Wednesday, July 30, 2014

Sinopsis Fated To Love You Episode 4 Part 2

Perbincangan kembali di lanjutkan, saat semuanya telah kembai di pulau Yeo Wool. Ibu mengira Gun akan menikah dengan Mi Young. Tapi bukan itu maksud Gun, memang ia ingin mempertahankan bayi dalam kandungan Mi Young. Tapi bukan berarti ia akan menikah. Lebih tepatnya, Gun tidak bisa menikahi Mi Young (tahu kan alasannya?). 

Ibu tidak terima, apa maksudnya?, "Kau ingin menginginkan bayinya tapi kau tidak mau menikahi Mi Young. Kau menganggap Mi Young sebagai ibu penggani?". 

Gun menilai ucapan ibu terlalu kasar, sama sekali ia tak menganggap Mi Young sebagai ibu pengganti. Maksudnya, adalah setelah Mi Young melahirkan bayi itu, Gun berjanji akan menjamin Mi Young mendapatkan kehidupan yang baru. Nenek ikut kesal dan memukul Gun. Ibu menilai Gun tidak tahu malu, jelas-jelas dia hanya menganggap Mi Young sebagai ibu penganti, "Kau anggap apa kami?". 

 Ny. Wang angkat bicara, ia sama sekali tidak memandang rendah Mi Young maupun keluarganya. Dengan santun Ny. Wang berkata,

"Bagiku kau adalah besanku. Mi Young cucu menantu dan bayi yang ada di kandungannya adalah cicitku. Aku sudah memutuskan. Aku akan menikahkan mereka berdua.". 

Ibu sudah mendengar semua pendapat dari sisi Gun dan juga neneknya. Ia lalu bertanya bagaimana pendapat Mi Young. Karena pendapat Mi Young sangat penting. Mi Young berkata tidak pernah benar-benar berpikir akan menikah. Gun menghela napas lega, karena Mi Young tidak menuntutnya untuk menikah. Ibu memarahi Mi Young, "Apa kau masih waras?".

Mi Young  beralasan yang terjadi antara dirinya dan Gun hanyalah kesalahan. Bukan di dasarkan atas cinta. Pernikahan seharusnya di dasari cinta. Saat mengatakan itu, Mi Young menatap Gun. Gun mengangguk setuju, "Itu maksudku! Itu maksudku sebenarnya. Itu yang ingin kusampaikan". 

Ny. Wang memukul Gun, "Diam!. Beraninya kau!". 

Ibu menahan kemarahannya. Tidak apa-apa, karena Gun menolak bertanggung jawab maka tidak ada lagi yang perlu di rundingkan. Diskusi selesai. Ibu menyuruh Ny. Wang membawa cucunya yang tak bertanggung jawab itu pergi jauh-jauh dari pulau Yeo Woo, "Aku akan mengurus putriku sendiri". 

Gun tampak lega dan Mi Young menunduk pasrah.  Tapi tidak begitu dengan Ny. Wang, ia mencoba menahan tangan ibu yang hendak menarik Mi Young pergi. Sepertinya Ny. Wang masih ingin berdiskusi, karena ia sudah menganggap Mi Young sebagai cucu menantu. 

Tanpa di undang, Mr. Choi datang bersama para pekerja pabrik sabun. Mr. Choi menyapa Ny. Wang kemudian meminta bahkan terkesan memaksa Mi Young untuk mau menikah dengan Gun. Jika Mi Young menikah dengan Gun, kedua keluarga mereka akan menjadi besan.

Sebagai keluarga, Mr. Choi yakin kalau Gun akan memberikan mereka kelonggaran pada pabrik sabun yang sudah bangkrut di pulau ini. Beberapa pekerja memohon dengan wajah memelas pada Mi Young untuk menyelamatkan mereka. Tanpa pabrik sabun ini, mereka akan mati kelaparan. 

Presdir Park datang dan meminta semuanya untuk berhenti. Memalukan sekali kalau harus memohon dengan cara seperti ini. Meski mereka harus menjual pabrik dan tanah, jangan sampai menjual hati nurani.

"Aku tidak akan tinggal diam jika kalian berusaha menempel pada mereka seperti ini!".

Salah satu dari mereka berkomentar, presdir Park bisa mengatakan hal itu karena masih mempunyai kapal yang bisa digunakan untuk penghasilan. Tapi tidak bagi mereka yang menggantungkan hidupnya pabrik. Jika pabrik itu di tutup mereka akan kehilangan segalanya. 

"Mi Young. Pikirkan baik-baik. Hidup kami di tanganku", ucap ahjuma memohon. 

