Pages - Menu

Wednesday, February 18, 2015

Sinopsis Kill Me Heal Me Episode 7 Part 2

“Editor, aku datang!”, ucap Ri On setengah berbisik masuk keruangan editor.

Editor terkejut melihat Ri On datang dan buru-buru menyuruh Ri On masuk. Editor mempersilahkan Ri On duduk dan memberinya minuman. Kemudian bertanya apa yang membuat Ri On datang kesini, apa tidak apa-apa jika Ri On datang kesini dan apa yang Ri On katakan pada karyawan lain. Ri On menjawab ia hanya mengaku sebagai ketua dari fans club Omega.

Editor memberitahu ribuan telepon masuk untuk hak cipta film. Editor bertanya apa Ri On berubah pikiran.  Ri On belum berubah pikiran, ia minta editor untuk menolak tawaran itu semampu editor menolaknya.

Ri On bertanya apa editor sudah membaca proposal (konsep) proyek novel selanjutnya. Tentu saja editor sudah membacanya. Ceritanya bagus dan ia sangat menyukainya. Sampai membuatnya tidak bisa tidur karena penasaran dengan akhir ceritanya.  

Ri On tertawa, itu hanya cerita tentang seorang chaebol yang di tambahkan sedikit misteri dan hal semacamnya.

“Hei...hei..kau pelit lagi”.

“Hei..Hei.. kau tidak sabaran lagi. Kau akan mengetahuinya di waktu yang tepat. ck”.

Editor manyun. Akhirnya Ri On memberi sedikit bocoran kelanjutan ceritanya. Cerita kembali ke 21 tahun yang lalu. Seorang anak di adopsi, tapi anak itu lupa kejadian yang dialaminya sebelum dia di adopsi.

Scene berpindah memperlihatkan rumah keluarga Oh dan Ibu Ji yang berjalan membawa gitar menuju kamar Ri On. Di perlihatkan juga foto-foto keluarga Oh dan foto Ri On dan Ri Jin saat kecil. 
“Anak itu tumbuh di dalam keluarga tempat dia di adopsi sebagai saudara kembar. Lalu suatu hari dia tidak sengaja mendengar pembicaraan orang tuanya. Lalu dia mengetahui kenyataan bahwa dia di adopsi. Lalu dia mendengarnya. Nama seorang chaebol yang mungkin berhubungan dengan masa lalunya”.

Di perlihatkan ibu Ji yang sedang membersikan kamar Ri On. Menyusun tempat tidur dan melihat pakaian Ri On yang berserakan. Ibu merasa penasaran pada lemari buku Ri On yang tertutup papan. Ibu membukanya dan terbelakak terkejut melihat sesuatu yang tertempel disana.

Anak itu tumbuh dewasa dan mulai menyelidiki rahasia keluarga chaebol tersebut untuk mengetahui masa lalunya. Dia juga tahu ada seorang anak laku-laki yang seumuran dengannya di rumah itu dan mendekatinya”.

Apa yang membuat ibu terkejut?. Bukan artikel tentang keluarga Seung Ji melainkan poster wanita seksi dalam keadaan bugil. Untungnya saja poster itu di sensor... (ck..ck.. Ri On, ada-ada aja kelakuannya..).

“Lalu”, Ri On menyentuh poninya, “To be continue”, ucap Ri On membuat editor penasaran.

Editor protes, kenapa Ri On berhenti bercerita padahal ceritanya semakin menarik. Ri On bilang editor akan sedih jika mendengar kelanjutan ceritanya. Editor tanya apakah ini cerita fiksi atau non fiksi.

“Kau bahkan pergi ke Amerika untuk menyelidikinya, seperti cerita ini tidak sepenuhnya fiksi”.

“Aku harus menyingkap lebih dalam lagi, untuk mengetahui apakah cerita ini fiksi atau non fiksi”, ucap Ri On dengan wajah serius.

Sek. Ahn pergi ke kantor editor. Ia berpapasan dengan Ri On di koridor. Sek. Ahn berbalik mengenali Ri On sebagai pria yang ia kenal di toko buku. Tapi Ri On tidak melihat Sek. Ahn dan berlalu begitu saja. 
Setibanya di kantor, Sek. Ahn menemui Do Hyun dan mengungkapkan pendapatnya bahwa tidak mudah bertemu langsung dengan Penulis Omega. Sang penulis terus saja menolak untuk memberikan hak distribusi film Do Hyun bertanya apa ada informasi selain itu.

