Pages - Menu

Friday, May 15, 2015

Sinopsis My Brilliant Life Part 2

Ah Reum dan Mr. Jang duduk di tempat favorit mereka. Ah Reum memberitahu Mr. Jang mulai besok ia akan di rawat di rumah sakit. Mr. Jang bertanya kapan Ah Reum akan pulang. Ah Reum menjawab mungkin disaat kondisinya lebih baik. Mr. Jang yakin, Ah Reum akan cepat pulang.

Mr. Jang mengajak Ah Reum bersulang, Mr. Jang minum soju sedangkan Ah Reum minum susu. Ah Reum yang merasa penasaran bertanya apa rasa soju enak. Mr. Jang menjawab tentu saja rasanya pahit. Ah Reum heran, kenapa Mr. Jang suka minum soju meski tahu rasanya pahit. Mr. Jang mengibaratkan soju seperti kehidupan.

"Apa kau berhenti menjalani hidup karena pahit?. Tidak, kan. Sama halnya dengan soju. Kau terlalu muda untuk mengerti".




Ah Reum kemudian menanyakan sesuatu, apa normal bagi seorang gadis memutuskan untuk tetap menjadi temannya, meski tahu kondisi ia yang sebenarnya. Mr. Jang berkata tentu saja itu tidak normal dan mungkin saja gadis itu juga sakit. Ah Reum kaget dari mana Mr. Jang tahu kalau gadis yang dia maksud itu sakit.

Mr. Jang tak menyangka tebakannya ternyata benar, padahal tadi ia hanya bercanda. Mr. Jang lalu bertanya apa gadis itu menyukai Ah Reum. Ah Reum bercerita mendapatkan email dari seorang gadis, dan agak merepotkan membalasnya, tapi ia juga merasa penasaran. Mr. Jang berkata wanita memang merepotkan dan membuat penasaran.

Mr. Jang lalu memarahi Ah Reum, "Kenapa kau begitu rumit, kau ini masih kecil. Ikuti saja perasaanmu".

"Ya. Sesuai perasaanku", ucap Ah Reum mengerti.

Ah Reum lalu menunjuk ayah Mr. Jang yang berjalan dan tampak kebingungan. Mr. Jang segera menghampiri ayahnya yang sudah pikun dan berkata rumah mereka bukan disini. Ah Reum ikut menghampiri mereka dan menyapa ayah Mr. jang. Karena wajah Ah Reum tampak tua, ayah Mr. Jang memberi salam dengan hormat dan bicara dalam bahasa formal, mengira Ah Reum pria tua sama seperti dirinya.

Mr. Jang pamit pada Ah Reum dan membawa ayahnya pergi, tapi kemudian dia berbalik ingat sesuatu. Mr. Jang bertanya, saat di rumah sakit nanti Ah Reum akan tinggal di ruang Pediatri (kamar anak-anak) atau Geriatri (kamar manula). Ditanya begitu Ah Reum malah bingung.

Awalnya Ah Reum di rawat di ruang Pediatri. Dia hanya bisa bengong melihat anak-anak disekelilingnya ribut bermain. Salah satu dari pasien anak mendekati Ah Reum, menyodorkan lolipopnya pada Ah Reum, "Kakek", panggilnya.

Panggilan itu membuat yang lainnya memperhatikan Ah Reum. Ada pasien anak yang menangis dan ada juga yang menyebut Ah Reum kakek-kakek karena keriput di wajahnya. Mi Ra yang saat itu sibuk menyusun barang-barang Ah Reum, segera menutup tirai agar Ah Reum tidak menjadi pusat perhatian.

Ah Reum lalu dipindahkan keruang Geriatri. Disana ada relawan gereja yang sedang mendoakan pasien lain. Ketiga wanita itu lalu mendekati Ah Reum yang sendiri dan sedang tidur. Salah satu dari mereka menjelaskan kalau Ah Reum menderita Pregoria.

