Pages - Menu

Friday, November 25, 2016

Sinopsis Legend Of The Blue Sea Episode 3 Part 1



Episode 3

Joseon….


Putri duyung berenang ke permukaan melihat banyaknya lampion berterbangan di atas laut. Dam Ryung datang dengan perahu mendekati putrid duyung. Keduanya saling berpandangan. Dam Ryung yang semula berdiri kini duduk agar posisinya lebih sejajar dengan putri duyung.  

“Siapa namamu?”, tanya Dam Ryung

“Namaku Sea Wa”, jawab putri duyung

“Kakakku meninggal waktu aku masih kecil, dan nama kakakku itu Sae Wa. Itu artinya…..”

“Itu artinya anak yang periang dan bersinar”, sambung putri duyung, “Ada seseorang yang menamaiku nama itu. Haruskah aku menceritakan kisah itu?”.


Suara Sea Wa : Musim panas, 20 tahun lalu. Ada seorang anak yang berasal dari Hanyang mengunjungi rumah keluarga ibunya untuk bermain di pantai

Seorang anak lak-laki bermain di pantai bersama teman-temannya. Salah satu teman Joon Jae menantang anak itu untuk berenang ke tengah laut. Anak itu menjawab tentu saja ia bisa melakukannya. Teman-temannya tidak percaya dan mengatai anak itu pembohong, jika memang bisa lakukan.

Tanpa takut sedikut pun anak itu masuk ke dalam laut, semakin jauh ia melangkah semakin dalam dasar laut. Anak itu lalu tenggelam, dari kejauhan dia melihat putri duyung berenang mendekat. Putri duyung yang sebaya dengannya, meraih tangannya dan membawanya ke permukaan.

Setibanya di pantai, anak laki-laki itu memperkenalkan dirinya bernama Dam Ryung. Ia menanyakan nama putri duyung. Putri duyung hanya diam menatapnya.

“Kalau kau tidak punya nama, biar kunamai kau. Namamu Sae Wa saja. Artinya "anak yang periang dan bersinar”.

Narasi Sea Wa dewasa, “Setelah musim panas itu, anak itu kembali pulang ke rumahnya di Hanyang. Tapi setiap kali dia punya kesempatan, dia mencoba kembali ke pantai”.

Dam Ryung kecil merengek dan berguling-guling di lantai. Ia minta agar ayahnya mengijinkannya pergi kerumah kakeknya. Ibu Dam Ryung tak tega dan berusaha membujuk suaminya.

Ayah Dam Ryung akhirnya menginjikan Dam Ryung untuk pergi kerumah kakeknya dengan syarat Dam Ryung berjanji akan belajar dengan rajin sepulangnya dari sana. Tanpa pikir panjang, Dam Ryung langsung menyanggupinya. Kedua orang tua Dam Ryung hanya bisa berpandangan heran.

Narasi Sea Wa dewasa, “Anak itu memberi makan si putri duyung makanan daratan yang belum pernah dimakannya dan dia menunjukkan pada si putri duyung hal-hal yang indah untuk pertama kalinya”.

Dam Ryung kecil menemui Sea Wa di pantai, ia membawa makanan dan berbagi makanannya dengan Sea Wa. Saat bunga-bunga bermekaran, Dam Ryung menaburkan kelopak bunga di sekitar mereka. Terlihat indah seperti hujan bunga.

Narasi Sea Wa dewasa, “Kedua anak itu menghabiskan waktu bersama seperti itu dan tumbuh bersama”. 

Keduanya terus bertemu hingga mereka beranjak dewasa. Dam Ryung memberikan seikat bunga pada Sea Wa. Sea Wa menerimanya dengan tersenyum begitu pula dengan Dam Ryun.

Dam Ryung mengatakan setengah bulan lagi, ada calon pengantin yang di kirim kerumahnya, “Aku akan menikah”, ucap Dam Ryung hati-hati. Sea Wa bertanya menikah itu apa.

“Aku harus hidup dengan perempuan lain. Aku hanya bisa melindungi dan menyukainya”, jelas Dam Ryung.

“Berarti, kau tidak bisa datang ke pantai lagi?”, tanya Sea Wa

Dam Ryung tidak tahu. Sea Wa terlihat kecewa. Dam Ryung tanya apa Sea Wa tidak bisa hidup di daratan. Sea Wa berkata jika ia sudah dewasa, barulah ia bisa hidup di darat, “Katanya kalau putri duyung ke daratan, ekornya berubah jadi kaki.  Tapi, tidak sekarang”.

“Aku tidak ingin meninggalkanmu. Aku tidak ingin melindungi dan menyukai perempuan lain. Aku selamanya tidak ingin hidup bersamanya, kalau bukan kau”.

“Tapi kita bisa apa?. Aku tidak bisa hidup di daratan, dan kau tidak bisa hidup di air”,  ucap Sea Wa sedih. Ia tertunduk menangis dan air matanya menetes di pipi.

Sea Wa melompat ke laut berenang meninggalkan Dam Ryung. Dam Ryung terpaku di tempatnya melihat Sea Wa menjauh. Air mata putri duyung yang jatuh di bebatuan berubah menjadi benda kecil berkilauan… mutiara.


Hari yang di tentukan tiba, Dam Ryung menikah dengan gadis pilihan orang tuanya. Di malam pertama mereka, pengantin wanita terlihat duduk terantuk-antuk, menunggu Dam Ryung yang tidak melakukan apapun.

