. Karena presdir Kim hanya mengirimkan pengacara terhebatnya saja. Woo Jin minta di turunkan di depan jalan dimana banyak taksi lewat. Pengacara Kim menuruti kemauan Woo Jin dan mobil beranjak pergi meninggalkan kantor kejaksaan.

Direkut Kim yang melihatnya jadi kesal. Lebih kesal lagi dengan kinerja Dong Soo yang bahkan tidak bisa memenjarakan Woo Jin. Asisten berkata Woo Jin bukanlah tandingan Dong Soo. Lagipula kini direktur Kim tidak perlu khawatir karena buku rekening itu sudah habis di bakar. Direktur Kim tersenyum, benar juga. Tidak perlu mengkhawatirkan Dong Soo. Biar mereka berdua, Woo Jin dan Dong Soo bertarung di kandang mereka sendiri. 


Lanjut ke Sinopsis Reset Episode 4 Part 2


Thursday, October 09, 2014

Unpublished Scene The Heirs Episode 17 & 20

  • Unpublished Scene The Heirs Episode 17
Potongan dari episode 17 saat Kim Tan membolos dari sekolah dan memilih menyendiri di bioskop yang pernah Eun Sang kunjungi. Sebelum pulang, Kim Tan berdiri disebuah toko yang menjual Dreamcatcher. Ia menatap benda itu dengan sedih, benda yang mengingatkannya pada Eun Sang.  

Kim Tan pulang kerumah dalam keadaan mabuk. Benar-benar mabuk hingga harus di papah oleh bodyguard presdir Kim. Kebetulan presdir Kim dan Ny. Han berada di ruang tangah dan sedang minum teh. Mereka terkejut melihat keadaan putra mereka yang kacau. 

"Apa yang dia lakukan?", tanya presdir Kim

Ny. Han yang takut pada presdir Kim, langsung berdiri menghampiri putranya, "Ada masalah apa?. Astaga, bau alkohol. Tan-ah, bangunlah". 

Ny. Han mencoba membangunkan Kim Tan dan melihat luka memar di wajah putranya. Seperti habis berkelahi. Bodyguard ingin menjelaskan tapi presdir Kim langsung yang marah langsung menyambar. Ia berkata Kim Tan mulai berulah dan mulai sekarang tidak akan menginjinkan Kim Tan untuk keluar rumah. 

Ny. Han meminta bodyguard untuk membawa Kim Tan ke kamar. Ny. Han minta agar presdir Kim berhenti sampai disini. Kim Tan tidak pernah melakukan hal seperti ini sebelumnya. Dia adalah anak yang kuat dan mereka tahu apa alasan Kim Tan bertingkah seperti sekarang. Situasi ini membuat Ny. Han merasa marah. 

Presdir Kim berdiri melihat Kim Tan yang terkulai lemas dibawa bodyguard menaiki tangga yang menuju ke kekemarnya. Presdir Kim diam berpikir, entah apa yang ada di dalam benaknya.

Scene kemudian beralih memperlihatkan Kim Tan yang menangis dalam tidurnya. Bahkan dalam tidurpun hatinya terasa sakit karena kepergian Eun Sang. 

  • Unpublished Scene The Heirs Episode 20
Potongan episode 20 saat Kim Tan dan Eun Sang mengunjungi presdir Kim di rumah sakit. Eun Sang membawa buku yang mungkin bisa di baca presdir Kim selama dirawat di rumah sakit. Presdir Kim menerima buku pemberian Eun Sang. Tentu saja hal itu membuat Kim Tan dan Eun Sang senang. 


Eun Sang tersenyum saat keluar dari ruang rawat presdir Kim. Ia bertanya saat presdir Kim bilang akan membaca buku yang ia berikan, bukankah presdir Kim baik. Kim Tan menjawab tidak tahu. Eun Sang mengatakan bisa melihat senyum samar presdir Kim. Meski ayah Kim Tan itu hanya sedikit menggerakan sudut bibirnya. 


Kim Tan yang tidak sependapat balik tanya sebenarnya siapa yang tadi Eun Sang temui. Mungkin Eun Sang salah lihat. Orang yang Eun Sang lihat tersenyum itu mungkin ayah dari orang lain, bukan ayahnya.  

Eun Sang jadi kesal, "Kau mau mati?". 

Kim Tan menegur Eun Sang, "Bagaimana kau bisa mengatakan hal semacam itu di rumah sakit?". 

Eun Sang mendekati Kim Tan dan berbisik pelan agar tidak di dengar orang lain, "Kau mati mati!".  

Kim Tan tersenyum lalu tanya Eun Sang berhutang apa pada presdir Kim. Eun Sang tak mau memberi tahu. Itu adalah rahasia mereka berdua. Antara ayah Kim Tan dan juga dirinya. Eun Sang optimis untuk mencari cara memperbaiki hubungannya dengan presdir Kim. Jadi Kim Tan jangan mengganggu. 

"Mengapa aku tidak boleh menganggu?", tanya Kim Tan sembari bergaya imut. (Kim Tan sangat tampan)

"Tidak!", jawab Eun Sang galak seraya beranjak pergi. 

"Kau mau mati!", ucap Kim Tan nyaring dan menghentikan langkah Eun Sang.

Eun Sang berbalik dan balas menegur Kim Tan, "Bagaimana bisa kau mengatakan hal itu di rumah sakit?". 

Eun Sang kembali berjalan dengan senyum di wajahnya. Kim Tan juga ikut tersenyum. Kim Tan memang tidak pernah bisa menang jika berdebat dengan Eun Sang. Hahah.. Kim Tan menghampiri Eun Sang, "Kita pergi bersama. Berpegangan tangan".

"Kau berkata akan selalu berada di belakangku", sahut Eun Sang jual mahal...kekeke...

Kim Tan tak peduli dan meraih tangan Eun Sang. Mengenggamnya erat. Kim Tan memberitahu akan jalan-jalan dengan Ny. Han. Ia mengajak Eun Sang untuk ikut. Eun Sang tidak bisa karena harus bekerja dan memberi kesempatan pada Kim Tan untuk berkencan dengan ibunya. 

Dan kita bisa melihat di episode 20, scene yang memperlihatkan Kim Tan menghabiskan waktu bersama ibunya berjalan-jalan di daerah Gangnam.


 

The Heirs Happy 1st Anniversary



Satu tahun lalu, tepatnya tanggal 09 Oktober 2013, drama The Heirs pertama kali di tayangkan di salah satu TV Korea, SBS. Betapa senangnya saya saat itu karena bisa melihat wajah tampan plus akting dari aktor idola saya, siapa lagi kalau bukan Lee Min Ho.

Seperti yang sudah kita ketahui bersama, naskah The Heirs di tulis oleh Kim Eun Sook. Penulis naskah yang sudah terkenal dengan karya-karyanya yang apik (Secret Garden, A Gentleman Dignity) dan di sutradarai oleh Kang Shin Hyo.

