Pages - Menu

Sunday, December 04, 2016

Sinopsis Legend Of The Blue Sea Episode 4 Part 1

Episode 4


Dinasti Joseon. Malam hari terlihat sepasang kaki berjalan di pantai. Sepertinya dia baru saja keluar dari lautan. 

Keesokan harinya, seorang petugas melaporkan mengenai berbagai kejadian aneh yang terjadi semalam di pedesaan pesisir pantai. Pakaian yang di jemur di gantungan dan sepatu menghilang. Di tempat di mana pakaian dan sepatu itu di ambil, terdapat mutiara kualitas langka yang sepertinya sengaja di tinggalkan (sebagai ganti rugi). 

Tuan Yang juga mendengar kabar ini melalui pelayan Cheon. Gisaeng kesayangan Tuan Yang, Hong Ran terkejut mendengar berita itu, bagaimana mungkin seorang pencuri mengambil pakaian yang di butuhkan dan meninggalkan mutiara langka. Hong Ran berharap pencuri itu datang kerumahnya

Tuan Yang menegur Hong Ran, ia berkata setengah isi lemari Hong Ran sudah terisi mutiara, emas dan perak (padahal tidak). Hong Ran menyindir dan meminta maaf karena menjadi selir yang materialistis. Karena ia tidak bisa memiliki pasangan seutuhnya, anggap saja ia mengganti kehampaan hati dengan memiliki barang-barang mewah. 

Tuan Yang berjanji akan mengisi lemari Hong Ran dengan barang mewah yang banyak. Hong Ran mengeluh tapi kapan hal itu akan terjadi. Tuan Yang lalu tanya, apa Hong Ran tahu kenapa ia merasa bersemangat menangkap duyung meskipun ia sangat sibuk. 

"Jika aku menangkap putri duyung, aku bisa mengambil ekstrak air matanya terus-menerus (karena air mata duyung berubah menjadi mutiara), sehingga setiap langkah yang kau ambil bisa dihiasi dengan mutiara. Itulah rencanaku", tuan Yang tertawa licik memperlihatkan deretan giginya yang kotor. 

Hong Ran ingin tahu rencana apa yang akan di gunakan tuan Yang untuk menangkap putri duyung. Tuan Yang yakin, putri duyung akan datang dengan sendirinya. Ia lalu tanya bukankah begitu pelayan Cheon. 

Pelayan Cheon membenarkan. Sejak dahulu kala putri duyung akan datang ke desa dan mengambil pakaian atau makanan, dan mereka akan mengganti pakaian dan makanan itu dengan mutiara langka yang hanya bisa di temukan di lautan dalam. 

Hong Ran terkejut, jadi maksudnya pencuri pakaian dan sepatu semalam adalah putri duyung?. Apa putri duyung datang ke desa ini?. Pelayan Cheon berkata putri duyung yang sudah jatuh cinta pada manusia akan datang ke daratan. Itu sudah naluri mereka. 

Sementara itu putri duyung yang di maksud, Se Hwa kini memakai hanbok dan menutupi sebagian wajahnya dengan penutup kepala. Ia berjalan-jalan di desa dan melihat anak-anak sedang memanen buah kesemek. 

Se Hwa memungut buah kesemek yang jatuh. Ia ingat Dam Ryung remaja pernah memberinya buah kesemek saat mereka masih bersama. Se Hwa menatap ke langit dengan pandangan menerawang.

"Bagi putri duyung yang hanya bisa mencintai satu kali seumur hidupnya, dia mempertaruhkan nyawanya demi cinta itu", jelas pelayan Cheon

"Cinta sejatinya  putri duyung telah muncul, namun kesempatan tunggal telah muncul dengan sendirinya untukku", ucap tuan Yang

Tuan Yang memerintahkan pelayan Cheon untuk menangkap putri duyung sebelum walikota menemukannya. Ia juga menyuruh Hong Ran untuk menyebarkan rumor secepat mungkin. Hong Ran tanya rumor seperti apa. Tuan Yang berkata rumor  terjadinya badai besar yang menimpa desa baru-baru ini, perahu nelayan yang menghilang, rumah yang rusak karena terjangan badai,  ladang yang hancur semua musibah itu disebabkan karena kemunculan duyung. 

Hong Ran yang sama jahatnya dengan tuan Yang setuju dengan pendapat tersebut. Karena semua musibah itu terjadi di waktu yang sama saat putri duyung terdampar dan di tangkap nelayan pertama kalinya. Rumor yang akan ia sebarkan nanti akan terdengar masuk akal sehingga penduduk akan percaya semua musibah itu di sebabkan karena putri duyung. 

Tuan Yang tertawa memuji Hong Ran pintar. Tak hanya itu saja, tuan Yang juga menambahkan cerita dan menyuruh Hong Ran untuk menyebarkan rumor bahwa putri duyung bersembunyi di desa dan menyamar sebagai manusia. Jika putri duyung tidak tertangkap, bencana yang lebih besar akan melanda desa ini dan banyak orang yang akan terluka dan mati. 

"Lima hari lagi banyak perahu yang akan berlayar untuk menangkap cumi-cumi. Mereka akan khawatir karena kabar adanya angin kencang dan ombak. Ini kesempatan yang bagus!", tambah Hong Ran. 

Tuan Yang tertawa, "Tidak ada yang lebih baik dari rasa takut untuk menghentikan pikiran rakyat.  Walikota juga tidak bisa berbuat apa-apa, berurusan dengan penduduk desa yang bodoh". 

Hong Ran setuju, dan mereka juga bisa menyeret Dam Ryung ke dalam situasi mematikan bersama dengan putri duyung. 

