Pages - Menu

Thursday, August 25, 2011

Permainan Tradisoinal

Di zaman yang semakin modern seperti sekarang ini, permainan tradisional menjadi semakin terpinggirkan. Sekarang jarang kita jumpai anak-anak kecil yang memainkan permainan tradisonal ini. Di lingkungan rumah saya, saya lebih sering melihat anak-anak kecil zaman sekarang lebih memilih untuk menghabiskan waktu mereka dengan bermain play station di rumah atau nongkrong di warung internet dan bermain game online.

Karena zaman berubah maka permainan anak anak sekarang pun telah berbeda, padahal sebenarnya permainan tradisional dapat membantu perkembangan tubuh dan otak anak - anak yang tak kalah dengan permainan tradisonal saat ini, selain juga bisa bergaul dengan banyak teman tentunya. Berikut beberapa permainan tradisional yang telah terlupakan.

1. Galasin/Gobak Sodor


Galah asin atau di daerah lain disebut galasin atau gobak sodor adalah sejenis permainan daerah asli dari Indonesia. Permainan ini adalah sebuah permainan grup yang terdiri dari dua grup, di mana masing-masing tim terdiri dari 3 - 5 orang. Inti permainannya adalah menghadang lawan agar tidak bisa lolos melewati garis ke baris terakhir secara bolak-balik, dan untuk meraih kemenangan seluruh anggota grup harus secara lengkap melakukan proses bolak-balik dalam area lapangan yang telah ditentukan.
 
Permainan ini biasanya dimainkan di lapangan bulu tangkis dengan acuan garis-garis yang ada atau bisa juga dengan menggunakan lapangan segi empat dengan ukuran 9 x 4 m yang dibagi menjadi 6 bagian. Garis batas dari setiap bagian biasanya diberi tanda dengan kapur. Anggota grup yang mendapat giliran untuk menjaga lapangan ini terbagi dua, yaitu anggota grup yang menjaga garis batas horisontal dan garis batas vertikal. 

Bagi anggota grup yang mendapatkan tugas untuk menjaga garis batas horisontal, maka mereka akan berusaha untuk menghalangi lawan mereka yang juga berusaha untuk melewati garis batas yang sudah ditentukan sebagai garis batas bebas. Bagi anggota grup yang mendapatkan tugas untuk menjaga garis batas vertikal (umumnya hanya satu orang), maka orang ini mempunyai akses untuk keseluruhan garis batas vertikal yang terletak di tengah lapangan. Permainan ini sangat mengasyikkan sekaligus sangat sulit karena setiap orang harus selalu berjaga dan berlari secepat mungkin jika diperlukan untuk meraih kemenangan.

2. Congklang/Dakon


Permainan ini merupakan permianan yang dimainkan oleh 2 orang. Alat yang digunkan bisanya terbuat dari plastik atau kayu berbentuk mirip perahu dengan panjang sekitar 75 cm dan lebar 15 cm. Pada keduanya ujungnya terdapat lubang yang disebut induk. Di antara ke duanya terdapat lubang yang lebih kecil dari induknya dan berdiameter kira-kira 5 cm. Setiap deret berjumlah 7  buah lubang. Pada setiap lubang kecil tersebut di isi dengan kerang dan biji-bijian sebanyak 7 buah. Permainan ini berahkir jika biji-bijian yang terdapat di lubang kecil telah habis dikumpulkan. Pemenangnya adalah anak yang paling banyak mengumpulkan biji-bijan ke lubang induk miliknya.

Congklak ini memiliki nama yang berbeda-beda di berbagai daerah,di malaysia permainan ini lebih dikenal dengan nama congklk dan istilah ini juga dikenal di beberapa daerah di Sumatera dengan kebudayaan melayu. Di jawa, permainan ini lebih dikenal dengan nama congklak, dakon, dhakon atau dhakonan. Selain itu di lampung permainan ini lebih dikenal dengan nama dentuman lamban sedangkan di Sulawesi permainan ini lebih dikenal dengan nama mokaotan, maggaleceng, aggalacang dan nogarata. Dalam bahasa Inggris, permainan ini disebut mancala.

3. Engrang


Engrang adalah permaian tradisional indonesia yang belum diketahui secara pasti dari mana asalnya, tetapi permainan ini dapat dijumpai di berbagai daerah dengan nama yang berbeda-beda. Disebagain wilayah Sumatra Barat permaian ini  dikenal dengan nama "Tengkak-tengkak". Sedangkan orang Bengkulu menyebut nya dengan "Ingkau" yang berarti sepatu bambu. Engrang sendiri berasal dari bahasa Lampung yang berarti "Terompah pancung" yang terbuat dari bambu bulat yang panjang. Engrang terbuat dari batang bambu dengan panjang kurang lebih 2,5 meter. Sekitar 50 cm dari bawah, di buat tempat berpijak kaki yang rata dengan lebar kurang lebih 20 cm. Cara memainkannya adalah dengan berlomba berjalan menggunakan engrang tersebut dari satu sisi lapangan ke sisi lainya. Orang yang paling cepat dan tidak terjatuh dialah orangnya.

4. Gasing


Gasing adalah mainan yang bisa berputar pada poros dan berkeseimbangan pada suatu titik. Gasing merupakan mainan tertua yang ditemukan di berbagai situs arkeologi dan masih bisa dikenali. Selain merupakan mainan anak-anak dan orang dewasa, gasing juga digunakan untuk berjudi dan ramalan nasib.

