Pages - Menu

Showing posts with label Kisah Sejuta Hikmah. Show all posts
Showing posts with label Kisah Sejuta Hikmah. Show all posts

Sunday, January 08, 2012

Pemuda Yang Insyaf



Abu Umamah Al-Bahili meriwayatkan : 
Sesungguhnya seorang pemuda datang kepada Rasulullah Saw. 
"Wahai Rasulullah, izinkan aku berzina", kata pemuda itu. 
Maka para sahabat maju untuk menghalanginya. 
"Menyingkirlah kamu wahai anak pemuda", kata para sahabat.
"Dekatkan ia kepadaku", kata Rasulullah kepada para sahabat. 
Maka pemuda itu pun datang dan duduk dekat dengan Nabi Saw.

"Adakah kamu suka orang lain berzina dengan ibumu", tanya Rasulullah.
"Tidak. Demi Allah, semoga Allah menjadikan aku sebagai tebusanmu" jawab pemuda itu.
"Tiada manusia yang menyukai hal itu terjadi pada ibu mereka" jawab Nabi

"Adakah kamu mau hal itu terjadi kepada anak-anak perempuanmu?" tanya nabi lagi
Tidak. Demi Allah, wahai Rasulullah, semoga Allah menjadikan aku sebagai tebusanmu", jawab pemuda itu lagi
"Tidak ada manusia yang ingin itu terjadi kepada anak perempuan mereka", tambah nabi lagi

"Apakah kamu ingin hal itu terjadi kepada saudara perempuanmu?", tanya nabi lagi
"Tidak. Demi Alla, wahai Rasulullah, semoga Allah menjadikan aku sebagai tebusanmu", jawab pemuda itu lagi.
"Tidak ada manusia yang menyukai hal itu terjadi kepada saudara mereka", jawab nabi lagi.

"Apakah kamu mau hal itu terjadi kepada adik-adik perempuan dari ibumu?", tanya nabi lagi.
"Tidak. Demi Allah, wahai Rasulullah, semoga Allah menjadikan aku sebagai tebusanmu", jawab pemuda itu lagi mantap. 
"Tiada manusia yang menginginkan hal itu terjadi kepada adik-adik perempuan dari ibu mereka", tandas nabi.

"Apakah kamu ingin hal itu terjadi kepada kakak-kakak perempuan dari ibumu?", tanya nabi lagi
"Tidak. Demi Allah, wahai Rasulullah, semoga Allah menjadikan aku sebagai tebusanmu", jawab pemuda itu tegas.
"Tidak ada manusia yang menyukai hal itu terjadi kepada kakak-kakak perempuan dari ibu mereka", tandas nabi lagi.

Kemudian Rasulullah  SAW meletakkan tangannya keatas pemuda itu. "Ya Allah, ampunkanlah dosanya, bersihkanlah hatinya, dan peliharalah kehormatannya", doa nabi terhadap pemuda itu. 

Selepas itu pemuda tersebut pulang, dan tak lagi berpaling kepada perbuatan haram dan dosa.

Sunday, July 24, 2011

Seteguk Air Di Ujung Maut



Perang Yarmuk yang terjadi pada tahun 13 Hijriah, yakni pada masa pemerintahan Khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq. Perang Yarmuk adalah perang antara Muslim Arab yang dipimpin oleh Khalid Bin Walid dengan kekasaisaran Romawi Timur yang dipimpin oleh Tazariq. Pertempuran itu oleh beberapa sejarawan, dipertimbangkan sebagai salah satu pertempurtan penting dalam sejarah dunia, karena perang ini menandakan gelombang besar pertama penaklukan Muslim di luar Arab, dan cepat masuknya Islam ke Palestina, Suriah, dan Mesopotamia yang rakyatnya manganut agama Nasrani.

Pada peperangan itu Khalid bin Walid membawa 30.000 hingga 40.000 pasukan. Jumlah tersebut merupakan jumlah muslim pasukan terbesar yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah Arab. Said bin Umar meriwayatkan dengan sanadnya dari para gurunya, bahwa dalam tentara kaum muslimin terdapat 1000 orang sahabat nabi, 100 dari mereka adalah pasukan yang ikut dalam perang Badar.
Sedangkan di pihak Romawi, jumlahnya jauh lebih besar dari pada pasukan Muslim. Pada peperangan ini tentara Romawi keluar dalam jumlah yang tak pernah terjadi sebelumnya, yakni 240.000 personil pasukan. Terdiri dari 80.000 pasukan diikat dengan rantai besi, 80.000 pasukan berkuda dan 80.000 pasukan infantry. Mereka juga membawa pendeta, uskup maupun pihak geraja untuk memberikan motovasinya kepada pasukan agar pasukan Romawi menang.

Ahkirnya dengan pertolongan Allah Swt, perang yang dahsyat ini dimenangkan oleh pasukan Muslim. Tazariq, saudara Heraklius yang menjadi panglima tertinggi dalam pasukan Romawi tewas terbunuh dalam peperangan ini.

Kaisar Romawi, Heraklius, ketika berada di Anthakiyah bertanya kepada para pasukannya apa yang menyebabkan mereka kalah dalam peperangan, padahal jumlah pasukan mereka jauh lebih besar berlipat-lipat dibandingkan dengan pasukan Muslim. Maka salah seorang yang dituakan dari pasukan itu menjawab “Kami kalah disebabkan mereka shalat di malam hari, berpuasa di siang hari, mereka menepati janji, mengajak kepada perbuatan Ma’ruf, mencegah dari perbuatan mungkar dan saling jujur terhadap sesame mereka. Sementara kita gemar minum khamar, berzina, mengerjakan segala yang haram, menyalahi janji, menjarah harta, berbuat kezhaliman, menyuruh kepada kemungkaran, melarang dari apa yang diridhai oleh Allah dan kita selalu berbuat kerusakan dibumi”. Mendengar itu Heraklius berkata “ Apa yang telah kau katakan itu benar”.

Salah satu Syuhada yang ikut dalam Perang Yarmuk, Ikrimah ibn Abu Jahal mendapat banyak luka, begitu juga dengan Haris dan Suhail serta beberapa sahabatnya mengalami hal serupa dengannya. Ikrimah mendapatkan perawatan dan disuguhi air minum. Dalam kondisi kritis seperti itu Ikrimah masih sempat menyedekahkan haknya yaitu air minum untuk diberikan kepada sahabatnya.

