Pages - Menu

Monday, June 16, 2014

Sinopsis Big Man Episode 9 Part 2

"Tolong kue berasnya satu", ucap pembeli

Dal Sook yang tadinya tertidur secara serentak bangun. Ternyata pembelinya adalah Ji Hyuk. 

"Ibu selamat atsa pembukaan toko barunya", Ji Hyuk menyodorkan satu bal tisu sebagai hadiah. 

Dal Sook menerimanya dengan senang hati, kebetulan sekali tisunya hampir habis. Ji Hyuk berkata ia selalu apapun yang Dal Sook perlukan. Ji Hyuk berkelakar bilang kalau Dal Sook selalu hadir setiap malam dalam tidurnya dan bilang

"Ji Hyuk aku butuh tisu. Tapi sebenarnya yang aku butuhkan adalah seorang pria. Umurnya sekitar 50 tahun, wajahnya harus mirip dengan Shin Sung Il, dan perutnya harus six pack. Jadi aku bilang ibu sadarlah". 

"Astaga kau membuatku tertawa. Hei, pria mana yang mau denganku yang sudah tua ini?. Jangan bicara banyak dan cobalah ini. Sudah lama sekali aku tidak membuatnya. Aku tidak tahu apakah rasanya masih enak".

Sebelum Ji Hyuk memakan kue beras yang di tawarkan Dal Sook. Ia berkata masakan ibunya selalu enak. Tapi setelah memakannya, Ji Hyuk berkomentar rasanya terlalu asin. Ia menyarankan kenapa Dal Sook tidak menjual makanan seperti sebelumnya. 

Ji Hyuk meminta maaf. Saat uang jaminannya keluar ia janji akan memberikan uang itu pada Dal Sook, dengan begitu ibunya bisa membuka rumah makan yang baru. Dal Sook berkata tidak apa-apa, ia menyukai tempat ini. Dal Sook sudah bosan melayani para pembuk setiap malam (sebelumnya). Disini tempatnya bagus dan tenang, jadi apa yang harus dikhawtirkan. 

Ji Hyuk sedih, "Kenapa ibu melakukannya?. Demi orang sepertiku yang bahkan tidak ada hubungan darah dengan ibu".

Dal Sook berkata Ji Hyuk adalah putranya. Saat anaknya mendapat masalah, sudah sewajarnya seorang ibu bersikap seperti layaknya seorang ibu. Dan Dal Sook menyukai tindakannya yang menjaga Ji Hyuk seperti seorang anak sendiri. Kalau begitu, Ji Hyuk berkata akan membuat masalah yang sangat banyak, "Boleh?".

"Baiklah. Lakukan sesuka hatimu. Tapi ingat satu hal, jangan masuk penjara karena aku tidak bisa berbuat apa-apa jika kau masuk kesana". 

"Jangan khawatir selama aku menjalani kehidupanku dengan tenang, semuanya akan baik-baik saja". 

Hari ini Ji Hyuk akan membantu Dal Sook berjualan. Dal Sook menyuruh Ji Hyuk pulang saja. Ji Hyuk tidak mau, seseorang sepertinya bisa menarik banyak pembeli, "Dengan berdiri di sini saja banyak orang akan bilang ada pria tampan yang berjualan di toko itu".

Dal Sook berpendapat sebaliknya, "Kalau kau tetap di sini. semua orang akan takut kesini. Pergi saja. Kau takkan membantu sama sekali". 

Ji Hyuk mengajak Dal Sook membuat kue beras lagi, tapi yang ia lakukan malah mengaduk-aduk kue beras yang sudah matang dengan seenaknya. Dal Sook mengomel dan mengusir Ji Hyuk berkali-kali. Tapi Ji Hyuk tak bergeming dari tempatnya. Niatnya mau membantu eh tapi malah mengacau...hehehe...


Mi Ra terkejut hampir tak percaya ketika melihat Ji Hyuk berjalan pulang di sekitar komplek perumahan mereka. Jin Ah yang baru datang menghampiri Ji Hyuk dan memeluknya. Ji Hyuk heran, "Jin Ah, kau kenapa?". 

Jin Ah menangis, "Kenapa kau tidak pergi?. Kenapa kau tidak mendengarkanku?". 

