Pages - Menu

Tuesday, November 26, 2013

Sinopsis The Heirs Episode 13 Part 2

Malam harinya, Eun Sang menerima kunjungan tak terduga. Ny. Han datang ke cafe tempat Eun Sang bekerja. Kebetulan saat itu cafe telah tutup dan Eun Sang jalan keluar. Semula Eun Sang tak melihat Ny. Han, ia yang sedang menelpon Bo Na menanyakan keberadaan Kim Tan, buru-buru mengakhiri pembicaraan ketika melihat majikannya datang. 

Eun Sang memberikan salam hormat pada Ny. Han. Ny. Han bertanya apa ini tempat kerja Eun Sang. Eun Sang mengiyakan. Ny. Han bertanya lagi, apa Eun Sang tidur di sini. Eun Sang kembali membenarkan, dan menambahkan bahwa ruang staf yang menjadi tempat tidurnya terasa nyaman. 

Jawaban Eun Sang membuat Ny. Han merasa bersalah. Tapi Ny. Han menunjukan rasa bersalahnya itu dengan mengomeli Eun Sang. 

"Kau sangat keterlaluan. Bagaimana kau benar-benar pergi begitu setelah aku menyuruhmu pergi. Setiap hari akan semakin dingin, dan aku tahu kau tidak punya tempat untuk pergi. Kau kira mudah bagiku menatap ibumu setelah ini?. Kau kira aku bisa tenang setelah  mengusirmu keluar?. Atau apa aku bisa makan makanan yang dibuat ibumu untukku dengan tenang?. Apakah kau sedang mengujiku atau apa?. Lihatlah betapa tidak sehatnya kulitmu". 

Eun Sang menunduk dan meraba kulit wajahnya. (Diam-diam Ny. Han ini meski bawel tapi perhatian juga sama Eun Sang). 

Ny. Han menebak pasti Eun Sang sudah mendengar kabar Kim Tan yang keluar dari rumah. Eun Sang meminta maaf. Ny. Han berkata Eun Sang tidak perlu meminta maaf, "Itu bukan kesalahanmu. Itu kesalahanku. Apa kau tahu dimana dia sekarang. Apakah dia datang menemuimu?. Dia menemuimu, kan!?". 

Eun Sang diam. Ny. Han mengeluh tidak tahan lagi, Kim Tan bahkan meninggalkan ponselnya. Ny. Han mendesak kenapa Eun Sang tidak mengatakan apa-apa, "Apa Tan sini atau tidak?". 

"Aku disini!. Kenapa?", seru Kim Tan muncul tiba-tiba. 

Ny. Han yang khawatir dan juga kesal langsung memukul lengan putranya, "Aku sudah menebaknya! Aku tahu aku bisa melihatmu di sini", omel Ny. Han. 

Kim Tan menahan tangan ibunya, memeluknya dari belakang, "Kita bicara saja. Kenapa wanita-wanita yang kucintai suka sekali memukul?". 

Eun Sang mendelik menyuruh Kim Tan diam. Kim Tan melepaskan tangan ibunya. Ny. Han marah, tujuannya kesini untuk menjemput Kim Tan pulang kerumah, "Ayo pulang. Pulang, lalu memohon pada Ayahmu, ya!". 

"Aku sudah diusir mau pergi kemana lagi. Aku tidak akan kembali?", tanya Kim Tan keras kepala. 

"Lalu?. Kau akan pindah dan tinggal bersama Eun Sang?. Jika ayahmu tahu...."

"Ayah sudah tahu", sambar Kim Tan cepat, "Dia menyuruh seseorang untuk mengikutiku". 

Ny. Han terkejut begitu pula dengan Eun Sang. Ny. Han semakin cemas, situasinya sekarang semakin memburuk. Ny. Han menyuruh Kim Tan masuk ke mobil, ia lalu tanya apa yang Eun Sang lakukan, "Kenapa kau diam saja?. Ayo dukung aku!". 

Eun Sang bingung, menatap Kim Tan dan Ny. Han bergantian. Setelah berpikir sesaat, akhirnya ia memutuskan, "Aku akan pergi Nyonya. Aku akan kembali ke rumah".
 
"Benarkah?", tanya Ny. Han senang

Ny. Han senang tapi Kim Tan yang sebal mengajukan protes pada Eun sang, "Hei. Kau tidak bisa kembali! Aku sudah diusir!". 

"Itulah kenapa aku harus kembali. Kau juga harus kembali", jawab Eun Sang. 

Tentunya sebuah jawaban yang membuat Ny. Han senang dan pujian darinya pun terlontar untuk Eun Sang, "Aku tahu kau pintar". 

Ny. Han berpindah tempat berdiri di samping Eun Sang, mengampit lengannya. "Dia adalah sanderaku mulai sekarang. Masuk ke mobil". Ny. Han menggiring Eun Sang masuk ke mobil. 

Kim Tan mendesis tak percaya, "Aku bilang Tidak! Tapi Ibu!. Apakah Ibu membawa ponselku?. Bagaimana dengan mantelku?. Ibu! Aku berkeliling seperti ini", Kim Tan merengek pada ibunya yang hanya menggunakan kemeja tipis.

