Pages - Menu

Saturday, September 06, 2014

Sinopsis Reset Episode 1 Part 1


Episode 1  "Misteri Pemburuan Ingatan"

Seorang gadis cantik berlari di antara pepohonan. Ia menengok ke belakang tersenyum serta melambaikan tangan pada seseorang. Scene kemudian beralih melihatkan gadis itu yang berada di tali gantungan.

Scene kemudian beralih memperlihatkan seorang pria muda yang berteriak melihat sebuah ledakan. Setelah terjadi ledakan, wajah gadis muda itu berlumuran darah. Sungguh pemandangan yang mengerikan hingga membuat jaksa Cha Woo Jin termundur ke belakang saking takutnya. 

Ternyata semua kejadian itu berada di dalam ingatan alam bawah sadar jaksa Cha Woo Jin. Woo Jin membuka mata setelah mendengar suara klik dari sebuah pulpen yang di bunyikan oleh dokter. Dokter berniat menghentikan sesi konseling hari ini. Akan sangat berbahaya jika Woo Jin ingin meneruskannya. 

Dokter berkata seperti yang pernah ia katakan sebelumnya, ingatan itu muncul setelah mendapat rangsangan tertentu dan akan sering muncul berulang kali di dalam mimpi. Jika Woo Jin memaksa untuk mengingat ingatan itu akan menyebabkan kerusakan pada diri Woo Jin sendiri. Dari keseluruhan pengobatan ini akan muncul rasa penyesalan.

Mendengar penjelasan dokter Woo Jin menarik kesimpulan dengan kata lain ingatan ini akan muncul sebagai mimpi buruk. Dokter membenarkan. Woo Jin lalu bertanya, jadi jika seseorang mimpi buruk setiap malam ingatan apa yang biasanya muncul?. Dokter terlihat bingung memberikan jawaban. Dokter berkata sepertinya ingatan itu memang sengaja tersimpan didalam otak. 

Woo Jin bertanya lalu apa ia harus terus hidup seperti ini?. Bermimpi buruk setiap malam karena ingatan itu terus muncul. Dokter ingin mencari alasan lain, tapi Woo Jin tidak berniat mendengarkan penjelasan dokter yang bertele-tele. Ia mengambil jasnya dan hendak kembali ke kantor karena tadi menyelinap pergi sewaktu jam kerja. 

Sebelum Woo Jin pergi dokter sempat berkata sebenarnya dalam hal menghipnotis Woo Jin bisa melakukannya lebih baik di bandingkan dirinya. Dibandingkan dengan datang kemari, mungkin dengan menghipnotis diri sendiri akan lebih efektif bagi Woo Jin.

"Kau merasa tidak nyaman kalau aku kemari?", ucap Woo Jin mengerti maksud dokter.   

Dokter jadi tidak enak hati, bukan seperti itu maksudnya. Woo Jin tahu dokter itu terkadang menggunakan hipnotis pada beberapa pasien agar dia bisa terus menjadi psikiater mereka. Woo Jin mengaku setiap kali dokter membaca pikirannya, ia merasa sakit kepala dan tidak nyaman.

Meski mereka tidak nyaman, tapi Woo Jin tidak mempunyai pilihan lain selain menceritakan rahasianya. Woo Jin menatap tajam dan berkata, "Jangan katakan pada siapapun kalau aku bisa menghipnotis". 

Jaksa Kim Dong Soo sedang menginterogasi pria muda yang di duga sebagai pelaku pembunuhan. Dong Soo terlihat kesal karena pelaku yang benama Kim In Seok tidak juga mau di ajak kerjasama dengan mengatakan kebenaran. Dan dengan tenangnya Kim In Seok berkata kalau tengah menggunakan haknya untuk tetap diam.

Dong Soo tahu In Seok memang mempunyai wewenang untuk memilih tetap diam, tapi dalam kasus itu jika In Seok berpikir kalau dengan diamnya akan membawa keberuntungan, maka pemikiran itu salah. Jika nanti hasil test DNA dari NFS keluar, maka In Seok tidak akan bisa mengelak lagi atau lari kemanapun.

"Kalau begitu tunggu saja bukti itu. Jangan terus terus menanyaiku", jawab In Seok tanpa takut sedikit pun. Membuat Dong Soo semakin frustasi.

Kepala jaksa melihat proses itu dari ruangan berbeda. Asisten kepala jaksa masuk dan memberitahu kalau ia sudah menelpon Woo Jin. Kepala jaksa terlihat sedikit lega, seharusnya mereka menelpon Woo Jin sejak awal. Dengan takut-takut, asisten berkata tapi Woo Jin mungkin akan datang setengah jam lagi. 

Kepala Jaksa marah, "Kita sudah menyia-yiakan 48 jam dan kau masih berani bicara seperti itu!".