Sek. Ahn tidak yakin apakah yang ia katakan ini bisa di sebuh sebagai infromasi. Sek. Ahn menceritakan pertemuannya dengan Ri On di kodiro kantor editor. Sek. Ahn menyebut Ri On sebagai ketua fans club Omega. Editor bilang dia akan melalukan kajian pembacaan.

“Kajian pembacaan?”, tanya Do Hyun tak mengerti

“Itu adalah acara rutin dimana para penggemar bisa membaca novel yang di tulis oleh penulis Omega atau cerita yang di tulisa penggemar sendiri. Kadang-kadang penulis Omega datang kesana untuk merasakan bagaimana perasaan penggemarnya?”.

Do Hyun memerintahkan Sek. Ahn untuk mencari tahu kapan dan dimana tempat pengkajiannya. Cari tahu juga apakah Omega mengadakan pertemuan di tempat lain atau dia memberikan semacam hadiah pada anggorta club itu. Bagaimana pun caranya cara cara untuk menarik perhatian Omega.

Sek. Ahn mengerti. Do Hyun melihat jam tangannya dan berdiri bersiap pergi. Sek. Ahn yang heran menanyakan hendak kemana Do Hyun. Do Hyun berkata akan pergi ke kencan buta sesuai perintah Ny. Seo.

“Jangan mengasihaniku seperti itu. Seperti aku akan menjual nyawaku saja. Setidaknya aku harus bertanggung jawab dan segera kembali ke sini". 

Sek. Ahn hendak mengikuti Do Hyun di belakang. Tapi Do Hyun meminta Sek. Ahn jangan mengikutinya. Karena ia ingin pergi sendirian saja. Sek. Ahn hanya bisa memandangi kepergian Do Hyun dengan tatapan prihatin. 



Chae Yeon terburu-buru masuk ke restoran dan bertamu dengan orang tua Ki Joon yang baru saja keluar dari lift. Mereka saling menyapa dan terlihat hubungan Chae Yeon dan orang tua Ki Joon terjalin cukup baik. Mereka mempunyai janji makan siang bersama.

Kemudian mereka masuk ke restoran. Manager restoran menyambut kedatangan mereka. Ny. Yoon menanyakan apakah anaknya Ki Joon sudah datang. Manager menjawab belum. Ny. Yoon lalu bertanya pada Chae Yeon, apa Ki Joon sudah memberi kabar akan datang terlambat. Chae Yeon bilang Ki Joon tidak mengatakan apapun tentang hal itu. Ny. Yoon lalu bertanya pada suaminya, apa putra mereka masih bekerja di perusahaan. 

"Tentu saja. Perusahaan itu di buat untuk agar orang bekerja", Tuan Young Pyo tertawa, "Dia pasti sibuk. Kita masuk saja dan tunggu di dalam". 

Ny. Yoon bilang tidak ada seorang pun dari mereka yang tidak sibuk. Ia mengambil ponselnya hendak menghubungi Ki Joon. Tapi Chae Yeon menawarkan diri biar dia saja yang menelpon Ki Joon dan mempersilahkan Ny. Yoon dan Tuan Young Pyo untuk masuk kedalam. 

Setelah orang tua Ki Joon masuk, Chae Yeon segera menghubungi Ki Joon dan bertanya kenapa Ki Joon belum datang, sementara orang tua Ki Joon sudah datang. Ki Joon meminta maaf karena dia pikir tidak bisa datang, ia lupa ada hal penting yang harus di kerjakan. 

"Kau pikir aku tidak sibuk", teriak Chae Yeon tanpa sadar. Kemudian ia melihat sekeliling dan mengecilkan suaranya, "Seharusnya kau tidak memaksaku untuk datang. Aku sudah membatalkan semua jadwalku agar aku bisa datang!". 

Ki Joon meminta maaf, "Nanti ku telpon lagi", ucapnya mengakhiri pembicaraan.

Chae Yeon menghela napas kesal. 


