Sunday, September 28, 2014

Sinopsis Reset Episode 3 Part 1


Episode 3 

=Detik-detik Kematian=


Asisten direktur Kim dan juga aparat-aparat berpangkat tinggi lainnya berada di tempat Park Gi Taek. Tujuan mereka datang ke tempat ini untuk membongkar brankas milik Gi Taek. Karena tak ada satupun yang mengetahui kodenya, maka mereka memanggil jasa service untuk membongkar bagian pintu dengan menggunakan las.



Tapi ketika berhasil di buka ternyata di dalamnya ada pintu lain yang tentu saja memiliki kode rahasia lain. Petugas service saja sampai keheranan di buatnya. Brankas itu telah di desain sedemikian rupa sehingga tidak mudah untuk di bobol.

Asisten direktur Kim bertanya butuh berapa lama untuk membongkarnya. Petugas service tidak tahu pasti, yang jelas ia harus membukanya secara perlahan-lahan.



 Selama proses pembongkaran itu, asisten tengah berbicara dengan direktur Kim melalui telepon. Asisten melaporkan perkembangan saat ini kalau brankas milik Gi Taek belum selesai di bongkar.



Direktur Kim tak mau tahu pokoknya buku rekening rahasia itu harus berhasil mereka dapatkan. Asisten mengerti, tapi suasana di sini benar-benar menyeramkan. Selain mereka tenyata banyak pihak lain yang juga menginginkan buku tersebut. 



Direktur Kim kesal, "Apa maksudmu?. Kita punya surat pengeledahan. Dasar preman-preman itu. Usir mereka semua!". 



Asisten mengaku sudah mengatakan kalau ia membawa surat pengeledahan tapi orang-orang itu terlalu mendominasi. Lagipula ia merasa tak mempunyai kuasa untuk mengusir orang-orang dari tingkatan seperti mereka. 



Direktur Kim tahu siapa orang-orang yang di maksud oleh asisten. Ia marah dan menyuruh asisten untuk menghentikan pekerjaan petugas service, "Biar mereka menelponku kalau tidak puas. Aku yang akan mengurusnya. Kalau tidak ada yang setuju, brankas itu tidak boleh di buka". 



Usai menutup telpon, asisten menyuruh petugas service untuk berhenti bekerja. Orang-orang itu langsung marah. Mereka tak punya waktu lagi untuk menunggu. Asisten minta mereka untuk tenang karena ia punya surat pengeledahan resmi bukan main-main. Saat asisten sibuk berargumen dengan orang-orang itu, petugas service telah menyelesaikan pekerjaannya. Ia mengatakan pada yang lain kalau pintu brankasnya telah berhasil di buka. 



Langsung saja orang-orang yang merasa berkepentingan ini berebut ingin melihat isi di dalamnya. Meski asisten terus-terus'an berkata kalau ia mempunyai surat resmi namun seruan itu tidak di hiraukan oleh mereka. 



Tapi apa daya, ternyata brankas itu hanya berisi beberapa dokumen yang mereka anggap tidak penting. Jelas saja hal ini membuat mereka marah sekaligus kecewa. Asisten kembali menelpon direktur Kim untuk memberitahu kalau tidak ada apa-apa di dalam brankas itu. 



Direktur Kim pun sama marah dengannya orang-orang itu. Ia yakin pasti ada seseorang yang mengambilnya terlebih dahulu. 



(Anda benar, pak. Dan orang itu adalah jaksa Cha Woo Jin). 



Kabag Han siap berangkat kerja. Eun Bi mengantarnya hingga di depan rumah. Sebelum pergi, kabag Han mengingatkan agar Eun Bi tetap tinggal disini jangan kemana-mana. Eun Bi menyahut mengerti. Kabag Han hendak berbalik pergi tapi tidak jadi. Ia menghadap untuk mengingatkan Eun Bi satu hal, "Kalau kau ketahuan merokok di dalam rumah, apa yang sudah ku katakan padamu?".



"Aku akan mati", jawab Eun Bi tersenyum manis. 



"Benar", jawab Kabag Han lalu berbalik pergi saat kabag Han berbalik Eun Bi ngedumel sendirian. Haha...



Tiba-tiba berhenti 2 mobil kejaksaan. Para petugas kejaksaan yang berada di dalamnya turun dari mobil dengan membawa tas. Mereka serempatk melewati kabag Han begitu saja, menuju rumah Woo Jin. Kabag Han yang melihatnya jadi panik dan mengikuti mereka sembari bertanya apa yang terjadi.