Gun bisa melihat raut bingung tergambar di wajah Mi Young. Presdir marah pada ahjuma tersebut, kenapa terus memohon. Ia sudah meminta mereka untuk berhenti, tapi tidak yang mendengar, "Karena pabrik sudah bangkrut! Kalian tidak mau lagi mendengar kata-kataku?". 
Terjadi adu mulut diantara mereka. Ibu sudah dibuat pusing dengan masalah MI Young, dan lagi ocehan mereka membuat ibu semakin stress. Ibu berdiri di atas meja lalu teriak senyaring-nyaringnya, "Hentikan!. Apa yang kalian lakukan pada putriku?". Seperti yang kalian lihat. Mi Young tidak cantik ataupun seksi. Kalau begitu, apa dia pintar?. Tidak, dia juga payah di sekolah".

Mi Young yang merasa malu meminta ibunya untuk berhenti. Tapi ibu tak peduli, dan terus mengeluarkan unek-unek yang ada di kepalanya.

"Mi Young juga tak pandai dalam pelajaran matematikan dan selalu mendapat peringkat terakhir di kelasnya. Tapi anak ini, adalah anak yang benar-benar polos. Sekalipun anaknya tidak rapi, dan kamarnya setiap hari berantakan, tapi dia pasti tidak akan menolak permintaan orang lain. Meskipun itu adalah orang asing". 

"Aku selalu menasehatinya untuk menjalani hidup dengan lebih tegas. Tapi bagaimanapun juga, nasehat ibunya tidak diindahkan. Tapi, begitu orang lain memintanya melakukan sesuatu, anak ini pasti tidak akan pernah menolak. Tapi, pada Mi Young yang sangat baik hati ini, apa yang telah kalian lakukan. Beraninya kalian menekan dia seperti ini!. Memangnya kalian siapa berani memerintahnya, hah!!!. Beraninya kalian memperlakukannya seperti ini". 



Ibu benar-benar emosi dan hampir menangis ketika menyelesaikan kalimat panjangnya itu. Ucapan ibu barusan tampaknya menyentil hati Gun. Ia terdiam menatap Mi Young yang terus menunduk sedih. 

Gun masih di pelabuhan, memikirkan langkah terbaik apa yang harus ia lakukan. Untuk Mi Young, dirinya dan juga bayi yang saat ini berada di dalam perut Mi Young.

Mi Young dan ibunya telah kembali kerumah. Mi Young mencoba memberikan pengertian pada ibunya. Menikah itu seperti mengikat janji abadi. Ia dan Gun tidak cukup mengenal untuk berkomitmen. Melahirkan bayi sama sekali berbeda dengan menikah.


Mi Ja yang sejak tadi mendengar, tak tahan untuk tidak berkomentar. Ia menyebut Mi Young bodoh. Apa Mi Young belum mengerti juga apa yang baru saja dia katakan. Mi Ja menjelaskan agar Mi Young paham seperti apa kehidupan yang akan Mi Young jalani nantinya. 

Pertama Mi Young harus melahirkan bayi itu dan menyerahkannya pada mereka. Setelah itu,  Mi Young akan menjadi wanita dengan masa lalu yang kelam. Kedua, jika Mi Young memutusakan untuk melahirkan dan membesarkan bayi itu sendirian. Maka Mi Young  akan menjadi orang tua tunggal. Mr. Choi membenarkan peraktan istinya. Jadi, Mi Ja bertanya kenapa Mi Young tetap kukuh tidak ingin menikah.


Mi Young mengerti kekhawatiran ibu dan juga kakak-kakaknya. Tapi, ia tidak bisa mengabaikan perasaan Gun. Memaksakan kehendak dengan menyuruh Gun menikahinya, bukanlah tindakan yang benar. 

Ibu ingin bertanya sesuatu, apa benar Gun yang menarik Mi Young keluar dari ruang arborsi. Mi Young mengiyakan dengan anggukan. Ibu menghela napas, ia menilai setidaknya Gun masih memiliki hati nurani. 

Ibu minta Mi Young untuk memikirkan kembali keputusannya. Ayah bayi masih hidup dan segar bugar. Kenapa Mi Young malah ingin menjadi orang tua tunggal, "Itu adalah sebuah pikiran yang sangat egois. Bukankah begitu menurutmu?". 

Gun datang dan mengajak Mi Young bicara berdua saja. Mi Young setuju dan mengikuti Gun keluar. Mi Sook tampak terpesona dengan Gun, ia yakin Gun pasti bisa menjadi suami yang hebat. Ibu melengos tidak suka. 

