Saturday, September 13, 2014

Sinopsis Reset Episode 1 Part 2


Dari penyidik Go, Woo Jin mengetahui tentang Eun Bi yang di tangkap atas dugaan pembunuhan Kim In Seok. Penyidik Go mengatakan Kim In Seok di temukan tewas di depan sebuah bar di daerah Nonhyeon dengan luka memar di bagian kepala dan tulang belakang. Dilihat dari luka itu, penyidik Go menyimpulkan sebelum meninggal In Seok terjatuh setelah di pukul dan kemudian di tusuk benda tajam di kepala bagian belakang.

Woo Jin mengingat kejadian semalam bagaimana cara Eun Bi memukul wajah Dong Soo dengan lututnya. Gadis itu pintar berkelahi dan memang membawa benda tajam. Tapi Woo Jin menggeleng seakan tak percaya kalau Eun Bi benar-benar membunuh In Seok.

Woo Jin masuk ke ruangan yang berada disebelah ruangan interogasi, disana ada kelapa jaksa bersama asisten yang tengah menyaksikan proses interogasi. Kepala jaksa berkata seharusnya Woo Jin tak perlu datang kemari, ia terlihat senang karena baji**** seperti In Seok akhirnya mati di tangan gadis kecil seperti Eun Bi.

Eun Bi menangis ketakutan saat menjalani proses interogasi. Dengan air mata berlinang, Eun Bi berkata tidak pernah mempunyai niat ingin membunuh In Seok. Ia hanya mencoba lari untuk menghindari In Seok. Tapi pria itu malah bertingkah seperti orang gila yang mengejar dan menamparnya dengan keras. Air mata Eun Bi terus berlinang, sampai-sampai eyeliner yang ia kenakan luntur mengotori wajahnya. 

Dong Sook mengetahui kalau In Seok memang pria yang jahat dan pasti akan bertingkah seperti itu. Terlebih lagi Eun Bi masih di bawah umur, menurutnya apa yang dilakukan Eun Bi hanyalah bentuk pembelaan diri. Kemudian Dong Sook bertanya dimana Eun Bi menyembunyikan pisau saku yang Eun Bi gunakan untuk membunuh In Seok. 

Eun Bi menggeleng, sungguh ia tidak tahu dimana pisau itu berada. Eun Bi mengakui kalau ia memang memukul kepala In Seok tapi dia tidak ingat pernah menusuk kepala pria itu. Eun Bi terdiam sesaat seperti mengingat sesuatu. Dengan nada tersendat Eun Bi berkata, "mungkin kah ini karena pengaruh drugs". 

"Apa kau meminum drugs kemarin?", tanya Dong Soo 

Eun Bi mengangguk mengiyakan, "Saat aku kembali dari kamar mandi, aku melihat teman-temanku sudah mabuk berat. Tapi paman itu (In Seok) terus memaksa ku untuk meminumnya juga. Tapi setelah minum setengah aku merasa aneh, jadi tidak kuhabiskan". 

Dong Soo berkata jika memang benar demikian, pengakuan Eun Bi ini bisa di gunakan untuk pembelaan saat di pengadilan nanti. Eun Bi menambahkan ia memang merasa ada sesuatu yang aneh karena itu ia berusaha untuk kabur dari sana. 

Kepala jakasa yang mendengarnya dari ruangan sebeleh terkejut. Tidak menyangka gadis sebelia Eun Bi mengkomsumsi drugs (narkoba). Ia bertanya pada sang asisten bagaimana dengan hasil pemeriksaan test urine. Asisten menjawab dari hasil pemeriksaan yang di lakukan pihak kepolisian, Eun Bi positif menggunakan amfetamin. Hasil urine sudah dikirim ke NFS (National Forensik Service). 

Tapi Dong Sook tidak mempercayai perkataan Eun Bi begitu saja. Menurut keterangan bartender yang melihat kejadian itu, In Seok terus memukuli Eun Bi dan Eun Bi menyerang balik. Dong Sook sangat tahu pasti pukulan Eun Bi terasa sangat menyakitkan karena kepala ia pernah merasakan tendangan Eun Bi. 

Dong Sook mengambil kesimpulan jadi setelah kejadian itu, Eun Bi menggunakan pisau sakunya dan menusuk kepala bagian belakang pria itu. Eun Bi menyangkal, "Aku hanya menggunakannya untuk perlindungan saja. Percayalah padaku". 