Tanpa di minta mereka langsung mendoakan Ah Reum dengan lagu puji-pujian. Ah Reum yang semula tidur menjadi bangun dan takut pada 3 wanita asing di depannya. Tepat saat itu Dae Soo dan Mi Ra datang. Dae Soo bertanya sedang apa kalian?.

"Apa kau keluarganya?", tanya salah satu dari ketiga wanita itu, yang merupakan ketua relawan.

"Ya. Aku ayahnya", jawab Dae Soo.

Wanita itu memegang tangan Dae Soo dan berkata kalau Ah Reum adalah sebuah pesan yang dititipkan oleh tuhan bagi para pendosa. Ia mengajak Dae Soo berdoa untuk mengusir setan Pregoria di dalam diri Ah Reum. Dae Soo tidak tertarik, anaknya bukan pesan namanya Ah Reum. Dae Soo yang merasa terganggu menyuruh mereka keluar.

Setelah ketiga wanita itu pergi, Seung Chan dan Photographer Kim datang membawa banyak hadiah untuk Ah Reum. Hadiah itu dari pemirsa yang menonton tayangan Ah Reum. Diantara hadiah itu ada playstation portable. Ah Reum biasa saja menerima hadiah itu, malah Dae Soo yang terlihat senang seperti anak kecil.

Malam harinya, saat yang lainnya tidur, Ah Reum membalas email Sun Ha. Ia menutupi dirinya di balik selimut mengetik kata-kata balasan.

"Terima kasih atas emailmu. Terima kasih sudah menyemangati aku dan mengatakan jangan menyerah. Kau juga akan lekas sembuh. Dari Han Ah Reum".

Keesokan harinya dibangku taman rumah sakit, Ah Reum mengecek email. Ada satu pesan masuk, Ah Reum membukanya dengan mata setengah terpejam, takut kalau email itu bukan dari Sun Ha. Senyum menghiasi wajah Ah Reum setelah melihat email dari orang yang dia harapkan.

"Kubaca ratusan kali emailmu. Awalnya aku tertawa, tapi kemudian aku menyadari.....bahwa kau takut. Tapi aku senang kau menulis kata 'tegar'. Bolehkan aku menulis email lagi?".

Ah Reum jadi bingung sendiri, memang kenapa dengan emailku?. Ah Reum pun membalas,

"Awalnya aku ragu ketika membaca suratmu. Aku takut itu cuma email iseng".

Scene memperlihatkan saat sebelumnya ketika Ah Reum banyak menerima email iseng yang mengejeknya. 

"Maaf sudah salah paham. Aku tak tahu kau sakit apa, tapi semoga kau lekas sembuh. Aku tulus. Jika boleh, balas suratku. Sampai jumpa".

.Di lain hari Ah Reum menerima email balasan dari Sun Ha.

"Jika boleh, balas suratku. Aku tertawa saat membacanya. Kau menyatakan perasaanmu dengan menarik. Aku ingin menghiburmu dengan lagu ini. Kuharap lagu ini dan aku bisa menjadi teman sejatimu. Selamat malam".

Ah Reum memasang earphone dan mendengarkan lagu kiriman Sun Ha. Lagu berirama lembut itu menjadi pengantar Ah Reum tidur. Ruang rawat Ah Reum berubah menjadi padang rumput yang hijau.

Ah Reum bermimpi menjadi remaja yang sehat dan tampan. Menikmati alam bebas dan berenang di sungai yang jernih.

Pagi harinya, Ah Reum terbangun dengan senyum di wajah, mengingat mimpi indahnya semalam. Samar-samar, Ah Reum mendengar percakapan Mi Ra dan Seung Chan dari balik tirai. Seung Chan ingin Ah Reum tampil sekali lagi di episode lanjutan acara "Berbagi Kebahagiaan".

Mi Ra tidak setuju mengkhawatirkan kondisi Ah Reum yang terlalu lemah. Seung Chan mengerti, tapi ini adalah perintah dari atasannya. Ia minta Mi Ra memikirkan posisinya, tanggapan dari pemirsa sangat positif. Tetap saja Mi Ra tidak bisa melakukannya.

