Pages - Menu

Saturday, September 20, 2014

Sinopsis Reset Episode 2 Part 2

Note : Mulai dari sini saya akan mengubah panggilan Kepala jaksa menjadi "Direktur Kim".


Direktur Kim bersama sang asisten bermain golf. Lebih tepatnya si asisten yang menemani direktur Kim. Asisten langsung menyuguhkan sebotol air mineral begitu direktur Kim selesai bermain. Setelah meneguk minuman yang di berikan sang asisten, direktur Kim bertanya pria yang meninggal selamam bukankah dia adik dari Park Gi Taek?. Si asisten membenarkan.

Direktur Kim kesal. Park Gi Taek yang ia kenal memiliki karakter yang buruk, pasti pria itu akan menimbulkan kekacauan karena adiknya meninggal. Bahkan jika nanti ia menelpon pasti Park Gi Taek akan marah. Direktur Kim meraba sakunya mencari ponsel dan baru sadar kalau ia meninggalkan ponselnya di dalam loker.

Direktur Kim mewanti-wanti asisten untuk mematikan ponselnys jika Park Gi Taek menelpon. Asisten takut jika telpon dari Park Gi Taek tidak dijawab maka dia akan... Direktur Kim menyahut kenapa kalau tidak di jawab?. Memangnya siapa dia?. 

Tak lama kemudian ponsel asisten mendering menerima panggilan masuk. Ia pun langsung menjawabnya yang terjadi dari seseorang yang mencari direktur Kim. Direktur Kim yang mendengarnya langsung menyilangkan tangan di depan dada, "Bilang aku tidak ada" Tapi ternyata yang menelpon bukanlah Park Gi Taek melainkan dari Chajangmin (wakil kepala). 

Direktur Kim tak bisa menolak. Sebelum menjawab telpon, terlebih dulu direktur Kim menarik napas dalam dan mengatur detak jantungnya yang berpacu kencang. Saat menjawab telepon kata yang diucapkan direktur Kim hanyalah, "Ya dan saya mengerti" sembari membungkukan badan seakan-akan orang yang dia ajak bicara berdiri di depannya. Si asisten saja sampai tersenyum geli melihat tingkah atasannya itu.

Usai menuntup telepon direktur Kim mengeluh, bahkan si brengsek Park Gi Taek itu sampai menelpon wakil kepala segala karena kasus kematian adiknya. Direktur Kim memerintahkan asisten untuk menelpon Sojang (Jendral Mayor) dan minta pada mereka menyiapkan pasukan khusus untuk melindungi Park Gi Taek. Ada yang ingin membunuhnya.

Asisten heran memangnya atas dasar apa sampai-sampai Park Gi Taek meminta pasukan khusus untuk melindunginya. Direktur Kim mendelik kesal, "Apa kau baru saja mengajariku apa yang harus ku lakukan?. Bukankah perintah itu dari atasan?. Dan juga saat keselamatan rakyat terancam, hukum publik harus melindungi mereka". 

Asisten mengerti, baiklah demi melindungi hukum publik. DIrektur Kim kemudian bertanya kapan pemakaman adik Park Gi Taek di laksanakan. Asisten menjawab sebelum pelaku tertangkap, Park Gi Taek tidak melakukan upacara pemakaman, "Dia akan terus marah selama beberapa hari".  

Direktur Kim tampak takut, masalah ini benar-benar membuat pusing kepala. Kalau begitu baik kantor kejaksaaan maupun kepolisian harus bertingkah cepat dengan menangkap pelaku. Kalau tidak, direktur Kim tidak tahu apa yang bisa Park Gi Taek perbuat. Jika Park Gi Taek merasa dirinya berada dalam bahaya, bisa jadi dia mempublikasikan buku rekening rahasia tersebut. Hal itu yang membuat direktur Kim khawatir. Pokoknya, jangan menyerah sampai berhasil menangkap pelaku.