Mi Young dan Gun bicara di daratan tinggi yang menghadap ke laut. Gun bertanya, pernahkan terlintas sedikit saja di benak Mi Young untuk menikah dengannya. Mi Young menganggap Gun orang yang baik dan yakin akan menjadi ayah yang baik kelak. 

Tapi, Mi Young tahu Gun mempunyai wanita yang dia cintai. Ia juga tahu seberapa besar Gun mencitai kekasihnya itu. Mi Young tidak ingin pernikahannya justru memberikan penderitaan pada orang lain.

Gun merasa sudah kehilangan wibawanya sebagai seorang lelaki untuk mendapatkan Se Ra (karena berhubungan dengan wanita lain). Meski kehamilan Mi Young terjadi atas kesalahan, kenyataan kalau bayi yang dikandung Mi Young adalah anaknya tidak akan berubah, "Aku memang bukan orang yang baik, tapi setidaknya aku ingin menjadi seorang ayah yang baik untuk anakku".

Gun mengakui sampai detik ini hanya Se Ra seorang yang ada di hatinya. Ia juga tidak bisa memberi jaminan kapan hatinya tergerak dan berpindah pada Mi Young. Tapi, Gun bisa menjajikan satu hal. Gun terdiam memandang perut Mi Young, "Aku ingin menjadi seorang ayah yang baik bagi anak kita. Jika kau tidak keberatan dengan semua ini, mari kita menikah". 

Mi Young terharu, "Aku juga ingin menjadi seorang ibu yang baik untuk anak ini". 

Pernikahan Gun dan Mi Young di adakan hari itu juga. Pernikahan sederhana yang di selenggarakan di ruang terbuka. Mi Ja memuji suaminya yang tampak tampan dengan setelan jas. Mr. Choi menyahut ia selalu terlihat tampan.. Haha Pede.

Mi Sook juga berdandan dan mendapat pujian cantik dari direktur Tak. Mi Sook tersipu-sipu malu menerima pujian itu.  Sementara presdir Park yang menjadi MC, tengah sibuk melatih kata-kata yang akan ia ucapkan nantinya saat acara. 

Ibu dan nenek yang memakai hanbok resmi membawakan bunga untuk Mi Young di ruang pengantin. Rupanya mereka meminjam ruang kelas untuk ruang pengantin dan aula sekolah untuk acara pernikahan.

Ibu menarik kacamata bundar yang masih bertengger di kedua mata Mi Young. Mi Young bertanya pada ibunya, tidakah pernikahan ini terlalu terburu-buru.

Ibu memarahi Mi Young, jika tidak hari ini kapan lagi. Apa Mi Young ingin menikah dengan perut buncit. Memang pernikahan seharusnya di persiapkan jauh-jauh hari. Seperti membeli perlengkapan rumah tangga hingga bulan madu. Tapi apa boleh buat, nasi sudah menjadi bubur.

Ny. Wang yang ikut-ikutan menggunakan dialek propinsi Gyeongsang menyahut, setelah Mi Young melahirkan mereka bisa melaksanakan resepsi pernikahan dengan mewah yang membuat orang-orang iri. Ibu merasa tidak enak hati, tidak bisa menyiapkan mas kawin disebabkan waktunya yang terlalu mepet. Bagaimana jika mas kawin disiapkan setelah pernikahan. 

Ny. Wang menyahut tidak perlu. Mas kawin apa?. Baginya kehamilan Mi Young merupakan mas kawin yang paling berharga.

Mi Young melihat perutnya, ucapan Ny. Wang barusan membuatnya tertawa malu sendiri.

Diruangan berbeda, Gun menatap keluar jendela melihat persiapan pernikahan. Wajah Gun tampak suram ketika memandang cincin yang ia gunakan untuk melamar Se Ra. Beberapa saat lagi cincin itu akan melingkar di jari wanita lain.

Jauh di seberang lautan sana. Se Ra dan teman-temannya baletnya sedang berlatih gerakan yang nantinya akan mereka perlihatkan pada pertunjukan. Se Ra berlatih dengan membawa ponselnya, jaga-jaga kalau Gun akan menelpon.

Ponsel Se Ra berdering tertera nama di layar ponsel, "Gun ku". Se Ra langsung menjawabnya dan bingung ketika tidak mendengar suara Gun. Setelah Se Ra memanggil berkali-kali, barulah ia mendengar suara Gun. Se Ra tampak lega dan pindah keruang rias agar lebih leluasa bicara. Se Ra tak peduli meski temannya memberitahu sebentar lagi pertunjukan akan dimulai.