"Mati kedinginan saja kau", sahut Ny. Han kesal. 

"Aku tahu ibu tidak sejahat itu", ucap Kim Tan santai lalu tersenyum tidak memperdulikan ponsel atau mantelnya, "Jaga pacarku, ya. Ibu. Aku pergi". 

Sekarang Ny. Han yang di serang rasa panik melihat putra kesayangannya benar-benar pergi dengan pakaian seperti itu. Ternyata ancamannya sama sekali tidak mempan. Buru-buru ia memanggil Kim Tan, "Anak nakal ini!. Bawa ponsel dan jaketmu". 

Eun Sang membuka pintu mobil mengambil ponsel dan mantel. Kim Tan berbalik dengan senyum kemenangan di wajahnya. Ia mengambil barang-barangnya dari tangan Eun Sang. Sebelum pergi Kim Tan berkata, "Kalian terlihat sangat serasi. Aku akan menelpon nanti". 

Kim Tan pergi. Ny. Han tak habis pikir, "Bagaimana mungkin dia mempercayakanmu padaku". (Kan calon menantu...heheheh)

Eun Sang memandangi Kim Tan yang jalan menjauh dengan wajah khawatir....mau kemana????... 




Hee Nam senang sekaligus penasaran melihat putrinya pulang bersama Ny. Han. Ia pun bertanya bagaimana bisa itu terjadi. Eun Sang berkata kalau Ny. Han yang menjemputnya pulang. Hee Nam setengah tak percaya, "Benarkah?. Kenapa?. Apakah kau mendapatkan masalah?". 


"Tidak, aku harus kembali. Dan aku merindukan Ibu. Itu sebabnya aku kembali ke rumah", Eun Sang tersenyum menenangkan ibunya.

Hee Nam lega, syukurlah. Eun Sang kemudian tanya bagaimana dengan Presdir Kim, "Apa dia mengatakan sesuatu pada ibu?".
Hee Nam menggeleng, "Beliau tidak keluar dari ruang kerjanya setelah dia mengusir putra keduanya. Tunggu disini, Ibu akan membawakanmu makanan".

"Ya", jawab Eun Sang. Hee Nam keluar dari kamar untuk mengambil makanan. Eun Sang kembali khawatir memikirkan Kim Tan. 

Kemana Kim Tan pergi?. Ternyata dia pergi ke Hotel Zeus menemui kakaknya. Kim Won membuka pintu dengan pandangan mendelik tajam. Kim Tan menunduk mengutarakan maksudnya, "Hyung, boleh aku ...bermalam disini?". 

Tepat pada saat Kim Tan menyelesaikan ucapannya. Kim Won langsung menutup pintu tepat di hadapan wajah Kim Tan. Tapi sedetik kemudian,  Kim Won membukanya lagi. Yang artinya mengijinkan Kim Tan untuk masuk....gak tega kan liat adiknya yang unyu ini tidur di jalanan.... ^^




Kim Tan menyantap makan malamnya dengan lahap. Sesekali ia mendongakkan wajahnya, melihat Kim Won duduk di depan meja kerja yang sedang serius memeriksa dokumen. Kim Tan tersenyum bahagia, meski Kim Won masih saja memasang wajah dingin. 


Seakan mengadu pada kakaknya, Kim Tan cerita kalau ayah menamparnya. Kim Won menjawab pendek, aku sudah tahu. Kim Tan menunjukan wajah sedikit terkejut, ternyata Hyung-nya sudah mengetahui.

Kim Tan tak mengerti pada ayah mereka, "Ayah tidak bilang apa-apa saat Hyung pergi. Bagaimana bisa dia mengusirku tanpa uang sepeserpun?. Apa karena aku anak haram?. Menyakitkan sekali", ucap Kim Tan sembari mengunyah makanannya.

Mendengar kata "Menyakitkan" membuat Kim Won menunjukan sedikit reaksi, meski hanya dengan gerakan matanya. Perasaan seperti apa yang ia miliki untuk Kim Tan, rasa sayang sebagai saudara atau hanya kasihan?. 

Ponsel Kim Won berdering, dari sekertaris Yoon Jae Hoo. Kim Won mengangkatnya. Jae Hoo bertanya apa ia bisa sekarang, dengan tidak sedang menganggu. Kim Won mempersilahkan Jae Hoo untuk bicara. 

Jae Hoo melaporkan Kim Tan akan menerima saham Jeguk Holding dari Presdir Kim. Selain itu 5 % dari saham Ny. Ji Sung juga akan di berikan pada Kim Tan (saat Kim Tan ulang tahun ke-18). Dan saham itu lah yang bisa membahayakan posisi Kim Won. 

Meski saat ini Kim Tan berada satu ruangan dengannya, Kim Won sama sekali tak berniat menyembuyikan percakapan. Berdasarkan laporan itu Kim Won menyimpulkan saham atas nama bawah tangan Jae Hoo sepenuhnya juga akan diberikan pada Kim Tan. Jae Hoo membenarkan. Kim Won mengerti dan akan menelpon lagi nanti. Kim Tan tertegun mendengar namanya menjadi topik pembicaraan. 