Suara Sea Wa : Pada malam pertama pernikahan mereka, pria itu meninggalkan kamar pengantinnya. Dia menunggang kuda selama beberapa hari, menuju lautan”.

Dam Ryung yang semula diam, lalu berdiri meninggalkan istrinya. Dia memacu kuda menuju lautan. Dam Ryung teriak memanggil nama Sea Wa begitu tiba di pantai. Ia terus berjalan kearah laut sampai tenggelam. Sea Wa datang menyelamatkan Dam Ryung dan menciumnya.

Anak itu tahu. Bahwa putri duyung pasti akan muncul untuk menyelamatkannya, yang tidak bisa berenang. Tapi dia tidak tahu rincian apa yang penting. Putri duyung memiliki kemampuan khusus. Dengan mencium manusia, putri duyung dapat menghapus kenangan akan mereka dari manusia. Dan saat itulah putri duyung itu menghilangkan ingatan anak tersebut, seperti buih ombak”.

Dam Ryung terdampar di pantai ketika dia membuka matanya. Pertama kali yang ia lihat adalah penduduk yang menolongnya. Dam Ryung tidak ingat apa yang terjadi dan kenapa dia sampai bisa kesini.

Dam Ryung dewasa mendengarkan cerita Sea Wa dengan seksama lalu berkata istrinya meninggal karena penyakit paru-paru setelah mereka menikah. Sampai di waktu kematiannya, istrinya membencinya karena melarikan diri pada malam pertama mereka. Dam Ryung tidak ingat kenapa ia melarikan diri malam itu, meskipun ia berkali-kali berusaha mengingatnya tetap saja tidak bisa mengingatnya.

Dam Ryung berpikir dan bertanya dengan wajah serius, “Apakah aku anak laki-laki itu?”, tanyanya menebak.

Perlahan Sea Wa mendekati perahu Dam Ryung dengan tatapan penuh arti.


Kembali ke awal saat Joon Jae tenggelam. Putri duyung muncul untuk menyelamatkannya. Joon Jae terkejut melihat wujud asli putri duyung. Putri duyung mencium Joon Jae. Sama yang dilakukan oleh Sea Wa, 400 tahun lalu.

Ciuman yang menghapus semua kenangan Joon Jae akan putri duyung. Satu persatu moment yang pernah mereka lalui menghilang. Dari awal mereka bertemu hingga mereka loncat ke laut.

Setelah mencium Joon Jae, perlahan-lahan putri duyung menghilang dari pandangan.


Joon Jae terdampar di pantai. Matanya masih terpejam, pingsan. Terdengar suara lirih diantara debur ombak “Aku mencintaimu”. Joon Jae langsung sadarkan diri dan terbatuk-batuk karena terlalu banyak meminum air laut.

Joon Jae menarik napas panjang dan melihat sekitar pantai yang sepi, tidak ada orang lain selain dirinya. Ia ingat semua yang terjadi selama di spanyol. Saat check in di hotel, melarikan diri dari para preman dengan bersepeda, melewati penjual es krim, berkejaran di taman labirin, pergi ke mencusuar Hercules hingga ia terdesak dan melompat dari atas tebing. Joon Jae mengingat semuanya, tapi ia ingat melakukan semua itu seorang diri.

“Ah, kenapa juga aku terjun dari sana? Ugh! Aku pasti sudah gila!”, gerutunya.

Joon Jae memegangi kepalanya yang sakit dan melihat gelang giok di pergelangan tangannya. Joon Jae tak tahu benda apa itu. Tapi ia tak terlalu memikirkannya dan berhela napas sejenak. Tanpa Joon Jae sadari, ada mutiara kecil di tanah dekat dengan tangannya.

Sebuah pesawat terbang mengudara di angkasa. Pesawat itu membawa Joon Jae kembali ke Korea. Dari jendela pesawat, Joon Jae melihat ke bawah lautan. Samar ia melihat seperti ada orang yang sedang berenang. Joon Jae terus memperhatikan sampai pramugari menegurnya. Pramugari itu menawari Joon Jae segelas anggur. Joon Jae mengiyakan tawaran pramugari.

(Style rambut Joon Jae berubah…. Saya suka saya ..suka…).

Di tengah lautan, putri duyung menengadah memandang langit. Ia berenang berusaha mengejar pesawat yang membawa Joon Jae pergi. Tapi tentu saja kecepatannya dalam berenang tidak akan bisa menyamai kecepatan pesawat. Putri duyung hanya bisa memandang sedih melihat pesawat yang kian menjauh.

Seoul.


Joon Jae tiba di bandara. Terdengar berita terkini dari televisi, mengabarkan seorang tersangka pembunuhan yang di penjara di pusat penahanan Seoul telah kabur saat menerima perawatan medis. Pihak berwajib telah merilis foto tersangka pembunuhan, Ma Dae Young, yang berusia 40’an.

Sayangnya berita itu tidak berhasil menarik perhatian orang. Begitu pula dengan Joon Jae yang terus berjalan keluar bandara. Sesampainya di luar, Joon Jae langsung menyetop taksi.

Tanpa Joon Jae ketahui, pembunuh yang dicari polisi berada di dekatnya. Ma Dae Young buron yang dicari polisi, menyamar sebagai petugas parkir.

Joon Jae sampai di rumahnya bertepatan dengan Nam Doo yang keluar hendak membuang sampah. Nam Doo melotot melihat Joon Jae

“Kau sudah datang!. Hidup lagi!”, (dikiranya Joon Jae sudah mati, apa!).

