Pages - Menu

Wednesday, February 04, 2015

Sinopsis Kill Me Heal Me Episode 5 Part 1

Se Gi menarik paksa Ri Jin keluar ke parkiran. Ri Jin berontak berusaha melepaskan tangannya yang di genggam Se Gi. Ri Jin minta di lepaskan dan mereka harus bicara. Se Gi berbalik dan mendekatkan wajahnya ke Ri Jin. Menatap gadis itu tajam.

"Jangan membuatku marah. Aku tidak tahu apa yang akan aku lakukan". 

Ri Jin protes, ini adalah percobaan penculikan di saat jam kerja, "Kau mengerti!" Se Gi  tidak peduli, "Itu bukan urusan ku. Aku tidak punya banyak waktu. Untuk saat ini?". Ri Jin tak mengerti apa maksudnya untuk saat ini?. 

"Maksudku, bisa jadi waktu yang Do Hyun miliki bisa menjadi waktuku sepenuhnya di masa depan".

Ri Jin teringat penjelasan Dr. Seok, jika kepribadian lain semakin kuat dan keluar dalam waktu dan ruang yang sama, maka kepribadian lain itu bisa mengendalikan kepribadiannya. Sekaligus bisa mengontrol semua tindakan dan waktunya (Se Gi bisa menentukan waktu kapan dia akan keluar).

Mengingat itu Ri Jin sedikit panik saat bertanya dimana Do Hyun sekarang. Se Gi menjawab saat ini Do Hyun tertidur karena ketakutan dan merasa kewalahan, "Dia tidak akan bisa bangun untuk sementara waktu. Aku membuatnya ketakutan. Jika kau ingin menolongnya. Diamlah dan ikuti aku". 

Se Gi menuntun Ri Jin masuk ke dalam mobil sport merah miliknya. Ia melindungi kepala Ri Jin dengan tangannya, agar kepala Ri Jin tidak terhantuk atap mobil. So Sweet....

Dan selanjutnya kita mendengar teriakan Ri Jin yang ketakutan karena Se Gi mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi. Berkali-kali Ri Jin minta Se Gi mengurangi kecepatan, tapi Se Gi tidak peduli dan seolah tidak mendengar permintaan Ri Jin.

Ri Jin mengancam akan melompat keluar jika Se Gi tidak mau menghentikan mobil sekarang juga. Bukannya berhenti, Se Gi justru menambah kecepatan dan menyalip semua kendaraan yang menghadang di depannya. 

Tindakan Se Gi itu tentunya semakin membuat Ri Jin ketakutan setengah mati, tepat saat itu ponselnya berdering. Panggilan dari Dr. Seok. Ri Jin hendak menjawabnya, tapi sebelum itu terjadi, Se Gi lebih dulu merebut ponsel Ri Jin dan membuangnya keluar.

Ri Jin menoleh ke jok belakang dan melihat ponsel Do Hyun yang ada disana. Ri Jin mencoba menggunakan ponsel itu, tapi lagi-lagi Se Gi merebut dan membuang ponsel  keluar. 

Ri Jin putus asa, "Kenapa kau melakukan ini padaku?. Sungguh?. Kau tidak mengatakan apapun dan bertindak semaunya sendiri. Kau bisa saja bicara padaku di rumah sakit". 

"Sudah kubilang aku tidak punya banyak waktu. Lebih baik menyingkirkan beban yang menghalangi jalan kita". 

Se Gi menginjak pedal gas, menambah kecepatan hingga penuh. Dan Ri Jin kembali teriak histeris. 

Episode 5
Shin Se Gi
 Di ruangannya, Dr. Seok tampak cemas berjalan mondar-mandir. Tak lama Sek. Ahn datang dan bertanya apa maksudnya Do Hyun belum sampai. Dr. Seok menduga Se Gi menculik Ri Jin. Seseorang yang berwajah seperti Do Hyun datang dan membawa pergi Ri Jin dengan mobil.
Sek. Ahn tak mengerti kenapa Se Gi menculik Ri Jin. Dr. Seok tidak tahu, ia hanya menebak dari apa yang Se Gi lakukan. Dr. Seok khawatir Ri Jin berada dalam bahaya sekarang, lebih baik sekarang mereka harus melapor ke polisi secepat mungkin.

