Pages - Menu

Friday, November 18, 2016

Sinopsis Legend Of The Blue Sea Episode 1 Part 1

Agustus 1586, Hyeupgok-Hyun, Gangwan-do

Hujan deras beserta badai menimpa sebuah desa. Para nelayan berjuang menyelamatkan ikan hasil tangkapan dan perahu mereka. Di pinggir pantai, para penduduk tampak kesusahan mengamankan ikan kering yang di jemur. Sungguh badai yang dahsyat hingga mampu menerbangkan atap-atap rumah, dan membuat pohon tercabut hingga keakarnya. 

Orang-orang yang berada di dalam rumah tidak luput dari amukan badai, mereka bepergangan tiang rumah untuk melawan kencangnya angin. Malangnya, nelayan yang masih berada di dermaga malah tergulung ombak yang besar.
Episode 1

Keesokan harinya, laut tampak tenang dan terdengar suara burung camar bersahutan. Badai yang maha dahsyat itu telah berlalu. Penduduk sibuk bergotong royong membersihkan puing puing rumah mereka yang hancur di sapu badai.

Namun di balik musibah itu ada berkah yang mereka dapatkan. Penduduk seakan melupakan kesenggaraan mereka ketika mengambil ikan-ikan yang terdampar di pantai. Sebuah keberuntungan melihat ikan melimpah ruah di pantai.  Mereka tak perlu lagi bersusah payah berlayar untuk mencari ikan. Panen ikan seperti ini tidak pernah mereka alami sebelumnya.

Sementara itu, di dalam gua tampak seorang putri duyung tengah berusaha menyingkirkan batu yang menghimpit kakinya, tampak kesakitan.

Para penduduk terus menelusuri pantai, hingga sampailah mereka di depan gua. Seseorang di antara mereka memungut benda yang tampak seperti sisik ikan. Merasa penasaran, mereka  melongok ke dalam, dimana mereka melihat seorang wanita disana. 

Tetapi, ketika para penduduk semakin masuk kedalam, alangkah terkejutnya mereka melihat tubuh dari wanita itu yang di tumbuhi banyak sisik. Para penduduk tercengang bertanya-tanya apakah mahluk di depan mereka itu wanita atau ikan.

Si putri duyung yang tak berdaya menatap para penduduk dengan tatapan pasrah dan waspada.

Seorang bangsawan, Tuan Yang tampak terburu-buru setelah mendengar kabar penduduk menangkap putri duyung. Dengan tidak sabar, dia bertanya dimana putri duyungnya. Seorang penduduk mengantar Tuan Yang ke kolam dimana mereka mengingkat putri duyung.
Tuan Yang bengong tak percaya melihat wanita di depannya. Kemudian ia tersenyum senang begitu melihat ekor emas yang di miliki putri duyung. Mahluk yang ada di hadapannya itu benar-benar putri duyung. 

Perlahan, tangan Tuan Yang terulur hendak menyentuh putri duyung. Saat tangannya semakin dekat, secara mengejutkan penduduk meminta Tuan Yang untuk berhati-hati. Ia mengingatkan tentang kutukan putri duyung. Konon katanya jika seseorang menyentuh putri duyung secara sembarangan, maka putri duyung itu akan merampas jiwa manusia dan menghapus ingatan mereka. 

"Omong kosong macam apa itu", ujar Tuan Yang tak percaya .

"Katanya, begitulah cara putri duyung mempertahakan diri melawan manusia. Ada juga para pelaut menjadi gila karena menyentuh putri duyung". 

Bagi Tuan Yang itu bukanlah menjadi masalah, karena ia tidak menggunakan tangannya untuk menyentuh putri duyung melainkan dengan menggunakan pedang. Seketika itu juga putri duyung yang semula tenang tiba - tiba menoleh kepada Tuan Yang. Melihat itu, Tuan Yang terkejut apa putri duyung mengerti apa yang mereka bicarakan barusan. 

Tuan Yang tak peduli, saat ini suasana hatinya sedang baik dan hendak mentraktir semua penduduk malam ini. Ia lalu bertanya pada asistennya, Sung Ga. Apa persiapan makanan untuk pesta malam ini sudah siap?. Sung Ga mengangguk mengiyakan. Tuan Yang lalu bertanya-tanya kapan walikota mereka yang baru akan datang.

Di tempat lain, Dam Ryung bersama rombongannya tampak menuju desa. Dialah walikota yang dibicarakan Tuan Yang. Dam Ryung tampak tenang berada di atas kudanya. Di tangan kanannya, tampak sebuah gelang giok.

Dam Ryung tiba malam hari, di sambut dengan tarian dan pesta yang di siapkan Tuan Yang. Tuan Yang menuangkan minuman kepada Dam Ryung sembari memuji dari sekian banyak walikota dan pejabat yang ada datang ke desa ini, Dam Ryung lah yang memiliki penampilan dan wajah paling tampan. 