Kim Won meletakan ponselnya dengan keras ke meja. Moodnya langsung berubah buruk menerima laporan saham yang akan di terima Kim Tan.  Kim Tan yang bingung mengajukan pertanyaan, "Apakah itu tentang aku?". 

"Apa kau benar-benar tidak mengerti?. Atau kau hanya berpura-pura tidak mengerti?", jawab Kim Won sinis. 

Kim Won berdiri, mengambil kartu kredit dari dompetnya dan melemparkannya ke meja dekat Kim Tan, "Aku tidak bisa tidur bersamamu. Tidurlah di kamar lain". 

Kim Tan terdiam dengan wajah bingung. Sikap Kim Won kembali berubah karena saham....baru saja ia sedikit menerima kebaikan hati kakaknya. Tapi sekali lagi, Kim Won menolaknya. 

Kim Tan berdiri di depan front office untuk memesan kamar lain. Tapi petugas hotel tidak bisa membukakan kamar untuk Kim Tan. Kim Tan tanya apa maksudnya. Petugas merasa tidak enak hati, bagaimana caranya menjelaskan ini. 

"Saya diperintahkan untuk tidak memberikan kamar pada orang ini", petugas hotel memberikan selembar kertas pada Kim Tan.

Kim Tan menerima kertas yang diberikan petugas hotel, yang ternyata adalah gambar sketsa wajah seorang pria dengan nama "Kim Tan" tertulis di atasnya. Kim Tan tak percaya melihat wajahnya di gambarkan dengan sangat "jelek" itu...ya ampun...Kim Tan kan ganteng...siapa coba yang gambar jelek kaya gitu...hehehe.

"Apa aku terlihat seperti ini?", protes Kim Tan tidak terima.

"Kau pikir kau seperti apa?", seru Young Do muncul di belakang Kim Tan...oh, ternyata ini toh pelukisnya...hahahaha....dasar Young Do jahil...kekeke..

"Bukankah gambar itu bagus? Aku melihatmu naik lift tadi", ujar Young Do kemudian.

Kim Tan kesal, apa alasannya hingga ia di perlakukan seperti ini. Apa hotel Young Do tidak punya peraturan memperlakukan tamu dengan baik. 

Young Do menyebutkan 5 alasan, "Pertama, kau adalah Kim Tan. Kedua, kau adalah Kim Tan. Ketiga, kau adalah Kim Tan. Keempat, kau yang membuat motorku diderek. Kelima, Kaulah yang melanggar aturan lebih dulu". 

Astaga....itu alasan atau balas dendam ya!.  ^^

"Apakah itu menyenangkan?", tanya Kim Tan menanggapi alasan Young Do yang kekanak-kanakan. 

"Sangat menyenangkan. Kau harus kembali ke kakakmu. Ujian dan cobaan mengembalikan keutuhan keluarga", ledek Young Do berharap Kim Tan berada dalam posisi sulit.

Tapi Young Do salah kali ini, karena Kim Tan malah tersenyum manis menanggapi ledekan Young Do, "Sebenarnya aku tidak ingin mengatakan ini, tapi terima kasih. Kau membantuku". 

Kim Tan pergi dengan wajah gembira meninggalkan Young Do yang nyengir karena rencananya gagal..niatnya menyulitkan tapi justru membantu.

Untuk pertama kalinya, Kim Tan tidur satu ruangan dengan Kim Won. Walau Kim Tan tidur di sofa dan Kim Won tidur di kasur yang empuk. Malam itu, Kim Tan terlihat bahagia sampai-sampai tak bisa memejamkan matanya. 

Kim Tan menoleh ke arah ranjang, dan bertanya apa kakaknya sudah tidur. Tidak ada sahutan. 

"Apa kau benar-benar sudah tidur?", tanya Kim Tan lagi. Senyap tidak ada jawaban, mata Kim Won terpejam seperti sudah terlelap dalam tidur. .

Kim Tan kecewa, "Aku ingin bertanya banyak hal padamu. Aku ingin bercerita banyak hal padamu. Tapi Hyung tidur cepat sekali", Kim Tan lalu memejamkan mata, tidur. 

Kim Won membuka matanya, ia belum tidur. Sejak tadi hanya pura-pura tidur meski telinganya terus terpasang mendengarkan perkataan Kim Tan.

Keesokan harinya, Kim Won mengantar Kim Tan berangkat ke sekolah (kemajuan pesat nich). Kim Tan benar-benar senang, senyum tak pernah lepas dari wajahnya. Kim Tan mengucapkan terima kasih atas tumpangannya. Dengan dingin Kim Won menyuruh Kim Tan segera keluar. 

"Ya", jawab Kim Tan sebelum melepas safety belt, ia memasang wajah polos dan bertanya pada kakaknya, "Hyung!. Bisakah kau menjemputku sepulang kerja?".