Staf lain masuk dan memberitahu kalau pengacara Kim In Seok sudah datang. Saat ini orang itu berada di tempat parkir. Mereka langsung panik. Kepala jaksa yang kesal menginjak kaki asisten. Tunggu apa lagi cepat hentikan pengacara itu. 

Pengacara yang di maksud mereka itu, kini sudah memasuki lobby. Bukan pengacara muda, tapi pengacara senior yang tentunya sudah banyak menangani banyak kasus-kasus sulit.

Begitu pengacara memasuki lobby, salah satu staf kepala jaksa dengan sengaja menabrak pengacara hingga membuat pengacara terjatuh dan merintih kesakitan. Pria yang tadi menabrak meminta maaf dan secara diam-diam dia memasukan sesuatu ke dalam kantong jas pengacara. Lalu membantu pengacara berdiri. 

Ternyata keduanya saling mengenal. Pria paruh baya yang menabrak tadi bernama "Lee Gye Jang". Sejenak mereka saling basa-basi menanyakan kabar. Bersamaan dengan itu, terlihat Woo Jin yang sudah tiba di kantor kejaksaan. Petugas keamanan yang ada di sana, melaporkan kedatangan Woo Jin kepada kepala jaksa. 

Pengacara Kim berjalan sembari memegangi lulutnya yang sakit akibat tabrakan tadi. Tiba-tiba alarm langsung berbunyi begitu pengacara melewati pintu keamanan. Petugas keamanan yang berjaga di sana langsung menghadangnya untuk melakukan pemeriksaan.  

Dong Soo menerima sms dari kepala jaksa yang menyuruhnya untuk keluar dari ruang interogasi. Dong Soo tampak enggan melakukannya, ia menoleh ke tempat kepala jaksa berada. Kepala jaksa mendelik kesal dan kembali mengirimkan sms, "Cepat!", perintahnya. Mau tau mau, Dong Soo harus melaksanakan perintah itu. Sementara In Seok tersenyum tipis melihat wajah kusut Dong Soo. 

Kepala jaksa bertanya pada si asisten, siapa pengacara yang disewa oleh Kim In Seok. Asisten mennjawab, pengacara yang di sewa oleh Kim In Seok adalah mantan kepala departemen (berarti dulu dia juga seorang jaksa). Kepala jaksa kaget, apa orang itu adalah senior Kim Myung Seok.

Kepala jaksa langsung menatap layar monitor CCTV begitu asisten mengiyakan dugaannya. Layar monitor menampakan pengacara Kim tengah di periksa oleh petugas keamanan. Kepala jaksa memastikan sendiri kalau pengacara yang di maksud benar-benar Kim Myung Seok. Kepala jaksa kesal dan mengumpat, "Sialan".

(Bagaimana ceritanya seorang jaksa turun pangkat jadi pengacara?).

Pengacara Kim bingung dan juga dibuat heran ketika petugas keamanan menemukan carter di dalam saku jasnya. Benda tajam itu dianggap sebagai benda terlarang, oleh karena itu petugas keamanan akan melakukan pemeriksaaan lebih lanjut. 

Pengacara Kim ingat saat bertabrakan dengan Gye Jang. Ia yakin pasti Gye Jang yang memasukan carter ke dalam saku jasnya saat mereka bertabrakan tadi. Menyadari hal itu, tidak membuat pengacara Kim marah, jusru sebaliknya dia tertawa - tawa sembari menunjuk kamera CCTV tak jauh di atas kepalanya. 

Asisten terlihat gugup, ia menebak sepertinya pengacara Kim sudah tahu kalau merekalah yang memasukan carter itu. Sembari tersenyum kepala jaksa membenarkan, "Tentu saja, kita belajar teknik itu darinya, kan?".

Asisten ikut tersenyum, "Senjata makan tuan rupanya". 

Pengacara Kim yang tahu dirinya tengah di kerjai tidak berniat membela diri atau melakukan perlawanan. Dia tetap mengikuti prosedur dengan mempersilahkan petugas keamanan untuk memeriksanya. 

Woo Jin menuju lift, disana sudah ada petugas keamanan yang berjaga dan pintu lift dalam keadaan terbuka. Tak hanya itu saja, lift itu memang sengaja di persiapkan menuju lantai 8, dimana tempat interogasi berada. 

Pengacara Kim kini telah terbebas dari pemeriksaan. Pria ini tampak mulai terlihat lelah ketika tiba di depan lift. Tapi lagi-lagi kesabarannya harus di uji ketika melihat tulisan yang tertempel di depan lift. Tulisan yang menerangkan kalau lift sedang bermasalah. Padahal itu adalah satu-satunya lift yang ada di sana. 

Pengacara Min tahu kalau ini hanyalah trik yang di gunakan kepala jaksa untuk menyita waktunya. Ia tersenyum menatap kamera CCTV, "Dasar... Belakangan ini aku sering naik gunung. Aigo". 