Sek. Ahn tidak setuju, jika polisi terlibat Do Hyun dan Seung Jin Group akan berada dalam masalah. Dr. Seok tidak suka dengan perkataan Sek. Ahn yang terkesan lebih mementingkan Seung Jin Group, "Lalu jika sesuatu terjadi pada Dr. Oh, hal itu tidak menjadi masalah?.

Bukan begitu maksud Sek. Ahn, ia minta waktu untuk berpikir mencari jalan keluar. Dr. Seok marah, ini sudah kedua kalinya sejak insiden bom tempo hari, "Apa kau lupa bertapa berbahayanya Se Gi?. Dr. Oh adalah seorang wanita!". 

Se Gi menghentikan mobilnya di parkiran hotel. Ri Jin melihat pasangan yang keluar dari hotel dengan bergandengan tangan. Ri Jin yang takut Se Gi akan berbuat macam-macam padanya, bertanya tempat macam apa ini?.

Se Gi tak menjawab dan turun dari mobil. Ia membuka pintu mobil, menyuruh Ri Jin turun tapi Ri Jin menolak. Terjadi adegan tarik menarik antara Ri Jin dan Se Gi, karena tenaga Se Gi kuat, jadilah Ri Jin yang kalah.

Ri Jin menarik tangannya dengan kesal, apa alasan Se Gi membawanya ke tempat ini. Se Gi bilang dia sedang memberikan Ri Jin kesempatan untuk memilih. Ri Jin bingung, kesempatan apa?.

Se Gi meminta Ri Jin untuk memilih, antara dirinya atau Cha Do Hyun. Ia mengingatkan Ri Jin tidak bisa memilih keduanya. Pilih salah satu diantara keduanya. Ri Jin masih tidak mengerti, "Apa sih yang sedang kau bicarakan?. Lagipula, kau dan Cha Do Hyun adalah satu orang!".

Se Gi terlihat marah, "Tutup...". Ri Jin terkejut melihat Se Gi yang marah. Se Gi terdiam sejenak dan dengan suara lebih pelan ia menyambung kalimatnya, "Mulutmu".

Ri Jin menghela napas panjang. Se Gi berkata, "Aku bukan Cha Do Hyun".

Ri Jin yang masih kesal berbalik pergi. Namun langkahnya terhenti saat Se Gi bertanya, "Apa kau berencana membunuh Cha Do Hyun?. Saat kau meninggalkan tempat ini, Cha Do Hyun mati. Apa kau lupa?. Satu tubuh sampai mati. Saat aku mengorok leherku. Cha Do Hyun mati bersamaku".

Ri Jin frustasi, "Kenapa kau melakukan ini padaku?"

"Sudah kubilang, aku akan memberimu kesempatan untuk memilih", Se Gi dan Ri Jin bertatapan, "Kau masih belum memustuskan?. Maka masuklah kedalam. Apa kau tidak penasaran pada apa yang akan terjadi di dalam".

Ri Jin berpikir, tampak bimbang.

Sek. Ahn mencoba meyakinkan Dr. Seok kalau Se Gi tidak pernah menyakiti anak-anak ataupun wanita sebelumnya. Jadi, Sek. Ahn minta Dr. Seok percaya saja padanya dan memberinya sedikit waktu.

Kemudian ponsel Sek. Ahn berdering. Sek. Ahn menjawabnya dan berteriak pada si penelpon karena tidak bisa melakukan pekerjaan dengan benar. Si penelpon meminta Sek. Ahn untuk tenang, ia yakin sebentar lagi mereka pasti akan menemukan Se Gi. Kemudian si penelpon memberitahu lokasi terakhir tempat Ri Jin dan Se Gi berada.

Penelpon memberi penjelasan salah satu bawahannya menemukan ponsel Ri Jin dan Do Hyun yang dibuang di jalanan. Di temukan juga laporan kartu kredit yang di gunakan Se Gi. Mereka juga menemukan foto mobil sport merah buatan luar negeri. Kemudian ada laporan dari pegawai Shin Ha Hotel yang menemukan keberadaan Target satu (Se Gi).

