Wednesday, May 15, 2013

Sinopsis Incarnation Of Money Episode 10 Part 2

Lagi-lagi Cha Don harus menerima amarah dari jaksa Jo. "Apa yang sudah kukatakan padamu? Kita berurusan dengan Ji Se Gwang. Hati-hati! Berapa kali aku bilang padamu?". Apa yang akan kau lakukan jika presdir Choi mengatakan semuanya?". 
Cha Don berbalik bertanya, apa yang harus ia lakukan jika hal itu terjadi. Jaksa Jo menyalahkan Cha Don karena berurusan dengan orang seperti presdir Choi. Cha Don mengingatkan jaksa Jo bahwa dia lah yang memperkenalkannya pada presdir Choi.

Meski begitu, tetap saja jaksa Jo terus menyalahkan Cha Don. Seharusnya dia tidak berbuat sesuatu yang bisa membahayakan posisi presdir Choi. Cha Don berkata tidak ada gunanya jaksa Jo terus berteriak dan marah-marah seperti ini, tidak akan menyelesaikan apapun. Jaksa Jo ikut merasa pusing, hal ini membuatnya gila. 

Se Kwang masuk ke ruang interogasi, dan mulai menanyakan beberapa hal kepada presdir Choi. Ia menyindir bisnis presdir Choi yang berkembang pesat akhir-akhir ini. Presdir Choi menyangkal tuduhan Se Kwang, ia tidak pernah melakukan manipulasi apapun. Se Kwang mulai membawa-bawa nama Cha Don. Se Kwang bilang Cha Don memberikan beberapa informasi mengenai pembelian lokasi proyek yang dilakukan dengan cara penyuapan. 

Presdir Choi tidak percaya begitu saja dengan bualan Se Kwang. Se Kwang menemukan celah untuk menekan presdir Choi. Jika presdir Choi tidak mau bekerja sama, Se Kwang mengancam akan menangkap presdir Choi di hari pernikahan putrinya, "kedua tangan anda akan diborgol tepat didepan mata putri anda. Tapi jika anda mau bekerja sama dengan kami, saya jamin acara pernikahannya berjalan dengan lancar".

Presdir Choi mulai goyah, menangis karena putrinya harus di seret-seret dalam hal ini, "Lee Cha Don, sialan". 
Se Kwang berada di atas angin. Jaksa Kwon, sekertaris Seo dan Kwon Hyuk menyaksikan dari ruangan sebelah. Jaksa Kwon meminta sekteraris Seo untuk segera memanggil Cha Don. 

Cha Don masuk ke ruangan sebelah interogasi dengan perasaan was-was, "Apa anda ingin bertemu dengan saya, pak?", tanyanya pada jaksa Kwon.
Jaksa Kwon tak menjawab, pandangnya lurus menatap proses interogasi yang dilakukan Se Kwang. 

Ancaman Se Kwang berhasil membuat presdir Choi membuka mulut. Cha Don mendengarkan semua pengakuan presdir Choi. Presdir Choi mengaku sering memberikan uang ribuan dolar pada Cha Don secara rutin. Sebagai imbalan, atas bantuan Cha Don yang luar biasa. Se Kwang bertanya, apa presdir Choi mempunyai saksi atau butik. Presdir Choi menjawab, telah mencatat semua transaksi di buku keuangan.

Se Kwang bertanya, apa Cha Don mempunyai sponsor lain. Presdir Choi menjawab tentu saja ada, ia yakin Cha Don mempunyai beberapa sponsor lain.
Se Kwang : Apa anda sudah pernah mendengar soal Ahli Pemerasan?. Apa mungkin, anda tahu siapa guru pemerasan itu?
Presdir Choi : Ya, aku tahu.
Se Kwang : Siapa dia?
Presdir Choi diam sejenak, membuat suasana semakin tegang. Presdir mengatakan guru pemeras itu tak lain adalah jaksa Lee Cha Don.