"Benarkah?", tanya Dam Ryung ragu

"Ya", jawab Tuan Yang 

"Sewaktu aku belajar di Sungkyunkwan, aku tidak yakin dengan pendidikanku, tapi aku selalu peringkat pertama untuk penampilan. 'Lebih hebat dari orang lain,' atau 'agung dan besar,' yah seperti itulah", ucap Dam Ryung percaya diri. 

Tuan Yang tertawa, kali ini setengah mengejek dia berkata sayang sekali orang hebat seperti Dam Ryung sudah menduda di usianya yang masih muda.. (What..duda sekeren ini.... ). Tuan Yang yakin, Dam Ryung dapat melelehkan hati para wanita di pedesaan ini. 

Berganti topik pembicaraan, Tuan Yang bertanya apa Dam Ryung pernah mendengar tentang kabar soal putri duyung. Bangsawan lain menyahut, "Kata para nelayan, ketika putri duyung berada di daratan, ekornya berubah jadi kaki manusia. Ada juga yang bilang putri duyung menikah dengan seorang manusia". 

"Bukankah itu hanyalah dongeng, 'kan?. Meskipun ada rumor soal keberadaan putri duyung, tapi nyatanya tidak ada orang yang pernah melihatnya, jadi apa bedanya itu dengan cerita hantu yang menyebabkan orang menjadi gila?", ujar bangsawan lainnya. 

Dam Ryung hanya tersenyum kecil. Tuan Yang tertawa geli, "Benarkah seperti itu?. Hari ini adalah hari bahagia saat pejabat kota baru telah datang. Saya ingin menunjukkan pada kalian semua pemandangan yang sangat langka". 

Kemudian terlihat beberapa pelayan membawa obor untuk menerangi sekitar kolam. Perlahan, Tuan Yang membuka tirai untuk Dam Ryung. Dengan bangga dia memperlihatkan tangkapan besar yang ia punya.

Pandangan Dam Ryung dan putri duyung bertemu. Putri duyung memandang Dam Ryung dengan tatapan sedih. Dam Ryung terkejut dan iba melihat kondisi putri duyung yang tak berdaya dengan tangan terikat, dan beberapa nelayan menyodok-nyodok punggungnya dengan tongkat bambu.  

"Tuan, ini putri duyung sungguhan", ucap Tuan Yang, "Tidak seperti putri duyung yang diceritakan dalam dongeng-dongeng, tapi putri duyung sungguhan yang saya tangkap sendiri.".(Bohong amat yang nangkap nelayan kok)

Dam Ryung diam dan tampak tidak suka melihat cara mereka memperlakukan putri duyung. Ia berjalan turun dari balkon menuju jembatan dimana dia bisa melihat Shim Chung lebih dekat. Sembari berjalan, baik Dam Ryung dan putri duyung saling memandang.

"Kau, apa yang akan kau lakukan pada putri duyung itu?', tanya Dam Ryung tanpa melepaskan padangannya dari Shim Chung. 

"Ada api yang tidak pernah padam. Apa Tuan tahu rahasianya kenapa apinya tak pernah padam? Itu karena minyak dari putri duyung. Konon, minyak yang diekstrak dari putri duyung adalah kualitas minyak terbaik"

"Minyak ikan paus saja yang seharusnya menjadi minyak terbaik, tidak ada tandingannya dengan minyak putri duyung. Minyak putri duyung tidak pernah membusuk, walaupun kau sudah lama sekali mendiamkan minyak itu. Jadi inilah namanya nilai tidak bisa diuangkan"., jelas Tuan Yang panjang lebar".

Tuan Yang tertawa bangga, "Setelah melakukan tugas saya dan hidup dengan niat baik sepertinya nasib beruntung seperti ini datang menghampiriku". 

Dam Ryung yang tampak kesal langsung menyindir, "Menurut orang sepertimu yang melakukan tugas-tugasnya dan hidup dengan niat baik..., maaf kalau aku mengatakan hal ini tapi...". 

Tuan Yang tak mengerti apa maksud Dam Ryung. Dam Ryung menggerakan jarinya meminta Tuan Yang mendekat. Dam Ryung memberitahu kalau secara pribadi telah ia memeriksa latar belakang Tuan Yang sebelum di tugaskan di desa ini. Ia mengetahui Tuan Yang membayar 1000 nyang untuk mendapatkan posisi di pemerintahan. Tidak itu saja, Tuan Yang juga menarik pajak 3 kali lipat lebih besar dari para nelayan. 

"Itu tindak kejahatan yang sangat parah", ucap Dam Ryung menakuti, "Ah... Baru-baru ini, Yang Mulia Raja telah menyatakan bahwa barang siapa yang mencari keuntungan lewat pajak dan membuat warga menderita harus dihukum seberat-beratnya. Biasanya hukumannya 100 kali cambukan.. Ah, tapi kali ini sepertinya hukuman mati, sayang sekali. Ck..ck..ck..". 

Mendengar itu, Tuan Yang langsung ketakutan, "Kalau begitu, bisa Tuan jelaskan apa yang harus saya lakukan?. Maksud saya,  jika Tuan ada sebuah permintaan.... Maksud saya, apa saya yang Tuan inginkan", ucapnya menengok ke arah putri duyung. 

"Apa saja?", tanya Dam Ryung menegaskan. 

