Pages - Menu

Saturday, December 27, 2014

Sinopsis Reset Episode 9 Part 1

Episode 9 

= Hari Pembalasan =

= Dalam drama ini, situasi penjara yang sebenarnya di lebih-lebihkan untuk kepentingan drama =

Woo Jin di bawa keruang eksekusi bawah tanah, disana sudah ada presdir Kim duduk di kursi pesakitan dengan tali siap menjerat leharnya. Saat sadar presdir Kim bertanya tempat apa ini. Bong Hak menjawab, "Tempat ini adalah altar untuk membunuhmu".

Presdir Kim sadar bahwa dokter klinik telah menipunya dengan mengatakan kalau Bong Hak akan kabur dari penjara. Presdir Kim berkata seharusnya Bong Hak sudah terbunuh saat itu. Presdir Kim tertawa, "Kau pikir kau siapa bisa mengalahkanku". 

"Hanya untuk menangkap iblis ini, aku juga telah menjadi iblis. Kau telah membunuh saudara-saudaraku. Kau!. Hanya untuk menangkapmu!", bentak Bong Hak 
Bong Hak memberikan kode pada dokter klinik, dokter klinik mengangguk mengerti dan keluar ruangan. Presdir Kim tak berhenti tertawa meremehkan Bong Hak. Woo Jin yang sejak tadi diam saja, melihat sebuah paku di dekatnya lalu mengambilnya. 

Dokter klinik masuk keruangannya, ia duduk di depan monitor memantau kejadian di ruang eksekusi yang telah di pasang kamera CCTV. Dokter klinik dan Bong Hak telah merancang semua ini. Mereka sengaja memasang kamera CCTV agar bisa merekam pengakuan jahat presdir Kim dan kematiaannya yang menyakitkan.

Presdir Kim menyuruh Bong Hak untuk segera melepas tali yang terpasang di lehernya. Bong Hak tertawa, "Kenapa?. Kau takut mat?". Presdir Kim balik tanya, kenapa aku harus takut mati. Ia ingin tali itu di lepaskan.

Bong Hak mengingatkan kejahatan presdir Kim yang telah membakar rumah kebahagiaan. Presdir Kim tak mengelak, sebaliknya baginya rumah kebahagiaan adalah tempat pengemis kotor yang mesti di musnahkan dan tidak perlu di bangun lagi.

Bong Hak menunjukan video rekaman peristiwa kebakaran itu. Wajah presdir Kim terekam dengan jelas berikut percakapannya dengan anak buahnya untuk membunuh semua orang yang selamat dari kebakaran itu. 

Presdir Kim kaget, bagaimana bisa ada rekaman itu. Bong Hak akan menunjukan kejahatan presdir Kim ini pada dunia. Presdir Kim kesal, "Brengsek. Kau pikir aku akan diam saja. Cepat lepas tali ini". 

Saat Bong Hak sibuk dengan presdir Kim. Woo Jin menggunakan kesempatan ini untuk mengikis tali yang mengikat tangannya dengan paku yang ia temukan. 
Tiba-tiba Bong Hak memanggilnya, "Cha Woo Jin. Menurutmu untuk apa pengadilan iblis. Kau lihatlah baik-baik".

"Tidak perduli apapun, kau tidak seharusnya balasa dendam seperti ini. Biar hukum yang mengadili", jawab Woo Jin

"Hukum!. Kau bilang hukum", bentak Bong Hak, "Apa yang di lakukan hukum 7 tahun yang lalu?. Aku tidak akan tertipu untuk kedua kalinya. Pengadilan.. dan balas dendam. Kami akan melakukannya sendiri". 

Tiba-tiba presdir Kim mengatupkan kedua tangannya. Mengiba-iba memohon pengampunan, "Kasihani aku.. Kasihani aku. Benar tentang rumah kebahagian. Itu semua salahku. Aku harusnya di hukum sepuluh ribu kali lipat. Kumohon, tolong kasihani aku. Aku akan memberikan kompensasi. Aku akan menyerahkan diri". 

Untuk membuat hati Bong Hak goyah, presdir Kim berkata ia juga orang yang menyedihkan, 'Putrakku satu-satunya juga dibunuh oleh kalian" Bong Hak terdiam mendengar pengakuan presdir Kim. Permohonan ampun presdir Kim terlihat sungguh-sungguh.