Joon Jae membuka sedikit topinya menyuruh Nam Doo mendekat. Karena Nam Doo tidak mendekat, maka Joon Jae yang mendatanginya. 

Nam Doo yang tahu Joon Jae akan marah padanya, langsung menghindar dan mencari alasan. Mengatakan kalau ia sudah menduga Joon Jae akan kembali pulang dalam keadaan hidup-hidup. Karena itulah ia tidak mengangkat telepon Jae Jae (alasan macam apa itu).

Joon Jae tidak percaya dan mendorong Nam Doo ke pintu. Nam Doo protes, “Hei! Kau bahkan tidak tahu betapa aku mengkhawatirkanmu. Bodoh”. Nam Doo hendak pergi, Joon Jae langsung memeteng lehernya.

“Jadi apa itu sebabnya kau memasuki rumah ini seolah-olah ini rumahmu?. Jika aku tidak bisa kembali selamanya, pasti kau mau gunakan rumah ini seolah ini punyamu, 'kan?”, ucap Joon Jae mengetahui akal bulus Nam Doo.

“Leherku…leher…leherku….”, keluh Nam Doo kesakitan.

Tak tega, Joon Jae spontan melepaskan Joon Jae. Sang tawanan pun langsung kabur masuk ke dalam rumah. Joon Jae mengeluh sembari mengacak rambutnya, “Ah... orang itu memang tidak bisa dipercaya!”.

Nam Doo tergesa-gesa masuk ke dalam rumah, Joo Jae menyusul di belakang. Ternyata bukan hanya Nam Doo yang pindah kerumah Joon Jae, Tae Oh pun ikut berimigrasi bersamanya. Nam Doo memanggil Tae Oh yang sedang asyik bermain game. Berlagak seperti tuan rumah, Nam Doo menyuruh Joon Jae meletakan tasnya di sofa. Jangan sungkan, anggap saja rumah sendiri.

“Mana mungkin aku malu-malu? Kenapa?. Karena ini rumahku!”, sambar Joon Jae kesal.

“Hei! Apa kau meretas passcode rumahku?”, tanya Joon Jae pada Tae Oh. Yang di tanya hanya menoleh tanpa membuka suara.

Nam Doo berkata bukankah Joon Jae sudah tahu, tidak ada rumah di Korea yang tidak bisa diretas Tae Oh. Nam Doo membawa sepiring buah dan tanya apa Joon Jae sudah makan. Joon Jae menyuruh Nam Doo makan saja sendirian. Tanpa membuang waktu, Joon Jae menyuruh kedua rekannya itu untuk pergi dari rumahnya sekarang juga.

Nam Doo memberikan potong apel pada Joon Jae dan berkata kemana mereka harus pergi. Rumah mereka sudah di deteksi orang-orang Ny. Jang. Hanya rumah Joon Jae yang belum di deteksi karena Joon Jae baru pindah dan menghapus alamatnya.

“Hei, si Nyonya Jang Jin Ok dari Myeong Dong Capital itu, orang yang sungguh percaya sekali pada ungkapan tegas "Aku bisa melakukannya!" Dia bisa melakukan segalanya!”.

Nam Doo menoleh Tae Oh yang mengautiskan diri dengan gadgetnya. Ia berbisik pada Joon Jae, bukankah ada hal penting yang harus mereka bicarakan berdua. Joon Jae tanya apa. Nam Doo menari Joon Jae keluar. Tae Oh si irit bicara hanya menoleh melihat mereka sebentar dan kembali focus pada gamenya.

Nam Doo terus menarik Joon Jae sampai mereka tiba beranda belakang tidak memperdulikan protes Joon Jae. Nam Doo lalu tersenyum dan berkata, “Biar kulihat benda itu!”.

Joon Jae bingung, “Apa?”.

“Jangan pura-pura bodoh di depanku. Malah, kukira kau mungkin tidak  kembali ke Seoul karena benda itu. Aku khawatir sekali”, Nam Doo memeluk Joon Jae berlagak khawatir.

Joon Jae masih tak mengerti, “Benda itu apa?”.

“Apa maksudmu?. 6 milyar kita”.

“Bicara apa kau ini, aku capek”.

Nam Doo menahan Joon Jae yang hendak masuk kembali ke dalam rumah. Nam Doo menjelaskan, “Gelang jadite (giok), yang  tekstur, kekerasan, transparansi, dan warnanya seperti asli”.

“Kau tahu dari mana itu, Hyung”, tanya Joon Jae heran sekaligus bingung.

“Mana aku tahu? Bukannya kau sendiri yang bilang begitu.”, jawab Nam Doo.

“Aku?”

“Ya, kau. Kau bilang kau menipu seorang perempuan di Spanyol”.

“Perempuan? Perempuan apa?”, tanya Joon Jae serius lalu tersenyum tak mengerti.

 Nam Doo tertawa mengira Joon Jae hendak menipunya. Orang lain mungkin akan percaya dan dapat di bodohi dengan mudah oleh Joon Jae. Tapi hanya dirinya yang tidak bisa Joon Jae bodohi. Nam Doo minta agar Joon Jae berhenti berpura-pura tidak tahu.

Joon Jae menekanan sekali lagi kalau ia benar-benar tidak tahu arah pembicaraan Nam Doo, “Perempuan apa yang kutemui di Spanyol?”.