Tuan Yang tersenyum kembali melirik putri duyung, Ya. Apapun itu". 

"Apa saja", ucap Dam Ryung setengah tertawa, lalu menatap putri duyung dengan serius.

Kini, putri duyung tampak berenang di lautan. Dengan ekor emasnya, ia berenang kesana kemari. Dam Ryung yang berdiri diatas kapal menatap ke dalam laut.

Tuan Yang melihat hal itu dari pantai bersama salah satu pelayannya. Ia mengumpat Dam Ryung karena telah mempermalukannya, "Lihat saja, putri dan duyung itu tidak akan bertahan meski kembali kelautan. Aku pasti akan menangkap putri duyung itu dengan tanganku sendiri. Dan walikota naif itu, aku akan menyingkirkan dia dengan tanganku sendiri". 

Setelah berenang kesana kemari, Shim Chung muncul ke permukaan untuk melihat Dam Ryung.  Lalu  kembali menyelam dan berenang mendekati kapal dan kembali muncul ke permukaan. Dam Ryung dan putri duyung saling bertatapan. Secara perlahan dan penuh harap putri duyung mengulurkan tangannya pada Dam Ryung. 

Tuan Yang menunjukan kearah lautan, bertanya apa yang di lakukan putri duyung itu. Apa dia berencana menyeret Dam Ryung ke dalam lautan, merampas jiwa dan menghapus ingatannya.

"Konon, putri duyung hanya menghapus ingatan yang ingin mereka hapus. Namun, alangkah lebih baik jika tidak meraih tangan itu. Dunia yang ditempati manusia dan putri duyung jelas berbeda,  entah itu takdir yang baik atau buruk,. Apa gunanya mengikat hubungan seperti itu?", jelas pelayan. 

Dam Ryung terdiam sesaat menatap putri duyung. Sebelum akhirnya secara perlahan namun pasti, ia mengulurkan tangannya dan meraih tangan putri duyung 

Takdir apa yang akan terjalin pada mereka?????

 = Legenda Laut Biru =
Seoul, 2016.

Pria berwajah tampan, Heo Joon Jae berada di dalam bis bersama penumpang lainnya. Tak lama lagi bis akan tiba di halte bis. Seorang gadis kecil berwajah manis berkata pada ibunya akan menekan tombol tanda berhenti bis. Penumpang lain yang mendengarnya tesenyum tampak menyukai gadis kecil tersebut.

Gadis kecil tersebut mengulurkan tangan hendak menekan tombol berhenti bis yang berada di atas kepalanya. Secara tiba-tiba, Joon Jae menekan tombol tersebut lebih dulu. Ia tampak cuek meski gadis kecil itu mendelik padanya. Tanpa merasa bersalah Joon Jae menyuruput minumannya dan turun dari bis.

Di hari lain, Joon Jae yang berprofesi sebagai penipu jenius melancarkan aksinya. Pada wanita yang ia temui di bar, Joon Jae mengaku sebagai pengacara bernama Kim Myung Hoon. Tak lupa ia memberikan kartu nama palsu.

Joon Jae membuat wanita tersebut terkesan dengan menunjukan keahliannya dalam bermain sulap. Dari punggung wanita tersebut, Joon Jae menemukan bunga dari kertas yang kemudian di bakar dan tring....menjadi setangkai mawar merah yang ia hadiahkan untuk wanita itu.

Dalam aksi lainnya, Joon Jae menyamar sebagai pria berpenampilan culun bernama Nam In Joong, yang ingin membeli barang antik curian. Tanpa sepengetahuan penjual, dengan kecepatan tangannya Joon Jae menyembunyikan perjanjian jual beli yang baru saja ia stempel.

Dibantu Jo Nam Doo, Joon Jae berhasil mendapatkan guci antik setelah menunjukan koper berisi uang kepada penjual. Penjual yang merasa nilainya uangnya sesuai dengan perjanjian menutup koper tersebut. Joon Jae dan Nam Doo keluar ruangan dan saling memberi kode.

Tapi, begitu penjual kembali membuka koper untuk melihat uang, tumpukan uang itu langsung terbakar dan menjadi setangkai mawar merah.

Dalam menjalankan aksi penipuan, Joon Jae tidak sendirian. Dia dibantu Jo Nam Doo sang perencana dan Tae Oh, ahli IT. Berbeda dengan Nam Doo yang banyak bicara, Tae Oh cenderung pendiam dan lebih banyak berkutat dengan gadgetnya. Kombinasi yang baik ini, membuat mereka selalu sukses saat beroperasi.

Nam Doo berkata Joon Jae itu seperti Harry Potter versi penipu. Nam Doo kemudian mengoreksi perkataanya. Joon Jae lebih hebat dari Harry Potter karena lebih tampan. Joon Jae membenarkan, tentu saja ia lebih tampan. (iya deh... oppa lebih tampan. ^-^)

Aksi selanjutnya mereka berusaha untuk masuk ke kantor Jaksa Umum. Menggunakan penyadap, Nam Doo mengetahui kalau lift di kantor kejaksaaan sedang rusak dan meminta petugas untuk memperbaiki. Mendapat kesempatan tersebut, Nam Doo membangunkan Joon Jae yang tetidur.