Ny. Yoon dan tuan Young Pyo berada di ruangan menunggu Chae Yeon dan Ki Joon. Ny. Yoon terkejut dan tak mengerti mendengar rencana suaminya yang menyiapkan pistol yang tidak bersuara. Tuan Young Pyo menjelaskan pistol tanpa suara itu maksudnya menyiapkan senjata untuk mempertahankan para dewan direksi sampai masa pemilihan. Tuan Young Pyo menilai istrinya hanya pura-pura tidak tahu, padahal paham semuanya.

"Jadi pertunangan ini alasannya karena dia sibuk menyiapkan senjata?", tebak Ny. Yoon

Chae Yeon jalan dengan kesal menuju ruangan dimana orang tua Ki Joon berada. Saat hendak membuka pintu, dia mendengarkan percakapan calon mertuanya itu. Chae Yeon tidak jadi masuk dan mendengarkan percakapan mereka dari balik pintu. 

"Jangan merepotkan mereka. Mereka akan mengurusnya saat waktunya sudah tepat", kata tuan Young Pyo. 

"Kau memang bodoh", sahut Ny. Yoon, "Senjata untuk bertunangan dengan Chae Yeon dan membuat bisnis menjadi stabil. Ketua Seo sudah berencana menikahkan Do Hyun dengan putra kedua Myung Song Group. Bagaimana kalau situasi kita tidak menguntungkan?". 

Tuan Young Pyo tetap optimis, karena menurutnya orang seperti ketua Hong (ketua Myung Song Group) yang sangat peduli dengan latar belakang seseorang tidak akan begitu saja menikahkan putrinya dengan Do Hyun. 

(Jika ketua Hong mengetahui bahwa Do Hyun merupakan anak dari istri simpanan. Pasti Ketua Hong tidak akan mau menikahkan purtinya dengan Do Hyun. Seperti Kim Tan "The Heirs", ibu Rachel langsung memutuskan hubungan begitu mengetahui bahwa Kim Tan adalah anak tidak sah).


Do Hyun lebih banyak melamun di kencan butanya dengan Ji Sung, putri kedua pemilik Myung Song Group. Ji Sung sampai harus menyadarkan Do Hyun dari lamunannya. Do Hyun meminta maaf dan bilang kalau di luar saat ini sedang turun salju. 

Ji Sung tersenyum manis, "Kau masih polos, sama seperti dulu". 

"Oh.. kata-kata itu masih membuatku ngeri", ucap Do Hyun bercanda. 

Tiba-tiba Chae Yeon datang dan langsung duduk ditengah-tengah mereka, "Sudah kubilang. Kau tidak tahu, tapi dia sama sekali tidak polos, benar kan?", Chae Yeon menatap Do Hyun. 

"Onnie. kenapa kau bisa ada di sini?", tanya Ji Sung

Chae Yeon menjawab sedang makan dengan orang tua Ki Joon di lantai atas. Chae Yeon menoleh ke Do Hyun dan menyindirinya. Chae Yeon pura-pura heran dengan Do Hyun yang sudah mempunyai pacar seorang dokter tapi segera akan menikah dengan wanita lain. Ji Sung kaget.

"Kenapa kau terkejut?. Seperti rusa yang kaget karena sorot lampu mobil. Ini strategi para orang tua. Tak seorang pun yang duduk disini, tanpa kenangan cinta menyedihkan".

Chae Yeon juga menyindir Ji Sung yang sudah pacaran dengan putra ketiga Yoo Seong Group. Ji Sung melirik Do Hyun, untuk melihat ekspresi Do Hyun. Tapi Do Hyun tetap santai tidak menunjukkan wajah terkejut.

Chae Yeon berkata tidak mengharapkan apapun dari Do Hyun, "Dari yang kau dengar, kau sangat malu dengan cinta pertamamu. Kukira hubunganmu dengan dokter itu serius. Apa pepatah untuk situasi seperti ini". 

Chae Yeon pura-pura berpikir "Oh. Aku ingat sekarang. Hentikan iklan-iklanmu. Kau juga mengamcam akan menjatuhkan harga dirinya jika dia melewati bata?. Dan kau juga menyuruhnya lari dan menghindarimu?".

Chae Yeon sengaja menekankan kata-katanya, dan menatap tajam Do Hyun. Do Hyun melihat Ji Sun yang terlihat tidak nyaman. Ia menghentikan Chae Yeon untuk membicarakan hal lainnya, jika ada yang ingin Chae Yeon katakan mereka bisa bicara lagi nanti. Tapi Chae Yeon bilang dia sudah selesai bicara. Pada awalnya ia hanya ingin menyapa, tapi malah berbincang-bincang dengan mereka. 