“Kau sendiri yang bilang kau bertemu perempuan bodoh dan aneh!”, Nam Doo mulai kesal.

Peremuan bodoh dan aneh yang mereka bicarakan kini berada di lautan. Berpamitan pada teman-teman sesama putri duyung. Ia hendak berimigrasi ke Korea. Putri duyung memakai kaca mata hitam (apa maksudnya, agar matanya gak perih????).

Putri duyung berenang pergi dengan membawa kerang besar. Teman-teman putri duyung melambai melepas kepergian teman mereka. Anggap saja kerang itu dompetnya putri duyung… hehehe…

Sebagi bukti Nam Doo menunjukan sebuah foto, “Coba lihat! Ini SMS yang kau kirim padaku!. Kau yang mengirimkannya padamu”.

Nam Doo memperbesar foto itu, foto yang hanya menampilkan tangan putri duyung, tanpa wajah. Terlihat jelas gelang giok yang di pakai oleh peremupuan di dalam foto. Joon Jae mengeluh tidak mengerti, “Ah, bisa gila aku ini!”.

“Ah! Hei, akulah yang lebih gila lagi!. Hei, apa kau itu kembali dari Hollywood, bukannya Spanyol? Keterampilan akting-mu makin bagus saja!”.

Joon Jae berkata bukan seperti itu. Bukan seperti itu apanya, desak Nam Doo. Jae Joon tidak pernah merasa mengirimkan sms tersebut, dan bahkan tidak pernah bertemu dengan perempuan aneh seperti yang Nam Doo bilang.

“Jadi, kau tidak punya gelangnya”, tanya Nam Doo langsung.

“Aku punya”, jawab Joon Jae dengan wajah bingung.

“Lihat kan, kau punya gelangnya”, Nam Doo setengah berteriak saking kesalnya, “Hei, mana mungkin kau tidak bisa mengenali benda yang luar biasa. Darimana kau dapat gelang itu?. Kau tak bisa mengingatnya juga?”.

Joon Jae memegangi kepalanya mencoba mengingat kejadian di spanyol. Joon Jae melihat dirinya duduk di sebuah café duduk bersama seseorang. Ia menyalakan pematiknya, tapi wajah wanita itu tidak terpantul di permukaan pematik yang terbuat dari logam.

Joon Jae juga ingat saat tangannya memegang gelang giok di bawah meja lalu menoleh menatap seseorang yang duduk di sampingnya. Hanya sampai di situ, Joon Jae tak mampu mengingatnya lagi.

“Aku tidak tahu”, ucap Joo Jae kemudian.

Merasa tidak menemui jawaban yang memuaskan. Nam Doo berkata memang ia tidak tahu apa yang terjadi, dan sekarang ia tidak lagi ingin mengetahuinya. Langsung pada intinya, Nam Doo minta Joon Jae memperlihatkan gelang itu lebih dulu, mereka perlu menaksir berapa nilai benda itu.

“Lihat saja nanti”, ucap Joon Jae enteng.

(duh abang min ho….ganteng amat sich… suka style…men in black).

Nam Doo kesal, lihat apanya. Apa yang ingin Joon Jae lihat. Joon Jae berkata situasinya sedang tidak baik sekarang. Ia merasa tidak nyaman dan akan melihat perkembangan situasi selanjutnya. Nam Doo menawarkan diri akan mengambil semua kegelisahan Joon Jae. Yang perlu Joon Jae lakukan hanya menyerahkan gelang itu padanya dan beban Joon Jae akan segera hilang.

Joon Jae yang tidak memperdulikan ocehan Nam Doo, ia terus berjalan masuk ke dalam rumah.

Hari sudah malam ketika putri duyung muncul ke permukaan. Bulan purnama menghiasi langit malam. Ia teringat percakapannya dengan Joon Jae saat mereka dalam perjalanan menuju mercusuar Hercules.

Flashback. Putri duyung tanya apa Joon Jae akan pergi ke Seoul. Joon Jae mengiyakan, karena disana lah ia tinggal. Putri duyung terdiam dan menutup mata mendengarkan suara laut. Joon Jae menoleh padanya, lalu mengajak putri duyung untuk ikut ke Seoul. Putri duyung diam tak bereaksi. Melihat itu, Joon Jae menghentikan mobil dan menepi.

Joon Jae minta putri duyung jangan salah paham dan mendengarkan apa yang akan ia katakan. Ia mengatakan hal ini bukan dengan maksud merayu putri duyung agar pergi ke Seoul.

“Di Seoul, ada begitu banyak hal yang kauinginkan. Misalnya, restoran yang enak. Kau itu suka makan banyak! Kau juga sering kelaparan”.

Putri duyung hanya mengangguk pelan tanpa mengiyakan akan pergi ke Seoul.

Tak berhenti di situ, Joon Jae mengatakan hal bagus lainnya mengenal Seoil, “Juga, ada Sungai Han disana. Pada musim gugur, kembang api dinyalakan disana. Aku menyaksikan indahnya kembang api itu dari tempat yang bagus di Lantai 63. Wow, sangat indah sekali waktu itu. Aku akan mengajakmu menyaksikan kembang api bersama”.

“Bersama?”, tanya putri duyung mulai terpancing.

“Ya. Bersama denganku”.

Putri duyung diam dan mendengarkan suara laut, seakan menjalin komunikasi telepati dengan mahluk laut. Joon Jae memandang putri duyung menunggu jawaban. Putri duyung tersenyum dan mengangguk pelan.