Asisten memuji direktur Kim sangat pintar. Dipuji seperti itu direktur Kim merasa besar kepala, "Tentu saja aku sangat pintar. Aku ini seorang ahli. Yang terbaik". 
(Hm..ahli menerima suap). 


Eun Bi memang masuk ke dalam rumahnya, tapi dia keluar lagi dengan 2 tas berisi yang sedikit barangnya. Eun Bi meninggalkan rumahnya dengan langkah lemas, tiba-tiba terdengar teguran, "Sedikit sekali barangmu!". 

Suara itu adalah milik penyidik Go yang ternyata belum pergi. Penyidik Go tahu hal ini akan terjadi karena itu dia menunggu Eun Bi di luar.

"Kau tahu aku akan pergi?", tanya Eun Bi menahan tangis

"Karena barangmu sedikit pasti tidak akan berat, kan?. Berikan padaku", penyidik Go mengambil salah satu tas yang Eun Bi bawa. 

Tangis Eun Bi pecah. Gadis muda ini mengatakan barang-barangnya di buang oleh keluarganya saat mereka pindah rumah. Penyidik Go tidak bertanya panjang lebar, ia mengerti dan mengajak Eun Bi pergi dari sana. 

Woo Jin benar-benar pergi ke tempat kerja Park Gi Taek. Di luar perusahaan saja banyak bodyguard yang berjaga-jaga. Saat memasuki lobby, salah satu penjaga keamanan mencegahnya. Orang tersebut menanyakan maksud kedatangan Woo Jin. Dengan santainya Woo Jin menunjukan kartu namanya sebagai jaksa dan berkata ingin bertemu dengan presdir Park Gi Taek. Sebelum menginjinkan Woo Jin masuk, penjaga keamanan tersebut lebih dulu melapor pada yang lainnya. 

Kemudian Woo Jin diantar masuk lift, sudah pasti di dalam lift tersebut terpasang kamera CCTV. Begitu juga saat Woo Jin keluar lift, sudah banyak penjaga keamanan dan preman yang berdiri mengelilinya. Bahkan para preman ini membawa tongkat baseball. Alat pendeteksi logam berbunyi saat petugas keamanan memeriksa Woo Jin menggunakan Metal Detector Scanner. 

Petugas menatap curiga dan tanpa permisi langsung memeriksa saku jas Woo Jin. Setelah meraba-raba akhirnya dia menemukan sebuah pena. Petugas memeriksa pena tersebut berkali-kali. Setelah yakin benda tersebut tidak membahayakan presdir, barulah pena itu di kembalikan dan mereka mengantar Woo Jin menuju ruangan Gi Taek. 

Woo Jin di antar ke sebuah ruangan dimana banyak preman berjaga di dalamnya. Kemudian seorang staf wanita mengantar Woo Jin menuju ruangan Park Gi Tae. Kamera CCTV terpasang di segala penjuru sehingga para petugas bisa dengan mudah mengawasi setiap tamu Park Gi Taek yang datang.


Sesampainya di ruangan, Park Gi Taek bertanya apa direktur Kim yang mengirim Woo Jin datang kemari. Woo Jin membenarkan sekaligus menyampaikan rasa bela sungkawanya atas kematian Park Seong Taek, adik Gi Taek. 

Park Gi Taek marah, "Ketika ingin mengambil uangku, mereka sampai membungkuk dan memberi hormat padaku. Tetapi ketika terjadi sesuatu padaku, mereka hanya mengirimkan jaksa rendahan tanpa mau menunjukan wajah mereka". 

"Benar. Hukum publik tidak bisa di satukan dengan kekerasan dan premanisme", jawab Woo Jin sembari duduk di sofa, meski si tuan rumah tidak mempersilahkannya untuk duduk. 

Park Gi Taek makin marah, "Apa?. Apa katamu?". 

"Kenapa?. Merasa bersalah?. Kalau kau merasa bersalah ungkapkan saja buku rekening rahasia itu". 