Sebenarnya Ikrimah berniat untuk meminum air itu, akan tetapi pada waktu ia akan meminumnya, ia melihat kearah Suhail dan Suhail pun melihat kearahnya pula, maka Ikrimah berkata “Berikan saja air minum ini kepadanya, baragkali ia lebih membutuhkanya dibandingkan aku”.  Suhail pula melihat kearh Haris, begitu pula Haris melihat kearahnya. Lalu Suhail berkata “Berikanlah air ini kepada siapa saja, barangkali sahabat-sahabatku lebih membutuhkannya dibandingkan dengan aku”. 

Begitu pula keadaan mereka, sehingga air tersebut tak ada seorang pun yang meminumnya, sehingga mereka semua mati syahid semunya. Semoga Allah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya kepada mereka semua.

Subahanallah, begitulah gambaran sifat sahabat Nabi pada masa itu. Ketika nyawa sudah dikerongkongan dan airlah yang dapat meringkan beban mereka, namun mereka masih sempat memikirkan orang lain dan memberikan kepada yang membutuhkan. Bagaimana dengan kita?

Semoga dengan adanya kisah ini dapat membuat kita menjadi orang yang tidak egois dan memiliki sifat yang dermawan serta bersedia membantu orang yang membutuhkan. Amin.


Friday, July 08, 2011

Lebaran Penuh Cinta Ala Rasulullah



Fajar 1 Syawal telah menyingsing. Bulan Ramadhan yang mulia telah berlalu. Senyum kemenangan menghiasi wajah mereka yang bersungguh-sungguh memuliakan bulan suci dan mencari keberkahan di dalamnya. Berpasang kaki menuju tanah lapang, takbir dan tahmid disuarakan sahud menyahu, disana sini tampak basah oleh keharuan. Ceria anak bersama orang tuanya saling bergandeng tangan. Sepasang kaki perkasa berhenti dari langkahnya, saat mendengar tangis sesunggukan seorang gadis kecil di tepi jalan.

Sepasang mata basah menerawang ke kejauhan mencari dan menanti sosok ayah yang dirindukannya dan dapat membuatnya bahagia di hari fitri itu. 
"Mengapa menangis anakku?", tanya si pemilik sepasang kaki kokoh itu, lembut menyapa si gadis kecil. 
"Ayahku mati syahid dalam sebuah perang yang dipimpin oleh Rasulullah Saw", tutur gadis itu lirih.

Lelaki perkasa yang menyapa gadis kecil itu berlutut lalu mendekap si gadis kecil. 
"Maukah engkau seandainya, 'Aisyah menjadi ibumu, Muhammad menjadi ayahmu, Fatimah bibimu, Ali sebagai pamanmu, dan Hasan serta Husain sebagai saudaram?", tanya lelaki itu dengan lembut.

Sadarlah gadis kecil itu bahwa lelaki pemilik suara lembut, kaki perkasa serta tangan yang hangat memeluknya adalah milik Rasulullah Muhammad Saw. Seorang anak yatim yang selalu memuliakan anak-anak yatim dan kaum dhuafa lainya. 
Siapakah yang tak ingin berayahkan lelaki yang paling mulia dan beribukan seorang perempuan yang cerdas dan penuh kasih sayang yang disapa dengan "Ibunya orang=orang beriman?". Si gadis kecil menghapus air matanya lalu bangkit mengikuti langkah "Ayahnya" itu pulang kerumah untuk menerima sepasang pakaian baru demi merayakan Hari Raya Idul Fitri. Senyumnya mengembang manis ke arah lelaki berakhlak agung, Rasulullah Saw.


Kesederhanaan memang dianjurkan kepada umat islam, namun menyemarakkan lebaran juga merupakan sesuatu yang terpuji. Bukankah Rasul juga menghadiakan sepasang baju baru kepada gadis kecil dalam sejarah di atas. Namun jangan lupa pesan utama dari kisah diatas bukan semata baju barunya, melainkan kepedulian, perhatian, kelembutan dan kasih sayang Rasulullah kepada para anak yatim dan kaum dhuafa lainya yang mesti kita contoh dan terapkan dalam kehidupan ini. Jangan kita terlalu terlena dan berlebih-lebihan  dalam menyambut hari lebaran dan melupakan orang di sekeliling kita yang lebih membutuhkan.


Kisah Cinta Rasulullah dan Aisyah



Sudah selarut ini kok belum pulang? ucap Aisyah dalam hati. Tidak seperti biasanya Rasulullah Saw belum pulang dari berdakwah dan mengajarkan islam di rumah sahabatnya. Kekwhawatiran Aisyah ini sangat beralasan karena semakin meningkatnya ancaman dan upaya musuh-musuh islam untuk membunuh Rasulullah Saw. 

"Ah, mungkin suamiku sibuk malayani para sahabatnya, dan jika terjadi sesuatu terhadapa Rasulullah tidak mungkin para sahabatnya tidak melindunginya. Apalagi disana pasti ada Umar Bin Khattab yang kuat dan selalu sigap", pikir Aisyah menenangkan dirinya sendiri. 

Sesekali Aisyah menguap menahan kantuk, maklum siang hari ia berkerja cukup berat mengaduk tepung untuk dibuat roti sebagai persediaan makanan untuk beberapa hari. "Ya sudahlah, biar aku tunggu sambil duduk merebahkan diri di pintu. Agar jika suamiku datang mengetuk pintu aku dapat mendengar walau aku sudah tertidur". Pikir Aisyah sambil beranjak dari kursi kayu dan duduk di atas lantai tanah rumahnya sambil merebahkan dirinya bersandar pada pintu. Tapi rasa kantuk yang luar biasa tidak dapat ditahanya, hingga hanya beberapa saat ia telah tertidur. 
Sementara itu, Rasulullah berjalan dengan cepat agar bisa segera sampai kerumah. "Kasian istriku, ia pasti cemas menunggu aku. Aku tadi terlalu sibuk menjawab pertanyaan dari para sahabat sehingga aku lupa dengan waktu", desah Rasulullah dalamm hati. Sesampai didepan pintu rumah, Rasulullah mengetuk pintu sambil mengucapkan salam, walaupun Rasulullah telah berulang kali mengetuk pintu tetapi Aisyah tak kunjung membukakan pintu rumah.

