Thursday, August 01, 2013

Sinopsis Incarnation Of Money Episode 15 Part 1

Cha Don memeriksa rekaman blackbox mobil jaksa Kwon. Cha Don terkejut melihat Bi Ryung di dalam rekaman itu. Bi Ryung menyetir sembari menelpon pengacara Hwang melalui saluran telepon burner. Bi Ryung janji akan memberikan uang yang diminta pengacara Hwang dan janji bertemu di sebuah gedung yang masih dibangun. 

Bibir Cha Don membentuk senyum simpul, pertanda ia menemukan ide baru. Gu Shik tanya apa kita harus mengirimkan rekaman blackbox ini ke Jaksa Jeon Ji Hoo. Cha Don berdiri di depan papan kaca. Memandang bagan 5 penjahat yang ia buat, "Reporter, jaksa, dan pengusaha jika kita tidak hati-hati, mereka akan menghancurkan kita lebih dulu. Pertama, kita harus memutuskan hubungan mereka satu sama lain, sedikit demi sedikit".

Tepat saat itu, Bi Ryung menelpon Cha Don. Bi Ryung mengingatkan Cha Don janji mereka yang akan bertemu malam ini. Cha Don ingat, ia tanya kepada siapa Bi Ryung akan memperkenalkannya. Cha Don mengucapkannya sambil terus memandang bagan. Setelah Bi Ryung menjawab, Cha Don mengaku mengenal mereka. Mereka adalah tokoh-tokoh terkenal. Bi Ryung menambahkan teman-temanya itu akan sangat bernilai setelah Cha Don mengenal mereka dengan baik.

Bi Ryung pergi ke butik dan mengambil beberapa pakaian yang akan ia hadiahkan kepada teman-temannya itu, siapa lagi kalau bukan Se Kwang, dkk.

Ji Hoo berpapasan dengan Jaksa Kwon di lobby kantor kejaksaan. Jaksa Kwon berkata Ji Hoo telah bekerja keras. Jaksa Kwon melihat selendang merah yang di pegang Ji Hoo. Ia tanya apa Ji Ho sudah menemukan petunjuk dari kasus Hwang Jaung Shik. Ji Hoo mengaku belum menemukannya. Jaksa Kwob berkata kasus ini memakan waktu lebih lama dari yang ia bayangkan. Ji Hoo membalas Cepat atau lambat kebenarannya akan segera terungkap. Ji Hoo menunduk hormat lalu pergi. 

Seketaris Seo bisa melihat Ji Hoo masih menaruh curiga pada jaksa Kwon. Jaksa Kwon berkata dalam kantong plastik yang dibawa Ji Hoo ada selendang pengacara Hwang. Ia memerintahkan sekertaris Seo menghubungi manager Kim. Beritahu dia agar melaporkan
hasil lab pada jaksa Kwon lebih dulu.

Sekertaris Seo penasaran siapa sebenarnya yang berusaha menjebak jaksa Kwon, "Aku curiga pada Kepala Ji Se Gwang....".

"Tutup mulutmu. Pasti ini yang diinginkan Lee Kang Seok. Mengacaukan hubungan antara
Ji Se Gwang dan aku". ujar jaksa Kwon. 
"Maafkan aku, Pak", ucap Sek. Seo. 
Jaksa Kwon mengajak Sek. Seo pergi. Kita suda terlambat. 

Bi Ryung dan yang lainya berkumpul di restoran. Ia memberikan hadiah kepada Se Kwang, wartawan Go dan jaksa Kwon. Ke- 3 pria ini menerimanya dengan senang hati. Wartawan Go mendengar produk baru Bi Ryung meledak. Tapi ia tidak mengharapkan akan menerima hadiah. Bi Ryung berkata Ini bukan hal yang spesial. Hanya baju rancanganku.

Se Kwang mengajak mereka bersulang untuk pengangkatan Bi Ryung sebagai presiden Hwanghae Bank. Bi Ryung menahan, "Tunggu sebentar. Ada seseorang yang akan bergabung dengan kita. Kita bersulang saat dia sampai.

"Siapa yang akan datang?", tanya Se Kwang. 
"Pengacara yang membantuku yang kuceritakan padamu waktu itu", sahut Bi Ryung. 
"Siapa nama pengacaranya?', tanya Se Kwang penasaran. 

 "Oh itu dia", kata Bi Ryung begitu melihat Cha Don masuk. Cha Don minta maaf karena datang terlambat. Se Kwang bengong dengan wajah terkejut luar biasa. Tak beda jauh dengan wartawan Go dan jaksa Kwon. 

