Pages - Menu

Wednesday, September 04, 2013

Sinopsis A Hundred Years Inheritance Episode 29 Part 2

Do Hee dan Kang Sook melakukan aksi protes, menolak keikutsertaan Choon Hee dalam kompetisi. Mereka berdua mengikat kepala mereka dan duduk diam seperti patung. Untuk menahan udara malam, mereka memakai jaket dengan penutup kepala. Kakek dan nenek berdiri menyaksikan. Kang Sook berkata bahkan bisa mencukur rambutnya sebagai aksi protes, dan akan terus melakukan aksi protes ini sampai tuntutan mereka di penuhi.

Nenek tanya dimana Ki Moon dan Ki Choon. Kang Sook menjawab mereka berdua tidak bisa menerimanya jadi keluar untuk minum-minum. Nenek tanya kenapa kakek diam saja, setidaknya katakanlah sesuatu. Kakek tetap diam tanpa merespon. 

Ki Ok pulang ke rumah mie bersama Kang Jin. Hyo Dong dan Choon Hee keluar kamar. Kang Jin membawa makanan laut, dan mengajak Hyo Dong minum. Hyo Dong menolak, ini bukan saatnya untuk minum. Hyo Dong mengajak Choon Hee ke halaman belakang. Ki Ok dan Kang Jin bingung, "Apa terjadi sesuatu?. Apa yang terjadi?".

Kembali ke aksi protes menantu Uhm. Do Hee berkata ini adalah usaha keluarga dari tradisi 100 tahun. Kami tidak ingin sembarang orang mengambil alih. Kang Sook membenarkan. "Sampai ayah menarik keputusan, kami akan terus melanjutkan protes kami tanpa bergerak sedikitpun".

Hyo Dong dan Choon Hee datang. Do Hee menyindir seperti satu paku mendorong keluar paku yang lain. Choon Hee tak habis pikir dengan tingkah aneh Do Hee dan Kang Sook. Ia minta mereka berdua menghentikan aksi gila ini dan mengajaknya bicara, yang mereka lakukan ini hanya membuat kakek dan nenek khawatir.

"Sungguh menantu yang berbakti", sindir Kang Sook. 

(Lama-lama kesel juga liat tingkah Kang Sook dan Do Hee ini. Yang mereka pikiran hanya warisan 10 milyar. Jika tidak ada warisan, pasti mereka tidak akan mau menyentuh mie sedikit pun). 

Kang Jin dan Ki Ok menyusul kebelakang. Ki Ok heran, kenapa kalian duduk disini, apa yang terjadi?. Kang Sook tanya darimana saja Ki Ok seharian ini, kami tidak bisa menghubungimu. Ki Ok berkata ia meninggalkan ponselnya dirumah, jadi apa yang terjadi?. 

Do Hee minta Kang Jin dan Ki Ok ikut duduk bersama mereka. Kang Sook memberitahu kalau Choon Hee mengumumkan bahwa dia akan mengikuti kompetisi. Ki Ok kaget, "Apa?. Tidak boleh". Do Hee menyahut tentu saja tidak boleh. "Kami baru saja memulai aksi protes. Ayo duduklah bersama kami".

Ki Ok bersiap duduk. Kang Jin melarang, "Tidak. Wanita seharusnya tidak duduk di tanah yang dingin. Aku akan mengambil tempatmu". Kang Jin mengambil ikat kepala, mengambil tempat duduk di samping Kang Sook.

Kang Jin mulai memprovokasi, meneriakan yel-yel, "Tepati janjimu!".
Di ikuti Kang Sook dan Do Hee. "Tepati janjimu!. Tepati janjimu!". 
"Tolak Choon Hee dalam kompetisi!. Tolak Choon Hee!. Tolak Choon Hee!".

Nenek kehilangan kesabaran, "Apa yang kau lakukan!. Apa kau tidak bisa berhenti?". 

Kang Jin beryel-yel lagi, "Tarik keputusannya!". yang lainya mengikuti, "Tarik keputusannya!. Tarik keputusannya!". 

Nenek tidak tahan, "Ini membuatku pusing". "Tolong hentikan mereka. Aku merasa mual", pinta nenek ke kakek.

Kakek akhirnya membuka suara, "Jika kalian memaksa, aku akan menarik keputusanku!".





