Pages - Menu

Tuesday, May 21, 2013

Sinopsis A Hundred Years Inheritance Episode 18 Part 1

Se Yoon datang kerumah Chae Won, membawa kabar baik. Joo Ri menghentikan mobilnya tak jauh dari rumah mie. Ia melihat sendiri Se Yoon dan Chae Won yang berbincang dengan sangat akrab. Entah apa tujuan Joo Ri datang ke rumah Chae Won, tapi yang jelas ia merasa sangat penasaran.

Joo Ri bertanya pada diri sendiri, "Bagaimana mereka bisa saling kenal?. Apa hubungan mereka?. Mereka tidak masuk ke kampus yang sama. Bagaimana Chae Won bisa mengenalnya padahal sunbae yang tinggal di luar negeri selama 3 tahun? Atau mereka sudah saling mengenal untuk waktu yang lama?".

Chae Won merasa senang mendengar kabar baik yang Se Yoon sampaikan. Tapi Se Yoon tidak menjamin 100%, bahwa Chae Won bisa diterima bekerja. Ia hanya kebetulan mengetahui tentang lowongan ahli gizi, " Jadi aku mengajukan resumemu. Tidak apa-apa kan, aku  mengajukannya tanpa seijinmu?".

Chae Won tentu saja tidak merasa keberatan, justru ia sangat berterima kasih. Se Yoon berkata terlalu dini untuk mengucapkan terima kasih.
Chae Won berterima kasih atas semua perhatian Se Yoon, bukan cuma soal kesempatan kerja. Aku tahu tidaklah mudah untuk peduli dengan masalah orang lain.
Se Yoon berkata, sebenarnya ia tidak terlalu menyukai menu di kantin, "Jika kau diterima, kau bisa membuatkan makanan apapun yang aku inginkan, kan?".

Chae Won mengangguk, "Tentu saja. Aku seharusnya paling tidak melakukan itu untuk penyelamat hidupku".
Se Yoon berkata, ia sudah merasa kenyang hanya dengar mendengarnya. Chae Won sangat berterima kasih atas segala kepedulian Se Yoon selama ini dalam banyak hal. Ia bahkan tidak tahu bagaimana cara membalasnya.

"Hei, tentu saja kau harus membalasnya. Kau berhutang padaku hidupmu dan pekerjaanmu", kata Se Yoon sedikit bercanda.
"Benar. Aku akan merawatmu dengan baik sebagai penolong hidupku", balas Chae Won.
"Jangan lupakan janjimu itu", ucap Se Yoon dengan wajah serius.
Se Yoon kemudian berpamitan pulang. Chae Won meminta maaf karena tidak menyuguhkan apa-apa. Padahal Se Yoon sudah datang sejauh ini, menyampaikan berita baik.

Se Yoon berkata, mereka akan sering bertemu nantinya, "Saat kau diterima kerja, traktir aku". Chae Won mengangguk setuju. Se Yoon kembali bercanda, "Kuharap nantinya kau tidak akan kecewa setelah terlalu berharap".
Chae Won hanya tersenyum menanggapi guyonan Se Yoon. Mereka tertawa bersama. Se Yoon mengucapkan selamat malam, lalu pergi.

Dan,  Joo Ri masih berada di tempatnya. Menatap dengan tatapan penuh tanda tanya. Setelah Chae Won masuk kehalaman, baru Joo Ri berani keluar dari mobil. Tapi tak ada yang ia lakukan. Hanya berdiri dengan banyak pertanyaan di kepalanya. Ia tak menduga Se Yoon bisa terlihat begitu dekat dengan Chae Won. Aku sungguh tidak bisa memahaminya.

Saat Chae Won masuk rumah, Ki Ok sudah menunggunya, dengan setengah menggoda ia bertanya, "Siapa pria tampan itu tadi?". Chae Won menjawab dia hanyalah kenalan biasa.
Nenek keluar dari kamar, ia merasa khawatir karena ayah Chae Won belum juga pulang. Apa mungkin pekerjaannya tertunda. Ki Ok mengatakan, Kang Jin juga berulang kali menghubungi ponsel Hyo Dong, tapi selalu tidak di jawab.
"Telpon Ayahmu dan cari tahu dimana dia sekarang", pinta nenek pada Chae Won.
Chae Won menurut, dan menelpon ayahnya.