Rasulullah berpikir bahwa Aisyah telah tertidur pulas sehingga tak mendengar ketukan dan salamnya. " Kasian Aisyah, mungkin ia telah kecapaian bekerja dan menuggu aku, biarlah aku tetap menunggu ku". Rasulullah membiarkan Aisyah yang tertidur dan tak berusaha untuk membangunkan istrinya. "Biar aku berbaring disini saja, agar jika ia bangun besok pagi untuk ambil air wudhu aku dapat mendengarnya", guman Rasulullah. 

Kemudian beliau duduk diatas tanah dan merebahkan dirinya bersandar pada pintu luar rumahnya. Sesaat kemudian beliau tertidur pulas.

Menjelang subuh Aisyah terbangun, "Oh, suamiku belum pulang juga. Apa beliau tidur dirumah sahabat, padahal sebelumnya ia tak pernah melakukan itu?,  sudahlah aku ambil air wudhu untuk shalat tahajjud saja" pikir Aisyah sanbil bangun dari duduknya. 

Kemudian ia membuka pintu dan ia berseru, "Astagfirullah". Rasulullah Saw jadi terbangun seketika ketika karena pintu yang beliau sandari terbuka dan badan beliau jatuh kedalam. Rasulullah juga kaget "Subhanallah" seru beliau. Aisyah spontan memeluk tubuh suaminya yang masih terjerembah di lantai tanah. 
"Astagfirullah, maafkan aku suamiku", ucap Aisyah berulang-ulang
"Tidak aku yang salah, maafkan aku wahai istriku", balas Rasulullah sambil berusaha bangkit dari tanah.
"Maafkan aku yang tak sabar menunggumu tadi malam sehingga aku tertidur dan tidak mendengar ketukanmu", ucap Aisyah sambil meneteskan air mata. 

Perlahan Rasulullah memegang bahu Aisyah dan merenggangkan pelukan istriny, dan kemudian dengan lembut dipegangnya pipi istrinya sambil mengucap air mata Aisyah beliau berkata 
"Tidak, aku yang salah. Maafkan aku telah membuatmu kelamaan menungguku karena aku lupa waktu dan terlalu sibuk menjawab pertanyaan dari para sahabat". 
"Aku yang salah, maafkan aku", ucap Aisyah sambil menatap lembut wajah Rasulullah.
"Aku yang salah,, maafkan aku", jawab Rasulullah kembali
"Aku yang salah, maafkan aku", ucap Aisyah kembali sambil merebahkan kepalanya di bahu suaminya. 
"Aku yang salah, maafkan aku istriku", ucap Rasulullah kembali membalas ucapan istrinya.
"Ayo kita ambil air wudhu dan melakukan shalat tahajjud, ajak Rasulullah.
Kemudian dua insan yang luar biasa ini berjalan menuju sumur. 


Subahanallah, dua insan yang dimulaikan oleh Allah Swt ini memiliki cinta yang sangat suci. Aisyah tertidur di balik pintu dalam kerena merasa lelah dan tak kuasa menahan rasa kantuknya ketika menuggu kepulangan Rasulullah. Sedangkan Rasulullah yang mengira bahwa istrinya sedang tertidur pulas karena telah lelah menunggunya memilih untuk membiarkan istrinya tetap tidur dan tak berusaha untuk membangunkan Aisyah. Karena rasa lelah dan kantuk Rasulullah tertidur dan bersandar pada pintu bagian luar. 

Dihati mereka berdua tidak ada prasangka terhadap pasangan mereka, dihati mereka berdua dipenuhi cinta dan kasih terhadap pasangannya, dan mereka berdua telah berkomitmen untuk mengabadikan hidup mereka untuk perjuangan agama, maka mereka ikhlas melakukan ini. Baik Rasulullah maupun Aisyah telah memberikan contoh bahwa tak ada kata gengsi untuk memulai berkata maaf dengan suami atau istri, bahkan berulang kali saling berebut mengucapkan kata maaf.

Sungguh sebuah gambaran keluarga yang Sakinah, Mawaddah dan Warohmah. Semoga salam dan rahmat senantiasa tercurah kepada junjungan Nabi Muhammad beserta keluarga, sahabat dan para pengikutnya hingga ahkir zaman. Amin.

Sunday, June 12, 2011

Tasbih Nabi Yunus As




Alkisah pada zaman Nabi Yunus, beliau diperintahkan oleh Allah SWT untuk berdakwah pada kaum ninawa. Negeri Ninawa tersebut adalah negeri yang paling kaya dan besar pada masa itu. Namun sayang, kelapangan rezeki dan kekayaan negeri yang luar biasa itu justru membuat penduduk disana menjadi sesat dan tidak beriman kepada Allah SWT. Mereka melakukan perbuatan yang dilarang Allah SWT. Mereka melakukuna perbuatan seperti bermaksiat, menyembah berhala, dan mengingkari Nabi Yunus sebagai nabi yang diutus oleh Allah SWT. 

Selama bertahun-tahun Nabi Yunus mencoba untuk mengajak umatnya kembali ke jalan yang benar dan beriman kepada Allah SWT. Tak ada seorang pun yang mendengarkan seruan nabi Yunus, bahkan mereka tidak menggubris peringatan yang diberikan oleh nabi Yunus bahwa azab akan menimpa negeri mereka.

Karena tak ada kaumnya yang mau beriman kepada ALlah SWT, Nabi Yunus akhirnya merasa putus asa dan akhirnya meninggalkan kaumnya di saat ancaman dan azab sudah mulai tampak di langit. Tak Mau dirinya mendapatkan siksa dan azab Allah akibat perbuatan kaumnya yang tak beriman itu, Nabi Yunus pun segera meninggalkan kaumnya dalam keadaan marah. 

Sepeninggal Nabi Yunus, penduduk Ninawa sedang menyaksikan tanda-tanda siksa akan segera turun sebagaimana yang disampaikan oleh Nabi Yunus a.s, yakni langit tampak menghitam, awan mendung, dan hujan lebat tampaknya akan segera turun. Mereka pun kemudian menyatakan beriman kepada Allah SWT dan membenarkan apa yang disampaikan Nabi Yunus. 

Namun, keimanan dan kesaksian kaum Ninawa tak disaksikan oleh Nabi Yunus a.s yang sudah terlanjur pergi. Sebaliknya Nabi Yunus a.s yang meninggalkan umatnya justru mendapatkan kesulitan. Sesaat setelah tiba di tepi pantai, nabi Yunus menumpang sebuah kapal. Dalam pelayarannya, tiba-tiba laut bergelombang hebat, bahkan angin bertiup kencang. 