Chae Yeon berdiri dan mengingatkan Ji Sung bahwa Do Hyun tidak polos, tapi berambisi. Ia berharap Ji Sung beruntung, "Sebenarnya aku tidak ingin kau pacaran dengannya. Karena aku sangat menyayangimu". 

Ji Sung memalingkan wajahnya marah. Chae Yeon melirik Do Hyun sekilas lalu pergi. Do Hyun menghela napas dan merasa tidak enak pada Ji Sung. 

Ri Jin menemui Dr. Seok. Tidak seperti biasanya, mereka berdua tampak canggung dan sama-sama menundukan kepala. Sepertinya mereka bingung harus mengatakan apa. Ri Jin mengangkat kepalanya dan melirik Dr. Seok. 

Dr. Seok akhirnya memecah kebisuan dengan bertanya apa Ri Jin sudah membeli tiket. Ri Jin membenarkan. Dr. Seok bilang itu bagus. Ia sempat cemas jika Ri Jin berubah pikiran karena kejadian bersama Yo Sub. Dr. Seok tertawa lega, seharusnya ia tidak perlu khawatir akan hal itu. Ri Jin diam seperti memikirkan sesuatu. 

Pandangan Dr. Seok lalu tertuju pada kotak kardus di atas meja, apa itu semua barang-barang Ri Jin. Ri Jin membenarkan. Dr. Seok berdiri dan mengulurkan tangan untuk berjabatan tangan, "Sampai jumpa". 

Ri Jin tersenyum menyambut uluran tangan itu, "Iya. Sampai jumpa".

"Dr. Oh!".

"Iya. Profesor". 

"Seorang dokter jiwa bukanlah penyelamat. Kau tidak bisa menyelamatkan semua orang dan kau tidak boleh berkhayal kalau kau itu mampu". 

Ri Jin keluar dari ruang Bagian Kejiwaan dengan membawa tas dan juga kotak yang berisi barang-barangnya. Ri Jin berjalan setengah melamun teringat ucapan Dr. Seok yang berpesan jika ada yang menganggu Ri Jin, entah itu rasa sakit atau rasa bersalah. Ri Jin hanya perlu melepaskan semua beban itu dan pergilah. Dan kembalilah setelah Ri Jin menjadi seorang dokter (ahli). 

Ri Jin yang tidak fokus melihat jalan, tanpa sengaja menabrak Ki Joon yang jalan berlawan arah dengannya. Tabrakan itu membuat barang-barang Ri Jin jatuh berhamburan di lantai. Ri Jin meminta maaf. Dengan baiknya, Ki Joon membantu memungut barang Ri Jin yang terjatuh dan menanyakan kondisi Ri Jin, "Kau tidak apa-apa?". 

Selesai memasukan kembali barang-barang Ri Jin ke dalam kotak, Ki Joon pamit pergi. Ri Jin sempat menoleh melihat punggung Ki Joon yang menjauh. 

Dr. Seok termenung di ruangannya. Ia teringat saat Do Hyun menangis dan bertanya apakah dia serakah jika berharap ada seseorang yang membangunannya seperti yang Ri Jin lakukan. Haruskah dia terus hidup seperti monster.

Dr. Seok mengacak-ngacak rambut frustasi. Di satu sisi ia merasa kasihan dan ingin membantu Do Hyun. Tapi disisi lain, Dr. Seok juga tidak ingin melihat Ri Jin berada dalam bahaya karena berada di sisi Do Hyun. 


Terdengar suara ketukan pintu. Buru-buru Dr. Seok merapihkan rambutnya yang acak-acak'an dan duduk di kursi kebesarannya. Dr. Seok pura-pura sibuk menatap layar komputer di depannya. Mengira yang datang itu Ri Jin. Tanpa menoleh Dr. Seok bertanya ada apa?. Apa ada yang ingin Ri Jin katakan?.  Tapi yang datang bukan Ri Jin melainkan Ki Joon. Dr. Seok menatap heran lalu berdiri. 

Dr. Seok menjamu Ki Joon dengan secangkir teh. Dr. Seok meminta maaf karena membuat Ki Joon datang sendiri kemari. Ki Joon mengerti, karena Dr. Seok adalah dokter berpengalaman yang pastinya sangat sibuk. Dr. Seok tertawa mendengarnya. 