Mendengar semua petunjuk itu, Sek. Ahn lalu memberikan perintah. Keselamatan Ri Jin adalah prioritas utama. Dengan cara apapun, mereka harus bisa mengendalikan Se Gi, tanpa mengesampingkan keselamatannya, "Dia berada dalam kondisi yang berbahaya. Kirim pekerja yang berpengalaman ke lokasi!".

Meski ragu-ragu akhirnya Ri Jin masuk ke kamar hotel. Pantulan cahaya dari cermin menyilaukannya, Ri Jin teriak terkejut dengan mulut menganga. Tangannya bergerak perlahan menunjuk ke cemin, "Apa itu.....Apa itu sebuah boneka beruang?", tanyanya ngeri.

Ri Jin berbalik melihat lebih jelas benda yang ada di depannya. Se Gi muncul di belakang dan menyahut siapapun tahu kalau boneka yang berada di atas kasur itu adalah boneka beruang. Dan kita bisa lihat kamar itu telah dihiasi balon, pita serta berbagai macan hadiah. Pasti Se Gi sengaja menghiasnya untuk Ri Jin.

Bukannya senang, Ri Jin justru tidak suka.  Kenapa boneka beruang itu bisa ada disana?.

"Kau menyukainya", kata Se Gi

"Siapa?. Aku?. Sejak kapan?"

"Apa bukan ini yang kau sukai?", tanya Se Gi

Ri Jin nyengir bukan begitu, bukan bearti ia tidak menyukainya. Se Gi lalu tanya, "Bukan ini?".

Ruangan yang semula terang menjadi gelap. Ri Jin melihat lokomotif mainan yang berjalan diatas rel dan tamburan bunga di sekitarnya. Ri Jin bingung dengan maksud Se Gi melakukan hal ini, apa Se Gi menganggapnya bodoh atau berpikiran pendek.

Se Gi lalu menunjukan poster Beauty and The Beast, "Bagaimana dengan ini?". Ri Jin melongo heran, "Permisi. Aku tanya karena aku tidak tahu, tapi apakah seharusnya ini lucu?".

Se Gi menatap Ri Jin tajam lalu mendekat, "Apa ini lucu?", tanyanya mengulangi pertanyaan Ri Jin.

Ri Jin tertawa terpaksa, "Jadi kau bermaksud melucu?. Hahaha.,.. itulah yang kupikirkan". 

Usaha Se Gi tidak berhenti di situ saja, untuk membuat Ri Jin senang ia menunjukan berbagai macam mainan lainnya. Se Gi menunjukan boneka beruang yang keluar dari kotak ketika penutupnya di buka. Ri Jin hanya diam menatap benda itu dan Se Gi dengan santai langsung membuangnya.

"Bagaimana dengan ini?", tanya Se Gi lagi menunjukan robot mainan. Ri Jin pura-pura terkejut, "Astaga", lalu menjatuhkan diri, berlagak pingsan.

Tak putus asa Se Gi menunjukkan mainan lainnya, kali ini boneka monyet yang memegang alat musik di tangannya. Saat boneka monyet menari, Ri Jin berputar-putar mengikuti tarian boneka monyet.

Lalu Se Gi menunjukan permen cincin. Ri Jin mengira Se Gi menyuruhnya untuk memakan permen itu, tapi menunggu perintah Ri Jin langsung memakannya. Se Gi tahu Ri Jin hanya pura-pura senang, ia bertanya apa yang Ri Jin inginkan (untuk membuat Ri Jin senang).

Ri Jin justru heran apa alasan Se Gi melakukan ini semua. Se Gi mengulangi pertanyaanya, "Aku bertanya padamu untuk memilihku atau Cha Do Hyun. Sudah kubilang padamu, tidak boleh keduanya. Pilihlah aku atau Cha Do Hyun?".

Ri Jin kesal, "Kenapa kau menyuruhku untuk memilih?. Sementara kau dan Cha Do Hyun memiliki tubuh yang sama". Ri Jin menurunkan nada suara, tak ingin membuat Se Gi marah. Ri Jin bilang meski Do Hyun dan Se Gi berada di tubuh yang sama, tapi memiliki kepribadian yang berbeda, "Kalian berdua sangat tampan, jadi berikan aku waktu berpikir, ya!".

"Sudah kukatakan, aku tidak punya banyak waktu. Lalu bagaimana dengan ini?'.