"Kau sudah selesai bicara?", bentak Park Gi Taek geram.

"Hei. Park Gi Taek!", bentak Woo Jin tanpa rasa takut sembari menatap tajam lawan bicaranya itu. 


Park Gi Taek langsung diam di bentak seperti itu. Woo Jin tahu kalau Park Gi Taek pasti tidak akan kehabisan kartu untuk bermain. Tapi Woo Jin juga tahu kalau Park Gi Taek tidak bisa membeberkan isi buku rekening.

"Melihat ketatnya penjagaan di luar, sepertinya kau sangat ketakutan sampai kehilangan akal sehatmu. Katakan saja padaku perkataan terakhirmu". 

Park Gi Taek mengeluarkan sepucuk surat dari saku jasnya dan meletakan kertas itu ke meja. Ia menyuruh Woo Jin untuk melihatnya sendiri. Woo Jin membuka surat itu dan membacanya. 

"Altar pesembahan kalian telah di tinggalkan, karena itulah kalian di bunuh. Membuat kalian tersungkur di depan idola kalian. Tulang belulangmu akan berserakan dimana-mana. Ketika mayatmu tergeletak di tanda X. Kau akan mengerti bahwa akulah yang berkuasa". 

Selesai membaca Woo Jin bertanya surat apa ini?. Park Gi Taek kesal, masa begitu saja tidak tahu. Itu adalah surat ancaman pembunuhan. Park GI Taek juga menunjukan TKP tempat adiknya meninggal agar Woo Jin mengerti maksud dari surat tersebut, "Dia ingin meletakan mayatku di tanda X". 

Woo Jin bertanya kapan Park Gi Taek menerima surat ini. 2 minggu yang lalu, jawab Gi Taek. Para pengawalnya sudah berusaha memeriksa asal surat itu tapi mereka sama sekali tidak bisa menemukan petunjuk sedikit pun. Bahkan sidik jari juga tidak ada. Tidak ada waktu lagi, pokoknya pengirim surat itu harus segera di tangkap. 

Staf wanita masuk mengantarkan minuman. Kesempatan ini digunakan Woo Jin untuk melihat sekitar ruangan. Setelah staf wanita keluar, Gi Taek mengatakan telah mengeluarkan uang banyak untuk biaya perlindungan. Tapi hal seperti ini masih saja terjadi. Jelas sekali Gi Taek merasa sangat tertekan dan frustasi.

Diam-diam Woo Jin mulai membunyikan penanya. Suara itu membuat Gi Taek terpengaruh. Ia yang semula marah-marah menjadi tenang seketika. Woo Jin meminta Gi Taek untuk menstabilkan emosinya terlebih dahulu. 

"Direktur bilang, aku harus mengatakannya kepadamu", Woo Jin mendekati Gi Taek dan berbisik di telinga pria itu. 



Petugas yang memantau CCTV memberitahu penjaga keamanan kalau Woo Jin terlalu dekat dengan Gi Taek, tapi presdir mereka itu tidak menunjukan reaksi apa-apa. Penjaga bergerak menuju ruangan Gi Taek, tapi saat penjaga tersebut memegang handle pintu. Petugas CCTV memberi tahu kalau Woo Jin sudah kembali ke tempat duduknya. 

Setelah itu Woo Jin meminta Gi Taek untuk memperhatikan jam antik yang terletak tidak jauh dari mereka. Gi Taek yang mulai masuk dalam hipnotis mengikuti arahan Woo Jin. 

"Beberapa saat lagi aku akan menghentikannya. Aku hitung sampai 5. Pada hitungan ke lima, jam itu akan berhenti".  

Woo Jin menghitung mundur yang membuat Gi Taek semakin merasuk ke dalam hipnostis. Benar saja detik jam itu langsung berhenti ketika Woo Jin selesai menghitung. Bukan hanya detik jam itu saja, tapi seakan waktu juga ikut berhenti. Bahkan ikan-ikan yang semula berenang di dalam aquarium pun ikut terhenti. Dan tentu saja hal itu membuat Gi Taek terkagum-kagum. 