Bi Ryung memperkenalkan Cha Don sebagai pengacara baru Hwanghae Bank. Se Kwang tak menyangka Lee Cha Don akan ada disini. Terlihat sekali wajah tidak suka Se Kwang.
Bi Ryung heran, "Kalian saling kenal?", tanyanya. Cha Don berkata Ji Se Kwang adalah pimpinanku saat aku masih bekerja sebagai jaksa. 

"Omo.. Benarkah?. Kebetulan sekali", seru Bi Ryung tertawa senang. 

Se Kwang sinis, " Aku tidak suka ada tamu yang tak diundang bergabung dalam pertemuan kita".
Bi Ryung : Se Gwang shi, kenapa kau kasar sekali pada tamuku?. 

Cha Don mempunyai berita bagus buat Se Kwang. Bi Ryung tanya berita bagus apa untuk Se Kwang kita?. Cepat katakan. Cha Don berkata, "Wakil Oh dari Partai Republik mencalonkan dirimu, kepala Ji". 

 "Wakil Oh? Apa maksudmu wakil Oh Seok Gi?", tanya jaksa Kwon.
Cha Don hanya tersenyum tipis menanggapi pertanyaan jaksa Kwon.

Jaksa Kwon ingat janji wakil Oh yang akan memberikan ia kursi di pemilihan dewan nasional, jika jaska Kwon bersedia menutup kasus kopursi Cha Don. Jaksa Kwon terlihat kesal wakil Oh mengingkari janjinya. 

Cha Don ke Se Kwang : Saat aku memberitahunya kalau kau itu pimpinanku, dia bilang padaku agar mengatur pertemuan denganmu.
Bi Ryung : Kenapa dia ingin bertemu Se Kwang?
"Sepertinya dia mendukungnya sebagai calon perwakilan yang sempurna", sahut Cha Don. 

Wartawan Go bilang jika itu memang wakil Oh. Pasti posisi Se Kwang terjamin. Bi Ryung senang, "Wow, bagus! Se Gwang selalu ingin masuk ke dunia politik. Jangan khawatir soal uang. Aku akan mendukungmu sepenuh hati".

Cha Don melirik jaksa Kwon yang tidak banyak berkomentar. Cha Don kembali berkata ia akan mengatur jadwal pertemuannya jika Se Kwang tidak sibuk.
"Aku tidak butuh bantuan siapapun. Jika aku ada perlu dengannya, aku akan menghubunginya sendiri.", ucap Se Kwang angkuh. Bukannya senang, ia justru marah dengan niat Cha Don yang ingin membantunya.
"Hei, jangan keras kepala", ucap Bi Ryung. 

Jaksa Kwon berdiri, keluar ruangan. Cha Don tersenyum puas umpannya berhasil. Cha Don beralih melihat Se Kwang. Se Kwang berpikir. Bukanya dia tidak tertarik dengan tawaran wakil Oh. Hanya saja Se Kwang hanya merasa tidak enak pada jaksa Kwon. 

Jaksa Kwon berada di rest room, membasuh tangannya. Sekertaris Seo datang, "Wakil Oh pergi ke jepang tadi malam". 
Jaksa Kwon menyesali dirinya yang terlalu bodoh mempercayai kata-kata seorang politikus.

Cha Don masuk ke rest room, "Anda di sini ternyata", ucapnya pada jaksa Kwon. "Mereka semua mencari anda, Pak". 
"Perutku mendadak sakit. Beritahu mereka aku pergi lebih dulu", ujar jaksa Kwon.
Jaksa Kwon pergi di ikuti Sek. Seo. 

Jaksa Kwon terus diam selama perjalanan pulang. Ia ingat perkataan Lee Kang Seok di applikasi chatting kemarin, "Siapa dia? Siapa yang menikammu dari belakang?".
Sek. Seo mengetahui pikiran jaksa Kwon. Ia berkata tidak mungkin wakil Oh akan lebih mendukung Se Kwang dibandingkan jaksa Kwon.

Jaksa Kwon merasa harus mencari jaminan. Sek. Seo tanya jaminan seperti apa. Jaksa Kwon berkata jaminan jika Se Kwang mengkhianatinya. Sek. Seo kembali tanya, "Anda punya hal semacam itu?'. 
"Ny. Bok Hwa Sool", jawab jaksa Kwon.
"Anda akan meminta bantuan Bok Hwa Sool?", tanya Sek. Seo. 

