Pages - Menu

Tuesday, June 17, 2014

Sinopsis A Hundred Years Inheritance Episode 50 Part 1

Chae Won mencukur jenggot yang mulai tumbuh tipis di dagu Se Yoon. Ia tak berputus asa meski dokter mengatakan Se Yoon kemungkinan akan sulit bangun dari koma. Ia yakin Se Yoon bisa mendengarkan apa yang ia katakan. 

"Kau berjanji kalau kau tidak akan membiarkan tanganku sampai basah, tapi kau membuatku mencukur jenggotmu. Saat aku berbicara, kau melihatku dengan mata yang berbinar-binar. Jadi kumohon cepatlah bangun" .

Chae Won tersenyum mengelus dagu Se Yoon yang telah bersih, "Kau terlihat lebih tampan saat bercukur", ucapnya lalu mengecup pipi Se Yoon.  

Chae Won pergi membereskan peralatan cukur yang ia pakai. Air mata Se Yoon menetes dengan sendirinya. 


Mungkin karena kelelahan menjaga Se Yoon membuat Choon Hee jatuh sakit. Nenek masuk ke kamar membawakan ramuan herbal, "Bangun dan minumlah. Kau harus menjaga dirimu sendiri di saat-saat seperti ini", kata nenek


Choon Hee bangun menerima mangkuk ramual yang di berikan nenek. Ia menangis memikirkan anaknya sekarang ini tergantung di antara hidup dan mati. Bagaimana bisa ia mengurus dirinya sendiri dengan baik disaat seperti ini. 

Nenek memarahi Choon Hee yang bicara seperti itu, "Kau harus tetap menjaga kesehatan. Minum saja obat ini dan habiskan".   

Choon Hee mengunjungi Sol Joo di panti asuhan. Di taman yang tenang, mereka bicar dari hati ke hati. Choon Hee mengaku sangat membenci Sol Joo dan menganggapnya sebagai pencuri. Tapi karena Se Yoon sakit, akhirnya mereka bisa rukun kembali. 


"Aku berpikir. Onnie pasti sama tertekannya seperti aku. Onnie pasti terluka sama seperti aku. Karena kita berdua adalah Ibunya Se Yoon".

"Terima kasih karena kau berpikir begitu, Choon Hee-ah".

Choon Hee berpikir tidak akan pernah bisa membesar Se Yoon dengan baik seperti yang Sol Joo lakukan. Sebaliknya mungkin ia akan menyerahkan Se Yoon untuk di adopsi, "Terima kasih banyak Onnie". 

Sol Joo merasa malu. Choon Hee sungguh-sungguh berterima kasih. Ia mengenggam tangan Sol Joo, "Ayo kita kembali ke Seoul bersama-sama. Tidakkah kau merindukan Se Yoon?". 

Sol Joo menjawab ingin menjadi sukarelawan di panti asuhan ini untuk menebus dosa-dosanya. Ia merasa tak pantas berada di sisi Se Yoon. Sembari melayani orang-orang disini, Sol Joo selalu memanjatkan doa untuk kesembuhan Se Yoon, "Jadi kumohon, jagalah Se Yoon".

Pulang dari dokter kandungan, Hong Joo dan Chul Goo mampir ke cafe. Hong Joo heran melihat Chul Goo yang sejak tadi diam melamun, seperti orang yang kehilangan lidahnya, "Apa kau sangat terkejut?. Jangan terlalu serius memikirkannya". 

Hong Joo mengaku hanya merasa sedih dan iri melihat wanita lain yang pergi ke dokter kandungan dengan suami mereka. Karena itu Hong Joo mengajak Chul Goo untuk menemaninya, itu saja. Jika Chul Goo tidak suka, mulai sekarang ia bisa pergi sendir. 

Chul Goo tahu Hong Joo adalah wanita yang kuat dan benar-benar luar biasa. Hong Joo mengakui tak mudah bagai wanita untuk memutuskan melahirkan bayi tanpa seorang ayah, "Kenapa aku membuat keputusan itu?. Aku ingin membesarkan anak yang mirip denganmu".
"Hong Joo", Chul Goo terkejut mungkin juga terharu

"Aku tidak tahu apa yang kusukai dari anak mama semacam ini, tapi aku menginginkannya. Itu saja". 

