Pages - Menu

Thursday, July 24, 2014

Sinopsis Fated To Love You Episode 4 Part 1

Gun teriak minta di bukakan pintu, lebih ia di pukul dari pada di kurung seperti ini. Lagi-lagi Mi Young meminta maaf, karena dirinya Gun harus menerima pukulan dari ibu. Gun tak habis pikir, ibu Mi Young sangat galak seperti orang barbar. Sama sekali tidak mirip dengan Mi Young yang lemah lembut.

Mi Young tersenyum melihat selimut yang di pegang Gun. Untung saja masih ada selimut. Gun terkejut, apa kau serius ingin tidur disini?. Mau bagaimana lagi tidak ada cara lain. Mi Young berkata meskipun Gun berteriak sekeras mungkin, ibu tetap tidak akan membuka pintu.

Gun teriak sekencang-kencangnya memanggil direktur Tak. Seperti anak kecil yang merengek memanggil ibunya. Gun melihat ada pintu lain di sebelah sana. Ia mencoba membuka, tapi pintu itu juga terkunci. Gun tidak putus asa, ia memanjat ingin menjangkau jendela. Mi Young tanya, memangnya bisa keluar dari situ.


Gun juga tak tahu, tapi setidaknya harus dicoba dulu. Gun minta Mi Young minggir dan jangan menganggunya. Mi Young menurut, ia berpesan agar Gun berhati-hati. Kaki Gun. berpijak pada tumpukan kayu, tapi baru di injak tumpukan itu langsung amburuk. Mi Young spontan teriak terkejut saat melihat Gun jatuh.

Saat Gun jatuh wajahnya mengenai keranjang berisi rumput laut. Sayuran itu tumpah ke wajah Gun. Gun teriak panik, tampak jijik dan juga takut pada tanaman laut berwarna hijau tua itu. Dengan hebohnya ia menyingkirkan sayuran itu dari wajahnya. Mi Young ingin membantu, tapi Gun tak ingin di sentuh. Gun ngomel - ngomel, situasi macam apa ini. Sial.


Wajah Mi Young tampak sedih dan merasa bersalah karena Gun harus mengalami hal ini. Ia duduk diam di tepi dipan dengan posisi membelakangi Gun. Gun mengatur napas untuk menenangkan diri. Ia memandang punggung Mi Young dan bertanya kenapa Mi Young tidak memberitahu kalau Mi Young sedang hamil. Bukankah Mi Young memiliki banyak kesempatan untuk mengatakannya. 

"Maaf", jawab Mi Young, "Aku ingin memberitahumu, tapi aku tak sanggup membuka mulutku". 

Tiba-tiba perut Gun berbunyi, tanda lapar. Mi Young melihat tampah berisi rumput laut dan menyodorkan tampah itu pada Gun. Mi Young tahu Gun pasti lapar. Ia mengambil satu dan menyuruh Gun untuk memakannya. Mi Young menjelaskan ini adalah Miyeok (rumput laut kuping), "Kau mau makan?". 

Gun heran, rumput laut kuping?. Kenapa rumput laut ada kupingnya?. Hehehe. 

(Rumput laut kuping = Bagian dari akar rumput laut)

Alasan Mi Young memberikan rumput laut kuping pada Gun, karena Gun lapar. Biasanya orang yang lapar gampang naik darah. Makan saja ini untuk mengganjal perut. Gun tidak mau, lupakan saja. Benda itu mana bisa dimakan. 

Perut Gun yang keroncongan bunyi lagi. Akhirnya Gun mau memakan lumput laut kuping dengan alasan menghargai ketulusan hati Mi Young. Sebelum di makan, Gun sempat mencium rumput laut kuping terlebih dahulu. Lalu menggigit rumput laut itu  dan sempat mengomel, "Rasa apa ini?. Apa bagusnya juga dusun seperti ini!". 

Omelan Gun terhenti, karena ternyata rasa rumput laut itu enak. Gun tersenyum melihat perubahan wajah Gun. Mi Young tanya, bagaimana rasanya, enak kan?. Gun yang jaim menyangkal, memangnya ia mau makan rumput laut kuping itu karena rasanya enak. Ia makan untuk bertahan hidup. 