Kim Eun Sook sendiri yang meminta Lee Min Ho untuk kembali memerankan anak SMA. Awalanya Lee Min Ho merasa tidak nyaman kembali memerankan anak SMA, tapi setelah berbincang dan berdiskusi dengan penulis, akhirnya Min Ho mengambil peran tersebut. 

Thanks for Kim Eun Sook, karena telah memilih Lee Min Ho. Sekaligus mewujudkan keinginan Min Ho yang kembali ingin memerankan karakter anak SMA sebelum usianya mencapai 30 tahun.

Sejak kabar di dunia maya sander beredar, The Heirs telah menyedot banyak perhatian karena bintangi oleh aktor dan artis muda yang tengah naik daun. Banyak yang bertanya-tanya seperti apa cerita dari drama ini. Akankah sama dengan Boys Before Flower yang juga di bintangi oleh Lee Min Ho, karena dari inti cerita memiliki kesamaan yakni pria kaya yang jatuh cinta pada gadis miskin. 

Dan ternyata The Heirs sama sekali berbeda dengan Boys Before Flower. Terutama dengan peran Kim Tan yang di mainkan oleh Lee Min Ho. Jika di BBF kita melihat sosok Goo Jun Pyo yang keras kepala, egois dan temperamental maka karakter Kim Tan tidak seperti itu.

Kim Tan remaja memang pernah mengunakan kekuasannya untuk membully orang lain. Tapi sifatnya berubah saat dia beranjak dewasa. Kim Tan adalah anak tidak sah yang terasing di negeri orang selama 3 tahun. Diacuhkan oleh kakak tirinya. Sadar akan posisinya, Kim Tan tidak pernah menuntut ataupun menginginkan sesuatu yang bukan menjadi miliknya. Ia Lebih memilih memendam rasa sepi di hatinya dan menuangkannya ke dalam buku. 


Kim Tan yang tampan, Kim Tan yang jujur, hangat dan baik hati, Kim Tan yang terkadang lucu dan juga usil. Kim Tan yang peduli pada orang lain. Kim Tan yang membuat saya larut terbawa suasana. Tersenyum, tertawa dan ikut menangis bersamanya. Dan peran Kim Tan inilah yang membuat saya semakin menyukai Lee Min Ho. ^^

Untuk memperingati The Heirs 1st Anniversary, saya akan memberikan screencap dari potongan video drama The Heirs yang tidak sempat di tayangkan (unpublished scene), namun saya akan membuatnya di postingan yang berbeda. Video-video itu saya dapatkan dari Vimeo. Tapi sayang, saat saya kembali berkunjung kesana, video tersebut sudah di hapus. Beruntung saya sudah downloadnya.

Happy Anniversary The Heirs. 

TanSan Couple :)



Unpublished Scene The Heirs Episode 17 & 20

Saturday, October 04, 2014

Upcoming Drama Korea di Bulan Oktober 2014

1. Bad Guys



Title : Bad Guys
Genre : Crime, Action, Thriller
Episodes : 11
Broadcast network : OCN
Broadcast Period : 04 October 2014 - 13 December 2014
Airtime : Saturday 22:00

Cast : 
Kim Sang Joong as Oh Goo Tak
Ma Dong Suk as Park Woong Chul
Park Hae Jin as Lee Jung Moon
Jo Dong Hyuk as Jung Tae Soo
Kang Ye Won as Yoo Mi Young

Drama barunya Park Hae Jin nich..hehe.. ketemu lagi sama si abang satu ini. Kali ini dia berperan sebagai Lee Jung Moon, yakni seorang psikopat yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata. 

Kisah di mulai dari keinginan seorang kepala polisi yang ingin menekan tingginya angka kejahatan dan juga kekerasan yang marak terjadi di masyarakat. Untuk itu ia meminta detektif Oh untuk membentuk sebuah tim yang terdiri dari para penjahat. Detektif Oh sendiri tengah di skor dari pekerjaan karena menggunakan kekuatan berlebihan

Detektif Oh membentuk timnya yang terdiri dari, Park Woong Chul si gangster, Lee Jung Moon pembunuh berantai termuda yang memiliki IQ tinggi, ada juga Jung Tae Soo, seorang pembunuh bayaran dan Yoo Mi Young, inspekur polisi yang juga bergabung dalam tim. Pasti keren ini drama. Wajib tonton...

2. Apgujeong Midnight Sun


Title : Apgujeong Midnight Sun
Genre : Romance, Family
Episodes : 120+
Broadcast network : MBC
Broadcast period : 2014-Oct-06
Air time : Monday to Friday 20:55

Cast
Kang Eun Tak as Jang Hwa Um
Song Won Geun as Jang Moo Um (Hwa Um’s brother)
Im Chae Moo as Jang Choo Jang (Hwa Um’s father)
Park Hye Sook as Moon Jung Ae (Choo Jang’s wife)
Jung Hye Sun as Ok Dan Shil (Choo Jang’s mother)

Drama keluarga yang menceritakan tentang kehidupan empat keluarga.  Empat keluarga ini memiliki kesamaan yakni berkecimpung di dunai intertainment.

3. Tears of Heaven


Title : Tears of Heaven
Genre : Family, Romance
Episode : (To Be Announced)
Broadcast network : MBN
Broadcast period : 11 October 2014
Air time : Monday to Friday 18:10

Cast
Hong Ah Reum as Yoon Cha Young
Park Ji Young as Yoo Sun Kyung
Seo Joon Young as Lee Ki Hyun
Yoon Seo as Jin Je In
In Gyo Jin as Jin Hyun Woong

Cerita drama ini berkisah tentang Yoon Cha Young, gadis muda yang besar di panti asuhan. Ia percaya bahwa kasih ibu itu seperti surga. Sampai akhirnya ia harus belajar tentang kenyataan kalau dirinya di tinggalkan oleh ibunya sendiri, Yoo Sun Kyung. Tidak hanya sekali tapi dua kali. Alasan Yoo Sun Kyung tega meninggalkan putrinya karena ingin memenuhi ambisinya.

Setelah mengetahui hal itu, Cha Young berusaha membalas dendam pada ibu yang telah tega membuangnya. Meski Sun Kyung mengatahui bahwa Cha Young adalah putrinya, tapi hal itu tidak menyurutkan niatnya untuk bertarung dengan putrinya sendiri. Anak dan ibu ini saling menodongkan pedang satu sama lain. 