Cha Don melirik jaksa Kwon, "Anda tidak mungkin percaya perkataan orang itu, bukan?
Jaksa Kwon : Tentu saja tidak. Kenapa aku mendengarkan ucapan terdakwa dan tidak percaya pada pegawaiku.
Cha Don : Terima kasih
Jaksa Kwon : Tapi, jika kau mengkhianati kepercayaanku, kau harus membayarnya. Bukan hanya untukmu, tapi kehormatan para jaksa bergantung dari masalah ini. Kami akan menyelidikikan secara menyeluruh jadi kita tidak akan menyisakan keraguan apapun.

Jae In berjalan keluar rumah dengan mengendap-endap, seperti pencuri yang takut tertangkap basah. Jae In berteriak terkejut, melihat Ny. Bok berdiri menghadang jalannya. 
Ny. Bok : Jae In, kenapa kau melarikan diri seperti kucing?". 
Jae In : Ibu bilang melarikan diri? Aku berkencan dengan Cha Don".
Ny. Bok tak percaya begitu saja, ia baru saja bicara dengan Cha Don. Jae In beralasan sudah memesan tempat untuk berkencan, dan buru-buru pergi tanpa menghiraukan panggilan Ny. Bok.

Ny. Bok meminta Pal Do untuk segera menyiapkan mobil, ia ingin melihat sendiri apa yang sedang dilakukan Jae In.

Bi Ryung melakukan perawata tubuh di spa. Ia tengah berbicara dengan seseorang melalui telepon. Bi Ryung kesal karena tidak juga bisa mendapatkan sisa saham Hwanghae Bank. Ia juga memarahi petugas spa yang memijat tubuhnya, "Ahh! Sakit sekali. Apa kau tidak bisa lebih lembut?". Jae In menatap kesal Bi Ryung yang sejak tadi mengomel tanpa henti

Bi Ryung kembali berteriak pada petugas spa, "Ahh! Aku bilang sakit".
Jae In tidak tahan lagi, "Astaga. Telingaku sakit. Jika sakit, maka pergi saja ke pemandian umum dan bersihkan kotoran tubuhmu di sana".
Bi Ryung : Hei. Apa kau bicara padaku?
Jae In : Oh, kau mendengarnya?
Bi Ryung : Bukankah kau mengatakannya agar aku mendengar?
Jea In : Karena kau dengar, apa kau bisa lebih tenang sedikit?

Bi Ryung bertanya berapa umur Jae In hingga berani berkata seperti itu pada dirinya. Jae In balik bertanya, "Berapa umurmu sampai kau bicara tidak sopan padaku?". 
Bi Ryung : Hei, panggil pemiliknya. Bukankah kau tahu aku ini tamu VIP?. Kenapa mereka menyuruhku satu ruangan dengan gadis bar-bar ini? Menjengkelkan sekali.
Jae In murka, "gadis bar-bar?", ia lalu berdiri dan mengambil semangkuk krim wajah yang ada dimeja.

Jae In tertawa sinis menatap Bi Ryung , tanpa berkata apa-apa, Jae In menyiramkan semangkuk krim ke wajah Bi Ryung (hahahhaha). Bi Ryung berteriak histeris, matanya tak bisa melihat karena tertutupi krim. Jae In berdiri dengan santai, tersenyum puas lalu pergi keluar.

(Hahahaha, 2 jempol buat Jae In, Bi Ryung memang pantas mendapatkannya. Masih untung krim wajah, bukan air raksa)

Pal Do melihat Jae In keluar dari spa. Ny. Bok menyuruh Pal Do untuk mengikuti kemana Jae In, jangan sampai kehilangan jejak. 