"Jo Eun Bi", panggil Dong Sook dengan nada tinggi meraa kesal karena Eun Bi terus menyangkal tuduhan itu. 

Lalu dengan nada lebih pelan Dong Sook berkata mulanya ia pikir interogasi ini akan berjalan lancar jika Eun Bi bisa diajak kerja sama. Jika Eun Bi terus bersikap seperti ini, maka ia tak punya cara lain. Eun Bi menggeleng dan menangis, "Itu tidak benar. Aku tidak bisa mengingatnya. Kau terus bilang kalau aku yang menusuknya, jadi aku merasa benar-benar melakukannya". 

Dong Sook mendesak, "Katakan saja kalau kau memang menusuknya". 

Eun Bi menangis putus asa. Situasinya saat ini terpojok terlebih lagi tidak bisa menginggat kejadian semalam membuat Eun Bi tidak mempunyai pilihan lagin selain mengakui kalau sepertinya memang dirinya yang menyebabkan kematian In Seok. 

Setelah mendengar pengakuan Eun Bi, Dong Sook menoleh ke ruangan tempat kepala jaksa berada seraya tersenyum puas karena berhasil membuat Eun Bi mengakui kejahatannya. Jaksa kepala menganggukan kepala seperti memuji kerja keras Dong Sook. Asisten kepala jaksa ikut senang ternyata Dong Sook belum kehilangan kemampuannya sebagai seorang jaksa. Tinggal mencari senjata yang di gunakan untuk membunuh maka lengkap sudah buktinya. 

Asisten kepala jaksa memberi perintah pada Woo Jin untuk bertanya pada polisi dimana senjata yang di gunakan untuk membunuh. Woo Jin diam dari raut wajahnya dia tampak tidak yakin kalau Eun Bi pelakunya. 

Pria yang mengaku sebagai kakak Eun Bi di bawa sekelompok pria masuk ke dalam sebuah gedung. Di dalam sana dia melihat beberapa pria lain yang di pukuli oleh sekelompok bodyguard hingga membuat pria-pria muda itu tergelatak tak berdaya. Pemandangan itu tentu saja membuat kakak gadungan Eun Bi teriak ketakutan. Tapi tetap saja dia di seret masuk meski berusaha untuk memberontak. 

Para bodyguard ini menjorong kakak gadungan Eun Bi hingga dia jatuh berlutut di depan Presdir kimHoi Jang, yang tak lain adalah ayah dari Kim In Seok. Kakak gadungan Eun Bi menangis ketakutan dan berkata bukan dia yang membunuh Kim In Seok. Presdir kimtahu kalau bukan kakak gadungan Eun Bi yang membunuh putranya. Tapi ia marah karena kakak gadungan Eun Bi lah yang membawa putranya ke jalan kematian.

"Tolong lepaskan aku, tuan", pinta kakak gadungan Eun Bi penuh ketakutan. 

Presdir Kim menyuruh anak buahnya untuk memegangi kakak gadungan Eun Bi. Tanpa perasaan, presdir Kim memukul kepala pria itu dengan tongkat golf yang dia pegang. Terdengar suara darah yang muncrat dari kepala pria itu. 

Woo Jin mendapatkan ijin untuk menemui Eun Bi di ruang interogasi tapi hanya 10 menit. Eun Bi mengangkat kepalanya ketika mendengar suara seseorang masuk. Begitu Woo Jin duduk di depannya, Eun Bo bertanya siapa kau?. 

"Kau tidak ingat denganku?. Semalam kita bertemu di gang sempit", jawab Woo Jin.

Eun Bi ingat, "Ah ternyata kau teman si om jaksa. Kalau begitu kau juga seorang jaksa?".

Woo Jin mengiyakan. Ia meminta Eun Bi untuk menutup mata dan mendengarkan perkataannya mulai dari sekarang. Eun Bi yang heran bertanya untuk apa?. Woo Jin menjawab karena ia tahu Eun Bi tidak bersalah.

"Tutup matamu", pinta Woo Jin.

Semula Eun Bi terlihat enggan mengikuti perintah Woo Jin. Woo Jin meyakinkan kalau hanya ia satu-satunya orang yang percaya bahwa Eun Bi tidak bersalah dan tidak membunuh siapapun malam itu. Eun Bi membenarkan, "Sekarang kalau di pikirkan lagi bukan aku yang membunuhnya".