Jaksa Kwon diam, menatap keluar jendela. Diamnya jaksa Kwon ini sudah merupakan sebuah jawaban dari pertanyaan Sekertaris Seo. 

Wartawan Go melihat jam tangan. Ia heran kenapa jaksa Kwon pergi tanpa bilang apa-apa. Dia juga kelihatan tidak senang. Cha Don tersenyum sinis. Se Kwang merasa saat ini juga waktunya mereka pergi.

Bi Ryung menahan Se Kwang yang hendak berdiri, "Kau mau pergi secepat ini?. Tidak, tidak mau. Hari ini adalah hariku".

Cha Don ke Bi Ryung : Pacar yang kau katakan waktu itu kepala Ji, kan?

Se Kwang menatap Bi Ryung. Bi Ryung gelagapan, "Aku sangat mabuk...". Se Kwang menjawab ia dan Bi Ryung hanya rekan bisnis. Bi Ryung mendelik kesal. Se Kwang minta Cha Don jangan menyebarkan gosip tak jelas. Cha Don meminta maaf, "Kalian berdua sangat cocok jika bersama". 

Se Kwang yang marah langsung pulang. Pergi begitu saja. Wartawan Go mengikuti, "Ah, aku juga harus pulang. Sampai jumpa lagi, Pengacara Lee".
Tinggal Bi Ryung dan Cha Don berdua. Bi Ryung yang kesal meneguk red wine hingga habis. Sakit hati rasanya tidak diakui kekasih sendiri.

"Apa kita akan lanjutkan ronde ke-2, meskipun hanya kita berdua?", tanya Cha Don dengan tatapan manis. 

Ronde ke-2 antara Bi Ryung dan Cha Don berlanjut di bar. Bi Ryung benar-benar marah pada Se Kwang, "Beraninya dia?. Apa? Rekan bisnis?". Bi Ryung mengungkit perkataan Cha Don. Jika ia tidak bisa bergantung pada seseorang itu bukan cinta tapi obsesi .

Cha Don : Jika aku tahu kalau Kepala Ji itu pacarmu, aku tak akan mengatakannya.
Bi Ryung : Tak apa. Semakin dia mencoba menjauh dariku, aku juga semakin terobsesi padanya. Lingkaran jahat macam apa ini.

Cha Don : Dia punya ambisi yang kuat untuk menjadi sukses. Kau harus memahaminya lebih dulu. Lalu kau harus menenangkan pikiranmu.
Bi Ryung : Kenapa aku terus yang harus memahami dia?. Menjengkelkan sekali, aku rasa
hatiku mau meledak.

"Apa kau takut kehilangan Kepala Ji?". Bi Ryung membenarkan. Memalukan sekali Mengingat apa yang sudah kulakukan demi dia.

Bi Ryung ingin kembali menuang minuman ke gelasnya yang kosong. Cha Don menahan. Ia bicara sembari menuang minuman ke gelas Bi Ryung, "Minum sendirian itu seperti minum racun. Kurasa kau butuh teman daripada seorang pacar sekarang. Cinta akan lenyap setelah beberapa waktu, sedangkan persahabatan bersinar seiring bertambahnya umur".

Bi Ryung menahan tangis, "Pengacara Lee, kau pandai membuat seseorang merasa kesepian". Cha Don berkata bukanya ia pandai, tapi saat ini ia menilai Bi Ryung benar-benar kesepian.

"Kalau begitu, apa kau mau menjadi temanku, Pengacara Lee?", tanya Bi Ryung penuh harap. Cha Don hanya menatap Bi Ryung. Bi Ryung merasa malu lalu berkata, "Aku hanya, kau itu...".
"Jika itu keinginanmu", sahut Cha Don.

Bi Ryung tersentuh menatap Cha Don lama. Cha Don hanya menatap Bi Ryung sekilas, melayangkan pandangan mautnya. Cha Don menegak minumannya. Dia benar-benar terlihat seperti lelaki gentle yang bisa melindungi wanita. 

Cha Don mengantar Bi Ryung pulang. Gu Shik duduk dibelakang kemudi, menjadi sopir. Bi Ryung memijat kepalanya yang terasa pening.
"Apa kau merasa pusing?", tanya Cha Don penuh perhatian. 
"Tidak. Aku baik-baik saja", jawab Bi Ryung. 

Cha Don menawarkan bahunya. Bi Ryung ragu. Cha Don menarik lembut kepala Bi Ryung. Menyandarkan kepala Bi Ryung ke pundaknya, "Bersandarlah padaku".
Bi Ryung tersenyum, terbuai dengan perhatian Cha Don
Gu Shik mengintip dari kaca. Pura-pura tidak melihat. Cha Don menatap keluar jendela. Wajah lembutnya berubah menjadi suram.