Jae In pergi ke restoran dan sedang melayani pesanan para tamu. Jae In terkejut melihat Pal Do dan ibunya datang ke restoran. Ny. Bok mengira Jae In bekerja sebagai pegawai paruh waktu. Jae In berusaha menjelaskan, tapi Ny. Bok tidak mau dengar dan menyuruh Jae In pulang. Jika Jae In tidak mau pulang juga, Ny. Bok mengancam akan menggunting rambut Jae In. Ny. Bok baru mengatahui Jae In pemilik restoran, ketika salah satu pegawai memanggil Jae In dengan sebutan "Presdir".

Cha Don berjalan banyak beban pikiran. Ji Hoo bertanya apa yang telah dilakukan Cha Don, hingga bagian pengawasan mengeluarkan surat perintah untuk menggeledah rumahnya. Bahkan Ji Se Kwang sedang mencarinya saat ini. Cha Don langsung lari begitu mendengar penjelsan Ji Hoo.

Tapi di lobby sudah ada Kwon Hyuk dan detektif Choi, mereka langsung mengejar begitu melihat Cha Don. Dia berbalik ingin keluar lewat pintu belakang, tapi ia justru bertemu dengan Se Kwang. Cha Don kembali berlari masuk kedalam, dan mencoba menghubungi ponsel Gu Shik. Cha Don terdesak, tidak ada lagi tempat untuk melarikan diri.

Sebelum Se Kwang datang menyusul, Cha Don meletakkan ponselnya di dekat pot tanaman, sehingga Gu Shik bisa dengan leluasa mendengarkan percakapannya. Se Kwang dkk berhadapan dengan Cha Don. 

Se Kwang mengeluarkan surat perintah pengeledahan rumah Cha Don. Ia merasa yakin Cha Don mempunyai dana rahasia. Cha Don tertawa, dan balik bertanya, "Apa mungkin, Presiden Choi mengatakannya?. Kalau ada dana rahasia dirumahku?. Kenapa anda tidak mengatakan kode rahasianya, seperti 493-5183" . 

Gu Shik menyuruh sekertaris Hong untuk mencatat kode rahasia yang ad sebutkan Cha Don. Kode itu merupakan kode rahasia gudang penyimpanan uang milik Cha Don. 

Se Kwang yang tidak mengerti meminta Cha Don untuk berhenti berbuat onar, lebih baik pergi sekarang untuk menghemat waktu.
Cha Don : Baiklah! Baik. Ayo. Aku bilang, ayo. Tapi aku sakit perut. Apa aku boleh ke kamar mandi?
Se Kwang menyuruh detekfit Choi untuk memeriksa tubuh Cha Don, dengan tujuan ingin mengambil handphone Cha Don. Tapi detektif Choi tidak menemukan apapun.

Kwon Hyuk dan detektif Choi berjaga di luar toilet. Cha Don berusaha untuk mengulur waktu sebanyak mungkin. Di waktu yang sama, Gu Shik dan sekertaris Hong menuju rumah Cha Don dengan menggunakan mobil tua milik Cha Don. Gu Shik dan sekertaris Hong merasa stress karena mobil berjalan begitu lambat. Maklum saja mobil tua.

Ny. Bok akhirnya mengetahui Jae In terbelit banyak hutang di bank. Jae In berkata ia tidak akan meminta bantuan pada ibunya. Ny. Bok memberi perintah pada Pal Do untuk menarik kembali semua kartu kredit Jae In. Dan melarang putrinya untuk masuk rumah.

Jae In : Apa? Ibu benar-benar akan putus hubungan denganku?
Ny. Bok : Orang yang tidak tahu cara mendapatkan uang bukanlah putriku.
Jae In : Uang! Uang! Uang! Uang! Apa hanya uang yang ibu tahu? Uang lebih berharga
daripada aku, bukan?
Ny. Bok : Jadi kau tahu dan masih melakukannya?
Jae In : Ibu pikir kenapa aku memulai bisnis ini? Aku tidak ingin hidup seperti ibu
yang hanya peduli pada uang. Aku memulai bisnis restoran ini agar aku tidak terjerumus dalam bisnis lintah darat.