Menyamar sebagai pekerja service lift, ketiganya masuk ke kantor kejaksaan. Mereka menaiki eskalator. Joon Jae menyembunyikan wajahnya ketika berpapasan dengan jaksa umum yang keluar untuk makan siang.

Dengan model baju  dan perlengkapan yang mereka bawa. Security mengira mereka petugas service lift. Mereka bertiga berjalan melewati security tanpa pemeriksaan. Hampir saja mereka lolos, sampai salah satu security yang tampak curiga menghentikan langkah mereka. Security tersebut bertanya dimana petugas Go yang biasa datang memperbaiki lift.

Sempat mematung sesaat, ketiganya menoleh melihat security itu. Joon Jae mulai mengendalikan situasi. Dengan ilmu sains otak yang ia kuasai, Joon Jae bertindak cepat. Ia menatap tajam dan mulai menganalisa security. Dari warna mata, postur dan suhu tubuh serta detak jantung, Joon Jae menilai security sangat sensitif terhadap hipnotis.

"Ah. Petugas Go", ucap Joon Jae sembari mengeluarkan pematik lalu memainkannya di tangan.

Mata security memperhatikan tangan Joon Jae yang memutar pematik secara berulang - ulang. Ia tidak tahu kalau Joon Jae berusaha menghipnotisnya. Api keluar ketika penutup pematik terbuka, saat itulah security jatuh ke dalam hipnotis Joon Jae.

"Dia datang. Di sebelah sana", ucap Joon Jae menatap tajam. Tangannya yang memegang pematik menggiring arah pandang security menuju lift. Nam Doo dan Tae Oh tampak tegang.

Dalam pengaruh hipnotis, Security melihat kearah lift dan melihat petugas Go yang ia tanyakan. Security beralasan tidak mengenali petugas Go karena hari ini petugas Go memakai kacamata. Setelah kecurigaannya lenyap, Security mempersilahkan ketiganya pergi.

Sesungguhnya petugas Go berkacamata yang di lihat security adalah wanita berkacamata yang tengah menunggu lift. Joon Jae menyapa wanita tersebut memberi tahu kalau lift sedang rusak.

Joon Jae dan Nam Doo pergi ke ruang jaksa penuntut dan membuka pakaian petugas mereka berganti menjadi pakaian kerja ala kantor. Joon Jae menyamar sebagai jaksa penuntut . Nam Doo sebagai asisten jaksa. Agar terlihat meyakinkan, Joon Jae mengganti foto jaksa asli di meja dengan fotonya. Sebagai pelengkap, Nam Doo memberikan ID Card untuk Joon Jae.

Tae Oh pergi ke atap gedung. Sang ahli IT ini mulai membajak sistem guna melancarkan aksi mereka.

Ny. Jang Jin Ok dan asistennya Han Sung Tae berjalan melewati security. Mereka menuju kantor jaksa tanpa mengetahui kalau mereka akan menjadi target penipuan dan jaksa yang akan mereka temui adalah jaksa palsu.

Nam Doo pura - pura menelpon ketika Tuan Han dan Ny. Jang masuk ke ruangan. Joon Jae berlagak sibuk memeriksa dokumen. Nam Doo mengakhiri pembicaraanya di telepon dan mempersilahkan sepasang suami istri tersebut untuk duduk. Ia buru-buru membereskan tumpukan file di meja saat Ceo Han ingin melihat file tersebut.

Nam Doo berlagak memperkenalkan Ceo Han dan Ny. Jang pada Joon Jae. Ny. Jang adalah pemilik Myungdong Capital. Nam Doo menjelaskan sebuah insiden yang terjadi di SMA Gangnam. Ada seorang murid yang bunuh diri dan meninggalkan surat bunuh diri dengan mencantumkan nama putera Ny. Jang.

Cameo : Kim Sung Ryung (pemeran Ny. Han, ibu Kim Tan (Lee Min Ho) di The Heirs. 

"Dia memang gila", ucap Ny. Jang menyalahkan korban, "Kalau dia mau mati, harusnya dia mati saja sendirian. Kenapa dia menulis nama anakku di surat itu?. Kenapa anakku harus mengalami hal ini karena ada orang gila mati?", ucapnya tanpa perasaan. (Btw, Nyonya nama anaknya bukan Kim Tan, kan?...)

Dari atas atap, Tae Oh mengamati jaksa umum asli yang berdiri di zebra cross, hendak menyebarang dan kembali ke kantor. Tae Oh telah mengantisipasi hal ini dengan membajak lampu lalu lintas. Lampu penyebrangan yang semula hijau tiba-tiba berubah merah. Jaksa umum berserta stafnya kebingungan dan buru-buru melangkah mundur kembali ke trotoar.

Ny. Jang mengomel dan tidak terima kenapa anaknya disangkut pautkan dengan masalah ini. Terlebih puteranya akan segera mengikuti ujian masuk perguruan tinggi. Sekarang adalah waktu terpenting untuk menjaga kesehatan mentalnya. Joon Jae melepas kaca mata yang bertengger di hidung mancungnya. Dari tatapannya ia tampak tidak suka dengan perkataan Ny. Jang.