Ngakunya sich rasanya gak enak, tapi Gun tambah lagi tuch..hehe. Mi Young kembali tersenyum. Mi Young mengaku cukup kaget juga mengetahui Gun ternyata tak pemilih dalam hal makanan. Karena berasal dari keluarga kaya, Mi Young berpikir Gun pastilah orang yang sangat pemilih.  

Gun juga heran, ia bukan tarzan rimba. Kok bisa terdampar di tempat seperti ini dan makan makanan  yang menurutnya aneh.

Mi Young mengambil makanan lain lagi dan menawarkannya pada Gun, "Kau mau cicipi ini juga?". Gun menerima makanan yang disodorkan Gun sembaru bertanya makanan apa itu?. Kenapa bentuknya kecil sekali, jangan-jangan itu siput. Gun tertawa, belum sempat ia mencicipi makanan itu. Ia melihat Mi Young mengambil ikan kering dan mencokel mata si ikan. 

Gun terjengkang ke belakang saking kagetnya. Kini ia tahu makanan apa yang barusan di berikan Mi Young, "Itu kan mata ikan!". serunya syok. Dengan santainya, Mi Young memakan mata ikan itu dan membuat Gun melongo penuh keheranan. Mi Young berkomentar rasanya enak dan kenyal-kenyal. 

"Mau aku korekkan satunya lagi untukmu?", tawar Mi Young lalu mengigit ikan itu untuk mendapatkan mata ikannya. Gun semakin syok melihat Mi Young yang terlihat menikmati makanan itu. 

Dirumah, ibu memotong ikan sambil marah-marah. Mi Sook dan direktur melihat ngeri. Direktur Tak memberanikan diri minta ibu agar memberi Gun makan. Presdirnya selalu makan tepat wakut. Bisakah ibu membuat jumukbap (nasi bola), ia akan mengantar makanan itu ke tempat Gun berada. 

Ibu menyahut Gun tidak akan mati hanya karena melewatkan waktu makan sekali saja. Mi Ja ikut menimpali, lagipula digudang itu banyak makanan. Jika Gun mau mencari, dia bisa saja memakan makanan yang ada disana. 

Kalau begitu, direktur Tak minta ibu mengurungnya juga bersama Gun. Ibu menatap direktur Tak tajam seraya mengacungkan pisau yang ia pegang, "Kenapa kau ingin masuk?. Jangan-jangan kau juga suka pada Mi Young?". 

Direktur Tak berkata di bandingkan suka pada Mi Young, ia lebih menyukai kakak Mi Young. Mi Sook yang duduk di samping direktur langsung tersipun malu, "Aku?. Benarkah?". 

Ibu akhirnya menjelaskan, alasan ia mengurung Mi Young dan Gun agar kedua orang itu bisa mengambil keputusan. Apakah mereka akan memutuskan untuk bersama atau mengambil jalan masing-masing. Ibu juga bisa melihat mereka berdua tidak saling membenci satu sama lain.

Kembali ke Gun dan Mi Young. Gun sepertinya sudah bisa menyesuaikan diri di tempat yang menurutnya bau dan kotor. Gun berkeliling melihat benda-benda yang ada di dalam gudang. Gun tertawa menemukan pistol mainan. Lalu, Gun menemukan origami burung. Gun berkomentar apa Mi Young kira dengan membuat barang seperti ini, orang-orang akan menyukai Mi Young. Gun bisa menebak, pasti Mi Young tidak sempat memberikan hadiah itu kepada siapapun. 

Kemudian, Gun menemukan benda lainya. Sebuah guci keramik dimana ada kertas  menempel di bagian luarnya. Gun mengangkat guci kecil itu dan membaca tulisan yang tertera di bagian luarnya, "Guci harapan". 

Mi Young yang sadar kalau itu adalah rahasia miliknya, langsung berdiri mendekati Gun dan berusaha mengambil guci tersebut. Tapi itu malah membuat Gun semakin ingin melihat isinya. Gun mengangkat tinggi-tinggi guci jauh dari jangkauan Mi Young. Dengan segala upaya,  Mi Young berjinjit berusaha mengambilnya. Tapi tetpa saja tidak sampai. Jadilah, mereka seperti anak kecil yang memperebutkan mainan.

