Pages - Menu

Monday, January 25, 2016

Signal Episode 1 Part 1



29 Juli 2000
Disebuah halaman sekolah dasar, dimana para murid sedang bermain badminton. Seorang gadis kecil,  Kim Yoon Jung duduk diam sendiri dengan raket di tangannya. Ia memperhatikan teman-temannya yang asyik bermain dengan wajah sendu. Entah apa yang membuat dia tidak ikut bergabung dengan mereka.

Pandangannya lalu beralih melihat anak laki-laki yang seumuran dengannya berdiri sendirian di tanah lapang. Nama anak lai-laki itu bernama Park Hae Young. Yoon Jung itu tersenyum pada Hae Young yang tidak memakai pakaian olahraga, tapi Hae Young itu malah memalingkan wajahnya lalu sibuk mengorek-ngorek tanah dengan ranting yang dia pegang. 

Hanya selang beberapa detik, Hae Young melihat ke tempat Yoon Jung duduk. Tapi Yoon Jung yang di lihatnya tadi sudah tidak ada di sana. Tak ambil pusing, Hae Young kembali asyik mengorek-ngorek tanah. Tiba-tiba Yoon Jung itu sudah ada didepannya, tersenyum sembari menyodorkan raket mengajaknya main. Hae Young tampak tak suka, ia berdiri dan pergi begitu saja.


Bel tanda pulang berbunyi. Murid-murid berlarian keluar kelas, tapi tidak dengan Hae Young  yang hanya tetap duduk di bangkunya. Hujan membuat para murid berteduh di pintu sekolah menunggu  hujan reda atau menunggu jemputan. Satu per satu orang tua dari murid-murid itu datang menjemput. 

Terlihat seorang wanita berdiri di dekat pohon, wanita itu berlindung di bawah payung hitam diam memandang ke arah sekolah.

Hae Young keluar dari kelas dan melihat Yoon Jung berdiri sendiran diluar memandangi hujan. Hae Young memandangi payung yang ia bawa, mungkin ia sempat berpikir untuk meminjamkan payung itu pada Yoon Jung. Tapi Hae Young malah menyembunyikan payung di balik badannya ketika Yoon Jung menoleh ke arahnya. 

Yoon Jung tersenyum melihat Hae Young. Sayangnya, Hae Young kembali menunjukan sikap tidak bersahabat. Hae Young meninggalkan Yoon Jung sendirian. Hae Young berlari ketengah hujan tanpa sempat membuka payungnya.

Sesaat ia menoleh melihat Yoon Jung yang menunduk sedih. Hae Young tak peduli dan kembali berlari. Langkahnya terhenti melihat wanita yang berdiri di dekat pohon. Hae Young memperhatikan penampilan wanita yang wajahnya tertutup payung. Berambut panjang, memakai blouse putih, rok pendek hitam dan memakai high heels berwarna merah.

Hae Young memperhatikan wanita itu dengan kening berkerut. Hae Young kaget dan lari begitu melihat wanita itu menoleh padanya. Sebelum benar-benar pergi dari halaman sekolah, Hae Young sempat berhenti dan kembali menoleh kebelakang. Dia melihat Yoon Jung pulang bersama wanita berpayung hitam itu.

Hae Young sedang memakan ramen ketika melihat acara televisi yang mengabarkan hilangnya seorang siswi sekolah dasar.  Kasus ini kini dalam penyelidikan polisi. Tampak wajah siswa yang dimaksud, tak lain adalah Yoon Jung, teman sekelasnya.

Mendadak sekolah menjadi ramai dengan kehadiran para wartawan yang ingin mengorek informasi tentang hilangnnya Yoon Jung. Mereka menanyai semua murid yang melewati gerbang sekolah. Kejadian ini juga membuat para orang tua lebih ketat dalam mengantar dan menjemput anak mereka.

Hae Young tampak ragu melangkahkan kakinya memasuki gerbang sekolah. Kehadiran wartawan mengingatkannya pada kenangan buruk saat melihat kakaknya di tangkap polisi atas tuduhan pembunuhan. Hae Young juga ingat terakhir kali melihat Yoon Jung yang dibawa oleh seorang wanita.
Hari berlalu. Melalui berbagai penyelidikan, polisi telah mengindetifikasi sidik jadi yang ditemukan pada surat di lokasi. Mereka menetapkan mahasiswa Universitas Sangjin jurusan kedokteran, Seo Hyun Joon sebagai tersangka. Hae Young melihat berita itu di televisi, ia berguman heran membantah pernyataan itu, karena ia melihat sendiri kalau yang membawa Yoon Jung adalah seorang wanita.

Heo Young datang ke kantor polisi untuk memberikan kesaksian. Batu saja tiba di pintu gerbang kantor polisi, dia menjadi takut dan ragu. Hae Yeong teringat kenangan buruk saat dia berteriak-teriak histeris membela kakaknya yang tidak bersalah. Rasa trauma itu sempat membuat Heo Young berniat pergi dari kantor polisi. Namun pada akhirnya dia memberanikan diri.

Pada semua polisi yang dia temui, Hae Young berkata kalau orang yang membawa Yoon Jung adalah perempuan, bukan laki-laki.  Tapi para polisi itu malah mengacuhkan Hae Young dan menyuruh anak itu untuk pulang. Mereka tidak percaya pengakuan seorang anak kecil.