Se Gi menyibakkan mantelnya menutupi wajah (seperti pahlawan bertopeng..haha). Dalam sekejap Se Gi merubah penampilannya seperti Do Hyun. 

Ri Jin terkejut, "Cha Do Hyun-ssi?".

Se Gi beranggapan itu lah jawaban Ri Jin, "Jadi begitu. Ini tidak berhasil. Ikut aku",

Se Gi menarik tangan Ri Jin. Ri Jin protes jika Se Gi terus-terus'an menarik tangannya seperti ini, bisa-bisa tangannya semakin panjang. Lagipula apa yang akan mereka lakukan. Se Gi yang tak peduli tetap menarik Ri Jin untuk mengikutinya.

Se Gi dan Ri Jin kini berada di tengah keramaian, bergandengan tangan. Ri Jin bertanya karena penasaran, kemana mereka akan pergi. Ri Jin mencoba bercanda, "Jika kau memberitahu kemana kita pergi, apa itu bisa mengancam kedamaian dunia?. Ataukah merusak persatuan Korea Selatan dan Korea Utara?".

"Pakaian dokter itu menjengkelkan, dan udara juga semakin dingin", jawab Se Gi singkat dan berhasil membuat Ri Jin diam.

Se Gi mendatangi pedagang pakaian. Kebetulan saat itu sedang obral. Se Gi sibuk memilih-milih, bukan memilih lebih tepatnya menghabur pakaian. Tapi tidak ada satupun pakaian yang menarik hatinya, "Apa kau hanya punya pakaian-pakaian tipis dan juga gaya-gaya kuno?", tanya Se Gi pada penjual.

Penjual kesal, "Pembeli, jika kau mengacaukan barang dagangan seperti ini, apa kau....".

Ucapan penjual terhenti begitu melihat tatapan tajam Se Gi. Penjual yang takut meralat ucapannya dan berkata akan merapihkan pakaian itu lagi. Pandangan Se Gi tertuju pada mantel hangat yang di kenakan penjual, "Pakaian itu terlihat hangat".

Ri Jin protes pada Do Hyun yang mengancam pedagang untuk menjual mantel yang kini mereka pakai. Ri Jin menilai tindakan Se Gi tadi tidak ada bedanya dengan sebuah serangan. Se Gi membela diri apa ada seorang psiko yang membayar pakaian 3 kali lipat dari harga asilnya.

"Uang itu bukanlah milikmu. Itu uangnya Cha Do Hyun".

"Uangnya Cha Do Hyun adalah uangku".

Ri Jin kesal, "Lihatlah kepribadian yang sangat sombong ini!.. Bukankah kau bilang kau dan Cha Do Hyun adalah orang yang berbeda?. Seharusnya kau menghasilkan uang sendiri?".

"Cha Do Hyun punya bakat untuk menghasilkan uang dan aku punya bakat menghabiskan uang. Aku hanya bilang aku dan Do Hyun hidup dalam kehidupan masing-masing dengan perbedaan watak dan kualitas. Apa itu masalah?".

Ri Jin menyahut tentu saja hal itu menjadi masalah karena Se Gi hanya bisa menghabiskan uang, bermain, membuat masalah lalu menghilang. Sementara Do Hyun bekerja keras setiap hari membereskan semua kekacauan yang Se Gi buat, "Apa kau tidak malu?".

"Kau hanya beramsumsi. Satu-satunya alasan ku menoleransi selera buruk Cha Do Hyun".

"Bagaimana itu sebuah asumsi?. Perjanjianmu sebanding dengan perjanjian Khanghwado", bentak Ri Jin kesal.

"Tutup...", suara Se Gi meninggi. Lalu merendah, "Mulutmu".

Se Gi mengatakan jika ia tidak ada maka Do Hyun sudah mati, "Aku menyelamatkannya dari bahaya dan merasakan sakit sebagai gantinya. Itu aku. Shin Se Gi".

Ri Jin pura-pura mengerti dan minta maaf karena telah kelewat batas. Se Gi bergerak mendekati Ri Jin, "Saat pria itu menciptakanku, kami berdua bertanggung jawab menanganiku".