Kang Sook dan Do Hee teriak girang, "Ya! Terima kasih, Ayah!". 

Tapi tunggu dulu, kakek belum selesai bicara, "Sebagai ganti karena mengeluarkan Choon Hee dari kompetisi, aku akan mendonasikan tanah senilai 10 milyar pada masyarakat".

Senyum Do Hee dan Kang Sook hilang seketika, berganti dengan wajah terkejut , "APA!. Tidak boleh". 

Kakek melanjutkan, pemenanganya hanya akan mengambil alih pabrik mie. "Bubar". Kakek masuk ke dalam. Kang Sook dan Do Hee memanggil "ayah". Nenek ikut geram dengan 2 menantunya, "Bubar, dia bilang!". Nenek menyusul masuk ke dalam. 

Kang Sook, Do Hee dan Ki Ok menyusul kakek ke dalam, berusaha mengubah keputusan kakek. Hanya mendapatkan pabrik mie saja tanpa warisan 10 milyar bukanlah seperti yang mereka inginkan.

Choon Hee marah pada Kang Jin, "Aku tidak kau kalau kau akan menyerangku. Teganya kau berpihak pada mereka dan mengkhianati temanmu?".

"Bukan begitu. Aku tidak berpihak pada mereka...". 

Choon Hee memotong, "Meskipun kau mengejar uang, kau tidak boleh melakukan ini padaku". Hyo Dong mengajak Choon Hee masuk ke dalam. Tinggal Kang Jin sendirian. Ia bicara sendiri, "Apa aku berlebihan?". 

Joo Ri berdiri di depan pagar rumah sepanjang malam, menunggu Se Yoon pulang. Se Yoon berusaha menghindar dengan mengatakan ini sudah larut malam, lebih baik bicara besok saja. Joo Ri mengaku semua ini kesalahannya dan meminta maaf. Se Yoon tidak percaya begitu saja, "Seberapa banyak kata-katamu yang benar?. Kau mungkin sudah memenangkan hati orangtuaku, tapi aku tidak semudah itu".

"Sunbae!", Joo Ri menangis.

"Kurasa aku sudah salah menilaimu. Dulu kupikir kau adalah gadis. dengan hati yang lembut, yang rela menyerahkan cintanya demi persahabatan. Tapi ternyata...Se Yoon diam sejenak, "Hentikan". Se Yoon enggan melanjutkan. 

Joo Ri terisak, "Meskipun jika semuanya adalah palsu, tapi cintaku padamu adalah benar. Percaya padaku. Aku tahu kau pasti sudah kecewa terhadapku, tapi tidak bisakah kau lihat betapa putus asanya aku terhadapmu?".

"Aku masih kacau. Kita bicara nanti setelah aku menjernihkan pikiranku. Jaga dirimu". Se Yoon membuka pintu pagar melangkah masuk, meninggalakan Joo Ri sendirian diluar. 

Joo Ri terkejut mendapat perlakuan dingin dari Se Yoon, "Dia pasti sangat kecewa padaku. Apa yang harus kulakukan... Apa yang harus kulakukan sekarang...". 

Chae Won berdiri di depan pintu gerbang, memandangi langit malam. Ia ingat perkataan Se Yoon kalau ia bisa saja membersihkan namanya.

Chae Won berkata dalam hati, "Jika bukan karena Se Yoon, aku mungkin telah membuat alasan. Kupikir dia bisa memahamiku lebih dari orang lain, tapi...
Mungkin aku merasa dikecewakan dan dikhianati...Kenapa kau berpikir dia itu istimewa?. Chae Won, kau konyol".

Joo Ri mencoba gaun yang akan ia kenakan di hari pertunangan. Wajahnya murung tidak bersemangat. Pegawai butik berkata berat badan Joo Ri turun, pastilah itu karena dia sangat sibuk mempersiapkan pertunangan. Kurasa aku harus memperkecil pinggangnya.

Young Ja komentar, "Tidak heran dia kehilangan berat badannya. Mengurus hal-hal dari A sampai Z, dia merencanakan semua persiapannya. Tidak masalah kalau pihak pengantin wanita yang mengatur pertunangannya. Tapi tidak ada kemunculan dari pengantin pria?. Ini tidak benar".

"Ibu!", tegur Joo Ri. 

"Baiklah", Young Ja diam. 