Waktu terus berjalan. Ribuan selebaran di sebar, puluhan anggota polisi dikerahkan mencari keberadaan Yoon Jung. Jutaan tanda tangan sudah di kumpulkan untuk petisi pembebasan Yoon Jung. Malangnya, Yoon Jung di temukan tidak bernyawa. Di rumah duka, ibu Yoon Jung menangis dan merasa sangat terpukul atas kematian putrinya.

Dikabarkan tersangka Seo Hyun Joon mengambil uang tebusan 50.00 dolar dari polisi lalu menghilang tanpa jejak. Selebaran pencarian telah dikeluarkan tapi diperkirakan pelakunya telah melarikan diri keluar negeri.

Dihari lain, Hae Young melihat ibu Yoon Jung berdiri (demo) di depan kantor polisi sembari membawa foto Yoon Jung untuk menuntut keadilan atas kematian putrinya. Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, dan bulan. Kasus kematian Yoon Jung masih tidak dapat di pecahkan. 

Hae Young yang setiap harinya pulang sekolah melewati kantor polisi, melihat ibu Yoon Jung yang tidak kenal lelah berdiri di kantor polisi menuntut keadilan. Bahkan dalam cuaca dingin sekali pun, ibu Yoon Jung tetap berdiri disana tanpa mengenal lelah. 

5 tahun kemudian. Hae Young telah tumbuh menjadi remaja, seperti biasa pulang sekolah melewati kantor polisi. Dan setiap hari itu pula, ia selalu melihat ibu Yoon Jung tetap kukuh melakukan aksi demo selama bertahun-tahun. Hae Young tumbuh menjadi remaja yang bebas. Ia sering berkelahi dengan teman sekelas bahkan dengan anggota preman lainnya.

Tahun demi tahun berlalu. Media mengumumkan Undang – undang pembatasan dari peristiwa penculikan Kim Yoon Jung akan segera berakhir. Penculiknya akan dibawa ke pengadilan, hanya jika dia tertangkap sebelum tengah malam pada tanggal 29 Juli 2015.

27 Juli 2015, 3 hari menjelang berakhirnya undang-undang pembatasan.

“Ini semua soal alam bawah sadar. Sebuah trofi di lemari, foto di meja, buku di kamar mandi semua itu adalah pintu ke dalam kesadaran seseorang.  Kami psikolog menyebutnya "Snooping" [mengintip]”.

“Jadi kau mengetahui semuanya setelah melakukan snooping?”, tanya wartawan yang mewawancarai Hae Young.

Wartawan itu mengorek informasi actor dan artis yang sering bertemu secara rahasia di taman Hyunjin pada pukul 10.30 malam. Wartawan heran bagaimana Hae Young biga tahu hal itu, menurutnya hanya hantu saja yang mengetahui pertemuan rahasia para selebriti itu.

Hae Young lalu menunjukkan foto pasangan selebriti yang dimaksud (hahaha…. Foto Kang So Ra, Im Shi Wan dan Byun Yo Han saat press conference drama “Misaeng”). Wartawan mengaku juga menonton drama itu dan menyukai peran manager Oh.

Hae Young mengatakan semua orang juga tahu, kalau mereka melakukan drama cinta segitiga tahun lalu. Ia memberikan informasi penting terkait hubungan para selebriti itu (curiga Hae Young salah satu “Spy” Dispatch. LOL).. Hae Young menunjukan foto Byun Yo Han yang diambil 5 hari lalu di bandara. Saat Byun Yon Han pergi ke luar negeri untuk pemotretan selama 4 hari.

Menurut Hae Young, kepergian Byun Yo Han tentunya memberikan waktu pada Kang So Ra dan Im Si Wan untuk lebih dekat. Hae Young berkata, tanggal 26 juli kemarin Kang So Ra dan Im Si Wan bertemu tepat sehari sebelum Byun Yo Han kembali dari luar negeri. 

Sembari menjelaskan, pandangan Hae Young tertuju pada seorang wanita yang baru saja tiba di restoran. Wanita yang dilihat Hae Young itu memilih duduk agak jauh dengan posisi membelakangi Hae Young. Wanita itu mengeluarkan amplop coklat berisi foto-foto Hae Young. Mungkin dia tengah menyelidiki pria itu.

Wartawan lalu tanya kenapa kedua artis itu memilih bertemu jam 10.30 malam. Dengan penyelidikan cermatnya, Hae Young berkata Si Wan punya jadwal latihan konser pukul 10.00 pagi keesokan harinya, “Katakanlah dia harus bangun jam 8 pagi, perlu memotong jam tidur dan waktu diperlukan untuk berbicara dengan Kang So Ra, dan pertimbangkan kalau taman sudah sepi pada saat itu. Waktu yang tepat mereka bertemu adalah pukul 10.30”.

Wartawan tersenyum mendengar jawaban Hae Young lalu bertanya lagi tentang lokasinya, kenapa harus di taman Hyunjin. Sebelum menjawab, Hae Young sempat melihat kearah wanita yag tadi dilihatnya dengan tatapan curiga. Kemudian Hae Young menjawab semakin beresiko sebuah pertemuan, semakin netral lokasinya. Tidak mungkin mereka bertemu di rumah sendiri.