Woo Jin kembali mengikis tali dengan paku dan akhirnya tali itu putus, tapi Bong Hak tidak mengetahui hal itu. 

Eun Bi tampak tersentuh dengan kebaikan pria berkacamata (selanjutnya saya panggil pria Kyoto, karena dia berasal dari Kyoto). Ia hendak pergi tapi saat melihat punggung pria itu, hati Eun Bi tergugah untuk menemani pria kyoto yang tampak kesepian. 




Padahal saat itu pria Kyoto sedang menerima telepon kalau saat ini presdir Kim tengah di sekap dan pelakunya adalah Jo Bong Hak. Pria Kyoto segera menutup telponnya, saat Eun Bi mendekat ke arahnya.

Mereka sedikit berbincang dan Eun Bi semakin merasa simpati saat pria Kyoto bercerita kalau putrinya sudah meninggal. Cerita sedih pria Kyoto membuat Eun Bi ikut merasa sedih. Pria Kyoto sengaja membuat Eun Bi bercerita tentang dirinya, sementara ponsel yang ada di dalam sakunya merekam suara dan wajah Eun Bi.



Eun Bi bercerita tentang ayahnya yang sudah meninggal. Tapi ia masih belum bisa mempercayai kenyataan itu. Tak terasa air mata Eun Bi menetes membasahi pipinya. Pria Kyoto memberikan Eun Bi sapu tangan dan mempersilahkan Eun Bi untuk menangis sepuasnya.

"Maaf", ucap Eun Bi seraya mengusap air matanya, "Entah kenapa aku bisa mengatakan hal ini pada paman. Aku aneh, kan?". 

"Dari pada merahasiakannya lebih baik menceritakannya pada orang lain. Sebelum ayahmu pergi, kau pasti belum sempat mengucapkan selamat tinggal. Pasti banyak yang ingin kau katakan, kan?". 

Eun Bi mengangguk membenarkan. Pria Kyoto melihat ke atas langit dan berkata mungkin saat ini ayah Eun Bi sedang melihat dari surga. Ia menyuruh Eun Bi untuk mengeluarkan semua isi hatinya di sini dengan lantang. Sementara ia akan pergi dulu untuk bersembunyi agar Eun Bi tidak merasa malu.

Kembali ke penjara. Dokter klinik geram melihat video presdir Kim yang mengiba meminta belas kasih. Sudah banyak berbuat jahat dan membunuh orang, tapi masih ingin tetap hidup. 


Ponsel dokter kilink berdering, tertera di layar ponsel, "Tidak ada nomor". Ternyata itu adalah panggilan video call yang melihatkan wajah Eun Bi. Si penelpon yang tak lain adalah pria Kyoto, ingin bicara dengan presdir Kim dan mengancam akan membunuh Eun Bi jika dalam 5 menit tidak di ijinkan bicara dengan presdir Kim. 

Dokter klinik benar-benar terkejut dan sadar kalau dirinya lah yang secara tak sengaja membuat Eun Bi berada dalam bahaya.

Bong Hak menekan naik tombol tiang gantungan yang membuat presdir Kim tersentak naik ke atas. Kaki presdir Kim bergelantungan di udara. 

Bong Hak melihatkan kalung bola yang ia buat selama di penjara, "Kau tahu apa ini?. Kau telah membunuh saudara-saudaraku. Setiap kali kau membunuh mereka, kau membuatku menangis berdarah-darah. Dasar iblis. Pergilah ke neraka!". 

Tiba-tiba Woo Jin berlari dan menurunkan tombol tali. Membuat tali yang menjerat leher presdir Kim sedikit merenggang. Bong Hak menatap tidak percaya, "Cha Woo Jin!". 

"Sebagai jaksa aku berjanji. Kali ini, aku pastikan dia akan menerima hukumannya. Jadi berhentilah". 

"Beraninya kau!", bentak Bong Hak murka

Bong Hak hendak memukul presdir Kim tapi tidak jadi karena dokter klinik datang dengan menunjukan ponselnya yang masih tersambung dengan telepon pria Kyoto. Dari ponsel itu mereka bisa mendengar suara dan melihat dengan jelas wajah Eun Bi yang hampir menangis.