Choon Hee menunggu Hyo Dong keluar dari klinik kesehatan. Setelah meminum obat Hyo Dong merasa lebih baik. Choon Hee masih merasa kesal pada Hyo Dong, "Oppa, kau membuatku gila. Kenapa kau membuat mobil ban terperosok, sehingga akhirnya kita ketinggalan kapal?".
"Aku tidak bermaksud begitu", jawab Hyo Dong.
Choon Hee masih tidak percaya, "Apa kau yakin itu tidak sengaja?. Bukankah kau sengaja ketinggalan kapal supaya bisa bermalam denganku?".

Hyo Dong marah karena Choon Hee terus menuduhnya, "Kau pikir aku ini siapa sehingga kau terus berkata begitu? Aku bukan orang rendah seperti itu. Aku tetap setia dengan almarhumah istriku  selama 30 tahun. Aku membayangkan cinta sejati. Aku bukan orang yang menipu seseorang untuk bisa menghabiskan malam bersamanya".
Choon Hee : Aku cuma bicara. Kenapa kau begitu marah?
Hyo Dong : Leluconmu bisa membunuhku, kau tahu.

Ponsel Hyo Dong berdering, ia panik begitu melihat nomor telepon rumah mie tertera di layar ponsel. Hyo Dong menjawabnya dengan takut-takut. Rasa takutnya sedikit menghilang ketika mengetahui yang menelponya adalah Chae Won. Hyo Dong beralasan, hari ini ia akan pulang telat, karena banyak pekerjaan yang tertunda. Ia meminta putrinya untuk tidur lebih dulu dan tidak usah menunggu kepulangannya. Hyo Dong menutup telepon setelah memberi alasan.

Choon Hee bertanya kenapa Hyo Dong mengatakan akan pulang terlambat. Tidak ada kapal yang lagi yang datang malam ini. Hyo Dong berkata, ia adalah seorang ayah. Tak mungkin baginya mengatakan pada putrinya bahwa ia akan bermalam diluar malam ini.

Kali ini giliran ponselnya Choon Hee yang menerima panggilan masuk. Ia kesal karena sejak tadi Kang Jin terus saja menelpon. Choon Hee mengangkat telepon, bertanya kenapa Kang Jin terus saja menelponya, menganggu sekali.  Kang Jin berkata saat ini dia adalah seorang pasien dan merasa ditelantarkan oleh Choon Hee.

Kang Jin mulai mendramatisir keadaan, "Aku ini dalam kondisi yang serius. Kurasa aku mengalami kerusakan otak, juga. Pikiran-pikiran aneh terus datang ke kepalaku. Aku tidak stabil secara mental. Kurasa aku menderita depresi".

Choon Hee hanya menjawab pendek, "Apa kau menelponku untuk mengeluh?. Aku sibuk. Berhenti omong kosong. Aku tutup teleponnya".
Kang Jin tak mengira Choon Hee akan menutup telepon begitu saja. Kang Jin mengomel sendirian, ia berkata akan mengadukan hubungan mereka pada nenek.

Sebenarnya tangan Kang Jin ini sudah baikan. Sewaktu menelpon Choon Hee, dia menggunakan tangan kanannya yang cedera untuk menggaruk punggung.

Kang Jin terbayang lagi wajah Ki Ok yang memakai baju pengantin. Ia lalu memukul-mukul kepalnya dengan penggaruk, "Gila. Kau pasti sudah gila. Kenapa kau terus memikirkannya?. Malangnya dirimu. Belum pernah menikah selama 60 tahun. Kau akan menemui takdirmu di rumah atap yang sunyi".  Kang Jin menangis memikirkan kehidupanya yang terasa menyedihkan. 

Hyo Dong dan Choon Hee memutuskan untuk bermalam di sebuah penginapan. Keduanya tampak canggung dan kikuk. Choon Hee tampak takut-takut masuk kedalam. Ia masih saja memikirkan hal yang buruk tentang Hyo Dong.