“Kau sudah janji, ya! Sebuah janji itu haruslah ditepati!”, ucap Joon Jae antusias.

Putri duyung menjawabnya dengan anggukan sekali lagi.

“Apa kau mengangguk artinya kau berjanji?”,

“Janji untuk di tepati”, jawab putri duyung.

“Benar”, Joon Jae tesenyum senang dan mengelus rambut putri duyung. Flashback end.

Janjinya pada Joon Jae membuat putri duyung semakin membulat tekadnya untuk pergi ke Seoul. Putri duyung kembali masuk ke air, berenang mengarungi lautan.

Joon Jae tertidur lelap di kamarnya. Angin kecil menghembuskan rambutnya dan membuatnya bermimpi. Dalam tidurnya Joon Jae bermimpi dirinya jatuh ke dalam laut dan tenggelam.

Terdengar suara lirih, “Saranghae (Aku mencintaimu)”.

Joon Jae terkejut bangun dari tidurnya. Ia duduk menarik napas dalam-dalam. Joon Jae tampak tegang bertanya suara siapa kah itu dan apa itu barusan. Joon Jae mengeluh, Bisa-bisa ia benar-benar gila (jika terus seperti ini). Joon Jae memegang jantungnya yang berdebar. Mungkin ia tidak bisa mengingat apa-apa, tapi hatinya bisa merasakan apa yang tidak ia ketahui.

Hari demi hari berganti, hingga 3 bulan kemudian.

Joon Jae keluar dari kamar dan duduk di depan sofa menghidupkan televisi. Acara televisi menayangkan wawancara presenter TV dengan seorang developer sukses. Semula Joon Jae tampak tertarik menonton acara tv, jadi raut wajahnya kemudian terlihat sedih lalu mematikan televisi.

Pria di televisi itu bernama CEO Heo Gil Dong, ayah Joon Jae.

CEO Heo tengah bermain golf dengan Cha Dong Sik, kakak Cha Shi Ah. CEO Heo memenangkan permainan. Jin Jo berkata lain kali ia yang akan menang.

Dong Sik menemani CEO Heo, sementara istrinya Ahn Jin Joo menemani Ny. Kang Seo Hee, yang merupakan istri CEO Heo. Dari kejauhan, Seo Hee memperhatikan suaminya dan menoleh karena dikejutkan oleh bunyi kamera Jin Joo yang diam-diam memotretnya.

Jin Joo memperlihatkan hasil fotonya dan memuji Seo Hee tampak cantik sama seperti yang terlihat di majalah. Seo Hee berlagak tak mengerti maksud Jin Joo. (Majalah apa?. Majalah gossip?)

 
Kemudian mereka berempat menikmati kopi sambil bercakap-cakap. Dong Sik mengaku lebih menyukai anak laki-laki dibandingkan anak perempuan. Karena menurutnya anak perempuan terlalu banyak maunya.

Anak perempuan memang manis, tapi anak laki-laki adalah duplikat dari ayahnya. Dong Sik membanggakan putranya yang tumbuh besar dan semakin mirip dengannya, “Memiliki keturunan itu memang hal luar biasa”

 Wajah Seo Hee langsung berubah mendengar perkataan Dong Sik. Jin Joo melihat gelagat yang kurang enak, ia langsung memotong dan berkata barusan ibu Dong Sik menelpon, sepertinya ada hal penting. Jin Joo pamit pergi dan menarik Dong Sik ikut bersamanya.

Jin Joo menasehati suaminya untuk hati-hati dalam bicara. Apa Dong Sik tidak tahu rumor yang beredar, bahwa CEO Heo membesarkan seorang anak yang bukan anak kandungnya (anak tiri). Dong Sik kaget, benarkah.

“Wanita yang tadi itu, Kang Seo Hee itu istri keduanya”, bisik Jin Joo, “Wanita itu mengusir istri pertamanya dan membawa anaknya. Dia tidak mau pergi dari sana. Anak pertamanya CEO Heo kabur dari rumah, dan mereka belum pernah dengar kabar dari anaknya lagi. Kau tidak tahu sama sekali?”.

Dong Sik menggeleng tidak tahu. Jin Joo memukul Dong Sik dan memarahinya, itulah mengapa ia menyuruh Dong Sik untuk berhenti membaca Koran, baca saja majalah. Mengetahui gossip terkini adalah sebuah keharusan jika ingin terus survive di bidang perkejaan ini.

Dong Sik mengeluh, selama ini ia sudah merana. Barusan ia membangga-banggakan CEO Heo. Tak hanya itu Dong Sik juga selalu bersikap tunduk dan patuh pada  CEO Heo. Apa Jin Joo tidak bisa melihat itu?.

Tentu saja Jin Joo lihat, ia lihat secara jelas, “Maka dari sekarang, kita  harus mengutamakan hal yang lebih penting, ya?”.

Dong Sik mengangguk dan merasa penasaran dengan anak kandung CEO Heo. Apa yang terjadi dengan anak itu. Ia menilai pemberontakan yang dilakukan putra CEO Heo melebihi batas. Jin Joo menambahkan anak itu pasti gila (karena meninggalkan hidup mewah. Tapi apa gunanya hidup mewah jika batin tersiksa tinggal bersama dengan ibu tiri yang jahat).