Sepertinya petugas tahu kalau Woo Jin tidak ada di rumah. Karena mereka langsung mencongkel rumah kunci untuk bisa masuk. Seharusnya menekan bel dulu kan, itu baru bener. Kabag Han kembali bertanya, "Ada apa ini?'. Salah satu petugas menunjukan kartu identitasnya. Mereka adalah petugas dari Devisi Penyidik Internal Kantor Kejaksaan Seoul.



Woo Jin dan penyidik Go baru tiba di kantor kejaksaan saat penyidik Go menerima telepon dari kabag Han. Penyidik Go kaget mendengar rumah Woo Jin di geledah oleh petugas dari Devisi penyidik internal kantor kejaksaan Seoul. 



Penyidik Go menutup telpon dan ingin memberitahu Woo Jin tentang hal ini. Bersamaan dengan itu langkah Woo Jin di hadang oleh 2 pria berjas. Meminta Woo Jin untuk ikut dengan mereka. Penyidik Go bertanya pada kedua pria itu, apa kalian mempunyai surat penangkapan. Salah satu dari mereka tersenyum meremehkan dan balik bertanya. Apa petugas dari devisi khusus seperti mereka masih membutuhkan surat penangkapan?. 



Penyidik Go ingin protes tapi Woo Jin minta pada penyidik jangan ikut campur. Dengan suka rela Woo Jin mengikuti kedua pria itu. 



Rumah Woo Jin seperti kapal pecah akibat di obrak abrik oleh para petugas yang mengaku dari kantor kejaksaan Seoul. Tidak salah lagi mereka mencari buku rekening rahasia milik Park Gi Taek. Jaksa yang memimpin pengeledahan meminta pada para penyidik untuk mencari dengan benar sampai ke setiap sudut. Jangan ada yang terlewatkan. Bentuk buku itu sama dengan buku agenda biasa lainnya.



Kabag Han dan Eun Bi melihat tanpa bisa melakukan apa-apa. Eun Bi berguman dan bertanya-tanya sendiri. Buku rekening?. Buku agenda?. Eun Bi ingat kejadian semalam saat tanpa sengaja tangannya menyengol cangkir kopi dan membuat isinya tumpah mengenai salah satu buku yang berada di meja kerja Woo Jin. Eun Bi berpikir mungkin buku itu yang dicari oleh orang-orang ini.



(cari sampai botak, gak bakal nemu..hehehe).


Direktur Kim bersama sang asisten berada di sebelah ruang interogasi ketika kepala departemen (Direktur) Choi datang diteman 2 stafnya. Direktur Kim berada di sana untuk melihat Woo Jin yang akan di interogasi. Tanpa basa-basi Direktur Choi langsung menyuruh direktur Kim untuk keluar ruangan. Dengan kata lain, ia yang akan mengambail alih. Meski awalnya kaget, tapi direktur Kim tidak bisa membantah. 



Mulanya direktur Kim benar-benar akan pergi, tapi bisikan asisten membuat direktur Kim berubah pikiran. Direktur Kim mengatakan bahwa dirinya tidak bisa pergi dan akan membantu penyidikan yang tidak resmi ini, "Bagaimana bisa aku tidak ikut campur?". 



"Oke. Membunuh 2 ekor burung dengan 1 batu lumayan juga", jawab direktur Choi bernada gertakan.



Asisten direktur Kim berbisik, "Membunuh 2 burung dengan 1 satu batu?". 



Direktur Choi melihat wajah direktur Kim dan asisten yang tampak cemas. Tapi ia tidak terlalu memperdulikan hal itu dan fokus melihat Woo Jin di ruang interogasi. Direktur Choi menoleh pada salah satu stafnya dan mengangguk. Pria itu mengangguk mengerti dan pergi ke ruang interogasi. 



Direktur Choi melihat ke monitor yang memperlihatkan rekaman CCTV saat Woo Jin datang ke perusahaan Park Gi Taek. Direktur Kim terkejut melihat rekaman itu, "Kenapa dia ada disana?".



Direktur Choi menjawab bukankah direktur Kim yang memanggil Woo Jin datang menemui Gi Taek. Direktur Kim tidak merasa melakukannya tentu saja menyangkal, "Apa yang kau katakan?. Omong kosong".



"Aku mengerti. Kalau bukan, ya sudah", jawab direktur Choi santai.



Jaksa dari kantor kejaksaan Seoul yang menginterogasi Woo Jin langsung bertanya dimana Woo Jin menyimpan buku rekening rahasia milik Gi Taek. Direktur Kim yang mendengarnya kaget dan berguman sendiri, "Buku rekening?. Woo Jin?"



Woo Jin tahu kalau hari ini rumahnya di geledah. Jaksa mengakuinya dan karena ia minta Woo Jin mengatakan dimana buku rekening itu di simpan. Woo Jin pura-pura tak mengerti, "Entahlah. Kau ini bicara tentang apa?". 