Jaksa Kwon termenung di dalam ruangan. Kwon Hyuk datang membawa rekaman CCTV dari supermarket tempat mobil ayahnya di curi. Kwon Hyuk memberikan tablet ke jaksa Kwon. Dalam rekaman itu terlihat seorang yang memakai baju hitam-hitam mencuri mobil. Jaksa Kwon memperhatikan lebih dekat. Kwon Hyuk berkata wajah pelakunya tidak terlihat sama sekali dalam rekaman ini.

Jaksa Kwon mengalihkan pembicaraan. Ia tanya pendapat Kwon Hyuk mengenai putri Ny. Bok Hwa Sool, Bok Jae In. Kwon Hyuk yang tak mengerti tanya apa maksud ayahnya. Jaksa Kwon membutuhkan bantuan Ny. Bok. Ia menyuruh Kwon Hyuk untuk mendekati Jae In. Kalau perlu nikahi dia sekalian.

"Ayah!", seru Kwon Hyuk tidak percaya. 

Jaksa Kwon : Jika kau tidak menyukainya, kau bisa menceraikannya nanti.  

Kwon Hyuk : Ayah ingin mempertaruhkan hidupku demi ambisi ayah?
Jaksa Kwon : Apa itu jadi persoalan yang besar kalau kau pernah bercerai
Kwon Hyuk : Aku tidak mau.
"Apa?. Apa kau akan menentang perintah ayahmu?', bentak jaksa Kwon. 

Kwon Hyuk : Ya, aku menentang ayah.
Jaksa Kwon berdiri marah : Hyuk!. Brengsek. 

Kwon Hyuk :  Aku menjadi jaksa karena keinginan ayah. Aku melakukan semua yang ayah katakan padaku tanpa mengerti kenapa. Berapa lama lagi aku harus menjadi boneka ayah...

Jaksa Kwon menampar Kwon keras, "Tak pernah aku mengesampingkanmu dari pandanganku dari dunia yang ingin kubuat. Kau tak akan membantuku. Kau lakukan saja pekerjaanmu. Demi masa depanmu". 

Kwon Hyuk menatap tajam ayahnya. Matanya memerah menahan marah. Jaksa Kwon mengehentikan ucapannya. Memalingkan wajah, lalu berkacak pinggang. Jaksa Kwon melotot marah, "Hyuk, kau anakku. Salinanku. Jika kau tidak mau, siapa lagi yang akan memahamiku?". 

Jaksa Kwon datang ke rumah Ny. Bok. Tentunya bersama Kwon Hyuk. Tidak ada pilihan lain bagi Kwon Hyuk selain mengikuti ambisi ayahnya. Jaksa Kwon mengenalkan Kwon Hyuk pada Ny. Bok. "Ini putraku. Dia jaksa".

Ny. Bok memuji Kwon Hyuk tinggi dan tampan. Jaksa Kwon mengaku pernah bertemu dengan putri Ny. Bok sebelumnya. Dia juga sangat cantik.

Ny. Bok : Itu tergantung dari cara pandangmu. Silakan duduk.

Jaksa Kwon meminta Kwon Hyuk menunggu diluar. Hyuk menurut patuh.

Ny. Bok tanya kenapa tiba-tiba jaksa Kwon menemuinya. Jaksa Kwon tertawa, "Aku ingin membicarakan beberapa hal yang penting dengan anda". Ny. Bok merasa tak perlu berbasa-basi mengingat betapa sibuknya jaksa Kwon. Ia menebak kedatangan jaksa Kwon terkait dengan pencalonan itu. 

Jaksa Kwon membenarkan. Benar sekali. Ny. Bok merasa banyak orang yang menganggapnya buruk. Ia hanya pengusaha biasa, dan tidak punya kekuatan apapun. Jaksa Kwon mengaku mempunyai saham 10% di Hwanghae Bank. Ia juga bilang putri Ny. Bok kehilangan posisinya sebagai presdir hanya karena sehelai rambut. "Bolehkan aku bergabung dengan anda, Nyonya Bok?". 

Ny. Bok tanya bagaimana dengan Angelina (Bi Ryung). Jaksa Kwon menjawab tidak ada jabat tangan yang abadi. Bergabung juga bisa berpisah jika kata selamat tinggal diucapkan. Ny. Bok tanya apa jaksa Kwon sudah mendapat tawaran dalam pencalonan anggota perwakilan.