Choon Hee berguman, "Kotor sekali. Kenapa dia harus terperosok ke lubang pada saat itu?".
Hyo Dong mendengar perakataan Choon Hee dan menjawab, "Aku juga tidak menginginkan itu. Diare-ku adalah fenomena fisiologis alami". 
Choon Hee masih tidak percaya, "Apa kau benar-benar tidak sengaja?". 
Hyo Dong marah, " Apa aku berkata kalau aku sengaja terperosok?". 
"Kenapa kau jadi marah?", tanya Choon Hee.

Hyo Dong  : Aku hanya merasa tersinggung karena kau terus memperlakukanku seolah-olah aku seperti serigala".
Choon Hee juga ikut marah, "Ha. Kau benar-benar aneh. Kapan aku memperlakukanmu seperti serigala?
Nada bicara Hyo Dong merendah, "Jika aku salah, maafkan aku. Kau mandilah terlebih dahulu".

Choon Hee terkejut dan menjauh, lagi-lagi ia salah paham, "Apa maksudmu dengan menyuruhku mandi? Kecuali kau punya keinginan tidak senonoh, kenapa kau menyuruhku mandi duluan?". 
Hyo Dong : Kau terlihat lelah. Jadi aku hanya berkata kau boleh mandi dulu dan pergi tidur. Apa aku mengatakan sesuatu yang salah?. Kau salah paham tidak peduli apa pun yang kukatakan. Kau mencurigakan. 

"Mencurigakan?. Apa kau ingin berkata kalau aku mencoba untuk mendekatimu?", tanya Choon Hee. 
Hyo Dong mengelus kepalanya, melakukan gerakan yang sering ia lakukan, "Jika bukan, baiklah". 
"Ya ampun. Kau konyol sekali", ucap Choon Hee lalu pergi ke kamar. 
Hyo Dong bicara sendiri, "Apa aku berlebihan?", tanyanya dengan wajah polos....

Young Ja mendapat kabar dari Ms. Koh (mak comblang). Perjodohan dengan putri bungsu dari Tae San Group akan dilaksanakan besok siang. Young Ja kegirangan mendengarnya, ia berjanji akan memberikan hadiah besar pada mak comblang, jika Chul Goo berhasil menikah dengan putri bungsu Tae San Group. Jadi tolong lakukan yang terbaik. Young Ja menutup telepon.

Joo Ri pulang dan mendengarkan percakapan ibunya, "Oppa mendapat perjodohan yang lain, dengan siapa?". 
Young Ja menjawab dengan wajah sumringah, "Putri bungsu Tae San Grup". 
"Benarkah?", tanya Joo Ri setengah tak percaya.
Young Ja : Ya. Lihatlah, sudah  Ibu bilang. Ada banyak sekali wanita di dunia ini. Sejak rubah itu pergi, wanita yang sempurna datang ke keluarga kita.

Joo Ri tak yakin jika kakaknya akan menikah dengan putri bungsu Tae San Grup. Young Ja berkata Chul Goo sudah lama melupakan Chae Won, dan sekarang semuanya sudah kembali normal. Young Ja pergi ke kamar Chul Goo dengan langkah riang. Joo Ri tersenyum, memuji ibunya yang luar biasa.

Chul Goo menatap foto pernikahan Chae Won dan teringat perkataan Chae Won tentang cintanya yang besar pada Chul Goo hanyalah sia-sia belaka. Chul Goo bertekad untuk melupakan Chae Won. Ia ingin merobek foto Chae Won, tapi dia tidak sanggup melakukannya.

Young Ja datang, berteriak kegirangan, "Putraku...putraku...".  "Apa?", jawab Chul Goo tanpa gairah. Young Ja mengabarkan bahwa perjodohan Chul Goo dan putri bungsu Tae San Grop sudah ditetapkan.

Ms. Koh (mak comblang) baru saja menelpon. Dia bilang kalau Nona itu ingin bertemu denganmu besok. Dilihat dari cepatnya permintaan kencan darinya. Ibu rasa dia menyukaimu. Tidakkah kau pikir begitu?. Kau harus datang ke pertemuan itu besok. Jika kau bersembunyi lagi, kau tidak akan pernah bertemu lagi dengan Ibu. 