Ki Joon mulai memancing dan berbohong dengan bilang kalau sepupunya yang merekomendasikan dia untuk datang menemui Dr. Seok.  Wajah Dr. Seok langsung berubah serius dan melihat kartu nama yang di berikan Ki Joon, "ID Entertainment. Cha Ki Joon". 

Dengan melihat kartu nama itu saja, Dr. Seok sudah tahu "sepupu" yang di maksud Ki Joon.  

Ki Joon mendengar bahwa Dr. Seok sudah membantu Do Hyun di Amerika dan Do Hyun bilang kalau Dr. Seok adalah dokter yang hebat. Tapi Do Hyun tidak bilang bantuan apa yang Dr. Seok berikan pada sepupunya itu, "Kalau dia punya masalah, aku ingin membantunya sebagai kakak dan keluarganya". 

Dr. Seok bisa menangkap maksud Ki Joon, "Jadi, anda kesini bukan untuk melakukan pemeriksaan". 

Ki Joon tertawa, "Aku sudah ketahuan. Kalau begitu aku langsung saja. Masalah apa yang di alami Do Hyun?". 

Dr. Seok tersenyum tipis. 


Beberapa saat kemudian, Ki Joon keluar dari ruangan Dr. Seok seraya tersenyum tipis. Tampaknya dia tidak berhasil mengorek rahasia Do Hyun. Ki Joon lalu bertanya ke bagian resepsionis. Semula suster bersikap biasa, tapi begitu melihat Ki Joon yang berpenampilan keren. 

Mata Suster penggosip berbinar dan tersenyum lebar. Sedikit merapihkan penampilannya, dia mempersilahkan Ki Joon untuk bertanya. Ki Joon bilang ingin bertemu dengan Dr. Oh Ri Jin. Suster memberitahu Dr. Oh Ri Jin sedang cuti. Suster juga bilang Ri Jin langsung pergi setelah menemui Dr. Seok untuk mengucapkan salam perpisahan. 

Ki Joon teringat dengan wanita yang tadi bertabrakan dengannya. Ki Joon menghela napas, baru saja kehilangan kesempatan mengorek rahasia Do Hyun. 

Do Hyun dalam perjalanan kembali ke perusahaan. Dalam perjalanan itu, ia melihat gedung tempat Yo Sub ingin bunuh diri. Do Hyun teringat saat Ri Jin menangis putus asa memanggil-manggil namanya. 

Sementara itu saat ini Ri Jin berada di atas di atas atap. Ia menyingkirkan salju yang menutupi gambar Do Hyun dan gambar kepribadian lain yang dibuat Yo Sub. Ri Jin tersenyum melihat gambar itu dan teringat ucapan Do Hyun.

"Aku ini bukanlah buruk rupa yang akan berubah menjadi monster setelah mantranya di patahkan. Aku ini monster".

Do Hyun memutuskan berputar arah menuju ke gedung itu. Do Hyun naik ke atas tapi Ri Jin sudah tidak ada disana. Do Hyun melihat boneka salju yang di tinggalkan Ri Jin. Dalam imajinasinya, Do Hyun seperti bisa melihat Ri Jin yang membuat boneka itu. Lalu bersorak senang setelah berhasil menyelesaikannya. 

Tanpa sadar Do Hyun tersenyum, bayangan itu terasa nyata di matanya. Do Hyun melihat ke arah lain dan terkejut melihat sesuatu di lantai. Dalam bayangannya, dia melihat Ri Jin menuliskan sesuatu. Ri Jin menutupi tulisan yang di buat Yo Sub "Kill Me" menjadi "Heal Me".  Ri Jin kembali tersenyum lalu pergi. 

Do Hyun mematung menatap tulisan itu dengan mata berkaca-kaca. 


Ri On berada di bandara menatap papan informasi jadwal keberangkatan. Ri On tampak keren dengan kaca mata hitam menghiasi wajahnya. Dia berbalik lalu berjalan dengan gagahnya bak model yang tengah berjalan di peragaan busana. 




 
Ri On berhenti dan membuka kaca matanya, lalu berbalik, "Tunggu apa lagi?. Kenapa kau masih ada disana?!". 