Woo Jin mengatakan saat ini Gi Taek berada dalam pengaruh hipnotisnya. Perlahan-lahan Woo Jin mendekati Gi Taek yang tampak ketakutan. Woo Jin mengulurkan tangannya. Seolah-olah tangannya itu bisa menembus ke dalam organ dalam Gi Taek. Tangan Woo Jin begerak  meremas-remas jantung Gi Taek yang membuat pria itu sesak napas. 

"Aku bisa merasakan jantungmu. Jantungmu yang lemah berdegub dengan kencang. Sekali aku memakai kekuatanku, jantungmu akan berhenti berdetak". 

"Tolong aku... tolong aku", ucap Gi Taek dengan napas terengah-engah. 

Woo Jin menarik tangannya dan kembali ke tempat duduk. Kejadian itu tentu saja tidak lepas dari pengamatan petugas CCTV yang melaporkan pada penjaga bahwa ada yang aneh. Penjaga buru-buru masuk dan bertemu dengan para preman yang ada di dalam. Mereka pun bergegas menuju ruangan presdir.

Sementara itu, di dalam ruangan presdir, Woo Jin menyuruh Gi Taek untuk mematikan kamera CCTV. Gi Taek mengikuti perintah Woo Jin. Ia melambaikan tangan ke arah kamera tanda tidak terjadi apa-apa. 

Saat para preman hendak membuka pintu mereka terbentur karena di saat yang sama Gi Taek membuka pintu dari arah dalam. Gi Taek keluar bersama Woo Jin. Karena tidak berada dalam pengaruh nipnotis lagi, Gi Taek kembali ke sifatnya semula. Ia memperingatkan Woo Jin untuk menyampikan salamnya dengan benar pesannya kepada direktur Kim kalau ia tak akan pernah melepaskan atasan Woo Jin itu. 

Woo Jin mengerti. Gi Taek menyuruh anak buahnya untuk mengantar Woo Jin sampai ke lift. Setelah itu Gi Taek kembali masuk ke ruangannya. 

Dan kita melihat senyum Woo Jin yang merekah ketika keluar dari perusahaan Gi Taek. Bisa di tebak, pasti Woo Jin telah berhasil mendapatkan buku rekening rahasia tersebut. Dengan hipnotis yang dia miliki, tentu tidak sulit untuk mendapatkan buku tersebut. 

Kemana penyidik Go membawa Eun Bi pergi?. Kerumah kabag Han rupanya. Tentu saja Kabag Han tidak serta merta mau menerima kehadiran Eun Bi meski penyidik Go berkali-kali membujuknya untuk mau menampung Eun Bi. Kabag Han malah memarahi penyidik Go, "Kau sudah gila?. Hanya ada satu kata. Tidak!".

Kabag Han mengatakan sudah cukup sulit untuknya agar bisa putus dari mantan pacarnya yang gila itu dan akhirnya sekarang ia bisa hidup bebas di rumahnya sendiri. Hidup sesuai seperti yang ia harapkan. Tapi sekarang penyidik Go malah memintanya untuk tinggal dengan gadis pembuat masalah seperti Eun Bi. 

"Hanya sebentar", bujuk penyidik Go. Kabag Han geleng-geleng kepala sembari menutup telinga dengan kedua tangannya.

"Sampai sidangnya selesai. Hanya beberapa hari", bujuk penyidik Go lagi dan tetap di jawab gelengan oleh kabag Han. 

 Penyidik Go mengeluarkan jurus ampun dengan berkata kalau ini adalah permintaan khusus dari jaksa Cha Woo Jin. Kabag Han seakan tak percaya apa ini benar-benar permintaan dari Woo Jin. Penyidik Go membenarkan, "Dia sendiri yang bilang. Permintaan". 