"Ayahku... juga sudah meninggal. Tapi aku tidak percaya. Aku merasa ayahku masih hiduo di suatu tempat". 

Bong Hak terpukul, "Eun Bi. Eun Bi-ah". 

Pria Kyoto memberi perintah agar telponnya di berikan pada presdir Kim. Waktunya hanya tersisa 10 detik. Woo Jin bertanya kenapa dengan Eun Bi. Dokter klinik menjawab jika ia tidak menuruti permintaan pria Kyoto, Eun Bi akan di bunuh. 

Presdir Kim tertawa terkekeh, "Kalian pikir Kim Hak Soo akan mati dengan begitu mudahnya?". 


Mau tak mau Bong Hak melepaskan presdir Kim. Presdir Kim yang merasa di atas angin kembali pada sikapnya yang congak. Ia berkata pasti saat ini Eun Bi merasa takut karena akan mati di tangan mafia jepang. Sikap sombongnya itu membuat Woo Jin, Bong Hak dan dokter klinik geram tapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa.

"Kenapa?. Kau merasa bersalah karena situasinya berbalik. Karena itu jaga putrimu baik-baik", ucap presdir Kim pada Bong Hak yang menatapnya penuh kebencian.

Presdir Kim menyuruh Bong Hak untuk memilih sebaiknya cara apa yang di gunakan untuk membunuh Eun Bi. Menebas lehernya atau menusuk jantung gadis itu. Woo Jin sangat marah mendengar ucapan presdir Kim, ia mengambil kayu dan memukulkannya ke punnggung presdir Kim. 

"Lepaskan Eun Bi. Lepaskan dia. Cepat", ucap Woo Jin memukul presdir Kim berkali-kali.

Woo Jin ingin kembali memukul presdir Kim, tapi presdir Kim memperingatkan Woo Jin untuk berhati-hati. Kalau ia mati maka Eun Bi juga akan mati. 

Dokter klinik meminta maaf, semua ini karena kesalahannya. Ia rela menggantikan Eun Bi, "Biarkan aku saja yang di bunuh. Lepaskan Eun Bi. Bunuh saja aku". 

"Jangan khawatir. Saat tiba wakutnya, semua akan ku bunuh. Jo Bong Hak, jika kau ingin putrimu selamat, dengarkan aku baik-baik. Berikan kaset itu. Kau bisa memilih, saudaramu yang sudah mati atau putrimu yang masih hidup". 

Bong Hak tidak bisa memberikan kaset itu. Ia tidak ingin mengkhianati saudaranya yang telah berkorban. Woo Jin tak percaya Bong Hak lebih memilih kaset itu dari pada Eun Bi.

"Kau ingin mengorbankan putrimu?", tanya presdir Kim.

Dari ponsel dokter klinik yang masih terhubung dengan ponsel pria kyoto, kali ini mereka mendengar ungkapan hati Eun Bi.

"Ayah, maaf. Kau menaruh aku di panti asuhan dan tidak pernah datang mencariku. Jadi aku membencimu. Aku sudah lama menunggu, tapi kenapa ayah belum juga kembali. Jadi aku membencimu. Kalau aku tahu kita tidak akan pernah bertemu lagi, aku tidak akan pernah membencimu. Aku benar-benar minta maaf. Maaf". 

Bong Hak tak kuasa mendengar suara tangisan Eun Bi, ia jatuh terduduk dengan hati tersayat perih. Begitu pula dengan dokter klinik yang merasa bersalah karena telah melibatkan Eun Bi.

Presdir Kim terkekeh melihat kesedihan orang lain. Dokter klinik merasa sangat bersalah karena telah mengacaukan rencana balas dendam mereka. Ia dan Bong Hak sudah menunggu 15 tahun untuk balas dendam, tapi semuanya jadi sia-sia. 

"Aku akan mati. Katakan pada Eun Bi, ayahnya sudah mati", ucap Bong Hak pasrah. 

Dokter klinik benar-benar terkejut dengan keputusan Bong Hak, "Tidak". Bong Hak minta dokter klinik jangan khawatir, jika ia mati dan kaset itu di ambil maka balas dendam ini sudah selesai. Ia menyuruh dokter klinik keluar, "Cepat. Lakukan!".