Nama Jaksa Kwon ada dalam daftar bawah. Ia membutuhkan bantuan Ny. Bok untuk membuat namanya berada di daftar paling atas. Sebagai gantinya Jae In akan mendapat tempat (jajaran direksi/manajemen) di Hwanghae Bank.

Ny. Bok tertawa, "Wow, anda benar-benar luar biasa. Aku tidak berbakat, tapi aku lihat dulu apa aku bisa membantumu".
Jaksa Kwon mengucapkan terima kasih. Ny. Bok tanya apa jaksa Kwon tidak perlu semacam kupon, surat pengakuan atau kontrak. Jaksa Kwon bersedia menulisnya jika Ny. Bok membutuhkan. Tapi jaksa Kwon memikirkan sesuatu yang lebih mengesankan sebagai kupon.

"Mengesankan?", tanya Ny. Bok 
Jaksa Kwon : Sebenarnya, putraku menaruh hati pada putri anda.

Pal Do yang sedari tadi berdiri di samping Ny. Bok dan mendengar percakapan mereka menjadi terkejut. 
Ny. Bok : Anda tidak sedang membicarakan soal pernikahan, bukan?
Jaksa Kwon : Keputusan itu mereka yang buat, tapi setidaknya kita tidak boleh menghalangi mereka.
Ny. Bok : Yah, jika seorang jaksa menyukai putriku, tidak ada alasannya bagiku untuk menolaknya.

Di ruang terpisah. Kwon Hyuk minum teh sendirian. Sorot matanya memancarkan kesedihan. Tak ada daya baginya melawan keinginan ayahnya, meski itu bertentangan dengan hati nuraninya. Sungguh anak yang berbakti.

"Apa Ibu sudah gila?. Ibu ingin aku berkencan dengan siapa?", tanya Jae In terkejut begitu mendengar permintaan Ny. Bok.
Ny. Bok balik tanya, " Kenapa kau sangat terkejut?. Dia caramu untuk keluar dari kompetisimu".

"Ibu bermaksud menjualku demi saham Hwanghae Bank?", tanya Jae In tidak percaya. 
Ny. Bok menjawab : Siapa yang akan membelimu meskipun kau didiskon?
(wkwkwk. Emang pakaian di diskon!!!!). 

Pal Do berkata saat rapat pemegang saham jaksa Kwon akan memilih Jae In sebagai direktur non-eksekutif lembaga keuangan itu.
"Direktur non-eksekutif?", tanya Jae In

Pal Do membenarkan, "Jadi semua yang harus kau lakukan sekarang adalah mengikuti arus".
Jae In mengeluh, "Astaga, hal yang membuatku harus melakukannya".
Ny. Bok menyuruh Jae In menemui Kwon Hyuk, sepertinya dia mudah tersinggung.
Jae In menggertakkan gigi, "Oh. Menjengkelkan". Jae In keluar kamar, menuruti permintaan ibunya. 

 Pal Do menemui Cha Don atas perintah Ny. Bok. (Btw Cha Don punya kantor baru nich. Lebih luas dan rapih, tidak kumuh seperti kantor sebelumnya. Tapi mereka tidak mempunyai kerjaan. Cha Don sibuk mengotak atik ponselnya. Gu Shik jalan mondar mandir. Eh....Sekertaris Hong malah sibuk dandan. Hehehehe).

Pal Do menceritakan kedatangan jaksa Kwon ke kediaman Ny. Bok dan niat jaksa Kwon yang akan menjalin bekerja sama dengan Ny. Bok. Pal Do hanya ragu apa jaksa Kwon benar-benar bisa di percaya. 

Cha Don yang sedari tadi sibuk memeriksa ponselnya menghentikan kegiatannya. Ia berlagak sedikit terkejut dan berpikir kemungkinan benar kalau terjadi konflik diantara Ji Se Kwang dan jaksa Kwon. Gu Shik menyahut antusias akhirnya merasa mencurigai satu sama lain.

Pal Do berkata kemungkinan besar jaksa Kwon berniat menikahkan Jae In dengan putranya, Kwon Hyuk.
"Apa?", tanya Cha Don. Kali ini dia benar-benar terkejut.
Sek. Hong dan Gu Shik tertarik mendengar lebih lanjut. 

Pal Do : Kau tahu Nyonya selalu menginginkan menantu seorang jaksa. Sepintas mereka kelihatan manis saat bersama.
Cha Don cemburu : Dari semua orang yang akan menikahi dia, kenapa pria brengsek itu?. 