Anak yang dibicarakan itu, kini sedang mencari birnya di kulkas. Joon Jae kesal melihat isi kulkas yang kosong. Joon Jae tanya siapa yang mengambil bir ku?. Nam Doo mengangkat tangan, menunjukan bir kaleng yang telah kosong.

Joon Jae mendesah kesal dan membuka laci bawah mencari es krim. Tapi es krim yang dia cari juga tidak ada disana. Rak bawah sama kosong nya dengan rak atas. Joon Jae teriak, 

“Mana es krim ku?”. Tae Oh lewat sembari mengulum es krim… 

Joon Jae melotot kesal, Tae Oh cuek saja naik ke lantai 2 main game. (ya ampun..kasian Joon Jae tingga dengan para parasit itu…hahaha…)

“Kalian belum juga angkat kaki dari rumah ini? Ini sudah lebih dari 3 bulan!”.

Nam Doo menjawab mana mungkin kami bisa pergi, orang Myeongdong Capital pastilah masih mencari kami, “Mereka kira kau itu sudah mati, makanya mereka tidak mengikuti dan mencarimu!. Aku takut mereka mengikuti kita sampai ke ujung dunia”.

Jadi apa? Hah?. Kau mau tinggal di sini? Tinggal disini?”, Joon Jae kesal mendekati Nam Doo, yang di dekati otomatis menghindar.

Nam Doo minta Joon Jae jangan bersikap berlebihan seperti itu. Mereka harus kembali bekerja dan mencari target baru. Nam Doo mengaku juga merasa tidak nyaman tinggal di rumah Joon Jae. Ia bukanlah tipe orang yang tidur dan makan bersama pria lain dalam satu rumah (ya elah, gak nyaman apanya, sudah 3 bulan ini).

Joon Jae melempar Nam Doo dengan bantal. Kesal dengan Nam Doo yang banyak omong. Nam Doo minta Joon Jae lebih pengertian sedikit pada rekan kerjanya. Joon Jae melihat Tae Oh yang sibuk dengan dunianya sendiri dan Nam Doo secara bergantian. Ia mengeluh pelan lalu berpikir.

3 nelayan sedang minum-minum diatas perahu mereka. Tiba-tiba putri duyung muncul mengangetkan. Ketiga nelayan teriak terkejut bertanya siapa kamu. Putri duyung tanya Seoul ada dimana?. Bagaimana caranya agar ia bisa pergi ke Seoul. Salah satu dari mereka mengatakan, jika ingin pergi ke Seoul cukup lurus (arah timur) saja lalu belok kiri.

Nelayan lain mengatakan bukan kearah sana, tapi arah barat dan kemudian belok kanan. Putri duyung mengucapkan terima kasih. Nelayan lalu tanya apa putri duyung mau berenang sampai ke Seoul?. Disini pulau Jeju, masih jauh jika ingin ke Seoul. Ia menawari putri duyung untuk naik ke perahu mereka.

“Gwencanayo”, ucap putri duyung enteng lalu menyelam.

Ketiga nelayan itu melihat ke dalam laut dan tidak melihat bayangan putri duyung. Mereka jadi takut apa-apaan tadi itu, apa wanita tadi bermaksud pergi ke Seoul dengan berenang?.

“Apa dia itu haenyeo? (penyelam wanita desa Korea di Jeju)?”.

“Tidak!. Dia itu monster air”, jawab yang lain. Mereka panic dan  hendak lapor polisi.


Asosiasi Wanita Marine melakukan bakti sosial membersihkan sampah yang mengotori  pantai. Salah satu dari mereka hendak mengambil sandal yang terbawa ombak. Sandal warna pink itu hanya tinggal sebelah saja tidak ada pasangannya. Sandal bergerak maju dan mundur mengikuti arus ketika ibu tersebut hendak memunggutnya.

Ombak membawa sandal pink itu mengapung di tengah lautan dan terdampar di sisi lain pantai. Tak jauh dari situ, ada sandal warna biru yang juga kehilangan pasangan.

Ketua asosiasi berteriak menggunakan toak, meminta rekan lainnya untuk berhenti sejenak. Saat ini waktunya mereka melihat keajaiban musa (terbelahnya laut merah). Benar saja apa yang dikatakan wanita itu, perlahan-lahan air surut dan membentuk daratan setapak hingga ujung pulau.

Wanita-wanita marine bersorak kagum melihat keajaiban musa. Kemudian mereka dibuat terkejut melihat seorang wanita tiba-tiba muncul dari sana. Wanita itu adalah putri duyung yang berjalan dengan percaya diri. Putri duyung memakai sandal berlainan warna yang terdampar di pantai, biru di kaki kanan dan pink di kaki kiri.

“Omo, apa itu?. Bukankah itu manusia. Lihatlah rambutnya yang berantakan itu. Kenapa dia bisa datang darisana?”.

Deretan pertanyaan keluar dari mulut wanita marine yang penasaran dengan sosok putri duyung. Wanita lain menduga wanita misterius di depan mereka tinggal di pulau seberang laut.

Yang lainnya tak sependapat karena pulau itu sunyi, bagaimana seorang wanita bisa bermalan di pulau sesunyi itu. Dan kenapa juga dia datang kesini. Wanita-wanita marine setengah takut ketika putri duyung menghampiri mereka. Gayanya seperti orang ngajak berantem…hahaha…




 “Apa tempat ini Seoul?”, tanya putri duyung.

“Bukan”..