Woo Jin berjalan menuju ruang interogasi sambil memainkan pena di tangannya. Woo Jin memutar-mutar pulpen itu dengan gerakan cepat dan lihai. Tampaknya gerakan itu bukanlah gerakan biasa yang tak berarti, karena dia terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu. 

Kim In Seok melihat Dong Soo bangkit dari tempat duduknya. Dia bertanya kemana Dong Soo akan pergi dan kenapa raut wajah Dong Soo terlihat tidak senang. Apa pengacara yang dia sewa sudah datang. 

"Tidak tahu", jawab Dong Soo singkat.

Dong Soo membuka pintu ruang interogasi dan bertatap muka dengan Woo Jin yang hendak masuk. Dong Soo menghela napas kesal. Ia sudah menebak kalau Woo Jin akan mengantikannya lagi kali ini, "Tapi..kali ini kau juga akan sangat sulit mengatasinya". 

"Benarkah?", jawab Woo Jin seakan yakin akan berhasil mengatasi kasus ini. Dong Soo tidak bisa berkata-kata. Ia beranjak pergi seraya menyerahkan berkas kasusnya pada Woo Jin.

Jadilah Woo Jin menggantikan tugas Dong Soo. Ia duduk di depan Kim In Seok mempelajari berkas kasus sambil menekan-nekan ujung penanya yang menghasilkan bunyi, "klik..klik". Kim In Seok protes kenapa jaksanya diganti. 

Sementara itu pengacara Kim, kini berada di tangga lantai 2. Masih ada 6 lantai lagi yang harus dia lalui untuk sampai ke ruang interogasi.

Asisten kepala senewen karena Woo Jin tidak segera memulai interogasi. Apa yang Woo Jin lakukan, tidak ada banyak waktu lagi yang tersisa. Kepala jaksa tampak tenang, biarkan saja Woo Jin melakukan apa yang dia inginkan. Tampaknya dia yakin Woo Jin akan berhasil membuat pelaku buka mulut. 

Kim In Seok mulai merasa bosan karena Woo Jin diam saja. Ia menatap pena yang di mainkan Woo Jin dan mulai mengantuk. Setelah selesai mempelajari kasus, Woo Jin mematikan microphone yang terpasang di ruang interogasi.

Petugas yang bertugas di depan layar monitor memberitahu kalau microphone di dalam ruang interogasi mendadak mati. Sepertinya memang sengaja di matikan. Asisten yang mengetahui hal itu berniat menelpon Woo Jin untuk memperingatkan Woo Jin kalau hal tersebut tidak boleh di lakukan. Tapi kepala jaksa menahan. Biarkan saja, mungkin mereka berdua ingin bicara dengan tenang. 

Kepala jaksa lalu menoleh ke petugas yang duduk di depan layar monitor. Kepala jaksa berkata bahwa mic juga sebuah mesin dan wajar saja jika rusak. Anggap saja seperti itu. 

Woo Jin masih membunyikan penanya. Kali ini bunyi yang di hasilkan lebih mirip seperti bunyi detik jam.  In Seok fokus menatap pena yang di mainkan Woo Jin, semakin lama dia menatap pena itu maka semakin dia masuk ke alam bawah sadarnya. 

In Seok tidak menyadari kalau dirinya sedang di hipnotis. Setelah yakin In Seok masuk ke dalam hipnotisnya, barulah Woo Jin menyalakan microphonenya kembali. Woo Jin pun memulai interogasinya. 

"Sekarang aku akan kubacakan fakta-fakta mengenai pembunuhannya. Jika ada yang salah, beritahu aku".  

In Seok itu sempat terdiam beberapa detik. Ia tampak lega setelah membuka salah satu kancing bajunya dan dengan patuh mengiyakan perkataan Woo Jin.

"Kemarin lusa, tepatnya tanggal 1 agustus dini hari kau bersama dengan Kim Hyeon Joo. Setelah minum bersama di daerah Nonhyeon, lalu kalian berdua pergi ke apartemennya. Dia terus menyangkal tentang perselingkuhannya dengan pria lain. Jadi kau marah dan kalian bertengkar".

Bersamaan dengan itu, scene menampilkan In Seok bersama Hyeon Joo dalam satu mobil menuju apartemen. Sesampainya di apartemen, mereka langsung bermesraan.  
Scene lainnya melihatkan In Seok dan Hyeon Joo yang bertengkar. In Seok yang mulai mabuk marah serta membanting gelasnya. Kemudian ia menjabak rambut Hyoen Joo dan menyeret wanita malang itu. 

"Ya, benar. Kau benar", jawab In Seok membenarkan dugaan Woo Jin. 

Woo Jin melanjutkan interogasinya, "Kau telah menyediakan rumah, mobil dan juga uang bulanan untuknya. Tapi tidak di sangka ternyata dia juga baik terhadap pria lain dan itu membuatmu sangat marah?". 

In Seok memukul meja, "Ya..Benar..benar", jawabnya semangat.

"Jadi setelah memukul kepalanya dengan benda tumpul kau mulai mencekiknya".