Ri Jin berjalan mundur menghindari Se Gi, "Aku tahu. Maafkan aku. Aku minta maaf".

"Saat kau bersamaku, jangan pernah menyebut namanya lagi".

Ri Jin ketakutan saat tangan Se Gi bergerak ke arah lehernya, seperti akan mencekik, "Aku mengerti. Aku bilang mengerti", teriak Ri Jin ketakutan menutup mata. Tapi Se Gi tidak berniat mencekik Ri Jin. Sebaliknya ia melakukan suatu hal yang manis.

Se Gi merapihkan rambut Ri Jin dan memasangkan topi jaket ke kepala Ri Jin. Lalu merekatkan resleting jaket hingga menutupi leher Ri Jin.  Ri Jin terpana. Lalu, Se Gi merogoh kantongnya dan memberikan minuman hangat untuk Ri Jin pegang di cuaca sedingin ini. Setelah itu Se Gi berjalan pergi meninggalkan Ri Jin.

Ri Jin terpaku menatap punggung Se Gi dan minuman yang ada di tangannya. Tak menyangka ternyata Se Gi memiliki sisi manis juga. Ri Jin lalu menyusul Se Gi dan memanggilnya di tengah kerumunan orang. Se Gi cuek dan terus berjalan. Ri Jin jadi merasa tak enak.

Sampai akhirnya Ri Jin menemukan Se Gi duduk di dalam kereta yang di hiasi lampu-lampu. Wajah Se Gi tampak murung. Ngambek ceritanya....hehehe.

"Apa kau marah?", tanya Ri Jin.

Se Gi diam saja. Ri Jin berguman, "Oh.. jadi kepribadian juga bisa marah". Se Gi mendengarnya dan menoleh tajam Ri Jin. Ri Jin tertawa, tawa yang di paksakan..haha.. lalu masuk ke dalam kereta dan duduk di depan Se Gi.

Dengan suara riang Ri Jin bertanya, bagaimana Se Gi tahu kalau ia menyukai kembang api. Se Gi menjawab bahwa Ri Jin sudah lama ingin melihat kembang api. Ri Jin mengeluh, lagi-lagi Se Gi bertingkah seolah mereka pernah bertemu sebelumnya. Sebenarnya kapan mereka pernah bertemu.

Ri Jin jadi ingat pertanyaan Do Hyun yang bertanya apa Ri Jin dan Se Gi pernah bertemu sebelumnya?.

Se Gi memalingkan wajahnya, melihat keluar kereta. Ri Jin bertanya apa Se Gi suka menonton drama Winter Sonata? (Salah satu drama populer korea yang menceritakan cinta pertama). Se Gi tak mengerti apa maksudnya.

"Apa aku terlihat seperti cinta pertama mu yang sudah meninggal?".

Se Gi memandang Ri Jin, "Tidak".

"Aku tidak mirip dengannya?".

"Dia belum mati. Dia masih hidup. Syukurlah", ucap Se Gi menatap dalam Ri Jin.

Terdengar suara letupan. Ri Jin menoleh dan melihat kembang api yang menghiasi langit malam dengan indah, "Wow.. Cantiknya!".

"Apa kau suka hadiah ini?".

Ri Jin mengangguk, "Apa ada orang yang tidak menyukai kembang api?".

"Bukankah kau berharap ini bisa berlangsung selamanya?".

"Benar sekali".

"Sama sepertiku. Aku berharap bisa bersamamu selamanya".

Ri Jin terkejut dengan perkataan Se Gi. Ia menganggap Se Gi telah saham. Ri Jin menjelaskan yang ia harapkan bisa berlangsung selamanya adalah kembang api itu. Se Gi mengajukan sebuah permohonan yang membuat Ri Jin terkejut, "Buatlah Cha Do Hyun tertidur. Sehingga dia tidak bisa bangun selamanya".

Permintaan itu kembali mengingat Ri Jin pada Do Hyun. Saat Do Hyun bertanya apa Se Gi pernah mengajukan sebuah permohonan. Ri Jin kini paham apa yang di maksudkan Do Hyun saat itu.

"Aku tidak ingin berbagi waktu dengan Do Hyun. Aku tidak ingin khawatir kapan aku akan menghilang saat bersamamu. Jadi lakukanlah untukku.... kau seorang dokter.