Kabag Han heran ada apa ini?. Tidak biasanya Woo Jin mengatakan hal itu. Hal itu malah membuat kabag Han semakin pusing. Bawa saja Eun Bi ke tempat perlindungan saksi kenapa di bawa kemari. Eun Bi yang sejak tadi diam saja, memilih berdiri dan melangkah pergi, "Sudahlah. Aku pergi saja". 

Penyidik Go bertanya lalu bagaimana ini. Apa harus ia yang menjaga Eun Bi atau biar Woo Jin sendiri yang mengurus gadis itu. Penyidik Go yakin, Woo Jin tidak akan berani berbuat macam-macam pada anak gadis di bawah umur. Karena Woo Jin seorang jaksa yang mengerti hukum. 

Penyidik Go hendak berdiri mengantarkan Eun Bi kerumah Woo Jin. Kabag Han langsung menghentikan mereka. Tidak bisa seperti itu. Semua pria sama saja termaksud Woo Jin. Eun Bi tersenyum mendengarnya. Penyidik Go kembali duduk dan berkata itulah yang ia maksudkan. Penyidik Go berkata begitu Eun Bi pergi dari sini, maka gadis itu akan segera jadi buronan. Eun Bi juga tidak bisa datang sendirian saat persidangan di mulai karena usianya yang masih muda, Eun Bi sudah punya catatan kriminal.

Senyum Eun Bi memudar seketika, "Apa?. Buronan".

"Tentu saja", jawab kabag Han, "Kau pikir seorang kriminal punya perlakuan khusus. Hidup ini hanya sekali. Jangan di sia-siakan. Kalau kau mengacaukannya. Dalam waktu singkat saja semuanya akan hancur. Mungkin kau terlalu muda untuk mengerti. Hidup ini.....". 

Kabag Han terdiam sebentar. Ia menyuruh Eun Bi duduk karena lehernya mulai terasa pegal memandang Eun Bi dari bawah,  "Berapa umurmu tahun ini?". 

"17 tahun", jawab Eun Bi

Kabag Han mengatakan usia 17 tahun adalah masa yang indah. Saat itu tidak ada yang pernah memberikan nasehat ini padanya. Bahwa semua pria itu sama saja. Pria ini..pria itu. Termaksud penyidik Go dan juga Woo Jin atau pria gila yang pernah bersamanya. Mereka itu sama saja. Sekarang apa yang bisa Eun Bi lakukan di luaran sana. Menjadi buronan?. 

"Bagimana dengan sekolahmu?. Kalau kau bagus dalam

Eun Bi mendengarkan nasehat kabag Han dengan patuh. Sementara penyidik Go diam-diam melimpir pergi. Ia masuk kerumahnya yang ternyata bersebelahan dengan rumah kabag Han. 

Woo Jin pulang kerumah yang ternyata juga berada tak jauh dari rumah kabag Han. Sepertinya mereka menempati rumah dinas yang disediakan untuk PNS. Selesai mandi, Woo Jin membuat secangkir kopi hangat lalu menuju meja kerjanya. Ruang kerja Woo Jin penuh dengan berbagai macam berkas kasus yang pernah dia tangani. 
Hujan mulai turun saat Woo Jin mulai mempelajari buku rekening rahasia yang berhasil dia dapatkan dari Park Gi Taek. Banyak sekali kombinasi angka tertulis di sana. Woo Jin ingat perkataan Gi Taek saat itu berada dalam pengaruh hipnostsnya. 

"Cara untuk mengurai kodenya hurufnya adalah Jeon Jae Il. Vokalnya adalah....".

Disaat Won Jin tengah kosentrasi mengurai kode-kode tersebut. Tiba-tiba bel pintu rumahnya berbunyi. Woo Jin membuka pintu dan terkejut melihat siapa yang datang. Yoon Hee datang dalam keadaan basah kuyup karena kehujanan. Dengan raut wajah sedih Yoon Hee bertanya, "Boleh aku masuk?".