Chul Goo menjawab dengan ogah-ogah'an, "Baiklah". Young Ja semakin senang, "Aigo...Itu baru putraku. Terima kasih. Terima kasih, Chul Goo. Tunggu. Ini bukan waktunya bersantai. Aku harus dipijat dan memilih pakaian".  
"Ibu tidak ikut, kan?", tanya Chul Goo. 

Young Ja berkata Tae San Grop bukanlah keluarga sembarangan. Ibu dari kedua belah keluarga juga diminta untuk hadir. Menjadi besan dengan keluarga kaya dan terhormat Tae San Grop merupakan sebuah mimpi. Young Ja keluar kamar sambil menari-nari....

Joo Ri masuk ke kamar Chul Goo, dan melihat tingkah ibunya yang benar-benar bahagia hari ini. Chul Goo menghela napas berat. Joo Ri bertanya, "Kelihatannya kau sudah memutuskan untuk menyingkirkan rubah (Chae Won) itu?".
Chul Goo membentak marah, "Berhenti memanggilnya rubah".
Joo Ri balik membentak, "Kenapa kau melampiaskannya padaku?". Apa kau pernah mendengar soal temannya yang bekerja di perusahaanku?. Apa dia tidak punya teman pria yang dekat?

Chul Goo tak mengerti perkataan Joo Ri, ia balik bertanya. Mungkinkah adiknya itu mengetahui sesuatu tentang Chae Won. Joo Ri menyuruh kakaknya untuk melupakan pertanyaannya, dengan jutek dia berkata, "Oppa hanya membuat masalah menjadi buruk". Joo Ri pergi. Chul Goo diam, berguman tidak jelas. Tampak depresi.

(Terlihat sekali kalau Joo Ri ini egois, sama sekali tidak menunjukkan simpati pada kakaknya).

Sol Joo membuka kembali album foto masa kecil Se Yoon. Tapi anehnya ia justru terlihat sedih saat melihatnya. Se Yoon masuk ke kamar Sol Joo, "Aku pulang". 
Sol Joo menghapus air matanya, "Kapan kau pulang? Ibu tidak mendengar suara bel pintu".
Se Yoon menjawab baru saja, ia heran melihat ibunya yang tiba-tiba melihat foto masa kecil.

Sol Joo berkata saat Se Yoon bekerja, ia sering melihat-lihat foto-foto ini, "Ibu rasa ini adalah masa-masa terbaik dalam hidup Ibu. Saat Ibu memelukmu di dalam dekapan. Ibu tidak mempunyai rasa takut dan rasanya seperti seluruh dunia adalah milik ibu".

Se Yoon bertanya apa terjadi sesuatu, ibu terlihat berbeda dari biasanya. Sol Joo berkata tidak terjadi apa-apa. Tapi matanya sudah mulai berkaca-kaca. Ia menyuruh Se Yoon untuk segera ganti baju, kau pasti lapar. Se Yoon menurut dan pergi ke kamar. 

Setelah Se Yoon pergi, wajah Sol Joo kembali sedih. Ia masih teringat permintaan kepala panti yang ingin bertemu dengannya. Jelas sekali Sol Joo menyembunyikan sesuatu, sebuah rahasia besar yang berhubungan dengan Se Yoon. 

Se Yoon masuk ke kamar dengan senyum mengembang. Ia teringat ucapan terima kasih Chae Won, dan berjanji akan memperlakukan Se Yoon dengan baik sebagai penolong hidupnya. Se Yoon merasa cemas, ia berharap Chae Won bisa lolos interview. Jika tidak, maka ia akan merasa malu. Setiap kali memikirkan tentang Chae Won, Se Yoon selalu saja tersenyum.

Chae Won berada di halaman, berjalan sambil menyentuh mie buatan paman dan juga bibinya. Ia berdiri di depan mie buatan Ki Choon, mengambil sepotong dan mencicipinya. Kakek berdiri dibelakang Chae Won dan berdehem. Chae Won berbalik.

Kakek memberikan sedikit wejangan, "Ketahuilah rasa mie dengan menggunakan perasaan, bukan dengan mencicipinya. Jika kau bisa memperkirakan rasa dari mie melalui sentuhan, kau akan menjadi ahli mie sejati". Chae Won mengangguk mengerti. 