Karena itu Woo Jin minta agar Eun Bi mempercayainya, "Tutup matamu". Woo Jin mulai membunyikan ujung penannya. Tapi Eun Bi yang masih bingung tak juga menutup matanya. Woo Jin berkata tidak ada banyak waktu lagi yang tersisa, yang harus Eun Bi lakukan saat ini hanyalah fokus. Eun Bi akhirnya menurut mengikuti perintah Woo Jin.


Begitu Eun Bi memejamkan mata, Woo Jin membunyikan ujung penangnya beberapa kali. Dalam hitungan detik Eun Bi masuk ke dalam alam hipnotis. Woo Jin masuk ke dalam pikiran Eun Bi dan seakan bisa melihat kejadian malam itu. 

Di sebuah bar Eun Bi bersama ketiga temannya dan si pria yang mengaku sebagai kakak Eun Bi sedang bersenang-senang dan berkaraoke bersama. In Seok yang juga ada disana memberi beberapa lembar uang pada pria yang mengaku sebagai kakak Eun Bi. 
 
Waktu terus berjalan dan terlihat Eun Bi bersama ke tiganya temannya yang rebahan tidur di sofa entah karena kelelahan atau karena pengaruh obat dan alkohol. In Seok mendekati Eun Bi yang masih setengah sadar dan berkata, "Jadi kau tipe yang di sukai Cha Woo Jin?"

Woo Jin tersentak membuka matanya. Lalu ia kembali masuk ke dalam pikiran Eun Bi. Woo Jin kembali mendengar perkataan In Seok yang dia ucapkan pada Eun Bi, "Sebelum aku menyerahkanmu ke Woo Jin, kenapa tidak aku coba dulu". 

Yang terlihat kemudian Eun Bi berjalan sempoyongan keluar dari bar melewati gang sempit. Di belakangnya ada In Seok yang mengikuti, pria kasar itu menarik tangan Eun Bi dan menamparnya. Eun Bi balas memukul perut dan menendang wajah In Seok. Eun Bi melihat sebuah taksi terparkir di depan jalan. Tanpa pikir panjang ia langsung masuk ke dalam taksi tersebut. 

In Seok berusaha menarik Eun Bi keluar. Taksi mulai berjalan perlahan meninggalkan In Seok. Eun Bi sempat melihat sosok pria tua bertopi berdiri di belakang In Seok dan memperhatikan mereka.

"Dia punya tahi lalat besar di pipi kirinya", ucap Eun Bi masih dalam keadaan menutup mata. 

"Begitu kau mendengar bunyi klik 2 kali, buka matamu. Seperti kau baru saja terbangun dari mimpi", ucap Woo Jin lalu membunyikan penanya dua kali. 

Eun Bi membuka mata tak sadar apa yang telah terjadi, "Sudah selesai?". 

Woo Jin diam. Hipnotis Woo Jin membuat Eun Bi ingat sepenuhnya kejadian semalam yang membuktikan kalau dirinya bukanlah seorang pembunuh. Eun Bi menangis lega seraya memegang tangan Woo Jin, "Baguslah. Tidak ada seorang pun yang percaya padaku".

Woo Jin yang melihat tampak iba dan menepuk pelan punggun Eun Bi menenangkan gadis itu. 
Setelah itu Woo Jin menemui kepala jaksa dan mengutarakan niatnya untuk menangkap pelaku yang sebenarnya. Kepala jaksa tidak setuju kenapa Woo Jin harus ikut campur di saat tersangka Eun Bi sudah mengakui perbuatannya. Woo Jin menegaksan Eun Bi mengakui itu dalam keadaan terpaksa. Kesalahan ini tidak bisa di diamkan, nantinya publik akan mendapat kritikan karena melakukan penyelidikan secara paksa. 

Kepala jaksa melihat sekeliling dan bertanya apa Woo Jin tahu siapa ayah In Seok. Woo Jin sudah mengetahuinya, dia adalah presdir dari Grup GK. Kepala jaksa mengatakan presdir itu hanya panggilan halusnya saja nyatanya ayah In Seok itu lebih menakutkan dari mafia. 

"Anaknya baru saja mati. Kau tahu itu artinya apa?. Pria itu sedang marah besar. Dia menyusuri jalanan dan membuat orang-orang takut. Lalu apa yang harus kita lakukan. Kita tidak boleh membiarkan gadis itu keluar ruangan. Seseorang harus tahu dimana dia harus berlindung saat hujan. Ini semua demi kebaikan kantor kita. Kali ini kau serahakan saja kasusnya pada Dong Soo. Kau beristirahat saja. Mengerti". 