Sebenarnya ada sesuatu yang ingin Gun beritahukan kepada Se Ra. Belum selesai Gun bicara, Se Ra memotong pembicaraan. Se Ra bertanya apakah Gun tahu berapa lama dirinya menunggu telepon dari Gun. Se Ra menjawab pertanyaanya sendiri, pastilah Gun tidak tahu kalau ia selalu menunggu telepon dari Gun.

"Aku tidak tahu kalau ternyata menunggu sangat menyakitkan seperti ini", ucap Se Ra hampir menangis.

Gun mengaku bersalah. Se Ra membenarkan, Gun memang bersalah karena telah membuatnya menunggu terlalu lama. Meski Se Ra tahu Gun pantas untuk marah, tapi ia minta Gun untuk tidak melakukan hal ini lagi. Se Ra juga meminta maaf telah mengagalkan acara lamaran Gun.

Lidah Gun terasa kelu, permintaan maaf Se Ra membuatnya semakin merasa bersalah. Se Ra menganggap mereka impas. Ia dan Gun kini telah berbaikan. Se Ra juga meminta Gun untuk melupakan semua kejadian yang membuat hati mereka sakit, "Tidak ada yang lain, hanya kau seorang, Gun.".

Instruktur memanggil Se Ra untuk bersiap. Masih tetap bicara dengan Gun, Se Ra berkata Gun menelponnya di hari yang tepat. Hari ini adalah hari pertunjukan perdana sekaligus hari pertamanya ia berdiri di atas panggung sebagai balerina. 

Se Ra merasa khawatir mungkin akan mengacaukan pertunjukan karena terlalu gugup. Tapi setelah mendengar suara Gun, Se Ra yakin bisa tampil sebaik mungkin. Gun mencoba tersenyum. Gun mengurungkan niatnya memberitahu Se Ra tentang pernikahannya yang dilaksanan hari ini. Pastinya Se Ra akan sedih dan terguncang mengetahui dirinya yang akan menikah dengan wanita lain. 

"Se Ra, lakukanlah yang terbaik hari ini", ucap Gun memberi kata penyemangat.

Instruktur kembali mengingatkan Se Ra untuk segera bersiap. Tidak ada waktu lagi, semua orang sudah menunggu. Se Ra mengakhiri pembicaraan dan berterima kasih karena Gun telah menelopnya. Diakhir kata Se Ra berucap, "Aku mencintaimu". 

Hadirin bertepuk tangan menyambut pengantin pria berjalan menuju altar. Tapi wajah pengantin pria tampak tak bersemangat, tidak ada keceriaan tergambar di wajah Gun. Bahkan Gun sama sekali tidak tersenyum ketika orang-orang memujinya tampan.

Tak lama kemudian, pengantin wanita Mi Young menyusul masuk. Berbeda dengan Gun, Mi Young masih bisa tersenyum meski senyumnya itu terkesan malu-malu.

Presdir Park membacakan ikrar pernikahan kepada kedua mempelai. Pertama kepada Mi Young, presdir Park bertanya apakah Mi Young bersedia menerima Lee Gun sebagai suami yang sah dalam suka dan duka. Mencintainya dan tidak akan berubah hingga mau memisahkan mereka?. 

"Ya", jawab Mi Young pelan tapi terdengar jelas.

Kemudian, presdir Park juga menanyakan hal yang sama pada Gun. Apakah bersedia menerima Mi Young sebagai istri yang sah.

Gun sempat terdiam sebelum akhirnya menjawab, "Ya", dengan suara pelan dan penuh keengganan.

Ny. Wang yang tidak bisa mendengar suara Gun dari tempat duduknya, berkomentar suara Gun terlalu pelan. Gun menarik napas lalu berteriak nyaring seakan ingin melepaskan rasa frustasi, "YA!!!!".

Tepuk tangan terdengar riuh. Semua orang tertawa dan bisa mendengar jawaban Gun. Hanya direktur Tak menatap Gun sedih. Karena ia tahu siapa wanita yang di cintai Gun.

Saatnya tukar cincin. Ibu memberi Mi Young cincin yang dulu di pakai oleh ayahnya sewaktu masih hidup. Saat Mi Young ingin memasang cincin di jari Gun. Gun malah bingung tangan mana yang harus memakai cincin pernikahan, tangan kanan atau kiri. Direktur Tak memegang kamera mengabadikan moment itu dan memberitahu Gun. "Tangan kiri".