Kata-kata itu Ri On tujukan pada Ri Jin yang masih berusaha menenangkan orang tua mereka yang masih sedih, karena hari ini Ri Jin akan pergi keluar negeri. Ri Jin bilang bukankah ia sudah meminta kedua orang tuanya untuk tidak datang agar tidak sedih. 


Ibu Ji bilang Ri Jin akan naik pesawat, kenapa malah melarang orang tuanya untuk datang.  sahut ibu, "Kau tahu bagaimana perasaan kami sampai kami menerima telpon kalau kau sampai dengan selamat", ibu hampir menangis. 

Ayah berkomentar, tidak bisakah ibu melepaskan kepergian putri mereka dengan senyuman. Kenapa malah bersikap begini yang hanya membuat Ri Jin semakin sedih. Ri Jin minta orang tuanya jangan khawatir, ia hanya pergi selama 6 bulan.

"Apa mau aku belikan oleh-oleh. Apa ada yang ibu inginkan?", tanya Ri Jin sedikit ceria. 


Ibu tidak butuh hadiah, yang terpenting Ri Jin pulang dalam keadaan sehat dan selamat. Ri Jin jadi sedih lagi, setidaknya ibu harus memberitahu apa yang ibu inginkan. Ri Jin lalu bertanya pada ayah Oh, apa ada yang ayahnya inginkan. 

Dari tempatnya berdiri, Ri On melirik jam di pergelangan tangannya. Ia melihat ayah memberikan secarik kertas pada Ri Jin. Ri On yang mengira itu surat berguman mengomentari tindakan ayah. Seolah-olah Ri Jin itu pasukan relawan yang di kirim ke suatu tempat entah dimana. 

Padahal yang sebenarnya, kertas itu bukanlah surat melainkan katalog barang-barang branded. Ayah Oh telah memberi tanda lingkaran warna merah pada sepatu yang dia inginkan.

"Ayah khawatir kau akan menghabiskan uangmu untuk hal yang tidak berguna. Jadi ayah membuatnya. Kalau kau ingin membelikan ayah hadiah, belikan saja itu".

Ibu melongok melihat kertas di tangan Ri Jin. Ri Jin bilang bahwa ia telah melihat sendiri sepatu itu, tapi warna coklat lebih bagus dari pada warna hitam. 

"Coklat lebih bagus?", tanya ayah dengan nada sedih. 

"Iya. Limited Edition", sahut Ri Jin dengan nada sedih. 

"Setuju", ucap ayah seraya mengepalkan tangan.

"Kau sebut dirimu ayah?", semprot ibu memarahi ayah yang sudah merencanakan meminta hadiah. 

Ri Jin lalu mengajak ayah dan ibu foto bersama. Ri Jin menoleh ke kanan dan kekiri bermaksud meminta pertolongan orang lain untuk memotret mereka. Ayah melarang, orang lain juga sangat sibuk, jadi jangan mengganggu. Ayah merogok saku celananya dan mengeluarkan tongsis. Haha.. lalu mereka mulai berpose. 

Ri On yang melihatnya dari jauh, menutupi wajahnya, malu. Tapi ternyata Ri On juga mengeluarkan tongsis miliknya. Tongsis Ri On bahkan lebih panjang dan lebih lucu dengan telinga kelinci pada ujungnya. 

Keluarga Oh jadi heboh sendiri, mereka berfoto bersama dengan menggunakan bantuan 2 tongsis sembari melompat-lompat, berputar dan berteriak,

 "John Hopkins!. John Hopkins!. John Hopkins!. John Hopkins!. John Hopkins!". 

Tentu saja kelakuan mereka itu menjadi perhatian orang-orang yang lewat. Mereka berhenti sebentar dan kembali melompat-lompat. 

Setelah tongsis Ri On menyenggol salah satu orang yang lewat, berulah mereka berhenti. Ri On melipat tongsisnya dan berlalu pergi sembari meledek tongsis milik ayah.  Ri Jin meminta orang tuanya tetap berada disini, ia akan pergi sebentar untuk mengurus bagasi. 

Usai mengurus bagasi, Ri Jin terkejut menerima hadiah dari Ri On. Sepasang sepatu bersayap. Ri On meminta Ri Jin untuk membawanya.