Dengan berat hati dokter klinik mematuhi perintah Bong Hak dan akan keluar dari ruang eksekusi. Tapi presdir Kim dengan cepat menahan dokter klinik agar tidak keluar dari ruangan ini. Bong Hak rela memberikan kaset peristiwa kebakaran pada presdir Kim dengan syarat presdir Kim membiarkan dokter klinik pergi. 

Presdir Kim membebaskan dokter. Sebelum memberikan kaset itu, Bong Hak minta agar Eun Bi di lepaskan terlebih dahulu. Presdir Kim berkeinginan sebaliknya, "Berikan kasetnya". 


Woo Jin merampas ponsel yang di pegang presdir Kim. Ia tidak percaya pada presdir Kim dan akan memeriksanya sendiri. Presdir Kim mengancam. Woo Jin tak gentar, "Jika kau berani menyentuh sehelai rambutnya.. Kau akan mati di tanganku". 



Ponsel penyidik Go berdering. Layar ponsel tidak menampilkan nomor ponsel si penelpon. Penyidik Go kaget saat mendengar suara Woo Jin di seberang sana. Penyidik Go berkata dimana Woo Jin sekarang ini. Woo Jin menjawab tak ada waktu untuk menjelaskan, ia memberitahu kalau sekarang ini Eun Bi berada dalam bahaya dan minta penyidik Go untuk mencatat alamatnya. 

Kabag Han merebut ponsel dari tangan penyidik Go dan ingin bicara dengan Woo Jin. Tapi telepon sudah terputus. 

Eun Bi menunggu pria Kyoto yang belum juga kembali dari bersembunyi. Tak lama kemudian datang penyidik Go dan kabag Han dengan wajah cemas. Kabag Han mengajak Eun Bi pergi, tapi Eun Bi yang keras kepala ini terus memberontak. Tetap saja penyidik Go dan Eun Bi menarik Eun Bi agar masuk ke dalam mobil dan akan menjelaskannya nanti di rumah. 

Dari tempat persembunyiannya, pria Kyoto mengarahkan ponsel kameranya kearah Eun Bi yang sedang di tuntun penyidik Go dan kabag Han masuk ke dalam mobil. Sebagai bukti untuk  Woo Jin kalau Eun Bi aman. 

Kemudian pria Kyoto menghubungi sipir Ha Dong Hoo. Entah apa yang pria Kyoto katakan, tapi yang jelas mereka bekerjasama untuk membebaskan presdir Kim. 

Woo Jin dan Bong Hak sibuk melihat video yang memperlihatkan Eun Bi di bawa penyidik Go dan Kabag Han. Mereka sangat lega karena Eun Bi kini bersama orang yang baik. Disaat perhatian Woo Jin dan Bong Hak lengah, presdir Kim memukul keras punggung mereka dengan kayu yang membuat keduanya pingsan. 
Yang terjadi kemudian presdir Kim mengikat tangan Bong Hak dan Woo Jin. Ia juga merusak pita video kebakaran rumah kebahagiaan. Baginya kaset itu tidak lagi berguna, lebih baik di musnahkan. 

Presdir Kim bertanya pada Woo Jin, bukankah apa yang di lakukan Bong Hak ini salah. Demi mendapatkan kaset video ini Bong Hak melakukan hal semacam ini. Presdir Kim melilitkan pita kaset ke leher Bong Hak. 

"Hentikan", bentak Woo Jin. 


Bong Hak terlihat benar-benar tidak berdaya (padahal hanya tangannya yang di ikat). Presdir Kim mengejek kalung yang dipakai Bong Hak. Bagi Bong Hak kalung itu seperti saudaranya. Presdir Kim bertanya bagaimana rasanya mati di hadapan mereka dan  menarik kalung itu hingga putus. 

Woo Jin menendang kaki presdir Kim, "Kubilang hentikan". 

Presdir Kim balik menendang dan menginjak-injak wajah dan pinggang Woo Jin, "Dasar brengsek!. Dasar Tolol!". 

Woo Jin kembali pingsan untuk yang kedua kalinya. Presdir Kim berkata permainan Bong Hak telah berakhir dan siap mengirim Bong Hak ke neraka. Bong Hak menurut saja saat presdir Kim mendudukannya di kursi eksekusi. Mengalungkan tali ke leher Bong Hak. Presdir Kim mengatakan di tempat ininlah nasib Bong Hak berakhir. 