"Cinta yang naif memberiku kesenangan yang besar", tuan Yang tetawa licik

Rumor menyebar dengan cepat. Parahnya rumor tersebut berkembang menjadi cerita putri duyung yang tertangkap telah kembali ke desa dan akan membunuh para penduduk. Mereka juga percaya bahwa musibah yang menimpa desa ini terjadi karena kemunculan putri duyung. Para istri mengkhawatirkan suami-suami mereka yang bisa mati di lautan jika terjadi badai kencang. Kekhawatiran penduduk yang akan melanda desa ini membuat mereka sepakat untuk segera menangkap dan membunuh putri duyung. 

Penduduk yang di landa rasa khawatir berkumpul di depan kantor Dam Ryung. Mereka ingin melapor bahwa putri duyung terlah masuk desa dan penduduk akan mati. Penjaga melarang penduduk untuk masuk ke dalam dan membuat keributan seperti ini. Penjaga menyuruh mereka pergi dan janji akan menyampaikan pesan warga pada Dam Ryung. 

Dam Ryung langsung pergi begitu mendengar kabar tersebut. Teman Dam Ryung berusaha menghalangi. Teman Dam Ryung berkata Dam Ryung baru saja menerima laporan kejadian aneh yang disebabkan putri duyung, tapi Dam Ryung malah ingin menemui wanita itu. 

"Sepertinya Sae Wa datang menemuiku. Aku yang memintanya menemuiku waktu itu. Aku memintanya untuk datang menemuiku saat hari dimana antara hari pertama musim salju dan hari badai salju (sekitar tanggal 22 november). Aku juga ingin melihat salju pertama bersamanya" 

Teman Dam Ryung tidak percaya Dam Ryung yang berpendidikan ternyata bisa bersikap seperti ini. Musim dan tahun datang silih berganti, mereka tidak tahu kapan akan turun salju. (hanya karena hari ini tanggal 22 november belum tentu akan turun salju).

Tepat pada saat itu juga angin berhembus dan butiran salju jatuh ke tanah. Dam Ryung mengulurkan tangan menangkap butiran salju. 

Di tempat lain Se Hwa juga melihat salju turun, ia mengulurkan tangan melakukan hal yang sama seperti Dam Ryung, menangkap butiran salju. 

Dam Ryung langsug naik ke atas kuda meski temannya menghalangi untuk pergi. Ia berkata pada temannya, bahwa Se Hwa saat ini tengah mempertaruhkan nyawanya jika ia benar-benar berada di daratan. Dam Ryung juga akan melakukan hal yang sama, mempertaruhkan nyawanya dan menemui Se Hwa. 

Dam Ryung memacu kudanya tanpa memperdulikan teriakan temannya yang memintanya untuk memikirkan kehormatan ayah Dam Ryung dan nama baik keluarganya. 

Putri duyung cantik, Se Hwa berjalan di perkebunan menuju tempat bertemu dengan Dam Ryung. Se Hwa berteduh di bawah pohon memandangi salju turun. Ia merasakan kehadiran seseorang, ketika menoleh bukan Dam Ryung datang melainkan 3 pria berpakaian hitam-hitam. Mereka adalah pembunuh bayaran yang di kirim tuan Yang. 

Diam-diam tuan Yang mencari informasi ke berbagai tempat di mana putri duyung terlihat.  Kelemahan putri duyung yang pergi ke daratan terletak pada kakinya. Setelah kakinya terluka parah, dia akan kehilangan kekuatannya. Jika tidak segera di obati maka dia akan  mati. Tuan Yang memerintah pembunuh bayaran untuk menyerang kaki putri duyung terlebih dahulu. 

Se Hwa mundur dan ketiga pembunuh bayaran itu mulai menyerangnya. Se Hwa jatuh ke tanah tak berdaya. Perhatian pembunuh bayaran tertuju pada kaki Se Hwa. Ketika salah satu dari mereka hendak melukai kaki Se Hwa, sebuah pedang melayang mengenai dada pria itu. 

Pedang itu milik Dam Ryung, untung saja dia datang di saat yang tepat. Dam Ryung maju melindungi Se Hwa. Ia mengayunkan pedangnya siap menyerang. Sesaat ia menoleh pada Se Hwa dan Se Hwa menatapnya dengan pandangan sendu. 



Seoul.

Berita pencarian Ma Dae Young, narapidana pembunuhan yang melarikan diri masih gencar di siarkan di berita televisi nasional. 3 bulan sudah Dae Young kabur dari penjara, tapi pencarian belum membuahkan hasil yang baik. Kaburnya narapidana berbahaya ini tentunya meningkatkan kecemasan warga. Polisi akan terus melakukan penyelidikan dan yakin ada kaki tangan atau orang yang membantu Dae Young bersembunyi.

Ma Dae Young, narapidana yang tengah menjadi buronan kini menyamar menjadi kuli bangunan. Tapi tak ada satupun dari para pekerja yang menyadari bahwa penjahat yang di cari polisi ada di tengah-tengah mereka.

Di rumahnya, Soo Hee juga mendengarkan berita pencarian Ma Dae Young. Ia tampak tidak terganggu dengan kabar tersebut dan dengan santai meminum kopinya.

Berbeda dengan ekspresi Jin Joo yang juga menyaksikan siaran tersebut. Wanita ini terkejut dan ada sedikit rasa khawatir. Yoo Ran menyiapkan makanan yang akan di bawa Jin Joo. Jin Joo bertanya apa Yoo Ran sudah membungkus kepiting bumbu kecap dengan baik?.

Jin Joo langsung mengomel begitu melihat kepiting bumbu kecap hanya di siapkan di kotak makan tanpa di bungkus plastik terlebih dahulu. Ia sudah bilang agar Yoo Ran membungkusnya terlebih dahulu dengan hati-hati. Bagaimana kalau saus kecapnya tumbah dan luber kemana-mana. Seharusnya Yoo Ran lebih memperhatikan ucapannya.