Woo Jin mempersilahkan Yoon Hee masuk dan mangambil handuk untuk mengeringkan badan Yoon Hee yang basah. Tanpa merasa malu atau canggung sedikit pun, Yoon Hee malah membuka bajunya di depan Woo Jin. Woo Jin yang terkejut secara refleks membalikan badan membelakangi Yoon Hee. 

Yoon Hee memeluk Woo Jin dari belakang. Woo Jin berbalik menghadap Yoon Hee. Melepas jubah mandi yang dia kenakan dan memakainya pada Yoon Hee. Lalu memeluk gadis itu. Yoon Hee pun membalas pelukan Woo Jin.



Park Gi Taek sangat marah karena Chief Kim tidak juga mau menjawab telepon darinya, "Orang ini...Kapan dia akan mengambil uang dariku?. Dia benar-benar tidak ingin hidup lagi?".

Ponsel Park Gi Taek berdenting menerima pesan masuk dari nomor Chief Kim, "Tidak usah telpon. Kita bicara saja saat bertemu".  

Park Gi Taek kesal, "Sepertinya Chief Kim juga merasa gelisah. Baiklah brengsek kita bertemu. "Dimana?", balas Gi Taek.




Park Gi Taek ditemani para bodyguardnya datang ke lokasi pembangunan gedung yang belum jadi. Orang yang menghubunginya tadi menyuruh Gi Taek untuk naik ke lantai 6. Awalnya Gi Taek ingin masuk ke sana seorang diri, tapi salah satu pengawalnya tidak menginjinkan karena menghkawatirkan keselamatan Gi Taek. Jadinya Gi Taek masuk ke dalam lokasi bangunan dengan di temani salah satu pengawal setianya. 

Dengan ,enggunakan lift, Gi Taek naik ke lantai 6. Saat Gi Taek naik kelantai yang di tuju, terlihat seorang wanita yang mengawasinya dari kejauhan di gedung yang berbeda. Setibanya di lantai 6, Gi Taek mencari keberadaan Chief Kim. 

"Di jendela samping", bunyi sms yang Gi Taek terima selanjutnya. 


"Apa yang kau inginkan?. Adikku sudah meninggal!", balas Gi Taek.

"Kesana saja. Disebelah sana ada telpon".

"Aigo.. Dasar!. Penakut sekali dia", guman Gi Taek. 

Tanpa merasa curiga, Gi Taek mengikuti arahan si pengirim sms. Karena tempat itu gelap, Gi Taek tidak bisa melihat apapun. Si pengirim sms kembali mengirim pesan menyuruh Gi Taek untuk jalan 3 langkah ke arah jendela. Lagi-lagi Gi Taek mengikuti arahan tersebut.

"Lihat di bawah kakimu", pesan selanjutnya. 

Gi Taek melihat kearah bawah kakinya dan terkejut ketika menyadari kalau dia menginjak tanda X yang berarti tanda kematian.

Scene kemudian melihatkan sebuah ponsel yang berada di dalam saku pakaian dan tangan seseorang yang menekan tombol remote. 


Saat Gi Taek mengadahkan kepalanya, saat itulah dia melihat sebuah bandul raksasa bergerak ke arahnya. Gi Taek yang belum menyadari apa yang terjadi hanya diam terpaku di tempatnya. Saat sadar tidak ada kesempatan baginya untuk melarikan diri. Benda besar itu menghantam dan membuat tubuhnya hancur berantakan. 

Woo Jin terus menunduk tanpa berani menatap Yoon Hee yang menceritakan kesedihannya setelah kematian Seung Hee. Yoon Hee mengatakan setelah apa yang terjadi pada kakaknya dan saat ia merasa seorang diri, Woo Jin memberinya kekuatan.

"Tapi suatu hari oppa telah melupakanku. Aku tidak pernah melupakan oppa, tapi oppa melupakanku. Aku takut oppa akan melupakanku lagi. Aku melakukan ini karena aku takut oppa akan melupakanku". 