Kepala jaksa pergi. Woo Jin menghela napas berat. Mana mungkin Woo Jin diam saja membiarkan seseorang yang tidak bersalah di hukum atas kejahatan yang tidak dia lakukan. 

Woo Jin mempunyai cara lain dengan menghubungi pengacara Kim. Di luar kantor kejaksaan, ia melihat 5 orang pria bertubuh besar berdiri tak jauh dari kantor jaksa. Woo Jin menuju mobil hitam yang terparkir di seberang jalan. Di dalam mobil itu sudah ada pengacara Kim yang menunggu. 

"Siapa orang-orang itu?", tanya Woo Jin penasaran. 

Pengacara Kim menjawab mereka adalah para pemburu hadiah. Woo Jin bertanya apa orang-orang itu mencari Eun Bi. Pengacara Kim memjawab sekali Eun Bi melangkahkan kaki keluar, maka gadis itu akan mati. Woo Jin melihat ke tempat pria-pira itu berdiri. Apa yang dikatakan kepala jaksa memang benar. Eun Bi bisa mati di tangan pria-pria itu jika ia bertindak gegabah. 

Bersama pengacara Kim, Woo Jin menemui Presdir kimdi gedung yang sebelumnya di gunakan untuk membantai orang-orang yang tidak bersalah. Ketika Woo Jin sampai di sana, presdir Kim sedang berlatih main golf di dalam ruangan dengan baju putih yang ternoda darah segar.  

Tak hanya itu saja, di lantai juga ada genangan darah. Tapi presdir Kim sama sekali tidak merasa terganggu ataupun jijik dengan darah yang membasahi baju dan mengotori sebagian wajahnya. 

"Saya sudah datang, presdir", ucap pengacara Kim. 

Presdir Kim mengayunkan tongkatnya yang masih berlumuran darah lalu menatap pengacara Kim dan juga Woo Jin yang memberi hormat. Presdir Kim berkata bagus sekali Woo Jin datang atas kemauannya sendiri, lalu bertanya apa yang Woo Jin inginkan. 

"Saya akan mencari pembunuh yang sebenarnya", jawab Woo Jin.

Presdir Kim menyahut tentu saja Woo Jin harus melakukan hal itu. Itulah tugas seorang jaksa demi orang-orang yang telah membayar pajak yang digunakan untuk membayar gaji para jaksa. Woo Jin meminta agar presdir Kim jangan menyentuh Eun Bi. Presdir Kim mengatakan tidak seharusnya Woo Jin mengkhawatirkan orang lain karena menurutnya Woo Jin juga berperan besar dalam kematian putranya. 

"Bukankah anda ingin menemukan pembunuh anak anda yang sebenarnya, presdir?", tanya Woo Jin tidak takut. 

"Kalian tidak perlu melakukannya. Aku akan menangkapnya sendiri. Selama ada alasan untuk mencurigai mereka, akan kubunuh mereka semua. Kalau ada seseorang yang mencurigakan aku juga akan membunuhnya. Dan orang-orang disekitarnya juga akan mati. Diantara orang-orang itu pasti ada pembunuh yang sebenarnya". 

Woo Jin bertanya berapa banyak orang yang harus presdir kim bunuh agar bisa mendapatkan pembunuh sebenarnya?. 100 orang atau 1000 orang. Akankah pembunuh In Seok salah satu dari mereka. Woo Jin mengaku yang di lakukan kantor kejaksaan saat ini hanyalah mengkambing hitamkan Eun Bi.

Setelah Eun Bi di di jatuhi hukuman, investigasi akan selesai dan pembunuh sebenarnya tidak akan pernah di temukan. Woo Jin yakin presdir Kim tidak akan pernah bisa tidur nyenyak sampai pembunuh yang sebenarnya tertangkap. 

Woo Jin mengutip perkataan In Seok sebelumnya, "Di dunia ini hanya ada 2 tipe manusia. Entah dia itu teman atau musuh. Jangan jadi musuh saya". 

Presdir Kim tertawa mendengar kata yang terasa familiar di telinganya. Presdir Kim mengakui putranya memang tidak berperangai baik. Setiap hari yang In Seok lakukan hanyalah berbohong. Putranya itu juga membeli ijazah universitas yang tidak di ketahui di Amerika.

"Sejujurnya berulang kali aku ingin membunuhnya". 