"Kalau begitu, ini apa?", jaksa memutar laptopnya. Ada rekaman video saat Woo Jin keluar dari perusahaan Gi Taek. Saat Woo Jin berjalan, jasnya tertiup angin dan terlihat permukaan dari buku rekening yang Woo Jin selipkan di pinggang sebelah kiri. 



Woo Jin berdalih tidak bisa melihat rekaman itu dengan jelas, "Ah..iya. Mungkinkah buku hutang?", jawab Woo Jin tersenyum sinis. 



"Lumayan. Dalam kondisi seperti ini, dia masih bisa bercanda", komentar direktur Choi. 



Direktur Kim penasaran. Apa itu benar?. Benarkah Woo Jin yang membawa buku rekening itu?. Dengan nada mengejek, direktur Kim tanya apa direktur Kim di jebak oleh orang sendiri?. Direktur Kim menyahut tidak mungkin seperti itu. 



Direktur Choi mengatakan sudah sejak lama ia mengincar buku rekening Park bersaudara. Jika buku rekening itu terungkap maka kantor kejaksaan dan lingkaran politik yang terlibat di dalamnya harus siap menanggalkan seragamnya, "Tentunya kau tidak termaksud di dalamnya, kan?", tanya direktur Choi menyindir. 



"Tentu saja tidak", jawab direktur Kim 


"Tapi kemarin Woo Jin membawa buku rekening itu dan setelah itu Gi Taek meninggal. Selain itu dia (Woo Jin) juga bersengkongkol dengan presdir Kim (ayah Kim In Seok). Pembunuh anak presdir Kim, Kim Man Choel datang padanya sebelum bunuh diri. Dalam situasi seperti ini Devisi penyidik internal harus bergerak. Kenapa?. Kau masih merasa aneh?". 



"Tidak. Aneh apanya...", sahut direktur Kim dengan wajah berat. 


Eun Bi dan kabag Han membereskan bekas kekacauan yang di sebabkan oleh para penyidik. Eun Bi bertanya apa pentingnya buku sialan itu?. Kabag Han berkata buku rekening memang selalu menimbulkan banyak masalah. Orang-orang itu pasti membutuhkan obat. Racun tikus. 



Eun Bi tampak tak mengerti. Kabag han berkata sebaiknya Eun Bi tidak perlu tahu sesuatu seperti itu. Dilarang seperti itu malah membuat Eun Bi penasaran. Pasti arti buku itu sangat penting. Kabag Han membenarkan. Keberadaan buku itu benar-benar penting. Sangat penting. Karena hidup beberapa pejabat sangat berkaitan dengan buku itu. 



Kembali ke ruang interogasi. Jaksa mengulang perkataan Woo Jin yang mengatakan bahwa dalam penyelidikan di ketahui Kim Man Cheol menemui Park Gi Taek. Jaksa kemudian bertanya apa yang di katakan Kim Man Cheol sebelum bakar diri. 



"Hanya ingin merokok dan mematik apinya", jawab Woo Jin menutupi kejadian yang sebenarnya.



"Jadi kau memberikan alat untuk Kim Man Cheol supaya dia bisa bunuh diri?. Apa dia bilang ingin mati sendirian atau.....memintamu menyelamatkannya?".
 

"Tidak", jawab Woo Jin menatap tajam.



Jaksa tak mengerti kenapa Kim Man Cheol ingin bertemu dengan Woo Jin bukan dengan jaksa yang saat itu menangangi kasusnya (jaksa Dong Soo) dan kenapa Kim Man Cheol harus menyebut nama Woo Jin sebelum menyerahkan diri. 



"Tidak tahu", jawab Woo Jin



Jaksa tertawa tidak percaya, "Tidak tahu?. Oke?. Kalau begitu haruskah aku yang memberitahumu?". 



Diruang sebelah, direktur Kim dan asisten saling pandang dengan wajah tegang. 


Jaksa berdiri membaca tulisan dari dokumen yang dia pegang, "Sangat sedih...marah... Angin puyuh yang bergejolak di atas laut. Suatu kenangan di dunia ini muncul dalam tangisan karena terlalu lelah. Saat ini, ingin sekali memejamkan mata untuk tidur, kau tahu kata-kata itu, kan?. Sebelum Kim Man Cheol bunuh diri, dia mengatakan ini padamu?".



Woo Jin menelan ludah sembari menutup matanya. Jaksa bertanya, "Kenapa?. Sekarang kau sudah ingat?. Mau ku baca sampai akhir?". 