Ops..sebuah pertanyaan berani yang langsung mendapatkan delikan tajam dari Kim Won. Dari delikan itu, Kim Tan sudah tahu apa jawabannya. Ia tersenyum manis dan berkata, "Hati-hati di jalan". 

Kim Tan keluar mobil, sebelum pergi ia tersenyum seperti anak kecil dan melambaikan tangan pada kakaknya, "Daah Hyung!". Kim Won tak bereaksi, malah menatap adiknya dengan pandangan aneh. Kim Tan bersikap seperti adik kecil di hadapan Kim Won. Meski setelah itu wajahnya berubah murung.

Kim Won hendak pergi saat melihat Hyun Joo jalan memasuki halaman sekolah. Kim Won terkejut dan refleks akan membuka pintu mobil. Tapi niat itu ia urungkan karena teringat pada keputusannya yang lebih memilih Jeguk Group di bandingkan gadis yang ia sukai. 

Hari pertama Hyun Joo sebagai guru di awali dengan mengajar di kelas Kim Tan. Hyun Joo mendengar siswa SMA Jeguk saling mendiskriminasi satu sama lain dengan kekayaan. Jadi Ia akan melakukan hal yang sama mendiskriminasikan siswanya berdasarkan nilai, "Ada dua jenis siswa bagiku. Siswa yang cerdas dan siswa yang tidak baik". 

Kim Tan mengenali guru baru itu sebagai gadis yang tempo hari keluar dari rumahnya sambil menangis. 

Perkataan siswa cerdas dan siswa tidak baik membuat Young Do yang sedari tadi memainkan ponsel, melirik gurunya sembari mengeryitkan alis. Hyun Joo melihat dan langsung menegur. 

"Siswa yang di sana, yang menaikkan alis matanya!. Berhenti main ponsel. Dan turunkan alis matamu", tegur Hyun Joo tegas membuat siswa lain menahan senyum geli. Young Do tentu saja kesal, mau tak mau meletakan ponselnya ke meja. 

Hyun Joo lalu tanya siapa siswa terpintar di kelas ini. Salah satu siswa menunjuk Chan Young. Pada Chan Young, Hyun Joo tanya siapa namamu. 

"Yoon Chan Young, bu", jawab Chan Young. 

"Ada dua jenis siswa di ruang kelas. Yoon Chan Young dan sisanya. Buka buku kalian", Hyun Joo memulai pelajaran pertamanya sebagai guru di SMA Jeguk. 

Eun Sang tersenyum, merasa terkesan dengan guru barunya itu. (Hyun Joo ini versi dewasanya Eun Sang. hehe).

Presdir Kim dan Ny. Ji Sung beserta mata-mata bayaran bertemu di sebuah restoran. Mata-mata berkata sepertinya Jae Hoo sudah mengetahui keberadaan dirinya. Karena itulah presdir Kim memanggil Jae Hoo untuk datang. Tak lama Jae Hoo masuk keruangan, sedikit terkejut melihat mata-mata ada diruangan itu.

Mata-mata permisi keluar. Presdir Kim mempesilahkan Jae Hoo duduk. Setelah Jae Hoo duduk, presdir Kim tanya, "Kau tahu siapa dia?". Jae Hoo mengiyakan, "Aku lupa bertanya apakah dia juga memiliki foto-fotoku". 

Presdir Kim menyungging senyum, "Tentu saja dia punya. Hentikan sikap romansamu itu. Cinta pertama tidaklah penting". 

Kembali Jae Hoo dibuat terkejut, meski kali ia berusaha menyembunyikan rasa terkejutnya. Tujuan presdir Kim meminta Jae Hoo datang adalah untuk memberi perintah pada Jae Hoo menghentikan pengalihan saham ke Kim Tan untuk sementara ini. 

Presdir Kim yakin Esther Lee akan mulai bergerak membeli beberapa saham Jeguk Group diluar bursa saham. Dia mungkin akan menghubungi para pemegang saham secara diam-diam. Presdir Kim menyuruh Jae Hoo membeli semua saham yang dijual, bahkan jika harus membayar lebih mahal.

Pada Ny. Ji Sung, presdir Kim meminta istrinya itu untuk menemui Esther dan bujuk dia. Lihat apakah Esther akan berubah pikiran. Ny. Ji Sung berkata akan segera menemui Esther, "Dia adalah rubah yang sebenarnya". 

Terakhir presdir Kim membahas tentang Cha Eun Sang. Ia menyuruh Jae Hoo untuk mengirim Eun Sang belajar ke luar negeri. Jae Hoo terkejut lagi, untuk yang ke-3 kalinya. 

Presdir Kim berkata, "Memindahkannya ke SMA Jeguk tidak berhasil. Aku, tidak bisa melawan jiwa muda mereka".

(Presdir Kim yakin, Eun Sang akan menjauhi Kim Tan saat anak-anak SMA Jeguk mengatakan Eun Sang tak pantas bersama Kim Tan, karena Eun Sang miskin. Tapi yang ternyata di luar bayangannya. Kim Tan dan tetap berhubungan. Karena apa?. Karena anak-anak SMA Jeguk mengira Eun Sang Orang Kaya Baru).