Ji Hyuk mencoba melepaskan pelukan, tapi Jin Ah memeluknya dengan erat. Mata Mi Ra berkaca-kaca, ia menarik dirinya bersembunyi di balik pohon. 

Ji Hyuk mendorong Jin Ah menjauh. Ia berkata dirinya dan keluarga Jin Ah tidak akan pernah bisa berbaikan. Jin Ah menyahut masalah itu tidak ada hubungan dengannya, "Apa yang akan kau lakukan?. Apa yang akan kau lakukan dengan hidupku sekarang?", Jin Ah memukuli lengan Ji Hyuk. 

"Apa yang sudah aku lakukan padamu?", tanya Ji Hyuk tak mengerti.

Jin Ah meminta pertanggung jawaban, karena semua Ji Hyuk yang memulainya. Dasar gila, guman Ji Hyuk. Jin Ah membenarkan, ia memang gila, "Aku gila karena kesalahanmu". 

"Cukup. Pulanglah", Ji Hyuk melangkah pergi. 

Jin Ah berkata karena Ji Hyuk, ia sudah diusir dari rumah. Seakan tak peduli, Ji Hyuk tetap melangkah pergi sembari menyuruh Jin Ah pulang. Tapi ia berhenti saat Jin Ah teriak, "Aku lapar". Ji Hyuk bertanya apa yang Jin Ah lakukan sampai belum makan. Ia membiarkan Jin Ah yang berlari menyusulnya masuk ke rumah. Mi Ra melihatnya dengan sedih.



Setelah makan banyak, Jin Ah tertidur pulas. Dae Suk membereskan meja makan, sambil mengomel karena Jin Ah makan banyak sekali. Apa dia tidak makan selama beberapa hari. Tapi ia lebih heran karena Ji Hyuk membawa Jin Ah kemari. Wanta itu adalah putri dari musuh Ji Hyuk, "Kau masih mengira kalau dia itu adikmu?". 

Tidak, jawab Ji Hyuk. Dae Suk ingin tahu lalu kenapa Ji Hyuk membawa Jin Ah, "Apa perlu kita menculiknya dan memeras mereka?".  Wajah Ji Hyuk murung, ia meminta Dae Suk untuk segera menjual rumah. Dae Suk bertanya kenapa. Ji Hyuk tidak bisa tinggal di rumah ini lagi sementara ibunya (Dal Sook) menjual makanan di pinggir jalan. 

 Ji Hyuk masuk ke kamar tempat Jin Ah tidur. Ia menyeka lembut wajah dan tangan Jin Ah. Ji Hyuk berhenti lalu menghela napas dalam dan pergi. Jin Ah yang bisa merasakan perhatian Ji Hyuk, membuka matanya dan tersenyum. Lalu kembali tidur. 

Hae Ra sangat senang melihat tas pemberian Dong Suk. Ia menasehati kakaknya jangan sampai kehilangan pria itu. Jangan berubah pikiran walau ada pria lain yang mendekati. Mi Ra melamun tidak mendengarkan ocehan adiknya itu. Pikirannya melayang entah kemana. 

Dae Suk memberitahu tadi sore Mi Ra mampir kerumah. Dae Suk yakin Mi Ra datang pasti untuk mematai-matai apakah Ji Hyuk masih hidup atau sudah mati, " Dia menanyakan soal dirimu, jadi aku mengatakan semuanya. Kalau mereka berusaha membunuhmu lagi". 



Bagi Ji Hyuk tak ada gunanya memberitahu Mi Ra soal itu. Dae Suk tanya apa Ji Hyuk masih menyukai Mi Ra. Ji Hyuk menjawab tidak ada waktu memikiran hal itu untuk sekarang. 

Malam itu Mi Ra tidak bisa tidur. Ia duduk di ruang tamu yang telah gelap, menatap ke seberang jalan tempat rumah Ji Hyuk berada.

Sementara Ji Hyuk, berdiri mematung di depan jendela dengan pandangan kosong menatap keluar. 

Dalam perjalanan menuju kantor presdir Cho, Ji Hyuk dan ketua tim melihat ambulance yang membawa seorang pria yang terjatuh dari ketinggian. Kejadian ini membuat ketua tim ngeri, ia minta pada Ji Hyuk melupakan apa yang pernah ia katakan. Anggap saja ia tak pernah menyarankan Ji Hyuk untuk bertemu presdir Cho. 