Ah Reum sengaja berdehem untuk memberi tanda kalau ia sudah bangun, lalu membuka tirai yang menghalangi. Tanpa di duga, Ah Reum bersedia muncul kembali dalam acara tersebut. Mi Ra melarang, "Tidak perlu. Kita sudah banyak mendapatkan sumbangan. Tapi Ah Reum sama sekali tidak keberatan, sebaliknya ia terlihat antutias mengikuti acara itu.

Saat makan siang, Mi Ra mengatakan ia tahu maksud Ah Reum bersedia mengikuti acara itu. Itu karena Ah Reum tidak ingin melihatnya bekerja keras. Ah Reum membenarkan, "Ibu memang pintar. Ibu bisa masuk ke universitas Harvard".

Mi Ra tersenyum, "Tapi, jika ayah tahu kau melakukan ini untuk dia, ayahmu pasti akan sedih".

"Tidak apa-apa. Ayah tidak akan tahu", ujar Ah Reum menenangkan.

Mi Ra jadi ingat kemana ayah Ah Reum di hari libur begini. Mi Ra mengambil ponsel, menghubungi Dae Soo. Di dalam tas ibunya yang terbuka, tanpa sengaja Ah Reum melihat obat anti mual untuk ibu hamil.

"Ibu, apa ibu sakit?", tanya Ah Reum menatap ke dalam tas Mi Ra

"Tidak. Ini hanya vitamin", jawab Mi Ra buru-buru menutup tasnya. Mi Ra lalu berguman heran dimana sebenarnya Dae Soo saat ini.

Dae Soo saat ini berada dipasar tengah menghadapi para penjual yang sedang berdemo. Rupanya Dae Soo mengambil pekerjaan paruh waktu sebagai bodyguard. Para pendemo itu marah dan melempari bodyguard dengan ikan asin, tahu, dan sayur-sayuran lainnya. Dae Soo berdiri paling depan menerima serangan dari para penjual yang sedang marah. Salah satu teman Dae Soo menariknya untuk segera pergi dari tempat itu.

Sembari membersihkan diri, Dae Soo mengeluh pekerjaan yang tengah di jalaninya ini sangat sulit. Teman Dae Soo memberikan amplop berisi uang jasa dan mengajaknya pergi ke sauna. Dae Soo mengambil amlop itu dan mengucapkan terima kasih. Lalu mentraktir temannya minum kopi.

Teman Dae Soo menawari Dae Soo pekerjaan untuk minggu depan. Akan ada konser dan acara festival yang membutuhkan tenaga ekstra. Konser tersebut bertajuk "Star Date", acara wawancara langsung dengan Girl's Generation. Mata Dae Soo langsung berbinar-binar mendengar nama girlband idolanya.

Dae Soo berjalan di koridor rumah sakit dengan membawa 2 kantong plastik berisi makanan. Tanpa sengaja ia bertabrakan dengan ketua relawan gereja yang ia usir tempo hari. Melihat wajah wanita itu, Dae Soo ingin buru-buru pergi. Tapi ketua relawan menahan Dae Soo dan memberinya nasehat.

"Melihat kondisi putramu, kau harus rajin berdoa. Tuhan kami mendengar doa semua orang. Amin".

Dae Soo lalu berdoa dengan caranya sendiri, "Amitabha", ucapnya

"Kau bisa masuk neraka", ucap wanita itu kesal

"Baik. Sampai jumpa disana", jawab Dae Soo setengah mengejek lalu pergi, membuat wanita itu kesal bukan main.

Setengah berlari Dae Soo masuk keruang rawat Ah Reum, "Ayah membawa ayam goreng", ucapnya riang. Perawat yang sedang memeriksa melarang Ah Reum makan, karena Ah Reum harus menjalani test kesehatan besok.

Dae Soo jadi tidak enak hati, ia lupa kalau besok Ah Reum harus menjalani test kesehatan. Mi Ra mengomeli Dae Soo, kenapa bisa lupa padahal pemberitahuan itu sudah tertempel di ranjang Ah Reum sejak pagi. Mi Ra yang kesal berjalan keluar.