Karena khawatir akan keselamatan seluruh penumpang, nahkoda pun melakukan pengundian agar salah seorang penumpang keluar dari kapal.
Saat pengundian dilangsungkan, nama yang muncul adalah Nabi Yunus a.s.Ketika sampai tiga kali dilakukan dan nama yang muncul adalah nama Nabi Yunus terus, akhirnya Nabi Yunus pun harus keluar dari kapal yang ketika itu berada di tengah-tengah lautan.Menyadari semua itu sudah takdir Allah SWT, maka Nabi Yunus pun merelakan dirinya terapung-apung di laut lepas. Atas kehendak Allah, Nabi Yunus pun dimakan seekor ikan paus. 

Dalam perut ikan paus tersebut, Nabi Yunus menyadari akan kesalahannya karena meninggalkan umatnya. Selama berada dalam perut ikan paus, Ia pun dengan sabar senantiasa berdoa dan memohon ampun kepada Allah atas segala kesalahannya dengan mengucapkan,
 
"Laa ilaha illa Anta, Subhanaka ini kuntu minadh dhaalimin."
Artinya:
"Tidak ada Tuhan selain Engkau.Maha Suci Engkau.Sesungguhnya saya termasuk orang-orang yang dholim."

Demikian doa Nabi Yunus dalam perut ikan paus sebagaimana yang menjadi asbabun nuzul surat Al-Anbiyaa' ayat 87.  Allah SWT mendengar doa Nabi yunus dan mengampuninya.
 
"Kalau ia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah, niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit (kiamat)."
(QS. Al-Shaafaat: 143-144).

Nabi Yunus pun akhirnya dapat keluar dari perut ikan paus setelah ia dimuntahkan ke daratan. Setelah beberapa saat, akhirnya ia kembali ke Ninawa dan mendapat kaum yang beriman. Ia pun disambut umatnya yang berjumlah mencapai 100 ribu orang, dan umatnya mendapatkan kenikmatan yang luar biasa di waktu yang telah ditentukan.
 
 

Saturday, May 14, 2011

Nenek Pemungut Daun



Dahulu di sebuah kota, ada seorang nenek tua penjual bunga cempaka. Dia menjual bunganya di pasar. Jarak antara pasar dan rumahnya cukup jauh dan jarak itu ditempuhya hanya dengan berjalan kaki. Setiap harinya usai berjualan nenek itu pergi ke sebuah masjid besar yang ada di kota itu. Nenek itu berwudhu dan melaksanakan shalat Dzuhur. Menjadi kebiasaanya setelah shalat dan berdzikir, ia pun keluar masjid dan berjalan membungkuk-bungkuk dihalaman masjid. Rupanya Ia mengumpulkan daun yang berserakan di halaman masjid. Selembar demi selembar diambilnya. Tidak ada satu lembar daun pun yang ia lewatkan.

Tentu saja agak lama ia membersihkan halaman dengan cara itu. Padahal matahari di siang hari itu sangat terik bersinar dan keringat terlihat membasahi tubuhnya. Banyak pengunjung yang merasa simpatik dan iba kepadanya. Hingga suatu hari pengurus masjid memutuskan untuk membersihkan daun2 yang berserakan di sekitar halaman masjid sebelum nenek itu datang. 

Pada hari itu, Nenek itu datang dan langsung masuk ke masjid. Usai shalat ketika ia ingin melakukan pekerjaan rutinya, dia terkejut. Ia heran kenapa tak ada satu daun pun yang berserakan di situ. Dia kembali lagi masuk ke dalam masjid dan menangis dengan keras. Ia menanyakan kenapa daun-daun itu telah dibersihkan sebelum kedatanganya. Pengurus masjid pun menjelaskan bahwa mereka kasihan kepadanya.
Lalu nenek itu berkata " jika kalian merasa kasihan kepadaku, beri aku kesempatan untuk membersihkanya ". Tentu saja orang-orang merasa heran akan perkataanya, tapi tanpa banyak bicara akhirnya mereka mengabulkan permintaan nenek itu. 

Hari-hari selanjutnya nenek itu dibiarkan mengumpulkan dedaunan itu. Seorang Kiai terpandang di kota itu menanyakan kepada nenek itu, kenapa ia rela bersusah payah mengumpulkan dedaunan yang berserakan di sekitar halaman masjid. Nenek itu pun akan menjelaskan alasannya tapi dengan 2 syarat, pertama hanya Pak Kiai saja yang mengetahui rahasianya, dan yang kedua, rahasianya tak boleh disebarkan ketika ia masih hidup.

Kini nenek itu telah meninggal dunia, dan inilah perkataan nenek pemungut daun kepada Pak Kiai.
" Saya ini hanya perempuan bodoh pak kiai, saya tahu amal-amal saya yang kecil itu juga mungkin tidak benar saya jalankan. Saya mungkin tidak selamat pada hari kiamat kelak tanpa syafaat dari Rasulullah. Setiap kali saya mengambil selembar daun, saya ucapkan shalawat kepada Rasulullah. Ketika saya meninggal nanti, saya ingin Rasulullah menjemput saya. Biarlah semua daun-daun itu menjadi saksi bahwa saya membacakan shalawat kepada Rasulullah. 

Sunday, May 08, 2011

Kerudung Untuk Allah



Fatimah Az-Zahra, merupakan anak Nabi Muhammad dari istri pertamanya Khadijah.  Fatimah dilahirkan delapan tahun sebelum Rasulullah hijrah ke Mekkah. Fatimah dibesarkan dibawah asuhan ayahnya, guru dan dermawan yang terbesar bagi umat manusia. Fatimah hampir berumur 18 tahun ketika ia dinikahkan oleh ayahya dengan Ali Bin Abi Thalib yang juga merupakan sahabat Rasulullah. Sebagai mahar dari ayahnya, ia memperoleh sebuah tempat air dari kulit, sebuah kendi dari tanah, sehelai tikar dan gilingan jagung. Kepada putrinya, Rasulullah berkata " Anakku, aku telah menikahkanmu dengan lelaki yang kepercayaanya lebih kuat dan lebih tinggi dari pada yang lainya, dan seorang yang menonjol dalam hal moral dan kebijaksanaan. ". Kehidupan perkawinan Fatimah berjalan lancar dalam bentuknya yang sangat sederhana, gigih, dan tidak mengenal lelah. Ali bekerja keras tiap hari untuk mendapatkan nafkah bagi keluarganya. Sedangkan Fatimah, istrinya bersikap rajin, hemat dan berbakti.