Kakek lalu menunjuk mie buatan anak-anak dan menantunya. Ia menganggap semua mie yang ada dihadapannya hanyalah sampah. Tidak heran karena perhatian utama mereka adalah uang,  "Kakek harap kau akan meneruskan pabrik mie ini".

Chae Won minta kakek untuk tidak terus berkata seperti itu, jika mereka mendengar pasti akan merasa sedih. Mereka bahkan keluar dari pekerjaan dan datang kemari untuk meneruskan usaha keluarga. Jika Kakek terus berkata begitu, mereka akan kehilangan semangat.

Kakek berkata ia bukanlah orang bodoh. Kakek tahu dengan pasti,  anak-anak dan menantunya tidak tertarik dengan usaha keluarga. Mereka hanya tertarik dengan warisan 10 milyar. Chae Won mendekat, mengenggam tangan kakek, "Berikan mereka waktu. Mereka akan membaik sedikit demi sedikit".
Kakek : Ya, Kakek harap begitu, tapi entah kenapa, kakek mulai tidak sabar. 

Do Hee merasa lelah setelah membuat mie tadi siang. Ki Moon dengan sayangnya memijat kaki istrinya. Do Hee sudah merasa kalah di awal pertandingan ini. Ki Choon dan Kang Sook hidup dilingkungan pasar, mereka cepat dalam menangani sesuatu. Dan Ki Ok, dia melakukan lebih baik dari yang ia pikirkan. Ki Moon juga berpikir adik bungsunya itu hanyalah seorang pemula, tapi dia tampaknya sangat terampil. 

Do Hee bertanya apa yang harus kita lakukan. Ki Moon minta istrinya itu untuk tidak terlalu cemas, karena hasilnya belum diketahui. Do Hee mengeluh, "Tidak bisa dipercaya aku membuat mie di daerah pedesaan yang terpencil ini. Aku jadi begitu depresi tapi aku akan terus bertahan demi 10 milyar".

Ki Moon juga merasakan hal yang sama, "Pekerjaan fisik juga tidaklah mudah untukku".
Do Hee lalu menyemangati Ki Moon, "Kita baru melalui putaran pertama dari kompetisi.
Bersemangatlah. Kita harus memenangkan 10 milyar dengan segala cara". 

Ki Moon dan Do Hee merasa pesimis, tapi lain halnya dengan Kang Sook dan Ki Choon. Mereka bersulang merayakan kesuksesan mereka di putaran pertama. Ki Choon sangat yakin, timnya akan menjadi pemenang pada putaran pertama ini. Kang Sook berkata, jangan buru-buru untuk menyimpulkan, "Ayah bilang. Mie yang terbuat dari adonan yang bagus hanya akan menjadi potongan tepung jika tidak dikeringkan dengan baik"

Ki Choon tertawa, "Pastikan untuk memeriksa semuanya."
"Tepat sekali", sahut Kang Sook. Bagaimanapun, Ki Choon tetap yakin akan menjadi pemenang. Kang Sook memuji kerja keras Ki Choon dan memanggilnya dengan sebutan sayang. Ia tidak tahu jika mantan suaminya itu mengagumkan dan bisa di andalkan.

Hyo Dong menghubungi Ki Choon dan menceritakan kejadian yang ia alami saat ini. Ia minta Ki Choon tidak memberitahukan anggota keluarga yang lain. Ini pembicaraan antar sesama pria. Ki Choon keluar dari kamar, agar lebih leluasa bicara. Ia lalu masuk ke kamar Hyo Dong.

Hyo Dong berkata saat ini ia sedang berada di pulau Sokmo bersama dengan Yang madam (Choon Hee). Saat akan pulang, ia mengalami diare sehingga ketinggalan kapal terakhir. Ki Choon tidak percaya begitu saja. Hyo Dong menjelaskan ia makan makanan laut, mungkin sashimi yang disajikan kurang segar.