Direktur Kim bertanya pada direktur Choi benarkah sebelum bunuh diri, Kim Man Cheol mengatakan sesuatu pada Woo Jin?. Direktur Choi menjawab pembaca gerak bibir terbaik di negeri ini membaca apa yang terjadi pada Kim Man Cheol melalui rekaman CCTV. 



"Apa yang sebenarnya kau lakukan pada Kim Man Cheol sampai membuatnya bunuh diri!", bentak jaksa membanting dokumen ke meja. 



Woo Jin tetap diam. Jaksa mulai kesal, ia menuduh Woo Jin tetap bungkam karena takut akan ancaman presdir Kim. Jaksa yakin Woo Jin telah mengancam Kim Man Cheol supaya mau melakukan bunuh diri. Atau Kim Man Cheol hanya sebuah boneka saja?. 



Woo Jin tetap diam tak menjawab sederet pertanyaan itu. Hingga akhirnya dia mulai menyanyikan lirik lagu yang di nyanyian Man Cheol saat itu. Raut wajah Woo Jin terlihat sedih.



"Dalam lautanku ada kesedihan yang mendalam dan tekanan yang tidak di perlukan. Yang melonjak ke depan kesedihan dan amarah yang melonjak".



Jaksa mengeryitkan kening tak mengerti. Ia membolak-balik berkas kasus dengan bingung karena lirik lagu yang Woo Jin nyanyikan tidak tertulis disana. Jaksa tampaknya sadar bahwa kata-kata itulah yang diucapkan Kim Man Cheol sebelum bunuh diri



(jadi pembaca bibir terbaik di negeri itu, salah donk..hahaha).

  

Woo Jin masih bernyanyi dan teringat saat kenangan manis sekaligus menyedihkan bersama Seung Hee.



"Diatas lautanku..Angin berhembus. Pemilik dunia ini. Biarkan aku memandangmu seseorang. Menangis saat lelah. Mata tertutup. Tertutup pura-pura tertidur. Di lautanku yang tenang. Menyelam sampai ke dasar. Lihatlah aku". 



Lagu berakhir seiring dengan menetesnya air mata Woo Jin. Jaksa memijat kepalanya..pusing.. (hahaha..malu yach..). Laih halnya lagi dengan direktur Choi yang terlihat tetap tenang.



Direktur Kim lega karena jaksa kebanggannya itu terbukti tidak bersalah. Sebagi balasannya direktur Kim tertawa mengejek direktur Choi, "Benar-benar konyol. Apa?. Pembaca gerak bibir terbaik di negeri ini?. Menjebaknya dalam perangkap hanya karena menyanyikan satu lagu daerah saja?. Menghasut untuk membunuh orang?. Menghasut untuk bunuh diri?. Kau bercanda?". 



Anehnya direktur Choi malah tersenyum membuat direktur Kim kesal, "Apa?. Kenapa?. Apa lagi?", ucapnya judes lalu pergi keruang interogasi.



Sesampainya di sana, direktur Kim menyuruh jaksa yang menundukan kepala untuk segera menyelesaikan tugasnya lalu cepat pergi dari sini. Kemudian, ia menyuruh Woo Jin untuk bangun dan jangan khawatir. Terkadang orang tidak bisa terhindar dari salah paham seperti ini. 



"Cepat pergi", usir detektif Kim pada direktur Choi dan juga si jaksa.



Direktur Choi menepuk pundak jaksa dan memuji jaksa telah melaksanakan tugas dengan bagus. Direktur Choi berkata terkadang seekor bebek juga tidak bisa terbang jauh semua atas batas kemampuannya. Jaksa pergi lebih dulu. 



Direktur Choi mendekati Woo Jin dan berkata, "Jaksa, Cha. Bagus sekali kau menyanyikan lagu itu. Lirik lagunya agak berat...".



Direktur Kim menyela, "Direktur Choi..sekarang ini aku sedang kesal".



Direktur Choi mendekati Woo Jin. Memegang pundak pria muda itu sembari membersihkan jas Woo Jin dari debu. Lalu secara tiba-tiba dia menarik kerah jas Woo Jin. Tarikan itu membuat wajahnya dan wajah Woo Jin hanya berjarak beberapa centi, 



"Aku .....akan mengawasimu baik-baik. Kita akan kembali bertemu secepatnya". 



Usai mengatakan itu direktur Choi melepas cengkramannya. Lalu merapihkan kerah jas Woo Jin yang berantakan karena tarikannya tadi. Setelah itu, dia pun pergi. Woo Jin melihat kepergian direktur Choi dengan ekspresi datar.. 



(Dasar orang aneh direktur Choi ini....><).  