Dengan tenang Yoo Ran mengambil kotak makan yang di pegang Jin Joo. Ia menunjuk penutup wadah itu dan bilang sudah menutup dan menguncinya dengan baik. Yang perlu Jin Joo lakukan adalah membawa kotak makanan itu dengan posisi tegak.

“Jangan letakkan di bagasi tapi letakkan yang aman di lantai mobil. Kau harus berhati-hati saat kau membawanya”, saran Yoo Ran.

“Baiklah”, jawab Jin Joo patuh.

Usai menasehati Yoo Ran kembali ke dapur. Jin Joo sadar, kenapa nada suara Yoo Ran tadi terdengar seperti menggurui sampai ia kehilangan kata-kata. Jin Joo heran sebenarnya siapa yang berkuasa di rumah ini.

Jin Joo mengambil ponselnya menelpon seseorang. Pada orang itu Jin Joo berkata akan datang berkunjung dan membawakan lauk pauk. Ia harap makanan ini sesuai dengan selera orang tersebut.

Rupanya Jin Joo memberikan semua lauk pauk itu untuk Kang Soo Hee, ibu tiri Joon Jae.

Makanan yang dibuat Yoo Ran tersaji di meja makan. Heo Chi Hyun, kakak tiri Joon Jae senang melihat begitu banyak makanan. Soo Hee menjelaskan dari mana makanan itu berasal. Jin Joo lah yang memasak dan memberikan makanan itu pada mereka.

Soo Hee juga memberitahu Jin Joo berusaha keras untuk menjodohkan Chi Ah dengan Chi Hyun.  CEO Heo setuju jika Chi Hyun dan Shi Ah bersedia. Cepat-cepat Chi Hyun berkata tidak keberatan selama orangtuanya menyukainya.

Soo Hee tertawa, “Sayang, Chi Hyun kita memang seperti ini. Banyak orang bilang dia ini anak Papa”.

“Tidak baik terlalu patuh sekali itu”, CEO Heo tertawa.

CEO Heo mengambil kepiting. Ia terdiam ketika mencoba rasanya. Soo Hee bertanya ada apa. CEO Heo diam saja larut dalam pikirannya. Rasa familiar itu mengingatkannya pada saat makan malam bersama Joon Jae kecil dan Yoo Ran.

Flashback. Joon Jae dan CEO Heo muda makan dengan lahap. Yoo Ran tanya bagaimana rasa kepiting saus kecap buatannya. CEO Heo minta Yoo Ran untuk tidak mengajaknya bicara. Ia memuji kepiting saus kecap buatan Yoo Ran sangat enak sekali sehingga membuatnya tidak bisa berhenti makan.

CEO Heo tanya pendapat Joon Jae yang tengah sibuk memisahkan daging kepiting dari cangkangnya., “Apa enak, Joon Jae?”.

“Jangan buat aku bicara. Ini sangat enak”, jawab Joon Jae.

Yoo Ran membersihkan bibir Joon Jae yang belepotan makanan. Ia berkata alasan mereka menamai putranya dengan nama “Joon Jae”, dengan harapan anak mereka anak menjadi putra yang cerdas dan menawan. Yoo Ran bercanda bilang suaminya harus menjadi konglomerat jika ingin anak mereka menjadi pria yang cerdas dan menawan. 

“Kapan kau akan jadi konglomerat?”, tanya Yoo Ran merajuk

“Tunggu sebentar lagi…..sebentar”, janji CEO Heo, “Aku akan membuatmu jadi Nyonya dan kau akan memakai barang mewah dari ujung kepala sampai ujung kaki”.

“Awas saja, kalau tidak jadi”, ancam Yoo Ran dan keluarga kecil itu tertawa bahagia.  Yoo Ran kemudian menambahkan daging ke mangkuk suaminya. Flashback end.

Melihat CEO Heo yang terdiam, Soo Hee tanya apa makanan itu tidak sesuai dengan selera suaminya. CEO Heo menggeleng, ia berkata rasanya enak sekali dan menyuruh Soo Hee dan Chi Hyun untuk mencobanya.

Chi Hyun menolak sopan dengan alasan alergi kepiting. Soo Hee menatap tajam putranya, begitu pula Chi Hyun yang memberikan tatapan berbeda pada ibunya.

Soo Hee bercerita tentang Jin Joo yang mempunyai pembantu baru. Sepertinya kali ini Jin Joo menemukan pembantu yang tepat  Tapi CEO Heo sama sekali tidak merespon dan tenggelam dalam lamunannya meski Soo Hee memanggilnya berkali-kali.

CEO Heo masih melamun saat perjalanan menuju kantor. Pada orang kepercayaanya, Manager Nam, Ceo Heo bertanya tentang kabar Joon Jae, apa manager Nam masih sering berhubungan dengan putranya belakangan ini.

Manager Nam berkata hari ini adalah hari ulang tahun Joon Jae, wajar saja jika CEO Heo memikirkan putra kandungnya. Manager Nam hanya tahu sampai musim panas Joon Jae tinggal di dekat Samcheongdong. Tapi sepertinya Joon Jae sudah pindah lagi dan menemukan alamatnya yang baru tidaklah mudah..

“Apa yang selama ini dia lakukan, anak nakal itu”, ucap CEO Heo penasaran.

“Kini, sebaiknya anda baikan”, saran Manager Nam

“Apa yang harus di perbaiki antara ayah dan anak. Aku mengatakan ini hanya padamu. Satu-satunya hubungan darah yang aku miliki adalah Joon Jae. Sekarang aku harus mencari dia dan menjaganya agar tetap di sampingku. Ada banyak hal yang ingin aku ajarkan kepadanya. Apa kau bisa mencari dia?”.

Tanpa mereka tahu, Soo Hee menyadap mobil dan mendengarkan pembicaraan rahasia mereka. Soo Hee tentu saja tidak senang dengan rencana suaminya. Ia tersenyum masam dan menelpon Ma Dae Young.