Pal Do heran kenapa Cha Don sangat marah, yang menikah itu Jae In. Cha Don berdalih ini bukan karena aku marah, tapi apa Jae In setuju. Dilihat dari sifat Jae In...dia bukan tipenya. Pal Do berkata meskipun begitu tampaknya dia menyukai pria itu.

Cha Don : Siapa?. Jae In?. 
Pal Do menggaruk lehernya yang tidak terasa gatal. Hampir saja ia tertawa, "Jae tidak akan setuju berkencan dengan pria itu jika dia tidak suka".

Cha Don tertawa, "Apa Jae In selalu tidak perawan lagi?".
Pal Do bingung, "Tidak perawan?. Tidak perawan apa maksudmu?. Ini tidak seperti dia akan dijodohkan dengan seseorang".

Cha Don tidak mampu menjawab. Ia mengambil gelasnya bermaksud minum, tapi gelasanya kosong. Gu Shik yang saat itu memegang sebotol air langsung menuangkan sebotol air ke gelas. Cha Don minum. Pal Do pura-pura membaca buku, sesekali melirik perubahan wajah Cha Don.

Cha Don tanya dimana mereka akan berkencan. Pal Do balik tanya kenapa kau ingin tahu. Cha Don menjawab bukankah Pal Do berkata jaksa Kwon muncul dengan memanfaatkan Jae In?. Aku harus mencari tahu apa yang mereka kejar.

Cha Don membuang muka, tampak ia terganggu karena dengan berita yang disampaikan Pal Do. Sekertaris Hong tersenyum. Dia tahu saat ini Cha Don tengah cemburu. 

Pal Do keluar dari kantor Cha Don, dan langsung menelpon Ny. Bok, "Nyonya, aku melakukan sesuai perintah anda. Cha Don sangat terganggu karena masalah ini".
Ny. Bok senang, "Benarkah. Kurasa Cha Don ada rasa dengan Jae In-ku pada akhirnya". 
"Ya..ya bagu", ucap Ny. Bok lalu menutup telepon. 

Ny. Bok mengambil perekam suara, mengungkapkan isi hatinya hari ini. "Kurasa aku menyukai Cha Don sama seperti Jae In. Yang kulakukan hanyalah menyatukan mereka berdua. Saat cinta berubah menjadi hangat, tak ada yang lebih baik dibandingkan rasa cemburu itu muncul kembali. Begitu pula saat aku pertama kali bertemu dengan ayah Jae In. Pria busuk itu tertarik dengan emilik kedai teh di gang sebelah, membuatku...".

Ny. Bok menghentikan ucapannya. Sadar ia mulai bicara ngelantur, "Omo, aku gila, sudah gila. Bicara apa aku ini?. Aku benar-benar gila".

Jae In dan Hyuk memulai kencan pertama mereka. Keduanya tampak kikuk, dan tidak nyaman. Mereka memotong steak sambil melirik ke kanan dan kekiri.
(Kwon Hyuk saya singkat menjadi Hyuk saja ya...)

Hyuk memulai pembicaraan, "Restoranmu cukup bagus".
"Ah. Ya", sahut Jae In pendek tak bersemangat
"Interiornya benar-benar berkelas sepertimu, Nona Jae In".
"Ah. Ya", jawab Jae In masih menunduk. Tidak sedikit pun menatap lawan bicaranya

"Aku agak tidak menarik, ya?', tanya Hyuk. 
"Ya', jawab Jae In...lalu tertegun, "Apa?. Kau barusan bilang apa...?". Kali ini Jae In mengangkat wajahnya, memandang Hyuk. 

Hyuk mengaku belum pernah pergi berkencan, "Jika kau bosan, apa aku harus pergi?". 
"Tidak. Tidak, tidak, aku tidak bosan", ucap Jae In tersenyum terpaksa. 

Matanya secara tak sengaja melihat Cha Don duduk di meja seberang meja bersama sekertaris Hong dan Gu Shik. Pandangan mata Cha Don mengarah pada dirinya. 

Cha Don melihat Jae In dengan ekspresi wajah seperti ini.

Jae In membantin heran kapan dia datang.

Gu Shik dan sekertaris Hong makan dengan lahap. Beda halnya dengan Cha Don yang tampak tidak menikmati makanannya. Sekertaris Hong memperhatikan gelagap Cha Don, "Jujur, harus kuakui. Kau datang kesini bukan untuk mengawasi jaksa Kwon Hyuk, tapi mengawasi Jae In, kan?'. 