4. Tomorrow Cantabile


Title : Tomorrow Cantabile
Genre : Romance, Musical, Comedy
Episodes : 16 (To Be Confirmed)
Broadcast network : KBS2
Broadcast period : 13 October 2014 - 02 December 2014
Air time : Monday & Tuesday 22:00

Cast
Shim Eun Kyung as Seol Nae Il (Piano)
Joo Won as Cha Yoo Jin (Piano/Violin/Conducting)
- Choi Kwon Soo as Yoo Jin (child)
Baek Yoon Shik as Franz von Stressman (Yoo Jin’s conducting teacher)
Go Kyung Pyo as Yoo Il Rak (Violin)
Jang Se Hyun as Ma Soo Min (Timpani)

Di adaptasi dari komik jepang "Nodame Cantabile" karya Tomoko Ninomiya. Pertama kali di terbitkan pada 10 july 2001. Drama ini juga merupakan remake dari drama jepang dengan judul yang sama "Nodame Cantabile" yang di bintangi oleh Ueno Juri dan Tamaki Hiroshi. 

Ceritanya sendiri berpusat pada sebuah kelompok elit. Cha Yoo Jin adalah mahasiswa tahun ke tiga di sekolah musik jurusan piano. Ia memiliki impian menjadi conductor music (dirigen) terkenal di dunia. Yoo Jin terlihat sempurna dengan penampilan yang baik dan bakat bermusik alami yang dia miliki. Ayah Yoo Jin adalah seorang pianis terkenal. Satu kekurangan Yoo Jin, tidak bisa melakukan perjalanan jauh karena rasa trauma masa kecilnya yang takut pada pesawat terbang.

Sementara itu. Seol Nae Il gadis ceria yang juga seorang pianis jenius. Ia sering menyebabkan masalah karena kepribadiannya yang tidak dapat di duga. Tetapi ketika bermain piano, Nae Il akan menjadi sosok yang berbeda dengan bakat-bakat jenius yang ia miliki.

2 pianis jenius bertemu. Nae Il sering menggangu Yoo Jin dengan keisengannya. Meski awal mulanya kesal, lambat laun Yoo Jin terpikat pada pesona yang Nae Il miliki. 

5. Misaeng



Title :  Misaeng 
Genre : Romance, Comedy
Episodes : 20 (To Be Confirmed)
Broadcast network : tvN
Broadcast period : 2014-Oct-17 to 2014-Dec-20
Air time : Friday & Saturday 20:40

Cast
Siwan as Jang Geu Rae Lee Sung Min as Oh Sang Sik Kang So Ra as Ahn Young Yi Kang Ha Neul as Jang Baek Ki Kim Dae Myung as Kim Dong Shik Tae In Ho as Sung Dae Ri

Diadaptasi dari Webtoon dengan judul yang sama, "Misaeng" karya Yoon Tae Ho. Kisah webtoon ini berpusat pada kehidupan karyawan di tempat mereka bekerja. 

Jang Geu Rae terbiasa memainkan permainan papan "Baduk" sejak kecil. Dari kecil hingga beranjak dewasa, game adalah segalanya bagi Geu Rae. Namun saat beranjak dewasa, ia gagal menjadi pemain baduk profesional.

Kegagalan tersebut mau tak mau membuat Jang Geu Rae harus berhadapan dengan dunia nyata. Melalui rekomendasi salah satu temannya, Geu Rae bekerja di sebuah perusahaan bernama Wonin International sebagai pekerja magang dan mulai beradaptasi dengan dunia pekerjaannya.

Ahn Young Yi, pekerja magang baru yang kompeten dan cerdas. Ada juga Jang Baek Ki yang juga merupakan rekan kerja Geu Rae dan Oh Sang Sik yang merupakan atasan mereka. 

6. Rosy Lovers


Title :  Rosy Lovers
Genre : Family, Romance
Episodes : 50 (To Be Confirmed)
Broadcast Network : MBC
Broadcast Period : 18 October 2014 - 05 April 2014
Air time : Saturday & Sunday 20:45

Cast : 
Lee Jang Woo as Park Cha Dol Han Sun Hwa as Baek Jang Mi Choi Phillip as Go Jae Dong
Lee Mi Sook as Jeong Si Nae
Han Ji Sang as Park Gang Tae (Cha Dol’s older brother)
Yoon Ah Jung as Park Se Ra

Drama ini bercerita tentang Park Cha Dol yang menderita kemunduran di usia muda. Tetapi hal itu tidak membuatnya menjadi terpuruk dan bersedih terlarut-larut. Cha Dol mampu bangkit kembali dan berusaha meraih kebahagiannya. 

7. Modern Farmer


Title : Modern Farmer
Genre : Romance, Musical, Comedy
Episodes : 20
Broadcast network : SBS
Broadcast period : 18 October 2014 - 21 December 2014
Air time : Saturdays & Sundays 20:45

Cast : 
Lee Hong Ki as Lee Min Ki Park Min Woo as Kang Hyuk Lee Shi Un as Yoo Han Chul Kwak Dong Yun as Han Ki Joon Han Bo Reum as Yu Na Kwon Min Ah as Lee Soo Yeon Lee Ha Nui as Kang Yoon Hee Lee Il Hwa as Yoon Hye Jung

Sebuah drama komedi yang menceritakan sebuah band rock bernama "Excellent Souls". Para band ini terdiri dari Lee Min Ki, Kang Hyuk, Yoon Han Chul dan Han Ki Joon. Setelah gagal dalam bermusik mereka berempat memutuskan untuk pindah ke lahan pertanian. Disanalah mereka menemukan mimpi, cinta dan persahabatan. 

8. Liar Game


Title: 라이어 게임 / Liar Game
Chinese Title: 诈欺游戏
Genre: Mystery
Episodes: 12 (To Be Confirmed)
Broadcast network: tvN
Broadcast period: 2014-Oct-20 to 2014-Nov-25
Air time: Mondays & Tuesdays 23:00

Cast : 
Lee Sang Yoon as Cha Woo Jin (participant of reality show “Liar Game”) Kim So Eun as Nam Da Jung (participant of reality show “Liar Game”) Shin Sung Rok as Kang Do Young (MC and planner of reality show “Liar Game”)


Di adaptasi dari Manga Jepang berjudul "Liar Game" karya Shinobu Kaitani yang diterbitkan pertama kali pada 2005. Cerita manga ini kemudian diangkat ke drama jepang dengan judul yang sama pada tahun 2007. Yang kemudian di adaptasi ke dalam film pada tahun 2010 dan 2012.

Artis berwajah ayu, Kim So Eun terpilih menjadi pemeran utama sebagai Nam Dan Jung. Mahasiswa naif yang terlilit hutang. Tiba-tiba suatu hari, Woo Jin di beri uang $ 1 juta. Ia tetap bisa menyimpan uang itu dengan syarat harus menjadi pemenang dalam turnamen "Liar Game". 

Liar Game sendiri merupakan sebuah turnamen yang unik dimana para kontestannya di tuntut untuk berbohong dan menipu orang lain. Kontestan yang berhasil memenangkan permainan akan mendapatkan hadiah. Tapi jika mereka kalah, maka hutang mereka akan semakin menumpuk. 