Gadis yang tengah di bicarakan presdir Kim, kini sedang menikmati jam istirahat sembari mendengarkan musik. Eun Sang menoleh ke kiri dan melihat Kim Tan yang sedang jalan ke arahnya. Eun Sang tersenyum mengagumi ketampanan pacarnya itu. 

Kim Tan duduk di samping Eun Sang. Eun Sang berkata baru sadar ternyata Kim Tan itu tampan. (Jiah...dari kemarin ke mana aja non...). Kim Tan menanggapinya dengan santai, "Aku sudah terbiasa mendengarnya.

Kim Tan melihat Eun Sang terlambat datang pagi tadi. Eun Sang mengaku ketiduran, "Aku tidur nyenyak sekali tadi malam". 

"Aku tidak bisa percaya ini. Bagaimana kau bisa tidur di sana tanpa aku?" protes Kim Tan (Aih..ucapan Kim Tan ini terdengar seakan dia sudah jadi suaminya Eun Sang saja ^^). 

Eun Sang lalu tanya bagaimana dengan hubungan Kim Tan kakaknya. Kim Tan cerita, "Kami tidur di kamar yang sama. Kami mengobrol. Kami makan makanan yang enak". 

Eun Sang mengangguk-angguk seakan percaya, tapi ujung-ujungnya di berkata, "Kau pasti Kau pasti berbohong". 

"Kau tidak akan menyangkanya", jawab Kim Tan. 

Eun Sang menyarankan sebaiknya Kim Tan pulang saja, "Tak bisakah kau memberontak di dalam rumah saja?". 

"Apakah ibuku membayarmu?", tanya Kim Tan kesal. Tapi mengingat ibunya membuat Kim Tan khawatir, "Bagaimana keadaan ibuku?. Apakah dia minum anggur tadi malam?". 

"Sekarang gantian kau yang memintaku jadi mata-mata?", tanya Eun Sang tersenyum seraya mengambil kotak donat di atas meja, "Kau mau", tawar Eun Sang mengambil satu donat dan memasukan ke dalam mulutnya. 

"Ya", jawab Kim Tan cepat langsung menyambar dan menggigit donat yang ada di mulut Eun Sang. Membuat Eun Sang terbelakak terkejut. "Doughnut Kiss".

Nyam..nyam...dengan santainya Kim Tan mengunyah potong donat yang ada dimulutnya, sembari memandang Eun Sang dengan tatapan "nakal". Eun Sang terpaku sejenak menerima serangan dadakan. 

Eun Sang tersadar lalu memukul lengan Kim Tan dengan keras, "Kau mau mati?". Kim Tan memegangi lengannya. Sebelum Kim Tan mengerang kesakitan, Eun Sang mengancam lebih dulu, "Jangan merengek!". 

"Aku! Tidak bilang kalau cuma mau makan yang itu !", ucap Kim Tan setengah teriak, menunjuk kotak donat yang Eun Sang taruh lagi ke atas meja.

"Selalu mencari kesempatan ...", ujar Eun Sang 

Kim Tan berkata sudah memikirkan hal ini semalam, "Kita bergerak terlalu lambat". Eun Sang heran lambat apanya, "Kita tidak hanya pegangan tangan, tapi kita...", Eun Sang buru-buru menghentikan ucapannya, menunduk malu lagi-lagi ia yang mengungkit hal itu lebih dahulu.

Kim Tan yang mendengarnya pun langsung tersenyum menggoda, "Jadi, kita bisa bicara tentang itu sekarang?". 

Wajah Eun Sang memerah karena malu, ia pun langsung berdiri untuk menghindar, "Semua ada urutannya masing-masing!", ucapnya lalu berbalik pergi. 

"Kau mau ke mana? Pipimu memerah", goda Kim Tan

Eun Sang memegang pipinya yang bersemu merah, "Ruang penyiaran. Kami sedang kerja bergiliran karena Hyo Shin tidak hadir hari ini". 

"Dia absen?", tanya Kim Tan heran. 

Hyo Shin tidak masuk sekolah karena menuruti permintaan ibunya untuk wawancara univesitas jurusan hukum. Wajah Hyo Shin terlihat murung dan tidak bersemangat. Pewawancara juga mendengar kabar bahwa Hyo Shin pingsan hingga melewatkan wawancara sebelumnya, 

Dengan malas, Hyo Shin menjawab, "Benarkah?". Pewawancara lain bertanya kenapa Hyo Shin mengajukan permohonan untuk masuk ke universitas ini. Hyo Shin menjawab bahwa ia tak pernah mengajukan permohonan.(lebih tepatnya, yang mengajukan ibunya Hyo Shin). 

Jawaban Hyo Shin yang malas itu membuat ke-3 pewanwacara menjadi kesal. Jika Hyo Shin tidak mengajukan permohonan kenapa memilih jurusan hukum. Mereka menganggap jawaban Hyo Shin itu tak pantas diutarakan untuk saat ini. Dan perkataan lainya yang memojokan Hyo Shin. 