Ny. Bok marah dan mengusir Jae In keluar dari rumah. Jae In tak mengira, ibunya akan berbuat sampai sejauh itu, "Apa ibu juga mengusir ayah seperti ini? Karena ayah tidak bisa menghasilkan uang?. Ibu kira aku tidak tahu? Ayah belum mati. Karena uang, ibu...".
Ny. Bok semakin marah dan menampar Jae In, "Berani sekali kau mengatakan hal seperti itu?". 

Jae In menahan tangis, "Apa ibu tahu hal yang paling memalukan dalam hidupku? Nama terakhirku bukanlah nama ayahku, tapi nama ibuku. Aku hidup sebagai Bok Jae In putri Bok Hwa Sool. Itu yang membuatku paling malu". 
Jae In pergi. Pal Do menyusul Jae In keluar.
Ny. Bok terdiam, menarik napas dalam-dalam. Hatinya pasti terluka, "Gadis malang dan buruk. Apa dia tahu kalau....Oh, kepalaku".

Gu Shik dan sekertaris Hong tiba di rumah Cha Don. Mereka cepat-cepat membuka gudang penyimpanan rahasia Cha Don. Mereka terkejut melihat tumpukan uang di dalamnya. Gu Shik dan sekertaris Hong memasukan uang-uang itu ke kardus, mereka harus cepat memindahkannya. Tidak ada waktu lagi. 

Cha Don berada dalam satu mobil bersama Se Kwang. Cha Don meminta detektif Choi untuk berhenti sebentar di pom bensin, perutnya sakit hati. Se Kwang tak peduli, menyuruh detektif Choi untuk terus jalan. Cha Don diam tak berkutik, rasa gugupnya membuatnya tak mampu memikirkan cara lain untuk menghambat perjalanan. 

Mobil polisi mendekati rumah Cha Don, padahal saat itu Gu Shik dan sekertaris Hong bersiap mengangkut kardus-kardus berisi uang ke dalam mobil.
Sekertaris Hong panik, "Mereka sudah sampai. Bagaimana ini, Kepala Bagian Yang?".
Gu Shik meminta sekertaris Hong untuk bersembunyi di luar. Gu Shik tak tahu lagi apa yang harus ia lakukan. Jika ia membiarkan uang-uang ini, maka Cha Don akan dikirim ke penjara.

Gu Shik membulatkan tekad, memotong selang gas elpiji. Lalu keluar lewat pintu belakang. Dengan tangan gemetar, ia menyalakan pematik/korek api. Gas elpiji keluar dari selang dan mulai memenuhi ruangan. 

Cha Don dan tim penyidik berada di halaman. Cha Don melihat mobil tuanya yang masih terparkir di halaman. Pertanda bahwa Gu Shik dan sekertaris Hong masih ada di dalam rumah. Se Kwang menyindir, "Kau hidup dengan hemat guru pemeras".

Untuk terahkir kalinya, Cha Don berusaha menahan Se Kwang, "kita bisa bicara sebentar? Hanya kau dan aku".
Se Kwang menolak, "Setelah kita temukan dana rahasianya, saat itulah kesempatan kita untuk bicara". 
Cha Don kesal dan berteriak, "Apa kau orang benar?. Kau tidak pernah berbuat dosa dalam hidupmu, Kepala?".

Tiba-tiba, BOOM...rumah Cha Don meledak, api besar membumbung tinggi, membakar habis semua yang ada di dalam rumah. Mata Cha Don terbelakak, melihat dengan wajah shock. Dengan kedua matanya, ia menyaksikan rumahnya terbakar api.

Se Kwang tak kalah terkejut, matanya melolot lebih lebar dari pada Cha Don. Ia memberi perintah pada timnya untuk maju mendekat, mencari kemungkinan adanya barang bukti yang belum terbakar. Tapi tak ada dari mereka yang berani menerobos kedalam, karena api terlalu besar.

Cha Don diam terpaku, hati kecilnya berkata, "Apa ini? Didepan mataku, apa yang sedang terjadi? Uangku. Semua uang yang berharga seperti darahku". 