Presdir Kim merasa tidak adil putranya sudah meninggal sementara putri Bong Hak masih hidup. Ia menelpon pria Kyoto, memberi perintah untuk mengejar dan membunuh Eun Bi, juga bunuh orang-orang yang bersama Eun Bi. 

"Tidak...Tidak...", teriak Bong Hak.


Presdir Kim yang jahat ini menekan tombol tali yang membuat badan Bong Hak terangkat ke atas. Leher Bong Hak terjerat tali tambang sementara kakinya terayun-ayun di udara mencari tempat pijakan. Presdir tertawa puas melihat Bong Hak yang kesakitan, ia juga merusak tombol itu agar tidak bisa di gunakan lagi. 

Presdir Kim kemudian mendakati Woo Jin yang pingsan, haruskan ia bunuh atau dibiarkan hidup. Presdir Kim mengayunkan tongkat kayunya siap memukul Woo Jin, tidak jadi karena ia mendengar seseorang datang.

Muncullah sipir Ha Dong Hoo yang berkata baru saja menerima telpon untuk membantu presdir Kim. Dong Hoo terbelalak kaget melihat Bong Hak yang terayun-ayun di tali gantungan. Presdir Kim menyuruh Dong Hoo untuk melepas tali yang mengikat Woo Jin. Saat Woo Jin sadar nanti, maka dia lah yang menjadi tersangka pembunuh Bong Hak. 

Dokter kilinik yang berhasil menyelamatkan diri, kembali ke ruangannya. Dokter klinik menangis tertahan tidak sanggup melihat rekaman CCTV yang menampilkan keadaan Bong Hak saat ini. Cepat-cepat, ia merekam dan menyimpan data video itu lalu pergi dari penjara. 

Eun Bi tidak percaya dengan ucapan kabag Han. Mana mungkin paman yang di temuinya barusan orang jahat, "Dia paman yang malang. Dia juga baik padaku". 

"Jika kata-katamu benar, kenapa dia kabur saat melihat kami?", tanya kabag Han. 

"Dia tidak kabur. Tiba-tiba ada hal mendesak", bela Eun Bi. 

Penyidik Go mengajak mereka masuk ke dalam dan lebih baik membicarakan hal ini di dalam rumah. Penyidik Go turun dari mobil terlebih dahulu, dari kaca spion penyidik Go melihat pria Kyoto sudah berdiri di belakang mereka. Tanpa peringatan, pria Kyoto mengarahkan pisaunya ke perut penyidik Go. Kejadian ini disaksikan dengan jelas oleh Eun Bi dan juga kabag Han. 

"Cepat lari. Cepat lari", teriak penyidik Go menahan pisau itu dengan kedua tangannya. Pria Kyoto semakin mendorong pisaunya agar benar-benar menusuk perut pernyidik Go. Tangan satunya lagi ia gunakan untuk mencekik leher penyidik Go. 

Kabag Han menarik Eun Bi agar cepat turun dari mobil. Diantara rasa paniknya, kabag Han menemukan Stun Gun (alat kejut listik) dari dalam tasnya. Ia menyuruh Eun Bi untuk masuk ke dalam rumah, jangan biarkan siapapun masuk, "Cepat Eun Bi, masuk ke dalam". 
 
Eun Bi berlari masuk ke dalam rumah. Kabag Han mendekati pria Kyoto dan menyetrum tengkuk pria itu dengan Stun Gun. Sengatan bervoltase tinggi itu berhasil menjauhkan pria Kyoto dari penyidik Go. Pria Kyoto sempat roboh lalu lari melarikan diri. 

Penyidik Go melarang Kabag Han yang hendak mengejar pria Kyoto. Karena pria itu bukanlah seseorang yang bisa mereka atasi. 

Saat sadar Woo Jin benar-benar di buat kaget melihat Bong Hak yang terayun-ayun di tiang gantungan. Woo Jin mencoba membantu Bong Hak dengan memberikan kursi untuk pijakan kaki Bong Hak. Woo Jin ingin menurunkan Bong Hak, tapi tombol talinya tidak berfungsi karena dirusak presdir Kim. 

"Eun Bi.. Eun Bi akan di bunuh", ucap Bong Hak batuk-batuk, "Kumohon padamu tolong jaga Eun Bi". 