Sayang sekali padahal Dae Soo berlari kesini agar Ah Reum bisa menikmati ayam ini selagi masih hangat. Ah Reum berkata akan makan ayam itu setelah menjalani test. Dae Soo membenarkan dengan begitu masalah selesai.

Dengan cueknya, Dae Soo melahap ayam goreng di depan Ah Reum dan berkata paha ayam paling enak di santap selagi masih hangat. Bunyi kress dari tepung yang digigt membuat Ah Reum tergiur dan menelan ludah. Tapi Dae Soo tidak memperhatikan itu, ia malah bertanya kenapa Ah Reum tidak pernah memainkan playstation hadiah dari pemirsa.

"Kau bahkan belum membuka segel kotaknya. Ah Reum, kenapa kau tidak mencobanya?. Jika kau tidak suka...berikan untuk ayah".

"Baik", jawab Ah Reum tanpa berpikir.

Dae Soo menyuruh Ah Reum untuk mencoba permainan itu lebih dulu, sebelum playstasion itu benar-benar menjadi miliknya. Haha..bapak satu ini yach...

Mi Ra duduk termenung di lobby, lalu datang Dae Soo memberikan amplop berisi uang yang dia terima hari ini. Mi Ra menerima uang itu dan memuji Dae Soo yang telah bekerja keras. Kemudian Mi Ra menunjukan buku rekening. Banyak sumbangan dari donatur masuk ke rekening mereka.

Mi Ra berpikir apa alasan para donatur mau membantu mereka menghadapi kesulitan ini. Diantaranya ada donatur yang memberikan sumbangan 10 juta won tanpa mencantumkan nama. Dae Soo terkejut dan ingin mengucapkan terima kasih pada orang tersebut. Mi Ra juga ingin melakukannya, tapi Seung Chan melarang tidak baik mencari mereka.

Dengan sumbangan yang mereka terima, Mi Ra minta Dae Soo jangan bekerja terlalu keras. Bermainlah dengan Ah Reum di hari libur. Dae Soo tersenyum, ia ingin terus bekerja untuk membelikan putranya barang-barang yang bagus. Dan saat Ah Reum keluar rumah sakit, mereka perlu rumah yang tidak memiliki tangga. Mi Ra tersenyum, pasti akan menyenangkan.

Flashback.

Dae Soo dan Mi Ra berjalan-jalan. Mi Ra mengelus kandungannya yang telah membesar dan bertanya pada Dae Soo, "Kau ingin anak kita menjadi apa?". Bukannya menjawab Dae Soo malah heran dengan gaya bicara Mi Ra yang menggunakan aksen seoul. Terasa aneh di dengar.

Mi Ra ingin belajar aksen orang Seoul walau memang terasa canggung. Lalu ia kembali bertanya, "Kau ingin anak kita menjadi apa?". Dae Soo tidak tahu, jago olahraga seperti dirinya atau pintar bermain musik seperti Mi Ra. Dae Soo lalu bertanya pendapat Mi Ra.

Mi Ra ingin anaknya kelak disukai semua orang. Dae Soo berkata kalau begitu anak mereka harus pintar dan tampan. Mi Ra membenarkan. Tapi Dae Soo tidak suka, menurutnya itu merupakan tipe orang yang menyebalkan seperti murid pindahan, Seung Chan. Terlihat jelas kalau Dae Soo cemburu dengan Seung Chan.

Tapi setelah di pikirkan, Dae Soo tidak peduli kelak anaknya akan menjadi apa. Yang terpenting anak mereka sehat. Mi Ra setuju.

Flashback end.

Mr. Jang mengunjungi Ah Reum tepat di saat Ah Reum selesai syuting. Mr. Jang memanggil Dae Soo "Pria Tua". Dae Soo tersenyum melambaikan tangan ke arah Mr. Jang. Dae Soo berkata kita sama-sama pria tua. Mr. Jang tertawa membenarkan lalu duduk di samping Ah Reum. Mr. Jang memuji Ah Reum yang terlihat seperti bintang film. Ah Reum tersenyum, "Benarkah?".