Tentu tidak, mereka pasti akan memilih suatu tempat dimana orang tidak merasa heran jika ada yang berpakaian olah raga dan mengenakan topi. Ditengah tempat yang dikelilingi beberapa tiang lampu dan sedikit pejalan kaki disaat malam. Di dekat gerbang belakang taman Hyunjin mereka bertemu.

Wartawan tampak takjub dengan penjelasan Hae Young. Hae Young lalu mengganti topic lain dan membahas bisnis lainnya. Ia mengeluarkan foto Ji Sung dan Lee Bo Young. Wartawan kaget mendengar Ji Sung dan Lee Bo Young yang ternyata memiliki hubungan special (Wah ada kesalahan nich, Ji Sung an Lee Bo Young menikah pada tahun 2013, masa tahun 2015 masih pacaran. Kekekeke).

Wartawan ingin tahu bagaimana Hae Young mengetahuinya. Hae Young hendak menjelaskan tapi tak jadi karena pada saat itu juga Cha Soo Hyun berjalan ke arahnya dan menunjukkan identitasnya, Cha Soo Hyun, seorang detektif.

Kepolisian Jinyang. Hae Young duduk bersiul tidak takut meski kini dia akan diinterogasi di divisi kejahatan pembunuhan. Kim Gye Chul tak mengira tenyata bukan hanya kucing saja yang suka mengacak-acak tong sampah, tapi ternyata seorang polisi seperti Hae Young juga suka melakukannya. Hae Young hanya tersenyum tipis mendengar sindiran itu.

Soo Hyun menunjukan bukti-bukti foto yang memperlihatkan Hae Young sedang mengacak-acak tong sampah. Soo Hyun mengetahui Hae Young merupakan inspektur dari Divisi Patroli Bukdaemun. Ia  bertanya apa Hae Young tahu kalau artis Lee Bo Young mengadukannya atas tuduhan penguntit.

Hae Young tidak terima dituduh penguntit, ia hanya mengintip isi tong sampah yang ditaruh di luar. Kenapa tidak sekalian saja melaporkan orang yang jadi pemulung dan mengambil sampahnya. Mengira Hae Young tak mengerti maksudnya, Kim Gye Chul menjelaskan kesalahan Hae Young. Seorang polisi seperti Hae Young tidak sepantasnya mengacak-acak tong sampah selebriti wanita. Apa Hae Young orang mesum. Atau Heo Young ingin mendapatkan informasi dan menjualnya kepada media untuk mendapatkan uang.

“Mendapat uang?. Aku?. Periksa saja rekeningku. Aku tidak menerima sepeserpun. Ini hanya hobiku. Ada orang yang hobi memancing. Dan aku mencari informasi dan membagikannya sebagai hobi. Apa tidak boleh?”, ucap Hae Young membela diri. 

“Oh ho, orang ini benar-benar tidak mengerti. Apa kau tidak tahu kalau para pejabat sedang memperketat disiplin ?. Ini tidak bisa Detektif Cha. Laporkan orang ini atas tindakan tidak senonoh agar dia dipecat”, ucap Gye Chul kesal.

“Tindakan tidak senonoh”, Hae Young tertawa geli, “Kau mau tahu apa itu perilaku tidak senonoh untuk seorang polisi?”.

Hae Young menatap sinis kearah meja Soo Hyun yang di kelilingi oleh tumpukan berkas. Ia membaca satu persatu judul berbeda dari tiap berkas kasus-kasus itu. Ia bertanya apakah ini bentuk protes Soo Hyun karena memiliki beban kerja yang keras?. Jika Soo Hyun kerja dengan cara meloncat-loncat dari kasus satu ke kasus lainnya, pada akhirnya polisi seperti mereka hanya akan melemparkan orang yang tidak bersalah ke dalam penjara.

“Lucunya, orang – orang seperti kalian yang bekerja di tempat seperti ini, hanya kalian yang bisa melihat”, Hae Young berdiri dan melihat sekeliling. Kemudian tangannya merogoh kedalam sela tumpukan dokumen dan menemukan foto batman. Di pinggir frame foto batman itu terdapat kutipan bertuliskan, “Setiap borgol membawa 2,5 liter air mata

“Kau menulis kutipan yang hebat untuk mencuci otakmu sendiri. Kau meyakinkan dirimu sendiri kalau kau petugas polisi yang hebat. Tapi tidakkah kau berpikir kalau Batman itu sedikit berlebihan?. Bagaimanapun juga setidaknya meja ini mirip meja kerjanya detektif”.

Hae Young lalu menunjuk meja Gye Chul dan berkomentar kalau meja itu lebih mirip meja seorang salesman. Kim Gye Chul jadi kelabakan melarang Hae Young menyentuh mejanya. Hae Young mengambil buku petunjuk penyelidikan yang harusnya di pelajari, justru dijadikan alas makanan oleh Gye Chul. Buku-buku yang Gye Chul baca malah tentang golf dan mendaki.