Woo Jin keluar dari ruang interogasi. Diluar sudah ada penyidik Go yang menunggu. Peyidik Go ingin tahu bagaimana interogasi yang baru saja Woo Jin jalani. Woo Jin tidak menjawab dan balik tanya apa penyidik Go sudah melacak sms semalam. Penyidik Go bingung, entah bagaimana sms itu tiba-tiba menghilang. 



"Aku tidak menghapusnya dan sms-nya tiba-tiba menghilang?", tanya Woo Jin seakan tidak percaya. 



Penyidik Go mengangguk. Woo Jin masih tidak percaya, apa hal seperti itu bisa terjadi. Penyidik Go tahu itu tidak mungkin. Menghilangnya sms itu bisa disebabkan beberapa faktor. Entah handphone Woo Jin yang kena hack atau seseorang yang ikut bergabung dalam server dan langsung menghapus sms itu.



Tapi penyidik Go telah melakukan pemeriksaan dan hasil pemeriksaan itu membuktikan handphone Woo Jin tidak pernah di hack. Jika bukan itu, maka Woo Jin bertanya, "Jadi ini dari severnya?'. Penyidik Go berkata informasi handphone Woo Jin memang tersembung langsung ke servernya. Tapi sms itu tidak pernah ada. Anehnya hal itu juga terjadi pada handphone Seong Taek dan Gi Taek. 



Penyidik Go berkata jika ingin memastikan hal itu, maka mereka harus mengajukan surat perintah penggeledahan untuk menyelidikinya. Dengan itu mereka bisa mencari siapa saja yang menggunakan jaringan pada saat yang sama. Semua informasi dan alamat IP tercatat. Tapi sepertinya hal itu juga tidak mungkin mengingat ada hampir 35 juta pemakai handphone di negeri ini. Selain itu mengajukan surat penyelidikan saat ini juga tidak bisa.


Dengan begitu maka penjahat X itu tidak akan bisa di lacak. Penyidik Go tanya apa yang harus mereka lakukan sekarang?. Woo Jin tersenyum, "Jangan khawatir. Dia pasti akan segera menghubungiku. Kucing tidak akan tergoda kecuali tikus itu mati". 



Rumah dalam keadaan rapih saat Woo Jin pulang. Ia mencari buku rekening rahasia yang semalam ia tinggalkan diatas meja. Tapi buku itu sudah tidak ada disana. Woo Jin malah melihat sebuah pematik berwarna pink dan biru. Woo Jin ingat pematik itu milik Eun Bi. 



Woo Jin menekan bel rumah kabag Han, tapi sepertinya tidak ada orang di rumah. Tiba-tiba terdengar suara Eun Bi, "Kau kehilangan sesuatu?". 

Segera saja Woo Jin menghampiri gadis itu. Woo Jin bertanya pasti Eun Bin kan yang mengambil buku itu. Eun Bi yang saat itu sedang asyik makan eskrim berpura-pura tidak mengerti dengan maksud Woo Jin. 



Dari arah depan, Woo Jin melihat sebuah mobil yang parkir tak jauh di sekitar perumahan. Bahkan dia melihat sebuah kamera yang mengarah padanya. Woo Jin ingat saat direktur menarik kerah jasnya dan direkur Choi merapihkan kerah jas, Woo Jin bisa merasakan gerakan tangan direktur Choi yang meletakan alat penyadap di bawah lipatan kerah.  



Mengetahui hal itu Woo Jin tidak jadi bertanya tentang buku rekening rahasia. Ia mengganti topik pembicaraan dengan bertanya, "Yang merokok di rumah kabag Han pasti, kau kan?". 



Eun Bi menyangkal, "Bukan. Benar-benar bukan aku. Kabag Han bilang kalau aku merokok di dalam rumah, aku akan mati". 



Perhatian Woo Jin beralih pada mobil diseberang sana. Orang yang membawa kamera itu menarik diri masuk ke dalam mobil dan menutup jendela. Selang beberapa detik, jendela kembali terbuka, dan kamera paparazi itu kembali menyorot ke arah mereka. 



Woo Jin pura-pura tidak percaya pada Eun Bi. Dengan nada kesal dia memarahi Eun Bi yang berani berbohong. Woo Jin menarik tangan kanan Eun Bi yang memegang eskrim. Akibatnya lelehan eskrim mengotori jasnya. Woo Jin mengerutu kalau hari ini benar-benar sial. Ia menyuruh Eun Bi mengikutinya masuk ke dalam rumah.



Giliran Eun Bi yang heran, "Ada apa dengannya?". Meski begitu ia tetap mengikuti Woo Jin masuk ke dalam. 