"Bukan seperti itu", sanggah Kim In Seok lalu menceritakan kronologi sebenarnya, "Pertama, aku mencekiknya. Aku mencekiknya terlebih dahulu sebelum memukulnya dengan barbel. Aku sudah mencekiknya tapi aku belum bisa meredakan amarahku. Dan kebetulan ada barbel di sampingku. Jadi aku mengambil barbel itu dan memukulkan ke kepalanya".

In Seok menceritakan kronologi itu dengan semangat. Dan memang benar dia mencekik sang korban hingga tubuh korban menegang karena kesulitan bernapas. Setelah itu ia memukul kepala si korban dan darah muncrat membasahi wajahnya.

Kepala jaksa dan sang asisten berpelukan dengan girangnya karena Woo Jin telah berhasil membuat Kim In Seok mengakui perbuatannya. 

Woo Jin lalu bertanya bagaimana cara pelaku menyingkirkan barbelnya. In Seok mencoba mengingat sepertinya dia lupa dimana dia membuang benda itu. 

Pengacara Kim kini telah sampai di lantai 8. Bersamaan dengan itu, kepala jaksa dan asisten keluar ruangan. Mereka langsung menyapa pengacara Kim yang tampak sangat kelelahan karena harus menaiki puluhan anak tangga agar bisa sampai di ruang interogasi. Kepala jaksa pura-pura tidak tahu angin apa yang membawa seniornya itu datang kemari. 

Pengacara Kim mengucapkan terima kasih karena mereka sudah mau repot-repot menyiapkan sambutan ini. Ucapan terima kasih yang bernada sindiran. Kepala jaksa mengajaknya untuk minum teh bersama. Pengacara Kim menolak karena dia harus menyelesaikan urusannya terlebih dahulu. 

Kim In Seok masih berusaha untuk mengingat ketika pengacara Kim masuk ke ruang interogasi. Ia minta mulai sekarang In Seok jangan mengatakan apapun. Pengacara Kim mengenalkan dirinya pada Woo Jin bahwa dia pengacara yang akan menangani kasus ini. Jika ada yang ingin Woo Jin tanyakan, silahkan tanyakan padanya.

In Seok menatap Woo Jin, seketika itu juga dia ingat setelah memukul kepala Hyeon Joo dengan barbel, dia langsung melemparkan barbel itu keluar jendela, "Kalau kau mencarinya di lantai satu apartemen. Kau pasti bisa menemukannya". 

Kepala jaksa dan asisten tersenyum girang mendengar pengakuan pelaku. Berbeda dengan pengacara Kim yang mendesah berat. Dengan susah payah ia bisa sampai di ruangan ini, tapi begitu sampai, dia malah mendengar In Seok yang mengakui semua kejahatannya.

Woo Jin tersenyum puas. Kepala jaksa memberi perintah pada asistennya untuk segera membuat surat penangkapan dan cari barang bukti di sekitar area apartemen. Pada pengacara Kim, kepala jaksa berkata lain kali saja mereka minum teh bersama. Seperti yang pengacara Kim lihat, kalau dirinya saat ini sedang sibuk. 

Woo Jin kembali membunyikan pulpennya 2 kali. Bunyi kali ini berhasil membawa In Seok kembali ke alam sadarnya. Kim In Seok yang baru sadar dari hipnotis dibuat heran dan bingung melihat tangannya yang sudah di borgol. Woo Jin yang berhasil memecahkan kasus ini melangkah kakinya keluar ruangan dengan senyum di wajahnya.

Kepala investigasi Han datang pagi-pagi kekantor kejaksaan dengan menenteng setelan jas. Petugas keamanan menyapanya, jarang sekali kepala Han masuk kerja pagi-pagi begini. Kepala Han menyahut mau bagaimana lagi karena Woo Jin sudah menelponnya pagi-pagi sekali.

Petugas keamanan menyangka Woo Jin sedang menangani kasus besar hingga tidak sempat pulang untuk berganti pakaian. Tapi kepala Han berkata bukan itu penyebabnya, mau ada kasus besar atau tidak Woo Jin selalu seperti ini setiap hari. 

Sesampainya diruangan kepala Han menyapa penyidik Go yang tampak mengantuk. Rupanya penyedik Go datang lebih awal. Kepala Ha menengok ke ruangan sebelah dan melihat Woo Jin yang masih terlelap di dalam ruangannya. Penyedik Go tanya bagaimana cara mengetahui kapan kepala Han harus datang pagi-pagi dan membawa setelah jas. 

Kepala Han menjawab dirinya sudah bekerja selama 20 tahun disini, jadi ia tahu kebiasaaan Woo Jin. Lalu ia bertanya kali ini kasus siapa yang Woo Jin tangani. Penyidik menjawab kasus jaksa Kim Dong Soo. Dia yang awalnya bertanggung jawab menangani kasus ini. Kelapa Han kaget. Kenapa harus orang itu, jaksa Dong Soo itu kan saingan mereka. 