Didalam rumah, api besar membakar semua uang yang selama ini dikumpulkan Cha Don. Tak bersisa, hangus menjadi abu.

Ji Hoo kembali meninjau TKP pembunuh pengacara Hwang. Ji Hoo naik ke atas bangunan dan melihat ke bawah, "Dia jatuh dari sini dengan tas dan uang palsu. Jika itu bukan bunuh diri, pasti ada perjuangan fisik dengan pembunuhnya atau kontak fisik lainnya".
Ji Hoo menemukan ponsel Gu Shik diantara tumpukan kayu. Ponsel ini bisa menjadi petunjuk siapa yang telah membunuh pengacara Hwang. 

Tim Se Kwang menelusuri rumah Cha Don begitu api telah padam. Detekfit Choi melapor pada Se Kwang, semuanya habis terbakar tidak ada yang tersisa. Se Kwang menarik mundur tim penyidik. Cha Don berdiri mematung, menatap sedih puing-puing rumahnya.
Kwon Hyuk mengejek, "Apa kau menangis sekarang?". 
(Ah...kenapa Kwon Hyuk terlihat menyebalkan...!!!!!)

Cha Don menjawab tanpa melihat wajah Kwon Hyuk, "Tidak peduli betapa kumuhnya rumahku, itu tetap rumahku yang kini habis terbakar. Kenapa aku tidak boleh menangis?". 
Hwon Hyuk tertawa dan meninggalkan Cha Don. Si devil Se Kwang hanya diam memperhatikan ekspresi Cha Don, pasti ia sudah merasa puas sekarang. Mobil tim penyidik pergi menjauh. 

Gu Shik dan sekertaris Hong keluar setelah kondisi aman. Cha Don bertanya bagaimana dengan uangnya. Gu Shik menggeleng, meminta maaf sambil menangis, tak ada yang tersisa hanya ini cara terbaik yang bisa ia lakukan untuk menyelamatkan Cha Don. Sekertaris Hong juga sedih, apa yang harus mereka lakukan selanjutnya. 

Cha Don terduduk lemas, menangis tanpa suara. Meratapi uangnya yang kini tak bersisa. Gu Shik dan sekertaris Hong semakin merasa bersalah. Mereka ikut menangis bersama Cha Don.

Bangsal rumah sakit jiwa, bawah tanah. Lagi-lagi Se Kwang mengirim Gi Soon kerumah sakit jiwa. Itu berarti sudah 5 tahun Gi Soon menjadi pasein disini. Rumah sakit jiwa ini terlihat lebih menyeramkan di bandingkan sebelumnya. Gi Soon memandang foto keluarganya. Air matanya mengalir, mengingat saat Se Kwang pertama kali membawanya kemari. 

5 tahun lalu, Se Kwang membawa Gi Soon ke rumah sakit jiwa. Mata Gi Soon tertutup di sepanjang perjalanan. Meski begitu ia tahu bahwa Se Kwang juga berada di mobil yang sama dengannya. Gi Soon bertanya, kemana Se Kwang akan membawanya. Se Kwang tak menjawab, hanya menatap Gi Soon dengan tatapan devilnya. Memalingkah wajah, bertingkah seolah tidak terjadi apa-apa...
(Emosi tiap kali liat wajah penjahat satu ini). 

Kemudian, Gi Soon dibawa paksa masuk kekamar perawatan yang berada di ruang bawah tanah. Masih dalam keadaan mata tertutup.  Se Kwang berdiri tepat di hadapan Gi Soon. Gi bisa mengetahui keberadaan Se Kwang dari aroma parfum yang dia pakai.
Gi Soon bicara dengan berlinangan air mata, "Ji Se Gwang. Jangan kira ini adalah akhir dari semuanya. Setalah aku tahu yang sebenarnya. Pertarungan ini baru saja dimulai. Putraku....Kang Seok.."