Hae Young lalu mengambil buku berisi kartu nama bisnis yang Gye Chul koleksi. Ia yakin sekali diantara kartu nama itu, pasti ada kartu nama manager Lee Bo Young. Dugaan Hae Young tampaknya benar, karena Gye Chul buru-buru merebut buku kartu nama itu dengan kesal dan canggung. Soo Hyun menatap tajam Gye Chul yang sibuk menyimpan buku-buku tak berguna di mejanya.

“Jelas sekali, kalian diminta oleh manager Lee Bo Young untuk menyelidiku. Kalau tidak, kenapa aku harus di periksa oleh tim kejahatan pembunuhan?. Bukan begitu?. Apa perilaku kalian ini disebut layak?. Kalian menuduhku atas perilaku tidak senonoh, yang benar saja?. Apa polisi korea pernah punya rasa susila?”.

“Kata orang, kau punya mulut untuk berkata benar. Kau punya mulut, tapi apa tindakanmu benar ?. Yah, apa yang mau diharapkan dari seorang polisi?. Mereka tidak mengajarkan hal itu di Sekolah Kepolisian bukan begitu?. Itu sebabnya kau akhirnya mengacak-acak tong sampah orang”, balas Soo Hyun.

Heo Yeong berdalih sedang menyelidiki sesuatu. Ia lalu menegur Soo Hyun untuk bicara lebih sopan. Soo Hyun tidak mau, toh mereka berdua sama-sama orang tidak senonoh untuk apa bicara sopan. Beginilah orang tidak senonoh saling bicara.  
Kedua polisi itu saling melotot tajam. Ketegangan itu terusik tak kala terdengar dering telpon. Soo Hyun menjawabnya dan menghela napas kesal setelah mendengar orang seberang bicara. Soo Hyun berkata kalau pihak Lee Bo Young telah menarik gugatannya pada Heo Young. Yang berarti kasus ini dianggap selesai.

Tapi bagi Heo Young hal ini belum berakhir. Ia akan menyelidiki siapa orang yang telah menyogok Soo Hyun dan Gye Chul. Soo Hyun tampak tenang menanggapi protes Hae Young dan menantang pria itu untuk saling menyelidiki satu sama lain.

“Kau mengacak-acak sampah dan kami disogok. Benar-benar big match. Aku bisa tebak siapa yang akan dipermalukan”, Soo Hyun melirik Gye Chul, “Siapa yang akan menang, kita lihat saja nanti”.

Soo Hyun menyuruh Hae Young untuk duduk. Kembali terjadi ketegangan antara mereka. Hae Young melihat jam dan berubah pikiran. Buru-buru ia pergi seperti ada hal penting yang harus ia lakukan, “Hari ini, kalian sedang beruntung” ucapnya beranjak pergi menyembunyikan rasa gugupnya.

Setibanya diluar, Hae Young langsung menghela napas lega. Huff....hampir saja.  Baru beberapa langkah, terdengar suara Soo Hyun, “Mau aku antar keluar?”. Hae Young menoleh dan mendesis kesal. Kemudian Soo Hyun memberikan nasehat sekaligus menyindir Hae Young.

“Seorang polisi yang terhormat dan membenci polisi lain. Cari saja pekerjaan lain. Kau ... tidak cocok jadi polisi

Hae Young berjalan pergi sambil menggurut dan berharap mereka tidak akan pernah bertemu lagi. Saat di persimpangan koridor, Hae Young diam membisu. Perlahan-lahan dia menyusuri lorong gelap itu dengan wajah sedih.

Sampai akhirnya dia berhenti di depan lift dan melihat dirinya di waktu kecil. Di tempat itulah, Hae Young kecil memberanikan diri untuk datang ke kantor polisi memberikan kesaksian, tapi nyatanya para polisi itu malah mengacuhkannya.

Flashback 15 tahun silam. Hae Young kecil menatap para polisi yang sibuk hilir mudik membicarakan perkembangan kasus yang mereka tangani. Ditangannya ia mengenggam erat selembar kertas. Seorang petugas mendekati Hae Young dan bertanya kenapa anak kecil seperti Hae Young berada disini, apa Hae Young sedang mencari ibunya. Petugas itu mengira Hae Young tersesat.
Hae Youg jadi takut dan buru-buru lari menuruni tangga. Tanpa sengaja ia menabrak Detektif Lee Jae Han, yang mengakibatkan kertas-kertas yang di pegang detektif Lee berhamburan di lantai. Detektif Lee heran melihat Hae Young yang tidak minta maaf dan malah lari.

Detekfit Lee memungut berkas-berkasnya yang berantakan dan menemukan secarik kertas. Rupanya tanpa sadar, saat bertabrakan  Hae Young menjatuhkan kertas yang ia pegang.  Detekfit Lee memunggut kertas itu, namun tak sempat ia baca karena keburu di panggil seseorang.  

Masih di hari yang sama, tanggal 3 Agustus 2000. 5 hari dan 5 jam setelah penculikan Kim Yoon Jung. Detektif Lee bertugas menangangi penculikan Yoon Jung. Hari itu, dia memimpin rapat atas perkembangan kasus yang tengah ia tangani.

Kapten tim detektif, Kim Bum Joo juga datang untuk melihat perkembangan kasus ini. Dalam rapat, detektif Lee mengawali insiden penculikan Yoon Jung terjadi sekitar pukul 1 siang saat pulang sekolah. Laporan berkas penculikan masuk di hari yang sama pukul 6:44 sore. 53 jam setelah penculikan, keluarga korban dimintai uang tebusan oleh penculik sebanyak 50.000 U$.