Kepala Han menegur penyedik Go yang sedang membaca koran. Sudah ia bilang berulang kali jangan membaca koran sebelum Woo Jin membacanya. Penyidik Go beralasan ia membuka lembaran koran perlahan-lahan, jadi tidak akan kusut. 

"Tak peduli seberapa hati-hatinya kau. Sekali kau membukanya, bau korannya akan menghilang. Dengan berkembangnya teknologi saat ini, baunya sudah mulai berkurang", semprot kepala Han.

Penyidik Go heran, bahkan kepala Han melakukan hal semacam ini demi Woo Jin. Penyedik Go melipat kembali koran itu, "Baiklah. Tidak akan kubaca". 

"Karena itu sudah kubilang jangan dibaca", sahut kepala Han. 

"Ini mau aku kembalikan sekarang", jawab penyidik Go meletakan koran itu ke tempatnya semula. 

Nona Jang menjadi orang yang terakhir datang. Ia ngomel karena harus datang pagi-pagi sekali. Ia bahkan belum sempat mengeringkan rambutnya. Bukankah mereka ini PNS. Nona Jang tidak berharap bisa pulang kerja tepat waktu. Tapi setidaknya mereka kan bisa datang ke kantor sesuai jam kerja, bukannya datang pagi-pagi buta begini. 

"Siapa yang menyuruhmu datang lebih awal?", sahut kepala Han.

"Dasar..kalau aku tidak ada aku, apa kantor bisa berjalan dengan lancar?", ucap nona Jang membanggakan diri. 

Kepala Han dan Penyidik Go tak mengiraukan omelan nona Jang. Mereka berbisik membahas jaksa Kim Dong Soo. Nona Jang yang di cuekin jadi bertanya-tanya apa sich yang kalian bicarakan.

Woo Jin yang baru terbangun dari tidurnya hadir di tengah-tengah mereka, "Aku tak memanggil kalian kemari. Kenapa pagi-pagi sudah ribut?". 

Penyidik Go membungkukan badan ala kasim Joseon, "Anda sudah bangun, tuanku". 

Woo Jin tersenyum tipis melihatnya, ia bertanya apa penyidik Go sedang syutung drama sejarah. Nona Jang menawarkan diri membuatkan kopi. Kepala Han menghampiri Woo Jin dan memberikan jas yang tadi di bawanya. Kepala Han menyarankan agar Woo Jin meyegarkan badannya dengan pergi ke sauna pagi ini.

Woo Jin ingat pagi ini dia mempunyai janji bertemu dengan seseorang. Kepala Han berkata akan membatalkan janji itu agar Woo Jin bisa pergi ke sauna. Penyidik Go tersenyum melihat perlakuan manis kepala Han pada Woo Jin. 

Pengacara Kim mendampingi Kim In Seok yang kini sudah di bebaskan. Pengacar Kim memberikan pernyataannya di depan wartawan yang sedari tadi berkumpul di kantor kejaksaan. Woo Jin juga ada disana menyaksikan secara langsung.

Pengacara Kim mengatakan kantor kejaksaan telah melakukan investigasi yang terkesan memaksa. Pengadilan telah memperingatkan polisi untuk meninjau ulang kembali kasus ini. Pengacara Kim juga berkata untuk kedepannya pihaknya secara terbuka akan membantu kantor kejaksaan untuk membuktikan bahwa kliennya tidak bersalah. 

Pengacara Kim dan In Seok pergi saat wartawan meminta mereka untuk menceritakan secara lebih terperinci. Woo Jin melihat kedua orang itu yang berjalan masuk ke dalam mobil. Ternyata  In Seok juga melihat Woo Jin dan tersenyum sinis seolah ingin menunjukan kemenangannya pada Woo Jin. 

Begitu Woo Jin kembali ke kantornya, nona Jang memberitahu kalau mereka mendapat undangan makan malam. Woo Jin tanya undangan apa?. Kepala Han menjawab undangan untuk menyemangati tim penyidik 3, tim jaksa Kim Dong Soo. Nona Jang menyahut  sebenarnya undangan itu di tujukan untuk membuat tim penyidik 3 menundukan kepala. 

Acara makan malam dimulai, dan benar saja semua yang hadir di sana langsung menundukan kepala atau bisa di sebut membentukan kepala ke meja hingga membuat barisan gelas-gelas kecil yang disusun diatas gelas besar, berjatuhan ke dalamnya. Kepala jaksa marah, penyelidikan belum membuahkan hasil tapi mereka sudah ingin minum-minum membuat rasa minuman ini menjadi pahit.

Asisten kepala mewakili mereka meminta maaf. Kepala jaksa membentak, apa semaunya cukup hanya dengan meminta maaf saja. Jaksa Kim Dong Soo terkejut saat kepala jaksa meminta mereka untuk melakukan penyelidikan ulang.