Hong Joo berdiri pergi. Chul Goo melihat foto hasil USG dari bayi yang Hong Joo kandung. Chul Goo kembali terdiam dan berpikir keras. 


Entah apa yang ada di pikiran Chul Goo, tapi yang jelas saat itu ia pergi kerumah sakit tempat Se Yoon dirawat. Di depan ruang rawat, Chul Goo mendengar suara Chae Won yang panik dengan memanggil-manggil nama Se Yoon.  

Chul Goo masuk ke dalam untuk melihat apa yang terjadi. Chae Won mengguncang tubuh Se Yoon yang belum sadar. Ia berkata tadi Se Yoon baik-baik saja, tapi tiba-tiba dia menjadi aneh begini. Se Yoon kejang -kejang.

Perawat datang, ia berkata akan memanggil dokter. Sebelum pergi perawat pesan agar mereka memiringkan badan Se Yoon. Chul Goo membantu Chae Won memiringkan badan Se Yoon seperti anjuran perawat.

Chae Won dan Chul Goo menunggu di luar, sementara dokter menangani Se Yoon. Beberapa menit kemudian, dokter menemui mereka dan menjelaskan gejala seperti ini sering terjadi pada pasien yang menjalani bedah otak. Suhu tubuh dan tekanan darahnya normal.

Dokter memutuskan akan mengembalikan Se Yoon ke ruang ICU, dan akan dikembalikan keruang rawat biasa setelah menjalani beberapa perawatan. Usai menjelaskan dokter pun pergi.

Chul Goo minta Chae Won jangan terlalu cemas, dia akan baik-baik saja. Chae Won mengucapkan terima kasih atas bantuan Chul Goo. Chul Goo tanya, "Kau baik-baik saja?". Chae Won mengangguk, "Tidak masalah"

"Kau terlihat tegar", ujar Chul Goo

Pada awalnya situasi ini terlalu sulit untuk Chae Won. Lalu ia menyadari kalau menunggu itu adalah sebuah anugerah. Setidaknya ia dan Se Yoon masih menghirup udara yang sama. Chul Goo tersenyum, saat melihat Chae Won ia seperti mendapat keberanian. Chul Goo cerita sebenarnya saat ini ia sedang menunggu kelahiran seorang bayi, "Hong Joo sedang hamil". 

Chae Won memberi ucapan selamat. Tadinya Chul Goo merasa takut untuk menjadi seorang ayah, tapi apa yang baru saja di katakan Chae Won memberikannya keberanian.

Young Ja sedang berbaring di sofa ruang tengah ketika Chul Goo pulang. Ia berkata pasti putranya lelah setelah bekerja seharian. Chul Goo terdiam beberapa detik sebelum akhirnya mengucapkan, "Selamat, ibu". 

"Selamat apanya?", tanya Young Ja tak mengerti. 

"Apa ini?", tanya Young Ja lagi ketika Chul Goo menunjukan foto hasil USG, "Foto USG bayi?. Bayi siapa ini?", Young Ja mengambil foto itu untuk melihat lebih jelas.

Chul Goo menjawab tentu saja bayiku, seraya mengambil kembali foto tersebut. Young Ja bingung. Chul Goo berkata dalam beberapa bulan lagi ibunya akan mempunyai cucu. 

"Aku kau menjalin hubungan?".

"Hong Ju...Hong Ju... Dia mengandung anakku", jelas Chul Goo tenang membuat Young Ja terkejut tak menyangka. Chul Goo menepuk dadanya seakan meyakinkan, lalu kembali memandangi foto USG itu. 


Disaat yang sama, Hong Joo juga tengah tersenyum melihat foto USG. Keasyikannya itu terganggu oleh telepon dari mantan mertuanya yang cerewet, Bang Young Ja, "Apa menurutmu anakku itu orang yang gampangan?", damprat Young Ja dengan gaya khasnya. 

Hong Joo tersenyum, "Apa kabar ibu?".

"Tak usah basa basi. Kau mendapatkan tunjangan yang besar tanpa sepengetahuanku, dan sekarang kau menjerat anakku dengan seorang bayi?. Bagaimana aku tahu kalau Chul Goo adalah anak dari bayimu?. Siapa yang tahu kalau kau selingkuh dan kemudian hamil?". 

"Ibu belum berubah", komentar Hong Joo.