Kepolisan telah mendatangi café yang disebutkan dalam surat yang dikirim pelaku. Di café itu mereka memeriksa identitas semua orang disana dan menemukan sidik jari di meja sesuai dengan sidik jari dalam surat yang dikirim pelaku. Mereka mengidentifikasi, pelaku penculikan Yoo Jung adalah Seo Hyung Joon, mahasiswa Mahasiswa Universitas Sangjin jurusan kedokteran, berusia 21 tahun. Polisi telah memburu dan mengeledah tempat tinggal, universitas dan rumah keluarga Seo Hyung Joon, tapi keberadaanya masih belum ditemukan.

Kim Bum Joo bertanya bagaimana dengan ponsel pelaku. Detektif Lee berkata Seo Hyung Joon belum membayar tagihan ponsel selama 2 bulan, jadi ponselnya tidak bisa ditelusuri karena telah di non aktifkan. Ahn Chi Soo bertanya lagi bagaimana dengan tagihan kartu kreditnya, apa sudah di periksa. Detektif Lee menjawab Seo Hyung Joon memiliki hutang kartu kredit sebanyak 50.000 U$. Kartu kreditnya juga sudah diblokir pihak bank. 

“Dunia ini penuh sekali dengan orang jahat”, keluh Kim Bum Joo, “Dia menculik gadis kecil demi 50.000 U$. Dan kalian masih belum bisa menemukannya di negera yang kecil ini?. Kalian semua, apa tidak sadar betapa seriusnya kasus ini?. Semua orang di negeri ini memperhatikan kita. Kita sudah mengidentiifikasi tersangka tapi tidak bisa menangkapnya?”, teriak Bum Joo membanting berkas yang ia pegang.

“Kami punya petunjuk”, sela detektif Lee, “Dalam detil kartu kreditnya, ada banyak pembelian barang merk wanita”.

Kim Bum Joo bertanya-tanya apakah Hyung Joon memiliki kekasih. Detektif Lee berkata menurut keterangan teman tersangka, bahwa  Hyung Joon sedang mengalami kesulitan dengan kekasihnya. Tapi tersangka tidak menyebutkan siapa nama kekasihnya. Detektif Lee juga bertanya pada kenalan Hyung Joon yang lain, tapi sejauh ini tidak ada perkembangan.

Detektif Ahn Chi Soo datang membawa kabar baru, tersangka lagi-lagi memeras keluarga Yoon Jung. Penculik meminta keluarga Yoon Jung membawa uang 50.000 U$ ke taman Seohyun pukul 10 malam.  Mendengar itu, Bum Joo langsung membentak anak buahnya, tunggu apa lagi cepat bergerak. Sontak semua polisi itu berhamburan keluar.

Saat Bum Joo hendak keluar untuk menyusul, detektif Lee menghentikannya untuk mengatakan sesuatu yang menurutnya janggal. Baik surat dan meja di kafe, hanya terdapat sidik jari jempol kanan Seo Hyung Joon.  Jika memang Seo Hyung yang menyentuh meja dan menulis surat pemerasan itu, seharusnya ada sidik jari Seo Hyung lain menempel pada surat dan atau pun di meja. Tapi ini hanya sidik jempol kanan, rasanya aneh dan ada yang salah. Detektif Lee memberitahu akan menyelidiki kekasih Seo Hyung Joon.

Bum Joo mempersilahkan, “Lakukanlah. Tapi sendirian saja. Kau kan suka bekerja sendirian”, sindirnya tak suka, “Tapi perhatikan langkahmu”, ucapnya kemudian lalu pergi. (Wow… itu saran atau peringatan?).

Detektif Lee diam mematung mendengar kalimat terakhir Bum Joo. Ahn Chi Sooyang sedari tadi diam saja mendengarkan perbincangan akhirnya membuka suara. Ia menyuruh detektif Lee untuk berhenti saja, karena detektif Lee sudah mengecek semua teman wanita Seo Hyung Joon, tapi tidak ada hasilnya.

Detektif Lee juga meminta seniornya itu untuk berhenti, “Berhenti menjilat pada atasanmu”, sindirnya tajam.

Detektif Lee menuju mejanya dan menghempaskan berkas yang ia pegang. Chi Soo yang tidak bisa berkata apa – apa lagi, melangkah pergi dengan marah. Detektif Lee yang kini sendirian kembali meneliti dokumen catatan penggunaan kartu kredit tersangka. Lalu mengambil secarik kertas yang menempel di computer.

Perhatiannya lalu teralih pada kehadiran polisi wanita yang masuk ke dalam ruangannya. Detektif Lee sedikit terkejut melihat wanita itu. Polisi wanita itu adalah Cha Soo Hyun yang baru saja dipindahtugaskan ke kantor kepolisan Jinyang. Dengan canggung, Soo Hyun memberi hormat lalu melangkah pergi. Langkahnya terhenti mendengar suara detektif Lee yang  bertanya, “Sudah makan?”.

“Ya”, jawab Soo Hyun lirih.