Woo Jin berada di toilet, saat ingin keluar tiba-tiba saja pengacara Kim sudah berdiri di depannya sembari melipat tangan di depan dada dan tersenyum.  

Pengacara Kim membawa Woo Jin ke sebuah restoran, disana juga ada In Seok yang merasa penasaran bagaimana cara Woo Jin berhasil membuatnya mengaku. 

"Itu ajaib sekali.. dadaku terasa sakit dan rasanya aku hampir gila. Dan aku sangat ingin mengatakan semuanya. Tapi sungguh, setelah aku mengaku perasaanku menjadi lega". 

Pengacara Kim menyahut ini yang disebut sebagai pengakuan palsu yang di paksakan. Disitulah letak kelebihan Woo Jin. Woo Jin hanya tersenyum samar mendengar pujian tersebut. In Seok lalu mengatakan di ruangan ini tidak ada alat perekam, tapi kenapa pengacara Kim masih bicara dengan hati-hati.

Pengacara Kim menyahut tidak ada salahnya terus bersikap waspada. In Seok meminta pengacara Kim bersikap lebih santai, meski ia telah mengakui kejahatnnya di kantor kejaksaan tapi pengacara Kim berhasil membuatnya bebas dari tuduhan. 

Woo Jin mulai bosan mendengar percakapan mereka. Ia bertanya apa masih ada yang ingin In Seok bicarakan?. Sederhana saja, In Seok ingin menjadi teman Woo Jin, "Ayahku pernah bilang, di dunia ini hanya ada 2 tipe manusia. Entah itu teman atau musuh". In Seok menyodorkan gelasnya, mengajak Woo Jin bersulang, "Jangan jadi musuhku". 

Woo Jin menyondongkan badanya, menatap tajam,, "Kalau begitu katakan ini pada ayahmu. Didunia ini tidak ada musuh selamanya dan juga tidak ada teman selamanya". 

Usai mengatakan itu, Woo Jin bangkit pergi meninggalan mereka. In Seok menegak minumannya dan menatap kepergian Woo Jin. 

Diluar restoran Woo Jin bertemu dengan jaksa Kim Dong Soo yang sudah menantinya sejak tadi. Dong Soo tampak setengah mabuk. Dia bertanya apa firma hukum mereka ingin mengajak Woo Jin bekerja sama?. Dong Soo menghisap rokoknya, ia menilai Woo Jin tidak sopan. Ia sudah membuang waktu 48 jam untuk membuat baji**** itu mengaku dan itu sangat melelahkan.

Bahkan sampai sekarang ia masih merasa lelah. Tapi tepat di saat-saat terakhir Woo Jin malah merebutnya dan membuat Kim In Seok mengaku. Dong Sook menyebut Woo Jin tidak mempunyai hati nurani dan moral.

Woo Jin berkata kalau bukan karena dirinya berhasil membuat Kim In Seok mengaku, sudah pasti Dong Soo harus melepaskan Kim In Seok sejak kemarin. Karena Dong Soo tidak punya bukti apapun ditambah lagi pelaku terus menyangkal tuduhan yang di tujukan padanya. Batas waktu penahanan juga hampir habis dan situasi semakin kacau saat pengacara Kim datang sebagai pengacaranya. Bukankah itu game over namanya. 

"Jangan terlalu merasa bersalah. Orang yang bertanggung jawab dalam kasus ini adalah kau. Kau akan segera berdiri sebagai jaksa penuntut di pengadilan. Di serahakan sebagai hasil kerjamu. Bagaimana?. Kau merasa lebih baik dengan itu?". 

Dong Soo tak mengerti kenapa harus seperti itu, kenapa dirinya yang harus berdiri di pengadilan sebagai jaska penuntut. Woo Jin mengaku tidak butuh apapun. Dirinya tidak seambisius Dong Soo yang ingin masuk Badan Penyelidik Nasional atau Kementrian Keamanan Nasional. 

Dong Soo marah, ia membuat puntung rokoknya dan mendorong Woo Jin ke tembok, "Brengsek, kau ini!. Aku tidak butuh itu, brengsek!. Meskipun kau tidak melempar koin emas ke arahku, aku akan tetap sukses. Apa?. Kau tidak punya ambisi?. 

"Tak punya ambisi tapi tanpa di duga ada di peringkat teratas dalam peringkat kejaksaan di seluruh negeri. Kalau kau punya ambisi, kau bisa masuk peringkat dunia. Jadi setiap kali kau memenjarakan seseorang, semua memanggilmu jaksa jahanam. Setidaknya aku jujur mengenai ambisi itu. Tapi kau ini munafik, kau tahu?. Baji**** hina!". 

Semual Woo Jin tersenyum saja mendengar ocehan Dong Soo, tapi Wajah Woo Jin berubah saat Dong Soo menyebutnya baji**** hina. Woo Jin marah dan seperti ingin menghajar Dong Sook. 