Sebagian besar gasing dibuat dari kayu, walaupun sering dibuat dari plastik, atau bahan-bahan lain. Kayu diukir dan dibentuk hingga menjadi bagian badan gasing. Tali gasing umumnya dibuat dari nilon, sedangkan tali gasing tradisional dibuat dari kulit pohon. Panjang tali gasing berbeda-beda bergantung pada panjang lengan orang yang memainkan.

Gerakan gasing berdasarkan efek giroskopik. Gasing biasanya berputar terhuyung-huyung untuk beberapa saat hingga interaksi bagian kaki (paksi) dengan permukaan tanah membuatnya tegak. Setelah gasing berputar tegak untuk sementara waktu, momentum sudut dan efek giroskopik berkurang sedikit demi sedikit hingga akhirnya bagian badan terjatuh secara kasar ke permukaan tanah.

5. Bola Bekel 


Bekelan berasal dari bahasa belanda, Bikkelen. Peranti permainan ini terdiri dari sebuah bola bekel yang terbuat dari karet seukuran bola pingpong dan lima buah biji bekel berukuran logam. Pada awalnya, biji bekel dibuat dari engsel tulang tumit kaki belakang domba, tapi sekarang terbuat dari logam atau juga bisa menggunkan tutup botol minuman ataupun kerang. Permainan ini dimulai dengan dengan cara menyebar dan melemparkan bola ke atas dan menangkapnya setelah bola memantul sekali di lantai sambil mengambil dan menyusun biji atau tutup botol yang tersebar di lantai. Kalau bola tidak tertangkap atau memantul beberapa kali maka permainan di nyatakan mati dan bergantian dengan lawan main.


6. Kelereng


Dua atau tiga orang anak (biasanya laki-laki) masing-masing memegang kelereng, melemparkan kelereng ke dalam area garis yang telah disepakati besaran dan luasnya. Kelereng yang paling dekat dengan garis tegah, berhak menembak kelereng lawan lebih awal dengan menggunakan jari. Jika kena, kelereng yang terkena berhak diambil oleh penembak, demikian seterusnya.

7. Petak Umpet

Petak umpet adalah permainan rakyat tradisional umum di seluruh pelosok Indonesia dari Sabang sampai Marauke sejak dulu kala. Siapa saja boleh ikut, tetapi biasanya peserta permainan anatara lima sampai sepuluh orang. Karena bersifat mencari kawan yang tersembunyi, maka tidak terlalu banyak yang menjadi bagian dalam permainan ini. Dari seluruh pemain akan bermain hompimpa sampai habis dan tinggal dua orang saja. Seteah tinggal dua orang, maka masing-masing melakukan suit dan yang kalah menjadi si pencari kawan-kawanya yang bersembunyi. Si pencari menutup mata atau menempel pada salah satu media (tembok, tiang atau pohon)  sebagai sarana bentengnya. Dihitung satu sampai sepuluh, maka semua anggota harus berlari mencari tempat untuk persembunyiaanya, setelah hitungan ke sepuluh maka si pencari mulai mencari teman yang bersembunyi sampai menemukan semua anggota yang bersembunyi. 


8. Yoyo




Yoyo berasal dari Greece (negara Yunani), sekitar 500 sebelum Masehi. Yoyo pada awalnya terbuat dari kayu, logam, logam atau gerabah. Pada masa lalu, seorang anak ketika beranjak dewasa akan mempersembahkan mainannya sewaktu masih muda kepada dewa. Konon, yoyo kuno ini sekarang masih tersimpan di Museum Nasional Athena. Menurut Scientific American yang terbit pada tahun 1916, istilah yoyo berasal dari bahasa Filiphina yang berarti "ayo-ayo". Membutuhkan ketrampilan untuk memainkan permainan yoyo ini. Ada banyak variasi memainkan permainan ini. Ada yang cukup di lempar ke bawah dan yoyo akan kembali naik ke tangan kita lagi, lalu di lempar lagi. Bagi yang sudah mahir ada yang di lempar mendatar di permukaan tanah dan yoyo bisa kembali lagi ke tangan.




9. Lompat Karet



Permainan tali merdeka atau lompat karet tergolong sederhana karena hanya melompati anyaman karet dengan ketinggian tertentu. Jika pemain dapat melompati tali-karet tersebut, maka ia akan tetap menjadi pelompat hingga merasa lelah dan berhenti bermain. Namun, apabila gagal sewaktu melompat, pemain tersebut harus menggantikan posisi pemegang tali hingga ada pemain lain yang juga gagal dan menggantikan posisinya. Biasanya anak perempuan yang lebih banyak memainkan permainan ini.
 
10. Batok Kelapa


Pada permainan batok kelapa alat yang dipergunakan adalah dua buah batok kelapa yang dibagi dua sehingga berbentuk setengah bola. Pada bagian tengahnya dilubangi dan dipasangi tali yang menghubungkan antara satu batok dengan batok lainnya sepanjang kira kira 1,5 - 2 meter. Permainannya adalah berlomba secepat mungkin berjalan menggunakan batok kelapa tadi dari satu sisi lapangan ke sisi lapangan lainnya. Orang yang paling cepat ia lah yang menjadi pemenangnya.
 
 

No comments:

Post a Comment

Thanks sudah mampir di blog saya, jangan lupa tinggalkan komentar ya...Trims....:)