“Berarti masih jauh?”, ucap putri duyung kecewa, “Melelahkan sekali. Aku sudah berenang jauh-jauh sampai aku mau muntah rasanya!", ucapnya dengan mimik lucu. 

Salah satu wanita marine bertanya apa putri duyung ingin pergi ke Seoul. Mereka juga akan pergi ke Seoul dan menawari tumpangan.

Putri duyung pergi ke Seoul dengan menggunakan bus besama wanita marine. Putri duyung di turunkan di jalanan Seoul yang ramai. Putri duyung melihat gedung-gedung pencakar langit yang berjejar di sepanjang jalan. Ia berdiri kebingungan melihat orang-orang yang silih berganti hilir mudik tiada henti.

“Disini orang lebih banyak daripada ikan teri. Bagaimana cara aku menemukan Heo Joon Jae disini?”.

Joon Jae yang dicari kini sedang berjalan menuju ruang pakaian. Ia memiliki ruang rahasia dibalik lemari pakaian. Ruangan rahasia sangat luas, tempat ia menyimpan segala perlengkapan yang di butuhkan untuk menjalankan rencanya.

Di dalam lemari, tersedia berbagai pakaian profesi. Mulai dari seragam dokter, seragam militer, seragam polisi, seragam jaksa hingga seragam pilot tergantung disana. Joon Jae mengambil salah satunya, yaitu seragam pilot.

Tidak hanya seragam saja, berbagai atribut dan perlengkapan penunjang tersedia disana. Tentunya itu belum seberapa jika melihat kendaraan yang terparkir di basement. Layaknya showroom, berbagai kendaraan siap pakai tersedia. Mobil polisi, ambulance, motor patroli dan bermacam-macam mobil bermerek lainnya terparkir disana. (benar-benar penipu kelas paus).

Nam Doo membacakan schedule Ny. Jang hari ini. Jam 1 latihan golf, jam 3 melakukan perawatan kecantikan di Spa Gangnam Empire. Joon Jae memberi intruksi pada Tae Oh, begitu mereka sampai Tae Oh langsung pergi keatap dan meretas lift. Ia juga memberi tugas Nam Doo untuk terus memeriksa schedule Ny. Jang, mengantisipasi jika ada perubahan.

“Oke”, jawab Nam Doo menangkap kunci yang di lemparkan Joon Jae.

Nam Doo merasa lega, ia senang Joon Jae memutuskan untuk berkerja lagi setelah sekian lama mereka beristirahat. Joon Jae kesal, senang apanya. Ia menyuruh Nam Doo dan Tae Oh mengemasi barang dan pergi dari rumahnya, segera setelah urusan mereka dengan Ny. Jang selesai.

💗💗💗 Oppa Min Ho dengan pakaian pilot… Subahanallah…^-^ 💗💗💗


Putri duyung menanyakan pada semua orang yang di jumpainya, apa kebetulan mereka mengenal Heo Joon Jae. Tapi tidak ada satupun dari mereka yang memperdulikan putri duyung.

Joon Jae, cs dalam perjalanan. Nam Doo duduk dibalik kemudi. Nam Doo tak menyangka mereka akan bertemu dengan orang yang pernah mereka tipu di tempat golf. Nam Doo menyadari satu hal, kalau ia lebih cepat dari Usain Bolt

(Usain Blot = Nama atlet pelari dari Jamaika, memegang rekor dunia untuk pelari jarak pendek).

“Kau pikir Seoul itu besar, bukan?. Tapi nyatanya cuma setelapak tangan. Selama kita hidup, semua orang saling berpapasan. Hanya saja orang tidak tahu kenyataan itu”, ujar Joon Jae.

Nam Doo ngerem mendadak ketika ada orang yang menyebrang secara tiba-tiba. Orang itu minta maaf dan buru-buru pergi. Tae Oh hanya sempat melirik sedikit dan kembali focus pada layar handphone.

Nam Doo menjalankan mobil dan kembali menginjak rem mendadak karena lampu merah.

Di trotoar tak jauh mobil Joon Jae berhenti, putri duyung berjalan pelan. Ia menerima kertas selebaran yang dibagikan orang di jalan.

Joon Jae menunduk tak memperhatikan jalan, sambil bicara dengan Nam Doo menanyakan keberadaan Ny. Jang.

Putri duyung yang lapar mendekati penjual kaki lima dan menunjuk sate usus. Penjual menyebutkan harga sate usus, mengadahkan tangan meminta uang. Putri duyung yang tak mempunyai uang memberikan kertas selebaran sebagai alat tukar.

Penjual heran, “Kenapa kau memberiku ini?. Kau harus memberiku uang. Uang!. Jika kau tidak punya uang, pergilah. Cepat pergi!”.

Putri duyung diam menatap penjual dengan kedua mata besarnya. Ia tampak tak rela meninggalkan sate usus. Putri duyung berbalik bertepatan dengan mobil Joon Jae yang berjalan pelan di depannya. Baik Joon Jae dan putri duyung tidak melihat satu sama lain.

Wajah putri duyung terlihat sedih bersamaan dengan daun-daun yang berguguran di sekitar. Salah satu daun jatuh di telapak tangan putri duyung. Ia memandang daun itu dengan pandangan kosong.

Putri duyung terus berjalan tanpa arah dengan kondisi perut lapar. Di tengah jalan, ia melihat beberapa siswa SMA mendekati siswa SMP yang jalan sendirian. Salah satu siswa SMA merangkul siswa SMP dan berlagak sok akrab. Ia memerintahkan siswa SMP untuk tersenyum dan berjalan dengan wajar.