Woo Jin menahan kaki Bong Hak agar Bong Hak tidak tergantung, "Kau tidak boleh mati. Eun Bi sedang menunggumu". 

"Lupakan saja.. Lagi pula aku akan mati", ujar Bong Hak

"Diamlah. Aku akan menyelamatkanmu". 

"Aku harus mati agar Eun Bi bisa hidup. Cha Woo Jin, kau juga karena aku Seung Hee... ".

Flashback 15 tahun lalu ketika Woo Jin dan Seung Hee piknik di tengah hutan. Seung Hee dan Woo Jin remaja melihat seorang pria dengan membawa anak lari dari orang-orang yang mengejarnya. Pria itu adalah Bong Hak yang membawa Eun Bi kecil.

Woo Jin dan Seung Hee terlihat takut saat melihat sekelompok baju hitam lewat di depan mereka. Lalu salah satu dari mereka, berhenti di depan Seung Hee dan menatap Seung Hee dengan tatapan liar. 

Pria itu membawa paksa Seung Hee. Woo Jin di hajar habis-habis'an karena ingin menyelamatkan gadisnya. Dari semak belukar tempatnya bersembunyi, Bong Hak melihat Woo Jin yang di pukuli. Demi keselamatan dirinya dan juga Eun Bi kecil, Bong Hak hanya bisa melihat kejadian itu tanpa bisa berbuat apa-apa. Flashback end. 

Woo Jin menangis, "Jadi.. saat itu mereka..."

"Mengejarku", sambung Bong Hak, "Mereka adalah anak buah presdir Kim".

Tangis Woo Jin semakin terdengar nyaring, tapi ia tetap menahan badan Bong Hak. Sekarang Bong Hak minta agar Woo Jin melepaskannya. Woo Jin tidak mau dan tidak bisa. Bong Hak meminta maaf pada Woo Jin dan juga pada Seung Hee. 

Woo Jin mencoba bertahan menahan badan Bong Hak semampunya. Tapi luka tusuk di kakinya belum sembuh yang membuat pertahannya melemah. Woo Jin terjatuh dan pegangannya pada Bong Hak terlepas. Bong Hak kembali terayun-ayun di udara. 

Dengan menahan rasa sakitnya, Woo Jin mencoba untuk berdiri lagi. Tapi tepat saat itu ia melihat Bong Hak merengang nyawa dan meninggal. Woo Jin menangis. 


Eun Bi menangis ketakutan, meringkuk duduk di pojok ruangan. Pandangannya tak lepas dari pintu yang ia kunci rapat-rapat, "Ayah, aku takut. Aku sangat ketakutan, ayah". 

Mobil sedan mewah berwarna putih keluar dari halaman penjara. Mobil itu membawa presdir Kim pergi jauh dari rutan Seobu. Sipir Dong Hoo yang mengedarai mobil. Presdir Kim yang duduk di belakang tertawa penuh kemenangan. 

Kepala penjara menumpahkan kemarahannya pada Woo Jin. Karena Woo Jin, ia dan direktur Kim (atasan Woo Jin, kepala jaksa) di berhentikan dari pekerjaan mereka. (Direktur Kim dan kepala penjara adalah orang-orang presdir Kim. Dengan pengaruhnya, presdir Kim sanggup membuat kedua orang itu di pecat).

Kepala penjara sangat marah dan memaksa Woo Jin untuk menceritakan bagaimana cara Woo Jin sampai bisa masuk ke rutan ini, "Ceritakan dari awal. Cepat katakan". 

Woo Jin diam saja. Sipir jutek dengan senang hati memberikan pukulan agar Woo Jin mau membuka mulut. Tanpa di komando, Ia begitu semangat memukuli Woo Jin, jika tidak di hentikan mungkin dia tidak akan berhenti. 

Sipir jutek itu menginjak kepala Woo Jin. Ia yakin sekali pasti Woo Jin berkomplot dengan dokter klinik karena dokter klinik pernah melindungi Woo Jin, "Aku yakin pasti mereka memiliki hubungan khusus". 

Sipir lain berkata dokter klinik pergi tanpa ada kejelasan. Komputer di klinik juga di format sehingga tidak bisa di akses. Selain itu semua data juga hilang. Kepala penjara semakin marah. Sipir jutek menginjak kepala Woo Jin dengan lebih keras, "Ada apa ini?. Sebenarnya siapa kalian semua?". 