Tae Oh memberi peringatan Joon Jae dan Nam Doo untuk segera keluar ruangan dalam waktu satu menit. Pemilik ruangan itu akan segera kembali. Sementara itu ia akan berusaha menghambat perjalanan jaksa asli dengan membuat lampu penyebrangan selalu merah.

Mendapat peringatan, buru-buru Joon Jae dan Nam Doo mengajak Ceo Han dan Ny. Jang untuk keluar makan siang. Di dalam lift, Joon Jae berkata mengerti permasalahan Ny. Jang namun tak banyak yang bisa ia perbuat. Ny. Jang meminta Joon Jae untuk membersihkan nama baik puteranya. Setengah berbisik Ny. Jang memamerkan akun rahasia yang ia miliki di Virgin Island.

Joon Jae mengaku tidak tertarik. Ny. Jang kaget. Menurut Joon Jae Virgin Island tidaklah terlalu bagus. Itu tempat bebas pajak yang seharusnya menjadi tempat rahasia tapi kenapa banyak yang mengetahuinya. Apa Ny. Jang pikir bisa bersembunyi di tempat seramai itu?. Ny. Jang tampak ketakutan dan setuju dengan pendapat Joon Jae.

Pintu lift terbuka, Ny. Jang mengekor kemana Joon Jae pergi. Saat keluar gedung, mereka melewati mobil polisi yang membawa seorang tersangka. Tersangka itu digiring polisi masuk ke dalam kantor jaksa dalam keadaan tangan terborgol.

Orang itu berwajah mirip dengan Tuan Yang atau mungkin reinkarnasi Tuan Yang. Meski sekilas ia sempat melihat rombongan Joon Jae dan tampak familiar dengan wajah Joon Jae meski Joon Jae tidak melihat kearahnya.

Joon Jae memberi saran Ny. Jang untuk memindahkan akun rahasianya dan bersembunyi saja. Ia tahu tempat yang cukup keren. Dimana itu, tanya Ny. Jang terpancing umpan.

"Pulau di Laut Mediterania. Katanya pemandangannya sangat menakjubkan di sana", jawab Joon Jae meyakinkan.

Kini, Joon Jae, Nam Doo dan Tae Oh berada di bandara. Mereka membawa tas besar seperti hendak bepergian. Nam Doo sempat berbicara di telepon dengan Ny. Jang, berbohong dengan mengatakan telah memeriksa jumlah akun. Ia berusaha meyakinkan kalau dana Ny. Jang berada di tempat yang aman dan mereka sekarang berada di pihak yang sama.

Jabatan jaksa umum menjadi taruhannya jika dana tersebut sampai terungkap. Jika hal buruk itu terjadi, maka perusahaan Ny. Jang akan bangkrut dan akan di periksa tim audit. Di akhir percakapan, Nam Doo mendoakan agar putera Ny. Jang lulus ujian masuk perguruan tinggi.

Beberapa gadis tampak terpesona dengan Joon Jae, cs yang memang tampak keren. Diantara mereka ada yang berusaha mendekat tapi di halangi oleh temannya. Nam Doo merasa sangat senang rencana mereka sukses. Sudah lama ia memimpikan hidup seperti ini (memiliki banyak uang dan hidup nyaman).

Tanpa berkata apapun, Tae Oh memasang headphone dan melangkah pergi sesuai tujuannya.  Joon Jae protes, "Hei!. Kau tak mau mengucapkan salam perpisahan". Tae Oh menanggapinya hanya dengan lambaian tangan tanpa menoleh. 

Joon Jae ngedumel. Nam Doo meminta Joon Jae untuk membiarkan Tae Oh, "Biarkan saja dia, dia tidak tahu caranya mengucapkan salam perpisahan tapi dia bisa membuka pintu dalam 2 detik".

"Aku benci kalau dia pergi tanpa mengucapkan salam perpisahan", omel Joon Jae melangkah pergi meninggalkan Nam Doo tanpa berpamitan.

Giliran Nam Doo yang mengomel melihat tingkah laku Joon Jae, "Kau sendiri?. Perilakumu itulah yang paling parah dibandingkan Tae Oh". Mereka berpisah sesuai tujuan masing-masing.

(Cameo: Krystal Jung, pemeran Lee Bo Na di The Heirs)

Joon Jae pergi berlibur sendirian. Di kelas penerbangan bisnis, ia berkenalan dengan pramugari cantik bernama Min Jin. Joon Jae mengaku sebagai herbalis dan menerangkan sebuah buku yang di tulis oleh tabib kerajaan jaman Joseon.

Dengan gaya meyakinkan, Joon Jae bilang kalau keringat adalah cairan dari hati. Karena ada banyak keringat di tangan Min Ji, itu menandakan mungkin ada masalah pada hati Min Ji.