Cha Woo Jin, profesor sekaligus mantan narapidana yang nantinya akan membantu  Nam Dan Jung untuk memenangkan Liar Game. Ada pula Kang Do Young,  MC sekaligus analis Liar Game yang nantinya berkonflik dengan Cha Woo Jin. 

9. Family Secret


Title : Family Secrets
Genre : Family, Mystery
Episodes : 100 (To Be Confirmed)
Broadcast network : tvN
Broadcast period : 27 October 2014
Air time: Monday to Thursday 09:40 

Cast
Shim Eun Gyung as Han Jung Yun
Ryu Hyo Young as Ko Eun Byul (Jung Yun’s daughter)
Kim Seung Soo as Ko Tae Sung
Kim Young Ho as Detective Min Joon Hyuk
Cha Hwa Yun as Jin Joo Ran

Diadaptasi dari telenovela produksi TV Chili "Donde Esta Elisa", jika di terjemahkan ke bahasa indonesia menjadi "Dimana Elisa". 

Ko Eun Byul adalah cucu dari keluarga Chaebol. Suatu hari tiba-tiba dia menghilang tepat pada hari pertunangannya. Sang Ibu, Han Jung Yun berusaha untuk mencari keberadaan putrinya. Tapi siapa sangka selama waktu mencari putrinya, Jung Yun menemukan sebuah rahasia besar tentang keluarga Chaebol yang selama ini belum dia ketahui.

* So readers, dari sembilan dari diatas sudah kah memutuskan ingin menonton drama yang mana?. Kalau saya tertarik pada Bad Guy, Liar Game dan Tomorrow Cantabile. Tears of Heaven juga lumayan menarik, tapi drama family biasanya jumlah episodenya buanyak. Gak sanggup dech kalau harus nonton lebih dari 30 episode.. Gak kuat downloadnya..hehehe..

Tuesday, September 30, 2014

Sinopsis Reset Episode 3 Part 2

Woo Jin nekat naik ke atas gedung menemui Han Mi Seon, wanita yang mengaku  membunuh Park bersaudara. Posisi Mi Seon membelakangi Woo Jin, wanita ini berjalan di pinggir atap gedung. Ia memakai kaca mata hitam dan menggunakan tongkat yang membantunya dalam berjalan. Salah langkah sedikit saja pasti akan membuatnya jatuh ke bawah.

Mi Seon juga memakai earphone di telinga. Benda itulah yang menjadi alat komunikasi antara dirinya dengan seseorang yang menyuruhnya untuk menemui Woo Jin. Ia berbalik setelah mengetahui kedatangan Woo Jin. 
"Jaksa Cha Woo Jin?", tanya Mi Seon meyakinkan

"Ya", jawab Woo Jin seraya menganggukan kepala

"Ketika berjalan di ketinggian, kalau tidak melihat kebawah, maka kau tidak akan takut...pernah mendengarnya?. Itu semua bohong. Bukan karena melihatnya kau jadi takut. Sekujur tubuhmu akan terasa gatal karena membayangkan rasa sakitnya. Benar sampai saat ini aku masih harus menyusui bayiku". 

Mi Seon mendekap tubuhnya merasakan udara malam yang dingin. Tanpa di minta Mi Seon menceritakan kisah hidupnya pada Woo Jin. 

"Awalnya aku meminjam uang demi menyelamatkan anakku. Karena tidak bisa membayarnya aku menjual sesuatu yang layak di jual. Ginjal, hati, mata. Tapi dengan tumbuhnya anakku, tiba-tiba suatu malam terjadi sesuatu. UGD bilang mereka harus segera melakukan operasi darurat".
  
Bersamaan dengan itu scene melihatkan kejadian dari awal, bermula dari Mi Seon yang melihat selebaran di WC umum. Selebaran yang menampilkan nomor yang bersedia membeli organ tubuh manusia seperti mata, ginjal dan hati. Dengan deraian air mata, Mi Seon menghubungi nomor tersebut.

"Tapi tidak ada dokter. Aku menunggu dengan cemas, lalu dokter yang akan mengoperasinya muncul. Tapi saat itu aku bisa mencium dengan jelas bau alkohol di tubuh dokter itu. Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa". 

Scene menampilkan Mi Seon membawa anaknya rumah sakit. Dokter UGD menjelaskan ada sesuatu yang tidak beres pada bayi Mi Seon. Mi Seon yang berada di ruang operasi menunggu dengan cemas. Tak lama datang seorang dokter. Mi Seon membungkuk mengucapkan terima kasih pada dokter. Tapi dokter itu berlalu begitu saja berjalan setengah terhuyung masuk ke ruang operasi. 

Mi Seon terdiam sesaat lalu membuka kaca mata hitamnya. Woo Jin sedikit terkejut ketika mengetahui Mi Seon benar-benar tidak bisa melihat.

"Karena mereka adalah tuhan yang menentukan hidup mati kita. Jangan karena tuhan sedikit mabuk, kau menolak kasih karunia-Nya. Tapi sekalipun setelah menerima kasih karunia-Nya, anakku juga tidak menunjukkan perkembangan. Jadi, demi menyelamatkan anakku, aku harus menjual kornea mataku. Tapi anakku....tidak akan pernah bangun selamanya. Dan dokter yang mabuk itu tidak merasa bersalah".

Mi Seon tak kuasa menahan tangis ketika menceritakan kepedihan hatinya. Woo Jin menanyakan alasan Mi Seon membunuh Park bersaudara apa hanya karena ingin mengambil ginjal mereka?. Mi Seon diam seakan membenarkan pertanyaan Woo Jin. 

Woo Jin bisa menebak pasti ada seseorang yang membantu Mi Seon melampiaskan balas dendam. Kali ini Mi Seon membenarkan dan dalam hal ini ia merasa cukup beruntung karena bisa membalas dendam. Awalnya Mi Seon mengaku tidak bisa melakukan apa-apa. Tapi akhirnya ia bisa membunuh iblis dengan tangannya sendiri. 

"Kemudian, orang yang membantumu itu, menyuruhmu untuk bunuh diri?", tebak Woo Jin.  

"Karena di dunia ini tidak ada yang gratis", jawab Mi Seon.

"Tolong turunlah", bujuk Woo Jin, "Kau sudah terlalu banyak membayar harganya. Tapi kau masih memiliki sisa hidupmu".

Mi Seon merasa tidak ada lagi yang tersisa di dalam hidupnya. Woo Jin bertanya, apa mungkin jika Mi Seon tidak mendengarkan perkataan orang itu, maka sandera yang lain akan membalas dendam. Mi Seon berkata masih ada satu orang lagi yang tersisa dan Woo Jin bisa menyebutnya sebagai sandera. 

Perkataan itu membuat Woo Jin sadar bahwa dokter yang mengoperasi anak Mi Seon masih hidup, "Dengan adanya kau di sini untuk bunuh diri, maka kau membiarkan dokter itu untuk mati. Maka balas dendammu akan selesai". 