Young Ja makin kesal, jangan panggil aku ibu. Singkat saja ia ingin Hong Joo mengembalikan kompensasi yang Hong Joo terima, "Kau mendapatkan uang dalam jumlah besar setelah menikah selama beberapa bulan!. Apa kau semahal itu?. Keadaanku sekarang ini sedang buruk dan aku sangat membutuhkan uang. Kita bertemu besok dan bicara". 

Hong Joo tidak mau, "Maafkan aku, tapi menemuimu mungkin bisa menyebabkan efek buruk pada bayiku". Wkwkw..bener banget...

Young Ja ngomel-ngomel karena Hong Joo memutus sambungan telepon secara sepihak. Ia menilai Hong Joo masih saja bersikap kasar seperti biasanya. Young Ja lalu membolak balik foto USG. Ia bingung bagaimana cara membacanya. Lalu melempar foto itu dengan kesal. 
Chae Won tetap setia menunggui Se Yoon yang kini dirawat di ICU. Matanya berkaca-kaca melihat pria yang ia cintai tak kunjung bangun dari komanya. 

Keesokan harinya, Young Ja syok membaca koran pagi. Tae San Group mengambil alih Golden Dragon Foods, dan Ma Hong Joo ditunjuk sebagai CEO baru. Young Ja bertanya pada Chul Goo yang juga terkejut membaca berita itu, "Saat kau bertemu dengan Hong Joo, apa dia mengatakan kalau dia menikah lagi?". 

"Tidak.. Dia tidak mengatakannya?". 

"Aigo...", Young Ja tertawa girang, "Kau harus kembali pada Hong Joo lagi". (Dasar mantre, pasti dia berubah pikiran karena Hong Joo kini ditunjuk sebagai CEO). 

Chul Goo protes, "Apa ini?. Ibu sangat marah kemarin malam!". 

Young Ja berkata Chul Goo harus mempunyai rasa tanggung jawab, ditambah lagi sekarang Hong Joo sedang hamil, "Itu adalah tugas kita untuk merawat anakmu". Young Ja tertawa-tawa girang, Chul Goo melihat ibunya dengan heran. 

Choon Hee cemas saat tahu Se Yoon di pindahkan keruang ICU, mengira kondisi putranya semakin memburuk. Chae Won menjawab Se Yoon mengalami kejang-kejang dan menjelaskan seperti perkataan dokter. Ia minta Choon Hee jangan terlalu khawatir, Se Yoon akan segera di pindahkan ke kamarnya. Hyo Dong berharap Se Yoon mengalami kemajuan. 


Paman dan bibi menerima banyak kiriman tepung. Chae Won pulang menyapa mereka. Do Hee menanyakan kemajuan perkembangan Se Yoon, apa masih sama seperti sebelumnya. Chae Won mengiyakan dengan wajah sedih. 
Usai memindahkan semua tepung tepung itu ke pabrik. Ki Moon tanya sudahkah Ki Choon mendaftarkan kembali pernikahannya dengan Kang Sook. Ki Choon menjawab belum. Do Hee menyuruh Ki Moon cepat melakukannya, jika terlambat bukan hanya cinta pertama Kang Sook saja yang muncul, tapi juga cinta keduanya. 

"Kakak ipar", tegur Kang Sook tidak terima

Do Hee tertawa, "Aku tidak mengatakan sesuatu yang salah".

Ki Moon merengek seperti anak kecil, "Ayo kita daftarkan pernikahan kita hari ini".

Kang Sook tidak mau melakukannya sebelum Ki Choon melamarnya dengan romantis. Chae Won datang memberikan amplop berisi pembagian keutungan dari penjualan mie. Do Hee terkejut tak menyangka akan menerima uang sebanyak ini. Begitu pula dengan Kang Sook, jumlah yang ia terima juga tidak sedikit. 

Ki Moon merampas amlop yang dipegang Kang Sook, "Hey. Kita harus bagi dua. Hahahaha", tawanya nyaring.

Tiba-tiba Ki Moon merindukan kakek, "Betapa bahagianya Ayah jika dia masih hidup". 

Ki Moon dan Do Hee pergi ke Mall. Do Hee menyukai tas kulit buaya berwarna ungu. Ia mengingatkan janji Ki Moon untuk membelikan semua barang yang ia inginkan. Ki Moon mengerti.