Woo Jin mengerutkan kening tampak heran dengan penuturan presdir Kim. Presdir Kim berkata ia ragu saat berpikir untuk menyerahkan perusahaan pada putranya yang serakah dan tidak berguna itu. 

"Tapi.... aku menyayangi anak itu", sesaat presdir Kim terbawa perasaan menangisi kematian putranya. 

Presdir Kim mencoba mengendalikan dirinya. Ia akhirnya mau di ajak kerjasama dan memberi waktu 48 jam pada Woo Jin untuk menangkap pembunuh In Seok. Jika sampai batas waktu itu Woo Jin tidak juga menemukan pembunuh yang sebenarnya, maka Eun Bi akan mati. 

Presdir Kim mengayunkan tongkat glofnya dan bola golf melayang tepat di samping telinga Woo Jin. Beuh..bisa benjol kalo kena kepala. 

Woo Jin dan penyidik Go pergi ke apartemen Kim Hyeon Joo (pacar In Seok yang meninggal di bunuh In Seok). Tempat itu masih di segel pembatas polisi dan masih ada noda darah di lantai. Woo Jin mencari sesuatu yang bisa di gunakan untuk mencari petunjuk. 

Woo Jin membuka laci samping tempat tidur dan menemukan foto Hyeon Joo bersama ayah, ibu dan juga saudara perempuannya. Wajah ayah Hyeon Joo mirip dengan pria dalam ingatan Eun Bi berserta ciri-cirinya. Woo Jin meminta penyidik Go untuk memasukan ayah Hyeon Joo ke dalam daftar pencarian orang. 

Tak hanya Woo Jin yang mencari pria itu tapi juga orang-orang presdir Kim ikut sibuk mencari keberadaan ayah Hyeon Joo. 

Di sebuah terowongan terlihat ayah Hyeon Joo yang sedang menelpon istrinya. Ia bertanya apa "Boss" memperlakukan istrinya dengan baik. Ayah Hyeon Joo merasa lega setelah mendengar kabar istrinya yang baik-baik saja dan berkata akan segera menyusul istrinya.

Kepala jaksa memarahi Woo Jin yang ikut campur dalam kasus pembunuhan In Seok. Bukankah sudah ia bilang agar Woo Jin tidak ikut campur. Dong Sook tersenyum melihat Woo Jin di marahi. Woo Jin meminta maaf dan yakin kalau masalah ini akan cepat selesai.

Kepala jaksa tak mengerti kenapa Woo Jin memasukan orang tak bersalah dalam daftar pencarian tanpa adanya bukti, "Memangnya kau pikir kau siapa?". 

Penyidik Go tiba-tiba menyerbu masuk ke dalam ruangan kepala jaksa. Gantian penyidik Go yang di omeli kepala jaksa karena masuk keruanngannya tanpa mengetuk pintu dulu. Penyidik Go membungkukan badan meminta maaf, "Maafkan aku tuan, ini masalah penting". 

"Apa kau syuting drama sejarah?. Ya. Ada perlu apa yang mulia?", semprot kepala jaksa kesal. Sementara asisten kepala tesenyum geli melihat tingkah laku atasannya.  

Penyidik Go memberitahu Woo Jin ada telepon dari orang yang saat ini sedang mereka cari. Pria bernama Kim Man Cheol, ayah Kim Hyeon Joo yang di curigai membunuh In Seok. 

"Apa katanya?", tanya Woo Jin bangkit dari tempat duduknya.

"Dia bilang ingin menyerahkan diri. Dia bilang dia yang membunuh Kim In Seok. Dia ingin kemari dan menjelaskannya", jawab penyidik Go. 

Kepala jaksa bertanya siapa orang itu. Asisten menjelaskan yang sedang di bicarakan penyidik Go adalah orang yang barusan kepala jaksa bilang tidak bersalah. Pelaku pembunuhan yang sebenarnya. Pria itu merupakan ayah dari wanita yang di bunuh Kim In Seok. 

Kepala jaksa yang awalnya memarahi Woo Jin balik memujinya, "Aigo. Jadi ternyata itu benar. Bagus..bagus... Kau memang kebanggan tim kita, Kim Woo Jin". Pujian ini tentu saja membuat Dong Soo kesal. 

Woo Jin beserta yang lainnya menunggu kedatangan Kim Man Cheol di depan kantor kejaksaan. Asisten kepala jaksa tidak sabar menunjuk bertanya jam berapa Man Cheol akan datang. Penyidik Go berkata seharusanya dia sudah ada disini sekarang. Sedetik kemudian sebuah mobil pick up berwarna putih datang. 