Soo Hee memberi tugas Dae Young untuk mencari Joon Jae. Ia berkata hari ini ulang tahun Joon Jae, dan Joon Jae pasti akan pergi ke wahana aquarium.

“Cari tahu di mana dia. Kalau kau sudah menemukan dia. Buat dia menghilang”

Dae Young pergi ke wahana aquarium lantai 63 seperti petunjuk Soo Hee. Hampir saja ia berpapasan dengan Joon Jae yang berlari mencari putri duyung.

Joon Jae berlari mengelilingi aquarium mencari putri duyung. Begitu pula dengan putri duyung yang terburu-buru mencari Joon Jae dan menabrak anak kecil. Saat puti duyung ingin berlari, ternyata Joon Jae berada tak jauh darinya.
 
Joon Jae jalan perlahan dan berdiri di hadapan putri duyung. Putri duyung menatap Joon Jae dengan mata berkaca-kaca.

“Apa kau kenal aku?”, tanya Joon Jae

Putri duyung tidak menjawab hanya memandang wajah Joon.

 Joon Jae bertanya sekali lagi, “Apa kau kenal aku?”.

Tapi sepertinya putri duyung memang tidak ingin menjawab, ia hanya diam memandangi Joon Jae. Terdengar suara manager aquarium dan petugas keamanan yang keburu datang dan ingin menangkap putri duyung. Putri duyung ingin lari, tapi Joon Jae menahan tangannya.

Manager aquarium berterima kasih pada Joon Jae mengira Joon Jae telah menangkap putri duyung yang menyusup masuk ke aquarium tanpa ijin mereka. Ia ingin membawa putri duyung untuk menginterogasinya.

Putri duyung dan Joon Jae saling berpandangan. Putri duyung menunduk telihat takut di tangkap. Melihat itu, Joon Jae langsung berdiri di depan putri duyung menghalangi petugas. Dengan cepat ia memilih dan mengambil salah satu kartu pengenal dari beberapa kartu yang tersimpan di dalam saku mantelnya.

(Di dalam saku Joon Jae tersimpan berbagai macam kartu tanda pengenal dari berbagai profesi. Pasti Joon Jae telah menyusunya dengan baik dan mengetahui urutannya, sehingga ia bisa dengan mudah mengambil salah satunya jika berada dalam keadaan genting seperti saat ini).

Ia menunjukan kartu pengenal pada manager. Memperkenalkan dirinya sebagai detektif bernama “Hong Dok Kyung’ dari department tindakan criminal. Manager kaget secepat itu di laporkan. Ia lalu bertanya pada anak buahnya siapa yang melaporan kejadian disini?. Staf aquarium menebak mungkin team keamanan yang melaporkannya.

“Apa kau yang bertanggung jawab disini?”, tanya Joon Jae pada manager.

Manager mengiyakan dan memberikan kartu namanya. Joon Jae berkata penyusup yang menerobos masuk dan merusak property biasanya memiliki motif tersendiri. Dan hal sepertinya itu akan sangat sulit tanpa bantuan orang dalam. Joon Jae  berkata akan melakukan penyelidikan lanjutan dan melepon manager sebagai saksi.

Manager mengiyakan meski terlihat berat. Joon Jae mengajak putri duyung pergi. Putri duyung tersenyum pada Joon Jae yang kembali menyelamatkannya. Joon Jae meraih lengan putri duyung dan mereka jalan bersama. Manager  yang melihat mereka tampak ragu, wanita itu pasti di tahan kan?.

Joon Jae membawa putri duyung kesisi aquarium yang sepi. Joon Jae mengatakan alasannya membawa putri duyung keluar bukan untuk menyelamatkan putri duyung dari kejaran petugas, melainkan untuk mengetahui sesuatu. Karena itu, ia minta putri duyung menjawab pertanyaanya.

Joon Jae menunjukan foto yang dikirim Thomas, “Ini. Kenapa kita bisa bersama?”.

“Kenapa aku dan Heo Joon Jae ada di dalam sini”, tanya putri duyung heran. Putri duyung tidak tahu fungsi ponsel dan gambar yang dia lihat hanyalah foto.

“Kau juga tahu namaku. Kau kenal aku kan?”, giliran Joon Jae yang heran

Putri duyung menggeleng menunduk tanpa berani menatap Joon Jae.

Joon Jae mendesak, “Kau kenal aku atau tidak?. Kau bahkan tahu namaku”,

(Hanya sedikit orang yang mengetahui nama asli Joon Jae, karena dia sering memakai nama palsu.)

Joon Jae menjadi yakin mereka pernah bertemu di spanyol. Tapi Joon Jae heran karena tidak bisa mengingat ataupun mengenai putri duyung. Joon Jae  menatap putri duyung dari jarak dekat, “Siapakah kau. Siapa namamu?”.

“Aku tidak punya nama”, jawab putri duyung tetap menunduk. 

Joon Jae tertawa tak percaya, “Kau tidak punya nama?”.

Putri duyung mengiyakan dengan deheman, lalu mengangkat wajahnya dan berkata, “Aku tidak punya nama, tapi seseorang mengatakan bahwa aku tidak aneh”.

“Siapa?”

“Seseorang yang baik”.

Joon Jae tersenyum kecil, ia tak yakin siapa orang yang dimaksud putri duyung. Tapi menurutnya orang yang di sebutkan putri duyung sama anehnya dengan putri duyung. Joon Jae menilai kata-kata, sikap dan tindakan putri duyung semuanya aneh. 


(jiah….ngatain diri sendiri…tapi Joon Jae memang ngaku kalau dia lebih aneh dari pada putri duyung (episode 2)

“Apa kau tidak bisa berbahasa Korea dengan baik?. Apa kau orang Korea dari luar negeri?”.