Di tempat lain penyidik Go bersama seorang petugas sedang berusaha mencari kabel yang menguhubungkan jaringan komunikasi di daerah itu. Penyidik Go panik kenapa kabelnya belum ketemu juga. Petugas berkata sudah menemukan kabel itu, tapi ia masih ragu karena ini merupakan tindakan ilegal. Melawan undan-undang komunikasi. 

Penyidik Go jadi kesal, "Dasar kau ini!. Kabel yang mana?. Biar aku yang memotongnya!". 

Petugas terlihat senang dan menunjukkan kabel yang dimaksud. Penyidik Go langsung memotong kabel itu dengan penuh semangat. 

Mi Seon tampak bingung karena tiba-tiba earphone yang ia gunakan mendadak mati. Woo Jin yang melihat gelagat itu berkata handphone Mi Seon tidak akan berfungsi karena ia sudah memutus semua jaringan komunikasi di daerah ini. 

Kesempatan ini Woo Jin gunakan untuk naik dan berjalan perlahan mendekati Mi Seon. Penyidik Go, Eun Bi, kabag Han dan juga direktur Kim melihat dari bawah. Tentu saja merasa cemas dibuatnya.

Woo Jin bertanya sebenarnya apa yang di perintahkan orang itu pada Mi Seon. Mi Seon bisa merasakan Woo Jin yang mendekatinya terus berjalan mundur, "Jangan mendekat. Kalau tidak aku akan melompat". 

"Tentu saja kau harus lompat, itu alasanmu memilih tempat ini", sahut Woo Jin, "Tapi sebelum kau melompat, kau harus memahami sesuatu dulu. Orang yang ingin mengabulkan permintaanmu untuk balas dendam adalah iblis. Iblis itu telah merebut cinta pertamaku dariku. Lalu bagaimana denganmu. Kau ingin balas dendam bersamanya. Tapi sebenarnya iblis itu yang telah merebut nyawamu".

Woo Jin minta Mi Seon untuk mendengarnya saat ini. Woo Jin berkata Mi Seon tidak perlu mati, karena ia yakin bisa menangkap iblis itu, "Hidup dengan baik juga termaksud balas dendam". 

Mi Seon tersenyum, "Kalau begitu hidup dengan baik adalah sesuatu yang masuk akal bagimu. Tapi bagiku lebih baik balas dendam kemudian mati. Maaf, dia ingin menyampaikan itu padamu. Tapi sekarang ini tidak ada lagi. Sekarang ini aku benar-benar lelah. Aku akan pergi". 

Mi Seon yang sudah membuat keputusan melepas earphone dan membuangnya dari ketinggian. Setelah itu Mi Seon langsung menjatuhkan dirinya. Woo Jin teriak, "Tidak!", lalu mengikuti Woo Jin terjun dari gedung yang tinggi membuat semua orang teriak histeris.  

Beruntung pihak polisi sudah mengantipasi hal ini dengan memasang balon udara di bawah. Tubuh Mi Seon mendarat tepat di atas balon udara. Woo Jin sempat menyentuh balon itu, tapi pantulan membuat badannya terambung kembali dan jatuh terhempas diatas aspal yang keras. Penyidik Go dan yang lainnya berhambur ke sisi Woo Jin yang pingsan tidak sadarkan diri. 

Yoo Chang Seon, seorang narapidana yang resmi keluar hari ini. Ia mengganti baju tahanannya dengan t-shirt. Saat berganti baju, talihat tato bergambar mata satu di punggung sebelah kanan (illuminati, kah?). Chang Seon juga memakai topi yang sepertinya memang sengaja di sediakan untuk kebebasannya hari ini. 

Begitu keluar dari pintu penjara, sudah ada seseorang yang menantinya. Orang itu berada di dalam taksi dengan topi di hadapannya. Topi yang sama yang dipakai Chang Seon saat ini. 

Chang Seon sempat menoleh ke kanan dan kekiri sebelum membuka topinya. Pria yang berada di dalam taksi mengambil topi Chang Seon lalu pergi. Chang Seon masuk ke dalam taksi dan memakai topi yang ada di hadapannya. Rupanya di dalam topi itu ada ponsel. Ponsel itu berdenting menerima pesan masuk. Chang Seon membaca pesan itu. Setelah tahu apa yang di perintahkan, Chang Seon segera mengendarai taksinya untuk melaksanakan tugas. 

Direktur Kim membanting arsip yang ia bawa dengan penuh kekesalan. Kekesalan itu ia dapat setelah bertemu atasan yang marah karena belum berhasil mendapatkan buku rekening rahasia. Asisten bertanya apa yang dikatakan oleh atasan mereka. 

"Tidak usah tanya. Bikin pusing saja", jawab direktur Kim.

Direktur Kim tidak mengerti apa yang sebenarnya di lakukan oleh Woo Jin. Ada apa ini, kenapa tersangkan pembunuhan ingin bertemu Woo Jin saat menyerahkan diri. Pertama, Kim Man Cheol yang membakar dirinya sendiri. Dan sekarang Han Mi Seok yang memilih . Dan sekarang Mi Seok yang memilih terjun dari atas gedung. Sebenarnya siapa Woo Jin dan kenapa dia sampai bisa seberuntung itu?. 

Direktur Kim ragu apa benar Woo Jin yang membawa buku rahasia itu. Asisten menyahut mungkin saja Woo Jin yang membawanya. Direktur Kim tanya bagaimana jika Woo Jin tidak membawanya, saat ini atasan mereka sangat marah. Ia menyuruh asisten untuk mencari buku itu dan melapor padanya. 

"Tapi bagaimana jika direktur Choi yang lebih dulu menemukan buku itu?", tanya asisten.  

Direktur Kim menendang tulang kering asisten,, "Jangan bicara omong kosong!". 

Segera saja asisten mengaku bersalah. Setengah berbisik direktur Kim berkata jika buku rekening itu jatuh ke tangan direktur Choi makan mereka semua akan tamat. Tidak ada cara lain, direktur Kim memerintahkan untuk kembali menginterogasi Woo Jin dengan menggunakan metoda MF. 

Asisten terkejut, metoda MF!.Lalu siapa yang akan bertanggung jawab?. Direktur Kim menjawab, "Bukankah kita tidak mempunyai pilihan lain?".

Di luar ruangan, Dong Soo berjalan dengan langkah penuh percaya diri menuju ruangan direktur Kim. Suasana hatinya benar-benar bagus hari ini. Senyumnya mengembang saat masuk ke dalam ruangan. Direktur Kim dan asisten yang lebih dulu berada di dalam menyambutnya dengan hangat. 

(Jadi yang bertanggung jawab menginterogasi Woo Jin adalah, Dong Soo?.