Ji Hyuk menarik tangan ketua tim Goo, "Kenapa mendadak?". Ketua tim minta maaf, "Kita seharusnya tidak menemui Presdir Cho Wha Soo. Soal kecelakaan ini mungkin bukan kecelakaan. Aku yakin bukan kecelakaan".

Ji Hyuk tak mengerti apa hubungannya kantor Presdir Cho Wha Soo apa dengan kecelakaan ini?. Ketua tim takut mungkin saja Ji Hyuk bisa mati secara sia-sia, "Sudah kubilang dia itu penjahat, 'kan?. Aku tidak bercanda. Dia itu pria yang kejam. Dia tidak butuh hukum. Dia punya hukumnya sendiri. Itu artinya kalau ada yang melukainya seperti yang baru saja anda lihat. Ayolah kita pergi saja".

"Kita sudah sampai sejauh ini. Kita lakukan saja", Dengan susah payah Ji Hyuk berhasil menarik ketua tim yang berusaha pergi dari tempat itu. 



Presdir Cho tetap asyik melahap makan siangnya meski saat itu ada Ji Hyuk dan ketua tim datang. Selesai makan, salah satu anak buahnya segera sigap membereskan mangkuk kotor. Presdir Cho menginginkan seorang pemimpin, bukan baji****seperti Ji Hyuk.

Presdir Cho yang mengira Ji Hyuk anak presdir Kang menuduh Ji Hyuk ingin menipu kedua orang tuanya dan datang kemari. Ketua tim yang memang takut buru-buru minta maaf dan ingin pergi dari tempat itu. 

Lagi-lagi Ji Hyuk menahan ketua tim yang ingin pergi. Dengan lantang, ia membenarkan presdir Cho kalau dirinya adalah baji**** yang sudah menjalani kehidupan di tempat yang kotor.

Baji**** seperti dirinya ini hampir menelan Hyunsung Distribution, tapi sayang ia tidak bisa. Jadi ia berusaha untuk menelan kembali perusahaan itu. Tapi perusahaan itu terlalu besar untuk ia telah sendiri. Kalau mau, Ji Hyuk ingin membaginya dengan presdir Cho. 

Membawa nama Hyunsung rupanya cukup ampun menarik perhatian presdir. Perkataan Ji Hyuk barusan semakin meyakinkan presdir Cho kalau Ji Hyuk benar-benar seorang baji****. Karena mereka berdua sama-sama baji****, presdir Cho akan bicara terus terang. 

"Saat aku memilih anak buahku aku tidak meminta nomor jaminan sosial mereka maupun semacamnya. Tapi, sebagai jaminannya aku minta tubuh mereka". 

Ji Hyuk menelan ludah ngeri. Presdir Cho menambahkan jika anak buahnya membahayakan perusahaan, maka ia akan meminta jaminan itu (tubuh mereka). Ia menyuruh Ji Hyuk memikirkan baik-baik persyaratan itu. Jika Ji Hyuk masih berniat untuk bergabung kembalilah lagi kesini.

Presdir Cho berdiri. Ia meminta anak buahnya, Yong Man untuk menelpon restoran cina tadi dan marahi mereka. Wajah Ji Hyuk tegang. Ketua tim berbisik, "Aku benar, 'kan?. Kita pergi saja. Kita pergi sekarang".


Presdir Kang diskusi dengan Dong Suok, sepertinya kita harus menjual Hyunsung Distribution, karena telah ditipu oleh ahli penipu (siapa?). Kemungkinan besar kita juga tidak bisa memperbaikinya. Masalahnya ada gosip kalau Hyunsung Energy juga akan bangkrut. Dengan menjual Hyunsung Distribution akan melindungi Hyunsung Energy, "Kau mengerti maksud ayah, kan?".

Dong Suk mengerti. Presdir Kang tak tahu siapa orang yang bersedia mau Hyunsung Distribution. Dong Suk berkata akan mencarinya, ia sedang mempertimbangkan Dae Sam. Presdir Kang tidak yakin presdir Moon mau membelinya setelah Jin Ah membuat keributan semalam. Dong Suk akan mencari cara agar perusahaan mereka terjual dengan harga yang sesuai, "Serahkan saja semuanya padaku". 