Fatimah dirumah melakukan pekerjaan rumah tangga seperti menggiling jagung, dan mengambil air dari sumur. Pasangan suami istri ini terkenal saleh dan dermawan. Mereka tidak pernah membiarkan pengemis melangkah kaki ke pintu rumahnya tanpa memberikan apa saja yang mereka punyai, meskipun mereka sendiri harus menahan rasa lapar. Sifat penuh  prikemanusiaan  dan murah hati yang telekat pada keluarga Nabi tidak ada tandingannya.

Pada suatu hari, seorang dari Bani Salim yang terkenal pandai dalam praktek sihir datang mengunjungi rumah keluarga Rasulullah dengan melontarkan kata-kata makian. Tetapi Rasulullah menjawab dengan lemah lembut. Ahli sihir itu begitu heran menghadapi sikap yang sabar luar biasa ini, pada ahkirnya ia dengan kerelaan hati menyatakan ingin memeluk agama islam. 
Lalu Rasulullah bertanya " Apakah kau mempunyai makanan? "
" Tidak " jawab orang itu
Maka Rasulullah menanyai muslimin yang hadir disitu. " Adakah orang yang mau menghadiahkan seekor unta untuk tamu kita ini ? " lalu Mu'ad menghadiahkan kepada orang itu seekor unta. Rasulullah sangat berkenan hati lalu melanjutkan
" Barangkali ada seseorang yang mau memberikan penutup kepala kepada saudara kita ini? " karena orang itu tidak menggunakan penutup kepala sama sekali.
Kontan Ali Bin Abu Thalib melepaskan sorbanya dan memberikan kepada orang itu.

Kemudian Rasulullah minta kepada Salam untuk membawa orang itu ke tempat sesama saudara muslim yang dapat memberinya makan, karena ia lapar. Salman membawa orang itu mengunjungi bebarapa rumah, tetapi tidak seorangpun  yang dapat memberinya makan. Karena pada saat itu waktu orang makan. Ahkirnya Salman pergi kerumah Farimah, setelah mengetuk pintu dan mengucapakan salam, Salman menmberi tahu maksudnya. 

Dengan arimata berlinang, putri Nabi ini mengatakan bahwa dirumahnya tidak ada makanan sejak 3 hari yang lalu. Namun Fatimah enggan menolak seorang tamu dan tuturnya: " Saya tidak dapat menolak seorang tamu yang lapar tanpa memberinya makanan sampai ia merasa kenyang ". Fatimah lalu melepas kain kerudungnya, lalu memberikanya kepada Salman, dengan pertimbangan Salman membawa kerudung itu ke seorang yahudi untuk ditukarkan dengan jagung.  Salman dan orang yang baru memeluk agama islam itu terharu melihat sikap demawan yang ditunjukkan oleh Fatimah. Dan orang yahudi itu pun terharu dan memutuskan untuk memeluk islam dengan menyatakan bahwa kitabnya, Taurat telah memberitahukan kepada golongannya tentang berita akan lahirnya sebuah keluarga yang amat berbudi luhur. 

Salman balik kerumah Fatimah dengan membawa jagung. Dan dengan tangannya sendiri Fatimah menggiling jagung itu dan membakarnya menjadi roti. Salman menyarankan agar ia menyisihkan beberapa buah roti yang telah selesai dibuat untuk keluarganya. Tapi Fatimah menolaknya karena ia telah memberikan kain kerudung itu untuk kepentingan Allah dan agama islam. Begitulah, Fatimah tak pernah meminta kembali barang yang telah ia berikan.

Fatimah meninggal dunia 6 bulan setelah Rasulullah wafat. Waktu itu Fatimah berumur 28 tahun dan dimakamkan oleh Ali di Jaat Ul Bagih (Madinah), diantar dengan dukacita masyarakat luas. Fatimah telah menjadi simbol segala yang suci dalam diri wanita. Rasulullah sendiri mengatakan bahwa Fatimah akan menjadi wanita penghuni surga.

Tuesday, April 26, 2011

Cinta Sejati




Di zaman Nabi Muhammad Saw, ada seorang perempuan yang ingin sekali berkunjung ke masjid untuk mendengarkan langsung sabda-sabda beliau. Di tengah jalan, dia berpapasan dengan suaminya. Keduanya pun terlibat percakapan yang menegangkan. 
" Hendak pergi kemana kau? " tanya suaminya
" Menjumpai Rasulullah saw "
" Apakah kau mencintainya?"
" Iya, dengan sepenuh hatiku "
Api cemburu rupanya membuat lelaki itu murka. Sambil memegang dagu istrinya, dia sambil membentak :
' Apakah engkau akan membuka cadar dan kehormatanmu untuk beliau? "

Tapi perempan itu tetap melanjutkan perjalanannya ke tempat Rasulullah Saw. Dalam hari ia berguman " Mengapa manusia hanya pandai mengatakan cinta yang semuanya tak berguna, tanpa nilai. Manusia hanya bergelut dalam cinta harta, birahi dan dunia namun lupa akan cintanya kepada Allah dan rasul-Nya.
Sementara itu, sang suami dengan perasaan kesal mendatangi Nabi Muhammad Saw untuk mengadukan tingkah istrinya. Nabi pun menangani laporannya.
" Nyalakan tungku, " kata Rasulullah, " Kemudian perintahkan istrimu untuk duduk diatas tungku itu atas perintahku "

Begitulah. Lelaki itu pun kembali ke rumahnya dan menyalakan api di tungku. Setelahnya dia memanggil dan menyuruh istrinya duduk di tungku yang telah membara.

Tapi sang istri menolak. Lelaki itu pun berkata bahwa ini adalah perintah Rasulullah saw. Begitu mendengar nama mulia itu, sang istri pun setuju dan berkata :
" Demi cintaku dan rasa hormatku kepada Rasulullah ".
Kemudian dia masuk duduk di tungku yang membara tanpa pertimbangan lagi. Dengan izin Allah, bara api di tungku itu tertutup oleh sesuatu.