Detektif Lee merupakan senior Soo Hyun, tapi sepertinya hubungan mereka lebih dari sekedar hubungan Senior – junior. Dengan ragu-ragu, Soo Hyun hendak menjelaskan sesuatu tentang yang pernah ia katakan sebelumnya. Tapi Detektif Lee menyela dan berkata,

“Sepertinya akhir pekan ini aku bisa selesaikan (kasus penculikan Yoon Jung). Setelah semua selesai, baru kita bicara”.

Detektif Lee melangkah pergi sembari menepuk bahu Soo Hyun. Soo Hyun yang terpaku diam perlahan menoleh, menatap kepergian detektif Lee. Perlahan senyum tipis menghiasi wajah Soo Hyun. 

Flashback end.

Kembali ke tahun 2015. Kini Soo Hyun  masih berkerja di kantor kepolisan Jinyang. Ia meletakan foto batmannya di sudut meja. Kemudian ia merapihkan berkas-berkas kasus yang menumpuk di mejanya.

Gye Chul yang canggung, mencoba mencarikan suasana dan mengajak Soo Hyun bicara. Ia berkata manager Lee Bo Young hanya meminta tolong padanya untuk menangkap Hae Young karena takut kalau Hae Young menyebarkan informasi pada media. Sama sekali ia tidak menerima uang ataupun suap. Soo Hyun tak menanggapi ucapan Gye Chul. Ia diam tapi tampak marah dan sesekali membanting buku ke meja.

“Aigoo, kenapa kerjaanku banyak sekali?. Aku benci hidupku”, keluh Soo Hyun lirih.

Gye Chul mencoba mengambil hati Soo Hyun. Ia menawarkan diri untuk merapihkan pekerjaan Soo Hyun, walau harus lembur hingga besok. Soo Hyun kembali duduk dan mulai focus mengerakan tumpukan kasus-kasusnya.

3 Agustus 2000. 5 hari dan 6 jam setelah penculikan Kim Yoon Jung.

Hae Young kecil kembali ke kantor polisi setelah satu jam ia meninggalkan tempat itu. Hae Young kecil  kembali ke sana setelah menyadari kalau kertas yang dipegangnya tadi menghilang. Hae Young berdiri di depan pintu masuk sembari merogoh saku celanya. Mungkin saja kertas yang ia cari terselip di berada disana. Tapi pedulikan berapa kali ia memeriksa , kertas itu tetap tidak ada.

“Dasar bodoh, kenapa sampai jatuh”, runtuk Hae Young pada dirinya sendiri. Wajahnya tampak basah karena air mata.

Tapi Hae Young kembali lari begitu mendengar langkah kaki yang berjalan keluar. Detektif Lee keluar membawa dokumen dan Walkie Talkie. Ia masuk ke dalam mobil dan mempunyai kesempatan membuka lipat kertas yang ia punggut di tangga. Di atas kertas itu tertulis sebuah pesan.

 Penculiknya bukan laki-laki. Tapi perempuan”.

Detektif Lee melihat sekeliling, tidak ada siapa-siapa disana. Ia mengembalikan kertas itu ke dalam saku celananya. Sejenak ia berpikir dan memandangi Walkie Talkie yang dibawanya. Beberapa detik kemudian, detektif Lee mengemudikan mobilnya pergi meninggalkan kantor polisi.

Tahun 2015.  Hae Young keluar dari kantor polisi. Mobil Hae Young terhalang oleh truk sampah yang parkir tepat di depan mobilnya dan menghalangi jalan. Ia berusaha mendorong mobil itu, tapi tentu saja usahanya itu sia-sia. Hae Young berteriak kesal. Apa hari ini adalah hari sialnya?.

Balik ke tahun 2000. Detektif Lee pergi menyelidiki berbagai tempat seorang diri. Ia menelusuri penggunaan kartu kredit Seo Hyung Joon diberbagai tempat makan dan café. Kemudian ia menandai tempat itu dipeta. Detektif Lee lalu mengambil kertas dari dalam saku celana, kertas yang semula tertempel di computer meja kerjanya. Kertas itu berisi petunjuk “Rumah Sakit Jiwa Soenil”.

Kembali ke Hae Young yang masih berusaha mendorong truk sampah. Ia lalu menghubungi nomor ponsel pemilik truk yang tertera di kaca mobil, tapi pemilik truk itu tak kunjung menjawab panggilannya. Hae Young mencak-mencak, memaki pemilik truk yang parkir sembarangan. Sementara itu didalam kantor polisi, Soo Hyun yang sendirian tampak sibuk bekerja menyelidiki kasus.

Tahun 2000. Detektif Lee pergi ke rumah sakit jiwa Seonil, tapi rumah sakit itu ternyata sudah tidak lagi digunakan. Pintu utama terkunci. Detektif Lee berputar dan berhasil masuk melalui pintu samping. Ia menyusuri gedung gelap gulita itu dengan bantuan sentar.  Detektif Lee terus berjalan hingga dia keluar ke halaman belakang dan berhenti di depan sebuah lubang. Detektif Lee berjongkok  dan mengarahkan senternya ke dalam lubang. Disana dia menemukan mayat mati tergantung.