Min Ji tampak mempercayai perkataan Joon Jae. Seorang herbalis pasti bisa langsung tahu dengan sekali melihat. Joon Jae tersenyum, "Ini memang risiko pekerjaanku. Aku hanya ingin istirahat selama hari liburku. Tapi dari aspek humanisme, aku tidak bisa mendiamkan keadaan yang membutuh bantuanku".

"Anda pasti pria penuh kasih sayang", ucap Min Ji terpesona pada pria tampan dan cerdas di depannya.

Terdengar suara pemberitahuan kalau pesawat akan sebentar lagi akan mendarat. Min Ji membuka tutup jendela pesawat. Tampak kumpulan awan di seberang pesawat dan di bawahnya terlihat lautan luas.

"Indah bukan?. Indah, bukan?. Saya sudah ke beberapa negara. tapi tidak ada tempat yang sebanding dengan keindahan lautan di sini".

Joon Jae menoleh ke jendela dan membenarkan. Min Ji berkata sewaktu pertama kali datang ke tempat ini, ia mendengar cerita dari kakek yang merupakan penduduk asli. Menurut cerita kakek itu ada putri duyung yang masih hidup di perairan ini.

Joon Jae tersenyum tak percaya. Min Ji mencoba menyakinkan dengan melanjutkan ceritanya, "Dulu, putri duyung hidup di setiap bagian bawah laut tapi sekarang kebanyakan dari mereka telah menghilang dan kabarnya, putri duyung terakhir yang bertahan di Bumi ini, hidup di laut ini".

Scene kemudian beralih ke lautan yang tampak indah, tempat hidup para ikan dan hewan laut lainnya. Apa yang di ceritakan Min Ji memang benar adanya. Terlihat beberapa ikan duyung berenang dengan tenang. Salah satu diantara mereka adalah putri duyung yang wajahnya mirip dengan putri duyung yang ditangkap nelayan 400 tahun lalu. Putri duyung memisahkan diri dari teman-temannya ketika melihat benda berkilauan di dasar laut.

Shim Chung berenang semakin dalam melewati bebatuan. Tangannya terulur berusaha meraih benda itu yang terselip di rongga bebatuan. Ternyata benda itu adalah gelang giok dengan hiasan emas di tengahnya. Gelang yang sama dengan milik Dam Ryung, atau mungkin itu memang gelang Dam Ryung. Putri duyung tersenyum mengamati benda tersebut.

Shim Chung berenang ke permukaan dengan membawa gelang giok. Ia menatap kumpulan awan di atas langit dan terangnya sinar matahari. Ia tersenyum melihat keindahan gelang giok berwarna hijau itu lalu memakainya di tangan kiri. Tak Jauh dari tempat Shim Chung, ada kapal pesiar yang tengah berlayar.

Seorang anak kecil takjub melihat Shim Chung dan memberitahu ibunya ada putri duyung di laut. Ibu anak itu sibuk bercerita dan tidak mempercayai anaknya. Ia mengira anaknya sedang berimajinasi karena pernah mendengar cerita dongeng putri duyung yang ia bacakan.

Shim Chung tersenyum pada anak kecil itu dan kembali berenang ke dalam laut. Anak kecil itu juga tersenyum sembari menunjuk ke dalam lautan. Laut yang mula tenang tiba-tiba bergejolak. Shim Chum melihat kumpulan ikan-ikan berenang menjauh berbalik arah.

Disaat bersamaan, Joon Jae yang kini sudah berada di hotel, duduk melamun diatas bebatuan yang mengadap ke lautan lepas. Sesekali ia meneguk minumannya. Dari permukaan laut tampak tenang. Awan mendung menutupi langit.

Shim Chung berusaha berenang menjauhi badai yang terjadi di dalam laut. Tapi, ia justru terseret arus air yang sangat deras. Shim Chum tidak sadarkan diri saat ombak menghempaskanya ke atas bebatuan pantai.

Shim Chung terbangun dan melihat sekeliling yang tampak asing. Meski berada di tempat asing, ia tidak merasa takut. Sebaliknya putri duyung itu justru merasa penasaran dan mengintip dari balik tembok batu. Di depannya, ia melihat kolam renang yang terpisah dengan laut.

Putri duyung bergerak untuk melihat lebih dekat yang membuatnya berada di pinggir kolam. Saat melangkah, Shim Chung menyadari ada yang berubah pada dirinya. Ia melihat kebawah dan memekik terkejut melihat kor yang ia miliki telah berganti menjadi sepasang kaki.

Air kolam memantulkan bayangan sepasang kaki yang ia miliki. Shim Chung menggerak-gerakan kakinya, lalu terjun ke dalam kolam. Di dalam air, kaki Shim Chung kembali berubah menjadi ekor duyung. Ia tampak senang berenang ke sana kemari sembari memainkan ekornya.

Joon Jae keluar dari kamar, tampangnya seperti orang yang mengantuk berat. Dengan mata setengah tertutup, Joon Jae berjalan menuju bebatuan dekat kolam. Shim Chung langsung bersembunyi ke dalam air begitu melihat Joon Jae.