Petugas keamanan yang bertugas langsung mendatangi mobil tersebut. Petugas meminta Man Cheol untuk turun dan ikut dengannya. Tapi Man Cheol tidak mau, "Aku tidak ada urusan denganmu. Aku ingin bertemu dengan jaksa Cha Woo Jin".

Petugas tersenyum tipis menanggapi perkataan Man Cheol. Senyum tipisnya itu berubah menjadi wajah tegang saat melihat Man Choel menodongkan pistol kearahnya. Petugas mengangkat kedua tangan mundur sambil berlari kebelakang bergabung dengan yang lainnya dan teriak kalau pelaku membawa pistol. 

Petugas lain yang membawa pistol ikut menodongkan benda itu dari jarah jauh. Asisten kepala jaksa ketakutan. Dapat dari mana pria itu itu pistol. Petugas tidak tahu yang jelas si pelaku ingin bertemu dengan jaksa Cha Woo Jin. 

Asisten kepala jaksa panik. Apa orang tua itu gila. Dia datang ingin menyerahkan diri tapi kenapa malah membawa pistol. Dengan langkah tenang Woo Jin jalan menghampiri Man Cheol membuat asisten kepala jaksa semakin panik atas keselamatan Woo Jin. 

Wajah Kim Man Cheol tampak sedih saat Woo Jin mendekatinya, "Apa kau jaksa Cho Woo Jin", tanyannya yang dijawab anggukan oleh Woo Jin. 

Man Cheol kemudian bernyanyi lirih, "Dalam lautanku ada kesedihan yang mendalam dan tekanan yang tidak di perlukan yang menyentak ke depan".

Man Cheol berhenti bernyanyi dan bertanya pasti Woo Jin tahu dengan lagu yang baru saja ia nyanyikan. Woo Jin terdiam menerima pertanyaan itu. Man Cheol tersenyum dan berkata orang lain tidak akan tahu lagu ini tapi Woo Jin pasti mengetahuinya. 


Man Cheol kembali bernyanyi dan kali ini berhasil membangkitkan emosi dalam diri Woo Jin. Air mata Woo Jin menetes, ia meraih kerah baju pria tua itu dan bertanya, "Siapa kau?. Bagaimana bisa kau tahu lagu ini?". 

Man Choel menodongkan pistol, "Paket kiriman sudah sampai, benar kan?. Kalau begitu aku harus merokok dan pergi ke suatu tempat". 

Woo Jin bertanya lagi bagaimana Man Cheol tahu lagu ini. Man Cheol tak menjawab, ia meletakan pistolnya kemudian mengambil rokok dan menyalakan rokok itu dengan api dari kertas yang dia bakar. Penyidik Go dan asisten kepala yang melihat dari jauh merasa aneh dengan tingkah pelaku sekaligus khawatir dengan Woo Jin. 

Di dalam mobil Woo Jin melihat ada satu jerigen bensin yang terbuka. Setelah menyalakan rokoknya, Man Choel menjatuhkan kertas yang masih terbakar ke atas jerigen tersebut. Dalam sekejap api memenuhi mobil. Woo Jin berusaha mengeluarkan Man Cheol tapi pria itu tak bergeming sama sekali. Sepertinya Man Choen memang  sengaja ingin membakar dirinya sendiri. 

Woo Jin yang panik terus berusaha untuk mengerluarkan Man Choel. Penyidik Go lari ke arah Woo Jin dan menariknya menjauhi mobil yang sudah terbakar. Tak lama kemudian mobil meledak, api besar berkobar membumbung tinggi ke atas langit. 

Woo Jin melihat api yang menari-nari di atas mobil. Dan api itu membawa ingatan Woo Jin kembali ke masa lalu. 

Kilasan masa lalu Woo Jin bermunculan di benaknya. Pria muda yang muncul dalam mimpi Woo Jin adalah dirinya sewaktu remaja. Ia ingat masa-masa bahagia yang dia lalui bersama Seung Hee, pacar Woo Jin yang berwajah mirip dengan Eun Bi.

Kala itu mereka berdua saling mencintai dan sering menghabiskan waktu bersama. Sebelum akhirnya sebuah kejadian mengerikan terjadi dan memisahkan mereka. Woo Jin juga ingat bagaimana Eun Bi meninggal.

"Aku ingat semuanya. Aku ingat semuanya", ucap Woo Jin dengan mata berkilat api.


END