"Lakukan dengan benar. Kondisi perusahaan kita tergantung pada hal ini", ujar presdir Kang. 

"Baik", sahut Dong Suk.

Kemudian Presdir Kang memberi tugas Dong Suk untuk mencari Jin Ah. Tampaknya gadis itu benar-benar serius atas ucapannya. Presdir Kang tak ingin Jin Ah ikut terlibat dalam masalah yang besar.  

Dong Suk menelpon seseorang dan mengatur pertemuannya dengan orang tersebut. 

Mi Ra mengajak Jin Ah pulang. Jin Ah tidak mau, ia bisa matai karena di pukuli jika pulang kerumah. Lagipula ia tak punya tempat tujuan lain. Jin Ah memutuskan mulai sekarang akan tinggal di sana, "Ada apa?. Apa kau takut kalau aku tinggal di rumah Kim Ji Hyuk?".

"Jik nona tinggal disana, Kim Ji Hyuk mungkin akan dalam bahaya", jawab Mi Ra. 


Jin Ah tanya kenapa. Mi Ra menjawab karena semua orang mengira Ji Hyuk pergi ke Amerika. Jika ada yang tahu Ji Hyuk masih di Korea, maka mereka tidak akan tinggal diam. Jin Ah minta Mi Ra jangan khawatir. Ia yakin bisa melindungi Ji Hyuk. Jin Ah yakin ayahnya tidak akan bisa berbuat apa-apa selama ia bersama Ji Hyuk. Jin Ah bertekad akan terus menempel pada pria itu seperti permen karet. 

Kalau begitu, Mi Ra meminta Jin Ah dan Ji Hyuk pergi sejauh mungkin, "Entah Amerika ataudimanapun itu yang tak seorang pun bisa menemukan kalian. Aku akan membantu anda". 

"Kau hebat", ucap Jin Ah entah berupa pujian atau sindiran. Jin Ah menilai cara Mi Ra melindungi Kim Ji Hyuk seperti ukuran langit dan laut. Kenapa?. Apa sebenarnya ini semua karena cinta?, "Aku akan melindunginya, jadi kau urus saja kakakku. Kim Ji Hyuk milikku. Kang Dong Suk milikmu. Paham?". 

Jin Ah sedang makan mie ramen ketika terdengar bunyi bel. Bergegas ia berdiri untuk membuka pintu. Jin Ah terkejut ketika wanita yang berdiri di hadapannya mengaku pemilik baru dari rumah yang sedang di tinggali Jin Ah saat ini. 



Direktur Do keluar masuk apartemen mencari keberadaan Jin Ah. Dari sekian banyak apartemen yang ia datangi, tak satupun dari pemilik apartemen yang pernah melihat sosok Jin Ah.


Firasat Direktur Do menuntunnya pergi ke rumah Ji Hyuk dan firasat itu benar, disanala ia bertemu dengan Jin Ah. Ia memijat kepalanya saat tahu Jin Ah lah yang menemui Ji Hyuk lebih dulu. Direktur Do bertanya dimana Ji Hyuk. Jin Ah mengangkat bahu, "Entahlah". Ia juga menolak ajakan Dir. Do yang mengajaknya pulang, karena ia menyukai tempat ini.

"Nona..dari semua pria", ucapan dir. Do terpotong lalu berkata bahwa Ji Hyuk pria yang paling berbahaya, "Anda tidak pernah tahu apa yang bisa dia perbuat pada anda".

"Aku mempercayainya", ujar Jin Ah yakin.

Direktur Do tahu kenapa Jin Ah merasa tertarik pada Ji Hyuk. Tapi perasaan itu hanyalah ilusi, "Hanya karena anda penasaran, anda tertarik padanya. Dia berasal dari kalangan yang berbeda dan tinggal di dunia yang berbeda. Kalian tidak bisa bersama dan tidak cocok". 

Jin Ah berkata direktur Do tahu ia sangat berharap kalau Ji Hyuk bukan kakak kandungnya. Saat Jin Ah mengetahui Ji Hyuk bukan kakak kandungnya, ia merasa senang sekali seperti duna ini menjadi miliknya. Itu bukanlah emosi sesaat. Demi Ji Hyuk, Jin Ah rela rela menyerahkan semuanya. Semua yang ia punya, semuanya. 