Ki Choon tak percaya, "Kakak ipar kau tidak perlu membuat alasan padaku. Jangan khawatir. Aku akan mengurusnya. Buatlah malam yang panas. Meski begitu jangan terbakar". Ki Choon tertawa lebar.
Hyo Dong : Apa yang kau bicarakan?. Ini bukan seperti itu.
Ki Choon berpura-pura mengerti, baiklah, jangan khwatirkan apapun dan pulanglah saja besok. Sampai jumpa. 

Ki Choon masih mengira Hyo Dong sengaja melakukannya, "Kelihatannya dia membuat kemajuan yang cepat. Kalau begitu aku harus membantunya". 
Ki Choon lalu mengambil kasur lipat, bantal dan selimut dari dalam lemari. Ki Moon melintas di kamar Hyo Dong, melihat adiknya itu sedang menyusun bantal. Ia masuk, dan bertanya, "Apa yang kau lakukan disini?". 

Tipikal Ki Choon hampir sama dengan Kang Sook yang tidak bisa menjaga rahasia. Ki Choon berbisik dan menceritakan tentang Hyo Dong dan Choon Hee yang bermalam di pulau Sokmo.  
"Benarkah?", tanya Ki Moon terkejut setelah mendengar cerita dari Ki Choon. 
Ki Choon membenarkan, "Ayo kita lindungi dia sebagai sesama pria. Dia sudah kesepian untuk waktu yang lama". 
Ki Moon : Ya tapi...Kenapa harus wanita itu?
Ki Choon : Kau ini bicara apa?. Dia stylish dan keren. Aku menyukainya.

Terdengar suara nenek dari luar kamar, "Apa Hyo Dong sudah pulang?".
Kakak beradik itu langsung panik. Sebelum nenek masuk, Ki Choon lebih dulu menarik Ki Moon untuk berbaring di kasur.
"Hei...apa yang kau lakukan?", tanya Ki Moon bingung. Ki Choon meminta kakaknya itu untuk tidur di kamar Hyo Dong malam ini. Ki Moon ingin protes, tapi Ki Choon sudah menutupi wajahnya dengan selimut tepat pada saat nenek masuk ke dalam kamar. 

Nenek masuk ke kamar, bertanya apa yang dilakukan Ki Choon di sini. Ki Choon berkata Hyo Dong terkena demam, jadi aku membawakannya obat. Nenek ingin mendekat untuk memeriksa kondisi menantu kesayangannya itu.
Ki Choon menahan tangan nenek, "Ibu. Dia baru saja tertidur setelah minum obat. Jangan membangunkannya. Biarkan dia tidur. Ayo keluar".

Nenek tetap bersikeras ingin memeriksa seberapa parah sakitnya. Ki Choon membawa nenek keluar kamar, kemudian menutup pintuk kamar Hyo Dong.

Hyo Dong mengetuk pintu kamar, dengan membawa 2 cangkir kopi, "Choon Hee sshi, aku tadi terlalu kasar. Maafkan aku. Kumohon berhentilah marah dan keluarlah. Ayo kita minum kopi". Tidak ada sahutan dari dalam, Hyo Dong mengira Choon Hee benar-benar marah. Ia minta ijin untuk masuk.

Ternyata Choon Hee sudah tidur di lantai tanpa alas. Hyo Dong meletakkan cangkir kopi, kemudian mengambil bantal dan selimut untuk Choon Hee. Hyo Dong memuji Choon Hee yang tetap terlihat cantik, bahkan saat dia tertidur. Seperti bidadari turun dari khayangan.

Dengan tangan bergemar, Hyo Dong memberanikan diri membelai rambut Choon Hee, tersenyum bahagia. Kemudian ia melihat sepasang kaos kaki Choon Hee yang ada di lantai. Hyo Dong mengambil, lalu mencucinya. Ia merasa senang karena bisa mencuci kaos kaki Choon Hee.

Chae Won masih terjaga, sedang berpikir, "Aku tidak mengatakan ini pada Se Yoon  karena kupikir kami tidak akan pernah bertemu lagi. Tapi haruskah aku mengatakan padanya soal hubunganku dengan Joo Ri?".