Gu Shik tanya apa maksud sekertaris Hong, "Bukankah kau tahu betapa bencinya dia pada wanita itu?".
"Kau tidak bisa menipu intuisi seorang wanita", kata Sek. Hong pada Gu Shik. "Bukankah aku benar?", tanyanya pada Cha Don. 

Cha Don : Kau salah. Aku tidak tertarik sama sekali pada Bok Jae In.
Cha Don mengatakannya dengan wajah marah. Sambil menyuapkan makanan. Pandangan matanya tak lepas melihat Jae In.

Jae In melirik Cha Don yang terus melihat ke arahnya. Jae In berkata dalam hati inilah saatnya membuat Cha Don cemburu. Jae In tersenyum manis mengajak Hyuk bersulang, Karena ini kencan, kita lakukan "Love Shot". 
"Love Shot", ucap Hyuk terbata.
Jae In berdiri menyilangkan tangannya ke lengan Hyuk. Jae In terlihat lebih agresif dibandingkan Hyuk. Membuat Cha Don semakin sebal...(hahaha). 

Sekertaris Hong berseru mereka bahkan melakukan love shot. Gu Shik berkata kerterlaluan. Perekambangannya bagus sekali (Kikiki). Cha Don melampiaskan kekesalannya dengan menyuapkan sependok penuh spaghetti ke mulutnya.

Jae In lalu menyodorkan sepotong daging bersiap menyuapi Hyuk, "Ini, makanlah".
Hyuk kaget dan malu, "Kau tidak usah melakukannya...".
"Omo! Kita sudah melakukan Love Shot. Buka mulutmu", ucap Jae In setengah memaksa menyuapi Hyuk.

Gu Shik berseru wow mereka bahkan menyuapkan makanan. Mereka seperti pasangan pengantin baru. Belum cukup sampai di situ, Jae In mengusap bibir Hyuk yang sedikit belepotan terkena saus. 

Mulut Gu Shik terbuka lebar melihatnya. Cha Don semakin tidak tahan, mengajak Gu Shik dan Sek. Hong pergi. Gu Shik berkata jika Hyuk sampai menikah dengan Jae In, maka Ny. Bok akan menjadi musuh kita. Apa kau tidak apa-apa?. 

Cha Don menjawab jika kita terlibat sekarang, Kwon Jae Kyu akan mencari tahu soal hubunganku dan Nyonya Bok. Pelajaran kita cukup sampai di sini. Ayo pergi. Gu Shik menahan makanannya masih banyak. Cha Don menyuruh Gu Shik untuk menghabiskannya. Cha Don pergi. 

Jae In kecewa melihat Cha Don pergi begitu saja. Kwon Hyuk tanya apa ia juga boleh menyuapi Jae In.
"Bajin*** sialan", umpat Jae In tiba-tiba membuat Kwon Hyuk kaget. 
"Apa?", tanya Kwon Hyuk bingung. 
"Aku tidak bicara denganmu", ucap Jae In mendelik kesal. 

Kwon Hyuk sedikit takut dan bingung dengan perubahan sikap Jae in. Tanpa malu ataupun jaim, Jae In minum red wine langsung dari botolnya. Hampir habis seperti minum air putih. Mata Kwon Hyuk melebar terkejut. Kehilangan kata-kata.

Cha Don jalan sambil melamun. Ia ingat pengakuan Jae In yang mabuk tempo hari. Jae In mengaku perasaan yang ia pada Cha Don benar-benar tulus. Semua hal yang Jae In lakukan mulai dari operasi plastik untuk kurus hingga menjalani bisnis, tak lain agar mendapatkan pengakuan darinya.

Cha Don tertawa, "Hah...Dengan siapa dia bercanda?. Astaga, kenapa aku sangat sedih?". 
"Ahchoo!", teriak Cha Don nyaring. Mengagetkan sepasang kekasih yang jalan di depannya. Begitu pula dengan orang-orang yang berada di sekitar Cha Don. Mereka melonjak kaget setengah mati mendengar teriakan Cha Don.

Cha Don secara resmi menjadi kuasa hukum Hwanghae Bank. Bi Ryung memperkenalkannya pada para jajaran manajemen yang bertanggung jawab. Bi Ryung heran melihat satu tampat duduk kosong. Kenapa ketua audit keuangan tidak muncul?
 
Jeong, asisten Bi Ryung berkata direktur Yoon mengundurkan diri karena alasan pribadi.
"Dia berhenti", tanya Bi Ryung. Jeong mengiyakan pelan. Bi Ryung tanya lalu siapa ketua yang baru.
Jeong ini adalah orang yang pernah mengaku sebagai Kang Seok atas permintaan Se Kwang, dkk. 