"Maaf", ucap Woo Jin lirih

Ponsel Woo Jin berdering menerima panggilan masuk dari penyidik Go yang meminta untuk segera datang ke TKP. Yoon Hee tahu Woo Jin akan pergi. Sebelum Woo Jin pergi, Yoon Hee meminta Woo Jin menangkap pelakunya. 

Eun Bi diam-diam keluar rumah kabag Han mencuri-curi waktu untuk merokok. Eun Bi hendak menyalakan rokoknya tapi tidak jadi dan langsung menyembunyikannya di balik punggung begitu melihat Woo Jin keluar rumah.

Mereka sama-sama terkejut. Woo Jin tanya apa yang di lakukan Eun Bi disini. Eun Bi menjawab, aku tinggal disini sembari menunjuk rumah kabag Han. Lalu balik tanya apa Woo Jin juga tinggal di daerah sini. Woo Jin tak menjawab karena sedang terburu-buru, "Kita bicara nanti", ucapnya lalu buru-buru pergi.

Iseng-iseng Eun Bi berdiri di depan pintu rumah Woo Jin. Rumah nomor 204. Saat pintu terbuka dari arah dalam, Eun Bi menyembunyikan diriya di balik pintu. Yoon Hee keluar tanpa menutup pintu dan tidak melihat kehadiran Eun Bi. Beda dengan Eun Bi yang bisa melihat sosok Yoon Hee dari belakang.

Entah apa yang di pikirkan Eun Bi, dia langsung masuk ke dalam rumah dan menutup pintu. Yoon Hee sempat berbalik saat mendengar pintu tertutup, tapi dia tidak terlalu menghiraukannya dan melangkah pergi. 

Eun Bi berkeliling melihat isi rumah Woo Jin. Dia juga mengambil beberapa lembar uang milik Woo Jin yang berada dalam toples. Eun Bi meletakan pematik dan tempat rokoknya diatas meja kerja Woo Jin. Lalu membolak-balik buku agenda Woo Jin. 

Saat memainkan salah satu pena Woo Jin, tanpa sengaja tangannya menyenggol cangkir kopi dan membuat isinya tumpah ke atas buku rekening rahasia milik Park Gi Taek. Eun Bi panik mengambil tisu dan hendak mengeringkan buku itu dengan hairdryer.

Eun Bi pergi ke kamar mandi, tapi tidak ada hairdyer disana. Eun Bi terus mencari benda yang bisa mengeringkan buku itu dan tanpa sadar melangkah keluar dari rumah Woo Jin. Dia baru menyadarinya saat pintu sudah tertutup. Eun Bi ingin mengembalikan buku itu tapi tidak tahu password rumah Woo Jin. Jadinya, Eun Bi hanya bisa memandangi buku yang berada di tanganya itu tanpa tahu harus bagaimana.

Woo Jin kini sudah tiba di TKP. Penyidik Go mengatakan tubuh Gi Taek benar-benar hancur. Tim forensik masih berusaha mencari potongan-potongan mayatnya. Woo Jin bertanya mungkinkah pelakunya sama dengan kasus Park Seong Taek. Penyidik Go menjawab belum bisa di pastikan, tapi mungkin saja. 

Dengan menggunakan lift yang sama Woo Jin dan penyidik Go naik ke lantai 6. Woo Jin melihat tempat yang di duga menjadi tempat matinya Gi Taek. Tempat dimana ada ceceran darah Gi Taek dilantai dan pola gambar mayat yang di buat polisi. Penyidik Go sampai geleng-geleng kepala melihatnya. 

Woo Jin mengamati sekeliling merasa ada sesuatu yang janggal. Penyidik bertanya kau kenapa. Woo Jin ingat isi surat ancaman yang ditujukan pada Gi Taek. Di surat ancaman itu, si pelaku mengancam akan menempatkan mayat Gi Taek di tanda X. 