Di tempat lain, Joo Ri juga memikirkan hal yang sama. Berjalan mondar-mandir dengan pikiran galau. Joo Ri ingat sekarang, ketika ia dirawat di rumah sakit. Chae Won datang membawakannya bubur. Chae Won juga melihat ia berpelukan dengan Se Yoon. Bahkan saat itu, dengan sangat jelas ia mengatakan padanya, kelak Se Yoon akan menjadi bagian keluarga mereka, "Saat dia tahu aku mempunyai perasaan terhadap Se Yoon, dia berpura-pura bodoh? Apa yang dia rencanakan?".

Rumah mie, pagi hari. Do Hee dan Kang Sook mengucapkan selamat pagi pada nenek. Kang Sook melihat nenek membawa makanan, "Apa itu, ibu?". Nenek berkata Hyo Dong mengalami demam, jadi ibu akan memberinya buah pir rebus dalam madu".
Nenek pergi ke kamar Hyo Dong. Semula Kang Sook dan Do Hee bersikap biasa, lalu mereka sadar, berteriak bersama, "Berhenti. Ibu, tunggu".

Mereka menyusul masuk ke dalam. Tapi terlambat, karena nenek sudah masuk ke kamar, "Hyo Dong, bangunlah. Cobalah pir yang direbus dalam madu ini". Karena tidak ada jawaban,  nenek lalu menarik selimut dan melihat Ki Moon. Dengan polosnya Ki Moon berkata, "Ini aku, Ibu". Nenek terkejut melihat Ki Moon berada di kamar Hyo Dong. Kepalanya mendadak pusing.

Pagi-pagi begini, Kang Jin sudah berisik dengan menggedor-gedor pintu, dan memanggil nama Choon Hee, "Yang madam buka pintunya. Aku lapar sekali. Bangunlah dan siapkan sarapan". Kang Jin mengomel, kemana saja dia keluyuran sejak kemarin. Kang Jin lalu mengambil kiriman susu milik Choon Hee yang ada di tangga.

Nenek datang ketempat Choon Hee, Kang Jin bertanya, "Ibu, kenapa kau kesini pagi-pagi?".
"Rubah itu. Dimana dia sekarang?', tanya nenek dengan emosi. Kang Jin berkata sepertinya Choon Hee tidak ada dirumah saat ini, "Ngomong-ngomong, kenapa Ibu mencarinya pagi-pagi ?".

Di saat yang bersamaan, Choon Hee dan Hyo Dong pulang. Nenek melihat mereka jalan bersama, kali ini mereka tidak bisa lagi menghindar. Tanpa berkata apa-apa, nenek langsung menarik rambut Choon Hee. Kang Jin dan Hyo Dong mencoba melerai, tapi nenek menarik rambut Choon Hee dengan sangat kuat, "Kau wanita jahat. Aku sudah cukup mengatakan padamu untuk menjauhi menantuku. Tapi kau berani memikatya? Kau pikir kau akan baik-baik saja setelah melakukan ini?".

Choon Hee berteriak kesakitan, "Lepaskan aku dan mari kita bicara".
"Tutup mulutmu. Aku akan menghabisimu hari ini", ucap nenek dengan penuh emosi.
Hyo Dong : Ibu, dia tidak memikatku. Dia tidak melakukan sesuatu yang salah. Kang Jin ikut membela Choon Hee, tidak seharusnya nenek hanya menyalahkan Choon Hee saja.

Dengan susah payah, akhirnya Hyo Dong berhasil memisahkan mereka, "Kau baik-baik saja?', tanyanya pada Choon Hee. 
Nenek tambah marah melihat Hyo Dong berdiri di sisi Choon Hee, "Apa sekarang kau memihak padanya?".
Hyo Dong pindah ke sebelah nenek. Choon Hee mendelik kesal. Hyo Dong melihatnya, dan kembali berdiri di sisi Choon Hee.

Nenek menangis, "Bagaimana bisa kau melakukan ini padaku?. Aku menganggapmu sebagai putraku sendiri. Bagaimana bisa kau melakukan ini padaku? Bagaimana bisa? Meskipun seluruh dunia mengecewakanku, kau tidak boleh melakukannya".
Kang Jin : Ibu, tenanglah. Aku disini untukmu.
Nenek menyikut tangan kanan Kang Jin, "Diamlah". 
Kang Jin berteriak kesakitan. Choon Hee merasa sangat malu, masuk ke dalam rumah. Hyo Dong mengejar Choon Hee.