Saat Joon Jae tidak melihat, Shim Chung mengamati Joon Jae yang  merenggangkan tangan dan menguap lebar. Joon Jae berbalik melihat kolam yang berada di belakangnya, Shim Chung langsung menarik diri masuk ke dalam kolam, dan kembali muncul di permukaan, saat Joon Jae berjalan menjauh.

Di tengah lautan, ikan lumba - lumba berenang bersama kelompoknya. Di sisi lain, terlihat kumpulan putri duyung yang juga berenang. Beberapa diantara mereka muncul ke permukaan. Mungkin mereka telah menyadari salah satu teman mereka menghilang.

Joon Jae terbangun terkejut mendengar kegaduhan dari ruangan sebelah, "Siapa itu?. Apa itu?", tanyanya waspada. Dengan langkah pelan, Joon Jae pergi keruangan itu untuk melihat keadaan. Ia heran kenapa berantakan sekali, sisa makanan berserakan di mana-mana.

Joon Jae memunggut kulit pisang yang teronggok di lantai lalu menelusuri jejak sisa makanan yang membawanya ke ruang ganti. Tak jauh berbeda dengan keadaan ruang tamu, ruang ganti juga berantakan. Pakaian Joon Jae berserakan di sana sini. Sambil menggerutu ia memungguti pakaiaanya.

Ketika hendak meletakan pakaiannya di lemari. Ia melihat sepasang kaki manusia diantara pakaiannya. Joon Jae berteriak kaget dan melompat ke belakang. Perlahan-lahan Joon Jae mendekati lemari, tangannya terulur bergetar hendak menyibak pakaian dan tampaklah wajah putri duyung.

Giliran putri duyung yang terkejut karena ketahuan. Buru-buru ia menyembunyikan wajahnya di balik pakaian Joon Jae yang lain. (hahaha). Mulutnya belepotan sisa makanan.

Joon Jae menarik napas lega, pikirnya wanita di depannya itu tidak berbahaya. Joon Jae bertanya siapa kau. Putri duyung diam saja dan sedikit mengintip

"Ku tanya siapa kau?. dan kenapa ada disini!. Apa kau orang Cina? Jepang?. Tidak... kau sepertinya orang Korea".

Putri duyung  hanya manggap menganggapi perkataan Joon Jae... Hahaha.. ekspresinya sesuatu banget...

Joon Jae mengomel ketika menyadari si penyusup memakai baju favoritnya. Joon Jae kesal dan setengah berteriak mengeluh keamanan hotel yang payah.

Putri duyung  yang kaget mendengar teriakan Joon Jae langsung mengepalkan tinju. Joon Jae berkata kalau pakaian itu miliknya, ia mendekat hendak menyentuh tapi putri duyung lebih dulu menendangnya.

Wah, tenaga putri duyung itu sungguh besar hingga membuat Joon Jae terlempar jauh dan mendarat ke lantai dengan keras. Ouch...pasti sakit.

Tanpa wajah berdosa, Putri duyung menggantungkan kembali hanger pakaiannya yang terlepas dan menyembunyikan dirinya diantara baju-baju yang tergantung.

Joon Jae berdiri, "Jadi kau menendang orang di saat mereka tidak lihat ke arahmu?".

Putri duyung  kembali mengepalkan tinju dan melotot ke arah Joon Jae. Joon Jae makin kesal, " Kau pikir kau itu siapa!. Menatapku seperti itu!".

Joon Jae melihat Putri duyung mengenggam sesuatu di tangannya. Ia bertanya apa itu dan menyuruh Putri duyung untuk membuka genggamannya dan menyerahkan apa yang dia pegang. Karena Shim Chum diam saja, Joon Jae memaksa dan mengguncang tubuh Putri duyung . Tapi itu malah membuat Shim Chum kembali menendangnya.

Kali ini tendangan Putri duyung lebih kuat dari sebelumnya. Tubuh Joon Jae terlempar cukup jauh dan mendarat di.....sofa. Meski mendarat di sofa, tetap saja Joon Jae merasa kesakitan terutama di bagian leher.

Joon Jae tertawa untuk menutupi rasa malunya karena dikalahkan wanita yang ia kira  lemah. Ia menggerakan lehernya yang sakit. Joon Jae beralasan belum sempat merenggangkan tubuhnya karena masih pagi, tapi sekarang tubuhnya sudah meregang semua dan siap melawan.

Tapi Joon Jae langsung mundur ketakutan begitu melihat Putri duyung keluar dari kamar gandi dengan mengepalkan tinju. Joon Jae beralasan meski ia telah siap, tapi ia tidak ingin berkelahi di pagi hari. Joon Jae hanya minta Putri duyung menyerahkan apa yang ada di genggamannya.

JikaPutri duyung menyerahkan apa yang dia ambil, maka Joon Jae akan mengganggap hal ini tidak pernah terjadi. Joon Jae tanya apa sih yang Putri duyung ambil, cincin?. jam tangan?. Sementara Joon Jae mengoceh, Putri duyung melihat ke luar jendela dan melihat lautan yang terhampar luas di depannya.

Melihat laut yang merupakan tempat tinggalnya, Putri duyung langsung berlari kencang ke arah jendela. Mungkin ia mengira bisa melarikan diri dan kembali berenang ke laut. Tapi... yang terjadi......