Ri Jin terdiam beberapa saat, lalu menjawab, "Aku tidak bisa".

Se Gi yakin Ri Jin akan melakukannya. Ri Jin menegaskan tidak bisa. Tapi Se Gi lebih yakin, Ri Jin akan melakukannya dan akan membuatnya Ri Jin melakukannya.

Do Hyun melepas topi jaket yang menutupi kepala Ri Jin dan memegang pundak Ri Jin. Perlahan Se Gi mendekatkan wajahnya ke arah Ri Jin. Ri Jin menutup matanya, seakan tahu apa yang akan Se Gi lakukan.

Se Gi mengecup bibir Ri Jin lembut, penuh perasaan. Ri Jin tak menolak, menerima ciuman itu. Kembang api masih terlihat menghiasi langit malam.

Entah apa yang Se Gi rasakan, hingga dia meneteskan air mata saat mencium Ri Jin.

Perlahan tato merah di leher Se Gi menghilang. Do Hyun kembali. Mata Do Hyun terbelalak melihat apa yang ia lakukan. Refleks Do Hyun langsung menarik diri menjauh dari Ri Jin. Ri Jin membuka mata. Do Hyun menatap Ri Jin syok.

Sementara itu Sek. Ahn dan beberapa orang suruhannya sudah berada di taman. Mereka kesusahan mencari Do Hyun karena banyak orang yang datang melihat kembang api. Sek. Ahn menyuruh mereka untuk mencari lagi.

Do Hyun yang syok bertanya pada Ri Jin, "Apa maksudnya ini. Kenapa kau ada disini Oh Ri Jin-ssi?". Ri Jin bingung harus menjawab apa, dan menyadari kalau Do Hyun sudah kembali. Mungkin karena malu, Ri Jin berlari meninggalkan Do Hyun tanpa mengatakan apapun.

Do Hyun mengejar Ri Jin dan berhasil menangkapnya. Do Hyun ingin tahu apakah tadi Ri Jin bersama dengan Se Gi?. Ri Jin tak menjawab. Do Hyun mendesak ingin mendengar jawaban Ri Jin.  Ri Jin bilang ia khawatir mendengar Do Hyun menghilang. Ia mengirimkan pesan suara tapi Se Gi yang membalasnya dengan menggunakan nama Do Hyun.

Do Hyun kesal, bukankah Ri Jin sudah mendengar peringatan yang ia berikan. Jangan menelpon atau menjawab telepon. Se Gi berbahaya jadi jangan mendekatinya. Apa Ri Jin lupa?. Apa Ri Jin tidak mendengarkan. Atau Ri Jin hanya menganggapnya sebagai orang gila dan membuang semua peringatannya ke tempat sampah.

Do Hyun bahkan bahkan belum selesai bicara saat Sek. Ahn datang bersama orang suruhan dam langsung menangkap Do Hyun. Mereka melumpuhkan Do Hyun, mengira Do Hyun adalah Se Gi. Sek. Ahn memperkenalkan diri pada Ri Jin dan bertanya keadaan Ri Jin, apa baik-baik saja?.

Ri Jin menjawab baik-baik saja dan ingin menjelaskan bahwa itu adalah Do Hyun. Tepat saat itu Do Hyun memanggil Sek. Ahn, meyakinkan kalau ia adalah Cha Do Hyun, "Ini Aku. Ini Aku, Sekertaris Ahn".

Sek. Ahn yang ragu bertanya pada Ri Jin. Ri Jin membenarkan, "Dia adalah Cha Do Hyun. Lepaskan dia". Mendengar itu mereka langsung melepaskan Do Hyun. Buru-buru Sek. Ahn menanyakan keadaan Do Hyun.

Karena Sek. Ahn sudah datang, Ri Jin permisi pergi dan segera berlari. Padahal Do Hyun masih ingin bertanya. Do Hyun minta Sek. Ahn mengantarkan Ri Jin kerumah sakit, Ri Jin mungkin  terkejut atas apa yang dia alami hari ini. Sek. Ahn mengangguk mengerti.

Sek. Ahn pergi di ikuti orang suruhannya. Tinggalah Do Hyun sendiri yang masih tidak mengerti apa yang telah terjadi.