Gun mengulurkan tangannya dan Mi Young memakaikan cincin ke jari manis Gun. Giliran Gun memakaikan cincin ke jari Mi Young. Mi Young menunduk, mengetahui kalau cincin itu pada awalnya akan digunakan Gun untuk melamar Se Ra. Gun meraih tangan Mi Young, menyematkan cincin ke jari manis wanita yang kini telah resmi menjadi istrinya. 

Riuh tepuk tangan kembali terdengar, tidak ada kiss ataupun gurat kebahagian di wajah kedua pengantin.

Setelah acara pernikahan, Gun ingin kembali ke Seoul bersama neneknya. Ny. Wang membujuk kenapa Gun tidak bermalam di sini saja. Ny. Wang berjanji akan mengurus perusahaan selama Gun tidak ada. Gun ingin protes, tapi tak ada kata yang keluar dari mulutnya.

Ibu mempersilahkan Ny. Wang untuk membawa Gun pulang. Ibu bisa mengerti Gun adalah presdir dari perusahaan besar bukan toko kecil, di tambah lagi pernikahan ini terlalu mendadak. Wajar saja jika Gun merasa tidak nyaman.

Ibu mendekati Gun dan memanggilnya dengan sebutan menantu Lee. Ibu menarik Gun agak menjauh dari mereka. Dengan nada setengah mengancam ibu memperingatkan Gun,  jika Gun membuat Mi Young sedih bukan centong kayu yang akan melayang, tapi tongkat baseball. Ibu mengatakannya sambil meremas pergelangan tangan Gun hingga membuat menantunya itu mengeryit kesakitan.

"Baik. Aku mengerti", jawab Gun meringis kesakitan. 

Puas dengan jawaban itu, ibu melepas pergelangan tangan Gun dari cengkramannya. Ny. Wang memberi Mi Young kesempatan untuk tinggal bersama ibunya selama beberapa hari. Ny. Wang juga seorang ibu yang bisa mengerti betapa sedihnya ibu Mi Young melepas putri bungsunya pergi. Selama Mi Young tinggal dengan ibunya, Ny. Wang akan menyiapkan kamar pengantin yang cantik. 

Mi Young tersenyum. Gun pamitan pada Mi Young dan juga ibunya. Wajahnya tampak memelas karena masih merasakan sakit pada pergelangan tangannya. Saat Gun ingin masuk ke dalam kapal, presdir Park dan Mr. Choi datang. Kedua orang itu menarik Gun menjauh dari yang lain.

Presdir Park mengucapkan terima kasih karena Gun tidak memecat semua karyawan pabrik sabun. Presdir Park memberikan bungkusan sebagai hadiah yang indah atas imbalan kebaikan hati Gun. 

"Kudengar pria dari keluargamu kurang berstamina. Dan kau adalah keturunan tunggal generasi ke-9".

"Omong kosong macam apa itu!. Keluarga kami baik-baik saja. Kami baik-baik saja dan normal. Semuanya jauh lebih perkasa dibandingkan orang-orang lain", sangkal Gun tidak terima.

Mr. Choi menyahut mulai sekarang Gun akan lebih perkasa dengan hadiah yang mereka berikan ini. Gun menerimanya, ia tanya apa isinya. Presdir Park minta Gun membukanya saat tiba di Seoul. Tidak bermaksud menyombongkan diri, presdir Park merasa dirinyalah yang memberikan konstribusi terbesar dalam pernikahan Gun. 

Presdir Park berkata benda yang di pegang Gun saat ini adalah produk terbaik di pulau Yeo Wool. Bahkan ia dan Mr. Choi yang mengembangkan sendiri hingga menjadi produk yang berkualitas. Kakak ipar Mi Young membenarkan, benda itulah yang menyebabkan Gun dan Mi Young bisa bersama. Obat kuat kah?. Wkwkwwk....

Presdir Park memotong ucapan Mr. Choi. Jangan ungkit masalah itu lagi. Ia menyuruh Gun yang masih bengong tak mengerti untuk segera naik ke kapal. Mr. Choi celingkukan mencari direktur Tak yang tidak terlihat di samping Gun. Kemana perginya dia?. 

Yang dicari malah asyik berduaan dengan Mi Sook. Direktur Tak tidak pernah menyangka kalau menatap air laut dari dermaga bisa membawa kesedihan. Mi Sook membenarkan, dimatanya sekarang semua yang ditambah kata "Jang" terlihat sedih.

"Stasiun, dermaga, lapangan terbang, dan juga direktur Tak".

(Semua kata diatas dalam penyembutan bahasa korea menggunakan tambahan kata "Jang").