"Jika kau menyesali keputusanmu atau kau mengalami kesulitan, larilah kesini dengan anggun dan berkelas. Terbanglah dengan seluruh kekuatanmu!. Kau tahu, kan?. Pilihan terbaik adalah pilihanmu". 

Ri Jin tersentuh, menjatuhkan sepatu sayapnya dan memeluk Ri On dengan erat, "Aku mencintaimu, Oh Ri On"

Ri On terpana. Tentunya Ri Jin mencintai Ri On sebagai saudara, tapi raut wajah Ri On terlihat berbeda. 

Terlihat pesawat terbang membelah angkasa. 
 

Do Hyun berdiri di jendela menatap langit. Sek. Ahn muncul di belakang Do Hyun dan memberitahu Ri Jin sudah berangkat pagi tadi. Sek. Ahn berbalik pergi, tapi tidak jadi mendengar Do Hyun yang memanggilnya. 

Do Hyun mendengar bahwa ia akan mendapatkan psikiater pribadi baru. Kalau itu benar, pastikan psikiater baru itu seorang pria. Do Hyun tersenyum tipis, "Wanita sedikit merepotkan". 

Sek. Ahn menatap Do Hyun. Do Hyun diam sesaat lalu mengajak Sek. Ahn berangkat ke kantor. Do Hyun jalan lebih dulu dan berhenti mendengar suara tombol password di tekan. Do Hyun heran dan bertanya apa ada orang lain yang tahu password rumahnya. Sek. Ahn diam. 



Terdengar pintu terbuka. Seseorang masuk dengan menarik 2 tas besar. Orang itu adalah Ri Jin. Ri Jin tersenyum melangkah mendekati Do Hyun yang terbelalak kaget melihat kedatangannya. 


"Oh Ri Jin-shi, kenapa kau ada disini?", tanya Do Hyun terbata. 

Ri Jin tersenyum, "Ah, aku lupa memperkenalkan diri. Mulai sekarang aku psikiater pribadi, Cha Do Hyun. Oh Ri Jin". 

Do Hyun melongo terkejut menoleh pada Sek. Ahn. Sek. Ahn meminta maaf karena psikiater yang Do Hyun harapkan bukan seorang pria. Sebelumnya Sek. Ahn berbicara dengan Ri Jin di telepon, dan Ri Jin semakin yakin untuk menjadi psikiater pribadi Do Hyun. 

Do Hyun semakin melonggo menatap Ri Jin (haha....ekspresi Do Hyun lucu dech). Ri Jin tersenyum dan menyebutkan ketentuan kontrak kerja. 

"Pertama. Kau mungkin sudah tahu bahwa aku bukanlah dokter profesional.  Aku juga tidak yakin bisa membuat Tuan Cha atau Tuan Shin tertidur. Jadi aku menolak permintaan semacam itu. Tapi aku akan berusaha menenangkan Se Gi dan menghentikannya agar tidak membuat masalah". 

"Kedua. Kalau Tuan Shin dan Tuan Cha ingin bicara aku bisa menjadi dokter yang membantu kalian". 

"Ketiga. Agar kepribadian lainnya tidak mengganggu keseharian Tuan Cha, aku akan berusaha berunding dengan mereka. Dan aku akan menambahkan pesyaratanku pada kontrak nanti. Bagaimana menurutmu, kau mengerti maksudku?". 
  
Do Hyun bengong melihat Ri Jin yang bicara panjang lebar. Sek. Ahn yang melihatnya tersenyum tipis.

Ri Jin mengangkat tanganya, bergaya imut "Baiklah. Apa ada pertanyaan?".

Narasi Ri Jin"Ayah, ibu dan Oh Ri On. Maaf sudah membohongi kalian. Tapi bagaimana pun juga aku ingin membantu orang ini".

Di perlihatkan ayah Oh dan Ibu Ji yang sedang memotong kubis untuk kimchi. Ibu melamun memikirkan Ri Jin. Ayah yang melihatnya, menggoda ibu dengan memercikan air ke wajah istrinya. Semula ibu kesal dan membalas menyiram ayah, tapi kalah karena ayah memegang selang air. Kemudian ibu melempar kubis ke wajah ayah, dan hal itu berhasil membuat ibu tertawa. 