Pegawai butik tanya, apa tunanganmu sudah mengambil tuxedonya?. Joo Ri menjawab dia yang akan mengurusnya.

 "Aigo", Young Ja tidak tahan jika tidak berkomentar, "Sungguh budak cinta. Dia mengambil cincinnya sendiri, dia mengambil gaunnya sendiri. Apa dia akan bertunangan dengan dirinya sendiri atau apa? Dia memuakkan".

Joo Ri berbalik, meletakkan telunjuk di bibir, "Ibu, Tolong!". 

"Baik, Ibu akan diam", sahut Young Ja dengan wajah tidak suka. 

Sol Joo kembali mendesak Se Yoon. Se Yoon mengulang perkataannya, berikan aku wanitu untuk memikirkannya. Sol Joo bilang Se Yoon bisa memikirkannya lagi setelah pertunangan, "Kau setuju untuk bertunangan dengannya".

Se Yoon membenarkan, "Ya. itu benar. Tapi pikiranku masih kacau, dan aku tidak bisa meneruskannya dalam kondisi begini".

"Kita sudah mengirimkan udangan pertunanganmu", kata Sol Joo. 

Se Yoon : Jadi kenapa Ibu melakukannya dengan kemauan Ibu sendiri ?. Kenapa Ibu terburu-buru soal ini?. 
Sol Joo : Karena Ibu merasakan hal yang sama seperti 3 tahun yang lalu, mungkin akan terulang. Ibu tidak tahu kenapa, tapi Ibu dapat merasakannya. Ibu takut, Se Yoon. Kesehatan Ayahmu sudah hampir pulih. Jangan mengecewakannya lagi,  Ibu mohon?

Se Yoon menegaskan, "Aku sudah mengatakan dengan jelas. Aku akan membatalkan pertunangannya".

Joo Ri memberikan sendiri undangan pertunangannya pada Chae Won dengan sikap congak. Ia harap Chae Won cukup sadar diri untuk tidak menghadirinya. Chae Won tak mengerti, lalu kenapa kau memberikan ini padaku. Joo Ri menjawab, "Untuk membantumu agar menyerah terhadapnya. Jika kau tidak bisa menyerah kecuali kalau kau melihatnya, kau boleh datang. Kau akan melihat banyak wajah yang kau kenal".

Joo Ri melempar undangan ke meja lalu pergi. Setelah Joo Ri pergi, Chae Won membaca undangan. Tertulis nama Se Yoon dan Joo Ri di sana. Wajah Chae Won berubah sedih. 

Se Yoon duduk merenung. Ingat ucapan Joo Ri, kalau dia sangat membenci Chae Won berada di dekat Se Yoon, dan pengakuan Joo Ri semalam meskipun jika semuanya palsu tapi cintanya pada Se Yoon itu benar.

Se Yoon berdiri lalu jalan dan berpapasan dengan Chae Won yang jalan menunduk dengan membawa undangan. Se Yoon melihat wajah Chae Won yang lesu, apa kau sakit. Chae Won menatap sedih. Pandangan Se Yoon beralih pada tangan Chae Won yang memegang kartu undangan. Chae Won segera menyembunyikan di balik badan. 

"Selamat", ucap Chae Won berat. Chae Won berusaha bersikap sewajar mungkin, "Aku takut aku tidak bisa menghadiri pertunanganmu". Lalu tertawa kecil, "Aku berlebihan lagi. Aku tidak akan disambut disana. Lebih baik aku tidak hadir demi kebaikanmu".

Se Yoon tampak tidak suka Chae Won memberinya ucapan selamat, "Apa kau bersungguh-sungguh?. Apa kau benar-benar memberi selamat atas pertunanganku?" 

"Yah...itu adalah peristiwa bahagia. Tentu saja aku harus mengucapkan selamat".

"Itu saja?", tuntut Se Yoon mengharapkan jawaban lain. 

Chae Won diam, canggung. Se Yoon menatap tajam. 

Manager pemasaran menyapa Se Yoon. Dia baru kembali dari Le Festin dan membawa kabar baik. Mereka memutuskan untuk memberikan kita zona emas. Manager pemasaran bilang mengatakan Chae Won sangat membantu. Mie buatan mu menarik perhatian pembeli Perancis yang pemilih itu. Chae Won tersenyum, "Itu bagus".