Woo Jin kembali bermimpi buruk. Lagi-lagi Woo Jin melihat Seung Hee yang meninggal di depan matanya. Saat Woo Jin terbangun wajah yang pertama dia lihat adalah Eun Bi. Eun Bi tampak khawatir dan bertanya, "Ahjushi, kau baik-baik saja?". Woo Jin heran kenapa Eun Bi ada disini. 

Eun Bi menyahut tentu saja kehadirannya disini karena mengkhawtirkan Woo Jin. Kabag Han yang melarangnya untuk membangunkan Woo Jin sampai Woo Jin terbangun sendiri. Eun Bi juga memberitahu kabag Han yang baru saja kembali ke kantor. Woo Jin berusaha duduk meski  harus meringis menahan sakit. Woo Jin menyuruh Eun Bi pergi. 

Eun Bi heran kenapa Woo Jin selalu terluka setiap kali dan harus dirawat di rumah sakit, "Kau kan bukan detektif?". Woo Jin tahu pasti kabag Han yang bilang kalau ia terluka setiap kali. 

Direktur Choi datang menjengkuk. Eun Bi melihat tangan direktur Choi yang tidak membawa apa-apa langsung menyindirnya. Eun Bi berkata bagaimana bisa jaksa seperti Woo Jin disamakan dengan masyarakat luas. Orang yang di rawat di rumah sakit, setidaknya bisa mendapatkan jus jeruk, buah pir atau yang lainnya. 

Woo Jin tersenyum geli. Direktur Choi yang tahu sedang di sindir segera mengeluarkan dompetnya dan meminta maaf. Diretkur Choi memberi Eun Bi beberapa lembar uang agar Eun Bi bisa membeli jus atau buah, setelah itu kembalilah. Eun Bi menerimanya dengan senang hati. Setelah mengucapkan terima kasih, Eun Bi keluar dengan girang. 



Direktur Choi membahas masalah kemarin, ia berkata acara kemari sangat menarik untuk dilihat. Ia menebak pasti Woo Jin tahu kalau ia meletakan penyadap di dalam lipatan kerah jas. Woo Jin menyahut itu karena direktur Choi terlalu banyak menggerakan tangan.

Direktur Choi tertawa terbahak. Woo Jin juga ikut tertawa tapi hanya sebentar karena merasa kesakitan. Direktur Choi minta Woo Jin jangan pura-pura sakit seperti itu, ia tahu  tulang rusuk Woo Jin hanya patah beberapa.

(tuch kan direktur Choi aneh, masa patah tulang dianggap hal sepele)
 
Direktur Choi mengaku telah mendengar semua pembicaraan Woo Jin kemarin dengan sangat jelas. Tapi ia tak mudah percaya pada orang lain. Apalagi kalau harus percaya tentang pihak kejaksaan yang mempunyai kesepakatan dengan predsir Kim. Direktur Choi tidak bisa mempercayai hal itu begitu saja.

Wajah Woo Jin berubah serius. Direktur Choi tanya apa yang harus ia lalukan. Woo Jin berkata bukankah Divisi penyidik internal selalu mengawasi dan menangkap orang di saat yang tepat. Woo Jin tak peduli bagaimana caranya. Begitu penjahat itu di selediki secara resm, dia pasti akan langsung bersembunyi. 

Direktur Choi tanya apa sampai akhir nanti, Woo Jin tetap akan menjadikan dirinya sendiri sebagai umpan. Woo Jin menjawab selama ia masih bisa bernapas, penjahat itu tidak akan pernah berhenti bermain. 

Woo Jin lalu tanya bagaimana dengan Mi Seon. Direktur Choi telah mengamankan Mi Seon, dia masih hidup dan dalam pengawasan. Hanya saja dia belum sadar. Woo Jin berkata dokter yang mengoperasi anak Mi Seon masih hidup, apa direktur Choi tahu siapa dokter itu. Direktur Choi menjawab saat ini penyidik Go pergi untuk mencarinya. Semalam kabag Han juga ikut mencari dokter itu. Direktur Chooi mengatakan Woo Jin sungguh beruntung memiliki anak buah yang baik. 

Penyidik Go telah menemukan keberadaan dokter yang tidak bertanggung jawab itu. Meski sekarang dia sedang berhadapan dengan penyidik Go, tapi dokter itu sama sekali tidak menunjukan rasa penyesalan. Dokter mengaku kalau memang dirinya lah yang mengoperasi anak Han Mi Seon, tapi apa yang terjadi pada Mi Seon saat ini tidak ada hubungan dengannya sama sekali. Dengan sombongnya dia malah menyuruh penyidik Go untuk pergi. 

Penyidik Go kesal, sebenarnya ia juga langsung ingin pergi dari sini dan membiarkan dokter itu mati begitu saja. Dokter yang terkejut mendengar itu bertanya apa maksud perkataan penyidik Go barusan. Penyidik Go mengatakan bahwa sekarang ini ada seseorang yang sedang mengawasi dokter. 

"Seseorang yang ingin membunuhmu. Semua orang yang terlibat dalam masalah ini sudah mati. Tinggal kau seorang yang masih hidup. Kau mengerti maksudku, kan?".  

Dokter itu terlihat takut. Penyidik Go berkata diantara orang-orang yang sudah mati itu, ada yang memiliki 300 orang pengawal, tapi dia tetap saja mati. Dokter berusaha menyangkal, saat mengoperasi anak Mi Seon, ia sama sekali tidak minum alkohol. Dokter berkata karena penyidik Go dari kejaksaan, seharusnya penyidik Go bisa melihatnya dengan lebih jelas, "Saat itu aku jelas-jelas dinyatakan tidak bersalah". 

Penyidik Go mengangguk, tapi ia sama sekali tidak percaya dengan pernyataan yang tidak masuk akal. Penyidik Go bangkit dari tempat duduknya dan melangkah pergi. Kemudian ia berbalik dan berpesan, "Cari 500 pengawal untuk menjagamu. Aku pergi". 

Penyidik Go keluar dari rumah sakit, tapi tidak sendiri melainkan bersama sang dokter. Rupanya dokter ini benar-benar takut akan menjadi korban selanjutnya. Penyidik Go menjalankan mobil meninggalkan rumah sakit, tanpa dia sadari ada seseorang yang mengikuti mobilnya di belakang. Orang itu adalah Yoo Chang Seon, mantan narapidana yang baru keluar hari ini. 



Taski yang di kendarai Chang Seon terus mengikuti kemana mobil penyidik Go pergi. Penyidik Go melihat dari kaca spion, merasa curiga dengan taksi yang terus mengekor di belakang. Penyidik Go berbelok ke arah kiri, dan taksi itu tetap mengikuti. Ia sadar tengah di ikuti.

Chang Seon menerima sms, entah apa isi sms itu tapi yang jelas setelah membacanya, ia pun menancap gas lebih dalam untuk mempercepat laju mobil dan menghadang mobil penyidik Go. Saat itu hujan turun, dengan wajah bengisnya Chang Seon turun dari mobil dan langsung menuju ke tempat dokter berada.  