"Bruk.....", Putri duyung menabrak jendela. Joon Jae melongo melihat Shim Chum yang menempel di kaca seperti cicak, lalu jatuh kebelakang dan pingsan... (wkwkwk).

Joon Jae mendekat memeriksa kondisi Putri duyung . Ia heran melihat tingkah wanita itu dan berguman sendiri, "Kalau kau itu gila, letakkan saja bunga di kepalamu. Kenapa kau membuat orang jadi bingung".

Joon Jae mengikat Putri duyung selagi penyursup itu pingsan. Saat Shim Chum sadar, Joon Jae menelepon ke pihak hotel untuk menghubungi polisi bahwa ada penyusup menerobos masuk keruangannya.

Putri duyung  kebingungan mendapati tangannya yang terikat. Sembari menambah ikatan di tubuh Putri duyung , Joon Jae mengomeli wanita itu. Karena sudah tertangkap basah menerobos masuk keruangan orang lain, Joon Jae menyuruh Putri duyung untuk mengucapkan "Sumimasen" (pada saat di interogasi polisi) dan jangan mempermalukan negara mereka.

Joon Jae bertanya apa Putri duyung mengerti. Shim Chun tidak menghiraukan Joon Jae, entah ia mengerti atau tidak dengan perkataan pria itu. Merasa di cuekin, Joon Jae menyuruh Putri duyung untuk mengulangi perkataannya.

"Su-mi-ma-sen" (maaf dalam bahasa jepang).

Joon Jae memotret tangan dan wajah Putri duyung , berjaga - jaga jika wanita itu mencoba kabur. Joon Jae masih penasaran, apa yang sebenarnya Putri duyung curi.

Ia berusaha membuka kepalan tangan Putri duyung. Putri duyung yang tidak mau menyerahkan barang curiannya, menggengam tangannya lebih erat. Joon Jae berusaha menarik satu persatu jari Putri duyung dan tampaklah apa yang diambil putri duyung itu. Buah cerry.

Joon Jae tertawa tak percaya bukan barang mahal yang dicuri si penyusup melainkan hanya buah cerry. Joon Jae membuang buah itu ke lantai, dan dengan cepat Putri duyung memungut dan memakannya. Sembari mengunyah, Putri duyung melihat sekeliling seperti mencari jalan bagaimana bisa kabur dari tempat ini. 

Polisi datang bersama staf hotel. Perwakilan dari hotel menyampaikan permintaan maaf atas ketedoran mereka. Mereka berkomunikasi menggunakan bahasa inggris. Di depan pihak hotel Joon Jae berlagak seakan tidak apa - apa. Padahal dia mengeluh dalam bahasa korea betapa payahnya keamanan di hotel ini.

Joon Jae melihat polisi memakaikan borgol ke tangan Putri duyung . Joon Jae yang merasa tidak nyaman melihatnya bertanya perlukah mereka memborgol wanita itu?. Polisi mennjawab Putri duyung harus di borgol agar tidak kabur. Sebelum polisi pergi Joon Jae memberikan keterangan kalau Putri duyung tidak mencuri apapun.

Polisi menyebut Joon Jae beruntung karena penyusup lebih dulu di tangkap sebelum mencuri apapun. Akhir-akhir ini polisi banyak menerima laporan pencurian di sekitar hotel. (wah.... keamanan hotel benar-benar buruk).

Karena Putri duyung sudah tertangkap, polisi akan menjadikanya tersangka utama kasus pencurian yang terjadi belakangan ini. Mendengar itu Joon Jae ngedumel dalam bahasa korea. Tersangka utama apanya. Sekali lihat saja Joon Jae sudah bisa menilai kalau Putri duyung agak tidak waras.

Putri duyung yang tetap diam tidak berbicara tampak kebingungan, dia melihat kesana kemari seperti mencari jalan untuk kembali ke lautan. Polisi lalu membawa Putri duyung pergi. Sesaat Putri duyung dan Joon Jae saling bertatapan. Joon Jae merasa iba ketika melihat kaki Putri duyung yang lecet-lecet dan tidak memakai sandal. Entah merasa bersalah atau tidak enak, Joon Jae mengacak rambutnya menghalau perasaan iba yang timbul dalam hatinya.

Joon Jae masuk ke dalam rumah dan menghempaskan tubuhnya ke atas sofa. Ia melihat foto-foto putri duyung yang tersimpan di ponselnya. Saat melihat wajah putri duyung Joon Jae menggeleng pelan masih berpikir kalau wanita itu gila. Lalu ia melihat foto tangan putri duyung yang terikat.

Pandangan Joon Jae berfokus pada gelang giok yang di pakai putri duyung. Ia memperbesar foto itu untuk melihat lebih jelas. Dan dengan keahliannya, Joon Jae yakin kalau gelang yang di pakai Putri duyung bukanlah benda sembarangan.

Lanjut ke Part 2

No comments:

Post a Comment

Thanks sudah mampir di blog saya, jangan lupa tinggalkan komentar ya...Trims....:)