Hyo Shin berada dalam kondisi terjepit, dan wajahnya menunjukan bahwa saat ini ia sedang tidak sehat. Menjalani sesautu yang tidak ia inginkan membuat Hyo Shin semakin tertekan dan bertambah stress. 

Mengetahui Hyo Shin tidak masuk sekolah, membuat Kim Tan khawatir. Ia mencoba menghubungi ponsel Hyo Shin. Tapi tidak diangkat. Sedetik kemudian, ponsel Kim Tan bergetar menerima panggilan masuk. Bukan dari Hyo Shin melainkan dari Ny.Ji Sung. Kim Tan menghela napas, mengetahui akan menerima omelan dari ibu tirinya itu.

Kim Tan menghadap Ny. Ji Sung dan meminta maaf atas apa yang telah ia lakukan. Ny. Ji Sung menyahut dingin, "Maaf?. Kau pikir itu cukup?. Aku tidak akan keras padamu karena kudengar kau ditampar. Tapi aku tidak bisa menutupi kemarahanku!". 

"Beraninya kau mengejekku, mengejek ayahmu!. Ayahmu dan aku membesarkanmu selama 18 tahun sebagai anak sah kami!. Kau pikir kami melakukannya hanya untuk menyembunyikan rahasia kelahiranmu?. Ayahmu menjadi komisaris dengan cara mendepak kakaknya keluar. Kau kira pertarungan ini mudah?".
"Pamanmu dan anak-anak mereka masih berusaha menggugat ayahmu. Tapi, apa yang akan mereka lakukan begitu tahu kalau kau ini anak haram?. Mereka akan datang lagi ke kami dan meminta sesuatu. Itu akan jadi pertarungan baru. Kau masih SMA. Kakakmu baru jadi Presdir selama 3 tahun. Ini akan jadi pertarunganmu dan kakakmu. Apa yang akan kau lakukan?", omel Ny. Ji Sung tajam, tanpa titik koma. 

Kim Tan hanya diam menunduk di omeli seperti itu. Ia baru mengetahui kenyataan lain di balik rahasia kelahirannya. 

Kim Tan duduk merenung di ruang eskul golf. Memikirkan semua perkataan Ny. Ji Sung. Semua yang ia hadapi ternyata lebih rumit dari yang ia pikirkan.  Myung Soo datang dan heran melihat Kim Tan, bertanya apa yang Kim Tan lakukan disini. Ini kan bukan waktunya Kim Tan mengikuti eskul golf. 

"Aku hanya mencari tempat di mana Cha Eun Sang tidak bisa menemukanku", jawab Kim Tan. 


Myung Soo tanya kenapa Kim Tan menghindari Eun Sang. Kim Tan menjawab, karena ia tak ingin Eun Sang melihat wajahnya yang seperti ini. Myung Soo menunduk mengamati wajah Kim Tan, "Melihatmu seperti apa?". 

"Melihatku menghitung rintangan yang harus kami hadapi", jawab Kim Tan muram. Myung Soo menghela napas tak mengerti, "Apa maksudnya?".

Atasan Eun Sang memberitahu kalau malam ini cafe booking selama 2 jam penuh. Ia mengingatkan Eun Sang jangan menerima pelanggan lain. Eun Sang bertanya untuk acara apa?. Ulang tahun?. 

"Mungkin sebuah acara untuk pacarnya. Aku akan keluar. Aku cemburu, Eun Sang", jawab atasan Eun Sang jalan keluar, membuat Eun Sang bingung. 

Bertepatan atasan Eun Sang keluar, Young Do jalan masuk ke cafe. Eun Sang terlihat tidak suka melihat Young Do datang. Sesuai perintah atasannya tadi, Eun Sang menyuruh Young Do untuk datang 2 jam lagi, karena cafe sudah di booking. Young Do menyahut aku tahu. 

"Aku tidak bisa menerima pesanan lainnya. Cafe kami sudah di booking", jelas Eun Sang sekali lagi. 

"Aku yang melakukannya", jawab Young Do tersenyum bangga.

"Kau membooking seluruh cafe untuk dua jam penuh?", tanya Eun Sang tidak percaya. 

"Ya", jawab Young Do lalu mengganti sign pintu dari open menjadi closed.

Young Do mengambil tempat duduk. Eun Sang bertanya kenapa Young Do membooking cafe. Young Do melakukannya karena, "Kkau tidak akan menjawab teleponku. Kau tidak mau pergi makan mie denganku. Kau selalu menghindariku. Aku harus membayar untuk melihat wajahmu". 

"Itukah sebabnya kau membooking cafe kami selama 2 jam?", tanya Eun Sang kesal. 

Young Do minta Eun Sang untuk mencatat pesanannya sekarang. Eun Sang menjawab kesal, "Apakah kau tidak tahu bagaimana caranya memesan di sebuah cafe biasa?. Datang sendiri ke counter (meja bar/kasir)

Eun Sang berbalik menuju meja kasir. Young Do tak peduli. Tak bergeming sedikit pun dari tempat duduknya. Ia malah menyuruh Eun Sang membuatkan 2 minuman yang mudah untuk di buat. "Jangan meludahi minumannya". 