Direktur Tak tidak tahu kapan bisa bertemu lagi dengan Mi Sook. Tapi ia minta Mi Sook tetap menjaga kesehatannya sampai di waktu mereka bertemu lagi.

"Kau juga direktur Tak", ucap Mi Sook lalu berlari pergi sembari menahan tangis. ckckck... persis film india..hahaha..

Direktur Tak mendengar namanya di panggil Ny. Wang ketika dia sedang menatap punggung Mi Sook yang menjauh. Dengan kesal direktur Tak menyahut, "Ya..ya..ya" lalu berlari masuk ke kapal. 

Gun menyuruh direkur Tak memegang hadiah yang di berikan presdir Park. Direktur Tak tanya benda apa ini?. Gun juga tidak tahu. Pegang saja dulu. Perlahan kapal mulai bergerak meninggalkan dermaga. Ibu, Mi Young dan juga kakak-kakaknya tersenyum melambaikan tangan mengantar kepergian mereka.

Daniel bertemu dengan seorang wanita yang menurut informasi adalah adiknya. Wanita yang bernama Kim Hee Won itu merupakan salah satu karyawan rumah sakit bersalin. Daniel bertanya, benarkah saat kecil Hee Won bernama Kim Mi Young.

Hee Won membenarkan. Ia bisa mengingat dengan jelas kakak laki-lakinya sering memanggilnya dengan panggilan Mi Young. Daniel lalu menunjukan foto saat mereka masih kecil, foto yang diambil ketika mereka berkunjung ke kebun binatang. Mungkin Hee Won ingat dengan foto itu.

Hee Won mengaku tidak ingat dengan foto itu, tapi ia mempunyai kenangan pergi bersama kakaknya ke kebun binatang. Daniel sepertinya mulai yakin kalau Hee Won adalah adiknya. Tapi Daniel ingin memastikan satu hal. Ia mendengar Hee Won mempunyai luka bakar di bahu, bisakah ia melihatnya?.

Hee Won membuka baju untuk memperlihatkan luka bakar di bahunya. Daniel melihatnya dengan sedih. Daniel ingin tahu bagaimana ceritanya hingga Hee Won mendapat luka bakar itu. Hee Won cerita luka itu ia dapat saat berumur 10 tahun. Disebabkan teko pemanas di panti asuhan yang terjatuh mengenai bahunya.
 
Setelah mendengar cerita itu, wajah sedih Daniel berubah kecewa. Hee Won bukanlah adik yang ia cari, karena Mi Young adiknya mendapat luka bakar saat berumur 4 tahun. Padahal Hee Won sudah berharap kalau Daniel benar-benar kakak kandungnya.

Yach, siapa juga yang bakal nolak punya kakak kandung sebaik dan setampan Choi Jin Hyuk, eh salah. Daniel Pitt maksudnya. :P

Daniel keluar dari rumah sakit dengan perasaan sedih dan kecewa. Usahanya untuk menemukan adiknya belum membuahkan hasil. Saat berjalan menuju ke mobil, Daniel melihat pasangan yang baru keluar dari rumah sakit. Si wanita menangis karena baru saja mengalami keguguran. Dan pria meminta maaf ketika istrinya bertanya bagaimana dengan bayi kita.

Sesaat Daniel teringat saat menemani Mi Young berdoa. Mi Young yang menangis meminta maaf pada tuhan karena memilih untuk mengugurkan janin yang tumbuh di dalam perutnya. Pikirnya pasti Mi Young juga akan merasa sedih setelah kehilangan bayinya. Daniel mencoba menghilangkan pemikiran itu dan masuk ke dalam mobil.

Malam harinya tampak petir menyambar di kediaman keluarga Lee. Di dalam rumah, terdengar tawa Gun yang tidak wajar, tawa seorang yang stress karena mengalami sesuatu yang tidak menyenangkan. Gun menunjuk plapon kamar dan berkata pada direktur Tak bisa melihat bintang dari sini.

Pandangan Gun lalu beralih pada foto pernikahannya dengan Mi Young. Sama seperti Gun yang setengah mabuk, direktur Tak berkata saat ini ibu Gun sedang melihat mereka. Ia memberi hormat seakan-akan ibu Gun memang berdiri di depan mereka. Konyolnya, Gun juga ikut menghormat seperti yang di lakukan direktur Tak. Mereka tertawa bersama.