"Jangan khawatir. Kau sudah bekerja keras demi usaha keluarga mertuamu. Aku sangat bersyukur sehingga ingin membelikanmu seluruh isi toko. Pilih semua yang kau inginkan". 

"Itu baru suamiku", puji Do Hee senang. 

Tapi saat melihat harga tas yang bernilai 9.900.000 won (99 juta rupiah), semangat Do Hee untuk membeli tas itu langsung sirna. Dengan perlahan-lahan ia meletakan kembali tas itu dan menarik Ki Moon keluar dari tempat itu. 

Ki Moon bingung, "Kenapa kau tidak membelinya. Tidak ada yang kau sukai?". 

Do Hee : Berapa kotak mie yang harus kita jual demi untuk membeli tas itu?. Aku tidak berani untuk membelinya.

Ki Moon : Kau dulu biasa membeli tas yang jauh lebih mahal.
Do Hee tersenyum, "Itu adalah masa lalu. Tapi sekarang sebagai seorang pembuat mie, aku tidak bisa melakukannya".
 
Hm...tampaknya bekerja di pabrik membawa dampak yang baik pada Do Hee. Dia yang dulunya sangat menyukai barang mewah dan bermerek, kini lebih menghargai uang dan selektif dalam membeli barang. 
Moon berpenampilan rapih, ditangannya ia memegang cincin berlian yang nantinya akan ia gunakan untuk melamar Kang Sook. Ki Choon akan tunjukan pada Kang Sook apa itu sikap romantis. 

Ki Moon membuat banduk cincin lalu menggatungkannya di antara mie-mie yang ada di pabrik. Ki Moon tertawa lebar dengan idenya yang ia nilai hebat lalu keluar pabrik untuk memanggil Kang Sook.

Ki Moon pergi. Kang Jin dan Ki Ok datang. Kang Jin melihat benda yang berkilauan tergantung di antara mie. Setelah tahu kalau benda itu adalah cincin, Kang Jin segera melepasnya. Ki Ok heran, kenapa cincin berlian bisa tergantung disini. 

Terdengar suara Ki Choon dan Kang Sook yang mendekati pabrik. Ki Ok dan Kang Jin tersenyum usil waktu mendengar Ki Choon bilang pada Kang Sook telah menyiapakan kejutan. 

Begitu masuk pabrik, Ki Choon tidak melihat lagi cincinnya tergantung di antara mie. Ia mendelik kesal melihat tangan Kang Jin yang menggenggam sesuatu, "Apa itu yang ada di genggamanmu?". 

"Tidak ada", jawab Kang Jin melihatkan tangan kirinya.

"Yang satunya lagi", perintah Ki Choon.

Kang Jin meggeleng, enggan menunjukan tangan kanan. Ki Choon kesal, "Kau musang licik. Beraninya kau menyentuh barangku. Cepat kembalikan itu padaku". Tidak gratis, jawab Kang Jin. Ki Choon memaksa ingin merebut cincin dari tangan Kang Jin. 

Dasar Kang Jin, bukannya memberikan malah memasukan cincin itu ke mulutnya. Hidih...Ki Choon menghardik, "Muntahkan!". 

Kang Sook penasaran benda apa yang Kang Jin ambil. Ki Choon bilang Kang Jin mengambil cincin yang ia beli untuk melamar Kang Sook. 

"Apa. Kau benar-benar menjengkelkan?", hardik Kang Sook melotot marah pada Kang Jin. 

Ki Ok malah tersenyum geli, "Berhenti menggoda dan kembalikann pada mereka".

Ki Choon berusaha membuka mulut Kang Jin. Tapi si Kang Jin yang menyebalkan ini malah menelan cincin itu. Kang Sook, Ki Choon dan Ki Ok terbelakak terkejut. Secara bersamaan mereka teriak, "Kenapa kau menelannya?!".


Perawat memberitahu Se Yoon sudah sadarkan diri. Chae Won dan Choon Hee langsung masuk ke ruang ICU.

"Se Yoon kau baik-baik saja?", tanya Choon Hee

"Kau mengenali kami?", tanya Chae Won.

"Ibu...Chae Won...", panggil Se Yoon lemah. 

Choon Hee menangis terharu, "Ya, Se Yoon. Aku ibumu. Terima kasih. Terima kasih karena sudah bangun". Chae Won juga menangis, sekaligus senang melihat Se Yoon bangun. 