Putri duyung terdiam di marahi Joon Jae. 2 orang petugas lewat di depan mereka. Joon Jae merangkul pundak putri duyung dan tersenyum. Bertingkah seperti pasangan yang sedang berjalan-jalan.

Setelah kedua petugas itu menghilang dari pandangan, Joon Jae meraih tangan putri duyung dan mengajaknya lari. Putri duyung tersenyum senang, mengingat kejadian di Spanyol saat mereka melarikan diri dari kejaran preman.

Sesampainya di luar dan merasa situasi sudah aman, Joon Jae langsung melepas genggamannya. Putri duyung memandang tangannya yang kosong, merasa kehilangan setelah Joon Jae melepaskan tangannya.

Untuk terakhir kalinya Joon Jae bertanya apa saja yang mereka lakukan di Spanyol. Joon Jae yakin bertemu dengan putri duyung tapi kenapa ia tidak ingat apapun.

Apa tanpa sepengetahuan ku, aku terlibat sebuah kecelakaan?”.

Putri duyung tetap diam membisu. Melihat sikap putri duyung, Joon Jae jadi kesal dan yakin wanita itu tidak akan mengatakan apapun meski ia menanyainya berulang-ulang.

“Ada banyak yang ingin aku ketahui tentang kau, tapi kau tidak ingin mengatakan apapun kepadaku. Jadi bukankah tidak ada gunanya meskipun kita tetap bersama?”

Joon Jae pergi meninggalkan putri duyung sendirian. Namun, diam-diam putri duyung mengikuti Joon Jae. Bukannya Joon Jae tidak tahu, ia tahu kalau putri duyung mengikutinya. Joon Jae berhenti lalu berbalik. Ia bertanya apakah ada yang ingin putri duyung katakan padanya?.

Putri duyung menunduk seraya menggeleng kecil. Joon Jae memperingatkan, kalau tidak ada yang ingin di katakan maka jangan mengikutinya. Joon Jae berjalan cepat dan menyebrang jalan bawah tanah menuju taman sungai Han. Putri duyung ingin mengikuti tapi terhalang oleh truk besar yang melintas di depannya.

Saat putri duyung menyebrang, Joon Jae sudah menghilang dari pandangan. Putri duyung tetap menyebrang yang merupakan jalan pintas menuju sungai Han. Setibanya di taman, putri duyung kebingungan melihat tempat itu di penuhi banyak orang. Ada yang berjalan-jalan, bersantai ataupun berekreasi bersama keluarga.

Seorang pria menatap putri duyung. Ia membuat teropong dengan tangannya seolah-olah sedang mengeker sesuatu.

Cameo : Cha Tae Hyun. (pathner Jun Ji Hyun dalam film “My Sassy Giril”)

Pria itu memuji hidung putri duyung sudah sangat bagus, sempurna. Jangan pernah operasi plastic. Putri duyung memegangi hidungnya dan menatap pria itu dengan heran. Pria itu menenangkan ia bukan orang aneh. Ia juga bukan penyebar Taoisme atau semacamnya hanya seseorang pertapa Buddha (maksudnya peramal). Peramal Cha mengaku bisa melihat semuanya meski ia tidak ingin melihatnya.

“Apa yang kau lihat?”, tanya putri duyung.

“Nona kau tidak punya keberuntungan dengan leluhurmu, tapi hidungmu memblokir  banyak energi buruk. Tapi itu agak ambigu. Biarpun hidungmu bagus,  energi berkabungmu lebih kuat. Di dalam tanah, leluhur mu menangis”.

“Leluhur itu apa?”, tanya putri duyung.

“Orang yang membuat Nona, sebelum mereka dan sebelumnya lagi, itulah mereka. Asal usul nona”

“Mereka tidak mungkin berada di dalam tanah”, ujar putri duyung.

“Kalau bukan di dalam tanah lalu dimana?”

“Di dalam air”, jawab putri duyung jujur.

Peramal Cha pura-pura mengerti meski terlihat bingung. Ia mengira leluhur putri duyung tidak di kubur melainkan di kremasi dan abunya di sebarkan di laut, itulah mengapa putri duyung bilang kalau leluhurnya berada di dalam air. Peramal Cha kemudian mengoreksi ucapannya, tak penting leluhur putri duyung berada di tanah atau di lautan yang penting adalah leluhur putri duyung menangis.

Putri duyung bertanya kenapa leluhurnya menangis. Peramal Cha dengan semangat menjelaskan karena leluhur putri duyung tidak melakukan tugas mereka (gong). Peramal Cha mengambil batu dan membuat tulisan di tanah. Tulisan Gong.

Peramal Cha berkata jika putri duyung membacanya terbalik maka tulisannya akan berubah menjadi tulisan berbeda yang juga memiliki arti berbeda. Putri duyung diam saja memandangi tulisan itu. Peramal Cha tak sabaran dan menggeser posisi putri duyung agar bisa membaca tulisan.

“Ini dibaca apa?”, tanya permala Cha

Putri duyung malah menatapnya dengan tatapan orang aneh. Peramal Cha akhirnya menjawab pertanyaannya sendiri, tulisan itu jika di baca terbalik akan menjadi kata “Woon” yang berarti kekayaan atau keberuntungan. Peramal Cha menjelaskan panjang lebar apa kaitan antara kata Gong dan Woon. Jika putri duyung melakukan tugasnya maka keberuntungan akan mengikutinya. 


Tapi putri duyung tidak memperhatikan ocehan peramal Cha. Ia malah menatap  kearah lain dan tampak tertarik dengan anak-anak yang membeli permen kapas. Putri duyung menelan ludah melihat permen kapas.

Peramal Cha mengeluh, “Energimu sungguh kuat. Kau kuat dan juga centil”  (My Sassy Girl).