Mi Young melarang Gun membukanya karena tidak ada yang menarik. Gun menyahut akan mengmbalikan guci itu setelah melihat isinya. Mi Young hanya bisa pasrah saat Gun lari membawa guci itu. Meski berkali-kali ia melarang, tetap Gun tak mau mendengar.

Mereka duduk berdampingan. Gun membuka tutup guci, rupanya di dalamnya berisi surat-surat harapan Mi Young saat masih duduk di bangku sekolah. Gun mengambil satu lipatan kertas yang bergambar 2 gadis bergandengan tangan dan tulisan yang  berbunyi, "Kuharap, teman-teman akan mengembalikan barang-barag yang ku pinjamkan pada mereka". 

Gun bertanya kenapa Mi Young tidak langsung meminta barangnya pada mereka, apa teman Mi Young galak?. Mi Young menjawab kalau ia tak sampai hati untuk meminta langsung. Mungkin saja temannya itu menghilangkan barang yang mereka pinjam. Mi Young tidak ingin membuat temannya merasa tidak enak. 

Gun mengambil kertas kedua dari dalam guci dan membacanya. Di kertas kedua terdapat gambar seorang gadis yang tersenyum dengan kalimat yang bertuliskan kalimat, "Jika aku membantu teman-temanku. Aku harap mereka akan berterima kasih padaku". 

Gun sedikit tertawa, apa Mi Young mengalami trauma di masa kecil?. Sifat Mi Young ini seperti penyakit kronis. Mi Young jadi kesal dan mengambil kertas itu, jangan di baca lagi. Sudah ku bilang tidak ada yang menarik. Gun masih ingin membaca dan berkata ini untuk yang terakhir kalinya. 

Gun mengambil kertas ketiga, kali ini bergambar 2 malaikat dengan sayapnya, "Kuharap ayah pergi ke tempat yang indah di surga

Gun terdiam sesaat setelah membaca surat terakhir, lalu bertanya kapan ayah Mi Young meninggal dunia. Mi Young mengambil kertas dari tangan Gun dan sembari memasukan kembali ke guci, ia menjawab ayahnya seorang pelaut dan meninggal sewaktu Mi Young masih kecil. Mi Young merasa rindu pada ayahnya, karena itu menuliskan kalimata tersebut dan memasukannya ke guci harapan. 

"Kau mirip denganku", ucap Gun setelah mendengar cerita Mi Young, "Aku juga kehilangan ayah dan ibuku dalam kecelakaan mobil". 

Mi Young menatap Gun, ia langsung menundukan pandanganya ketika Gun menoleh padanya. Mi Young minta Gun jangan terlalu khawatir, ia sudah memikirannya dan Mi Young memutuskan akan pergi ke rumah sakit besok untuk melakukan arborsi. 

"Bukankah kau sudah mempunyai seorang kekasih yang ingin kau nikahi. Realistis saja, kita tidak mampu membesarkan anak. Jika ku besarkan sendirian, bahkan setelah kalian menikah, kau tetap akan merasa gelisah. Anak ini akan menjadi beban bagi dirimu dan istrimu". 

Mi Young terdiam sebentar, air matanya menetes, "Aku tidak ingin anak ini menjalani hidup tanpa di berkati". 

Gun terdiam, bibirnya terasa kelu untuk berkomentar. Mi Young memalingkan wajah menghapus air matanya yang menetes. Hanya permintaan maaf yang bisa Gun ucapkan. Mi Young menjawab tidak apa-apa. Semua salahnya, karena salah masuk kamar. 

Gun ingin menemani Mi Young kerumah sakit. Walaupun ia tidak bertanggung jawab, tapi Gun tak ingin Mi Young melalukan hal itu sendirian. Tapi Mi Young yang tak ingin merepotkan orang lain, berkata bisa sendiri pergi kesana.

Gun menghampar selimut untuk sebagai alas tempat tidur merkea. Gun juga melepas jasnya dan memakaikannya ke tubuh Mi Young agar Mi Young tidak kedinginan. Gun menegaskan akan tetap menemani Mi Young kerumah sakit besok, jadi jangan menolak. Setelah itu, Gun  menyuruh Mi Young berbaring. Mi Young menurut. Gun mengucapkan selamat malam pada Mi Young, lalu membaringkan tubuhnya keatas dipan.