Kepala penjara menyuruh sipir lainnya untuk membawa jenazah Bong Hak keluar dari ruang eksekusi. Woo Jin ingat pesan terakhir Bong Hak untuk menjaga Eun Bi. Woo Jin mengepalkan tangannya, tidak akan diam saja membiarkan presdir Kim bebas berkeliaran diluar sana.  

Kabag Han membalut tangan penyidik Go yang terluka. Pasti rasanya sakit, apa tidak perlu ke rumah sakit. Penyidik Go merasa tidak perlu, ia bertanya mulai kapan kabag Han membawa Stun Gun. Kabag Han mulai membawa Stun Gun setelah diserang orang yang mengambil ponsel Yoon Chang Seon. 

Kabag Han baru ingat Eun Bi, ia memanggil Eun Bi agar keluar dari persembunyian. Sekarang sudah aman. Dengan takut-takut Eun Bi menampakan diri di depan Kabag Han dan juga penyidik Go. 

Eun Bi bertanya keadaan penyidik Go. Penyidik Go menyakinkan dirinya baik-baik saja, "Tidak akan aku biarkan orang menyentuh sehelai rambutmu". 

Kabag Han membuka ke dua tangannya, "Kemari... kemari". Eun Bi menghambur ke pelukan Kabag Han dan menangis sesengukan, "Maaf. Aku benar-benar tidak. Aku pikir dia orang yang baik. Maaf". 

Dengan sifar keibuannya, kabag Han menenangkan Eun Bi, "Jangan menangis. Ini bukan salahmu. Tidak apa-apa". 

Keesokan harinya beberapa polisi tampak berjaga di depan rumah Woo Jin. Di dalam rumah, Kabag Han dan penyidik Go tengah menonton berita yang menayangkan tentang pembunuhan yang terjadi di Rutan Seobu. Eun Bi tidak ikut menyaksikan berita itu karena sedang tertidur. 

= Pukul 11 tadi malam, terjadi pembunuhan diantara sesama Rutan Seobu. Terpidana Jeong telah mencekik mati tahanan Kang. Petugas saat ini telah menangkapnya. Agar kasus lebih jelas, pihak rutan telah menyerahkan kasus ini ke kantor kejaksaan Seoul =

Diluar rumah penyidik Go dan kabag Han membahas berita yang baru saja mereka dengar. Penyidik Go mengatakan tahanan Kang Yoon Seong, di rutan Seobu yang bermarga Kang hanya Kang Yoon Seong seorang.

Kabag Han bingung di mana Woo Jin sekarang, kenapa dia bisa tahu kalau Eun Bi berada dalam bahaya. Nomor ponsel yang di gunakan Woo Jin semalam tidak muncul sehingga ia tidak bisa melacak posisinya. Benar-benar membuatnya frustasi. 

Penyidik Go ingin pergi ke kantor kejaksaaan, mungkin disana ia bisa menemukan sesuatu. Kabag Han ingin ikut. Penyidik Go menggeleng, Eun Bi tidak boleh di tinggalkan sendirian. Kabag Han baru sadar. Benar. Ada Eun Bi yang harus di lindungi. Kabag Han merasa di sini juga berbahaya, setelah Eun Bi bangun ia akan membawa Eun Bi ke tempat yang lebih aman.  

Penyidik Go setuju, setelah mendapatkan informasi ia akan segera menghubungi Kabag Han. 


Sinopsis Reset Episode 9 Part 2

3 comments:

  1. Tinggal 1 episode lagi.....,dan ceritanya makin seru.....
    tetap semangat tuk ngelanjutin critanya,yaaaa

    ReplyDelete
  2. Mbak Nuri, salam kenal. Aku minta izin share link untuk episode ini di blog http://kdramastory.com ya..trims. link postingannya : http://kdramastory.com/sinopsis-reset-episode-1-10/

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salam kenal juga Dian. Silahkan di share linknya, kalau hanya untuk berbagi link pasti saya izinkan. Beda halnya dengan copas seluruh isi sinopsis, untuk yang satu itu sangat di larang keras.

      Delete

Thanks sudah mampir di blog saya, jangan lupa tinggalkan komentar ya...Trims....:)