Di dalam mobil itu ada 2 orang yang merupakan suruhan direktur Choi. Salah satunya adalah jaksa yang tadi mengintoregasi Woo Jin. Dia bertanya siapa gadis muda yang bersama Woo Jin tadi. Teman jaksa menjawab gadis yang bersama Woo Jin tadi hanyalah seorang ABG bermasalah yang sering membuar onar dan saat ini tinggal di rumah kabag Han. 


Eun Bi dibuat kesal karena Woo Jin terus-terus'an menyuruhnya untuk membersihkan jas yang ternoda es krim. Padahal ia sudah merasa membersihkannya dengan benar. Tapi Woo Jin bilang kalau nodanya masih tersisa di sisi lain. Eun Bi berbalik untuk membalas perkataan Woo Jin, saat itulah Woo Jin memegang selembar kertas yang bertuliskan.



"Ada yang menguping. Jaga bicaramu!".


Dengan gerakan mata, Woo Jin memberitahu orang yang menguping mereka ada di luar rumah. Woo Jin berkata akan membersihkan jas itu sendiri lalu membawa jas itu agak menjauh dari mereka. Sembari melihat ke arah luar jendela. Monil itu masih ada disana.

Kemudian Woo Jin memberi kode agar Eun Bi duduk di sofa. Untuk mengecohkan perhatian, Woo Jin menyalakan musik dengan nyaring. Ia mengambil tempat duduk di samping Eun Bi dan dengan nada berbisik Woo Jin bertanya, "Dimana buku rekeningnya?". 



Mulanya Eun Bi masih berpura-pura. Woo Jin tahu bahwa Eun Bi lah yang mengambilnya karena itu ia minta Eun Bi untuk mengatakan yang sebenarnya. Eun Bi minta Woo Jin jangan khawatir karena ia akan menjaga buku itu dengan benar. Woo Jin mendesak dimana Eun Bi menyimpan buku itu. 


"Apa sangat penting?", tanya Eun Bi kemudian.



"Sangat penting sekali", jawab Woo Jin serius.



Karena sangat penting maka Eun Bi tidak bisa menyerahkan buku itu sembarangan. Eun Bi tersenyum lalu berdiri, "Di dunia ini tidak ada yang gratis. Tidak ada yang bisa di ambil secara gratis. Karena ini sangat berbahaya".



"Siapa?", tanya Woo Jin.



"Seseorang", jawab Eun Bi tersenyum tipis.



Woo Jin menarik tangan Eun Bi, kembali mendudukan gadis itu dekat di sampingnya. Woo Jin berkata ini bukan saat yang tepat untuk bercanda. Eun Bi menyahut apakah Woo Jin menganggapnya sedang bercanda?. Woo Jin mengalah dan tanya apa mau Eun Bi. Katakan saja selama ia bisa membantu maka akan ia lakukan.

Eun Bi minta Woo Jin membantunya mencari seseorang. Seseorang yang mengatakan padanya kalau tidak ada yang gratis di dunia ini. Orang itu adalah ayah Eun Bi. Eun Bi menyodorkan secarik kertas yang bertuliskan nama ayahnya berikut 6 digit nomor dari tanda pengenal milik ayahnya. 



"Jo Bong Hee", ucap Woo Jin membaca nama ayah Eun Bi. Woo Jin berpikir seperti berusaha mengingat seakan pernah mendengar nama itu sebelumnya. 



Eun Bi minta Woo Jin berjanji membantu mencari keberadaan ayahnya. Sebagai imbalan ia akan mengembalikan buku rekening itu. Karena di dunia ini tidak ada yang gratis. Usai mengatakan itu Eun Bi tersenyum lalu pergi. 


Hubungan kabag Han dan Eun Bi berjalan baik. Mereka mulai akrab seperti kakak adik. Malam itu sembari membersihkan wajah mereka membahas masalah Woo jin. Kabag Han tidak percaya sama sekali kalau Woo Jin terlibat dalam kejahatan. 



Bagaimana mungkin bisa jaksa Cha yang ia kenal menghasut orang lain untuk bunuh diri. Kabag Han lebih tak percaya lagi jika Woo Jin menyembunyikan buku rekening rahasia itu. Kabag Han kesal, orang-orang itu hanya menimbulkan masalah, "Bukankah kau juga berpikir seperti itu?", tanyanya pada Eun Bi. 



Eun Bi pura-pura tidak mengerti. Kabag Han tetap yakin Woo Jin tidak bersalah. Hanya dengan sekali melihat saja sudah tahu, siapa yang benar dan siapa yang salah. Selesai membersihkan diri, mereka berdua keluar kamar mandi.