"Terima kasih", ucap Se Yoon 

"Aku hanya melakukan apa yang harus kulakukan", jawab Chae Won tak lagi canggung seperti tadi. 

Manager pemasaran menyarakan bagaimana jika malam ini kumpul-kumpul setelah pulang kerja. Ia mengajak Chae Won ikut serta. Chae Won menolak, itu adalah acara kumpul bersama tim pemasaran. Manager berkata kita mendapatkan kesepakatannya berkat Chae Won, tentu saja kau harus bergabung bersama kami.

Choon Hee belajar membuat mie, disaksikan keluarga Uhm yang lain dan juga kakek. Choon Hee mampu melakukannya dengan baik, dia bisa menarik mie yang panjang dari penggiling tanpa membuatnya menjadi berantakan.

Kakek memuji Choon Hee belajar dengan cepat. Dia memiliki pikiran yang cerdas. Hyo Dong tersenyum. Yang lainya melengos tidak suka. Choon Hee membungkuk terima kasih. Kakek tanya bagaimana mie menurut pendapat Choon Hee.

Choon Hee berpikir mie seperti burung murai. Belum selesai bicara Do Hee menyela dengan berkomentar omong kosong macam apa itu. Dan seperti biasa Kang Sook pun ikut-ikut'an.

Choon Hee berkata burung murai akan bernyanyi ketika menyambut tamu datang. Kita makan mie pada saat peristiwa-peristiwa bahagia, jadi kupikir mie seperti burung murai.

Hyo Dong mengacungkan jempol. "Itu adalah istri-ku", ucapnya bangga. Dibalas dengan kedipan maut Choon Hee. Hyo Dong tersipu....

Kakek menilai itu anologi yang bagus. Ia beralih bertanya pada Ki Choon. "Apa arti mie bagimu?".

"Tentu saja 10 milyar", jawab Ki Choon tanpa sadar. Sontak Kang Sook menutup rapat-rapat mulut Ki Choon, "Apa kau gila!".

Ki Choon terbata, "Maafkan aku ayah. Aku sedang tidak konsentrasi".

"Itu cukup. Bubar", ucap kakek pergi dari pabrik. Kakek pasti kecewa, anak kandungnya hanya memikirkan warisan 10 milyar, tidak ada ketulusan mewarisi pabrik mie. 

Kang Sook meninju perut Ki Choon, "Sadarlah! Kau tidak boleh mengungkapkan isi hatimu begitu mudahnya!".
Ki Choon meringis kesakitan lalu menatap kesal Hyo Dong, "Aku masih terkejut dengan pengkhianatan".

Ki Moon berkata ini bukan salahnya, tapi salah kita sudah mempercayainya. Ayo pergi. 2 tim sekutu jalan pergi meninggalkan pabrik.

Kang Jin meledek Choon Hee, "Kau terlihat seperti rekan yang ditolak". 
Choon Hee mendelik marah, "Apa kau sedang menambahkan minyak ke dalam api?".

Ki Ok membela Kang Jin, "Jangan melampiaskan padanya". Ayo pergi.

Hyo Dong mencoba membujuk Choon Hee, "Lihatkan? Sudah kubilang lebih baik kita tidak masuk dalam kompetisnya. Lihat kita, ditolak. Kita berhenti disini". Choon Hee tidak akan mengubah pendiriaanya, "Kumohon. Jangan bertanya, jangan banyak rewel. Percaya saja padaku".

"Choon Hee-ssi', Hyo Dong putus asa. 

"Ada apa?. Kita jemur mienya di luar". Choon Hee menjemur mie di luar. Hyo Dong mengeluh, ini gila.

Tim pemasaran berkumpul di depan lift. Manager pemasaran datang bersama Chae Won. Chae Won berulang kali menolak, tapi manager pemasaran terus memaksa. Joo Ri tentu saja tidak suka dengan kehadiran Chae Won, "Bukankah ini acara kumpul tim marketing saja?".

Manager pemasaran berkata nona Min Chae Won memberikan kontribusi terbesar dalam proyek ini. Tentu saja dia boleh bergabung dengan kita. Chae Won merasa tidak enak, "Terima kasih tapi aku akan membiarkan kalian bersenang-senang sendiri saja". Manager pemasaran sadar telah salah paham Chae Won, "Ayo kita perbaiki kesalahpahaman kita dengan minum. Kumohon?". 