Tiba-tiba terdengar suara yang menghentikan mereka. Dong Sook dan Woo Jin tidak bisa melihat karena suara itu berasal dari tempat yang gelap di belakang mereka. Seorang gadis bernama Eun Bi muncul dari kegelapan bersama ke-3 temannya. Bergaya seperti preman wanita. 

Eun Bi memasang wajah jutek sembari memainkan pematik yang dia pegang. Sehingga menghasilkan suara yang terdengar familiar. 

Woo Jin tertegun menatap wajah Eun Bi. Beberapa ingatan berputar di dalam benak Woo Jin. Wajah gadis itu mirip dengan wajah gadis yang sering muncul di dalam memorinya. 

Dong Soo tertawa dari mana datangnya gadis-gadis imut ini. Eun Bi kesal melihat Dong Soo yang tertawa, "Imut katamu?". lalu mengumpat Dong Soo. 

Dong Soo memuji kemampuan Eun Bi dalam mengumpat. Anak-anak jaman sekarang pandai mengumpat. Selain mengumpat apa mereka tidak mempunyai kemampuan lain?. 

"Punya", jawab Eun Bi seraya memasuk pematik ke dalam saku roknya lalu menunjukan kepala tinjunya pada Dong Sook.

Dong Soo yang merasa di ledek jadi marah. Ia mendekati Eun Bi dan memegang tangan Eun Bi, yang langsung di tepis oleh Eun Bi. Eun Bi dan ketiga temannya berbalik pergi. Dong Soo memanggil, "Hai imut, kau mau kemana?". 

Eun Bi berbalik. Dalam gerakan cepat, gadis itu berlari, melompat dan menghajar wajah Dong Soo lututnya. Tendangannya tepat mengenai wajah Dong Soo, lalu mendarat dengan sempurna dan tersenyum puas. (Eun Bi keren ^^).

Dong Soo memegangi matanya yang sakit akibat serangan mendadak barusan. Woo Jin menahan tubuh Dong Soo, agar pria itu tidak jatuh. Eun Bi berbalik menghadap mereka, dengan gaya imut Eun Bi berkata, "Ah. Sayang sekali. Kenapa bisa di tangkis?". 

Dong Soo melepaskan diri dari Woo Jin, dia berkata Eun Bi dan teman-temannya akan mati hari ini. Eun Bi tidak takut, ia malah mengeluarkan pisau lipat. Dong Soo kesal bukan main, "Apa ini, kau membawa mainan. Hari ini kau dalam masalah besar". Dong Soo mendekati Eun Bi siap menyerang gadis itu.

Tapi sebelum itu terjadi, Woo Jin lebih dulu menahan. Ia meminta maaf dan bilang kalau om satu ini (Dong Soo) sedikit mabuk. Dong Soo heran kenapa Woo Jin meminta maaf, apa Woo Jin ingin polisi datang kemari dan mempermalukan mereka. Jaksa kok takut sama anak kecil.

Woo Jin tesenyum, tak masalah baginya jika terlibat dalam masalah, tapi tidak bagi Dong Soo yang dalam masa promosi. Sementara Eun Bi menatap Woo Jin dengan bingung. Woo Jin meminta maaf sekali lagi dan membawa Dong Soo pergi. 

Ke-3 teman Eun Bi menghampiri Eun Bi. Ia mengejek kenapa Dong Soo dan Woo Jin pergi, apa kalian takut. Woo Jin sempat menoleh ke belakang melihat wajah Eun Bi. Teman-teman Eun Bi yang melihatnya mengira kalau Woo Jin terpesona dengan kecantikan Eun Bi. 

Tidak jauh dari tempat mereka berada, ada seroang pria yang rupanya menyaksikan kejadian itu dan langsung mengejar Woo Jin. Pria ini mengaku merupakan kakak dari Eun Bi dan ketiga temannya. Jika Woo Jin ingin minum bersama gadis-gadis itu, ia bisa membantu. Gadis-gadis itu sangat tahu bagaimana caranya bersenang-senang. 

Pria ini tahu kalau Woo Jin menyukai Eun Bi karena dia melihat bagaimana cara Woo Jin memandang Eun Bi. Pria ini menunjuk ke tempat Eun Bi dan teman-temannya berada, tepat pada saat itu Eun Bi dan Woo Jin saling melihat satu sama lain. Pria ini menyuruh Woo Jin untuk pergi ke suatu tempat bersama Eun Bi, sisanya dia yang akan bertanggung jawab.

"Mereka adalah gadis-gadis yang kabur dari rumah dan tidak punya tempat untuk pergi". 

"Jadi, bisa aku berbicara sebentar dengannya?", tanya Woo Jin. 

Pria ini menyahut tentu saja. Jangankan hanya sebentar, Woo Jin bahkan bisa memilikinya semalam. 