Disaat yang bersamaan, baik di tahun 2000 dan tahun 2015 detik jam menunjukan pukul 11:23. Hae Young yang saat itu masih berusaha menelpon pemilik truk kaget mendengar suara radio aneh yang berasal dari ponselnya. Dan pada waktu bersamaan di tahun 2000, Walkie Talkie detektif Lee tiba-tiba menyala.  Detektif  Lee menjawab panggilan Walkie Talkienya, mengira kalau  ia dipanggil tuan Park.

Tidak sepenuhnya salah jika detektif Lee mengira kalau ia sedang bicara dengan tuan Park. Karena Park Hae Young yang berasal dari masa depanlah kini yang mendengar suaranya. Hae Young melihat ponselnya, tetap normal. Dengan pandangan bingung dan heran, Hae Young menatap kantong sampah di depannya. Mengira sumber suara radio itu berasal dari salah satu kantong sampah yang ada disana.

Tanpa mengetahui dengan siapa sebenarnya ia bicara, detektif Lee memperkenalkan diri, “Tuan Park, anda dengar aku?. Ini Detektif Lee Jae Han. Aku sekarang ada di rumah sakit jiwa Seonil yang anda maksud.  Aku menemukan jenazah digantung di lubang pembuangan dibelakang gedung.  Dia adalah tersangka Seo Hyung Joon, dari kasus penculikan Kim Yoon Jung”.

Hae Young tercengang, “Kasus Penculikan Kim Yoon Jung?”.

Detektif Lee membenarkan dan memberitahu kalau jempol mayat itu terpotong. Detektif Lee yakin ada orang yang membunuhnya dan membuatnya seolah bunuh diri. Bukan Seo Hyung Joon yang menculik Yoon Jung, tapi orang lain.

Mendengar itu, buru-buru Hae Young membongkar kantong – kantong sampah itu dan menemukan sebuah walkie talkie yang sedang menyala terbungkus dalam kantong plastik. Hae Young membuka kantong plastic itu dan mengambil walkie talkie lalu bertanya, “Siapa kau?. Kau bicara apa?. Kau di rumah sakit jiwa Seonil?. Dimana itu?”.

“Anda yang memberitahuku dimana lokasinya”, jawab detektif Lee. Tepat saat itu juga detektif Lee merasakan sekelebat sosok bergerak di belakangnya. Sontak ia menoleh dan mengarahkan senternya ke setiap sudut, tapi tidak melihat orang lain selain dirinya.   

Detektif Lee kembali bicara melalui walkie talkie, bertanya pada “Tuan Park”, kenapa menyuruhnya datang ke tempat ini. Detektif Lee penasaran sebenarnya apa yang terjadi ditempat ini?.

Plak…. sebuah pukulan keras menghantam kepala detektif Lee, dan menyebabkan komunikasinya dengan Hae Young di masa depan, terputus.

Hae Young yang masih bingung bertanya apa detektif Lee mengenalnya dan bertanya dari stasiun mana detektif Lee berasal. Hae Young semakin bingung tak kala menyadari walkie talkie itu tiba-tiba mati dengan sendirinya.

Hae Young menampar wajahnya keras-keras, mengira kalau apa yang baru saja ia alami hanyalah mimpi. Tapi itu bukan mimipi melainkan kenyataan karena ia mengaduh kesakitan memegangi pipinya yang memerah.

Hae Young langsung pergi dari tempat itu setelah berhasil mengeluarkan mobilnya dari himpitan truk sampah. Hae Young geleng-geleng tak percaya, menertawai kejadian aneh yang barusan ia alami. Tapi Hae Young langsung membeku, begitu melihat ibu Kim Yoon Jung  masih berdiri di depan pintu gerbang kantor polisi meski sudah larut malam.

Hae Young ingat terakhir kali Yoon Jung tersenyum padanya sebelum gadis itu di culik. Rasa bersalah Hae Young semakin besar melihat wajah ibu Yoon Jung yang tampak tua dimakan usia. Perlahan Hae Young mengemudikan mobilnya meninggalkan kantor polisi Jinyang.

Hae Young membawa walkie talkie itu ke posko jaganya. Senior Hae Young mengagumi walkie talkie Hae Young yang kelihatan antik. Benda itu mirip dengan yang ia pakai saat baru jadi polisi. Hae Young tak mengira ternyata walkie talkie yang ia temukan setua itu. Petugas Jung lalu tanya apa walkie talkie ini masih  berfungsi, karena tidak ada baterainya.

Hae Young yang sedang menikmati ramennya langsung bengong mendengar penjelasan seniornya itu. Sontak ia langsung mengambil benda itu dan memeriksanya. Petugas Jung berkata walkie talkie itu mati total. Petugas Jung menertawai Hae Young yang rela datang di hari libur hanya untuk menunjukan walkie talkie tak berfungsi itu padanya.


Di meja kerjanya, Hae Young bengong beberapa saat menatap walkie talkie itu. Hae Young berguman kalau ia terlalu lelah bekerja hingga berhalusinasi. Ia mengambil benda itu lalu menyimpannya dalam laci. Tiba-tiba ia teringat perkataan detektif Lee yang mengatakan ditemukan mayat di rumah sakit Seonil.