Staf wanita ikut membujuk. Menempel dan melingkarkan tangannya ke lengan Chae Won, "Kumohon bergabunglah dengan kami".

"Jika kau tidak punya janji, bergabunglah dengan kami", ajak Se Yoon. Joo Ri melirik tidak suka

"Ayolah. Aku lapar", ajak staf wanita lagi setengah merengek.

Chae Won mengangguk, "Baiklah".

"Aku harus pergi berbelanja cincin pertunangan. Maaf, aku harus pergi duluan", ucapan Joo Ri ini ia tujukan pada Se Yoon, berharap calon tunangannya itu akan mengikutinya.

"Lalu apa direkur Lee akan pergi dengannya", tanya salah satu diantara mereka.

Se Yoon menggeleng, "Tidak. Ayo pergi".

Joo Ri kecewa, Se Yoon jelas-jelas mengabaikannya. Semua masuk ke dalam lift meninggalkan Joo Ri, dan tentunya Joo Ri semakin kesal. 

Tim pemasaran bersulang bersama untuk kesuksesan langkah pertama mereka memasuki Le Fastin. Se Yoon ikut bersulang tapi tidak minum soju, ia merasa kurang sehat. Manager pemasaran berkata mungkin Se Yoon sedang diet menjelang pertunangan. Chae Won dan Se Yoon saling pandang. Staf wanita menilai memiliki tubuh yang bagus. Dia tidak perlu menjaga berat badannya.

Manager pemasaran menuangkan soju ke gelas Chae Won, "Maafkan aku sudah salah paham terhadapmu dalam banyak hal. Kau layak mendapatkan permohonan maafku". Chae Won lega tidak ada lagi kesalahpahaman. Chae Won sengaja tidak meminumnya. Staf pria minta Chae Won segera meminumnya, "Aku ingin mengisi gelasmu juga".

Chae Won mengaku sebagai peminum yang payah. Manager pemasaran sedikit memaksa, "Ayolah, ini hari yang bahagia. Ayo minum bersama kami, okay?. Ayo, minumlah".

Disaat perhatian mereka lengah, Chae Won membawa gelas kecil yang berisi soju ke bawah meja, lalu menuang soju tersebut ke gelas yang lebih besar. Jadinya gelas Chae Won tampak kosong, dan mereka mengira Chae Won meminumnya. Padahal tidak. Chae Won melakukannya beberapa kali, hingga gelas besar itu hampir penuh. 

Waktu beranjak malam, 3 staf pemasaran mulai mabuk. Manager pemasaran sangat menikmati pesta malam ini, makanan dan minuman yang enak sungguh menyenangkan. Karena sudah larut malam, pestanya harus dihentikan. Se Yoon mengucapkan terima kasih atas kerja keras tim pemasaran. Terutama pada Chae Won.

Sebelum pergi, Se Yoon minta air putih pada bibi pemilik kedai. Tapi tidak jadi, karena ia melihat gelas di depan Chae Won dan langsung meminumnya. Chae Won berusaha mencegah tapi terlambat. Air yang ada di gelas itu bukanlah air putih, tapi soju. Se Yoon yang kehilangan indra pengecap (perasa) tentu tidak bisa merasakan. Ia meminumnya hingga tandas dalam sekali teguk. 

Setelah meminum itu, Se Yoon tidak bereaksi apapun. Chae Won bengong, melihat ekspersi Se Yoon yang datar. Seharusnya Se Yoon bisa merasakan kalau soju itu sedikit pahit dan manis, tidak seperti air putih yang tanpa rasa.

Chae Won ingat hal ini tidak terjadi hanya 1 kali, tapi 2 kali.  Saat ia minta pendapat Se Yoon ketika mencicipi cup noodles buatannya, Se Yoon tidak bisa memberikan pendapat. Ekspresinya sama, datar tanpa bisa membedakan rasa. Chae Won menyadari ada yang tidak beres dalam diri Se Yoon.

Pesta pun berakhir. Staf pemasaran pulang dengan menggunakan taksi yang sama, kondisinya pun sama. Sama-sama mabuk. Se Yoon menawarkan akan mengantar Chae Won pulang. Chae Won ragu, "Apa kau yakin baik-baik saja?. Tadi kau minum!".