Posisi keduanya saling membelakangi. Mi Young merasa kejadian yang ia alami ini luar biasa. Ia dan Gun bertemu empat kali dan tidur bersama 2 kali diantara pertemuan itu. Gun teringat awal pertemuannya dengan Mi Young. 

Terdengar suara Mi Young ketika kilas balik pertemuan pertama mereka hingga kejadian malam itu, "Hubungan antar manusia sangat sulit dimengerti".

"Jika kita bertemu dalam keadaan yang baik, kurasa kita akan menyebutnya takdir", suara Gun terdengar saat mereka berpisah di Macau. 

Mi Young memejamkan matanya, begitu pula dengan Gun. Malam membuat mereka terlelap dalam tidur. 


Keesokan paginya kita melihat Gun yang masih tertidur pulas. Jas semalam yang dipinjamkan pada Mi Young, telah kembali padanya. Sepertinya, Mi Young pergi diam-diam saat Gun masih tertidur. Tidur nyenyak Gun terganggu karena gigitan nyamuk. Gun langsung bangun dan kesal sekali. Ia berkata akan membunuh semua nyamuk-nyamuk itu. Semuanya. 


Gun menengok ke samping. Tempat yang digunakan Mi Young berbaring semalam itu sudah kosong. Gun memanggil nama Mi Young berkali-kali, tidak ada sahutan. Yang ia temukan hanya sepucuk pesan yang ditinggalkan Mi Young, "Aku akan kerumah sakit. Tidak perlu khawatir. Aku akan baik-baik saja".

Gun menjadi panik dan teriak memanggil nama Mi Young. Lalu bergegas keluar bermaksud mengejar Mi Young.

Mi Sook dan ibu sedang bersih-bersih rumah makan saat Gun datang. Karena terlalu panik dan terburu-buru, kepala Gun kepentok pintu kaca saat masuk ke dalam. Mi Sook dan ibu tentu saja kaget, Mi Sook berkata baru saja ingin membangunkan Gun, tapi Gun sudah daang sendiri. 


Gun bertanya dimana rumah sakitnya?. Rumah sakit kebidanan. Ibu bingung kenapa memang dengan kebidanan. Gun tak yang tak sanggung menjelaskan hanya menunjukan pesan yang ditinggalkan Mi Young. Ibu membacanya dan kaget, "Anak itu!. Dia bermaksud menggugurkan kandungannya?". Mi Sook berkata tidak ada yang perlu di khawatirkan jika mereka segera menyusul kesana. 

Ibu sangat marah dan berkata akan mematahkan kaki Mi Young jika bertemu denganya. Suasana panik menyelimuti rumah makan itu. Gun mendesak jadi dimana rumah sakitnya, dimana?. Mi Sook bingung bagaimana ini?. Kapal feri pertama baru saja berangkat. Jika menunggu kapal kedua mereka bisa terlambat.

Gun balik tanya bagaimana apanya?. Bagaimana pun mereka harus mencari kapal, atau jika perlu buat kapal sendiri. Ibu melepas celemek lalu menyuruh mereka untuk mengikutinya. Mereka bergegas pergi. 

Tapi Mi Sook berbalik lagi karena teringat pada direktur Tak yang masih tertidur disalah satu meja rumah makan. Ia segera membangunkan direktur Tak dan menariknya untuk pergi bersama. Tak memperdulikan pertanyaan direktur Tak yang bertanya memangnya ada apa?. 

Keluarga Mi Young bersama Gun dan juga direktur Tak berkumpul di pelabuhan. Gun semakin panik dan juga cemas karena tidak ada satupun kapal yang datang. Sementara Mi Ja mencoba menghubungi ponsel Mi Young, tapi tidak di jawab. Mi Ja putus asa, adiknya itu benar-benar membuat masalah. Ibu kesal bukan main, "Bocah itu!".

"Apa kita benar-benar akan membuat kapal?", celetuk Gun.

Tiba-tiba sebuah kapal datang, ke enam orang ini serentak bersorak girang. Ternyata itu kapal presdir Park yang datang di waktu yang tepat. Dari atas kapal, presdir Park melambaikan tangan dengan senyum merekah bak aktor idola, "Aku datang..aku datang.. Ternyata aku populer sekali ya.. Aku datang tunggu sebentar". 