Eun Bi ingin tahu kenapa kabag Han, penyidik Go dan Woo Ji bisa tinggal di daerah yang sama. Kabag Han menjawab mereka bertiga menempati rumah dinas yang di sediakan kantor kejaksaan. Kabag Han menduga Eun Bi pasti sudah tahu kalau di sebelah rumah ini adalah rumah Woo Jin dan di sebelahnya lagi rumah penyidik Go. 



"Tapi kenapa kalian semua masih single?", tanya Eun Bi lagi. 



Kabag Han juga tidak tahu. Ia menganti topik pembicaraan dengan bilang kalau Eun Bi terlihat cantik memakai salah satu piyama miliknya. Eun Bi tersenyum di puji seperti itu, ia lalu tanya kenapa kabag Han selalu memakai piyama saat tidur (Eun Bi berbicara menggunakan bahasa banmal/tidak formal). 



Kabag Han mengoreksi kalimat Eun Bi agar gadis itu bicara menggunakan bahasa formal. Kabag Han menjawab alasan ia selalu memakai piyama saat tidur karena merasa nyaman.  Ia lalu tanya apa Eun Bi tidak pernah memakai pakaian tidur sebelumnya. Eun Bi diam tak menjawab. 



Kabag Han bisa melihat raut wajah Eun Bi yang terlihat agak sedih. Kabag Han lalu berkata baju yang sama jika di pakai anak muda akan terlihat berbeda. Ia janji akan membelikan baju yang lebih bagus lagi untukz Eun Bi. Sesuatu yang tidak pernah Eun Bi pakai sebelumnya. Eun Bi merasa tidak perlu, karena setelah persidangan selesai, ia harus segera pergi dari rumah kabag Han. 



Kabag Han tersenyum, "Tidak peduli di mana pun kau harus memakai piyama yang bagus". 



Perhatian kabag Han pada Eun Bi tidak hanya soal piyami. Saat tidur, ia menyiapkan tempat tidur untuk Eun Bi dan menyuruh Eun Bi untuk berbaring di sampingnya. Eun Bi merebahkan tubuhnya di kasur dan bantal yang empuk. Karena kemarin dilihatnya Eun Bi tidak bisa tidur dengan nyenyak, maka kabag Han sengaja membeli bantal dan kasur baru untuk Eun Bi.



"Jadi ini dibelikan khusus untukku?", tanya Eun Bi bangkit duduk.



"Ya. Karena di rumahku tidak ada tempat tidur yang bagus, aku merasa bersalah. Meskipun tidak nyaman, kau tahan saja ya?". 



"Tidak nyaman apanya?. Aku selalu tidur di tempat sauna. Mesikpun di lantai aku masih bisa tidur. Uap di sauna juga baik untuk kesehatan". 



Eun Bi kembali merebahkan badannya di kasur membuat gerakan seperti katak berenang. Tanda ia sangat menyukai tempat tidur barunya itu. Kabag Han menyuruh Eun Bi untuk cepat tidur, mulai besok Eun Bi harus pergi ke sekolah. 



Eun Bi yang mendengarnya terkejut, "Apa?. Mulai besok?. Tidak bisakah sekolahnya di mulai setelah masa persidangan selesai?. Aku merasa sedikit memalukan". 



Kabag Han memberi semangat. Masa persidangan bukan sesuatu yang memalukan. Anggap saja masalah ini sebagai proses pembaptisan untuk masuk ke dunia. Seperti upacara kelahiran kembali, "Kalau kau menunjukan rasa bersalahmu pada hakim, mungkin saja hakim akan memberimu keringanan. Dengan begitu jiwa dan ragamu akan terlahir kembali. Kau akan menjadi orang yang baru. Lalu kau bisa memulai kembali semuanya. Kau bisa hidup seperti apa yang kau inginkan. Kalau kau ingin seperti itu, kau harus pergi ke sekolah". 



Eun Bi menggela napas berat sembari menutup matanya rapat-rapat. Pembaptisan. Pergi ke sekolah. Hidup seperti yang ia inginkan. Eun Bi menatap kabag Han, yang di tatap mengangguk seakan memberi kekuatan agar Eun Bi bisa melalui semua itu. Kabag Han mematikan lampu dan mereka pun siap tidur. 

Sebelum tidur kabag Han bertanya, "Kau tidak mendengkurkan, kan?. Kalau kau mendengkur aku tidak akan bisa tidur. Karena aku sangat sensitif".



"Ya", jawab Eun Bi. 



Kabag Han membalikan badan dan mulai terlelap. Eun Bi tersenyum, "Terima kasih", ucapnya lirih penuh haru. 



Malam itu juga Woo Jin menerima telpon dari direktur Kim yang menyuruhnya untuk datang ke suatu tempat. Sebelum pergi Woo Jin sempat melihat alat penyadap yang tertempel di kerah jasnya. Meski begitu ia tetap pergi ketempat direktur Kim berada dengan menggunakan jas tersebut. 