Seung Chan lewat di depan mereka dan menoleh saat Ah Reum memanggilnya. Mr. Jang cemberut ketika melihat Seung Chan, ia masih kesal karena hanya muncul sedikit di televisi.

Ah Reum menghampiri Seung Chan untuk mengucapkan terima kasih. Seung Chan heran, terima kasih untuk apa?. Seung Chan berterima kasih karena Seung Chan telah memberikan alamat emailnya pada Sun Ha.

Tapi Seung Chan tidak merasa melakukannya, "Kurasa salah satu stafku yang memberikannya. Maaf, aku akan memarahi mereka nanti".

"Tidak. Berkat itu aku mendapat teman baik", ucap Ah Reum tersenyum.

Seung Chan ingin tahu siapa Sun Ha yang di maksud Ah Reum. Ah Reum hanya tahu nama dan usianya. Dia sakit dan di rawat di rumah sakit juga. Seung Chan mengerti dan pamit pergi. Sampai jumpa minggu depan. Sebelum Seung Chan pergi, Ah Reum meminta tolong agar cerita tentang Sun Ha di rahasiakan. Seung Chan mengedipkan sebelah matanya, "Baiklah. Aku mengerti".

Ah Reum kembali ke tempat duduknya. Mr. Jang bertanya apa Ah Reum syuting lagi. Ah Reum membenarkan tayangan terakhir kali mendapat tanggapan positif. Mr. Jang masih merasa kesal pada Seung Chan. Produser itu sudah merekam banyak tapi wajahnya hanya muncul tak lebih dari 20 detik. Mr. Jang bertanya jadi kapan Ah Reum akan syuting lagi.

"Setiap hari Rabu, seminggu sekali", jawab Ah Reum

"Rabu?. Rabu, kan?", tanya Mr. Jang tertarik dan sepertinya dia akan datang lagi pada rabu depan.,,, Hihihi...





Hari beranjak malam ketika Ah Reum mengirim email pada Sun Ha, "Sun Ha-ah, aku tak tahu banyak tentangmu. Bisakah kau menceritakan tentangmu?".

Keesokan harinya, Ah Reum menerima balasan, "Aku tidak bermaksud menyembunyikannya. Maaf, jika kau merasa begitu. Ibuku meninggal karena infeksi sumsum tulang belakang. Aku mengidap penyakit yang sama dengan ibu. Dan ayah banyak berkorban demi aku"

Ah Reum membalas, "Ayahku juga menyerah akan semuanya demi aku.... mimpi dan pendidikan mereka".

Sun Ha, "Aku ingin menjadi penulis. Ayahku ingin aku menjadi dokter. Jadi, kukatakan aku ingin menjadi dokter pada ayah. Tapi impian asliku adalah menjadi seorang penulis. Menurutku para penulis luar biasa".

Ah Reum : Sun Ah-ah. Impiaku juga menjadi penulis. Aku baru-baru ini menulis tentang orangtuaku. 

Ah Reum berhenti sejenak mengetik, melihat kedua orangtuanya yang sedang pulas tertidur di bawah ranjang. Ah Reum tersenyum dan kembali menulis balasan.

"Ketika orang tuaku berusia 17 tahun, mereka pertama kali bertemu di tengah hutan. Saat itu ayahku diskors dari sekolah dan dia menghabiskan musim panas di lembah sungai. Ketika ibu muncul, ayahku mengira ibuku seorang bidadari. Ibu ingin pindah ke Seoul untuk menjadi penyanyi dan ayah ingin menjadi atlet nasional.  


Dae Soo kembali menjadi bodyguard. Kali ini dia mengawal Taetiseo yang sedang berada di ruang make up. Dae Soo tampak gugup dan menahan napas melihat artis idolanya berada di depan matanya. Ia bahkan tidak bisa menutup mulutnya saking terpesona pada kecantikan 3 gadis muda itu.