Eun Sang hanya bisa mendelik kesal. Bagiamanpun Young Do tetap seorang pelanggan dan Eun Sang mau tak mau harus membuatkan minuman untuk Young Do. Bukan 2 tapi hanya satu. Setelahnya Eun Sang menyibukan diri mengerjakan berbagai macam pekerjaan, membuat Young Do canggung. 

Young Do menggaruk alisnya yang tidak gatal, bingung harus bicara apa. Ditambah lagi Eun Sang tetap cuek bebek mengepel lantai di depan Young Do. Young Do batuk-batuk kecil dan akhirnya membuka suara.

"Sepertinya kau mengerjakan sesuatu yang tidak perlu. Duduklah sebentar. Kau mungkin bisa kaya mendadak kalau melakukan itu". 

Eun Sang tetap cuek seolah perkataan Young Do itu hanya angin lalu. Young Do kesal, "Dengarkan aku". Melihat Eun Sang yang terus bekerja membuat Young Do melakukan sesuatu yang bisa menarik perhatian Eun Sang. 

Dengan cara menumpahkan minuman ke lantai yang baru saja Eun Sang pel. Eun Sang yang mendengar tumpahan minuman langsung membentak kesal, "Hei". Satu bentakan saja sudah cukup membuat Young Do berhenti. Young Do tersenyum, akhirnya ia berhasil membuat Eun Sang memperhatikannya dan berkata, "Aku akan menumpahkan sisanya jika kau tidak duduk". 

Eun Sang menghela napas kesal, menaruh alat pel dan duduk di depan Young Do. Yang tentu saja membuat Young Do senang. Young Do berkata akan lebih baik jika Eun Sang duduk saat ia memintanya untuk duduk. Sehingga ia tak perlu melakukan hal itu (menumpahkan minuman). 

"Apa yang kau inginkan dariku?", tanya Eun Sang langsung ke pokok permasalahan. 

Young Do terdiam sejenak, tampak kecewa dengan sikap dingin Eun Sang. Beberapa detik kemudian Young Do berkata dengan suara pelan, "Aku ingin kau menjawab teleponku. Bicaralah padaku saat aku sedang berbicara denganmu. Sapa aku saat kau melihatku".

Sekarang Eun Sang mengerti apa maksud Young Do, "Aku mengerti kalau kau suka aku. Aku mengerti kenapa kau tidak membeberkan rahasiaku. Maafkan aku karena menghindarimu. Hanya ada satu hal yang dapat aku lakukan. Aku akan menolakmu. Maafkan aku". 

Ah..Young Do patah hati, memandang Eun Sang dengan pandangan terluka. Penolakan ini membuat lidah Young Do kelu. Young Do memaksa tersenyum dengan suara bergetar ia berguman, "Aku benar-benar ditolak. Apa aku bisa membalas dendam?". 

Eun Sang menghela napas pasrah, "Aku harap kau tidak melakukannya. Tapi jika hanya itu yang bisa kau lakukan, maka lakukanlah. Itu resiko yang harus kuhadapi karena menolakmu". 

"Aku tidak bisa menganggumu lagi", ucap Young Do, "Itu akan menghancurkan hatiku. Jadi aku akan menggangu orang lain kecuali kau".

"Choi Young Do", tegur Eun Sang. 

Sebelum pergi, Young Do menyuruh Eun Sang untuk beristirahat waktu bookingnya masih tersisa 20 menit. Young Do beranjak pergi dengan patah hati. 

(Meski sakit, tapi Eun Sang perlu memberi ketegasan pada siapa hatinya berlabuh. Sehingga tidak memberikan harapan yang akan membuat Young Do semakin patah hati).


Keesokan harinya. Patah hati membuat Young Do lesu tak bersemangat. Ia pergi ke perpustakaan membaringkan kepalanya di atas meja dan bersedih. Tempat ini merupakan tempat duduk yang pernah Eun Sang gunakan untuk belajar. Penolakan Eun Sang semalam, kembali terniang di benaknya. 

Young Do bangkit dari tempat duduknya. Pergi ke suatu tempat seperti telah memutuskan sesuatu. 

Kim Tan membuka lokernya dan menemukan jas sekolahnya tergantung di sana. Dalam keadaan telah dicuci bersih tanpa ada bekas noda. Siapa yang nyucinya?. Masa iya Young Do?. 

Tiba-tiba terdengar suara Young Do dari pengeras suara, "Ah, ah, tes mic, satu, dua, tiga. Teman sekelasku yang tercinta. Ini adalah Choi Young Do". 

Itu adalah siaran On Air yang berasal dari ruang penyiaran. Yang bisa di dengarkan di seluruh penjuru sekolah. Ya, Young Do pergi ke ruang penyiaran untuk mengumumkan sesuatu.  