Beralih ke Eun Bi dan ketiga temannya. Mereka membicarakan pria yang sedang bicara dengan Woo Jin. Salah satu teman Eun Bi menilai pria itu baik karena sering mentraktir mereka minum-minum di bar. Tapi Eun Bi menyebut pria itu aneh karena sukanya bermain-main dengan anak sekolahan. Eun Bi sebenarnya malu, dia dan ketiga temannya sudah berhenti sekolah tapi tetap memakai seragam.  

In Seok melihat Woo Jin dan pria itu dari dalam mobilnya. Tapi Woo Jin tidak melihat karena posisinya membelakangi In Seok. Pria itu tersenyum senang saat melihat Woo Jin memasukan tangannya ke dalam saku seperti ingin mengambil sesuatu. Pria ini mengira Woo Jin akan memberinya uang.

Tapi, senyum pria itu langsung memudar berubah takut ketika Woo Jin menberinya kartu nama. Pria ini buru-buru meminta maaf dan lari terbirit-birit begitu mengetahui bahwa Woo Jin seorang jaksa. Eun Bi yang melihat pria itu pergi jadi bertanya-tanya, "Kemana oppa itu pergi?". 

Woo Jin mendesah memegangi kepalanya yang pusing, "Aku bisa gila", ucapnya lalu masuk ke dalam. 

Dari dalam mobilnya, In Seok tersenyum seraya berguman, "Wah, menarik sekali". 

Sedetik kemudian, pria tadi mmenghampiri Eun Bi dan ketiga temannya. Ia meminta gadis-gadis ini untuk bersiap-siap. Ia mulai menari dan menyanyi. Eun Bi dan ketiga temannya tertawa geli dan mengikuti kemana pria itu pergi. Tanpa mereka sadari ada bahaya yang mengancam, karena secara diam-diam In Seok mengikuti mereka dari belakang. 

Malam itu, Woo Jin kembali bermimpi buruk. Dalam tidurnya dia melihat seorang pria muda dan seorang gadis dan juga sekelompok polisi yang mencari di rimbunnya semak-semak. Sang gadis teriak ketakutan sementara pria muda menangis dengan wajah berlumuran darah.

Ingatan lain muncul di dalam mimpi Woo Jin saat dia pergi ke psikiater. Mimpi yang memperlihatkan pria muda dan gadis yang bermain dengan riang di arena bermain. Mereka tampak bahagia menghabiskan waktu bersama, piknik, bersepada, bermain kejar-kejar'an dan berpelukan. 
Dokter mengakhiri konseling hari ini. Melihat ekspresi Woo Jin, dokter menebak sepertinya Woo Jin berhasil mengingat beberapa ingatan. Apakah wajah gadis yang muncul kali ini ingatan Woo Jin sama dengan wajah Eun Bi?

Woo Jin mengiyakan, tapi temperamen dan sikap Eun Bi jauh berbeda dengan gadis yang muncul dalam mimpinya. Dokter menganggap itu hal yang wajar, suara atau bau tak peduli apapun itu, yang jelas kemunculan gadis itu (Eun Bi) bisa membangkitkan ingatan yang terkunci di dalam otak Woo Jin. Tapi dokter merasa masih agak sulit bagi Woo Jin untuk bisa mengeluarkan semua ingatan Woo Jin yang terkunci di dalam.  

Woo Jin bangkit dari tidurnya. Dokter meminta Woo Jin untuk datang pada jam biasa Woo Jin berkunjung, bukan pagi-pagi begini. Dokter mengaku semalam agak mabuk, jadi ia merasa capek hari ini. Lagi-lagi Woo Jin tak mengubris perkataan dokter dan pergi begitu saja. Dokter mengomel dengan sikap Woo Jin yang seenaknya, "Sampai kapan kau akan mengangguku. Aku lebih tua darimu". 

Kepala jaksa merebahkan dirinya diatas sofa empuk. Matanya terbelalak kaget membaca judul berita yang di tayangkan televisi hari ini. 

Di tempat lain, pria yang semalam bicara dengan Woo Jin berlari menghindari kejaran beberapa orang. Ia berlari melewati gang sempit untuk meloloskan diri. Tapi tetap saja hal itu tidak berhasil membuatnya lolos. Pria ini dibawa pergi sebuah mobil setelah berhasil di tangkap. 

Pagi itu juga para wartawan sudah berkumpul di depan kantor kejaksaan untuk mencari informasi. Mobil kejaksaan tiba, turunlah seorang yang diduga sebagai pelaku pembunuhan. Polisi mengiring gadis muda masuk ke dalam, gadis muda itu adalah Eun Bi. Woo Jin terkejut melihat tangan Eun Bi yang terborgol dengan penampilan yang berantakan.

Memangnya apa yang Eun Bi lakukan hingga dia di curigai sebagai tersangka pembunuhan?.


Lanjut ke Sinopsis Reset Episode 1 Part 2


No comments:

Post a Comment

Thanks sudah mampir di blog saya, jangan lupa tinggalkan komentar ya...Trims....:)