Sepulang dari taman Ri Jin langsung menemui Dr. Seok dan menceritakan apa yang Se Gi minta. Dr. Seok menghela napas, apa yang ia khawatirkan akhirnya terjadi juga. Ri Jin minta Dr. Seok, jangan khawatir karena ia sudah memutuskan tidak akan bertemu dengan keduanya (Do Hyun dan Se Gi).

Tapi Dr. Seok tidak setuju dengan keputusan Ri Jin. Masalah ini tidak akan selesai hanya dengan Ri Jin menghindari Se Gi. Semakin Ri Jin menjauhi Se Gi, maka obsesinya akan semakin buruk. Untuk saat ini Ri Jin berada dalam bahaya, jadi ia menyuruh Ri Jin pulang dan Ri Jin bisa ambil cuti besok.

Ri Jin melamun. Dr. Seok harus memanggilnya dengan suara lebih nyaring agar Ri Jin sadar, "Dr. Oh. Apa kau mendengarku?". Ri Jin tersentak, tersadar dari lamunannya, "Ya?. Apa yang baru saja Anda katakan?".

Ri Jin mengemasi barang-barangnya. Pikirannya kini melayang mengingat permintaan Se Gi yang memintanya untuk membuat Do Hyun tertidur selamanya. Ri Jin juga ingat ciuman pertamanya dengan Se Gi. Dan perkataan Se Gi yang bilang akan membuat Ri Jin melakukannya meski Ri Jin bilang tidak bisa.

Ri Jin juga ingat wajah terkejut Do Hyun.. Membayangkan semua itu membuat Ri Jin frustasi. Ri Jin mengacak rambutnya, sebenarnya siapa yang tadi ia cium. Se Gi atau Do Hyum. Ri Jin meletakan tangannya di atas dada, merasakan debaran jantungnya. Ri Jin tidak tahu pada siapa hatinya berdebar.

Do Hyun membasuh wajahnya. Kemudian ia menatap dirinya di cermin sambil menyentuh bibirnya. Sama seperti Ri Jin, Do Hyun teringat pada ciuman itu. Tak hanya itu Do Hyun juga ingat pada tatapan mata Ri Jin yang teduh. Do Hyun terdiam, tampaknya merasakan sesuatu.

Keesokan harinya Do Hyun dan Dr. Seok bertemu di sebuah taman.  Mereka duduk agak berjauhan dan bicara dengan hati-hati. Dr. Seok berkata ia menyuruh Ri Jin untuk mengambil cuti dan pulang kerumah hari ini. Do Hyun yang merasa bersalah meminta maaf. Dr. Seok mengeluh berapa lama lagi mereka harus bertemu secara sembunyi-sembunyi seperti ini. Seperti mereka terlibat cinta terlarang saja.

Dr. Seok mengulurkan sandwich pada Do Hyun. Do Hyun menerimanya. Sepasang kekasih yang kebetulan lewat menatap mereka dengan pandangan aneh dikiranya Do Hyun dan Dr. Seok pasangan gay kali yach..hehe

Tapi Do Hyun tidak memusingkan hal itu. Ada hal yang menganggu pikirannya, "Dr. Seok. Sepertinya Ri Jin adalah cinta pertamanya Se Gi", ucap Do Hyun mengutarakan apa yang ia pikirkan.

"Apa?", Dr. Seok terkejut.

Do Hyun merasa ada yang aneh. Cara Se Gi memperlakuan Ri Jin sangat berbeda dengan cara Se Gi memperlakukan orang lain sebelumnya. Do Hyun diam membayangkan saat ia dan Ri Jin disekap pria gangster. Do Hyun ingat ucapan Ri Jin yang mengulangi perkataan Se Gi. "7 Januari tepat 10 malam. Waktu aku jatuh cinta padamu.

Do Hyun juga ingat Ri Jin yang bilang bahwa Se Gi memintanya untuk mengingat baik-baik tatapan matanya, jika ada orang lain yang memiliki wajah yang sama tapi dengan nama berbeda, orang itu adalah palsu. Hanya ada Shin Se Gi satu-satunya pemilik wajah ini.