Seohyun yang pertama kali melihat Dae Soo dan menyadari kalau Dae Soo bodyguard baru. Taeyeon memuji Dae Soo sangat tampan. Dipuji seperti itu, Dae Soo tersenyum simpul dan memberi salam dengan formal. Teman Dae Soo memberitahu kalau Dae Soo adalah seniornya di tempat mereka kerja dulu. 

Seohyun kagum, Dae Soo tampak lebih muda dari usianya. "Berapa usiamu?", tanya Taeyeon. Teman Dae Soo berkata Dae Soo memang tampak muda tapi dia punya seorang putra berusia 16 tahun. Tiffany hampir tak percaya mendengarnya, "Benarkah?". 

"Jadi, kapan kau memiliki anakmu?", tanya Taeyeon ingin tahu. 

"Ketika aku 17 tahun", jawab Dae Soo malu-malu. 

Taetiseo tersenyum mengacungkan jempolnya pada Dae Soo. Kru film datang memberi tahu Taetiseo untuk bersiap-siap. Mereka lalu keluar dari ruang make up menuju tempat syuting dengan di kawal para bodyguard, salah satunya tentu saja Dae Soo. 

Saat acara "Star Date" dimulai, Dae Soo malah terus menoleh ke arah kamera. Kebetulan saat itu, Ah Reum tengah menyaksikan acara Star Date. Ah Reum menunjuk kelayar TV, "Bukankah itu ayah?". 

Mi Ra kaget, "Sedang apa dia disana?. Aku tak percaya ini.....". 

Mi Ra terdiam melihat Taetiseo yang tampak cantik dan berkilauan. Mi Ra melamun mengingatkannya mimpinya dulu. Melihat ibunya yang terdiam dan melamun seperti itu, Ah Reum memotret ibunya. Mi Ra baru tersadar dari lamunan ketika mendengar bunyi klik dari kamera tablet Ah Reum. 

Mi Ra bertanya apa yang Ah Reum lakukan. Ah Reum pura-pura tidak tahu, tidak ada jawabnya. Mi Ra tersenyum dan kembali melanjutkan sulamannya yang sempat terhenti. 

Ah Reum pun sibuk dengan tabletnya, mengedit foto Mi Ra. Ia menambahkan gambar sayap di punggung ibunya lengkap dengan bintang-bintang di sekitarnya. Seperti bidadari. 

Ah Reum sedang mengetik di laptop ketika Seung Chan datang berkunjung dengan membawa satu pot bunga. Seung Chan menutup tirai dan mengajak Ah Reum bicara. Langsung pada topik pembicaraan, Seung Chan bertanya apa Ah Reum masih berhubungan dengan Sun Ha?. 

Ah Reum membenarkan. Seung Chan bertanya apa Ah Reum punya nomor telpon Sun Ha?. Ah Reum hanya tahu alamat emailnya. Seung Chan bertanya bolehkan dia meminta alamat email Sun Ha. Ah Reum balik tanya untuk apa?. 

Seung Chan berkata, di rapat sebelumnya, pihak produksi berinsiatif memperkenalkan persahabatan antara Ah Reum dengan Sun Ha di episode berikutnya. Ah Reum kaget, "Apa?. Bukankah sudah kubilang untuk merahasiakannya?". 

Seung Chan meminta maaf tidak sengaja mengatakannya saat rapat, "Tapi, bisakah kau membantuku?". 

"Tapi mungkin dia akan menolaknya?", kata Ah Reum tidak yakin. 

"Jika dia menolaknya, aku juga tidak akan melakukannya. Tapi lewat acara ini bisa membantunya juga. Dan ini bisa menjadi kesempatanmu untuk bertemu dengannya secara langsung". 

Di syuting episode selanjutnya, Ah Reum di tanya apakah dia pernah menyukai seseorang. Ah Reum menjawab ibuku, ayah, nenek, kakek dan Taeyeon dari Girl's Generation.  Mr. Jang yang baru datang melihat syuting Ah Reum. Kru film melarang Mr. Jang mendekat. 