Peramal Cha mengajak putri duyung untuk pergi ke mobil dengan berkata keburuntungan putri duyung sudah menunggu disana (padahal niatnya mau nipu). Putri duyung menurut saja ketika peramal Cha menuntunya ke mobil. Namun, baru beberapa langkah ada seorang pria yang menghalangi. Wajah putri duyung langsung cerah melihat wajah pria itu. Joon Jae.

“Kenapa?. Apa?. Kau siapa?”, tanya peramal Cha terusik

“Aku?. Aku leluhurmu. Aku berpikir bahwa kalau aku terus mengabaikan keturunanku, aku pikir seluruh dunia akan berubah menjijikan, jadi aku datang ke sini secara pribadi untukmu. Untuk membawamu pergi, jawab Joon Jae sambil menarik putri duyung ke sisinya.

Peramal Cha melihat putri duyung yang tampak terpesona pada Joon Jae. Ia tertawa tak percaya, mana mungkin Joon Jae leluhurnya (kata-kata leluhur yang ia ucapkannya pada putri duyung hanya taktik untuk menipu). Ia hendak menyentuh Joon Jae, tapi Joon Jae langsung mendorongnya.

Peramal Cha tertawa kesal lalu terkejut ketika melihat dompetnya berpindah tempat ke tangan Joon Jae. (wah,…kecepatan tangan Joon Jae luar biasa). Ia hendak mengambilnya, tapi Joon Jae mengangkat tangannya tinggi-tinggi jauh dari jangkauan peramal Cha.

Peramal Cha sampai meloncat untuk mengambilnya, Joon Jae mengikuti dan sedikit berjinjit agar peramal itu tidak bisa meraih dompet.

Peramal Cha marah, ia mengatai Joon Jae sebagai brengsek tukang copet. Ia mengancam akan melaporkan Joon Jae pada polisi dan akan membuat Joon Jae menyesal. Tapi Joon Jae tidak termakan ancaman tersebut meski peramal Cha berulang kali bilang akan melaporkannya. (karena ia tahu peramal Cha seorang penipu yang tentunya tidak ingin berurusan dengan polisi).

Pada akhirnya peramal Cha memohon agar Joon Jae mengembalikan dompetnya. Ia berjanji akan pergi diam-diam jika Joon Jae bersedia mengembalikan barang miliknya. Peramal Cha sampai mengiba dan merasa malu sendiri. Hahaha


Hari sudah malam ketika putri duyung dan Joon Jae berjalan-jalan di taman sungai Han. Putri duyung yang tidak mau lagi terpisah dari Joon Jae, memegangi jaket pria itu dan berjalan mengikutinya.

Joon Jae menasehati putri duyung yang sepertinya tidak sadar hampir saja menjadi korban penipuan. Joon Jae melarang putri duyung mengikuti pria sembarangan seperti tadi, mereka akan mengatakan hal-hal tidak perlu dan mengambil uang putri duyung (tapi kan…. putri duyung tidak punya uang).

“Mengerti?”, tanya Joon Jae. Putri duyung mengangguk.

Tiba-tiba Joon Jae menarik putri duyung ke pelukannya, agar putri duyung tidak tertabrak orang-orang yang bermain skateboard. Putri duyung sedikit terkejut lalu memandang wajah Joon Jae dengan terpesona.


Joon Jae yang sadar cepat-cepat melepaskannya. Putri duyung masih menatap Joon Jae dengan tatapan terkesima meski Joon Jae melotot padanya (karena kaget).

Ponsel Joon Jae bergetar, Joon Jae menjauhkan diri untuk menjawa telepon dari Nam Doo. Terdengar suara letusan, putri duyung langsung melompat menerjang Joon Jae yang baru saja selesai menelpon.

Joon Jae kaget, “Apa yang kau lakukan?”.

“Pistol”, jawab putri duyung. Ia bermaksud melindungi Joon Jae dengan tubuhnya, mengira suara letusan yang ia dengar barusan adalah letusan pistol.

“Itu bukan pistol”, ucap Joon Jae berusaha melepaskan diri

Tapi putri duyung tidak mau melepaskan, “Diamlah, Joon Jae. Aku akan melindungimu”.

“Ah, tidak, Siapa yang sedang melindungi siapa. Ya, ampun?”, Joon Jae berontak melepaskan diri.

Joon Jae duduk dan melihat putri duyung menutup mata dan menyembunyikan wajahnya tanda dia sangat ketakutan. Namun, dalam keadaan seperti itu putri duyung lebih memilih untuk melindungi Joon Jae terlebih dahulu di bandingkan melindungi diri sendiri. Joon Jae menyadari hal itu dan minta putri duyung untuk membuka mata.

“Buka matamu. Percaya pada kata-kataku. Lihat ke langit”.

Takut-takut putri duyung menatap langit dan melihat kembang api berpijar di langit malam.

“Dengarlah dengan baik.  Sebelum melindungi orang lain, lindungilah dirimu sendiri dulu. Itu urutan yang benar. Jika kau melakukan kebalikannya, itu tindakan yang bodoh. Mengerti?”.

Putri duyung tidak mendengarkan ucapan Joon Jae, terlalu terpana melihat keindahan kembang api. Putri duyung tanya apakah benda itu tidak panas jika di sentuh. Joon Jae kesal karena putri duyung mengabaikan ucapannya.

Putri duyung menunjuk langit dan kembali bertanya, “Itu, apa tidak panas disentuh?”.

“Ini sungguh pertama kalinya kau melihat kembang api?”, tanya Joon Jae balik.

“Kembang api?”, tanya putri duyung.

Mendengar kata “kembang api”. Putri duyung teringat ucapan Joon Jae di Spanyol, dan janji mereka untuk melihat kembang bersama di sungai Han.

“Pertunjukan kembang api?”, tanya putri duyung lagi

“Betul. Apa benar-benar kau pertama kali ini melihatnya?”

Putri duyung mengangguk. (tanpa di sadari mereka telah memenuhi janji itu).