Woo Jin menunjuk tanda X yang berada di dekat jendela dan berkata di sanalah posisi korban saat mati dan disanalah korban berdiri sebelum di bunuh. Dan tanda itu bukan tanda yang dibuat polisi. 

Penyidik Go terkejut, "Apa?. Jadi ini kasus yang sama dengan AC.... Kalau begitu ini bukan kasus biasa".

Kemudian Penyidik Go mengajak Woo Jin turun. Saat masuk lift, ponsel Woo Jin berdenting menerima pesan masuk. 


"Oke. Stop!. Berhati-hatilah saat melangkah. Lebih baik kau tidak usah bergerak, jaksa Cha", bunyi pesan itu seakan tahu dimana Woo Jin berada saat ini.

"Kau kenapa?", tanya penyidik Go heran melihat raut wajah Woo Jin yang tampak tegang.

Woo Jin menyuruh penyidik Go untuk keluar dari lift. Mulanya penyidik Go tak mengerti karena tiba-tiba Woo Jin menyuruhnya keluar, tapi setelah Woo Jin membentaknya barulah penyidik Go mengikuti perintah Woo Jin. 

Perlahan Woo Jin melihat ke arah bawah, kakinya menginjak tanda X yang sengaja di buat disana. Woo Jin membalas sms, "Apa yang kau inginkan?"

"Yang ku inginkan?. Bagaimana kalau tidak ada?. Kau sudah terima hadiahnya?. Sebuah lagu. Kau masih tetap polos seperti 15 tahun yang lalu. Lama tidak bertemu, jaksa Cha Woo Jin". 

Emosi Woo Jin tersulut dan mengajak pengirim sms untuk bertemu. Si pengirim sms menjawab kalau dirinya dan Woo Jin akan segera bertemu. Tentu Woo Jin pasti akan datang kan saat hari itu tiba. 

"Abaikan saja tanda itu. Aku hanya bercanda. Lain kali, tidak akan".

Woo Jin benar-benar kesal, "Brengsek!", umpatnya emosi. Setelah Woo Jin mengumpat, pesan kembali masuk ke ponselnya, "Cha Woo Jin. Bagaimana seorang jaksa bisa mengutuk seperti itu?". 

Woo Jin menoleh ke kanan dan kekiri berpikir kalau pelaku berada di dekatnya. Ia juga melihat ke atas lift, tidak ada siapa-siapa di sana. Penyidik Go juga ikut menoleh ke kanan dan kekiri suasana ini membuat mereka tegang. 

Seperti pelaku hanya ingin memancing emosi Woo Jin, dan upaya itu berhasil. Woo Jin berteriak marah dan ingin membanting ponselnya, tapi tidak jadi. Woo Jin memberikan ponselnya pada penyidik Go dan menyuruhnya untuk melacak asal sms itu. Penyidik mengangguk mengerti dan membaca sms tersebut. Woo Jin yang merasa di kerjai habis-habisan hanya bisa melampiaskan kemarahannya dengan berteriak. 


END

Komentar : 
Pelaku sepertinya sengaja menggunakan nomor ponsel yang sama dengan Chief Kim untuk mengelabui Park Gi Taek. Entah bagaimana caranya saya juga kurang mengerti. Tapi yang jelas banyak pihak aparat yang terlibat disini. Kalau sudah begitu makin sulit untuk menangkap pelaku sebenarnya. Sms yang Woo Jin terima semakin menegaskan kalau kasus-kasus ini berhubungan dengan kasus Woo Jin 15 tahun yang lalu. Siapa yang tahu kalau ternyata dalang di balik semua ini adalah orang yang sama. Pastinya orang tersebut mempunyai "power" sehingga masih terlindungi sampai sekarang.

No comments:

Post a Comment

Thanks sudah mampir di blog saya, jangan lupa tinggalkan komentar ya...Trims....:)