Sementara itu Mi Young sudah sampai di rumah sakit bersalin. Sejenak Mi Young berdiri di depan rumah sakit dan tampak ragu untuk melangkah kaki masuk ke dalam. Mi Young berguman memantapkan niatnya, bahwa apa yang telah membuat keputusan yang tepat. 


Dengan penuh keyakinan, Mi Young memasuki lobby rumah sakit. Disana ia banyak melihat para wanita dengan di temani pasangannya. Pandangan Mi Young kemudian tertuju pada bagian registrasi. 


Kebetulan saat itu ada Daniel tengah berbicara dengan petugas registrasi. Tapi Mi Young tidak menyadari kehadiaran Daniel. Mungkin kedatangan Daniel dirumah sakit ini berhubungan dengan adiknya yang hilang. 

Mi Young menuju registrasi dan berpapasan dengan Daniel. Mi Young yang sedang fokus pada dirinya sendiri sama sekali tidak menyadari kehadiran Daneil. Sebaliknya, Daniel sempat berbalik seperti mengenal sosok wanita yang barusan berpapasan dengannya.

Pada petugas registrasi, Mi Young berkata dengan suara lirih kalau ia ingin di operasi. Petugas yang tak bisa mendengar jelas suara Mi Young, meminta padanya untuk mengulagi lagi. Mi Young terbata, "Itu...operas..".

Tepat saat itu Daniel mendekati Mi Young dan menegurnya. Mi Young mengenali Daniel sebagai pastur yang mendengar pengakuan dosanya tempo hari. Mi Young tersenyum menyapa Daniel dengan santun. Mata Daniel melihat sekitar rumah sakit, mengisyaratkan tanya untuk apa Mi Young datang ketempat ini. 

Gun dan yang lainnya baru saja tiba di pelabuhan luar pulau Yeo Wool. Karena di kota ini ada 3 rumah sakit, maka mereka sepakat untuk berpencar mencari Mi Young dan berjanji akan saling menghubungi jika menemukan keberadaan Mi Young. 

Sebelum berpencar, Gun membagi 3 kelompok, ia bersama direktur Tak. Ibu bersama Mi Sook dan juga Mi Ja dan terkahir presdir Park bersama Mr. Choi. 

Mi Young dan Daniel duduk berdampingan. Mi Young meminta maaf, setiap kali ia bertemu dengan Daniel, ia selalu membawa memberitahukan hal yang mengerikan. Daniel menjawab kalau Mi Young tak perlu meminta maaf. Ia hanya mendengarkan cerita Mi Young dan selebihnya Mi Young lah yang menjalaninya.

Mi Young bertanya kenapa Daneil ada disini. Mi Young yang masih mengira Daniel adalah pendeta memanggilnya dengan sebutan, "Bapa". Daniel menjawab orang yang ingin ia temui berada di sini, karena itu ia datang. Daniel tak menduga kalau ternyata menunggu itu membuat tegang. Daniel ingin terlihat baik di depan orang itu. 

Mi Young menilai saat ini Daniel sudah terlihat baik, "Percaya dirilah", ucap Mi Young memberi semangat. MI Young menatap Mi Young dan berkata sebenarnya ia juga ingin memberi Mi Young semangat.

Tapi tak ada yang bisa ia katakan selain meminta Mi Young untuk memikirkan kembali keputusannya yang ingin mengugurkan kandungan. Jangan sampai Mi Young merasa menyesal, karena keputusan yang Mi Young buat sekarang, bukanlah sesuatu yang bisa diulang di kemudian hari. 

"Bapa, aku ada permintaan. Bisakah kau berdoa bersamaku?", pinta Mi Young. 

"Berdoa?", tanya Daniel bingung. Semula Daniel ingin menjelaskan bahwa ia bukanlah seorang pastur seperti yang Mi Young kira. Tapi Daniel urung melakukannya saat melihat wajah sedih Mi Young. 

Akhirnya Daniel memenuhi permintaan Mi Young, jika itu yang bisa ia bantu maka Daniel akan melakukannya. Sebelum berdoa, Daniel membuat gerakan salib di depan dada. Tapi sepertinya Daniel lupa bagaimana membuat gerakan salib yang benar. Mi Young melihatnya heran. Dipandang seperti itu, Daniel beralasan kalau terkadang ia suka bingung. Daniel berkata berdoa itu melalui hati, ia menyuruh Mi Young menggenggam kedua tangannya.