Merasa penasaran, Hae Young pergi ke Rumah Sakit Jiwa Seonil dengan membawa walkie talkie. Ia memanjat pagar yang dilindungi kawat besi. Hae Young meyakinkan dirinya sendiri kalau yang ia lakukan ini adalah sebuah pembuktian kalau dirinya masih waras dan tidak gila.  Malangnya, Hae Young malah terjatuh saat berusaha lompat dari pagar.. Kasian….

Dengan bantuan cahaya dari senter kecil ditangannya, Hae Young berjalan memasuki halaman rumah sakit. Hae Young berguman kalau tindakannya ini gila. Beberapa detik kemudian, sampailah ia di depan pintu utama gedung rumah sakit. Gedung itu masih berdiri kokoh, meski tampak tidak terawat dan di penuhi sarang laba-laba.

Heo Young batuk-batuk karena pekatnya debu saat memasuki lobby. Hae Young mengedarkan senternya ke berbagai penjuru melihat keadaan sekitar. Ia terus berjalan tanpa ragu  menelusir koridor yang dulu pernah di lalui detektif Lee, hingga ia menemukan pintu yang menuju halaman belakang.


Alangkah terkejutnya Hae Young ketika menemukan lubang pembuangan. Hae Young ingat perkataan detektif Lee dan perlahan mendekati lubang itu.  Beberapa saat, Hae Young ragu dan agak takut, tapi akhirnya ia memberanikan diri mengarahkan cahaya senternya ke dalam lubang dan….. ia tidak menemukan apapun disana.

Hae Young teriak kesal, “Ah..benar-benar.  Aku sedang ngapain sich sekarang?. Walkie Talkienya bahkan tidak ada baterainya. Ini tidak masuk akal!!!!. Aku membuang waktu saja. Aku pergi”, ucapnya  melangkah pergi sembari menggerutu kesal.

Namun baru beberapa langkah, Hae Young berbalik. Ia melihat lubang pembuangan lain tak jauh dari lubang pertama yang ia temukan sebelumnya. Hae Young menghela napas dan mendekati lubang itu seakan yakin tidak akan menemukan apapun disana. Tanpa merasa takut ataupun ragu, ia mengarahkan senternya ke dalam lubang. 

Sontak Hae Young teriak hingga terjatuh seperti baru saja melihat sesuatu yang mengerikan. Kemudian Hae Young berdiri untuk memastikan kalau apa yang baru saja ia lihat tadi benar-benar nyata. Dengan wajah tegang, Hae Young mengarahkan senternya ke dalam lubang.

Di dalam lubang itu, Hae Young melihat tali gantungan dan kerangka manusia. Tak jauh dari kerangka itu, ia juga melihat kacamata dan botol obat. Merasa panic dan ketakutan, Hae Young lari terbirit-birit meninggalkan tempat mengerikan itu.

 ************

2 hari menjelang berakhir masa undang-undang pembatasan.

Keesokan paginya, rombongan kepolisian yang dipimpin Soo Hyun, tiba di rumah sakit jiwa Seonil  setelah menerima laporan dari Hae Young. Mereka mengeluarkan kerangka dari lubang dan mengambil foto untuk bahan investasi mereka. Terpasang garis polisi di sekitar tempat kejadian. Hae Young yang di larang masuk mengamati dari kejauhan.

Soo Hyun melihat Hae Young dan berjalan mendekatinya. Hae Young tanya apa Soo Hyun menemukan keanehan pada kerangka itu?. Tapi menurut Soo Hyun, Hae Young lah yang aneh karena menurut penilaiannya, Hae Young bukanlah tipe orang yang mendatangi tempat angker, “Bagaimana kau menemukan kerangka itu?. Kenapa kau menelponku?. Kau mau main permainan lainnya?”.

Hae Young tampak kebingungan menjelaskan bagaimana ia menemukan kerangka itu. Tapi ia menjawab alasan kenapa ia menghubungi Soo Hyun karena mereka pernah bertemu sebelumnya. Hae Young lalu meminta bantuan pada Soo Hyun, meski permintaannya ini terdengar gila, “Bisakah kau membandingkan DNA kerangka itu dengan Seo Hyung Joon, tersangka dari penculikan Kim Yoon Jung 15 tahun yang lalu?”.

Soo Hyun kaget, “Penculikan Kim Yoon Jung?”.

Soo Hyun membawa kerangka itu ke tim forensik untuk di teliti. Tim forensik mengatakan kalau kerangka itu adalah kerangka laki-laki. Berdasarkan panjang tulang paha, kerangka itu memiliki tinggi kurang lebih 170 cm.

“Berapa usianya?”, tanya Soo Hyun

“Dia bukan orang yang anda cari. Usianya tidak sesuai”, jawab petugas tim forensik… (siapa yang Soo Hyun cari?).

Berdasarkan kondisi giginya, dan perkiraan kematiannya, usianya sekitar awal 20 tahun’an. Soo Hyun lalu tanya bagaimana dengan jempolnya yang hilang. Petugas forensik masih belum tahu pasti dan harus melakukan berbagai tes, tapi sepertinya jempolnya di potong oleh benda tajam sejenis pisau bedah. 

Tak lama kemudian datang petugas forensik pria membawa hasil test DNA. Soo Hyun segera membaca hasilnya dan syok. 


No comments:

Post a Comment

Thanks sudah mampir di blog saya, jangan lupa tinggalkan komentar ya...Trims....:)