Sol Joo menerima kabar dari Chae Won tentang Se Yoon yang sudah sadar dari koma. Sol Joo sangat bersyukur hingga menangis sesengukan mendengar kabar baik tersebut. 

Keluarga Mie turut bahagia  mendengar kabar Se Yoon. Sekarang Chae Won dan Choon Hee bisa tidur tenang tanpa merasa khawatir.

Chul Goo dan Hong Joo dalam perjalanan menuju rumah. Chul Goo mendesis kesal saat Hong Joo tanya, "Jadi sekarang keluargamu sangat miskin?". Sepertinya Chul Goo telah menyampaikan niatnya untuk rujuk dengan Hong Joo. Tapi Hong Joo merasa keberatan saat harus tinggal bersama Young Ja, "Apakah kita harus tinggal bersama ibumu. Bisakah kita pindah?".

Karena Chul Goo tak menjawab, Hong Joo tahu apa yang ada di pikiran Chul Goo, "Dasar anak mama", ucapnya kesal. 


Chul Goo menjamin ibunya sudah berubah dia tidak seperti yang dulu lagi. Ibunya benar-benar bertekad menjadi ibu mertua terbaik se – Korea (dulu juga janjinya begitu,,, >,<). Chul Goo minta Hong Joo member satu kesempatan lagi.



“Nafsunya saja yang selalu mengebu-gebu”, kata Hong Joo tak percaya.



Bertidak sebagai menantu yang baik, Hong Joo berniat bersujud member salam. Tapi susah ia lakukan karena terganjal perutnya yang membesar. Young Ja member isyarat agar Hong Joo tidak usah bersujud lalu mempersilahkannya duduk, “Aigo..Kau tak perlu memberi  hormat dalam kondisimu yang seperti itu. Santai saja di antara kita”, katanya berbasa basi.

Hong Joo tertawa geli, “Apa ibu sehat?”. Lalu berkata lupa seharusnya ia tak memanggil Young Ja dengan  sebutan ibu lagi.

Young Ja memuji Hong Joo terlihat jauh lebih baik dari sebelumnya. Hong Joo tak sependapat, ia merasa terbebani semenjak mengambil alih perusahaan. Hanya sedikit sindirian sudah cukup membuat Chul Goo dan Young Ja jadi salah tingkah. (Hong Joo bisa membaca pikirkan Young Ja yang berubah pikiran karena ada menyangkut perusahaan).

“Ngomong-ngomong, kenapa kau bisa menjadi CEO”, tanya Joo Ri ingin tahu.

Hong Joo tersenyum, itu karena Chul Goo memberinya saham dalam jumlah besar jadi ia bisa menjadi pemegang saham utama.  Wajah Young Ja berubah jelek (wkwk..). Young Ja berpikir dulunya ia mengira Hong Joo adalah orang buangan di dalam keluarga Ma. Tapi kenyataanya pemikiran itu salah.

“Aku mempunyai hubungan yang baik dengan kakakku. Kami mempunyai ibu yang sama”, jawab Hong Joo..

“Oh…”, seru Young Ja dengan mulut terbuka lebar.

Perlahan-lahan Young Ja mendekati Hong Joo, lalu duduk disampingnya. Tangannya mengelus perut Hong Joo. Hong Joo merinding ngeri menerima sentuhan tangan Young Ja. Si Young Ja yang suka berakting ini mulai bersandiwara, “Kau tahu…semenjak kau pergi dengan cara seperti itu, hatiku terasa sangat sakit sekali. Betapa sakitnya itu pasti”.

“Itu semua adalah masa lalu”, sahut Hong Joo.

Young Ja : Benar-benar. Yang berlalu biarlah berlalu. Kita memulai sesuatu yang baru. Aku akan menganggapmu sebagai putriku sendiri bukan sebagai menantu.

“Terima kasih”, ujar Hong Joo, “Tapi, aku tak perlu tinggal disini bersamamu, kan?”.

Mendengar pertanyaan itu, membuat Young Ja langsung kembali ke tempat duduknya semula. Chul Goo menggaruk tenguknya yang tidak gatal. Dengan suara lemah dan wajah memelas, Young Ja mengatakan seperti kabar yang sudah Hong Joo dengar, ia di tipu oleh penipu licik dan menjadi jatuh miskin. Meski ini tidak nyaman, Young Ja meminta Hong Joo untuk mengerti situasi dirinya  saat ini.