Mi Young memejamkan mata dan menggenggam kedua tangannya. Daniel memberi arahan, sekarang Mi Young hanya perlu bicara dengan nyaman seperti sebelumnya. Mi Young mengangguk dan Daniel ikut memejamkan matanya.

Ditempat lain, Gun tengah mencari Mi Young kesana - kemari sembari meneriakan namanya. Disaat yang bersamaan, terdengar suara Mi Young yang tengah berdoa dengan khusus. 

"Tuhan. Tolong kasihani bayi yang bertemu dengan buruk sepertiku. Tolong ijinkan dia pergi ke tempat yang menyenangkan". 

Daniel membuka mata ketika mendengar suara isak tangis Mi Young. Mi Young terdiam sesaat, dan kemudian melanjutkan doanya, "Tuhan. Aku minta maaf karena tidak bisa melindungi bayi ini. Aku minta maaf. Amin". 

Daniel melihat wajah Mi Young yang basah karena air mata. Hatinya terenyuh dan ikut merasakan sedih. Mi Young menyeka air matanya dan mengucapkan terima kasih atas bantuan Daniel. Daniel merasa senang bisa membantu Mi Young. 

Mi Young berpamintan pergi dan jalan menjauh, tapi ia sempat berbalik memberi semangat pada Daniel, "Jangan gugup dan bersemangatlah.Semangat". Daniel tersenyum, mengepalakann tangan dan berucap, "Semangat". 

Setelah itu Mi Young benar-benar pergi. Daniel menatap punggung Mi Young yang semakin menjauh. 

Gun tiba di rumah sakit bersalin. Setibanya di lobby ia terus-terus'an memanggil Mi Young, tak peduli meski saat itu banyak pasang mata yang melihat padanya. Gun bertanya pada petugas regisrasi, apa ada nama pasien Kim Mi Young. Gun juga mengatakan ciri-ciri Mi Young yang memakai kaca mata bulat dan kulitnya pucat.




Petugas meminta Gun menunggu sebentar, lalu mencari daftar pasien di data komputer. Direktur tanya pada Gun, kenapa mencari Mi Young. Apa Gun ingin mempertahankan bayinya?. Meski Gun tidak ingin mempertahankan bayinya, tapi sebagai pria ia merasa tidak semestinya membiarkan seorang wanita melakukan arborsi sendirian.

Gun menoleh kebelakang dan melihat pasangan yang baru saja keluar dari ruang arbosi. Si wanita memukul dada kekasihnya karena arborsi tadi sangat menyakitkan. Si pria hanya bisa meminta maaf berkali-kali. 

Gun menunduk, mungkin ia teringat pada Mi Young. Pasti saat ini Mi Young juga merasakan sakit yang sama dengan wanita tadi. Petugas registrasi memberitahu memang ada pasien bernama Kim Mi Youn yang saat ini berada di ruang konsultasi. Gun melesat secepat peluru menuju ketempat Mi Young berada.

Mi Young tampak tegang  saat dokter melakukan USG pada kandungannya. Dokter minta Mi Young tetap tenang dan meyakinkan semua akan baik-baik saja. Tak lama kemudian, dilayar monitor tampak janin Mi Young yang masih sangat kecil. Memang sekarang janin itu tidak bisa dilihat dengan jelas karena masih berukuran sekitar 0,2 cm. 

Mi Young melihat ke layar, "0,2 cm?. Apa sekecil ini?, tanyanya sembari membuat lingkaran dengan kedua jarinya. 


Dokter tersenyum dan berkata ukuran janin Mi Young lebih kecil dari yang Mi Young harapkan. Meskipun berukuran kecil, biasanya janin bisa mengenali suara orang tuanya. Tiba-tiba pintu terbuka. Gun masuk dengan wajah panik dan juga lega melihat Mi Young berbaring di sana dan tampak baik-baik saja. 

Dokter bertanya siapa Gun dan ada urusan apa. Gun bingung mau menjawab apa. Meski dengan terbata, akhirnya Gun berkata, "Aku...aku...ayah si bayi". Mi Young menatap Gun, seakan tak percaya kalau Gun baru saja mengakui bayi yang di kandungnya. 