Joon Jae berkata putri duyung tidak bisa menyentuh kembang api, karena begitu kembang api meledak secepat itu pula menghilang. Putri duyung mengangkat tangan ke langit, seolah menyentuh kembang api. Ia tersenyum menatap Joon Jae lalu kembali menatap langit.

Lalu putri duyung melihat orang-orang memotret menggunakan ponsel mereka. Putri duyung yang heran bertanya pada Joon Jae kenapa semua orang mengangkat tangan mereka seperti ini. Putri duyung mengangkat tangannya, memperagakan apa yang mereka lakukan.

“Mereka mengambil foto”, jawab Joon Jae.

“Mengambil foto?, Mengambil foto itu apa?”, tanya putri duyung polos.

Joon Jae tertawa tak percaya, “Ah, Kau sungguh...Kau sungguh bertanya karena tak tahu?”.

Melihat wajah putri duyung yang serius, Joon Jae menunjukan apa yand di maksud dengan mengambil foto. Ia mengambil ponselnya dan memotret kembang api. Lalu menunjukan hasilnya pada putri duyung, “Nah..seperti ini”

“Ah…”, ucap putri duyung mengerti. 

“Ah..apanya”, ucap Joon Jae mengolok.

Putri duyung tanya kenapa Joon Jae tidak ikut memotret. Semua orang melakukan itu. Joon Jae menjawab, “Karena aku hanya perlu mengingatnya”.

Putri duyung tersenyum, meraih tangan Joon Jae dan menempelkannya ke dada Joon Jae, “Kau mengingatnya disini, bukan?”.  

Joon Jae memandang putri duyung dan terdiam. Ia teringat ketika kecil menonton kembang api bersama ibunya.

Flashback. Setelah pergi ke aquarium. Joon Jae kecil dan ibunya pergi melihat festival kembang api. Joon Jae kecil terpesona melihat keindahan kembang api. Ibu Joon Jae berkata biasanya benda yang cantik dan indah cepat menghilang. Maka Joon Jae harus melihatnya dengan baik-baik dan kemudian menyimpanya di dalam hati. Ibu Joon Jae meraih tangan Joon Jae dan menempelkannya ke dada Joon Jae.

“Dengan begitu, ketika kau mengalami  hari sedih, kau akan teringat ini. Ingatlah, "Saat itu, kembang api di langit sungguh indah. Ah hari itu sangat indah”.  

(mengingat hal indah akan membuat perasaan lebih baik ketika merasa sedih).

“Ibu, tahun depan kita akan melihat kembang api lagi?”,

“Tentu saja”, jawab ibu Joon Jae.

Joon Jae kecil bertanya lagi apa tahun selanjutnya juga. Ibu Joon Jae menjawab tentu saja. Joon Jae terus tanya tahun depan dan tahun depannya lagi. Dan ibu Joon Jae menjawab tentu saja mereka akan melihat kembang api bersama untuk tahun depan, tahun depannya lagi, dan seterusnya. Flashback end.

Joon Jae tersadar dari lamunanya.  Mencoba mengalihkan pembicaraan, Joon Jae protes kenapa putri duyung selalu menggunakan bahasa banmal ketika bicara padanya 

(Banmal = Bahasa informal, biasa di pakai jika bicara dengan teman atau orang yang sudah akrab).

Putri duyung tidak mendengarkan, terlalu takjub dengan kembang api. Joon Jae berkata mulai sekarang, juga akan menggunakan bahasa banmal jika berbicara dengan putri duyung. Percuma saja, putri duyung sama sekali tidak merespon. Joon Jae memandang putri duyung yang tersenyum terpesona seperti anak kecil.  Joon Jae tersenyum melihat kepolosan putri duyung dan ikut memandangi langit.

Malam itu juga, Yoo Ran melihat festival kembang api melalui siaran televisidi rumah Jin Joo dengan wajah sedih. Dong Shik yang baru keluar dari kamar hendak mengganti chanel TV ke pertandingan golf. 

Yoo Ran langsung melarang, “Tunggu”..

Dong Shik langsung berhenti tidak jadi mengganti chanel. Jin Joo yang melihatnya ingin protes tapi langsung menurut begitu melihat Yoo Ran mengangkat tanggannya, isyarat untuk menunggu.

Setelah merasa cukup, akhirnya Yoo Ran mempersilahkan, “Sudah. Kau boleh menonton golf sekarang”, ucapnya beranjak pergi.

“Terima kasih”, ucap Dong Shik

Setelah Yoo Ran menghilang, Jin Joo langsung menendang kaki suaminya (gak sopan) dan memarahi Dong Shik, untuk apa mengucapkan terima kasih,

“Ini TV kita. Ini rumah kita. Kenapa kau patuh terhadap semua perkataan ahjuma itu? ”
“Entah. Anehnya setiap kali dia memerintahkan sesuatu, aku akan menurutinya”, jawab Dong Shik bingung.

Jin Joo terdiam, merasakan hal yang sama. pff...

Melalui telepon, Ma Dae Young melapor pada Soo Hee kalau saat ini ia sedang mengikuti Joon Jae. Ia juga bilang saat ini Joon Jae bersama dengan seorang gadis, “Tapi... Bagaimana kau bisa tahu bahwa dia akan ada di sini hari ini?”

“Dia... Sejak muda, selalu melakukan itu. Bahkan setelah dewasa, dia masih belum melepaskan kebiasaan itu”, jawab Soo Hee.

Flashback. Di hari ulang tahunnya, Joon Jae kecil hendak pergi. Soo Hee yang saat itu sudah menjadi ibu tiri Joon Jae menghalangi Joon Jae. Soo Hee tanya Joon Jae mau kemana. Joon Jae menjawab ingin menemui ibunya. Ia dan ibunya berjanji akan bertemu di hari ulang tahunnya. Saat ini ibunya pasti sedang menunggu.