Karena pintu terkunci, Chang Seon mengedor-ngedor kaca dengan beringas. Penyidik Go turun dari mobil dan berpesan agar dokter jangan membuka pintu. Tapi ternyata tenaga Chang Seon sangat kuat, ia berhasil memecahkan kaca mobil hanya dengan beberapa hantaman saja. Dengan cepat Chang Seon menusukan pisau yang ia pegang ke arah dokter. Dokter berhasil menghidar dan pisaunya mengenai jok mobil. 

Chang Seon tidak putus asa, dia berusaha membuka pintu mobil. Tepat saat itu dokter lansung menendang pintu mobil yang membuat Chang Seon terpental kebelakang. Saat Chang Seon kembali ingin menyerang dokter, saat itulah penyidik Go datang menghalangi. 

Jadinya Chang Seon malah berbalik menyerang penyidik Go. Kesempatan ini digunakan dokter untuk lari menyelamatkan diri. Terjadi perkelahian yang sengit antara penyidik Go dan Chang Seon. Sampai akhirnya Chang Seon menusuk perut penyidik Go. Penyidik Go dapat melihat dengan jelas wajah Chang Seon. 

Tanpa ekspersi Chang Seon meninggalkan penyidik Go yang tergeletak kesakitan di atas aspal. Chang Seon kembali ke mobil dan tidak mendapati dokter disana. Tapi Chan Seong malah tersenyum. Ia melihat kesekeliling dan mengirim pesan menanyakan keberadaan dokter. Seketika itu juga ponsel dokter berbunyi.

Dengan sisa-sisa tenaganya, penyidik Go berusaha bangkit dan menghubungi seseorang.

Dokter yang saat ini bersembunyi di balik mesin genset merasakan ketakutan luar biasa. Meski begitu, ia masih sempat membuka pesan yang masuk ke ponselnya, "Dimana?. Kau bersembunyi dimana?". 

Dokter teriak ketakutan ketika melihat Chang Seon yang tiba-tiba saja sudah berada di atas mesin genset. Dokter berusaha lari, tapi dengan cepat Chang Seon menangkapnya lalu menyeretnya tanpa ampun menyebrangi zebra cross dan membunuhnya disana. 




Woo Jin berjalan ke ruangan Mi Seon sembari menekan penannya. Di luar ada polisi yang berjaga, polisi itu mengenali Woo Jin dan membiarkannya untuk masuk. Woo Jin duduk di samping Mi Seon yang saat itu sedang tidur. Seluruh badannya di ikat, untuk mencegah Mi Seon bertindak nekat. 

"Aku minta maaf. Dunia ini terlihat seperti ini", ucap Woo Jin lirih.

Tapi rupanya Mi Seon tidak tidur, ia membuka mata dan membalas perkataan Woo Jin, "Hanya dengan balas dendam dunia ini akan menjadi indah. Jadi keadilan tidak akan pernah menjadi seperti sungai yang kering". 

Mi Seon meneteskan air mata. Woo Jin terkejut sekaligus sedih atas ucapan Mi Seon. (Miris memang, terkadang keadilan tidak berpihak ke pada rakyat kecil). 


Woo Jin keluar dari ruang rawat Mi Seon sembari memegangi kepalanya yang sakit. Ia berpapasan dengan Chang Seon yang berjalan menuju keruangan Mi Seon. Tentu saja Woo Jin tidak mengenali Chang Seon. Dari ujung lorong terlihat Eun Bi yang berlari menghampiri Woo Jin dengan cemas.

"Yeonggam, kau kemana saja. Handphonemu terus berdering. Cepat telpon balik", Eun Bi menyerahkan ponsel Woo Jin yang dia bawa. 

Eun Bi juga memberitahu tentang penyidik Go yang ditusuk seseorang. Eun Bi takut, apa penyidik Go akan mati. Eun Bi mengajak Woo Jin untuk segera melihat keadaan penyidik Go. 

Woo Jin terkejut dan bertanya seberapa parah luka tusuk penyidik Go.  Saat Woo Jin akan menghubungi seseorang, saat itulah mereka mendengar suara jeritan yang berasal dari ruang rawat Mi Seon. Disusul seorang perawat wanita yang berlari ketakutan. Petugas polisi yang berjaga di luar sudah tergelatak tak berdaya. 

Woo Jin segera berlari menuju ruang Mi Seon dan melihat wanita itu yang sudah tidak bernyawa lagi. Mi Seon meninggal akibat luka tusuk di badannya. Darah segar yang keluar dari tubuhnya membanjiri tempat tidur. 

Woo Jin melihat salah satu jendela yang terbuka, mengira si pembunuh pergi dengan melompat dari jendela. Padahal sebenarnya Chang Seon masih bersembunyi di dalam ruangan. Saat Woo Jin berjalan menuju jendela, saat itulah Chang Seon keluar dari persembunyian dan hendak menusuk Woo Jin.
  Tepat saat itu Eun Bi masuk, dengan gerakan cepat Eun Bi mengambil pisau Seon ke dan menusuk kaki pria itu. Chang Seon terkejut dan sangat marah. Ia balik menyerang Eun Bi. Secara refleks Eun Bi menghindari serangan Chang Seon. 

Woo Jin menendang Chang Seon. Eun Bi berlari berlindung di belakang Woo Jin. Woo Jin memasang kuda-kuda siap menyerang Chang Seon. Tapi Chang Seon malah tersenyum dan menyapa Woo Jin, "Lama tak jumpa, jaksa Cha".

Woo Jin heran karena tidak mengenali Chang Seon, "Kau siapa?. Kau mengenalku?". Chang Seon tidak menjawab, ia melompat ke jendela. 

Tanpa memperdulikan rasa sakitnya, Woo Jin berlari mengejar Chang Seon. Eun Bi juga ikut lari. Chang Seon tidak bisa berlari dengan kencang karena saat itu salah satu kakinya sakit. 



Woo Jin menyuruh Eun Bi untuk kembali karena ini berbahaya. Eun Bi tidak mau, "Berbahaya apanya?. Kau juga manusia, ahjushi". Bahkan Eun Bi berlari lebih cepat dari Woo Jin. 

Saat berlari, Chang Seon sempat menabrak sepasang kekasih yang baru keluar dari toko sepatu, hingga membuat sepasang sepatu yang mereka beli jatuh. Si pria menunduk untuk mengambil sepatunya. Eun Bi yang saat itu sedang terburu-buru langsung melompati si pria. (Woah...Eun Bi keren...^^). 
  Eun Bi kembali berlari, namun ia mendadak berhenti dan tersenyum. Eun Bi berbalik untuk mengambil sepatu, setelah itu Eun Bi menghampiri pria pemilik sepatu. Awalnya pria pemilik sepatu mengira Eun Bi akan mengembalikan sepatu miliknya, tapi yang terjadi Eun Bi malah mengambil sepatu yang ada di tangan pria itu. Sepasang kekasih itu hanya bisa menatap bingung melihat Eun Bi yang pergi membawa sepatu mereka.