Putri duyung mengikuti mereka ke tempat yang lebih sepi. Siswa SMA ingin membeli buku tapi uangnya tidak cukup. Ia minta siswa SMP untuk memberikanya uang. Siswa SMP yang berada di bawah tekanan memberikan uang yang ia miliki dengan takut-takut. Siswa SMA langsung merebutnya dan pergi setelah mengucapkan terima kasih.

Dan semua aksi siswa SMA itu disaksikan oleh putri duyung yang polos. Ia menganguk mengerti bagaimana caranya mendapatkan uang.

Seorang gadis kecil berjalan sendirian menyeret kopernya. Dari raut wajahnya gadis kecil itu tampak sedih. Putri duyung datang sambil berjingkrak-jingkrak menghampiri gasis kecil dan langsung menarik koper si gadis. Putri duyung mempraktekan apa yang ia lihat. Ia merangkul gadis kecil dan tertawa gaje.

“Tak apa, tak apa. Tersenyumlah. Lihatlah ke depan. Berjalanlah sambil lihat ke depan”.

“Onnie. Kenapa kau seperti ini?”, tanya si gadis.

“Kau punya uang. Aku lapar sekali. Kau tidak punya uang?”, kata putri duyung memalak.

Si gadis melepaskan diri, “Meskipun begitu, apa kau harus mengganggu anak kecil?”.

“Mengganggu itu apa?”

“Inilah yang disebut mengganggu”, jelas gadis kecil kesal.

Putri duyung terdiam mematung dengan pose tak biasa…

Gadis kecil baik hati itu mengajak putri duyung ke mini market. Putri duyung memakan ramennya dengan lahap, meski uap masih mengepul dari dalam mangkok. Gadis kecil mentraktir putri duyung dengan “mom-ca” (kartu kredit milik ibunya). Hal itu ia lakukan karena mendengar putri duyung lapar.

“Apa itu "mom-ca"?”

“Onnie. kenapa Onnie tidak tahu apa-apa?. Kartu kredit Ibu. Mom-ca”.

Putri duyung tanya apa “mom-ca” lebih bagus dari pada uang. Gadis kecil menjawab sama saja, yang penting putri duyung tidak mengulangi perbuatannya tadi memeras anak kecil untuk mendapatkan uang.

“Baiklah”.

“Uang itu didapat dari kerja kerja. Ibuku susah payah cari uang. Aku jarang melihat ibuku. Ibuku dari pagi sampai petang cari uang”.

“Tapi kenapa ibumu bekerja keras buat dapat uang?”, tanya Putri duyung polos.

“Onni ini tak tahu apa-apa sama sekali. Menurutmu kenapa ibuku bekerja?. Ya tentu saja agar aku dan Ibu bisa bahagia”.

“Tapi jika semua yang kita lakukan mencari uang dari pagi sampai petang, lalu kapan kita bisa hidup bahagia?”

Gadis kecil terdiam sesaat, “Di hari kemudian dan kemudian”, jawabnya bingung lalu meminum susunya.











Gadis kecil dan putrid duyung jalan keluar dari mini market. Alarm pengingat di ponsel gadis kecil berbunyi. Gadis kecil berkata harus pergi karena les matematika. Gadis kecil mendoakan putri duyung untuk menemukan orang yang dia cari, Hae Joon Jae.

Gadis kecil berbalik pergi, lalu kembali menghadap putri duyung. Ia mengambil uang di saku jaket dan memberikannya pada putri duyung. Ia berpesan agar putri duyung menjaga uang ini dengan baik, gunakan untuk hal yang berguna dan jangan di berikan pada orang lain.

“Mulai sekarang, Onnie setidaknya harus bekerja paruh waktu buat cari uang. Karena hidup itu cuma sementara, aku cuma berpikir bahwa hidup tanpa uang bukanlah masalah besar sama sekali”

Putri duyung mengangguk, “Aku mengerti”. Putri duyung melambaikan tangan mengucapkan selamat tinggal. Gadis kecil itu pergi menyeret kopernya. Putri duyung melambaikan tangan dan melangkah pergi kearah berlawanan.

Gadis kecil berjalan lurus, sekali ia menoleh melihat putri duyung dan bertabrakan dengan Joon Jae. Bukannya minta maaf, gadis kecil itu justru menyuruh Joon Jae untuk melihat jalan yang benar.

Joon Jae membuka kacamatanya, “bocah. Kau itu yang harusnya lihat jalan yang benar”.

Gadis kecil pemberani itu berdecak kesal dan pergi begitu saja. Joon Jae tertawa tak percaya ,ia memanggil gadis kecil, tidak terima di panggil ahjushi, “Hei, bocah kecil kemari kau. Dan juga kenapa aku ini kau panggil Ahjussi?”.

Nam Doo berusaha menarik Joon Jae pergi, “Hei kau itu memang Ahjussi buat seumuran dia. Mana bisa kau jadi Oppa. Ayo pergi. Sudah waktunya”.

Joon Jae cs, berjalan melewati jalan yang sebelumnya putri duyung lalui. Mereka kembali berpapasan namun tidak menyadari hal itu karena posisi mereka saling membelakangi.


Lanjut Sinopsi Legend Of The Blue Sea Episode 3 Part 2

No comments:

Post a Comment

Thanks sudah mampir di blog saya, jangan lupa tinggalkan komentar ya...Trims....:)