"Meski aku masih banyak kekurangan dan kesalahan, tapi aku mempunyai keluarga yang membantuku dan merangkulku. Tapi orang ini, tidak punya siapa-siapa. Aku punya banyak kenangan yang bisa kuingat setiap kali aku mengalami masa sulit, tapi orang ini tidak punya hal semacam itu..Dia sendirian dan setiap saat kehilangan waktu dan kenangannya". 

Di perlihatkan foto keluarga Oh yang tampak bahagia. Di perlihatkan juga gambar keluarga yang dibuat Ri Jin sewaku kecil.

"Ada banyak orang yang menyayangiku, tapi meskipun banyak orang yang menyayanginya dia tidak bisa berbuat apa-apa".

Ri On duduk di pinggir jalan. Tampak galau dan sedih dengan kepergian Ri Jin. Membaringkan badannya, tidur di atas rerumputan. Ri On menatap langit lalu menutupi wajhanya dengan satu tangan. 

"Itulah mengapa... aku ingin menolongnya. Aku ingin menolongnya keluar dari kastil ini. Dan aku ingin dia tahu, jika kau ingin berteman tahanlah tangan mereka. Dan tidak apa-apa untuk menggenggam tangan seseorang jika mereka juga menahanmu". 



Ri On dan Do Hyun saling bertatapan. Ri Jin bertanya tidak adakah yang ingin Do Hyun tanyakan. Ri Jin teresenyum mengulurkan tangan mengajak jabat tangan. Do Hyun diam menatap tangan Ri Jin, masih tak percaya dan ragu.

Ri Jin mengoyangkan tangannya. tapi Do Hyun masih diam tertegun. Sek. Ahn menyadarkan Do Hyun tapi dia tetap tidak bereaksi. 

Ri Jin menarik kembali tanggannya dengan kesal dan menyebut Do Hyun sombong. Jika Do Hyun bersikap seperti ini, lebih baik ia pergi ke John Hopkisn saja. Ri Jin berbalik dengan menarik tasnya. 

Spontan Do Hyun menahan tas Ri Jin. Ri Jin menoleh melihat tangan Do Hyun. Do Hyun tersadar dan buru-buru Do Hyun menarik tangannya. Ri Jin protes dengan reaksi Do Hyun yang tiba-tiba.



"Jika aku berjabat tangan dengamu, kau tidak akan bisa kembali lagi mulai sekarang. Meskipun bola itu tidak sengaja terlempar ke dinding, aku tidak akan mengembalikannya padamu ", ucap Do Hyun. 

"Apa...tidak apa-apa?", Do Hyun mengulurkan tangannya. 

Ri Jin menatap tajam Do Hyun tanpa membalas uluran tangan pria itu. Berlagak sedikit sombong, Ri Jin memalingkan wajahnya lalu tersenyum dan menjabat tangan Do Hyun. Do Hyun tersenyum malu-malu ^^.

Senyum Do Hyun bertambah lebar dan menoleh pada Sek. Ahn yang ikut tersenyum. Tapi tiba-tiba Ri Jin meremas tangannya dengan kuat. Do Hyun mengaduh kesakitan. Tapi hal itu tidak membuat Ri Jin mengendurkan cengkramannya, sebaliknya ia semakin meremas tangan Do Hyun dengan sangat sangat kuat. Balas dendam nich ceritanya..hehe

"Kenapa lebih sulit bagiku berjabat tangan denganmu daripada berjabat tangan dengan Hallyu Star?". protes Ri Jin "Apa kau berjalan di atas jembatan batu? Kenapa kau sangat pemilih! Lakukan saja!".

"Wanita macam apa yang.....oww!!!", Do Hyun teriak meringis kesakitan. 

Ri Jin mengerakan seluruh tangannya meremas tangan Do Hyun membuat pria itu berputar-putar saking sakitnya. Do Hyun merintih meminta bantuan Sek. Ahn. Sek. Ahn berusaha membantu tapi malah tersenyum melihat kelakuan mereka. 

"Jadi....kumohon dukung aku. Katakan kalau aku melakukannya dengan baik. Seperti yang selalu kalian katakan.


END

1 comment:

  1. makiiiinn suka deh sama drama ini ... semangat terus ya mba Nuri ... sy selalu menunggu lanjutan drama inj kapan pun itu sy tunggu d(^_*)b

    ReplyDelete

Thanks sudah mampir di blog saya, jangan lupa tinggalkan komentar ya...Trims....:)