Se Kwang yang sejak tadi diam, akhirnya membuka suara, "Apa kau tahu berita soal Kang Seok? Jika dia datang ke sini, maka kau bisa memberitahunyai. Bahwa ayahnya, Lee Joong Man, dibunuh oleh Ji Se Kwang. Kau bisa memintanya untuk membalas dendam padaku.

Gi Soon : Pasti, itu akan terjadi. Kang Seok tidak akan pernah melepaskanmu
Se Kwang : Tapi, bagaimana jika dia sudah mati?. Bagaimana jika dia mati, dan dia terkubur dalam tanah. 
Gi Soon berteriak, "Tidak .Dia belum mati. Dia masih hidup, Kang Seok-ku
Se Kwang : Selama sisa hidupmu, kenapa kau tidak mempercayainya? Itulah kenyamanan paling baik bagimu, Nyonya.

Se Kwang tertawa dengan senyum devilnya. Senyuman bengis menyebalkan. Ketamakan dan keserakahan sudah membutakan mata hatinya. Se Kwang bukan manusia tapi monster....

Kembali ke masa kini. Gi Soon masih menatap foto di tangannya, lalu meletakkan foto itu di dada. Gi Soon berkata dalam hati, "Ji Se Kwang, kau boleh saja terus mempercayai bahwa putraku sudah mati. Tunggu dan lihat saja, sampai putraku muncul didepanmu. Sampai saat itu tiba, itu adalah saat yang paling membahagiakan dalam hidupmu".

Cha Don mengorek-ngorek kardus yang berisi uang, mungkin saja ada uang yang terselamatkan. Gu Shik berkata, selama masih ada nomor serinya, pihak bank akan bersedia mengganti. Tapi apa daya, semua nomor serinya terbakar. Hanya ini yang tersisa yang lainnya sudah menjadi abu. 

Sekertaris Hong baru saja mendapat telepon dari kantor kejaksaan. Cha Don dipanggil oleh komisi disiplin kejaksaan. Ia  terancam di tangkap atau kehilangan posisinya sebagai jaksa, "Apa yang harus kita lakukan jaksa?". 

Cha Don : Aku tidak akan jatuh sendirian. Apa aku saja yang menerima keuntungan dari uang itu? Jika mereka mengacaukan, apa mereka pikir mereka akan baik-baik saja? Kalian pernah dengar "Pembom Bunuh Diri", kan? Aku punya bomnya. Sekali aku menarik pelatuknya, ada banyak orang yang akan ketakutan. Aku tidak akan pernah mati sendirian.

Cha Don tampak sangat marah, meremas uang yang hampir hangus terbakar.

Cha Don kembali ke kantor kejaksaan. Pegawai lain menatap Cha Don dengan pandangan berbeda, ketika berpapasan dengannya di lobby. Sepertinya kabar buruk tentang Cha Don telah menyebar di kejaksaan.
Ji Hoo memanggil, "Jaksa Lee. Apa berita itu benar? Kenapa kau melakukan hal itu".
"Nanti, aku akan menceritakannya nanti", jawab Cha Don. Lalu Pergi meninggalkan Ji Hoo.

Se Kwang menghampiri Ji Hoo, "Dia akan kehilangan posisinya sebagai jaksa. Setelah komisi disiplin dibentuk, dia akan didakwa".
Ji Hoo tampak sedih, meski ia sering galak pada Cha Don, tapi Cha Don tetaplah juniornya.

Cha Don masuk keruangan jaksa Jo. Jaksa Jo terkejut, ia bertanya kenapa Cha Don ada disini. Cha Don balik bertanya, apakah salah jika seorang bawahan menemui atasannya.
Jaksa Jo menutup tirai jendela, "Ji Se Gwang sudah ditunjuk sebagai ketua komite disiplin Jadi lebih baik kau sudah bersiap-siap mulai sekarang". 
Cha Don berbalik menatap jaksa Jo, "Hidupku berakhir jika aku ditangkap".
"Omong kosong macam apa ini? Kau pikir aku ini Presiden dari negara ini?", ucap jaksa Jo.