Do Hyun bilang untuk pertama kalinya, Se Gi mengakui perasaaan pada seseorang. Se Gi memohon pada Ri Jin untuk mengingat nama dan tatapan matanya. Dan jika di pikirkan lagi, setiap kali kepribadian berubah selalu ada Ri Jin disana. Do Hyun bertanya pada Dr. Seok, apakah mungkin Ri Jin adalah alasan kepribadian berubah. Mungkin di masa lalu yang tidak ia ingat, Se Gi mungkin pernah bertemu dengan Ri Jin sebelumnya.

 Do Hyun kembali ke perusahaan. Ia berjalan menuju ruangannya sambil mengingat jawaban Dr. Seok atas pertanyaannya di taman. Dr. Seok belum bisa membuat kesimpulan kalau Ri Jin menjadi alasan kepribadian berubah, tapi sudah pasti Se Gi bertambah kuat. Kemunculan Se Gi disaat Do Hyun masih sadar, adalah sebuah tanda yang jelas. Sama halnya dengan kepribadian yang baru muncul.

Jika Se Gi bertambah kuat, bukan hanya Do Hyun yang berada dalam bahaya. Jika Do Hyun ingin melindungi orang-orang di sekitar Do Hyun, maka Do Hyun harus membuka dirinya lebih dulu. Bukalah hati dan pikiran dan bantulah diri Do Hyun sendiri. Hanya itulah satu-satunya cara untuk mengakhirinya.

Do Hyun kini sudah ada di ruangannya. Sek. Ahn datang bersama asisten Ki Joon. Asisten Ki Joon mendorong trolly berisi setumpuk berkas. Sek. Ahn bertanya apa benar Direktur Ki Joon yang menyuruh asisten untuk membawa berkas-berkas ini. Asisten mengiyakan. 

Asisten Ki Joon kaget, tak menyangka Do Hyun ada di dalam ruangan. Do Hyun melepas baju hangatnya, menghampiri mereka dan menanyakan berkas-berkas itu, "Apa itu?", tanyanya heran.

Do Hyun lalu menemui Ki Joon yang sedang sibuk bekerja. Kedatangan Do Hyun tak lain untuk meminta penjelasan kenapa Ki Joon mengirimkan berkas-berkas itu. Ki Joon berlagak tak mengerti, karena tiba-tiba Do Hyun masuk dan bertanya seperti itu. Do Hyun mengulangi pertanyaannya. Apa alasan Ki Joon menyuruhnya memeriksa 2000 berkas lama yang seharusnya masuk ke mesin penghancur kertas.

"Apa kau ingin melanggar perintah ketua?", tanya Ki Joon tanpa memandang wajah Do Hyun.

"Meskipun menahan diri, bukankah hanya sepihak?. Kalau kau ingin aku merasa terasing di perusahaan kau harus memberikan alasan yang masuk akal. Bukannya permainan anak kecil semacam ini", ucap Do Hyun tidak suka.

"Mengapa aku harus percaya padamu?", tukas Ki Joon dingin.

"Apa?".

"Bagaimana mungkin aku memberikan pekerjaan penting padamu, tapi aku tidak tahu pria macam apa dirimu?".

"Hyung!", tegur Do Hyun menilai perkataan Ki Joon kelewatan'

"Direktur. Panggilan aku Direktur saat bekerja".

Ki Joon berdiri dari tempat duduknya, mendekati Do Hyun. Ki Joon mengaku memeriksa semua karyawan latar belakang semua pegawai yang bekerja di ID Entertainment. Di lingkungan macam apa mereka tumbuh. Pendidikan macam apa yang mereka terima dan berapa besar kekuatan finansial yang mereka miliki. Apakah mereka cukup sehat secara fisik untuk mengemban tugas penting, dan apakah mereka berada dalam kondisi mental yang sehat dalam mengerjakan tugasnya.

Ki Joon dan Do Hyun saling bertatapan. Seperti sebuah peringatan, Ki Joon berkata, "Aku beritahu padamu lagi. Aku tidak bisa bekerja dengan orang yang tidak aku telusuri latar belakangnya. Aku masih mengamatimu. Jadi tunggulah".


Lanjut ke Sinopsis Kill Me Heal Me Episode 5 Part 2


No comments:

Post a Comment

Thanks sudah mampir di blog saya, jangan lupa tinggalkan komentar ya...Trims....:)