Mendengar itu Soo Hee langsung marah dan memegangi tangan Joon Jae agar tidak pergi. Joon Jae meronta minta di lepaskan.

“Benarkah? Kalau begitu pergilah. Ibumu tidak akan datang.  Karena ayahmu telah memberikan banyak uang padanya. Jika dia bertemu denganmu, dia harus mengembalikan semua uang itu. Menurutmu kenapa ibumu pergi tanpa berpamitan Itu karena dia lebih menyukai uang daripada kau”.

“Tidak…tidak… Ibuku tidak seperti itu. Ibuku tidak seperti itu…..”, Joon Jae menangis.

Soo Hee tersenyum sinis. Tepat pada saat itu ayah Joon Jae datang dan tidak senang melihat putranya menangis. Ia tanya kenapa lagi Joon Jae menangis. Cepat-cepat Soo Hee memeluk Joon Jae berlagak menjadi ibu tiri yang baik. Soo Hee berkata Joon Jae ingin bertemu dengan ibunya.

Ayah Joon Jae langsung memarahi Joon Jae (bukannya di sayang), ia melempar tas Joon Jae dan berteriak menyuruh Joon Jae masuk ke dalam kamar. Soo Hee tersenyum melihat Joon Jae di marahi ayahnya. Ayah Joon Jae membentak Joon Jae dan menyeret Joon Jae masuk ke kamar. Soo Hee menghalangi dan berpura-pura bersikap baik di depan suaminya.

“Kenapa kau teriak padanya, padahal dia sedang sedih?”, Soo Hee memeluk Joon Jae 

Joon Jae melepaskan pelukan Soo Hee, ia menangis berkata kalau ibunya tidak seperti itu dan ibunya pasti akan datang menemuinya. Soo Hee menghapus air mata Joon Jae, ia meminta maaf dan berkata kalau tangisan Joon Jae juga membuatnya sedih. Ia kembali memeluk Joon Jae, padahal dibaliknya ia tersenyum licik. (Wanita rubah). Flashback end.

Soo Hee berkata pada Dae Young, kalau ia telah berusaha semampunya (untuk merebut posisi Yoo Ran dan menyingkirkan Joon Jae). Tapi disaat CEO Heo butuh pewaris, suaminya itu malah mencari anak kandungnya. Soo Hee tentu saja tidak rela. Ia memerintahkan Dae Young untuk mencari alamat Joon Jae.

“Aku harus hidup agar kau bisa hidup. Mengerti?”, kata Soo Hee.

Dae Young menutup telepon begitu melihat Joon Jae berjalan pergi.

Joon Jae berjalan menuju mobil dan putri duyung masih mengikutinya. Joon Jae tanya kenapa putri duyung terus mengikutinya, sekarang ia harus pergi. Putri duyung menahan Joon Jae yang akan masuk ke mobil. Putri duyung tanya tidak bisakah ia ikut bersama Joon Jae?.

“Bersama?. Kemana?. Rumahku?”, tanya Joon Jae

Putri duyung tersenyum, membuat bulatan dengan mulutnya, “Ya”.

Joon Jae bilang tidak boleh. Putri duyung dengan sedih tanya kenapa tidak boleh. Joon Jae berkata tentu saja tidak boleh. Bagaimana bisa seorang gadis pergi kerumah pria. Jika orang tua putri duyung tahu, apa kira-kira yang akan dikatakan orang tua putri duyung.

“Aku tidak punya orang tua”, jawab putri duyung

Joon Jae merasa kasihan. Lalu minta putri duyung untuk menjawab pertanyaannya, “Kita saling kenal, kan?. Ada sesuatu yang terjadi, kan?”.

Di tanya seperti itu putri duyung langsung membisu. Joon Jae berkata jika putri duyung terus bersikap seperti ini, untuk apa ia membawa putri duyung pulang bersamanya. Joon Jae menuliskan nomor ponselnya ke tangan putri duyung dan bilang putri duyung bisa menghubungi nomor itu jika ada sesuatu yang ingin dia sampaikan.

Usai memberikan nomor ponselnya, Joon Jae langsung masuk ke mobil dan meninggalkan putri duyung. Dari kaca spion, Joon Jae melihat putri duyung yang memandangi kepergiannya. Terjadi pergolakan dalam hatinya yang merasa tidak tega meninggalkan putri duyung. Tapi, Joon Jae berusaha menepis perasaan itu. Toh dia juga tidak mengenal putri duyung untuk apa peduli.

Putri duyung mematung sedih di tinggal Joon Jae. Tanpa ia sadari, Dae Young berjalan pelan mendekati putri duyung. Oh…tidak….



Lanjut ke Sinopsis Legend Of The Blue Sea Episde 4 Part 2


1 comment:

  1. KAMI SEKELUARGA TAK LUPA MENGUCAPKAN PUJI SYUKUR KEPADA ALLAH S,W,T
    dan terima kasih banyak kepada AKI atas nomor yang AKI
    beri 4 angka [1827] alhamdulillah ternyata itu benar2 tembus .
    dan alhamdulillah sekarang saya bisa melunasi semua utan2 saya yang
    ada sama tetangga.dan juga BANK BRI dan bukan hanya itu KI. insya
    allah saya akan coba untuk membuka usaha sendiri demi mencukupi
    kebutuhan keluarga saya sehari-hari itu semua berkat bantuan AKI..
    sekali lagi makasih banyak ya AKI… bagi saudara yang suka PASANG NOMOR
    yang ingin merubah nasib seperti saya silahkan hubungi KI JAYA,,di no (((085-321-606-847)))
    insya allah anda bisa seperti saya…menang NOMOR 750 JUTA , wassalam.

    ReplyDelete

Thanks sudah mampir di blog saya, jangan lupa tinggalkan komentar ya...Trims....:)