Ah Reum yang melihat Mr. Jang menambahkan kalau Mr. Jang adalah tetangga sebelah yang dia sukai. Dengan bangga, Mr. Jang menunjuk-nunjuk dirinya. Syuting di hentikan karena Ah Reum batuk-batuk. 

Seung Chan berdiskusi dengan Mi Ra mengenai kondisi Ah Reum yang tidak mungkin melanjutkan syuting hari ini. Mr. Jang yang sejak tadi mondar mandir bertanya apa Ah Reum baik-baik saja?. Mi Ra menjawab Ah Reum butuh istirahat.

Seung Chan mengenali Mr. Jang sebagai tetangga Ah Reum. Dan apa yang di inginkan Mr. Jang terwujud karena Seung Chan mengajakanya wawancara. Tentu saja Mr. Jang mengiyakannya tanpa berpikir 2 kali. 

Tapi syuting tidaklah semudah yang Mr. Jang bayangkan. Mr. Jang menjadi gugup begitu berhadapan dengan kamera. Photographer Kim bertanya, Ah Reum itu anak seperti apa. Saking gugupnya, Mr. Jang berkali-kali salah menyebut nama Ah Reum. Seung Chan memberi pengarahan agar Mr. Jang tidak menatap kamera, anggap saja kamera tidak ada dan cukup bicara dengan Photographer Kim.

Pada pengambilan gambar selanjutnya, Mr. Jang malah mengumpat Ah Reum bocah tengik. Mr. Jang jadi kesal sendiri, ada apa dengannya hari ini padahal ia sudah banyak berlatih di rumah. Setelah berhasil menenangkan dirinya, Mr. Jang bercerita, "Ah Reum adalah seorang teman. Temanku". 

Selesai syuting, Mr. Jang mendatangi Ah Reum dengan membawa segelas minuman untuk dirinya dan susu untuk Ah Reum. Mr. Jang mengakui kalau syurting tidaklah mudah. Mr. Jang menanyakan keadaan Ah Reum, "Kau baik-baik saja?". Ah Reum mengangguk.

Mr. Jang lalu mengeluarkan kotak obat di sakunya, mengambilnya beberapa butir dan meminumnya. Ah Reum yang melihatnya heran, "Mr. Jang, apa kau sakit?". 

"Akan aneh jika seusianya tidak sakit" sahut Mr. Jang

"Ah. benar juga. Tapi, kau tampak muda di usiamu", kata Ah Reum. 

Mereka di kagetkan dengan kemunculan 3 remaja yang berlarian masuk ke rumah sakit. Ketiga remaja itu meminta maaf karena telah mengagetkan mereka. Setelah para remaja itu pergi, Mr. Jang berkomentar para remaja itu tidak tahu betapa menyenangkannya masa muda. 

"Mereka terlalu sehat sampai tidak tahu kalau mereka sehat", tambah Ah Reum. 

"Ada hal lain yang tidak mereka tahu. Mereka juga akan bertambah tua", ujar Mr. Jang. Mereka lalu tertawa. Benar juga.
Ah Reum sedang membaca novel di tabletnya ketika Dr. Lee datang memeriksa. Cepat-cepat Mi Ra membangungkan Dae Soo yang sedang tidur dibawah ranjang. Walau masih mengantuk, mau tak mau Dae Soo bangung. 

Dr. Lee bertanya apa yang sedang Ah Reum baca. Ah Reum menjawab sedang membaca novel yang bercerita tentang kapal anak India yang tenggelam dalam perjalanan ke Amerika.  Jadi dia naik kapal penyelamat bersama harimau.

"Jangan membacanya", ucap Dr. Lee langsung merampas tab dari tangan Ah Reum lalu memberikannya pada Dae Soo, "Jika dia menyipitkan matanya, jangan biarkan dia membaca. Komputer, TV, buku, apa saja. Kalian tahu seberapa parah kondisi matanya". 