Sebab itu sang suami terkejut dan buru-buru mendatangi Rasulullah Saw, menceritakan kejadian aneh yang baru dilihatnya. Kemudian Rasulullah berkata "Kembalilah dan lihat keadaannya "

Lelaki itu pun kembali secepatnya. Dirumah dia mendapati istrinya masih di posisi semula. Betapa heran sang suami menyaksikan bahwa api itu tidak membakar tubuh istrinya sedikit pun.
Kini, sadarlah dia bahwa kejadian itu sebab cinta dan kepatuhan istrinya kepada Rasulullah Saw. Dia lalu mengajak istrinya untuk menjumpai Rasulullah untuk bertobat.

Saturday, April 23, 2011

Puas Dengan Perlundungan Allah



Abu Bakar beserta istrinya merupakan sahabat pertama Rasulullah yang masuk islam. Saat mereka memeluk islam, usia Aisyah sendiri masih anak-anak. Setiap hari, pagi dan sore Rasulullah Saw datang berkunjung kediamannya Abu Bakar. Kian hari penderitaan kaum muslimin semakin berat hingga Abu Bakar memilih hijrah ke Habsyah. 

Ditengah perjalanan, tepatnya di Barkul Ghamad, beliau bertemu dengan Ibnud Dughannah, seorang pemimpin Qarrah (merupakan kabilah terkenal pada waktu itu).
" Hendak pergi kemana engkau? " tanya Ibnud Dughannah pada Abu Bakar.
" Kaumku telah mengusirku dan aku hendak menyembah dan bertasbih dengan rabbku di muka bumi ini " jawab Abu Bakar.
" Orang sepertimu tidak pantas mengusir dan tidak layak diusir. Sebab engkau suka memberi orang yang tidak punya, menjamu tamu dan membantu orang-orang yang malang. Untuk itu aku akan memberikan jaminan perlindungan untukmu. Maka pulanglah dan sembahlah Rabbmu di negeri ini ".

Dengan diringi Ibnu Dughannah maka kembalilah Abu Bakar ke negerinya. Setiba di Makkah, Ibnu Dughannah berkeliling menjumpai tokoh dan para pemuka Quraysi sore itu juga. Ia berkata kepada mereka.
" Orang semacam Abu Bakar tidak layak di usir dan mengusir. Apakah kalian mengusir seseorang yang suka memberi makan orang yang tak punya, menyambung tali persaudaraan, memberi bantuan orang yang membutuhkan, menjamu tamu dan senantiasa membantu orang malang? "

Orang-orang Quraysi sendiri tidak berani membantah dan melanggar perlindungan yang di berikan oleh Ibnu Dughannah. Akhirnya mereka hanya berkata " Kalau begitu suruhlah Abu Bakar untuk menyembah rabbnya di dalam rumah, shalat dan membaca apapun yang dikehendaki di dalamnya. Tapi janganlah dia mengganggu kami dengan semua itu dan jangan pula menampakkannya karena kami khawatir para wanita dan anak-anak kami akan terpedaya olehnya".

Ibnu Dughannah menyampaikan apa yang dikatakan oleh orang-orang Quraysi itu kepada Abu Bakar dan Abu Bakar pun menuruti permintaan itu untuk beberapa lama. Namun setelah itu ia membangun tempat khusus untuk shalat di serambi rumahnya. Selain untuk shalat, Abu Bakar juga rutin membaca Al-Qur'an di sana.

Perbuatan Abu Bakar ini menjadi perhatian bagi para wanita dan anak-anak. Tidak itu saja, mereka juga mengagumi apa yang dilakukannya dan selalu menilai kegiatan Abu Bakar setiap hari.

Sementara Abu Bakar sendiri adalah orang yang mudah menangis. Dia selalu tak mampu menahan air matanya tiap kali membaca Al-Qur'an. Tentu saja semua tindakan Abu Bakar itu meresahkan orang-orang Quraysi. Mereka mengirim utusan kepada Ibnu Dughannah dan mengatakan. 
" Kami melindungi Abu Bakar karena engkau memberikan perlindungan kepadanya. Tapi dulu kami juga mengajukan syarat bahwa Abu Bakar harus melakukannya di dalam rumah. Rupanya ia telah melanggar perjanjian itu. Bahkan sekarang ia telah membangun tempat shalat di serambi rumahnya dan membaca Al-Qur'an dengan mengeraskan suaranya. Kami takut bila wanita dan anak-anak akan terpedaya olehnya. Kalau ia kembali mau membatasi ibadahnya di dalam rumahnya sendiri, maka bolehlah dia melakukannya. Namun jika ternyata dia lebih suka menampakkan ibadahnya maka mintalah ia mengembalikan perlindunganmu. Sesungguhnya kami tidak suka melanggar perjanjian denganmu namun kami juga tidak bisa menerima tindakan Abu Bakar yang dilakukannya secara terang-terangan "

Lalu Ibnu Dughannah menemui Abu Bakar dan berkata " Engkau sudah tau sendiri apa yang telah aku lakukan untuk melindungimu. Kini engkau hanya memiliki 2 pilihan, membatasi ibadahmu atau engkau mengembalikan perlindunganku kepadamu. Karena aku tak ingin orang-orang arab mengatakan bahwa aku telah melanggar hak-hak orang yang kulindungi ".

Mendengar perkataan itu spontan Abu Bakar menjawab " Kalau begitu aku kembalikan perlindunganmu kepadamu lagi dan aku cukup puas dengan perlindugan Allah! "

Sunday, April 17, 2011

Meraih Untung 700 Kali Lipat

  
"Perumpamaan orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah laksana sebutir biji yang tumbuh menjadi tujuh tangkai.
Pada masing-masing tangkai terdapat seratus biji"
(QS. Al-Baqarah {2}: 26) 

Saat kota Madinah sedang mengalamimasa panceklik yang sangat parah akibat musim kemarau yang berkepanjangan. Tumbuhan dan hewan banyak yang mati. Masyarakat kota itu banyak yang mengalami kelaparan. Pada saat gawat itu datang rombongan kalifah dari syam, membawa barang dagangan yang sebagian besar berupa makanan. Ternyata barang makanan itu kepunyaan Usman Bin Affan.

Mendengar kedatangan kalifah itu, para pedagang Madinah pun berebutan ingin membelinya, dengan maksud akan menjual kembali kepada masyarakat dengan harga yang berlipat-lipat. Mereka menawar barang dagangan itu dengan harga 3 kali lipat dari harga pembeliannya. Tetapi, tawaran itu ditolak, "Maafkan saya, barang dagangan itu telah terjual dengan harga yang lebih besar dari itu!"