Ternyata sepasang sepatu itu Eun Bi berikan pada Woo Jin yang berlari tanpa memakai alas kaki. 

Chang Seon menyebarang jalan dan menabrak seseorang yang membawa banyak kotak berisi barang dagangan. Tabrakan itu membuat barang dagangan terhambur di jalanan. Chang Seon  terjatuh. Saat hendak berdiri ia meraba saku celananya dan menyadari kalau ponselnya juga ikut terjatuh.

Chang Seon berusaha mencari ponselnya yang tercampur dengan ponsel-ponsel lain milik pedagang. Rupanya Chang Seon menabrak pedagang ponsel. Belum berhasil Chang Seon menemukan ponselnya, ia malah melihat Eun Bi yang hampir dekat dengannya. Tanpa pikir dua kali, Chang Seon langsung lari. 

Eun Bi yang melihat banyak ponsel di hadapannya langsung tergiur. Ia berhenti untuk memilih ponsel yang ada di  hadapannya. Eun Bi mengambil ponsel yang saat itu berbunyi, tidak salah lagi, ponsel yang Eun Bi ambil pasti milik Chang Seon. Tapi Eun Bi tidak mengetahui hal itu, ia bersorak girang karena mendapatkan ponsel baru.

Woo Jin mengucapkan terima kasih karena Eun Bi sudah banyak membantunya. Ia juga menyuruh Eun Bi untuk segera menghubungi kabag Han. Setelah itu, Woo Jin kembali lari mengajar Chang Seon. 

Eun Bi menelpon kabag Han dengan menggunakan ponsel yang baru saja dia dapat. Dalam sekejap kabag Han dapat menemukan lokasi mereka. Kabag Han menatap layar monitor di depannya, alat pelacak menunjukan di Stadion Mado-lah, Eun Bi dan Woo Jin kini berada. Kabag Han menelpon polisi dan minta mereka untuk segera mengirim pasukan ke Stasiun Mado. 

Eun Bi yang saat itu masih terhubung dangan kabag Han merasa bingung, bagaimana kabag Han tahu, padahal ia belum ia memberitahu di mana lokasi dirinya dan Woo Jin berada saat ini. Kabag Han menjawab Eun Bi tidak perlu tahu, ia balik tanya di mana Woo Jin. Apa dia baik-baik saja?. Eun Bi yang menyadari sesuatu tidak menjawab pertanyaan Kabag Han. Sehingga membuat kabag Han cemas.
  Woo Jin terus mengejar Chang Seon yang berlari ke stasiun kereta api bawah tanah. Eun Bi berusaha lari sekencang-kencangnya menyusul mereka. Saking terburu-burunya, Eun Bi sampai menabrak pengendara sepeda. Tanpa memperdulikan rasa sakitnya, Eun Bi bangkit dan terus mengejar Woo Jin. 

Chang Seon yang kini berada di jembatan layang merasa tersudut. Jauh di hadapannya ada pasukan polisi yang berlari ke arahnya, sementara di belakang ada Woo Jin yang hanya berjarak beberapa meter darinya. Sementara Eun Bi yang sudah berada di bawah jembatan, di larang polisi untuk naik, karena bagi mereka Eun Bi masih anak kecil..hehe..

Chang Seon yang menghadap Woo Jin mengepalkan tinjunya. Woo Jin juga melakukan hal yang sama. Woo Jin lebih dulu menyerang, tapi Chang Seon berhasil menghindar dan tersenyum menatap Woo Jin, membuat yang di pandang merasa heran sekaligus kesal.

Woo Jin kembali melayangkan tinjunya dan kali ini berhasil mengenai wajah Chang Seon. Woo Jin memukul lagi dan lagi hingga Chang Seon tersudut. Anehnya, Chang Seon terlihat seperti tidak mempunyai niat untuk membalas pukulan Woo Jin. 

"Apa yang sebenarnya kau lakukan?", tanya Woo Jin. 

Chang Seon tersenyum senang, "Untung saja aku masih sempat menyapamu".

Dengan pelan Chang Seon mendorong Woo Jin menjauh dan berkata, "Keluargaku....jaga mereka baik-baik". Woo Jin diam dengan wajah bingung, karena ia merasa tidak mengenal Chang Seon, apalagi keluarganya. 

Chang Seon melompat turun, tapi Woo Jin masih sempat memegangi Chang Seon dengan kedua tangannya. Eun Bi yang melihat dari bawah merasa sangat khawatir. Woo Jin meminta Chang Seon memegang tangannya dengan erat. 

Namun, Chang Seon berkeinginan lain, "Jaksa Cha, lepaskan aku. Jika kau terus begini, kau juga akan kehilangan nyawamu". 

Woo Jin mengeratkan pegangannya dan minta pada Chang Seon untuk berhenti bicara (anehnya, kenapa semua polisi yang ada di sana kok malah diam aja jadi penonton). 

Chang Seon melihat sebuah truk yang melaju dibawahnya. Sebelum melepaskan pegangannya pada Woo Jin, Chang Seon mengucapkan kalimat terakhirnya, "Jaksa Cha, aku mencintaimu".

Woo Jin yang tak mengerti artinya menganggap Chang Seon gila. Sedetik kemudian, Chang Seon menarik tangannya. Woo Jin syok melihat tubuh Chang Seon yang terhempas kebawah dan menabrak truk yang melaju dengan kencang. Semua terjadi begitu cepat. Chang Seon tewas seketika itu juga. 

END 

Komentar :
Sampai episode 3 ini masih banyak misteri dan teka-teki yang belum terpecahkan. Siapa dalang di balik semua ini?. Kenapa dalang Mr. X itu selalu menyuruh orang lain untuk bunuh diri, setelah membantu mereka membalaskan dendam. Lalu apa hubungannya dengan Woo Jin?. Apakah dalang semua ini sama dengan kasus Woo Jin 15 tahun lalu?.

Banyak pertanyaan yang muncul di benak saya. Tapi dari situlah daya tarik drama bergenre Thriller dan Mystery seperti ini. Tak hanya sekedar menonton saja, tapi kita juga dibuat berpikir untuk menghubungkan kejadian satu dengan lainnya, yang tentunya berhubungan satu sama lain. Hitung-hitung melatih kerja otak..hehehe..

Tentang balas dendam. Apakah dengan membalas dendam hidup kita akan lebih indah dan damai?. Tentu tidak bukan. Seseorang yang menyimpan dendam di hatinya tidak akan pernah merasakan ketenangan batin. Karena hatinya akan selalu di tumbuhi rasa benci dan amarah. #song, "Jagalah hati, jangan kau nodai. Jagalah hati, lentera hidup ini".