Direkur Tak mengaku terkejut dengan pernikahan Gun. Ia tak menyangka Gun justru menikah dengan wanita lain, bukan dengan Se Ra. Disatu sisi, direktur Tak juga merasa senang karena sebagai keturunan tunggal generasi ke - 9, Gun tak hanya mendapat seorang istri tapi sebentar lagi akan mendapat seorang anak. Pastinya keberuntungan itu membuat Gun merasa bahagia.

Gun tertawa gamang. Bahagia?. Ya, semua bahagia. Ny. Wang bahagia, ibu Mi Young bahagia dan direktur Tak juga bahagia, "Tapi aku, aku hanya bisa tertawa getir". Gun tertawa keras, direktur Tak juga tertawa mengira Gun benar-benar bahagia.

Direktur Tak ingin tahu bagian mana dari Mi Young yang membuat Gun merasa tertarik. Karena jika di bandingkan, Mi Young sangat jauh berbeda dengan Se Ra, "Selera Anda terhadap gadis-gadis sangat bervariasi".

Gun tertawa lalu memukul wajah direktur Tak karena kesal, membuat direktur Tak terdiam takut. Gun menanyakan maksud perkataan direktur Tak. Apa direktur Tak berpikir ia tertarik pada Mi Young. Baginya Mi Young adalah sebuah kesalahan. Gun tertawa lagi.

Direktur Tak kemudian mengambil bingkisan pemberian presdir Park. Apa Gun tidak ingin membukanya. Bukankah Presdir Park menyuruh Gun membukanya begitu tiba di Seoul. Gun mendorong bingkisan itu menjauh. Setiap kali mendengar nama presdir Park membuat Gun emosi. Bingkisan itu untuk direktur Tak saja.

Direktur mengeluarkan isinya yang ternyata adalah setoples bubuk dengan tulisan label, "Tenaga, membara. "Joagra". Direktur Tak menatap heran, lalu kembali membaca tulisan yang tertera pada labelnya, "Hanya dengan seteguk, cukup membuat Anda menjelma menjadi Superman".

Gun yang mendengar kata superman langsung teriak, "Superman", dan tertawa sembari memperagakan gaya superman yang akan terbang. Direktur Tak terus melanjutkan bacaannya. Dipetunjuk label itu diterangkan seseorang yang meminum bubuk ini bisa mengelilingi Hongkong 3 kali dalam semalam. Diakhir kata tertulis "Obat kuat".

"Obat kuat?", tanya Gun dengan wajah datar.

Raut wajah Gun berubah ketika teringat sesuatu. Gun ingat saat presdir Park memberikan bingkusan itu di dermaga dan perkataaan presdir Park yang bilang kalau obat ini adalah obat terbaik di pulau Yeo Wool. Akhirnya ia tahu apa maksud ucapan Mr. Choi yang bilang kalau ia dan Mi Young bisa bersatu berkat obat ini.

Gun juga ingat kejadian di Macau saat minum minuman yang diberikan Mr. Choi. Gun menjadi mengerti sekarang. Obat itu yang merangsang sekaligus membuatnya tidak sadar hingga melakukan hubungan cinta satu malam dengan Mi Young.

Jadi semuanya karena bubuk ini, dan penduduk Yeo Wool lah yang membuatnya menjadi kacau seperti ini. Gun syok dan juga marah menyadari dirinya terjatuh dalam perangkap yang diciptakan penduduk Yeo Wool. Direktur Tak ikutan panik mendengar cerita Gun.

Gun menuduh Mi Young hanya berlagak lugu di depan tapi tenyata di belakang menipu  seperti ini. Gun geram, "Aku tidak bisa memaafkannya. Aku tidak bisa memaafkannya". Dan petir kembali menyambar di rumah megah itu.

Keesokan harinya Mi Young sudah tiba di Seoul. Ia melihat direktur Tak dan bertanya apa yang dilakukan direktur Tak disini. Direktur menjawab tentu saja ia datang untuk menjemput Mi Young. Direktur Tak berniat membawakan tas Mi Young. Tapi Mi Young yang selalu terbiasa melakukan semuanya sendiri langsung menolak niat baik direktur Tak. 

Tetap saja, direktur Tak mengambil alih tas Mi Young dan berkata kalau Mi Young menolak akan membawa masalah baginya. Jadi, mulai sekarang Mi Young harus terbiasa dengan perlakuan seperti ini.

Direktur Tak menuntun Mi Young menuju mobil. Sedikit berbasa-basi ia menanyakan kabar Mi Young juga restoran ibu Mi Young. Hm, gak tanya kabar Mi Sook juga?. hehe.. Mi Young masih merasa canggung saat direktur Tak membuka pintu mobil untuknya.