Tentu saja para pedagang itu keheranan, siapa orang yang berani membeli barang dengan harga tinggi itu. Mereka pun bertanya "Wahai saudaraku! Siapakah orangnya yang telah membeli barang daganganmu dengan harga setinggi itu!"

"Allah, jawab sahabat Rasullallah yang berasal dari keluarga bangsawan dan sejak kecil memiliki budi pekerti dan perilaku nan mulia itu.

"Bagaimana cara Allah memberikan keuntungan itu kepadamu?" tanya pedagang itu penasaran.

Allah menjanjikan kepadaku keuntungan tidak kurang dari 700 kali lipat. Tidakkah kaloan ingat janji Allah dalam Al-Qur'an?" jawab sang khalifah mantap.


Usman bin Affan lalu membacakan firman Allah Swt yang berbunyi "Perumpamaan orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah laksana sebutir biji yang tumbuh menjadi tujuh tangkai. Pada masing-masing tangkai terdapat seratus biji. (QS. Al-Baqarah {2} : 261)

Para pedagang itupun dengan keheranan bertanya " Apakah akan kau sedekahkan seluruh barang dagangan yang banyak ini?"
"Benar seluruhnya akan aku sedekahkan kepada masyarakat yang menderita karena musim panceklik ini" jawab Usman bin Affan mantap.

Demikianlah, kisah diatas menunjukkan pada kita bahwa orang-orang yang berani bersedekah dan meinginfakkan hartanya karena niat ibadah, maka Allah janjikan dengan membalasnya dalam jumlah yang tak terduga. Untuk itu tak perlu takut miskin dan meralat karena bersedekah. Tak aneh bila khalifah Usman bin Affan berani menggelontorkan hartanya.

Di zaman sekarang ini, banyak contohnya. Lihat saja Ustadz Yusuf Mansyur dan jamaahnya yang rajin bersedekah. Mereka rata-rata mendapatkan nikmat dan harta berlipat setelah bersedekah. Di luar negeri sendiri, ratu talkshow Oprah Winfrey yang bukan seorang muslim, rajin bersedekah dan hartanya kian menggunung. 

Wednesday, March 30, 2011

Permata Yang Hilang



Sungguh susah nasib seorang Bani Israel yang hidupnya terlantar. Dalam kesusahan ia mendatangi padang pasir untuk beribadah demi memohon belas kasih dan anugerah kepada Allah SWT.

Pada suatu hati ketika dia sedang berdoa terdengarlah suara dari langit :
"Wahai hamba Allah! Ulurkanlah tanganmu dan ambillah barang yang ada di tanganmu itu!
Tanpa pikir panjang lagi si hamba itu lalu mengulurkan tangannya, tiba-tiba ia kaget begitu melihat di tangannya terdapat dua permata yang bersinar bagai bintang. Kemudian ia membawa kedua permata itu kembali ke rumahnya dengan senang hati. 

"Sekarang", katanya mengabarkan ke istrinya apa yang baru saja di dapatnya. "kita telah selamat dari kekafiran"

Saat malam tiba, dalam tidurnya dia bermimpi masuk surga dan melihat sebuah istana megah di dalamnya. Tanpa terasa keluar kata - kata dari mulutnya. "Oh!, istanaku". Kemudian dia tercengang ketika mencurahkan pandangannya ke pada ke dua buah kursi panjang yang sudah tersedia, yang satu terbuat dari emas dan yang satunya terbuat dari perak. Di saat dia asyik memandang, ada yang berkata " Kursi ini milikmu, dan yang ini milik istrimu".
Tapi dia tertegun sewaktu melihat ke arah kursi miliknya kehilangan dia permata.
"Mengapa permata dua kursi ini kosong?"
"Sebenarnya ada tapi kamu telah mendapatkannya lebih dahulu di dunia." suara itu menjawab.

Lalu ia terbangun dari tidurnya, menangis dan mengeluh dan menceritakan mimpi itu kepada istrinya. Istrinya pun menyarankan suaminya untuk mengembalikan dua permata yang ia temukan ke tempat asalnya. Kemudian ia bergegas menuju tempat di mana ia pertama kali mendapatkan ke dua permata tersebut. Sesampainya di sana ia berdoa kepada Allah SWT agar dua permata itu di kembalikan ke tempat asalnya. Dia terus berdoa hingga ke dua permata itu terambil dari tangannya. Dan terdengarlah suara bahwa Allah telah mengembalikan ke dua permata itu ke tempat asal.

Karena itu dia bersyukur kepada Allah SWT atas segala karunia Nya.

Tuesday, March 29, 2011

Doa Seorang Ibu



Di lautan yang berombak besar, Nabi Sulaiman As melayang-layang bersama hembusan angin kencang yang menyapu permukaan lautan. Dengan izin Allah, beliau mengendalikan hembusan angin itu sesuai dengan kehendaknya. Karena hembusan angin yang dahsyat, beliau memerintahkan angin menghentikan hembusan nya. Angin pun berhenti seketika. Kemudian beliau menyuruh serombongan jin untuk menyelam ke dasar laut dan melihat isinya.

Betapa terkejut nya mereka setelah menemukan kubah yang terbuat dari batu zamrud yang berwarna putih dan tidak berpintu di dasar lautan itu. Para jin itu kemudian menemani Nabi Sulaiman As dan melaporkan benda aneh yang mereka temukan di dasar laut. Begitu mendengar laporan itu, Nabi Sulaiman memerintahkan mengangkat barang tersebut dan meletakanya di hadapan beliau.

Para jin itu kembali menyelam ke dasar laut, untuk mengambil barang aneh yang dikehendaki Nabi Sulaiman. Nabi Sulaiman melihat kubah itu dengan rasa kagum dan heran karena keanehanya. Kemudian beliau berdoa kepada Allah SWT agar rahasia ini tersingkapkan kepadanya. Tidak berapa lama, kubah itu merekah. Didalamnya, berdiam seorang pemuda yang sedang bersujud.

Melihat kenyataan ini Nabi Sulaiman bertanya?