Hal mengejutkan kembali terjadi. Kali ini, Gun mendengar suara aneh. Ia yang heran bertanya suara apa itu. Dokter menujuk monitor dan berkata suara yang Gun dengar barusan adalah suara detak jantung bayi. Gun menatap monitor. Ia melihat gambar janin dan suara detak jantung bayi terdengar semakin kencang. Menandakan janin yang ada di kandungan Mi Young memiliki kehidupan. 

Gun yang tampak tersentuh dengan suara itu menatap Mi Young. Mi Young mengalihkan pandangannya. Pastinya sebagai ibu, Mi Young tak hanya sekedar bisa mendengar detak jantung bayi, tapi tentunya ia juga bisa merasakan kehadiran janin tersebut. Tapi Mi Young tetap kukuh pada keputusannya untuk melakukan arborsi. 

Sebelum Mi Young benar-benar melakukan arborsi, dokter menyebutkan pasal yang memperbolehkan mereka untuk mengugurkan kandungan. Menurut UU kesehatan ibu dan anak pasal 14. Dokter mengetahui kehamilan Mi Young disebabkan kecelakaan. Jika kehamilan itu didasarkan atas ketidaksadaran atas pengaruh alkohol, maka di ijinkan melakukan arborsi. 






Dokter mengajukan surat persetujuan, bahwa Gun dan Mi Young memperbolehkan pihak rumah sakit untuk melakukan arborsi. Tanpa pikir panjang, Mi Young langsung menandatangi surat tersebut. Gun terus menatap Mi Young yang menunduk sedih. Gun merasa tak tega tapi juga tidak bisa berbuat apa-apa, karena ia sendiri tak merasa yakin akan mempertahkankan bayi itu. 

Kini, Mi Young telah memakai baju pasien. Gun mengantarnya hingga ke depan ruang arborsi. Mi Young sempat terdiam di luar pintu melihat peralatan operasi. Sebelum masuk, Mi Young sempat menoleh ke belakang dan tersenyum tipis pada Gun. Seakan meyakinkan semua akan baik-baik saja. Perlahan pintu tertutup memisahkan mereka. 

Gun menunggu diluar ditemani direktur Tak. Gun duduk melamun memandangi foto hasil USG. Direktur Tak terkejut melihat foto itu dan mengoceh sendiri. Gun teringat perkataan Mi Young kalau foto itu adalah foto bayi yang ia buat bersama Mi Young. Gun juga ucapan Mi Young semalam yang tak ingin anak ini lahir tanpa berkat. Tanpa sadar, Gun memberikan foto itu pada direktur Tak. Direktur heran, kenapa kau berikan padaku?. 

Gun tak menjawab, ia tampak seperti orang linglung lalu berdiri. Diretur tanya Gun mau kemana. Gun tak mengubris pertanyaan direktur Tak. Kini Gun tahu apa yang harus ia lakukan. Yaitu mencegah Mi Young untuk melakukan arborsi. Mungkin belum terlambat. 

Gun belari menuju ruang operasi. Ia ingin naik lift, tapi lift dalam keadaan tertutup. Gun menggunakan tangga darurat dan terus mempercepat langkanya. Banyak rintangan yang harus Gun lalui untuk sampai. 

Rintangan pertama, langkah Gun terhalang karena kursi roda. Gun yang ingin cepat sampai meloncati kursi roda itu. Usai rintangan pertama, rintangan kedua menghadang di depannya. Kali ini ranjang kosong yang sedang di dorong seorang suster. 

Gun loncat lalu salto bak jackie chan yang sedang beraksi dalam film action. Semua Gun lalukan tanpa perhitungan. Karena setelah mendarat di lantai, Gun sempat mengaduh sembari memegangi kepalanya yang sakit. 

Tak berhenti di situ, halangan kembali menghadang. Kali ini seorang suster yang tengah mendorong ranjang rumah sakit, dimana ada pasien yang terbaring di atasnya. Gun mengambil sprei dan menghamparkannya kebawah lantai. Lalu melewati kolong ranjang dengan kain putih tersebut. Meski ia harus merelakan keningya terbentur besi ranjang. 