Cha Don menyebutkan satu-satu persatu nama-nama pejabat dan penegak hukum yang terlibat, termaksud jaksa Jo. Mereka juga ikut menikmati uang jasa yang Cha Don berikan. Kapan, dimana, dan berapa banyak yang ditukar, ia punya semua buktinya. 
Jaksa Jo berteriak, "Hei...Lee Cha Don. Jaksa Jo tampak takut dengan gertakan Cha Don.

Cha Don kembali menyerang, "Tolong kirimkan pesan ini pada mereka. Entah posisiku sebagai jaksa diganti atau masuk penjara, itu sama saja hukuman mati untukku. Jika aku juga akan mati, aku tidak akan pernah meninggalkan dunia ini sendirian". 



END



Komentar :
Semakin benci sama Se Kwang. Jaksa munafik yang memakai topeng kebaikan. Dia hanya sibuk mencari kesalahan orang lain, tapi lupa sama dosanya sendiri....Bener2 orang kaya gini minta ditimpukin batu rame-rame. Meski kali ini Cha Don memang salah, tapi tetap saja saya  kesal sama Se Kwang. Harus kuat-kuat tahan emosi tiap kali melihat wajahnya. Se Kwang ini juga ga ada puas-puasnya nyiksa Gi Soon. 

Sejauh ini hanya Ji Hoo yang menjadi jaksa bersih, tanpa terlibat kejahatan atau pun korupsi. Kalau Jaksa Kwon dan Jaksa Jo, yach tidak usah di tanya lagi. Para jaksa senior ini lebih dulu menjadi jaksa korup.


12 comments:

  1. Ditunggu lanjutannya...

    ReplyDelete
  2. di akhir eps ini cha don kasihan bgt ea,,
    meski aku tau dia salah, tp aq ttp brsmpati ma dia,,
    ingin lihat wajah takutnya ji se kwng ketika dia menghadapi masalah besar sampe g bs nyelesaiinya..
    makasih mb bwt snpssnya, ttp semangat n lanjutkan,,,,

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, aku juga ngerasa kasihan sama cha don, dan makin kesel sama se kwang...., ini orang jahatnya ga nanggung-nanggung...

      Delete
  3. salam kenal mbak, aku suka baca blognya... tolong lanjutin eps cha don-nya makasih ya...

    ReplyDelete
  4. mm,, makasih ya mbak buat sinopsis nya hwaiting!!!
    salam kenal :D

    ReplyDelete
  5. Kak tolong di lanjutin lagi ya sinopsis film nya, saya berharap banget kak, makasih sebelumnya kak

    ReplyDelete
  6. sLm kenal
    mau ikutan nimbrung nih .....menurut aku lambat banget jalan ceritanya tapi penasaran endingnya....
    habis semua kok dijahatin ama dibunuh...kayaknya gakda sinyal kehancuran dari penjahat2 itu..... padahal pengacara kwang kayaknya dah mau nemuin...eh malah dibunuh....bagaimana mereka tahu.... kan dicerita tdk ada indikasi yg ngikuti ato apa....issshhhhh pokoknya sebel level 7.

    tapi, makasih kak atas sinopsisnya, ditunggu lanjutannya...

    ReplyDelete
  7. Dtunggu berbulan2 koq gk dlanjutin sih mbk? apa akan te2p nggantung gini?

    ReplyDelete
  8. lhaa kq g ada lanjutannya? tanggung nihh,..

    ReplyDelete
  9. eonni ga ad kelanjutan sinopsis ni ya eonni??di tunggu banget ya eonni...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Udah sampe tamat kok say, klik laman sinopsis...ada semua link disitu sampai episode terahkir...

      Delete

Thanks sudah mampir di blog saya, jangan lupa tinggalkan komentar ya...Trims....:)