"Apakah kau dari bangsa jin atau malaikat?"
"Tidak, jawabnya " Aku adalah manusia biasa"
"Apakah alasan kau mendapatkan kemuliaan sedemikian rupa?"
"Aku taat pada perintah ibuku " jawabnya, kemudian ia melanjutkan, "Di kala itu aku mempunyai ibu yang sudah lanjut usia. Aku selalu menggendong nya ke mana pun ibu hendak pergi. Kemudian ibu mendoakan ku dengan doa berikut "Ya Allah, limpahkan lah pada anakku rezeki  yang baik dan jadikanlah kediamannya sesudah matiku bukan di bumi dan bukan di langit!" Setelah itu ibuku pun meninggal dunia.

"Suatu kali, aku berjalan-jalan di tepi pantai dan melihat kubah terbuat dari zamrud yang berwarna putih. Lalu aku mendekatinya. Ternyata kubah itu  membukakan pintunya, sehingga aku pun masuk ke dalam nya. Akhir nya kubah itu merapat kembali dengan izin Allah SWT, kemudian aku tak tahu lagi berdiam di mana kah diriku? di bumi, di langit atau di angkasa?. Allah selalu memberikan rezeki kepadaku di dalam batu ini.

"Bagaimana kau mendapatkan rezeki di dalam batu ini?" tanya Nabi Sulaiman selanjutnya
"Bila aku lapar, tumbuh lah sebatang pohon dari batu ini lalu berbuah. Dari batu itu pula memancar air yang lebih putih dari susu, lebih manis dari madu, lebih dingin dari es, kemudian aku makan dan minum dengan sepuas-puasnya. Setelah kenyang, semua hidangan itu menghilang".
"Bagaimana kau tahu siang dan malam?" tanya Nabi Sulaiman beikutnya.
"Bila fajar mulai menyingsing, memutihlah kubah ini dan bersinar. Bila matahari terbenam kubah ini menjadi gelap. Dengan inilah saya mengetahui siang dan malam".

Baru saja sang pemuda selesai menjelaskan, kubah itu merapat kembali bagai telur burung kasuari dan kembali ke dasar laut. 

Dan Allah SWT mampu berbuat segala sesuatu.

Monday, March 28, 2011

Kasih Tak Terbatas



Alkisah, Kala Dzunnun Al-Misri hendak mencuci pakaian di tepi sungai nil, dia melihat seekor kalenjing besar mendekati dirinya. Rasa cemas juga yang membuat Dzunnun memohon kepada Allah SWT agar terpelihara dari serangan serangga mematikan itu. Doanya terkabul, saat itu pula, si kalajengking berbelok dan bergerak cepat menyusuri tepi pantai.Dzunnun mengikuti, rupanya kalajengking itu bergerak ke pohon rindang. Disitu, kebetulan terbaring seorang pemuda yang dari mulutnya tercium bau minuman alkhohol. Kalejangking itu terus bergerak. Perasaan Dzunnun bercampuk aduk. Dia khawatir, kelajengking itu akan menyengat dan membuat pemuda itu terbunuh. Kekhawatiranya semakin menjadi - jadi setelah melihat di dekat pemuda itu bergerak seekor ular berbisa yang siap menerkam. 

Tapi yang terjadi kemudian di luar dugaan Dzunnun. Justru kalajengking itu, sigap menyengat kepala ular itu hingga tak berkutik. Setelahny, ia kembali ke tepi sungai, meninggalkan sang pemuda yang masih tidur terlelap. Dzunnun pun terus mengikuti kalajengking itu hingga hilang di tepian sungai. Kemudian dia kembali ke tempat pemuda tadi tidur. Dzunnun pun melantunkan syair.

Wahai engkau
Yang sedang mabuk kepayang
Yang maha agung selalu menjagamu
Dari setiap kekejian
Yang berahkir sengsara
Namun kenapa bisa
Si pemilik mata tertidur
Bukankah mata itu dapat mendatangkan kenikmatan?

Mendengar untaian syair itu, si pemuda ahkirnya terbangun dari tidurnya. Dzunnun pun menceritakan kepadanya apa yang baru saja terjadi. Mendengar penjelasan itu, pemuda tersebut ahkirnya bertaubat kepada Allah SWT. Pemuda itu ahkirnya menyadari betapa besarnya kasih Allah SWT kepada setiap mahlukNya. Bahkan untuk seorang pemabuk seperti dirinya, Allah masih memberikan perlindungan serta kesempatan untuk bertaubat.

Kemulian Nama Allah


Alkisah pada zaman dahulu hiduplah sepasang suami istri yang memiliki pandangan hidup yang berbeda. Sang suami acuh terhadap istri dan agamanya. Sebaliknya sang istri adalah seorang yang taat beribadah.

Dalam segala tindakannya tak pernah sang istri memulai sesuatu tanpa mengucapkan Asma Allah SWT Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang yaitu Bismillahrrahmanirrahim.  

Sang suami tiap kali mendengar istrinya mengucapkan kalimat asma Allah tersebut selalu merasa tak tenang. Dalam kekesalannya, dia kadang berkata dalam hati "mengapa istriku selalu mengucapkan kalimat bodoh itu?"

Suatu kali, dia hendak menguji istrinya.
"simpanlah dompet ini baik-baik ini" pintanya?
Tanpa curiga sang istri menerima dompet itu dan menyimpannya di tempat yang menurutnya aman dan terkunci rapat.

Sang suami yang memang sengaja agar istrinya melakukan kesalahan, secara diam-diam mendatangi tempat penyimpanan itu. Tanpa sepengetahuan istrinya, dia mengambil dompet tersebut dan membuangnya ke dalam sumur. Usai melaksanakan rencana jahatnya, dia kembali  ke rumah. Saat itulah ia meminta istrinya untuk mengembalikan dompet yang telah ia titipkan kepada istrinya.

Tanpa merasa curiga sedikit pun terhadap suaminya, sang istri pun bergegas mendatangi tempat penyimpan tersebut. Sebelum membuka tempat penyimpanan tersebut, seperti biasanya ia selalu mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim. Pintu lemari terbuka dan ia mengulurkan tangan kanannya ke tempat penyimpanan dompet . Ternyata dengan izin Allah, dompet itu masih ada ditempat semula, utuh dengan isinya. 

Sang suami terperanjat melihat kejadian ini. Ia baru mulai menyadari dan memahami betapa mulia makna kalimat yang sering diucapkan oleh istrinya tersebut. Sejak saat itu ia bertobat kepada Allah SWT atas segala kebodohannya dan sikap buruknya.