Pasien yang tidur di atas ranjang melongo kaget melihat tingkah polah Gun. Gun mengeryit kesakitan akbibat benturan tadi. Tapi ia segera melupakan rasa sakit itu dan bergegas menuju ruang arborsi. 

Tapi masih ada satu lagi halangan yang harus Gun lalui, yakni kurir air galon. Gun meloncati pagar untuk menghindari tabrakan dan berhasil  mendarat dengan mulus,  membuat kurir air galon terheran-heran. 

Mi Young tampak tegang saat dokter mulai melakukan proses operasi. Saat itulah, Gun menyerbu masuk, "Tunggu. Jangan". Gun minta Mi Young bangun. Suster kaget, apa yang Gun lalukan disini. 

Gun meminta maaf dan menggendong Mi Young turun dari meja operasi. Lalu membawa Mi Young keluar dari sana. 

Dokter tentu saja kaget dengan tindakan spontan Gun, tapi ia justru merasa senang. Dokter tertawa dan mengatakan setelah mendengar detak jantung janin, 9 dari 10 orang tua tidak tega untuk melakukan arborsi. 




Gun terus mengandengan tangan Mi Young hingga mereka berada di luar rumah sakit. Mi Young berhenti dan melihat tangannya. Gun baru sadar dan dengan canggung Gun melepaskan tangan Mi Young.


Mi Young bertanya apa rencana Gun sebenarnya. Entahlah, Gun juga tidak tahu. Tapi yang pasti ia menilai tindakan arborsi itu bukanlah tindakan yang benar. Mi Young bingung, lalu apa yang harus kita lakukan?.  
Terdengar seruan ibu, "Itu Mi Young!". Ibu datang bersama yang lainnya. Tanpa bertanya, ibu langsung memukuli Mi Young, "Kau tahu apa yang telah kau perbuat?". Gun melindungi Mi Young dan minta pada ibu untuk membicarakan hal ini baik-baik. Ibu tak mau mendengar, apa hal seperti ini bisa di selesaikan dengan berbicara?. Apa yang terjadi dengan bayinya?. Bagaimana dengan bayinya?'. 


"Bayinya.....", belum seleai Gun bicara, ibu sudah menarik dasi Gun dan membuat Gun merasa tercekik. Ibu yang terbakar emosi mengatai Gun brengsek dan tidak pantas di sebut sebagai laki-laki. 



Direktur Tak mencoba melepas cengkraman ibu, tepat saat itu ia melihat mobil Ny. Wang datang. Sama seperti ibu, tanpa bertanya apapun, Ny. Wang langsung marah-marah dan memukuli Gun. Ia sangat kesal sekali dan menyebut Gun sebagai pembunuh kejam yang tega membunuh darah dagingnya sendiri. 

Karena terlalu emosi membuat darah tinggi Ny. Wang kambuh, ia memegangi lehernya yang sakit. Hampir saja Ny. Wang terjatuh, jika saja direktur Tak tidak segera menahan tubuhnya. 

Napas Gun ngos-ngos'an. Gun meminta mereka untuk mendengarkan ucapannya, "Nenek. Ibu dan kalian semua. Bayinya...bayinya...baik-baik saja". 

Ibu memegang perut Mi Young, lega mendengar calion cucunya itu baik-baik saja. Pada Mi Young, Gun meminta maaf atas kejadian tadi, tapi Gun mempunyai satu permintaan untuk Mi Young, "Dengaku...denganku", ucapnya terbata-bata. Gun terdiam mengantung kalimatnya membuat ibu tidak sabar. Memangnya ada apa denganku, katakan saja. 

"Kami akan mempertahankan bayinya", ucap Gun melanjutkan kalimatnya. 

Mi Young dan ibu terkejut mendengar perkataan Gun, seakan tak percaya Gun mau mempertahankan bayi ini. Ny. Wang merasa sangat senang dengan keputusan Gun. Badannya yang semula lemas, menjadi bugar kembali. 


Lanjut ke Sinopsis Fated To Love You Episode 4 Part 2

Loncat indah ala Lee Gun... Hahaha... LOL

No comments:

Post a Comment

Thanks sudah mampir di blog saya, jangan lupa tinggalkan komentar ya...Trims....:)