"Aku ingin berbagi cerita yang menyenangkan dengan kalian. Ini adalah cerita tentang putra kedua Grup Jeguk. Kim Tan. Aku akhirnya bisa mengatakan ini. Aku benar-benar bingung tentang hal ini. Butuh cara yang tepat untuk menceritakan kisah ini. Aku gemetar. Kim Tan sebenarnya... luar biasa... "

Rachel yang berada di dalam kelas, terbelalak terkejut. Mengerti kemana arah perkataan Young Do. 

Kim Tan jalan dengan tenang menuju ruang penyiaran. Telinganya terus mendengar perkataan Young Do. Tampaknya Kim Tan sudah siap menerima kekacauan yang akan Young Do timbulkan. Siswa lain yang jalan berselisihan dengan Kim Tan, menatapnya penuh tanda tanya.

Berbeda dengan Kim Tan yang jalan dengan tenang. Eun Sang berlari sekencang mungkin menuju ruang penyiaran, tujuannya jelas ingin menghentikan tindakan Young Do.

Sementara itu Young Do masih berceloteh di depan mic, "Kebenarannya...akan diungkapkan dalam 60 detik". 

"Ah...Aku mengingat sebuah kutipan...Musuhmu bukanlah orang yang terus menghadangkan pedang padamu. Mereka adalah orang-orang yang ada di dekatmu dengan belati di belakang punggung mereka. Itulah kata-kata yang ingin aku katakan pada Kim Tan. Oh! Kalian mungkin tidak setuju karena tidak tahu alasannya". 

Eun Sang masuk ke ruang penyiaran, geram melihat Young Do. Sementara Young Do senang melihat Eun Sang datang. Karena memang itu yang ia inginkan. Young Do kembali bicara di mic dengan bilang orang yang sedang ia tunggu sudah datang. Sebelum Young Do bicara lebih banyak, cepat-cepat Eun Sang mematikan volume mic.  

"Choi Young Do!. Apa ini tempat bermain untukmu?", hardik Eun Sang, "Kau akan mendapatkan hukuman untuk ini". 

"Aku tidak peduli", sahut Young Do, "Kau bahkan bisa melompat ke dalam api untuk Kim Tan?. Apakah ini tujuan dari hubungan kalian, untuk saling melindungi?".

"Tutut mulutmu!", Eun Sang menarik Young Do berdiri', "Keluar".

Semula Young Do menurut di tarik keluar, tapi begitu hampir mencapai pintu. Ia balas mencengkram lengan Eun Sang untuk menghentikannya. 

"Lepaskan!", Eun Sang berontak marah, "Apa ini balas dendam yang kau inginkan? Lepaskan.

"Tidak. Aku akan melepaskanmu nanti. Tapi aku tidak akan melepaskanmu sekarang", jawab Young Do, "Aku melalui banyak sekali masalah hanya demi satu  kesempatan ini saja.  Jadi bertahanlah denganku". 

Sorot mata Eun Sang melunak, "Hentikan, Young Do-ah", pinta Eun Sang memanggil Young Do dengan nada panggilan teman. 

Young Do bertambah garang, mendorong Eun Sang ke tembok, "Jangan panggil namaku seperti itu". 

Kim Tan sampai di ruang penyiaran, dari celah kaca luar ia bisa melihat Young Do dan Eun Sang berada di dalam. Kim Tan bergerak membuka pintu. Tapi Young Do bergerak lebih cepat menahan dan mengunci pintu dari dalam. 

Eun Sang yang menyadari Kim Tan datang, hendak membuka pintu. Tapi Young Do menahan dan kembali mendorongnya ke tembok dengan keras. 

"Buka pintunya. Buka pintunya sebelum aku membunuhmu!", Kim Tan sangat marah menendangi pintu berkali-kali. "Buka pintunya! Aku akan membunuhmu jika aku masuk ke sana".

Eun Sang sedikit gemetar dan minta Young Do membuka pintu. Tapi Young Do tak memperdulikan kemarahan Kim Tan ataupun permintaan Eun Sang, ia berkata.

"Ketika aku bilang aku akan menganggu orang lain kecuali kau. Kim Tan adalah salah satunya. Dan termasuk aku". 

Young Do mengarahkan pandanganya keluar. Kim Tan terus menendangi pintu dengan murka (Huwa....daejang Choi Young ngamuk).



END

Komentar : 

Patah hati kembali membuat Young Do berulah. Jika ada kata pepatah cinta di tolak dukun bertindak, maka Young Do punya ungkapan lain. "Cinta di tolak, balas dendam donk". Sudah jelas apa maksud Young Do melakukan itu. Hanya ingin menarik perhatian Eun Sang. Sebenarnya Young Do ini hanya anak kesepian yang minta di perhatikan. Tapi kurang pintar mengungkapkan perasaannya, yach unjung-ujungnya membuat masalah.

2 comments:

  1. Setuju dengan komentar mba nuri...semangat terus yaaa...

    ReplyDelete
  2. Semngat ayo d lanjut

    ReplyDelete

Thanks sudah mampir di blog saya, jangan lupa tinggalkan komentar ya...Trims....:)