Se Yoon menggeleng, tidak merasa minum sedikit pun. Chae Won tanya lagi, "Kau yakin tidak minum?'. Se Yoon menjawab tidak, aku sedang kondisi yang buruk jadi aku tidak minum.

Chae Won mengatakan Se Yoon baru saja minum soju. Se Yoon tampak tak mengerti. Chae Won mengatakannya dengan hati-hati, tak ingin menyinggung perasaan Se Yoon. Chae Won mengatakan kalau ia menuangkan soju yang ditawarkan padanya ke dalam gelas lain supaya tidak mabuk. Dan Se Yoon meminumnya berpikir kalau itu adalah air putih.

Se Yoon mencari tempat tenang untuk menceritakan rahasia dalam hidupnya. Di depan sungai Han, ia mengaku kehilangan indra pengecap. Chae Won terkejut, "Apa. Kau tidak bisa merasakan rasa?". Se Yoon mengiyakan, ini sudah 3 tahun. 
"Bagaimana bisa?", tanya Chae Won. 

"Dulu aku mempunyai seorang kekasih", Se Yoon mengenang masa kebersamaannya bersama Eun Seol. "Dia sedang belajar untuk menjadi koki. Dia meninggal dalam kecelakaan mobil. Pada hari kecelakaan itu, untuk Ibuku yang menentang pernikahan kami, kekasihku bangun pagi-pagi dan membuatkan kue untuknya.
 
Dalam perjalanan ke rumahku bersamanya, seorang pengemudi mabuk  menabrak mobilku dan...Aku kehilangan cinta dan indra pengecapku pada waktu itu. 

Chae Won : Maaf aku tidak mengetahuinya.
Se Yoon : Selama 3 tahun terakhir, aku telah menderita karena rasa bersalah.
Chae Won : Jadi abu pada hari itu adalah...
Se Yoon : Ya. Hanya teman baikku yang tahu aku sudah kehilangan indra pengecapku. Bahkan keluargaku tidak tahu".

Chae Won janji akan merahasiakannya. Se Yoon tidak menyangka bisa menceritakan rahasia kehidupannya dengan setenang ini. Chae Won minta maaf sudah mengingatkan Se Yoon pada kenangan yang pahit. 

Se Yoon tersenyum lega, "Tidak apa-apa. Sekarang karena aku membuka hatiku, aku merasa bebas dan tenang. Aku merasa ringan. Mungkin karena kaulah orang yang aku ceritakan rahasiaku, aku merasa nyaman".

Chae Won percaya mendiang kekasih Se Yoon tidak ingin melihat Se Yoon terus merasa tertekan. "Bersemangatlah. Kau akan memulihkan indra pengecapmu dan perasaan cintamu".

Se Yoon ragu, "Apa kau benar-benar berpikir begitu?. Apa kau benar-benar berpikir aku bisa pulih seperti aku yang dulu?".

Chae Won tersenyum. Se Yoon menatap lautan luas di depannya. Dalamnya laut tak sedalam hati manusia.

Hari pertunangan tiba. Beberapa jam menjelang acara, Se Yoon lebih memilih pergi memancing, menyendiri sembari menenangkan pikiran. Se Yoon ingat perkataan Sok Joon. Sok Joo berkata Se Yoon tidak tahu kapan dirinya sedang jatuh cinta. Se Yoon terlihat bebas ketika bersama Chae Won. Sok Joon menilai mungkin Se Yoon mulai terbebas dari masa lalu setelah bertemu dengan Chae Won. Sok Joon minta Se Yoon memikirkannya baik-baik. 

Ponsel Se Yoon menerima panggilan masuk dari Sol Joo. Se Yoon sengaja mengabaikannya.

Sol Joo dalam perjalanan menuju hotel, ia tak henti dan putus asa menghubungi Se Yoon meski berkali-kali panggilaannya di reject. Sol Joo mulai panik dan meninggalkan pesan suara, "Kau sedang dimana?. Tidakkah kau tahu pertunanganmu tinggal 3 jam lagi?. Aku percaya bahwa putraku bukanlah pria yang tidak bertanggung jawab. Datanglah tepat waktu".

Diruang tunggu, Joo Ri jalan mondar-mandir. Dialah orang yang paling gelisah dan cemas menanti kedatangan Se Yoon. Berkali-kali ia menengok ponselnya, berharap Se Yoon memberi kabar.