Nenek semakin sedih, memanggil nama ibu Chae Won, "Putriku, bawa aku ke tempatmu. Aku ingin pergi kepadamu.
Hyo Dong mendengarnya rintihan nenek, lalu mendekatinya, "Ibu, kumohon tenanglah".
Kang Jin berteriak kesakitan, "Kurasa tanganku patah lagi. Telpon 911. Cepatlah".

Chul Goo menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong. Young Ja masuk dengan memakai masker, masih dengan semangat 45. "Chul Goo. Kenapa kau masih di ranjang? Cepatlah bersiap-siap".
Chul Goo berkomentar, jika orang lain yang melihat mereka pasti yang berkencan hari ini adalah ibunya, bukan dia, "Apa, ibu bahagia?". 
Young Ja menjawab tentu saja, ia bahkan tak percaya akan berbesan dengan keluarga Tae San Grop. 

Chul Goo menjawab sinis, "Lebih tinggi harapan, lebih besar kekecewaannya". Young Ja berkata, "Meskipun jika aku mungkin nantinya kecewa, aku harus mempunyai harapan yang tinggi". 
Chul Goo menyerah, "Baiklah. Lakukan saja yang Ibu suka". 
Young Ja ingin memilihkan sendiri dasi yang akan dipakai Chul Goo, karena warna yang mencolok akan terlihat kuno dan dasi yang monoton akan terlihat kaku.

Chul Goo pasrah, "Baiklah. Aku menyukai apapun dan semuanya sepanjang Ibu menyukainya". 
Young Ja sama sekali tidak melihat memperdulikan perasaan Chul Goo yang merasa tertekan. Ia justru merasa senang, karena kini putranya mengikuti semua perkataannya. Young Ja berlari menuju lemari pakain. Perjodohan ini membuatnya sangat bahagia. Chul Goo hanya diam melihat tingkah ibunya. Pasrah seperti tidak memiliki semangat hidup.

Joo Ri berangkat kerja tanpa sarapan. Young Ja bertanya kenapa wajah putrinya itu bengkak. Joo Ri menjawab semalam ia tidak bisa tidur karena banyak pikiran. Young Ja tahu putrinya memiliki masalah, ia menebak pasti karena pria yang disukai Joo Ri memiliki wanita lain.
Joo Ri berteriak, "Aku bilang bukan". 

Young Ja balas berteriak, dengan gaya khasnya, "Kalau begitu kenapa tidak ada kemajuan Kubilang padamu untuk membawanya ke rumah tapi kenapa kau tidak bisa?".
Joo Ri makin pusing, "tidak tahu..tidak tahu", jawabnya lalu pergi keluar. Young Ja bicara sendiri, ada sesuatu  yang tidak beres.

Joo Ri pergi ke ruangan Se Yoon, dengan membawa kopi. Se Yoon terlihat menyukainya. Joo Ri berkata mood Se Yoon terlihat baik hari ini, Apa ada kabar bagus. Se Yoon tersenyum, kabar bagus, yah tidak juga.

Joo Ri mulai mengungkit masalah semalam, "Kau harus cepat-cepat bertemu seseorang kemarin. Apa berjalan lancar? Ada persoalan apa? Kenapa kau pergi terburu-buru?". 
Se Yoon hanya menjawab pendek, Itu cuma soal pekerjaan. Joo Ri tampak tidak puas dengan jawaban Se Yoon, bukan jawaban itu yang ingin ia dengar. Joo Ri diam dan tidak bertanya lagi. Menatap Se Yoon dengan pandangan curiga dan kecewa.


Lanjut ke Sinopsis A Hundred Years Inheritance Episode 18 Part 2

3 comments:

  1. seru-seru..makin panas saj..hahahahha

    ReplyDelete
  2. Meski alurny lamban, seruuuuu banget,
    Di nanti part 2 nya
    (งˆ⌣ˆ)ง nuri ☺

    ReplyDelete
  3. fighting mbak nuri sinopsisnya !!

    ditunggu part 2 nya.. :)

    ReplyDelete

Thanks sudah mampir di blog saya, jangan lupa tinggalkan komentar ya...Trims....:)