Terdengar bunyi ketukan pintu. Jae In masuk dengan senyum manis. Mata Bi Ryung melebar terkejut, "Apa yang dilakukan Bok Jae In disini?". Jae In memperkenalkan diri kepada jajaran manajemen yang lain sebagai ketua komisi audit yang baru terpilih. Cha Don tersenyum senang. 

Bi Ryung heran, "Ketua komisi audit?. Siapa yang menyuruhmu untuk mengaudit?".
"Bukankah kau sudah menerima pemberitahuan dari rapat pemegang saham?", tanya Jae In menantang. 
"Ada apa sebenarnya?" tanya Bi Ryung pada Jeong. 
Jeong meminta maaf, Aku menerima pemberitahuannya baru sekarang.
"Sudahlah, silakan duduk. Kita mulai rapat ini", ucap Bi Ryung kemudian.
 
Jae In dan Cha Don duduk di kursi mereka masing-masing. Keduanya tepat duduk berhadapan. Menatap tajam. Jae In tersenyum sinis. Cha Don hanya menanggapinya dengan senyum tipis. 

Usai rapat Cha Don dan Jae In keluar dari lift dan jalan bersama. Jae In menyindir, "Apa kau senang bekerja sebagai pengacara di sini setelah mengkhianati ibuku?". 
Cha Don membalas, "Apa kau merasa lebih baik karena mendapatkan posisi ini berkat teman-teman ibumu?". 

Keduanya menghentikan langkah mereka. Jae In menatap Cha Don, "Tunggu saja. Aku ketua komisi audit di sini. Jika kau melakukan kesalahan sekecil apapun, kau dipecat".
Cha Don balik menantang, "Mau bertaruh?. Siapa yang akan dipecat lebih dulu?". 

Jae In : Aigoo...Sejak kau dipecat sebagai jaksa, kau menjadi lintah bagi orang lain.
Cha Don : Setidaknya aku tidak menjadi lintah bagi ibuku sepanjang hidupku sepertimu.
"Apa?. Kau benar-benar ingin mati", teriak Jae In marah. 

"Jae In shi", panggil Hyuk yang datang menjemput Jae In. Wajah marah Jae In berubah menjadi senyuman manis ketika melihat Hyuk. Jae In jalan menghampiri Hyuk. Hyuk tersenyum manis (ya...ampun manis banget senyuman Hyuk ini). 

Jae In tanya kenapa Hyuk datang kemari. Hyuk dengar dari ayahnya kalau Jae In terpilih menjadi direktur non-eksekutif. "Kita makan malam. Aku akan membawamu ke tempat yang mewah".

Jae In melirik Cha Don. Merangkul lengan Hyuk, bicara dengan manis bergaya centil, " Aku sedang ingin makan daging. Ayo. Aku lapar". Hyuk melihat sekilas sebelum pergi. Tatapan layaknya seroang rival. Seolah ia tahu, hubungan yang pernah terjalin antara Jae In dan Cha Don.

Cha Don melihat kepergian mereka dengan wajah cemburu. Bi Ryung memanggil Cha Don, ia tanya apa Cha Don ada waktu malam ini. Ada sesuatu yang ingin ia bicarakan dan..... Sikap Cha Don kembali dingin seperti sebelumnya. Cha Don menjawab sudah ada rencana. Bi Ryun tampak kecewa, "Benarkah?".
"Sampai jumpa", ucap Cha Don pergi. 
"Ya" jawab Bi Ryung.

Bi Ryung cemberut dengan penolakan Cha Don. Mungkin ia berpikir pria satu ini susah di tebak. Kadang lembut penuh perhatian tapi kadang juga bersikap dingin. 


Lanjut ke Sinopsis Incarnation Of Money Episode 15 Part 2


4 comments:

  1. huwaaaa urri Hyuk, Miss You so much hahaha.....

    ReplyDelete
  2. Makasih mb nuri. Slalu ditunggu ^^

    ReplyDelete
  3. Mbak 15 part 2 udah hilang ya? Kok waktu di klik yg kluar ep 16 part 1

    ReplyDelete
    Replies
    1. Maaf link ketukar....ini link epi 15 part 2...

      http://blognyanuri.blogspot.com/2013/08/sinopsis-incarnation-of-money-episode_3.html

      Delete

Thanks sudah mampir di blog saya, jangan lupa tinggalkan komentar ya...Trims....:)