Direkur Do tak bisa berkata apa-apa lagi pamit pergi. Ia hanya mematuhi perintah presdir Kang, bahkan ke neraka sekalipun ia bersedia melakukannya jika itu perintah. Direktur Do beranjak pergi. Langkahnya terhenti ketika Jin Ah berkata, "Menyuruh orang lain memakai nama Kim Ji Hyuk itu ulahmu, 'kan?. Jangan sentuh dia. Aku akan membunuhmu".

Tampaknya Ji Hyuk sudah membulatkan tekadnya dengan datang kembali ke kantor presdir Cho. Karena Ji Hyuk kembali, maka presdir Cho menganggap Ji Hyuk telah memikirannya secara baik-baik. Mulai hari ini, ia menerima Ji Hyuk bekerja. Ji Hyuk membungkuk mengucapkan terima kasih.

Presdir Cho memberikan tugas pertama. Ia menyuruh Ji Hyuk mengirimkan koper yang di sodorkan Yong Man. Isinya berisi barang agak berbahaya. Ji Hyuk bersedia melaksanakan perintah presdir Cho walau harus ke neraka sekalipun. 
"Pergilah ke alamat yang dituliskan di kertas ini dan temui orang yang bernama Presdir Ahn. Serahkan koper ini padanya. Isinya sangat berharga. Lebih berharga dibandingkan nyawamu".

Presdir Cho bertanya apa Ji Hyuk tahu kenapa ia mengijinkan Ji Hyuk mengirimkan barang berharga semacam ini?. Jawabannya karena Ji Hyuk baj*****. Seorang ba***** tahu kalau dia kabur, maka dia tahu konsekuensi apa yang akan ditanggung. Ji Hyuk mengerti dan akan terus mengingatnya. 

Setelah menemui Jin Ah, akhirnya direktur Do tahu kalau Ji Hyuk belum meninggal. Ia menelpon seseorang (Dong Shik?) untuk segera mencari Ji Hyuk, "Cari dan bunuh dia. Kalau kali ini kau gagal aku sendiri yang akan membunuhmu".

Ji Hyuk sampai di alamat yang diberikan presdir Cho. Sesampainya disana ada seorang pria yang bertanya di mana letak kantor pos. Ji Hyuk minta maaf, aku juga tidak tahu karena orang baru di lingkungan ini. 

Tiba-tiba pria itu membekuk Ji Hyuk dan memborgol tangannya, "Presdir Cho yang sudah mengirimmu, 'kan?. Karena aku belum pernah bertemu denganmu sebelumnya aku ragu, tapi astaga, ternyata aku benar". 

(Siapa pria ini?. Polisi?).  

Pria ini membawa Ji Hyuk pergi dengan mobilnya. Ji Hyuk mengira akan di bawa ke kantor polisi, tapi ternyata tidak. Kantor polisi mereka lewati begitu saja, Ji Hyuk tanya, "Mau kemana kita?. Kantor polisi ada disana". 

Pria ini tersenyum, "Ada cara lain kalau berurusan dengan orang sepertimu". 

"Kau mau menjual perusahaan pada Presdir Cho?", tanya presdir Kang pada putranya. Dong Suk mengiyakan. 

Presdir Kang menilai dengan kekayaan yang dimilik presdir Cho masih mungkin bagi presdir Cho yang selalu ingin membeli perusahaan kontruksi, tapi jangan remehkan dia. Presdir Cho orang yang sangat kaya. 

"Jangan khawatir. Aku akan meyakinkan dia, bagaimanapun caranya", kata Dong Suk yakin. 

"Bank mulai agak menggangguku. Jika kita gagal lagi kita akan mendapatkan pukulan yang keras. Bagaimanapun caranya, kau harus tunduk padanya, paham?". 

Mi Ra ingin tahu kemana Dong Suk akan mengajaknya pergi. Dong Suk menjawab kita akan melakukan transaksi yang besar. Orang yang akan mereka temui kali ini adalah orang yang sangat berguna. Mi Ra tak yakin akan banyak membantu jika ikut. Dong Suk minta Mi Ra jangan memikirkan hal itu, ia hanya ingin Mi Ra tetap bersamanya. 