Berbeda dengan Dae Soo dan Mi Ra mengangguk patuh. Ah Reum bertanya, "Lalu, apa yang kulakukan disini?". 

"Diobati, tentu saja", jawab Dr. Lee, "Dilarang minum alkohol, rokok dan kafein", ucap Dr. Lee kemudian, lalu sadar kalau ia keliru, Ah Reum masih muda mana mungkin melakukannya. Mi Ra mengulum senyum geli. Hahaha

Untuk membuang malu, Dr. Lee berkata terlepas dari penampilannya yang tampak tua, Ah Reum tetaplah seorang remaja yang memiliki banyak rasa penasaran. Jadi lakukan semua itu saat Ah Reum kuliah.

Dr. Lee mempersilahkan Dae Soo untuk melanjutkan tidurnya, sebelum pergi dia menyuruh Ah Reum untuk memejamkan mata dan bermeditasi. Mi Ra tersenyum melihat Dr. Lee yang terkadang lucu. Dae Soo yang masih mengantuk melanjutkan kembali tidurnya yang sempat terganggu.


Di salah satu emailnya, Ah Reum mengajukan permintaan meski awalnya ia ragu melakukan ini, "Sun Ha-ah. Perlahan aku kehilangan penglihatanku. Bisakah kau mengirimi fotomu. Aku tidak ingin menyesal nanti, jadi aku memberanikan diri". 

Agak lama Sun Ha baru membalas, "Maaf lama membalas. Aku lama memikirkan permintaanmu. Memang tidak adil hanya aku yang tahu wajahmu. Aku bahkan tahu wajah orang tuamu. Aku tak tahu kau menyukainya atau tidak, tapi kukirim kan satu foto".

Bukan foto wajah yang di kirim Sun Ha, melainkan sebuah foto telapak tangan seorang gadis yang tampak sehat dan halus, berbeda dengan telapak tangan Ah Reum yang keriput dan kusam. 

Ah Reum menyentuh foto telapak tangan itu dan mulai membayangkan  wajah Sun Ha. Ah Reum membayangkan dirinya yang sehat berjalan bergandengan tangan bersama Sun Ha di tengah hutan. Meski tampak malu-malu, tetapi keduanya tidak mau melepaskan gengaman mereka. 

"Ah Reum-ah, kapan kau merasa ingin hidup?. Kapan saat kau ingin tetap merasa hidup", tanya Sun Ha. 

Kembali pada kenyataan, Ah Reum mengusap jendela yang berembun dan menjawab pertanyaan Sun Ha, "Kapan saat aku ingin hidup?.


"Ketika aku melihat awan putih di langit biru"


"Ketika aku mendengar tawa anak kecil, aku ingin hidup"


"Di hari cerah, saat aku mencium bau jemuran dengan ibu"


 "Ketika aku melihat pemilik toko yang galak menangis seperti wanita saat menonton drama". 


"Ketika aku mendengar seorang nenek memanggil cucunya untuk makan malam"


"Ketika ibuku menyiram punggung ayah di musim panas"


"Ketika aku melihat bulan sabit setelah matahari terbenam bersama ayahku"

"Ketika aku melihat lampu pesawat berkedip dimalam hari, aku ingin hidup". 

"Sun Ha-ah, bagaimana denganmu?". 

10 hari berlalu sejak Ah Reum membalas email Sun Ha. Tapi email balasan yang Ah Reum nantikan tak kunjung tiba. Ah Reum merenung sedih menatap tabnya. Beberapa kali ia merefresh email, tapi tak ada pesan masuk. Ah Reum khawatir dan mencemaskan Sun Ha. Berharap Sun Ha segera membalas pesannya.


Bersambung ke Part 3 


Komentar :
Ah Reum anak yang baik, meski tidak pernah sekolah ia tergolong anak yang cerdas. Pengetahuan ia dapatkan dari banyaknya buku yang dia baca. Sayang penyakit yang dia derita, membuat Ah Reum terperangkap dalam tubuh anak kecil dengan penampilan seperti seorang kakek-kakek.