Flashback beberapa hari sebelum hari H. Se Yoon dan Joo Ri bicara di cafe. Se Yoon mengatakan telah memikirkannya berulang-ulang. Kita lebih baik berhenti disini. Joo Ri tanya berhenti apanya. Se Yoon berkata ketika ia memutuskan untuk bertunangan, ia berpikir bisa mencobanya, "Tapi ada hal-hal di luar kendaliku. Kita batalkan pertunangannya. Jika kita tidak berhenti disini, kau akan terluka".

Joo Ri tidak bisa menerima, "Membatalkannya?. Bagaimana bisa kau mengatakan itu?. Ini tinggal beberapa hari lagi. Kita akan bertunangan tidak peduli apa pun itu".
Se Yoon meminta maaf, "Aku merasa berhutang padamu selama sisa hidupku. Aku baru saja berbicara dengan Ibuku. Maafkan aku".  Flashback end. 

Joo Ri takut jika Se Yoon benar-benar serius pada ucapannya, dengan meninggalkannya sendiri dan tidak muncul pada hari ini. Joo Ri menggeleng, seolah berkata tidak. Ia meraih ponselnya, menghubungi nomor Se Yoon. Tapi ponsel Se Yoon tidak bisa dihubungi. Joo Ri melempar ponselnya ke sofa, marah. 

Young Ja masuk, "Kau belum bisa menghubunginya?". Joo Ri diam, seolah tak mendengar pertanyaan Young Ja. Ia disibukkan dengan kegelisahannya sendiri.

"Ya atau tidak? Apa dia masih tidak bisa dihubungi?", tanya Young Ja tidak sabar. "Tunggu. Bagaimana jika kita mendapatkan lumpur di wajah kita?. Kita seharusnya membatalkan pertunangannya. Tapi kau dan Nyonya Lee begitu keras kepala dan..."

"Apa Ibu tidak bisa diam?", potong Joo Ri pikirannya tambah kacau mendengar omelan bawel Young Ja. "Dia akan datang, jadi jangan khawatir!", teriak Joo Ri emosi.

Chae Won membaca lagi undangan pertunangan Se Yoon dengan Joo Ri. Chae Won mendongak ke atas melihat jam. Jarum jam menunjukkan pukul 13.30. 30 menit lagi menjelang acara. Tak mungkin baginya menghadiri pesta pertunangan ini. Hanya akan membuat hatinya terluka. 

Sementara itu Se Yoon memacu mobilnya, meluncur cepat ke hotel tempat pertunangan. Wajah Se Yoon tampak serius, seperti telah menentapkan pilihan. Dan bersungguh-sungguh akan menanggung segala resiko atas pilihannya itu, "Jika aku ragu-ragu lagi, semua orang akan terluka".

25 menit kemudian. Se Yoon tiba di parkiran hotel. Waktu menunjukkan 13.55. Masih tersisa waktu 5 menit. Se Yoon dengan mantap melangkah masuk ke dalam hotel. Keputusan apa yang akan dia ambil?. Meneruskan pertunangan, atau membatalkannya dengan mencoreng nama baik keluarga di kedua belah pihak. Pilihan mana yang akan ia ambil?.


END


Part 1

9 comments:

  1. Kok lgs 29 part 2 mb? Part 1nya ga ada y? Btw tetep dtggu kelanjutay.gumawo

    ReplyDelete
  2. Ditunggu kelanjutannya yah mbakkkk..suka bgt sama drama ini..
    Thanks mbak

    ReplyDelete
  3. Asikk udh diposting... Makasiiiiii

    ReplyDelete
  4. Mba nuri toppp dehhh makasih ya sinopsis episode 29 part 2 ud diposting

    ReplyDelete
  5. Ditunggu episode 30nya ini sampai. Episode 40 apa 50 ya mba

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sampe 50 episode, hm...masih pangjang. ^-^

      Delete
  6. suka...ditunggu lanjutannya yah mb Nuri....

    san

    ReplyDelete
  7. semangat truz y nuri nulis sinopsisny..........

    ReplyDelete
  8. thx unnie buat sinopsisnya...ditungu episode selanjutnya...

    ReplyDelete

Thanks sudah mampir di blog saya, jangan lupa tinggalkan komentar ya...Trims....:)