Direktur Kim dan asisten berada di sebuah bar. Woo Jin datang dan bergabung bersama mereka. Direktur Kim menyuruh asisten menuangkan minuman untuk Woo Jin. Sembari menuangkan minuman, asisten berkata hari ini Woo Jin telah bekerja keras. Direktur Kim mengamati Woo Jin lalu bertanya, "Rumahmu sudah di rapihkan?. Orang-orang itu pasti sudah membuat kekacauan". 



"Tidak apa-apa", sahut Woo Jin.



Setelah sedikit berbasa-basi akhirnya direktur Kim menyampaikan maksud sebenarnya menyuruh Woo Jin untuk datang. Apa lagi kalau bukan menanyakan tentang keberadaa buku rekening rahasia itu. Direktur Kim bertanya apa benar Woo Jin yang membawa buku rahasia milik Park Gi Taek?.



Jika benar Woo Jin membawanya, direktur Kim minta agar Woo Jin memberikan buku itu padanya. Karena buku itu bukan sesuatu yang bisa di pegang oleh anak muda seperti Woo Jin. Orang tua seperti dirinya lah yang bisa mengurus buku itu. Direktur Kim juga berkata seharusnya masalah ini tidak pernah ada. Oleh karena itu lebih baik mereka mengubur masalah ini bersamaan dengan sejarah yang ada.



"Buku rekening itu ada di tanganmu, kan?, tanyanya lagi.



"Tidak", jawab Woo Jin. 



Direktur Kim tidak percaya, "Tidak apanya?. Aku sudah mengetahuinya. Ku tanya sekali lagi. Buku itu ada ditanganmu, kan?". 



Woo Jin menatap direktur Kim beberapa saat sebelum akhirnya menjawab, "Ya". Direktur Kim sangat lega mendegnar jawaban itu. Mereka lalu bersulang bersama. Direktur Kim berkata tidak mungkin Park bersaudara memberikan buku yang senilai nyawa sendiri begitu saja pada orang lain. Direktur juga mengaku sedikit tertekan hingga merasa sangat cemas. Tapi sebagai jaksa bermartabat tentunya Woo Jin tidak akan meminjam uang dari rentenir, kan?.



Woo Jin diam, diamnya ini seperti sengaja ingin mengorek informasi. Direktur meminta Woo Jin berpikir sekali lagi. Ini bukan hanya masalah pribadinya saja tapi ini masalah menyangkut nasib bangsa. Direktur Kim mengatakan itu dengan wajah serius. Mungkin saja dia akan terus bercerita jika saja tidak terdengar suara yang menggagetkan mereka.



Penyidik Go berlari dengan napas ngos-ngos'an menghampiri mereka. Direktur Kim ngomel, "Kau menakutiku. Ada apa?. Ada apa lagi?. Kenapa sampai kemari". Penyidik Go meminta maaf sembari mengatur napas. 



"Kenapa ada yang ingin menyerahkan diri lagi?", tebak direktur Kim asal. 



"Bagaimana Anda bisa tahu?", jawab penyidik Go membuat direktur Kim bengong. 



Penyidik Go berkata kali ini yang ingin menyerahkan diri adalah orang yang mengaku telah membuat Park bersaudara.  Direktur Kim dan asisten terkejut, "Apa benar?". Penyidik Go membenarkan, "Tapi kali ini... lagi-lagi si pelaku ingin bertemu dengan jaksa Cha Woo Jin saat menyerahkan diri". 



Direktur Kim bingung plus heran, "Ada apa lagi ini?". 



"Dimana?", tanya Woo Jin kemudian.



Penyidik Go membawa Woo Jin ke sebuah gedung. Ada banyak polisi yang berjaga di sana. Woo Jin mendongak ke atas dan melihat seorang wanita yang berjalan di pinggir atap gedung. Woo Jin ingin naik ke atas menemui wanita itu. 

Namun, penyidik Go berusaha mencegah. Ia tak menginjikan Woo Jin untuk naik ke atas. Tidak boleh. Penyidik Go yakin ini hanyalah sebuah jebakan. Woo Jin tidak peduli, meski ini adalah sebuah jebakan sekalipun, tapi hanya ini satu-satunya kesempatan baginya untuk menangkap tersangka. 

Woo Jin memilih mengambil resiko dengan naik keatas gedung. Tanpa rasa takut sedikit pun, dia menemui tersangka pembunuh Park bersaudara. Akankah Woo Jin berhasil kali ini?.





Lanjut ke Sinopsis Reset Episode 3 Part 2