“Kalau begitu kalian boleh pindah ke rumahku”, tawar Hong Joo berbaik hati.

Young Ja : Dimana rumahmu”

Hong Joo : Rumah ibu yang lama.

“Jadi kau yang membeli rumah lamaku?”, tanya Young Ja meyakinkan. Hong Joo mengiyakan dengan anggukan.

Kebaikan hati Hong Joo tak sampai disitu, ia juga menawari Joo Ri bekerja di perusahaan, dan akan memberikan Joo Ri jabatan. Joo Ri tentu saja senang. Dan Hong Joo akan menunjuk Chul Goo sebagai sekertarisnya. Wkwkwk…

“Kenapa kau tidak menjawab?. Kau tidak mau?”, tanya Hong Joo menanggapi Chul Goo yang diam tak berkomentar. 

"Apa maksudmu?....Tentu saja dia mau. Dia hanya malu saja", sambar Young Ja takut Hong Joo marah. 

Young Ja duduk setengah berlutut, mengacungkan jempol dan memuja muja Hong Joo sebagai berkah yang telah menjadi penyelamat keluarganya, "Kau menantu yang terbaik dari semua menantu karena menghidupkan kembali keluarga mertuamu".

Se Yoon dirubung orang-orang yang menyayanginya, Chae Won, Sol Joo, Hyo Dong, Choon Hee dan presdir Lee. Sol Joo berkata selama ini Chae Won sudah bekerja keras, setiap harinya dia mencukur dan menggosok gigi Se Yoon. Choon Hee membenarkan, ia ikut tersentuh melihat perhatian Chae Won pada putranya.

Chae Won berkata ia hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan. Presdir Lee mengusulkan, bagaimana jika mereka mulai mempersiapkan pernikahan Chae Won dan Se Yoon.

Presdir Lee ke Hyo Dong, "Bagaimana menurutmu tuan, Min?.

"Kau merestui pernikahan mereka?", tanya Hyo Dong

Presdir Lee mengakui bahwa ini kesalahannya sehingga Chae Won - Se Yoon harus melalui banyak kesulitan, "Maafkan aku Chae Won. Maafkan aku Choon Hee". Chae Won dan Choon Hee mengangguk menerima permintaan maaf presdir Lee.

Sol Joo tersenyum, mengucapkan terima kasih pada suaminya. Lalu memberi ucapan selamat pada Se Yoon yang masih terlihat lemas. Chae Won tersenyum bahagia, "Ini saatnya Se Yoon minum obat".

Chae Won memberikan segelas air putih pada Se Yoon. Tapi tangan Se Yoon terlalu lemas untuk bisa memegang benda. Semua terkejut ketika gelas itu meluncur jatuh ke lantai. Tepat saat itulah dokter masuk, menanyakan bagaimana perasaan Se Yoon.

Se Yoon : Baik, tapi dokter aku merasa tidak mempunyai kekuatan di tangan maupun di kakiku. Apa aku akan terus seperti ini dalam waktu yang lama?.

Dokter mengatakan tidak ada kerusakan syaraf baik di tangan ataupun di kaki. Tetapi, Se Yoon bisa mengalami kecacatan yang disebabkan oleh kerusakan otak.

"Apa maksudnya itu aku tidak bisa berjalan?".

Dokter belum bisa mengatakan secara pasti. Ia menyarankan Se Yoon untuk bersabar dan lakukan yang terbaik dalam proses pemulihan. Se Yoon tertunduk sedih. Chae Won yang berdiri di sampingnya bisa merasakan kesedihan dari pria yang dicintainya itu. Apakah Se Yoon akan lumpuh selamanya?.


Lanjut ke Sinopsis A Hundred Years Inheritance Episode 50 Part 2 (Final).


3 comments:

  1. Asiiiiik nuriii akhirnya muncul jugaa, kirain udah gak dilanjutin lg :)
    Tangkyuuuuuu nurii, ditunggu part 2nya yaa

    ReplyDelete
  2. Alhamdulillah...
    Akhirnyaa..nongol jg.. ;)

    gomawo Nurii..tnggl part terakhir..^_^
    Ttep semangaaaat..n sehat sllu yaa

    #vie

    ReplyDelete

Thanks sudah mampir di blog saya, jangan lupa tinggalkan komentar ya...Trims....:)