Wajah Mi Young tampak sumringah ketika mengira ada Gun duduk di dalam mobil menunggunya. Tapi bukan Gun di dalam sana, melainkan hal setelan jas Gun lengkap dengan kemeja dan dasi tergantung di jok belakang.

Direktur Tak bisa melihat gurat kecewa di wajah Mi Young. Ia menjelaskan kalau Gun tidak datang menjemput karena sibuk dikantor. Kemudian, direktur Tak mempersilahkan Mi Young masuk. Mi Young menurut masuk ke dalam mobil.

Gun memang sibuk, tapi bukan sibuk karena pekerjaan melainkan sibuk berkonsulatsi dengan psikiater. Lingkaran mata hitam seperti panda yang melingkar di kantung matanya, menandakan betapa stress dan frustasi dirinya saat ini karena kurang tidur. Gun bercerita, mulanya ia berpikir kehamilan Mi Young merupakan kesalahannya dan harus bertanggung jawab.

Gun merasa di tipu dan diperlakukan tidak adil. Jika bukan karena obat itu, jika karena bukan wanita itu semuanya tidak akan berakhir menyedihkan seperti ini. Mata Gun melotot marah dan berkata bisa jadi Mi Young telah berkomplot dengan orang-orang itu untuk menjebak dirinya.

Psikiater mengerti jika Gun ingin melampiaskan kemarahannya kepada semua orang. Dan sewaktu-waktu bisa meledak kapan saja jika ada orang yang berani menyetuhnya sedikit saja. Gun mengepalkan tangan dengan erat, tanda ia sangat marah.

Psikiater menebak pasti Gun kurang tidur akhir-akhir ini. Gun membenarkan ia memang kurang tidur dan melarikan rasa frustasinya itu dengan mabuk gila-gila'an. Tak hanya itu, Gun juga terus olahraga dan bekerja keras hingga rasanya mau mati.

Scene beralih memperlihatkan Gun yang sedang tertidur di ranjang. Setiap harinya, ia hanya bisa tidur selama 30 menit. Tapi setelah 30 menit, mata Gun terbuka dengan sendirinya. Mata Gun terbelalak kaget merasakan tangannya yang semula berada di bawah selimut tiba-tiba bergerak naik keatas.

"Hatiku terasa sakit sekali. Hal pertama yang terlintas di pikiranku adalah kenyataan bahwa aku sudah menikah... aku sudah menikah!!!".

Gun menatap cincin nikahnya dengan ekspresi ketakutan, seolah cincin itu bisa membunuhnya kapan saja.

Kembali ke Gun dan sang psikiater. Ketakutan yang dirasakan Gun setelah menikah tidak berhenti di situ. Hal yang membuatnya sangat marah adalah, "Kenyataan bahwa aku harus menjalani kehidupan pernikahan dengan wanita siput itu".

Psikiater tak mengerti dengan maksud Gun. Siput seperti apa?. Apakah seperti pengantin wanita siput lumpur dalam dongeng korea.

Gun mengeleng. Tidak. Siput yang ini berbeda dengan siput dalam dongeng korea. Siput yang satu ini adalah siput yang menyeramkan yang hidup di pulau Yeo Wool. Psikiater bertanya apa Gun takut pada siput?. Mengapa?.

"Semua siput itu terlihat tidak berdaya dari luar, tapi kekuatan sedotan mereka itu luar biasa sangat kuat. Menakutkan. Begitu siput itu menyedotmu, mereka akan berubah sangat menyeramkan. Perlahan-lahan, sedikit demi sedikit, sesuap demi sesuap, sepotong demi sepotong dengan cangkang besar di punggung, siput berjalan nenuju target. Diam-diam, perlahan-lahan secara pelan dan menyakitkan".

Bersamaan dengan itu, tampak Mi Young tiba di rumah Gun yang besar. Di halaman rumah terlihat seekor siput berwarna pink berjalan perlahan persis seperti yang dikatakan Gun. Mi Young tersenyum menyapa sesorang yang membukakan pintu.

Gun menilai siput bahkan lebih buruk dari pada kura-kura. Pada akhirnya ia yang akan kalah. Gun lalu tertawa. Tawa Gun berubah menjadi ekspresi ketakutan. Gun mengaku hanya bisa tertawa setiap kali memikirkan tentang siput mengerikan itu.

Terlihat di belakang punggung Gun, seekor siput kecil perlahan-lahan bergerak naik ke atas. Gun kembali tertawa keras. Tawa stres karena harus menjadi pernikahan tanpa cinta. Parahnya lagi, Gun malah salah paham pada Mi Young. 


END