Ji Hyuk di bawa ke tangan kosong. Ia bertanya kenapa pria itu membawanya kesini, "Kau yakin kau ini polisi?".

"Kalau aku bukan polisi kenapa aku harus membawa pistol?", ucap pria itu mengeluarkan pistol dari balik sakunya".

Pria itu membuka koper yang Ji Hyuk bawa, "Astaga. Di saat seperti ini, aku berharap aku ini bukan polisi. Ini melebihi gaji seorang polisi selama setahun. Bukankah menurutmu ini tidak adil, hah?. Hei. Kita bagi saja, ya?. Uang ini tidak berarti apa-apa. Dia takkan bisa melaporkannya karena ini uang kotor".

Ji Hyuk berkata presdir Cho akan mengirnya kabur dengan uang itu. Pria itu menganggap enteng. Soal itu, ia bisa menyelesaikannya dengan menelepon satu orang saja. Yakni presdir Cho. Ia yakin, presdir Cho tidak akan mengakui uang ini sebagai uangnya. Maka uang ini akan menjadi benda yang tidak berharga bagi lagi presdir Cho. Masalah selesai. 

"Bagaimana?. Kau ingin pulang dengan membawa uang ini atau kekantor polisi bersamaku?". 

"Jika kau mau berjanji", jawab Ji Hyuk takut-takut.  
  Pria itu menjawab tentu saja bersedia berjanji. Jika Ji Hyuk melaporkannya ia juga akan mendapat masalah besar. Ji Hyuk mengikuti kemauan pria itu, tapi ia minta borgolnya di lepaskan dulu. Ia akan mengambil bagiannya dan pulang. 

Pria yang mengaku polisi ini tersenyum. Hidup ini soal menipu dan di tipu. Ia membuka  borgol. Begitu borgol terbuka, Ji Hyuk secara cepat melayangkan 2 bogem mentah. Dengan pukulan itu berhasil membuat lawannya pingsan seketika. 

Ji Hyuk keluar dari mobil dengan membawa koper. Ia menelpon presdir Cho, melapor kalau ia mengalami kecelakaan kecil, jadi mungkin ia harus membawa kopernya kembali.  

Tepat di hadapan Ji Hyuk, berhenti sebuah mobil mewah. Ji Hyuk kaget melihat Presdir Cho yang keluar dari dalam mobil. 

"Tidak perlu", ujar presdir Cho

Pundak Ji Hyuk di tepuk pria yang mengaku polisi tadi. Rupanaya pria ini hanya pura-pura pingsan. Ia tak mengira Ji Hyuk bisa memukul. Ji Hyuk menatap kedua orang itu dengan wajah bingung. 

Dalam perjalanan, presdir Cho mengakui dirinya sangat kekanak-kanakan, tapi begini lah cara yang ia gunakan untuk mengetahui pria mana yang bisa di percaya. Presdir Cho memang menyukai uang, tapi ia tak suka orang yang menggilai uang. 

Dong Suk dan Mi Ra berada di restoran. Mereka sedang menunggu seseorang. Sembari menunggu, Dong Suk mengatakan rencananya yang akan menjual Hyunsung Distribution. Mi Ra kaget, ia ingin tahu karena apa. Dong Suk tak menjelaskan karena sebentar lagi Mi Ra akan pindah ke kantor pusat. 


Penjualan ini akan menjadi langkah pertama. Dong Suk akan memulai dari awal dengan mengembangkan perusahaan yang lebih besar dan kuat dibandingkan dengan Hyunsung yang didirikan oleh kakek dan ayahnya. Jika ia bisa melakukannya, Mi Ra akan menjadi istri dari pengusaha paling sukses di negara ini. 

Pintu terbuka, seseorang melangkah masuk. Mi Ra dan Dong Suk terbelalak terkejut melihat pria yang berdiri di depan mereka. Dengan tenang, Ji Hyuk duduk tepat di depan "adiknya". 

"Aku kembali. Kang Dong Suk", ucap Ji Hyuk menatap tajam.


END


1 comment:

  1. Kereeeeen.... Makasih mbk dah bikin sinopnyaaaaa

    ReplyDelete

Thanks sudah mampir di blog saya, jangan lupa tinggalkan komentar ya...Trims....:)